cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Universitas Malahayati Bandar Lampung, Indonesia Jl Pramuka No. 27 Kemiling Bandar Lampung, Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024/hjk
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2022)" : 10 Documents clear
Gambaran strategi koping orang tua dengan anak retardasi mental Fatimah Nuralami; Iceu Amira Dira Atmadja; Gusgus Ghraha Ramdhanie
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.3590

Abstract

Background: Poor parents' coping strategy can causes behavioral disorders that occur in parents and will also have an impact on child care such as neglecting, depression in parents and social isolation in the children.Purpose: To find out how the description of coping strategy of parents with mental retardation children.Method:This study was conducted descriptive quantitative, describing coping strategies of parents with mentally retarded children in the State SDLB 2 Garut City. Its population is the elderly mentally retarded child who totaled 89 people. The number is a combination of 46 parents consisting of 43 pairs of father and mother and also 3 single parents. Sampling with total population technique. The instrument used in this study is Coping Health Inventory for Parent.Results: Shows that most of the coping strategy of parents were in the maladaptive category as many as 51.7%. Whereas in the dimensions of coping strategy, most of them showed maladaptive. As many as 55.1% in the family integrity dimension, 52.8% in the psychological stability dimension and 50.6% in the communication dimension.Conclusion: It is recommended that parents improve the coping strategy to collaborate between partners or families, maintain psychological stability and communicate with people who have the same problem or are in the middle of health. It is hoped that nurses can provide counseling to parents to help improve coping strategies.Keywords: Parents; Coping Strategy; Child; Mental RetardationPendahuluan :  Strategi coping orang tua yang buruk dapat menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi pada orang tua dan juga akan berdampak pada pengasuhan anak seperti penelantaran, depresi pada orang tua dan isolasi sosial pada anak.Tujuan: Untuk mengetahui bagaimana gambaran strategi koping orang tua dengan anak tunagrahita.Metode: Penelitian ini dilakukan secara deskriptif kuantitatif, mendeskripsikan strategi koping orang tua dengan anak tunagrahita di SDLB Negeri 2 Kota Garut. Populasinya adalah lansia anak tunagrahita yang berjumlah 89 orang. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari 46 orang tua yang terdiri dari 43 pasang ayah dan ibu serta 3 orang tua tunggal. Pengambilan sampel dengan teknik populasi total. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Inventarisasi Coping Kesehatan Orang Tua.Hasil: Menunjukkan bahwa sebagian besar strategi koping orang tua berada pada kategori maladaptif yaitu sebanyak 51,7%. Sedangkan pada dimensi strategi koping sebagian besar menunjukkan maladaptif. Sebanyak 55,1% pada dimensi integritas keluarga, 52,8% pada dimensi stabilitas psikologis dan 50,6% pada dimensi komunikasi.Simpulan: Disarankan kepada orang tua meningkatkan strategi koping untuk berkolaborasi antara pasangan atau keluarga, menjaga stabilitas psikologis dan berkomunikasi dengan orang yang memiliki masalah yang sama atau berada di tengah kesehatan. Diharapkan perawat dapat memberikan konseling kepada orang tua untuk membantu meningkatkan strategi koping. 
Stres dan kualitas tidur pada perawat rumah sakit di Sulawesi Tengah Ailine Yoan Sanger; Ferdy Lainsamputty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.5905

Abstract

Background: Stress at work is common among nurses population worldwide. This problem is experienced in all clinical settings. Severe stress may interfere nurses’ life including quality of sleep.Purpose: To investigate the correlation between stress and self-reported sleep quality among hospital nurses in Central Sulawesi.Method: The current study used descriptive correlational and cross-sectional design with convenience sampling which was conducted in 2 hospitals. Perceived Stress Scale (PSS) and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) were the questionnaires to assess stress and quality of sleep in this study. The relationship between variables was obtained using descriptive statistics and bivariate analysis.Results: A significant correlation was found between stress and sleep quality (p < 0.05).Conclusion: The higher the pressure during work, the poorer the sleep quality of nurses.Keywords: Nurse; Quality of sleep; Psychological stressPendahuluan: Stres kerja umum terjadi pada populasi perawat di seluruh dunia. Masalah ini dialami pada semua ruang perawatan klinis. Stres yang parah dapat mengganggu kehidupan perawat termasuk kualitas tidurnya.Tujuan: Untuk menginvestigasi korelasi antara stres kerja dan kualitas tidur pada perawat rumah sakit di Sulawesi Tengah.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif  korelasi  dan cross-sectional denga teknik convenience sampling di 2 rumah sakit. Perceived Stress Scale (PSS) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) adalah kuesioner yang digunakan dalam mengevaluasi stres dan kualitas tidur dalam penelitian ini. Hubungan antar variabel didapatkan dengan menggunakan statistik deskriptif dan analisa bivariatHasil: Korelasi yang signifikan ditemukan antara stres dan kualitas tidur (p < 0,05).Simpulan: Semakin tinggi tekanan dalam bekerja, semakin buruk kualitas tidur perawat.
Pengetahuan dan kepatuhan tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri saat merawat pasien Coronavirus diseases (Covid-19): Sebuah tinjauan literatur Devi Nugrehaini; Suyanto Suyanto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.2620

Abstract

Background: MERS CoV and Covid-19  is a new type of infectious disease that has never been previously identified in humans and can be transmitted from human to human through droplets that come out when coughing or sneezing. Health workers who treat Corona Virus patients must protect their condition against transmission by using personal protective equipment. For this reason, it is necessary to study knowledge and compliance with the use of personal protective equipment for health workers so that services can be provided better.Purpose:This study aims to analyze the relationship between knowledge and adherence to the use of personal protective equipment (PPE) in health workers during treat patient with Corona Virus.Method: This study is a literature review study that focuses on research articles on knowledge, compliance and personal protective equipment. Through a search using several literature data bases such as PubMed, Google Scholar, Crossreff and Wiley, 353 articles were obtained. After going through the screening using the inclusion and exclusion criteria in PICOT, 10 articles were selected.Results. The analysis of selected articles shows that the knowledge of health workers about personal protective equipment for health workers is quite good but compliance with using it is still low.Conclusion: There is a relationship between knowledge and compliance with the use of PPE. Compliance can be increased by increasing knowledge and access to PPE and ease of use supported by workplace institutionsKeywords: Compliance; Personal Protective Equipment;  MERS COV; Covid 19Pendahuluan: MERS CoV dan Covid-19  adalah penyakit menular jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia dan dapat ditularkan dari manusia ke manusia melalui droplet yang keluar saat batuk atau bersin. Tenaga kesehatan yang menangani  Corona Virus kondisinya harus dijaga terhadap penularan dengan penggunaan alat pelindung diri. Untuk itu perlu dikaji pengetahuan dan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri petugas kesehatan agar pelayanan dapat diberikan lebih baik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) pada tenaga kesehatan selama merawat pasien yang menderita Corona Virus .Metode: Penelitian ini berupa studi literatur review yang fokus pada artikel penelitian tentang pengetahuan, kepatuhan dan alat pelindung diri. Melalui penelusuran menggunakan beberapa data base literature seperti PubMed, Google Scholar, Crossreff dan Wiley diperoleh 353 artikel. Setelah melalui penyaringan menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi dalam PICOT diperoleh 10 artikel terpilihi. Hasil. Analisa artikel terpilih menunjukkan bahwa pengetahuan tenaga kesehatan tentang alat pelindung diri tenaga kesehatan  cukup baik namun kepatuhan menggunakannya masih rendah.  Simpulan: Ada hubungan antara pengatahuan dan kepatuhan penggunaan APD. Kepatuhan dapat meningkat dengan peningkatan pengetahuan dan akses APD serta kemudahaan dalam penggunaannya yang didukungan oleh institusi tempat kerja 
Program promosi kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap dalam pencegahan stunting Ari Yunita; Umi Romayati Keswara; Linawati Novikasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.5019

Abstract

Background: Stunting is a nutritional status that occurs when a child has a height or length of <-20 standard deviation. Based on 2018 basic health research, 30.8% of children under five are stunted. The health profile of the Lampung Province service in 2018 27.28 children were stunted, stunting was caused by several factors, one of which was a lack of knowledge of mothers about health and nutrition so that mothers could not take a stand in preventing stunting.Purpose: To Knowing the effect of stunting prevention health education on knowledge and attitudes of the mothers Method: This type of quantitative research is pre-experimental one-group pre-post test. The population in this study were mothers who had babies aged 0-24 months with a total of 20 people. Data analysis used the Wilcoxon test. Results: statistical tests using the Wilcoxon test for maternal knowledge, obtained a p-value of 0,000 so that the p-value <α (0,000 <0.05) then H0 is rejected and the attitude statistics using Wilcoxon is obtained p-value 0,000 so that the p-value <α (0,000 <0 , 05) then H0 is rejected.Conclusion: There is an effect of stunting prevention health education on the knowledge and attitudes of mothersKeywords: Prevention; Stunting; Knowledge; AttitudePendahuluan: Stunting merupakan status gizi yang terjadi apabila seorang anak memiliki tinggi atau panjang badan ±20 standart deviasi. Berdasarkan riset kesehatan dasar 2018 30,8% balita mengalami stunting. Profil kesehatan dinas Provinsi Lampung Tahun 2018 27,28 anak mengalami stunting, stunting disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sehingga ibu tidak dapat mengambil sikap dalam mencegah terjadinya stunting.Tujuan: Diketahui pengaruh pendidikan kesehatan penceghan stuntiing terhadap pengetahuan dan sikap ibu Metode: Rancangan penelitian pre-experiment dengan pendekatan one-group pre-post test design. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 0-24 bulan dengan jumlah sampel 20 partisipan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Didapatkan pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dengan p-value 0,000 <0,05 sedangkan terhadap  sikap didapat p-value 0,000 <0,05Simpulan: Ada pengaruh pendidikan kesehatan pencegahan stunting terhadap pengetahuan dan sikap ibu
Pengaruh paparan sinar matahari pada penderita diabetes melitus tipe 2 Dessy Hermawan; Nabila Aurelia Hidayat
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.6304

Abstract

Background: The increase in cases of Diabetes Mellitus at a young age is a serious problem and must be treated as early as possible because it will have an effect on decreasing the quality of life in the future. Recently, many studies have reported that vitamin D levels in DM patients are very low. Sources of vitamin D come from food and also from the biosynthesis of pro-vitamin D in the skin with the help of sunlight / UVB. Trends in behavior to avoid UVB rays such as the use of closed clothing and activities/work indoors are thought to be related to the incidence of low levels of vitamin D which will have an effect on increasing cases of uncontrolled DM.Purpose: To analyze the relationship between habitual avoidance of sun exposure and the incidence of elevated blood glucose in DM patients.Method: An analytical survey research with a case-control approach. The population in this study were all type 2 DM patients who went to the internal medicine polyclinic of the Bintang Amin Hospital in the period January 2022. The case samples were DM patients whose (RBG test) was above 200 mg/dL (uncontrolled DM) and the control group were DM patients whose (RBG test) was below 200 mg/dL (controlled DM). The total sample was 88 patients with 44 case samples and 44 control samples. Data were analyzed using non-parametric statistical test: chi square test.Results: There was a significant relationship between the incidence of uncontrolled DM with the habit of being active indoors (0.003), wearing closed clothes (0.001), working outside the home (0.03), age (0.01) and gender (0.003).Conclusion: The more often a person avoids sun exposure: active indoors and always wears long/closed clothes for a long time, the higher the (RBG test) level, thus increasing the risk of developing uncontrolled diabetes. It is recommended to spend 5-30 minutes a week 2-3 times to give the body's skin a chance to be exposed to sunlight/UVB, this is important to maintain vitamin D biosynthesis.Keywords: Sun exposure; Vitamin D; Patients; Diabetes mellitusPendahuluan: Peningkatan kasus DM pada usia muda merupakan masalah serius dan harus ditangani sedini mungkin, karena akan berefek pada penurunan kualitas hidup penderitanya di masa yang akan datang. Akhir-akhir ini, banyak riset yang melaporkan bahwa, kadar vitamin D pasien DM sangat rendah. Sumber vitamin D selain dari makanan, juga berasal dari biosintesis pro vitamin D di kulit dengan bantuan sinar matahari/UVB. Adanya trends prilaku menghindar sinar UVB seperti pengunaan pakaian panjang/tertutup dan beraktiivitas/bekerja di dalam ruangan diduga berhubungan dengan kejadian rendahnya kadar vitamin D yang akan berefek pada peningkatan kasus DM tidak terkontrol. Tujuan: Untuk memperlajari hubungan kebiasaan menghindar dari sinar matahari dengan kejadian peningkatan glukosa darah pada pasien DM.Metode: Penelitian survey analitik dengan pendekatan case control. Adapun populasi pada penelitian ini adalah semua pasien DM tipe 2 yang berobat ke poli penyakit dalam RSPBA pada periode Januari 2022. Adapun yang menjadi sampel kasus adalah pasien DM yang glukosa darah sementara/GDS nya di atas 200 mg/dL (DM tidak terkontrol) dan kelompok kontrol adalah pasien DM yang GDSnya di bawah 200 mg/dL (DM terkontrol). Adapun total sampel ada 88 pasien dengan 44 orang sampel kasus dan 44 sampel control. Data yang dikumpulkan, dianalisis dengan menggunakan uji statistic non parametric: chi square.Hasil: Didapatkan hubungan yang bermakna antara kejadian DM tidak terkontrol dengan kebisaan berakatifitas di dalam ruangan (0.003), pengunaan pakaian panjang/tertutup (0.001), bekerja di luar rumah (0.03), usia (0.01) dan jenis kelamin (0.003).Simpulan: Semakin sering seseorang menghindar paparan sinar matahari: beraktivitas di dalam ruangan serta selalu menggunakan baju panjang/tertutup dalam jangka waktu lama, akan semakin meningkatkan kadar GDS sehingga meningkatkan pula resiko menjadi DM tidak terkontrol. Direkomendasikan untuk meluangkan waktu 5-30 menit seminggu 2-3 kali untuk memberi kesempatan kulit tubuh terpapar sinar matahari/UVB, hal ini penting untuk menjaga agar biosintesis vitamin D tetap terjaga.
Implementasi self management pada pasien dengan diabetes melitus Nurliyani Nurliyani; Ririn Wulandari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.1535

Abstract

Background: Diabetes Mellitus Self Management An individual effort using therapeutic techniques that will be given as an intervention to control and direct oneself, and support behavior change towards a healthy lifestyle after being diagnosed with Diabetes mellitus (DM). Indonesia has around 9.1 million people with diabetes, it is estimated that by 2035, the number will reach 14.1 million. Lampung Province as a result of Riskesdes 2018 increased to 1.6%. Metro City for 2018 there are 798 DM women. The Margorejo Health Center itself is a new Public Health Center in 2018 , with 39 patients entering productive age women.Purpose: To obtain an overview or in-depth information about the patient's implementation of DM self-management in women of reproductive age.Method: Qualitatively using a phenomenological approach, with source triangulation technique. This research was conducted in the Margorejo Metro Selatan Public Health Center in February-March 2019. Sampling was carried out by purposive sampling, conducted by in-depth interviews with 5 main informants (women of productive age with diabetes mellitus), and 4 key informants (holders of diabetes mellitus). program at the Margorejo Health Center and 2 cadres).Results: The diet of DM patients in this study was still quite good. Sports/physical activity of DM patients in women of reproductive age is quite good. Blood sugar of DM patients in women of reproductive age has been well controlled. Treatment of DM patients in women of reproductive age is quite good. Problem-solving skills in women of reproductive age are quite good, it can be seen from the information conveyed that all informants handle DM so that diabetes is controlled by taking medication, eating patterns and resting regularly. Measurement of blood pressure and cholesterol levels has not been done properly. Reducing the risk of DM in women of childbearing age is good.Conclusion: Further research is needed to further examine the factors that may contribute to self-management such as stress experienced by DM patients.Keywords: Implementation; Patient; Self management; Diabetes mellitus; Woman; Productive agePendahuluan: Self Management Diabetes Melitus Sebuah usaha induvidu dengan menggunakan teknik terapeutik yang akan diberikan sebagai intervensi untuk mengendalikan dan mengarahkan diri, serta mendukung perubahan perilaku menuju pola hidup sehat setelah terdiagnosa Diabetes melitus (DM). Indonesia memiliki sekitar 9,1 juta pengidap diabetes, diperkirakan pada 2035, jumlahnya akan mencapai 14,1 juta. Provinsi Lampung hasil Riskesdes 2018 meningkat menjadi 1,6%. Kota Metro untuk tahun 2018 terdapat 798 wanita DM. Puskesmas Margorejo sendiri merupakan Puskesmas baru tahun 2018 ini dari pustu menjadi puskesmas, dengan untuk pasien yang masuk wanita usia produktif terdapat 39 pasien.Tujuan: Didapatkan gambaran atau informasi mendalam tentang Implementasi pasien terhadap self management DM pada wanita usia peroduktif.Metode: Kualitatif menggunakan pendekatan Phenomenologi, dengan teknih triangulasi sumber. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Margorejo Metro Selatan Kota Metro pada bulan Febuari-Maret 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 5 orang informan utama ( wanita usia produktif penderita diabetes melitus), dan 4 orang informan kunci (pemegang program di Puskesmas Margorejo dan 2 orang kader).Hasil: Pola makan penderita DM dalam penelitian ini masih cukup baik. Olahraga/aktifitas fisik penderita DM pada wanita usia produktif cukup baik. Gula darah penderita DM pada wanita usia produktif sudah terkontrol dengan baik. Pengobatan penderita DM pada wanita usia produktif cukup baik. Keterampilan memecahan masalah pada wanita usia produktif sudah cukup baik telihat pada informasi yang tersampaikan bahwa seluruh informan menangani supaya DM terkontrol dengan meminum obat, pola makan dan istirahat dengan teratur. Pengukuran tekanan darah dan kadar kolesterol belum dilakukan secara baik. Mengurangi risiko penyakit DM pada wanita usia produktif sudah baik.Simpulan: Sangat diperlukan penelitian lanjutan untuk meneliti lebih lanjut faktor-faktor yang mungkin berkontribusi dalam self management seperti stres yang dialami pasien DM. 
Perawatan kesehatan gigi dan mulut menggunakan pasta gigi mengandung fluor dan herbal terhadap perubahan pH saliva Ratnasari Dyah Purnomowati; Lies Elina Prasetiowati; Sulastri Sulastri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.6042

Abstract

Background: Dental caries occurs due to five main factors, namely the frequency of carbohydrate intake, acid, plaque retention and salivary pH factors. Mechanical action by brushing teeth, is the most basic action to clean teeth and mouth. it aims to help clean plaque. Tooth brushing activities are accompanied by the use of toothpaste which contains several elements including fluoride, herbal ingredients, detergents, water, binders, sweeteners, therapeutic ingredients, anti-bacterial substances. Fluor and herbs contained in toothpaste can affect the pH of saliva as one of the factors causing dental caries. Purpose: To determine the effectiveness of fluoride and herbal content on changes in salivary pH in preventing secondary caries.Method: A quasi Experimental Design with Nonequivalent Control Group Design. The sample was 74 participants who were divided into 2 groups, namely group 1 using toothpaste containing herbal brand X and group 2 using toothpaste containing fluorine brand Y.Results: The analysis showed differences in salivary pH levels before and before using herbal toothpaste with p value = 0.005, while in the fluorine toothpaste group slightly increased salivary pH, but statistically did not show a significant difference with p value = 0.111. Furthermore, in the unpaired test between the herbal toothpaste and fluorine toothpaste groups there was no significant difference (p=0.071).Conclusion: The results of a separate analysis in both groups showed that toothpaste containing herbs was able to significantly increase salivary pH, but in the paired test there was no significant difference, it is recommended that the intervention be carried out longer, namely two weeks.Keywords: Salivary; pH; Fluoride; Herbal; Toothpaste; Dental; Oral hygienePendahuluan: Karies gigi terjadi disebabkan lima faktor utama yaitu frekuensi asupan karbohidrat, asam, retensi plak dan faktor pH saliva.  Tindakan mekanis  dengan menyikat gigi, merupakan tindakan yang paling dasar untuk membersihkan gigi dan mulut. bertujuan membantu membersihkan plak.Kegiatan Menyikat gigi disertai dengan penggunaan pasta  gigi yang mengandung beberapa unsur diantaranya bahan fluor, bahan herbal, deterjen, air, pengikat, pemanis, bahan terapeutik zat anti bakterial. luor dan herbal yang terkandung dalam pasta gigi dapat mempengaruhi pH saliva sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya karies gigi.Tujuan: Untuk mengetahui  efektifitas kandungan fluor dan herbal terhadap  perubahan pH saliva dalam mencegah terjadinya sekunder karies.Metode: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental Design dengan Nonequivalent Control Group Design. Sampel sebanyak 74 responden yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok 1 menggunakan pasta gigi yang mengandung herbal merek X dan kelompok 2 menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor merek Y.Hasil: Analis secara terpisah pada dua kelompok diketahui pasta gigi yang mengandung herbal menunjukkan peningkatan skor pH saliva secara bermakna, sementra pada pasta gigi fluor tidak bermakna, namun pada uji berpasangan meskipun perubahan skor pada pasta gigi herbal lebih tinggi tetapi tidak bermakna secara statistic dengan nilai p = 0.071 (p>0.05), hal ini dimuningkinan ada faktor pelaksanaan yang relative singkat, yaitu sekali intervensi.Simpulan: Hasil analisis terpisah pada kedua kelompok menunjukkan pasta gigi yang mengandung herbal mampu meningkatkan pH saliva secara signifikan, namun pada uji berpasangan tidak terdapat perbedaan yang signifikan, disarankan intervensi dilakukan lebih lama yaitu dua minggu.
Penyuluhan tentang kesiapsiagaan bencana banjir terhadap pengetahuan dan sikap pada masyarakat Febri Yogi Munanda; Eka Trismiyana; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.6471

Abstract

Background: The number of natural disaster events in Lampung Province in 2020 has occurred as many as 35 times, spread in several regions, namely west Lampung as many as 10 times natural disaster events, Tanggamus 2 times, East Lampung 9 times, Pesawaran 1 time, and Bandar Lampung City as many as 15 times. As for Tanggamus, 668 houses were damaged lightly to severely due to floods and landslides in Semaka Sub-District, Tanggamus Regency, Lampung in 2019.Purpose : Find out about training on flood disaster preparedness regarding knowledge and attitudes in the pekon kunyayan Tanggamus community.Method: Type of quantitative research, pre-experimental research design with one group pretes-postes design approach, population and sample is community district tanggamus, purposive sample sample technique.. Analysis of univariate and bivariate data using t-tests.Results : Average public knowledge before and after being given counseling on flood disaster preparedness with a mean mean of 5.87 and increased on average to 8.73. Public attitudes before and after were given counseling on flood disaster preparedness with a mean of 26.13 and increased on average to 46.00.Conclusion: The results of bivariate data analysis using the t-test test obtained a p-value value of 0,000 < 0.05 then it can be drawn the conclusion that there is an influence of counseling on the preparedness of flood disasters on the knowledge and attitudes of the community. The advice is expected for the community not to dispose of garbage or do negative things that can cause flood disasters.           Keywords: Flood disaster; Preparedness; Knowledge; AttitudePendahuluan: Jumlah kejadian bencana alam di Provinsi Lampung pada tahun 2020 telah terjadi sebanyak 35 kali, yang tersebar dalam beberapa wilayah, yaitu Lampung barat sebanyak 10 kali kejadian bencana alam, Tanggamus 2 kali, Lampung Timur 9 kali, Pesawaran 1 kali, dan Kota Bandar Lampung sebanyak 15 kali. Sedangkan untuk Kabupaten Tanggamus sebanyak 668 rumah rusak ringan hingga berat akibat banjir dan longsor di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung tahun 2019.Tujuan : Untuk mengetahui pelatihan  tentang kesiapsiagaan bencana banjir terhadap pengetahuan dan sikappada masyarakat di pekon kunyayan tanggamus.Metode : Jenis penelitian kuantitatif, rancangan penelitian pra eksperimen dengan pendekatan one group pretes-postes design, populasi dan sampel adalah masyarakat kabupaten tanggamus, teknik sampel purposive sampel. Analisa data univariat dan bivariat menggunakan t-test.Hasil : Rata-rata pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah  diberi penyuluhan tentang kesiapsiagaan bencana banjir dengan mean 5,87 dan mengalami peningkatan rata-rata menjadi 8,73. Sikap masyarakat sebelum dan sesudah  diberi penyuluhan tentang kesiapsiagaan bencana banjir dengan mean 26,13 dan mengalami peningkatan rata-rata menjadi 46,00.Simpulan : Hasil analisa data bivariat menggunakan uji t-tes didapat nilai p-value 0,000 < 0,05 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan tentang kesiapsiagaan bencana banjir terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat. Saran Diharapkan bagi masyarakat untuk tidak membuang sampah ataupun melakukan hal negatif yang dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir.
Pengaruh pengembangan multimedia edukasi dalam pemberdayaan keluarga memberi dukungan pengobatan penderita tuberkulosis paru Tumiur Sormin; Anita Puri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.6290

Abstract

Background: The  preliminary study in Health Office (Dinkes) of South Lampung regarding the coverage of the Tuberculosis program  in 2017 and  2018 results were only 51% and 42.41%. While the target of treatment should be 100%. Pre-survey for patients with pulmonary tuberculosis  in the working area of the Natar Puskesmas families are 5 people (50%)  of  10  tuberculosis  sufferers  who  do  not  comply  with  their  treatment, said that there are no routine  treatment, 8  people  (80%) of  the family have not given serious support to family members who have pulmonary   tuberculosis  to   adhere   for   treatment  and have never received empowerment training from the health side. Purpose: To determine the effect of Multimedia Educational Development in Empowering Families to Support Treatment of Pulmonary Tuberculosis Patients.Method: Participant were divided into 6 groups, 10 people per group and every week it was divided into two groups. Each group gets three learning sessions. In the first session, participant were asked to listen to pulmonary TB material which was shown through educational videos for 2 x 25 minutes, interspersed with discussions and questions and answers. The material includes understanding, causes, signs and symptoms, complications, prevention, and treatment. In the second session, participant were asked to listen to an educational video about pulmonary TB prevention practices for 25 minutes and then asked participant to practice it for 25 minutes. In the third session, participant were asked to show an educational video about the practice of supporting the treatment of pulmonary TB patients for 25 minutes, then asked participant to practice it for 25 minutes. At the end of the presentation of the material, the participant were distributed booklets containing material for pulmonary TB and how to support the treatment of pulmonary TB patientsResults: Sampling of 60 people from 70 families of pulmonary TB patients in Kecamatan Natar Lampung Selatan used educational multimedia. The level of confidence with p-value < a (0.05).Conclusion: P value was obtained 0.000, so that there was a significant difference between the ability of participant to provide emotional support, appreciation, instrumental, information, treatment networks, healing motivation, directing behavior to recover, maintaining healing behavior and knowledge about pulmonary TB treatment in pulmonary TB patients. first and second. Overall support, the difference between the first and second measures of ability to provide treatment support was 0.217 with an SD of 0.613. The results of the statistical test obtained a P-value of 0.008, so that there was a significant difference between the participant ' ability to provide treatment support for patients with pulmonary TB in the first and second measurements.Keywords: Educational Multimedia; Family Empowerment; Pulmonary Tuberculosis TreatmentPendahuluan: Hasil studi pendahuluan ke Dinkes Lamsel, tentang cakupan program TB tahun 2017dan 2018 hanya 51% dan 42,41%. Sedangkan target pengobatan seharusnya 100% . Pre survey kepada keluarga penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Natar 5 orang (50%) dari 10 penderita TB tidak patuh pengobatannya, mengatakan tidak rutin berobat, 8 orang (80%) dari keluarga belum memberi dukungan serius pada anggota keluarganya TB paru untuk patuh pada pengobatannya dan belum pernah mendapat  iatihan  pemberdayaan   dari  pihak  kesehatan.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Pengembangan Multimedia Edukasi Dalam Pemberdayaan Keluarga Memberi Dukungan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru.Metode: Partisipan dibagi dalam 6 kelompok, 10 orang per-kelompok dan setiap minggu dilakukan kepada dua kelompok. Setiap kelompok mendapatkan tiga sesi pembelajaran. Di sesi pertama reponden diminta untuk menyimak materi TB paru yang ditayangkan melalui video edukasi selama 2 x 25 menit diselingi diskusi dan tanya jawab. Materi mencakup pengertian, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi, pencegahan serta pengobatan. Di sesi kedua partisipan diminta menyimak tayangan video edukasi tentang praktik pencegahan TB paru selama 25 menit kemudian meminta partisipan mempraktikkannya selama 25 menit.  Di sesi ketiga partisipan diminta menyimak tayangan video edukasi tentang praktik mendukung pengobatan pasien TB paru selama 25 menit, kemudian meminta partisipan mempraktikkanya selama 25 menit. Di akhir pemberian materi, kepada partisipan dibagikan booklet berisi materi TB paru dan cara mendukung pengobatan pasien TB parukapanHasil: Pengambilan sempel sebanyak 60 orang dari 70 keluarga penderita TB paru di Kecamatan Natar Lampung Selatan menggunakan multimedia edukasi Tingkat kepercayaan dengan p-value < a (0,05).Simpulan: Didapatkan P-value 0,000, sehingga disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan partisipan memberikan dukungan emosional, penghargaan, instrumental, informasi, jaringan pengobatan, motivasi sembuh, mengarahkan perilaku sembuh, mempertahankan perilaku sembuh dan memberi pengetahuan tentang TB paru pengobatan pada penderita TB paru pengukuran pertama dan kedua. Secara analisis keseluruhan dukungan, perbedaan pengukuran pertama dan kedua kemampuan memberi dukungan pengobatan adalah 0,217 dengan SD 0,613. Hasil uji statistik diperoleh P-value 0,008, sehingga disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan partisipan memberikan dukungan pengobatan pada penderita TB paru pengukuran pertama dan kedua.
Perbandingan latihan pursed lip breathing dan meniup balon terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOK Junaidin Junaidin; Dewi Sartika
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i1.5274

Abstract

Background: Several disorders in Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) affect the movement of air in and out of the lungs and result in hypoxemia and hypercapnia because of changes in oxygen saturation in the patient.Purpose: Knowing the comparison of pursed-lip breathing and balloon blowing exercises to increase oxygen saturation in patients with COPDMethod: A Quasi-Experimental study, with pre-posttest design in two different comparison groups.Results:There was an increase in oxygen saturation clinically because the median value before the intervention = 94, but there was no statistical difference in the increase in these two interventions, on the third and seventh day there was no statistically and clinically significant difference after the balloon blowing intervention (median = 96) and PLB (median=96), for the seventh day blowing balloons and PLB (median=99), so that p>0.181 was obtained.Conclusion: There is no difference between pursed lip breathing and balloon blowing exercises on oxygen saturation in patients with COPDKeywords: Pursed lip breathing;  balloon blowing;  oxygen saturation;  COPDPendahuluan: Sejumlah gangguan pada Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) berpengaruh pada pergerakan udara dari dan keluar paru, dan berakibat hipoksemia dan hiperkapnia karena terjadinya perubahan saturasi oksigen pada pasien Tujuan: Mengetahui perbandingan latihan pused lip breathing dan meniup balon terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOKMetode : Penelitian kuantitatif dengan desain Quasi-Eksperimen, dengan pre post test design pada dua kelompok perbandingan yang berbeda.Hasil : Terdapat peningkatan saturasi oksigen secara klinis karena nilai median sebelum intervensi=94, tetapi tidak terdapat perbedaan peningkatan secara statistic dari kedua intervensi ini, hari ketiga dan hari ketujuh tidak terdapat perbedaan signifikan secara statitik dan klinik setelah intervensi meniup balon (median=96) dan PLB (median=96), untuk hari ketujuh meniup balon dan PLB (median=99), sehingga diperoleh nilai p>0,181.Simpulan : Tidak terdapat perbedaan antara latihan pursed lip breathing dan meniup balon terhadap saturasi oksigen pada pasien PPOK.  

Page 1 of 1 | Total Record : 10