cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2017): Farmaka" : 12 Documents clear
EVALUASI SENSITIVITAS BAKTERI PENYEBAB ISPA PNEUMONIA TERHADAP ANTIBIOTIKA AMOKSISILIN, SEFADROKSIL, TRIMETOPRIM, SULFAMETOKSAZOL, SEFTRIAKSON DAN SEFOTAKSIM BERBASIS MOLEKULAR DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SLAMET KABUPATEN GARUT Risrina Nur Ekawati; Anas Subarnas; Tina Rostinawati
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.08 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12338

Abstract

Salah satu upaya untuk mengurangi resistensi, pemberian antibiotika harus berdasarkan pola bakteri penyebab infeksi dan kepekaan bakteri terhadap antibiotik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola bakteri, sensitivitas dan resistensinya terhadap antibiotika di RSUD Dr. Slamet Kabupaten Garut. Sampel bakteri diambil dari sputum pasien ISPA pneumonia yang dirawat di ruang rawat inap Zamrud RSUD. Dr. Slamet Garut. Prosedur mikrobiologi standar yang digunakan yaitu analisis Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengidentifikasi gen resistensi sedangkan uji difusi disk digunakan untuk menentukan pola resistensi antimikroba dari sputum pasien ISPA penumonia. Dari sampel sputum yang diteliti teridentifikasi bakteri Staphylococcus aureus. S. aureus sudah resisten terhadap antibiotika amoksisilin,  sefadroksil dan sulfametoksazol serta mengalami penurunan aktivitas terhadap antibiotika trimetoprim, seftriakson dan sefotaksim
AKTIVITAS, MEKANISME AKSI, DAN TOKSISITAS SIDAGURI (Sida Rhombifolia L.) SEBAGAI ANTIHIPERURISEMIA NITYA NURUL FADILAH
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.668 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12414

Abstract

Sidaguri (Sida rhombifolia L.), adalah tanaman obat tradisional dengan potensi sebagai obat terhadap asam urat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, flavonoid ekstrak kasar Sida rhombifolia L terbukti menghambat Xanthine Oxidase hingga 55% dan digunakan untuk menurunkan asam urat. Metode yang digunakan dalam ulasan ini adalah studi literatur.  Pencarian data primer dilakukan secara online menggunakan alat pencarian NCBI, PubMed, Google, dan Yahoo. Hasil beberapa artikel yang diperoleh ekstrak aktivitas sidaguri memiliki kemampuan inhibisi enzim xanthine oksidase lebih dari 50% baik in vitro dan in vivo. Kemampuan flavonoid untuk menghambat aktivitas oksidase xanthine berlangsung melalui mekanisme penghambatan kompetitif, antiinflamasi, dan interaksi dengan enzim dalam sisi aktif. Sedangkan uji berdasarkan hasil uji toksisitas akut sidaguri ini telah dilaporkan bahwa ekstrak etanol sidaguri tidak toksik dengan nilai LD50 yang lebih dari 16 g / KgBB tidak ada kematian dan gejala abnormal pada tikus. Sehingga sidaguri potensial digunakan sebagai antihiperurisemia yang aman.Kata kunci : Antihiperurisemia, asam urat, sidaguri, xantin oxidase
MUCILAGO OKRA : Variasi Ekstraksi Dan Potensinya Sebagai Eksipien Multifungsi Elvie Rifke Rindengan; Marline Abdassah; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.086 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12583

Abstract

Pembuatan bentuk sediaan farmasi memerlukan eksipien. Eksipien yang digunakan dalam suatu formula obat berasal dari bahan alam atau sintesis. Buah Okra (Abelmoschus esculentus) mempunyai kandungan mucilago yang dapat diperoleh melalui proses ekstrasi. Mucilago yang berasal dari tanaman dalam berbagai penelitian memiliki fungsi sebagai eksipien farmasi. Mucilago Okra dapat dimanfaatkan sebagai pengemulsi, pensuspensi, pengikat tablet, matrix tablet dalam pembuatan tablet lepas lambat.
SIX SIGMA DAN LEAN MANAGEMENT DALAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN SILVI RISTATIANTI; Angga Prawira Kautsar
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.975 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12592

Abstract

Manajemen kesehatan dilakukan dengan banyak metode contohnya metode Six sigma dan Lean  management. Dari kedua metode Six sigma dan Lean  management biasanya digunakan dalam perindustrian, tetapi sudah banyak digunakan dalam kesehatan. Review ini berisi penggunaan metode six sigma dan lean  management pada pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Perbedaan metode antara six sigma dan lean sangat terlihat pada konten perubahan dimana six sigma lebih mengutamakan detail dari tiap elemen kesehatan untuk ditingkatkan dan berstandar, tetapi lean  management lebih mengutamakan sinkronisasi antar elemen (kerjasama) yang dipimpin dan berstandar. Kesimpulannya, metode manajemen yang lebih bisa diandalkan adalah gabungan lean  management dan six sigma yang kini di telah banyak dicoba diaplikasikan, walau belum banyak hasil yang signifikan seperti hal nya pada six sigma dan lean  management.Kata Kunci : Lean Management, Manajemen Kesehatan, Six sigma.
Aktivitas Biologi dan Aplikasi Biomedis dari Aphanothece sacrum : Review ELASARI DWI PRATIWI; Nasrul Wathoni
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.15 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12476

Abstract

Aphanothece sacrum merupakan tanaman “hijau” yang berasal dari Jepang, yang dibudidayakan di sungai Kogane, Prefukor Fukuoka (Jepang Selatan) dan dilindungi secara hukum di habitat aslinya di Prefukor Kumamoto. Sacran adalah polisakarida molekuler alami yang diekstrak dari alga Aphanothece sacrum, yang mengandung gugus anionik seperti karboksilat dan sulfonat yang sangat tinggi (32 mol % dari total gula Unit), berat molekul yang sangat tinggi  (BM 1,6 x 107), dan memiliki ukuran sangat panjang (lebih dari 8 µm). Beberapa penelitian mengungkapkan aktivitas bilogi dari Aphanothece sacrum diantaranya yaitu sebagai anti inflamasi, mempercepat proses penyembuhan luka, dan dapat digunakan dalam pengiriman obat-obatan yang diberikan secara topikal
ANTI-miRNA-99b DAN miRNA-223 DALAM VAKSIN INFLUENZA SEBAGAI INOVASI TERAPI TUBERKULOSIS FREDERICK ALEXANDER
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.065 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12105

Abstract

Tuberculosis disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dapat ditularkan melalui percikan dahak (droplet) dari seorang penderita kepada individu lain yang rentan. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, hampir 9,6 juta kasus TB baru telah muncul dan angka kejadian kematian pada tahun 2014 berjumlah 1,5 juta. Terapi yang umum diberikan pada pasien TB saat ini melalui pemberian obat anti-TB per oral. Lamanya durasi pengobatan meningkatkan peluang ketidakpatuhan pasien selama pengobtan yang akhirnya akan mengakibatkan risiko Multi Drug Resistance (MDR-TB). Penyisipan Anti-miRNA-99b dan miRNA-223 dalam vaksin influenza sebagai inovasi terapi baru diharapkan dapat meningkatkan efikasi, efektifitas, dan kepraktisan pengobatan TB.
Peranan Hormon Pertumbuhan Terhadap Penyembuhan Luka Diabetes ARVENDA REZKY PRATAMA; Nasrul Wathoni; Taofik Rusdiana
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.548 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12483

Abstract

Diabetes merupakan penyakit yang disebabkan oleh insulin. Salah satu komplikasi kronis yang disebabkan oleh diabetes adalah diabetic foot ulcer (DFU) yang disebabkan oleh neuropati perifer dan terganggunya penyembuhan luka. DFU yang parah dapat menyebabkan biaya rumah sakit yang tinggi bahkan hingga amputasi. Tahap-tahap pnymbuhan luka yang terdiri dari hemostatis, inflamasi, proliferasi dan remodeling. Pada review ini dijelaskan peranan hormon pertumbuhan untuk mempercepat penyembuhan luka dan contoh aplikasinya.
Teknologi Induced Pluripotent Stem Cell (IPSC) Berbasis Metode 3D Hanging Drop Sebagai Terapi Genodermatosis Generasi Baru DONI DERMAWAN; ELI HALIMAH
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2430.158 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12908

Abstract

Genodermatosis merupakan penyakit kulit disebabkan oleh faktor genetik yang berkaitan langsung dengan defisiensi struktur dan fungsi kulit. Beberapa jenis genodermatosis diakibatkan oleh adanya keterlibatan multisistem patologis yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas bagi penderitanya. Tingkat insidensi genodermatosis di seluruh dunia yakni antara 1:6000 sampai 1:500.000 dari penyakit kulit secara keseluruhan dan biasanya terjadi sejak lahir dan beberapa terjadi pada usia anak-anak. Keterbatasan akses terapi yang efektif, aman, dan terbukti secara klinis merupakan permasalahan utama dalam penanganan genodermatosis. Terapi gen merupakan fokus utama penelitian sebagai pilihan terapi genodermatosis namun juga memiliki keterbatasan meliputi risiko induksi tumor, pemilihan vektor, ekspresi gen dengan waktu yang singkat, adanya respons imun terhadap terapi gen yang diberikan, terbatas pada penyakit monogenik, dan risiko munculnya efek genotoksisitas. Tujuan dari literature review ini adalah untuk menganalisis secara komprehensif mengenai teknologi Induced Pluripotent Stem Cell (iPSC) berbasis metode kultur sel 3D Hanging Drop sebagai generasi baru terapi genodermatosis. Hasil studi menunjukkan Teknologi induced pluripotent stem cell (iPSC) yang dikombinasikan dengan metode kultur sel 3D hanging drop memiliki potensi yang sangat tinggi dalam penanganan penyakit genodermatosis ditinjau dari aspek keamanan berdasarkan profil keunggulan karakteristik koreksi secara genetik dengan mengganti jaringan yang mengalami mutasi dengan jaringan yang telah diprogram ulang. Kata Kunci : 3D hanging drop, Genodermatosis, iPSC (induced Pluripotent Stem Cell) 
EFEK KITOSAN TERHADAP KONTROL PELEPASAN OBAT DIAH PERMATA SARI; Marline Abdaassah
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.379 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12495

Abstract

Formulasi yang dimodifikasi memberikan cara yang cukup efektif untuk mengatasi masalah bioavailabilitas dan menghasilkan profil waktu konsentrasi darah dan obat-obatan yang memiliki keterbatasan tertentu. Kontrol pelepasan obat dimaksudkan untuk obat-obatan yang larut dalam air dan juga termasuk bentuk obat-obatan yang cepat larut sehingga penyerapan yang terjadi tidak eksklusif di saluran pencernaan (GI). Ada banyak polimer yang dapat digunakan untuk kontrol pelepasan obat dan membutuhkan pertimbangan fisiologis dan fisikokimia. Kitosan adalah salah satu polimer yang dapat digunakan atau dikembangkan dengan menggunakan biopolymer lainnya dengan tujuan mengembangkan kegunaan biopolymer sebagai bahan yang dapat menjadi penghantaraan obat. Artikel ini bertujuan untuk melihat efek pelepasan kitosan terhadap berbagai bentuk sediaan obat.Kata kunci     : Kontrol pelepasan obat, Polimer, kitosan.
REVIEW ARTIKEL: PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI PADA TANAMAN SEBAGAI AROMATERAPI DALAM SEDIAAN-SEDIAAN FARMASI VALENTINE SOFIANI; Rimadani Pratiwi
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.197 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.12907

Abstract

            AbstrakIndonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang berlimpah dan salah satu negara yang berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tanaman-tanaman, khususnya tanaman penghasil minyak atsiri di Indonesia. Bagian dari tanaman-tanaman tersebut yang dapat dijadikan sebagai sumber minyak atsiri adalah bagian akar, batang, daun, bunga, buah, dan lain sebagainya. Minyak esensial ini dapat dijadikan sebagai produk aromaterapi yang memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai terapi komplementer, untuk merekalsasikan tubuh, bahan tambahan makanan, kosmetik, dan pengharum. Review ini berisi tentang kandungan minyak atsiri dari tanaman-tanaman yang ada di Indonesia dan dapat dijadikan produk aromaterapi dalam sediaan farmasi seperti lilin, dupa, sabun mandi, minyak pijit, garam, dan roll-on. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue