cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Applied Sciences
ISSN : 20899203     EISSN : 25811991     DOI : -
Core Subject : Social,
Indonesian Journal of Applied Sciences (IJAS) is a scientific journal published three times a year (April, August, December). Indonesian Journal of Applied Sciences publish original research results related to research in the field of natural science, covering a wide range of topics written in the field of knowledge: medicine, agriculture, animal husbandry, fisheries, pharmaceuticals, and other exact sciences
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2011)" : 8 Documents clear
Hubungan Kadar sCD14, Jumlah Streptococcus Mutans, pH-Dapar, Fluor di Dalam Saliva dengan Kejadian Karies pada Anak Karyawan PTPN VIII Pangalengan Usia 12-15 Tahun Dudi Aripin; Setiawan Natasasmita; Richata Fadil; Achmad Syawqie; Wazillah Nasserie
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1881

Abstract

Dental caries is a multifactorial infection where there are four main etiological factors, i.e. salivary and teeth bacteria, carbohydrate, and time. The interaction among those factors can be described as four overlapped circles. The salivary sCD14 protein plays an important role in protecting hard and soft oral tissues from infection by pathogenic bacteria. There is a relationship between the presence of sCD14 in saliva of active caries patients and in caries-free patient which leads to an assumption that this salivary protein may play an important role in caries development process.  To look for an evidence of that assumption, a study on the relationship between salivary sCD14 level, number of Streptococcus mutans, Buffer pH, fluor in the saliva and dental caries incidence. The objective is to see the difference in the salivary sCD14 level, number of Streptococcus mutans, Buffer PH and fluor in the saliva as well as to analyze the correlation of those factors with high caries incidence. This study is an analytical observational study using “case control” design with children of PTPN VIII Pangalengan employees with an age range of 12-15 years old as the sample. The sample size was determined using the rule of thumb with a minimum of 80 samples. The selection of subjects was conducted using simple random sampling and the analysis in this study is performed using bivariate (t-test and X2 test) and multivariate (multiple logistic regression analysis). To determine the cut off point, an  ROC (Receiver Operating Characteristic) curve. The significance of the test results was determined based on a p value of < 0.005. The results of the study show that the sCD14 level in low caries subjects is higher than in the high caries subjects which is statistically and significantly different. The number of Streptococcus mutans bacteria in low caries subjects is fewer compared to the high caries subjects, which difference is statistically significant. Based on the results of the multiple logistic regression analysis, there is a correlation between sCD14 level, number of Streptococcus mutans, buffer-pH, fluor in saliva and the high incidence of caries. Those four factors strongly influence the high caries incidence  It is concluded that there is a strong correlation between sCD14 level number of Streptococcus mutans, buffer-pH, fluor in the saliva and high caries incidence. The risk factor with the highest influence towards caries incidence in this study is the fluor concentration in saliva.****Karies gigi merupakan penyakit infeksi multifaktorial yang disebabkan oleh empat faktor utama sebagai etiologi, yaitu gigi dan saliva, bakteri, karbohidrat dan waktu. Paduan faktor tersebut dapat digambarkan sebagai empat lingkaran yang saling tumpang tindih. Protein sCD14 di dalam saliva memegang peran penting dalam melindungi jaringan lunak dan keras di rongga mulut dari infeksi oleh bakteri patogen. Terdapat hubungan antara keberadaan sCD14 di dalam saliva antara penderita karies aktif dengan penderita bebas karies, hal ini menimbulkan dugaan bahwa protein sCD14 mungkin berperan penting dalam proses perkembangan karies. Untuk mengungkapkan hal tersebut diperlukan penelitian tentang hubungan kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva dengan kejadian karies. Tujuannya yaitu untuk melihat perbedaan kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva serta menganalisis hubungan faktor tersebut dengan kejadian karies tinggi. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan “kasus kontrol”. Sampel penelitian adalah anak karyawan PTPN VIII Pangalengan usia 12-15 tahun. Ukuran sampel ditentukan secara ‘rule of thumb’ dengan jumlah sampel minimal 80. Pemilihan subjek dilakukan secara simple random sampling. Pada penelitian ini digunakan analisis bivariable (uji t dan uji Chi Kuadrat), multivariable (regresi logistik ganda), dan untuk menentukan cut off point digunakan kurva ROC (Receiver Operating Characteristic). Kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p≤0,005. Hasil penelitian kadar sCD14 pada  karies rendah lebih tinggi bila dibandingkan dengan karies tinggi, secara statistik berbeda dan bermakna. Jumlah Streptococcus mutans pada  karies rendah lebih sedikit bila dibandingkan dengan karies tinggi, secara statistik berbeda sangat bermakna. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda menunjukkan adanya hubungan kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva dan kejadian karies tinggi, keempat faktor tersebut berpengaruh kuat terhadap kejadian karies tinggi. Simpulan terdapat hubungan yang kuat antara kadar sCD14, jumlah Streptococcus mutans, pH-bufer, fluor di dalam saliva dengan kejadian karies tinggi. Faktor risiko yang berpengaruh paling kuat terhadap kejadian karies pada penelitian ini adalah konsentrasi fluor di dalam saliva.
Produksi Asam Laktat dari Empulur Sagu (Metroxylon sagu Rottb.) secara Fermentasi Curah dengan Lactobacillus Bulgaricus FNCC 0041 dan Streptococcus Bovis Lasam Soeroso
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1883

Abstract

Research on lactic acid production from sago pit (Metroxylon sagu, Rottb), by batch fermentation using Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 and Streptococcus bovis has been done. The research was divided into two stages:1) supporting research that included preparation of 100 mesh  powder and analyzing its component; selecting the optimum percentage of powder for hydrolysis; optimizing HCl, temperature  and hydrolysis time; optimizing the  dozes  and  enzyme  condition;  optimizing the percentage of  enzyme hydrolysate; 2) main research that  included:  hydrolyis of  pit powder  using  4N HCl;  hydrolysis of HCl hydrilisate with α-amylase;  hydrolysis of α-amylase hydrolysate using mixed enzyme cellulase, amyloglucosidase and hemicellulase;  single culture lactate production of L. bulgaricus FNCC 0041 and Streptococcus bovis in pure enzyme hydrolysate; mixed culture lactate production of L. bulgaricus FNCC 0041 and Streptococcus bovis in pure enzyme hydrolysate By hydrolyzing of 10% powder or  5.78 g  using 4N HCl produced reducing sugar as much as 3.47 g (59.79%). Enzimatic hydrolyzing produced reducing  sugar  5.13g from  5.78  g  powder  (89.00%). Single culture lactate  production of L. bulgaricus FNCC 0041 and S. bovis in pure enzyme hydrolysate produced  0.05  g/l   and   0.003g/l each.   Mixed  culture   lactate  production  of  L. bulgaricus FNCC 0041 and S. bovis in pure enzyme hydrolysate produced lactate as much as 14.06     g/l    or   0.23   g/l/h     a t   60     hours     incubation.  It can be concluded that mixed enzymes  produced higher reducing sugar than that of using 4N HCl. Mixed culture fermentation of L. bulgaricus FNCC 0041 and Streptococcus bovis in pure enzyme hidrolysate produced higher lactate than single culture. Hydrolysate of sago pit can be used to substitute pure sugar as a substrate of fermentation .****Penelitian tentang produksi asam laktat dari empulur sagu (Metroxylon sagu, Rottb.) secara fermentasi curah dengan Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 dan Streptococcus bovis. telah dilakukan. Penelitian dibagi dua kelompok: 1) penelitian penunjang meliputin pembuatan serbuk   dan   analisis   komponennya;  pemilihan  serbuk  untuk  hidrolisis; optimasi HCl,   suhu   dan   waktu   hidrolisis; optimasi  dozis  dan  kondisi.enzim; optimasi % hidrolisat enzim;  2) penelitian utama mencakup: hidrolisis serbuk empulur dengan  4N HCl; hidrolisis hidrolisat HCl dengan α-amilase; hidrolisis hidrolisat α-amilase dengan enzim campuran selulase, amiloglukosidase, dan hemiselulase; produksi laktat dari kultur tunggal Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 dan Streptococcus bovis dalam medium hidrolisat enzim murni; produksi laktat dari campuran Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 dan Streptococcus bovis dalam medium enzim murni.  Dari hidrolisis 10% serbuk menggunakan 4N HCl menghasilkan gula pereduksi sebesar 3,47 g (59,79%). Hidrolisis enzimatis menghasilkan gula pereduksi sebesar 5,13 g dari 5,78 g serbuk (89,00%). Produksi laktat kultur tunggal L. bulgaricus  FNCC 0041 dan S. bovis dalam mediu m hidrolisat enzim murni  menghasilkan  0,05 g/l  dan  0,003  g/l.  Produksi    laktat    dari    campuran   L. bulgaricus   FNCC  0041  dan S. bovis dalam medium hidrolisat enzim murni, adalah sebanyak 14,06 g/l  atau   0,23   g/l/jam   produktivitas  pada  jam  ke  60.  Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa hidrolisis empulur sagu dengan campuran enzim menghasilkan gula pereduksi lebih tinggi daripada hidrolisis menggunakan 4N HCl. Fermentasi  kultur  campuran  dari L. bulgaricus FNCC 0041 dan S bovis dalam hidrolisat enzim murni menghasilkan produk laktat lebih tinggi daripada produk laktat yang dihasilkan oleh kultur tunggal. Hidrolisat empulur sagu dapat digunakan untuk menggantikan gula-gula murni sebagai substrat fermentasi.
Peningkatan Hasil dan Kualitas Pakan Hijauan Melalui Pemupukan Molibdenum pada Pertanaman Campuran Rumput dan Legum Iin Susilawati; Dedeh Hudaya Arif; Harun Djuned
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1875

Abstract

Experiment was conducted in the field  experiments Faculty of Agriculture, Padjadjaran University from January 2010 until January 2011, to assess the fertilizing influence of molybdenum and various types of legumes to yield and quality of forage crops on various types of legumes mixed cropping with Guinea grass (Panicum maximum). A Randomized Block Design using a  factorial pattern group with 2 factors and 3 replications. The first factor consistsed of three legume species  (Kudzu, Kalopo, and mix Kudzu with Kalopo), while the second factor was molybdenum fertilizer, 4 level: 0,3,6 and 9 g (kg seed) -1. The results of statistical analysis showed that  legume species was significantly affected yield and quality of forage crops, while the molybdenum did not significantly effected the yield and quality of forage crops.****Percobaan dilaksanakan  di lahan penelitian Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran,Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh pemupukan molibdenum dan berbagai jenis legum terhadap hasil dan kualitas pakan hijauan pada pertanaman campuran berbagai jenis legum dengan rumput Benggala (Panicum maximum). Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama jenis legum terdiri atas 3 macam (Kudzu, Kalopo dan campuran Kudzu dan Kalopo), sedangkan faktor kedua adalah dosis molibdenum, 4 taraf: 0,3,6 dan 9 g kg-1 benih. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jenis legum berpengaruh nyata terhadap hasil dan kualitas pakan hijauan, sedangkan molibdenum berpengaruh tidak nyata terhadap hasil dan kualitas pakan hijauanan.
STIMULASI MUROTAL AL QURAN TERHADAP NILAI GLASGOW COMA SCALE PADA PASIEN STROKE ISKEMIK Arif Setyo Upoyo; Helwiyah Ropi; Ria Sitorus
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1885

Abstract

Stroke is main cause death in the world. The problem stroke patient is decrease of level consciousness that caused by low perfusion in reticular activating system. The aim of research identify the effect of stimulation murotal Al Quran toward increasing score of Glasgow Coma Scale (GCS) at ischemic stroke patient. Design research used quasi experiment with pre and post control group design. The total of sample were 38 patients who taked randomized. Intervention group got stimulation murotal Al Quran 30 minutes a day for 3 days. Assesment GCS was done in the first and the third day. Data was analyzed by Wilcoxon and Mann Whitney test. There were significant difference of GCS score before and after intervention (p=0.034) and significant difference of increasing GCS score between intervention and control groups (p=0.013). Stimulation murotal Al Quran had significant effect in increasing GCS score. it is recommended at ischemmic stroke patient with decrease level of consciousness. ****Stroke merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Masalah pasien stroke di unit keperawatan kritis adalah penurunan kesadaran akibat penurunan perfusi pada  reticular activating system. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh stimulasi murotal Al Quran terhadap peningkatan kesadaran pasien stroke iskemik. Desain penelitian adalah pre and post tes control group design. Sampel 38 pasien stroke iskemik diambil secara random. Kelompok intervensi mendapatkan stimulasi murotal Al Quran 30 menit sehari selama 3 hari. Penilaian GCS dilakukan di hari pertama dan ketiga. Data dianalisis dengan Wilxocon dan Mann Whitney test. Hasil yang didapatkan adalah terdapat perbedaan nilai GCS yang bermakna sebelum dan setelah intervensi (p = 0,034). Terdapat perbedaan peningkatan nilai GCS yang bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0.013). Stimulasi dengan memperdengarkan murotal Al Quran mempunyai pengaruh positif dalam meningkatkan kesadaran pasien stroke iskemik, sehingga direkomendasikan pada pasien stroke iskemik yang mengalami penurunan kesadaran.
Evolusi Cekungan Serayu pada Paleogen hingga Neogen Awal Syaiful Bachri; Febri Hirnawan; Adjat Sudradjat; Ildrem Syafri; Djajang Sukarna
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1877

Abstract

On the basis of paleogeographic study, it is revealed that during Paleogene, or exactly during Middle Eocene – Oligocene times, the southern part of the study area was occupied by the Bogor Trough Low, or Bobotsari Low in the Purbalingga area. The lows were bounded by the Southern Serayu Range high in the south. During that time, the South Serayu Range high , including the active volcanoes  on  it , was still above the sea level, and therefore the Serayu Basin formed a back arc basin. During the Neogene time the volcanic belt moved northwards to the north of the Bogor Through. The peak of volcanism occurred during Late Miocene – the lower part of Early Pliocene, which is indicated by formation of the Kumbang volcanic rocks. Meanwhile, the South Serayu Range has been submerged by transgression event causing the Serayu Basin turned to be fore-arc basin. The method used in this research is probabilistic analysis involving XRD variable, i.e. Q/(Q+F) or quartz per quartz and feldspar,  and petrographic analysis variable, i.e. amount of constituents of volcanic origin or total volcanic rock fragments and volcanic glass (Rv+Gv). The result of probabilistic analysis using the variables as mentioned previously suggests that since the formation of the Worawari Formation (Middle Eocene – Oligocene) to the formation of the Penyatan Formation (Late Miocene – lower part of the Early Pliocene) tectonic activity increased, triggering increasing volcanic activity. ****Berdasarkan studi paleogeografi diketahui bahwa selama Paleogen, atau tepatnya pada waktu Eosen Tengah – Oligosen,  bagian selatan daerah penelitian ditempati oleh rendahan Palung Bogor, atau rendahan Bobotsari di daerah Purbalingga, sementara rendahan tersebut berbatasan langsung dengan tinggian Pegunungan Serayu Selatan. Pada waktu itu Pegunungan Serayu Selatan beserta gunungapi – gunungapi yang aktif masih berada di atas muka air laut, sehingga Cekungan Serayu merupakan cekungan busur – belakang. Pada waktu Neogen, terjadi pergeseran lajur gunungapi ke sebelah utara Palung Bogor. Puncak kegiatan vulkanisme terjadi pada Miosen Akhir – bagian bawah Pliosen Awal, yang ditandai oleh pembentukan Batuan Gunungapi Kumbang. Sementara itu, Pegunungan Serayu Selatan sudah tenggelam oleh peristiwa genang-laut yang menyebabkan Cekungan Serayu berubah menjadi cekungan busur muka. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis probabilistik yang melibatkan variabel defraksi sinar-X , yaitu Q/(Q+F) atau kuarsa per kuarsa dan feldspar, dan variabel dari analisis petrografi, yaitu jumlah penyusun asal volkanik atau total fragmen batuan volkanik dan gelas volkanik (Rv+Gv). Hasil analisis probabilistik dengan variabel-variabel tersebut di atas menunjukkan bahwa sejak pembentukan Formasi Worawari (Eosen Tengah – Oligosen) hingga Formasi Penyatan (Miosen Akhir – bagian bawah Pliosen Awal) menunjukkan peningkatan kegiatan tektonik yang disertai peningkatan kegiatan gunungapi.
Aktivitas IL-18, IL-4, dan IFN- pada Kultur Limfosit yang Distimulus oleh Staphylococcal enterotoxin B (SEB) sebagai Petanda Eksaserbasi Tingkat Seluler pada Penderita Dermatitis Atopik Oki Suwarsa
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1887

Abstract

Staphylococcus aureus (S.aureus) has an important role in the pathogenesis of atopic dermatitis (AD). These role of S. aureus are related to various proteins such as staphylococcal enterotoxin B (SEB), a potent toxin. Interleukin (IL) -18  is an important regulator for interferon (IFN)g ,a cytokine produced by Th-1, and IL-4 produced by Th-2.  Further studies are still needed to discover the mechanism of SEB in AD, particularly IL-18 level, and its activities towards IL-4 and IFN-g  secretions, in regards of therapeutic strategy. The aim of this study is to analyze the activities of IL-18, IL-4, and IFN-g in the lymphocyte culture from AD patients, stimulated  with  SEB and the association between increased IL-18 level with increased  IL-4 and IFNg level. Twenty AD patients (7 male and 13 female) and twenty healthy subjects (9 male, and 11 female) were involved in this study. Study was done in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, proceeded by experimental invitro test on the lymphocyte culture stimulated with SEB at Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada. The study was performed from 4January until 31March 2010.  Lymphocytes from the peripheral blood of the study group and control group were isolated and cultured, then 3 methods were performed towards the cultured lytmphocyte, i.e., no exposure, exposed to PHA, and exposed to SEB. After being incubated for 72 hour, then IL-18, IL-4, and  IFN-g  levels from the supernatant of the lymphocyte culture were evaluated with ELISA method.Mean IL-18 level in the lymphocyte culture of AD group, with no exposure, exposed to PHA, and exposed to SEB were 54,62 pg/ml, 70,09 pg/ml, and 99,38 pg/ml, respectively, whereas,  in the control group were 33,36 pg/ml, 39,03 pg/ml, dan 54,19 pg/ml, respectively. Mean IL-4 level in the study group were 0,32 pg/ml, 1,19 pg/ml, dan 2,43 pg/ml, and in the control group were  0,32 pg/ml, 0,78 pg/ml, and 3,02 pg/ml, respectively. Mean IFN-g level in the AD group were 12,75 pg/ml, 351,59 pg/ml, and 1293,17 pg/ml, while in the control group were  19,76 pg/ml, 562,81 pg/ml, and 1419,28 pg/ml, respectively.  IL-18, IL-4, and IFN-g  level in the AD group increased after being stimulated with SEB,  (p<0,05), whereas in the control group increase only occured to IL-4, and IFN-g (p<0,05). There were correlation between increased IL-18 level with increased IL-4 level (p<0,05), however the increased of IL-18 level were not related to increased IFN-g level (p>0,05). The increased  IL-18 level contributed more to the increased of IL-4 level than IFN-g  level  (p<0,05).The result of this study, is only IL-18 level increased in any methods performed, compared to control group (p<0,05). This finding leads to the conclusion that IL-18 level is the marker of AD exacerbation in the cellular level of the AD lymphocyte culture stimulated with SEB.****Staphylococcus aureus (S.aureus) berperan penting pada patogenesis dermatitis atopik (DA). Peran tersebut berhubungan dengan dihasilkannya berbagai protein antara lain toksin poten oleh S. aureus, yaitu staphyloccoccal enterotoxin B (SEB).  Interleukin-18 (IL-18) merupakan regulator penting dari produksi sitokin Th-1 yaitu Interferon-g (IFN-g) dan Th-2 yaitu IL-4. Penelitian untuk mengetahui mekanisme SEB pada DA, khususnya kadar IL-18, dan pengaruh aktivitas IL-18 terhadap sekresi IL-4 dan IFN-g, untuk strategi pengobatan perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas IL-18, IL-4, dan IFN-g pada kultur limfosit yang distimulus oleh SEB pada penderita DA, serta pengaruh kenaikan kadar IL-18 terhadap kenaikan kadar IL-4 dan IFN-g.Penelitian ini dilakukan  pada 20 orang penderita DA (7 laki-laki dan 13 wanita) dan 20 orang sehat (9 laki-laki, dan 11 wanita) di RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung, merupakan penelitian eksperimental secara invitro pada kultur limfosit yang distimulus oleh SEB di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada. Dilakukan isolasi limfosit dari darah perifer kelompok DA dan kontrol, dilanjutkan dengan kultur limfosit, kemudian dilakukan 3 perlakuan yaitu tanpa paparan, dipapar dengan phytohemagglutinin (PHA), dan dipapar dengan SEB. Setelah dieramkan selama 72 jam, kemudian diperiksa kadar IL-18, IL-4, dan IFN-g  dari supernatan kultur limfosit dengan metode ELISA.Kadar IL-18  rata-rata pada kultur limfosit tanpa paparan, paparan PHA, dan paparan SEB kelompok DA  berturut-turut  adalah 54,62 pg/ml, 70,09 pg/ml, dan 99,38 pg/ml.   Sedangkan pada kelompok kontrol berturut-turut adalah   33,36 pg/ml, 39,03 pg/ml, dan 54,19 pg/ml. Kadar IL-4 rata-rata kelompok DA berturut-turut adalah 0,32 pg/ml, 1,19 pg/ml, dan 2,43 pg/ml, dan pada kelompok kontrol berturut-turut adalah   0,32 pg/ml, 0,78 pg/ml, dan 3,02 pg/ml. Kadar  IFN-g rata-rata kelompok DA  berturut-turut adalah  12,75 pg/ml, 351,59 pg/ml, dan 1293,17 pg/ml, dan pada kelompok kontrol berturut-turut adalah   19,76 pg/ml, 562,81 pg/ml, dan 1419,28 pg/ml.  Pada kelompok DA, kadar IL-18, IL-4, dan IFN-g setelah dipapar SEB, meningkat dibanding dengan sebelum dipapar (p<0,05), sedangkan pada kelompok kontrol hanya kadar IL-4, dan IFN-g yang meningkat (p<0,05). Kenaikan kadar IL-18 berpengaruh terhadap kenaikan kadar IL-4 (p<0,05), tetapi tidak berpengaruh terhadap kenaikan kadar IFN-g  (p>0,05). Kenaikan kadar IL-18 lebih berpengaruh  pada kenaikan kadar IL-4 dibandingkan dengan IFN-g (p<0,05).Pada penelitian ini hanya kadar IL-18 kelompok DA yang meningkat lebih tinggi pada semua perlakuan, dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa IL-18 merupakan petanda adanya eksaserbasi tingkat seluler pada kultur limfosit DA yang distimulus oleh SEB.
Sodium Alginat sebagai Controlled Release Mikroenkapsulasi Chlorhexidine 2% untuk Alternatif Dressing Saluran Akar Gigi Denny Nurdin
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1879

Abstract

Chlorhexidine in various concentrations has been recommended as a root canal irrigation and medicament of infected teeth. Intracanal medicament should remain stable in solution and remain active despite being contaminated by blood, serum and tissue protein derivates. A way is needed to protect the medicament from the influence of the root canal environtment, that is by encapsulating the root canal medication. Coating materials used must be biocompatible and biodegradable, one of which is sodium alginate. In this research, microcapsules of sodium alginate with chlorhexidine as an active compounds were manufactured using sol-gel and emulsion method, and a crosslink menthod between sodium alginate and calcium nitrate.  The purpose of this study was to analyze the ability of sodium alginate as a controlled release of encapsulated active compound chlorhexidine 2% who has micro size in order to work in the root canal tooth and analyze the release rate. Research conducted at the Material Processing Laboratory Engineering Physics Institut Teknologi Bandung. The results showed that based on SEM obtained microcapsule size ranging from 0.3 μm - 5μm and by using UV-Vis characterization of the release rate is known is 0.03% per minute. The conclusions of this study was sodium alginate has the ability to encapsulate the active compound chlorhexidine 2% in micro size.****Chlorhexidine dalam berbagai konsentrasi telah direkomendasikan sebagai bahan irigasi dan obat saluran akar gigi yang terinfeksi. Obat saluran akar harus tetap stabil dalam larutan dan tetap aktif meskipun terdapat darah, serum dan derivat protein jaringan. Diperlukan suatu cara untuk melindungi obat saluran akar dari pengaruh lingkungannya yaitu dengan cara mengenkapsulasi obat saluran akar tersebut. Bahan penyalut yang digunakan harus bersifat biocompatible dan biodegradable yang salah satunya adalah sodium alginat. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan mikrokapsul sodium alginat dengan senyawa aktif chlorhexidine 2 % menggunakan metode sol-gel dan emulsi serta metode crosslink antara sodium alginat dan kalsium nitrat.Tujuan penelitian ini adalah untuk  menganalisis kemampuan sodium alginat sebagai controlled release dari enkapsulasi senyawa aktif chlorhexidine 2% yang mempunyai ukuran mikro agar dapat bekerja dalam saluran akar gigi dan menganalisis release rate-nya.Penelitian dilakukan di Laboratorium Proses Material Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan karakterisasi SEM didapatkan ukuran mikrokapsul berkisar antara 0,3µm – 5µm dan dengan menggunakan karakterisasi UV-Vis diketahui release ratenya adalah 0,03% permenit. Simpulan dari penelitian ini adalah sodium alginat memiliki kemampuan untuk mengenkapsulasi senyawa aktif chlorhexidine 2% dalam ukuran mikro.
Respon Deformasi, Transgresi-Regresi, dan Geomorfologi Tektonik di Daerah Apaumagida (Apowo), Enarotali, dan Pegunungan Legare akibat Tektonik Papua Maran Gultom
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 1, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijas.v1i3.1889

Abstract

Papua as the largest island in East Indonesia has a complex tectonic setting, is a result of interaction between Australia, Caroline, and Pasific plate. Historical Geology noted that there are several times events the flora and fauna large growth and followed by mass extinction. Furthermore, separated three boundary tectonic exactly at coordinates 135° 00’ 00” East - 136° 30’ 00” East and 3° 00’ 00” South - 4° 40’ 00” South as the representation of Papua tectonic.. After that the study location was divided into three blocks. The Apaumagida block represent the Permian – Triassic boundary at coordinate 135°18’11,88” East - 135°43’20,14” East and 3°56’17,59” South - 4°8’28,44” South, the Enarotali block represent the Cretaceous – Paleocene at coordinate 136°18’45,08” East - 136°29’42,00” East and 3°53’34,75” South - 4°5’16,03” South, and the Legare Mountain block that represent the Tertiary – Tertiary Quaternary at coordinate 135° 28’ 54,87” East - 135° 47’ 16,80” East and 3° 25’ 31,17” South - 3° 6’ 6,25” South. The geology structural group, there’s diffrentiation of fold, joint and fault pattern from Permian – Triassic and Cretaceous – Paleocene but there’s similarity from the Tertiary – Tertiary Quaternary. The sedimentology/stratigraphy group, there’s similarity of transgression-regression from Permian – Triassic and Cretaceous – Paleocene up Quaternary, that is transgretion. Geomorphology group, there’s strongth correlation between lineaments and river segment, regretion-korelation similarity between river segment and lineaments, similarity pattern between river segment and lineaments, similarity Mountain Front Sinousity and Mountain Front Facet, from each boundary. From the neotectonic group, there’s similarity between Bifurcation Ratio and Drainage Density from Quaternary towards older rocks beneath it. The general conclusion that the tectonic is actively role in geomorphology, transgression-regression, and geological structure development in Central Mountain area since Paleozoic era until Quaternary.****Papua sebagai pulau terbesar di Indonesia bagian timur memiliki tatanan tektonik yang kompleks, merupakan hasil interaksi lempeng Australia, Karolin, dan Pasifik. Sejarah geologi mencatat bahwa telah terjadi beberapa kali ledakan perkembangan flora dan fauna selama kurun waktu geologi dan selanjutnya diikuti beberapa kali peristiwa kepunahan massal. Selanjutnya  dipisahkan  tiga periode waktu geologi yang lebih dikenal dengan periode tektonik di daerah ujung barat Pegunungan Tengah tepatnya pada koordinat 135° 00’ 00” BT - 136° 30’ 00” BT dan 3° 00’ 00” LS - 4° 40’ 00” LS sebagai lokasi repesentasi kajian tektonik Papua. Ada tiga blok penelitian yakni blok Apaumagida mewakili batas zaman Prem – Trias pada koordinaat 135°18’11,88” BT - 135°43’20,14” BT dan 3°56’17,59” LS - 4°8’28,44” LS, blok Enarotali mewakili Kapur - Paleosen pada koordinat 136°18’45,08” BT - 136°29’42,00” BT dan 3°53’34,75” LS - 4°5’16,03” LS dan blok Pegunungan Legare mewakili Tersier – Tersier Kuarter pada koordinat 135° 28’ 54,87” BT - 135° 47’ 16,80” BT dan 3° 25’ 31,17” LS - 3° 6’ 6,25” LS. Kelompok struktur geologi, terdapat perbedaan pola lipatan, pola kekar dan pola sesar antara  zaman Perm dan Trias, antara zaman Kapur dan Paleosen. Sedang pola lipatan, pola kekar dan pola sesar antara  zaman Tersier dan Kuarter tidak berbeda nyata.  Kelompok sedimentologi/stratigrafi,  terdapat kesamaan proses transgresi-regresi dari Perm - Trias, Kapur – Paleosen, hingga Kuarter. Kelompok geomorfologi tektonik, terdapat hubungan yang kuat antara arah kelurusan dengan segmen sungai, terdapat perbedaan yang nyata antara korelasi-regresi kelurusan dan segmen sungai antara zaman Perm – Trias, antara zaman Kapur – Paleosen. Batas zaman antara Tersier dan Kuarter terdapat kesamaan korelasi – regresi kelurusan dan dan segmen sungai. Indeks geomorfologi tektonik  yakni sinusitas muka gunung dan facet muka gunung dari masing-masing batas zaman Perm – Trias, Kapur - Paleosen dan Tersier - Tersier Kuarter terdapat kesamaan. Kelompok neotekonisme terdapat kesamaan nisbah percabangan sungai dan kerapatan sungai dari Kuarter terhadap batuan yang lebih tua di bawahnya. Kesimpulan umum bahwa tektonik berperan aktif dalam perkembangan  struktur geologi, transgresi-regresi dan geomorfologi tektonik di wilayah Pegunungan Tengah sejak zaman Paleozoikum hingga Kuarter.

Page 1 of 1 | Total Record : 8