cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
ISSN : 14103680     EISSN : 25411233     DOI : -
Core Subject : Engineering,
MIPI, Majalah ilmiah Pengkajian Industri adalah wadah informasi bidang pengkajian Industri berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait dalam bidang industri teknologi proses rekayasa manufaktur, industri teknologi transportasi dan kelautan, serta industri teknologi hankam dan material. Terbit pertama kali pada tahun 1996 frekuensi terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. MIPI diterbitkan oleh Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa-BPPT
Arjuna Subject : -
Articles 601 Documents
Pembuatan dan Karakteristik Membran Reaktor Zeolit Hens Saputra
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i1.3643

Abstract

Membran reaktor merupakan konsep perpaduan dari sistem reaksi dan proses pemisahan/pemurnian. Membran ini disebut juga sebagai membran katalis atau sistem katalis-membran. Dengan membran reaktor ini diharapkan konversi suatu reaksi dapat ditingkatkan dan diperoleh suatu produk yang memiliki tingkat kemurnian lebih tinggi. Sebagai katalis digunakan silica alumina yang berukuran 1,0 mm. Membran anorganik zeolit MFI dilapiskan menutupi seluruh permukaan katalis. Bahan baku yang digunakan antara lain tetraethylortosilikat (TEOS) sebagai sumber silikat dan template organik tetraprophyl ammonium bromide (TPABr). Proses kristalisasi dilakukan pada temperatur 453 K di dalam autogeneous autoclave, dilanjutkan dengan kalsinasi pada temperatur 873 K selama 1 jam. Karakterisasi membran zeolit yang dihasilkan dilakukan dengan X-ray diffraction (XRD) dan pengamatan dengan Scanning Electron Mycroscope (SEM). Karakteristik pori dipelajari menggunakan metode physisorption dan BJH pore size distribution. Selain itu dilakukan pula uji selektifitas dan alkilasi toluena dan xylene. Berdasarkan pengamatan menggunakan XRD mengindikasikan adanya struktur zeolit MFI pada sampel membrane katalis yang dihasilkan. Diperkuat dengan obserbasi SEM menunjukkan bahwa membran zeolit MFI melapisi seluruh permukaan pelet silika alumina dan terdapat indikasi terjadinya komposit terhadap silika alumina pada daerah perbatasan antara membran zeolit atau lapisan bagian luar dengan katalis silika alumina. Hasil pengujian menunjukkan hasil bahwa membran reaktor zeolit MFI berpotensi untuk diaplikasikan sebagai membran katalis yang bersifat sangat selektif terhadap bentuk suatu molekul. Sebagai contoh kasus, suatu isomer dapat dipisahkan satu sama lain secara selektif, sehingga dapat meningkatkan konversi reaksi.Kata kunci : Membran reaktor, isomer, xylene, zeolit, silika alumina, hydrothermal.AbstractMembrane fusion reactor is the concept of the reaction system and the process of separation/purification . These membranes are called also as membrane catalysts or catalyst - membrane system . With the membrane reactor is expected conversion reaction can be improved and obtained a product which has a higher degree of purity . As used silica alumina catalyst measuring 1.0 mm . MFI zeolite coated inorganic membranes covering the entire surface of the catalyst . The raw materials used include tetraethylortosilikat (TEOS ) as a source of silicate and organic template tetraprophyl ammonium bromide ( TPABr ) . Crystallization process carried out at a temperature of 453 K in the autogeneous autoclave , followed by calcination at a temperature of 873 K for 1 hour . Characterization of zeolite membranes produced by X - ray done diffraction ( XRD ) and scanning electron observations with Mycroscope ( SEM ) . Pore characteristics studied physisorption using BJH pore size and distribution . Test will be conducted and the selectivity of toluene and xylene alkylation . Based on observations using XRD indicates the MFI zeolite structure on the resulting catalyst membrane samples . Reinforced with obserbasi SEM showed that the MFI zeolite membrane coating the entire surface of the silica- alumina pellets and there are indications of the silica- alumina composite in the border area between the zeolite membrane or outer layer of silica alumina catalyst . The results show that the results of the MFI zeolite membrane reactor has the potential to be applied as the membrane is highly selective catalyst to form a molecule . As an example case , an isomer can be separated from each other selectively , so as to increase the reaction conversionKeywords : Membrane reactors, isomers, xylene, zeolite, silica alumina, hydrothermal.
Analisa Tegangan Kerusakan pada Pin Hopper M. N. Setia Nusa
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i1.3644

Abstract

Hopper pada Stage Regenerator mengalami kerusakan berupa jatuh dan robek. Hal ini disebabkan karena lepasnya salah satu pin yang menjadi tumpuan hopper. Setelah diperiksa ternyata pin tersebut bengkok dan salah satu stoppernya lepas.Dilakukan penelitian dengan analisa tegangan menggunakan Finite Element Analysis (FEA) dengan menggunakan type elemen plat untuk memodelkan shell Hopper dan solid elemen untuk Pin. Analisa tegangan dilakukan pada model Hopper untuk menentukan beban yang bekerja pada Pin kemudian dilakukan FEA pin untuk menentukan tegangan yang terjadi pada pin. Hasil perhitungan: Rupture allowable stress/Sr untuk 100.000 jam operasi sebesar 3,2 ksi (2,24 kg/mm2). Karena tegangan yang terjadi pada pin disebabkan oleh bending maka tegangan yang terjadi harus lebih kecil dari 1,5 Sr = 3,36 kg/mm2, jadi dari FEA distribusi tegangan Pin yang dipakai harus diameter 70 mm.Kata kunci : Hopper, Pin bengkok, Jatuh, FEA, Pin 70 mm.AbstractHopper at the stage regenerator failed due to falling and break, after visual examination it is found that the pin is bent and a stopper goes out. It is then conducted stress analysis using Finite Element Analysis (FEA) by means of plate element mode to model the hopper cell and solid element of the pin stress analysis is conducted for modelling the hopper is to determine working load on the pin followed by FEA to determine stresses taking place on the pin the calculation result are: rupture allowable stress (SR) for 100.000 operation hours is 3.2 Ksi (2.24 kg/mm2). As stress on the pin is caused by bending, the stress should be lower than 1.5 SR or 3.36 kg/mm2, and from FEA stress distribution on the pin should use pin with 70 mm in diameter.Keywords : Hopper, Bend, Fall, FEA, Pin 70 mm
Proses Pemurnian Gas Bumi Sebagai Bahan Baku Kilang Mini Mohammad Ismail
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i1.3645

Abstract

Penggunaan gas bumi sebagai bahan bakar otomotif telah cukup banyak digunakan di negara maju. Di Indonesia, penggunaannya telah dikembangkan sejak tahun 1988 meski menghadapi banyak masalah dalam perkembangannya. Ada korelasi antara jarak dari kebutuhan LNG liquefaction plant dengan pengguna akhir. Ada beberapa teknologi yang ekonomis, seperti Mini Plant LNG, terutama dalam penyediaan gas ke daerah-daerah di mana distribusi gas dari kilang besar tidak terjangkau karena kurangnya infrastruktur .Dalam beberapa kasus Mini LNG juga dapat berfungsi untuk cadangan untuk perluasan saluran yang ada , bahkan bisa juga digunakan sebagai cadangan dalam sistem distribusi selama musim puncak. Di sini kita dapat melihat bahwa kilang LNG mini akan ekonomis untuk transportasi dengan jarak sekitar 500 km dan volume persediaan di bawah 2,5 MMscm/d atau 600-700 Kton/tahun. Mini Plant LNG lebih tepat bagi negara- negara yang memiliki banyak sumber ladang gas marginal yang tersebar di beberapa lokasi geografis dengan kondisi yang lebih kompleks, sehingga untuk sistem jaringan pipa pengembangan investasi terlalu mahal, seperti kondisi pegunungan, rawa, hutan. Dalam hal ini LNG biasanya dikirim menggunakan tangki khusus melalui sungai atau darat. Kapasitas produksi jenis ini berkisar 10- 500 ton per hari. Kepadatan energi yang tinggi dari LNG juga merupakan salah satu alasan untuk memilih LNG.Kunci kunci : Kilang LNG mini, Gas Bumi, Ladang Gas MarginalAbstractThe use of natural gas as an automotive fuel has been quite widely used in developed countries. In Indonesia, its use has been developed since 1988 despite facing many problems in its development. The existence of a correlation between the distance of the needs LNG liquefaction plant to the end user. There are several technologies that are economical, like a mini LNG plant, especially in the supply of gas to the areas where the distribution of gas from large refineries are not due to lack of infrastructure. In some cases LNG mini can also act to reserve for the expansion of existing channels, even can also be used as a backup in the distribution system during peak season. Here we can see that the mini LNG plant is economically more suitable for transport to a distance of about 500 km and volumes inventory under 2.5 MMscm/d or 600-700 K tons/year. Mini LNG plant is more appropriate for countries which have many sources of marginal gas fields spread over multiple geographical locations with more complex conditions , so for investment development pipeline network system is too expensive , such as the condition of the mountains, swamps, forests. In this case the LNG usually be sent using a special tank through a river or by land. The production capacity of this type ranged from 10-500 tons per day . High energy density of LNG is also one of the reasons for selecting LNGKeywords : Mini-LNG Plant, Natural Gas, Marginal Gas Fields
Analisa Gaya Penekanan pada Proses ECAP Batang Kuningan CuZn 70/30 Suryadi -; Amin Suhadi; Dedi Priadi; E. S. Siradj
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i1.3646

Abstract

Telah dilakukan percobaan severe plastic deformation (SPD) dengan metodeequal channel angular pressing (ECAP) pada batang kuningan CuZn 70/30 diameter 10 mm sampai 5 pas. Gaya penekanan meningkat secara signifikan pada awal langkah penekanan dan mencapai nilai maksimum lalu melandai. Pada pas pertama gaya penekanan mencapai 115 kN, pas kedua 130 kN, pas ketiga mecapai 150 kN dan pada pas keempat 165 kN. Dari pengukuran luas area di bawah kurva gaya penekanan diperoleh energi total pembentukan pada proses ECAP batang kuningan persatuan panjang adalah 95 Joule/mm pada pas pertama, sampai 130 Joule/mm pada pas ketiga, dan turun 125 Juole/mm pada pas keempat. Secara kumulatif total energi persatuan panjang meningkat secara linier sesuai dengan peningkatan jumpah pas, dimana pada pas keempat mencapai 597 MPa. Peningkatan gaya penekanan dan energi penekanan sebanding dengan terjadinya peningkatan kekerasan pada batang kuningan dan terjadinya penghalusan butir.Kata kunci: ECAP, gaya penekanan, energi pembentukan, kekerasan, penghalusan butir, kuningan.AbstractExperiments of severe plastic deformation (SPD) have been carried out by the method of equal channel angular pressing (ECAP) on brass rods CuZn 70/30 diameter 10 mm to 5 pas. Pressing force significantly is increased emphasis on early steps and reaches a maximum value and then ramp. At the first pas the pressing force reached 115 kN, the second pass 130 kN, the third pass 150 kN and fouth pass is 165. From measurements of the area under the curve of pressing force, the total forming energy per unit length generated to form the brass rod in ECAP is 95 Joule / mm at the first pass, 130 Joules / mm at third pass and down to 125 Joule/mm at fouth pass. Cumulatively, the total forming energy per unit length increases linearly according to the increase in number of ECAP pass, where the fourth pass reach 597 Joule/mm. Increased emphasis pressing load and forming energy is proportional to the increase in hardness of the brass rod and the grain refinement.Keywords: ECAP, pressing load, forming energy, hardness, grain refinement, Brass
Penguatan Industri Kendaraan Bermotor Irwan Ibrahim
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3647

Abstract

Produksi industri mobil terus mobil meningkat dalam beberapa tahun ini. Pada tahun 2012 mencapai 1,065 juta unit. Peraturan Presiden No. 28/2008 menetapkan sasaran produksi tahun 2015 sebanyak 1,6 juta unit yang terdiri dari mobil jenis MPV, truk ringan, kendaraan bermotor hemat energi dan bersahabat dengan lingkungan. Sasaran ekspor juga ditetapkan 386 ribu unit. Namun peran potensi lokal dalam bidang teknologi masih sangat terbatas. Upaya harus dikembangkan untuk memperkutan struktur industri mobil dengan melibatkan kapasitas dalam negeri. Tulisan ini mencoba mengemukakan sebuah alternatif pendekatan dan strategi untuk membuat industri mobil menjadi lebih kuat.Kata kunci: Mobil, Industri, Kapasitas Dalam NegeriAbstractThe production volume of automobile industries increases over the years. In 2012 it reached 1.065 million units. The Presidential Regulation No. 28/2008 stipulates the production target of 1.6 million units in 2015 of MPV’s type, light trucks and energy saving & environmentally friendly vehicles. The export target in 2015 is set for 386,000 units. However, the role of local potential in technology is very limited. Effort has to be assessed to strengthening the structure of automobile industry taking into account local capacities. This paper tries to present an alternative approach and strategy to make the automobile industry stronger.Key words: Car, Local Capacity, Industry12
Metode Perhitungan Satuan Unit Produksi (SUP) dan Indeks Konversi Yulianta -
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3648

Abstract

Kebijakan tarif jasa angkutan Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan (ASDP) harus diterapkan secara proporsional dan seadil-adilnya kepada setiap muatan berupa penumpang maupun kendaraan dan barang yang ada di atasnya. Prinsipnya adalah semakin banyak sebuah muatan menggunakan sumberdaya maka akan semakin tinggi charge yang dikenakan. Indeks konversi yang dijadikan dasar perhitungan tarif perlu dikaji ulang setelah berlangsung lebih dari 10 tahun. Hal ini dilakukan karena adanya perubahan dimensi kendaraan yang berpengaruh terhadap penerapan tarif. Selain itu sistem tarif dan satuan yang dipakai di ASDP berbeda dari moda angkutan lain yang berlaku di dunia jasa angkutan. Untuk itu agar selaras perlu dilakukan dasar perhitungan dengan metode yang baru. Penyusunan indeks konversi untuk perhitungan tarif ini dilakukan dengan menganalisis hasil pengumpulan data pengukuran fisik langsung terhadap dimensi/ukuran kapal dan fasilitas untuk penumpang serta muatan berupa penumpang dan kendaraan didukung dengan data sekunder terkait. Dari analisis data dihasilkan perhitungan Satuan Unit Poduksi (SUP) penumpang dewasa kelas ekonomi sebagai SUP ‘dasar’ yang bernilai indeks 1 (satu) dalam satuan kubik (m3). Muatan berupa kendaraan berdasar dimensi/ukuran masing-masing diformulasikan kemudian dikonversikan terhadap SUP ‘dasar’ tersebut guna memperoleh besaran SUP masing-masing. Hasilnya dari kendaraan terkecil golongan I besaran SUPnya = 2,36 hingga kendaraan golongan IX dengan besaran SUP = 171,68 (kosong) dan 289,77 (isi). Indeks konversi dengan metode ini bisa mengurangi sisi lemah dari metode sebelumnya sekaligus bisa selaras dengan sistem tarif yang lazim diterapkan pada dunia jasa pengangkutan oleh perusahaan- perusahaan multinasional.Kata kunci : Satuan Unit Produksi (SUP), Indeks Konversi, TarifAbstractASDP freight tariff policy should be applied proportionately and fairly as possible to each passenger and a cargo vehicle and the items on it . The principle is that the more a resource loads using the higher charge will apply. The conversion Index that is used as the basis for calculating tarifhas to be reviewed the last more than 10 years. This is because of vehicle dimension charge that effects tarif. In addition to the tariff system and the unit used in ASDP different from other transport modes prevailing in world freight services. For that to be done in harmony with the basic calculation that the new method. Indexing the conversion rate for the calculation is done by analyzing the results of a direct physical measurement data collection on dimensions/sizes of ships and facilities for passengers and cargo in the form of passengers and vehicles powered by the relevant secondary data . From the analysis of the data calculation generated production Unit (SUP), adult passengers in economy class as SUP 'base' value- index 1 (one) in a cubic unit (m3). A charge based on vehicle dimensions/size of each of them later converted to SUP 'base' in order to obtain the magnitude of SUP, respectively. The results of the smallest vehicle class I have SUP of 2.36 to vehicle classes IX to scale SUP of 171.68(empty) and 289.77 (loaded) . Conversion index with this method can reduce the weak side of the previous methods could well aligned with a common tariff system applied to the world's transportation services by multinational corporationsKey Words : Production Unit, conversion index, Tariff
Fenomena Patah Lelah Batang Torak Mesin Kendaraan Niaga Hadi Sunandrio
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3649

Abstract

Batang torak (connecting rod) mesin kendaraan niaga mengalami patah di daerahconnecting rod shank, pada saat kendaraan tersebut sedang berjalan.Untuk mengetahui penyebab terjadinya kerusakan tersebut, maka perlu dilakukan pemeriksaan dan pengujian di laboratorium terhadap patahan batang torak tersebut, meliputi : pemeriksaan fraktografi, pemeriksaan metalografi, pengujian kekerasan, analisa komposisi kimia dan pemeriksaan dengan SEM. Dari hasil pemeriksaan dan pengujian diketahui bahwa patahnya connecting rod shankdisebabkan karena mengalami patah lelah (fatigue fracture). Bila dilihat dari luasan area lelah (fatigue area) yang lebih besar dibandingkan dengan sisa patahannya (final fracture), maka dapat diketahui bahwa connecting rod shanktelah mengalami patah lelah akibat beban unidirectional bending, dengan tegangan nominal yang rendah (low nominal stress) tanpa adanya konsentrasi tegangan (no stress concentration). Struktur mikro connecting rod shank adalah ferrite dan pearlite, Dari hasil pemeriksaan komposisi kimia dan pengujian kekerasan menunjukkan jenis materia daril connecting rod shank sesuai dengan spesifikasi yang digunakan, yaitu JIS G 4051 Grade S 20 C.Kata kunci : Batang torak, Patah lelah, Beban tekuk searah, Tegangan nominal rendah, Tanpa konsentrasi teganganAbstractThe connecting rod engine of commercial vehicle was suffering damage on the coneecting rod shank area, while its running. To determine the cause of the damage, it is necessary to do inspection and test on the connecting rod fracture in the laboratory, includes: fractography examination, metallography examination, hardness testing, chemical composition analysis and SEM examination. From the results of inspection and testing are known that the fracture of connecting rod shank caused by fatigue fracture. By observing that extent of fatigue area is larger than the final fracture, shows that the connecting rod shank has suffered unidirectional bending fatigue due to load, with nominal low stress and no stress concentration. Connecting rod shank microstructure is ferrite and pearlite, From the results of the chemical composition and hardness testing indicates the type of connecting rod shank material is in accordance with the specification, JIS G 4051 Grade S 20 C.Keywords : Connecting rod, Fatigue fracture, Unidirectional bending, Low nominal stress, No stress concentration
Permintaan Perjalanan Angkutan Umum Massal Kota Surabaya Djoko Prijo Utomo
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3650

Abstract

Sebagaimana kota–kota metropolitan di dunia, kemacetan menjadi permasalahan utama dalam bidang transportasi perkotaan. Kemacetan terjadi pada umumnya karena ketidakseimbangan antara penyediaan (supply) dengan permintaan (demand). Usaha untuk menekan jumlah kendaraan di jalan, salah satunya, adalah dengan mempromosikan pengunaan angkutan umum kota. Oleh karena itu diperlukan sebuah perencanaan penyediaan fasilitas angkutan umum. Untuk memperkirakan permintaan angkutan umum dibangun model lalu lintas yang mereplikakan bangkitan, pola dan pembebanan perjalanan. Hasil kalibrasi model distribusi perjalanan menggunakan gravity model diperoleh fungsi impedance yang terbentuk dari fungsi waktu perjalanan dengan faktor  sebesar 0.063. Perbedaan mean trip length model (dengan observed adalah -5,4%. Mean trip length (MTL) model dengan angkutan umum adalah 17,04 menit dan hasil survai 18,02 menit. Model yang terbangun validasinya cukup baik dengan indikator R2 terhadap data observed sebesar 0,88. Hasil dari seluruh tahapan proses pemodelan diperoleh total permintaan perjalanan dengan angkutan umum tahun 2030 diperkirakan mencapai 67.800.434 penumpang/tahun.Kata kunci: Angkutan umum masal, Distribusi perjalanan, Gravity model.AbstractAs metropolitan cities in the world, congestion becomes a major problem in the field of urban transport. Congestion occurs generally due to an imbalance between supplyand demand. Attempts to reduce the number of vehicles on the road, one of which, is to promote the utilization of public transport. Therefore we need a plan for the provision of public transport facilities. To estimate the demand for public transport, it is built transport model which is replicating the trip generation, trip distribution and trip assignment. The results of the trip distribution model calibration using a gravity model obtained impedance function which is formed from travel time functionby a factor of 0.063. Mean trip length difference between model and observed is equal -5,4%.Mean trip length (MTL) model utilizing public transportsis about 17.04 minutes whereasMTL resulted from traffic survey is about 18.02 minutes.The model validation is quite well with observed data by showing the R2 indicatorof about 0.88.The results fromall stages modeling process obtained total travel demand by public transport in the year of 2030 is estimated at about 67,800,434 passengers/year.Keywords: Mass transit, Trip distribution, Gravity model.
Penerapan Metode AHP dalam Proses Pemilihan Alat Angkut Berat pada Konstruksi Terowongan Layang Bawah Laut Dwi Agus Purnomo
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i2.3651

Abstract

Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 1970an. Metode ini adalah merupakan sistem pembuat keputusan dengan menggunakan model matematis. Pemanfaatan dari metode AHP ini akan dapat membantu dalam menentukan prioritas dari beberapa kriteria dengan melakukan analisa perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria. Dalam sistem pengelolaan kinerja yang dimaksud dengan kriteria tersebut, yang selanjutnya disebut Kinerja Pengelolaan Indikator (KPI). Penerapan metode AHPdalam proses pemilihan alat angkut berat diaplikasikan pada proyek pembangunan terowongan layang bawah laut di Kepulauan Seribu dengan mengidentifikasi atribut kriteria dan alternatif untuk, menentukan besar prioritas atribut dan alternative. Proses analisis melalui pendekatan AHP dengan atribut kriteria- Level 1 dan alternatif-Level 2 terhadap tujuan-Level 0; maka dipilih jenis alat angkut berat sebagai alternatif dengan unsur kriteria tertentu.Kata kunci : AHP, Konstruksi Terowongan Layang Bawah Laut.AbstractAnalytic Hierarchy Processherein after referred as AHP is a method that has developed by Thomas L. Saaty in year 1970. This method is likely a decision making system within using mathematic model. Utilization of AHP method that can help people to decide several criteria priority by pare analysis of each criteria. In managing system of performance mentioned with these criteria that can referred as Indicator Management Performance. Application of AHP method in processing of heavy equipment selection will be applied in submerged floating tunnel construction project at Kepulauan Seribu by identify criteria attribute and alternative to decide priority vector of these attribute and alternative. Analyzing process thorough AHP nearby within attribute criteria-Level1 and alternative criteria-Level2 face to objective criteria-Level 0, therefore it can be selected the heavy equipment as the alternative with the element criteria.Key words : AHP, Submerged Floating Tunnel Construction.
Chelation and Metal-Ion Complex Formation of Chitosan Treated Cotton Sudirman Habibie
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 3 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v8i3.3652

Abstract

Chitin dan chitosan adalah bahan “chelate” yang sangat kuat untuk ion transisi logam terutama tembaga, nikel dan merkuri, dan sifat-sifat ini yang akan intensif di bahas. Pada studi ini kain kapas (cotton) dikerjakan dengan larutan chitosan-asam polikarboksilat untuk memperoleh kain kapas-chitosan yang mengandung gugus group karboksilat (-COOH) dan gugus amina (-NH2) fungsional. Penggunaan asam polykarboksilat (asam sitrat dan maleik) pada pelarutan chitosan menghasilkan group karboksil 0,5 meqs/g pada kain yang dicelup dengan larutan chitosan asam karboksilat. Kemudian kain kapas yang telah mengandung gugus karboksilat dan gugus amina ini dicelupkan pada larutan garam logam (garam tembaga dan seng). Terbukti bahwa larutan garam tembaga (copper) memberikan warna biru pada kain, hal ini mengindikasikan telah terjadi reaksi kompleks atau “Chelate”. Implikasi dari hasil ini maka diperkirakan kandungan group karboksil dan amina ini akan mempengaruhi pada pencelupan kain, namun hal ini tidak diuji.Kata kunci : Chitosan, Kain Kapas, Chelate, Asam asetat, Asam citrate, Asam maleik, Tembaga sulphate, Tembaga acetate.AbstractChitin and chitosan are powerfull chelating agents for transition metal ions, particularly copper, nickel and mercury, and these properties have been extensively reviewed. In this study, cotton fabric has been treated with chitosan- polycarboxylic acid solution to form chitosan treated cotton fabric containing carboxyl (-COOH) and amine (-NH2) functional groups. The use of polycarboxylic acids (citric and maleic acids) to dissolve chitosan has given carboxyl groups 0.5 meqs/g into chitosan treated cotton fabrics. Instead, the complexing of the treated cotton samples with copper and zinc salts was examined. The copper salt solutions gave blue fabrics confirming easily that complexing or chelation had occurred. There are implications for dyeing cotton making use of these groups but this was not investigated.Keyword : Chitosan, Cotton fabric, Chelation, Acetic acid, Citric acid, Maleic acid, Copper (II) sulphate, Copper (II) acetate.

Filter by Year

2013 2022


Filter By Issues
All Issue Vol. 16 No. 3 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajain Industri Vol. 16 No. 2 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajain Industri Vol. 16 No. 1 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 15 No. 2 (2021): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 15 No. 1 (2021): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 3 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 2 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 14 No. 1 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 14, No 1 (2020): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 3 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 13 No. 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 2 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 13, No 1 (2019): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 13 No. 1 (2019): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 3 (2018): VOL 12, NO 3 (2018): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 12 No. 3 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 3 (2018): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 12 No. 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 2 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 12, No 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 12 No. 1 (2018): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 3 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 2 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 11 No. 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 11, No 1 (2017): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 3 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 2 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 10 No. 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 10, No 1 (2016): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 3 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 2 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 9, No 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 9 No. 1 (2015): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 3 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 8 No. 3 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 2 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 8 No. 2 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 8 No. 1 (2014): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol 8, No 1 (2014): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol 7, No 1 (2013): MAJALAH ILMIAH PENGKAJIAN INDUSTRI Vol. 7 No. 1 (2013): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri More Issue