cover
Contact Name
Rahmad Fani Ramadhan
Contact Email
rahmad.fani@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalilmuternak@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Ternak
ISSN : 14105659     EISSN : 26215144     DOI : -
Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran encompasses a broad range of research topics in animal sciences: breeding and genetics, reproduction and physiology, nutrition, feed sciences, agrostology, animal products, biotechnology, behaviour, welfare, health, livestock farming system, socio-economic, and policy. Jurnal Ilmu Ternak Universitas Padjadjaran published by twice a year, June and December
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 1 (2019): June" : 10 Documents clear
The Use of Fermented Sago Pulp as Feed for Super-native Chicken for 1-5 Weeks Roki Rianza; Deni Rusmana; Wiwin Tanwiriah
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.159 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.20012

Abstract

The purpose of this study was to determine consumtion, weight gain, and conversion of super-native chicken rations feed with fermented sago pulp. Sago pulp is a potential local resource for alternative poultry feed as well as an energy source, this can be seen from the metabolic content of sago pulp reaching 2340 kcal / kg, crude protein 3.40%, and crude fiber 11.61%. The purpose of this study was to determine consumption, weight gain, and conversion of super native chicken rations fed with fermented sago pulp. The research method is an experiment using a completely randomized design. The treatment ration used was T0 = (0% ASF), T1 = (10% ASF), T2 = (20% ASF) T3 = (30% ASF), Each treatment was repeated five times. Variables observed were ration consumption, weight gain, and ration conversion. The results of the study there were consumption, weight gain T3 (30% ASF), T2 (20% ASF), and T1 (10% ASF) significantly higher than treatment T0 (0% ASF). The lowest avarage ration conversion results are found in treatment T1 which is 2,40. The conclusion that fermented sago pulp (ASF) can be used in super native chicken rations to the level of 30%.
Local Community Knowledge of Productivity and Diversity of Chicken Phenotypes (Gallus gallus domesticus) as an Effort to Support Ternate's Community Food Security soenarsih sri; A. Hoda
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1881.911 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.19746

Abstract

Research with the title Local Community Knowledge of Productivity and Diversity of Chicken Phenotypes (Gallus gallus domesticus) as an Effort to Support Ternate's Community Food Security will be carried out with the aim of studying local knowledge about variations from local chickens, traditions in raising local chickens, and local chicken conservation efforts as studies beginning for the conservation of germplasm in supporting the food security of the people of Ternate City. This research will be carried out for 3 months. The location of the study was determined by purposive sampling with the provisions of the dominant research location having a local chicken population. The main material in this study were adult chickens, both male and female. Changing the phenotype of qualitative characteristics of chickens observed included: feather color, shank color (claw) and comb shape. To see the relationship between community knowledge about productivity and phenotype diversity, 67 interviewed native chicken farmers who are used to conducting selection in seed selection, based on their local knowledge system (LK). Operational Variables consist of independent variables and dependent variables. The independent variable is local knowledge of farmers with parameters: bones, feathers, combs, scales of feet, eyes, cloaca, anal bones, toes, head and back. While the dependent variable is the productivity of domestic chicken with parameters of average egg production per month during three months. The results showed that there was a significant correlation between local knowledge of the community and the level of egg production (P <0.01) with a correlation coefficient of 0.46. While for the phenotypic characterization of qualitative properties of free-range chicken in Ternate City, it is still quite diverse, both feather color, shank color and comb shape and do not yet have specific features that are firm, so that native chickens cannot be categorized as new varieties and selection to form superior and specific chicken varieties.
Peran Taman Teknologi Pertanian (TTP) Dalam Memberdayakan Peternak Domba (Studi Kasus Di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang) Deddy Hidayat; Denie Heriyadi; M. Munandar Sulaeman
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.302 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.22954

Abstract

Upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani dilakukan melalui berbagai program dan pendekatan. Salah satu program yang dijalankan Kementerian Pertanian saat ini adalah pengembangan Taman Teknologi Pertanian (TTP). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran TTP,  mengetahui potensi daya dukung peternakan domba, dan karakteristik masyarakat dalam memaknai ternaknya. Penelitian dilaksanakan pada Tanggal 15-30 Mei 2019. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berdasarkan fenomena di lapangan, dengan mengunakan informan peternak dan pihak TTP. Penelitian menggunakan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TTP berperan untuk mempercepat proses adopsi inovasi baru melalui penyebaran informasi, demonstrasi-demonstrasi, dan pelatihan-pelatihan teknologi budidaya domba menunjukkan hasil yang baik, namun belum semua peternak memahaminya. Banyaknya limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan domba, tidak membutuhkan modal usaha yang besar, budidaya domba yang tidak terlalu sulit, pemasaran yang mudah, dan letak geografis yang strategis merupakan potensi bagi peternak di wilayah TTP Cikajang untuk mengembangkan usaha peternakan domba. Keadaan umum masyarakatnya dalam usia produktif, dengan pendidikan formal yang rendah, sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun, dan merupakan pekerjaan sampingan, karakteristik peternak ini membutuhkan peningkatan pembinaan TTP Cikajang dalam memberdayakannya sehingga potensi daya dukung peternakan dapat dioptimalkan
Potensi Pengembangan Peternakan Kambing di Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku Nafly Comilo Tiven; J.F. Salamena; D. De Lima; I.P. Siwa
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.899 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.20070

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan peternakan kambing di Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku. Penelitian ini didesain dengan metode survei. Pengambilan sampel secara sengaja di Kecamatan Sir Sir dan Aru Tengah yang akan menjadi pilot project pengembangan ternak kambing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Sir Sir dan Aru Tengah (1) Dari potensi wilayah : sangat baik untuk untuk wilayah pengembangan ternak kambing; (2) Dari potensi peternak : peternakan kambing masih dilakukan secara tradisional; (3) Dari potensi ekonomi : Rata-rata pendapatan yang diperoleh peternak kambing berada pada kisaran Rp. 2.000.000-2.500.000/tahun, dengan nilai Return Cost Ratio (R/C) pada masing-masing kecamatan, yaitu 1,62 dan 1,80 (R/C rasio > 1) sehingga menguntungankan dan layak dikembangkan. Dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Sir Sir dan Kecamatan Aru Tengah Kabupaten Kepulauan Aru, sangat berpotensi sebagai tempat pengembangan peternakan kambing, bila dilihat dari segi potensi wilayah dan potensi ekonominya, sedangkan potensi peternaknya perlu ditingkatkan lagi.
Pengaruh Medium dan Lama Inkubasi dalam Proses Sexing Sperma Terhadap Kualitas Semen Kambing Boer Anwar Anwar; Nurcholidah Solihati; Siti Darodjah Rasad
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.693 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.23009

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh medium dan waktu inkubasi pada sexing semen terhadap kualitas spermatozoa kambing Boer. Proses sexing menggunakan metode perbedaan densitas dengan menggunakan medium bovine serum albumin (BSA) dan SpermGrad (SG). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan yaitu, BSA 40 menit (P1), BSA 50 menit (P2), BSA 60 menit (P3), SG 40 Menit (P4), SG 50 (P5) dan SG 60 menit (P6). Variabel yang diamati adalah kualitas spermatozoa (motilitas dan abnormalitas). Data dianalisis menggunakan analisis ragam diikuti uji lanjut berganda Duncan. Materi yang digunakan adalah semen kambing Boer. Hasil penelitian menunjukkan motilitas tertinggi terdapat pada fraksi atas (sperma X) dan fraksi bawah (sperma Y) terdapat pada perlakuan P1 (72,0 ±2,7% dan 72,0±2,7%) dan motilitas terendah pada perlakuan P6 (57,0±5,7% dan 58,0±5,7%). Persentase viabilitas sperma tertinggi fraksi atas terdapat pada P2 dan fraksi bawah P3 (74,4±1,9% dan 79,5±2,8%), yang terendah fraksi atas P1 dan fraksi bawah P6 (72,4±3,6% dan 74,1±3,2%). Selain itu, persentase abnormalitas sperma tertinggi pada fraksi atas pada perlakuan P1 dan fraksi bawah pada P6 (8,5±0,9% dan 5,4±1,2%). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata motilitas antara kedua medium, dan waktu inkubasi 50 menit optimum untuk mempertahankan kualitas semen.
The Correlation Between Internal And External Factors With Motivation Level Of Following A Chicken Pelung Contest (Case Study on Breeder Of Pelung Chicken Breeder in Bandung Regency) Budiman Sagara; M. Sulistyati; M. A. Mauludin
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v19i1.18420

Abstract

Beternak ayam Pelung tidak terlepas dari kontes ayam Pelung. Kontes merupakan salah satu cara untuk memajukan ayam Pelung di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor internal, eksternal, dan tingkat motivasi peternak, kemudian menganalisis hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan tingkat motivasi peternak mengikuti kontes yang telah dilakukkan pada bulan Februari 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei dengan pendekatan kuantitatif. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja karena Kabupaten Bandung merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki populasi, peternak ayam Pelung terbanyak, dan telah memiliki banyak prestasi dalam kontes. Pengambilan responden menggunkan purposive sampling dengan banyaknya sampel berjumlah 30 orang. Analisis hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan tingkat motivasi mengikuti kontes menggunakan korelasi Rank Spearman (rs) dengan program SPSS versi 24 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi mengikuti kontes pada peternak penggemar ayam pelung di kabupaten Bandung termasuk dalam kategori tinggi (70%). Sementara, hasil uji korelasi Rank Spearman untuk hubungan antara faktor internal dengan motivasi peternak mengikuti kontes menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara faktor internal dengan motivasi dengan nilai rs sebesar 0,423 dan terdapat hubungan yang positif pula antara faktor eksternal dengan motivasi dengan nilai rs sebesar 0,406.
Analisis Pendapatan Usaha Ternak Domba Secara Intensif Di Kabupaten Cirebon Fitri Dian Perwitasari; Bastoni Bastoni; Bayu Arisandi
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.279 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.18648

Abstract

Kelompok Tani Ternak Haur Kuning berada di desa Ciawigajah Kabupaten Cirebon.  Kelompok ini tata laksana pemeliharaannya secara intensif dengan skala usaha bervariasi dan tradisional. Tujuan penelitian ini (1) untuk mengetahui aspek sosial ekonomi usaha ternak domba di Kabupaten Cirebon. (2) untuk mengetahui faktor harga jual, jumlah ternak yang dijual dan biaya pakan yang mempengaruhi besarnya pendapatan. Metode penentuan lokasi dengan purposive sampling. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan kelompok, data sekunder berasal dari Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon dan literatur (jurnal penelitian, buku, dan artikel ilmiah). Data yang terkumpul, dianalisis mengunakan tabulasi kemudian dihitung menggunakan rumus pendapatan, analisis R/C ratio dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan aspek sosial : (1) responden berpendapat bahwa memelihara ternak domba sebagai tabungan dan pengisi waktu luang peternak selama menunggu masa panen tiba, (2) mayoritas responden pekerja utama sebagai petani sehingga dapat memanfaatkan sisa hasil pertanian untuk ketersediaan pakan ternak. Dari aspek ekonomi ini pendapatan terendah sebesar Rp 393.500 dan tertinggi Rp 10.418.500, dan analisis R/C ratio terendah 1,20 dan tertinggi 6,26. (3) Persamaan analisis regresi Y = -5885724.523+ 2.975590988 X1 + 1533743.934 X2 – 1.050714511 X3; R2  = 0.9982, Fhitung(1349.09691405135) dengan Significance F (4.97589571307792E-10) artinya harga jual ternak, jumlah ternak yang dijual dan biaya pakan akan mempengaruhi terhadap besarnya pendapatan usaha ternak domba.Kelompok Tani Ternak Haur Kuning berada di desa Ciawigajah Kabupaten Cirebon.  Kelompok ini tata laksana pemeliharaannya secara intensif dengan skala usaha bervariasi dan tradisional. Tujuan penelitian ini (1) untuk mengetahui aspek sosial ekonomi usaha ternak domba di Kabupaten Cirebon. (2) untuk mengetahui faktor harga jual, jumlah ternak yang dijual dan biaya pakan yang mempengaruhi besarnya pendapatan. Metode penentuan lokasi dengan purposive sampling. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan kelompok, data sekunder berasal dari Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon dan literatur (jurnal penelitian, buku, dan artikel ilmiah). Data yang terkumpul, dianalisis mengunakan tabulasi kemudian dihitung menggunakan rumus pendapatan, analisis R/C ratio dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan aspek sosial : (1) responden berpendapat bahwa memelihara ternak domba sebagai tabungan dan pengisi waktu luang peternak selama menunggu masa panen tiba, (2) mayoritas responden pekerja utama sebagai petani sehingga dapat memanfaatkan sisa hasil pertanian untuk ketersediaan pakan ternak. Dari aspek ekonomi ini pendapatan terendah sebesar Rp 393.500 dan tertinggi Rp 10.418.500, dan analisis R/C ratio terendah 1,20 dan tertinggi 6,26. (3) Persamaan analisis regresi Y = -5885724.523+ 2.975590988 X1 + 1533743.934 X2 – 1.050714511 X3; R2  = 0.9982, Fhitung (1349.09691405135) dengan Significance F (4.97589571307792E-10) artinya harga jual ternak, jumlah ternak yang dijual dan biaya pakan akan mempengaruhi terhadap besarnya pendapatan usaha ternak domba.
Pengaruh Rumpun Domba Terhadap Lama Waktu Makan dan Lama Ruminasi A. Subhan; Denie Heriyadi; Kurnia A. Kamil
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.792 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.21470

Abstract

Pengaruh Rumpun Domba Terhadap Lama Waktu Makan dan Lama RuminasiEfek Suku Domba terhadap Waktu Makan dan Merenung Arsya Subhan 1, a , Kurnia A. Kamil 2 , Denie Heriyadi 21 Mahasiswa Program Studi Pascasarjana Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran2 Dosen Program Studi Pascasarjana Fakultas Peternakan Universitas Padjadjarana arsya4u@gmail.com  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama makan dan lama ruminasi dari tiga rumpun domba yaitu Domba Garut, Domba Priangan, dan Domba Lokal dengan umur 12 – 18 bulan. Rataan bobot badan setiap rumpun domba yaitu DG 34 kg, DP 21 kg, dan DL 20,5 kg. Setiap rumpun domba dianggap sebagai perlakuan dan masing – masing diulang sebanyak enam kali. Domba dipelihara dalam kandang individu yang telah dipasang kamera CCTV sebanyak dua unit. Pakan berupa hijauan segar dan air minum, diberikan secara ad libitum selama periode penelitian (06:00-18:00 WIB). Rangcangan acak lengkap digunakan dalam penelitian ini, selanjutnya data diolah dengan ANOVA melalui uji F dengan Uji Duncan sebagai uji lanjutnya.  Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ternak Potong Kandang Domba Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran sejak 29 Januari hingga 12 April 2019. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan lama waktu makan dan ruminasi antar rumpun domba. Domba Lokal menunjukkan lama waktu makan paling sebentar setelah Domba Garut dan Domba Priangan (DL 8996,00 detik/hari, DG 13483,33 detik/hari, dan DP 16468,67 detik/hari). Lama ruminasi paling lama ditunjukkan oleh Domba Garut (16993,67 detik/hari), kemudian Domba Priangan (13718,33 detik/hari), dan paling sebentar Domba Lokal (11163,67 detik/hari). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan lama waktu makan dan lama ruminasi dari ketiga rumpun domba.Kata kunci : Lama Makan, Lama Ruminasi, Domba Garut, Domba Priangan, Domba Lokal  ABSTRACTThis study aimed to learn about differentiation of eating and ruminating time from three tribe of sheep which is Garut’s Sheep, Priangan’s Sheep, dan also Local’s Sheep. Every sheep has equal age from 12 to 18 month with average body weigth 34 kg’s for Garut’s Sheep, 21 kg’s for Priangan’s Sheep, and 20 kg’s for Local’s Sheep. Each tribe of sheep was used as a treatment, and every treatment has repeated six time. Two CCTV’s was used to observe the behaviour of sheep with modified individual cage along observation. Observation period was start from 06:00 to 18:00 for each individual with ad libitum forages as primary food and water supply. The data were randomized using Complete Randomized Sampling Method, and evaluated using ANOVA with Duncan post-hoc test to determine the divergency. The research was held in “Laboratorium Ternak Potong Kandang Domba Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran” since January 29th 2019 sampai tanggal 12 April th 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap suku memiliki nomor yang berbeda dari pengeluaran waktu untuk makan dan memamah biak. Domba Lokal memiliki waktu makan terendah setelah Domba Garut dan Domba Priangan dengan nilai 8996,00 s / d, 13483,33 s / d, dan 16468,67 s / d masing-masing. Domba Garut memiliki jumlah waktu perenungan tertinggi dengan 16993,67 s / d, kemudian Domba Priangan dan Domba Lokal masing-masing dengan nilai 13718,33 s / d, dan 11163,67 s / d. Suku domba memiliki pengaruh waktu makan dan waktu perenungan.Kata kunci: Waktu Makan, Waktu Merenungkan, Domba Garut, Domba Priangan, Domba Lokal
Kurva Produksi Telur di Awal Masa Peneluran pada Puyuh yang diberi Ransum dengan Kandungan Protein Berbeda Adi Ratriyanto; Brian Fikri Hidayat; Nuzul Widyas; Sigit Prastowo
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.567 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.22171

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji pola produksi dan aplikasi model regresi logistik produksi telur puyuh yang diberi ransum dengan level protein berbeda. Sebanyak 225 ekor puyuh didistribusikan dalam 3 perlakuan dan 5 ulangan; jumlah puyuh masing-masing ulangan 15 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah level protein kasar (PK) dalam ransum sebesar 16,5% (P1), 18% (P2) dan 19,5% (P3). Data produksi telur diambil sejak awal peneluran pada masa adaptasi dan selama dua periode produksi telur (2×28 hari) pada masa perlakuan. Data dianalisis menggunakan program R. Perlakuan P2 dan P3 menghasilkan produksi telur yang lebih tinggi daripada P1 (P<0.05). Model logistik produksi telur puyuh menunjukkan bahwa puncak produksi tertinggi dicapai oleh P3 sedangkan rentang dan laju produksi terbesar dicapai P1. Data aktual produksi telur memiliki kesesuaian (fitness) yang tinggi (R2=0,92–0,97) dengan model logistik. Berdasarkan hasil tersebut, disimpulkan bahwa semakin tinggi protein kasar menghasilkan produksi telur yang tinggi. Model regresi logistik dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh perlakuan biologis terhadap produksi telur puyuh serta memiliki kesesuaian yang tinggi dengan data aktual.
Modelling Growth Curves In Kampung Super Garut Chicken Fed With Pasak Bumi Meal (Euricoma longifolia Jack) Abdul Kholik; H. Indrijani; W. Tanwiriah
Jurnal Ilmu Ternak Vol 19, No 1 (2019): June
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.123 KB) | DOI: 10.24198/jit.v19i1.20257

Abstract

AbstractChicken growth will be showing a curve with certain mathematic model. The aim of this research was to predict growth curve model of kampung super garut chicken Fed With Pasak Bumi Meal (Euricoma longifolia Jack). This research used descriptive eksperimental method with 100, divided in five groups. Every groups fed with Pasak Bumi Meal in five categories is R0 (0%), R1 (0,025%), R2 (0,050%), R3 (0,075%) and R4 (0,100%). Chickens reared for 12 weeks, the collected data is body weight and body weight gain. Scatter plots data is used for estimated determination coefficient (R2), correlation coefficient (r), and standard error (SE). The results showed that; (1) addition of pasak bumi flour in ration at level 0,075% in ration resulted growth performance optimal; (2) The Gompertz model with the formula of  Y = 1965.2 exp (-3.7890e-0.1456t ) was the best model with coefficient determination (R2) of 99.94%, coefficient of correlation (r) of 99.97%, and standard error (SE) of 16.01%. (3) growth rate until 12 weeks ages still increase.

Page 1 of 1 | Total Record : 10