cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
MUHARRIK: JURNAL DAKWAH DAN SOSIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 400 Documents
Ulama dan Media Sosial: Analisis Pesan Dakwah KH Mustofa Bisri di Twitter
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 1 No. 02 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak KH Mustofa Bisri atau Gus Mus merupakan salah satu ulama yang aktif berdakwah dengan menggunakan media sosial. Dengan akun twitter, Gus Mus dapat menyampaikan pesan dakwah secara efektif kepada masyarakat dimanapun dan kapanpun khususnya generasi muda. Melalui akun twitter @gusmus yang digunakan oleh KH Mustofa Bisri sejak tahun 2013 sampai saat ini jumlah followers beliau mencapai 1,8 juta orang. Salah satu tujuan Gus Mus menggunakan twitter agar memudahkan beliau dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah yang mengajak kedamaian mengingat masyarakat hari ini banyak yang menggunakan media sosial. Bagi Gus Mus, berdakwah menggunakan twitter merupakan cara yang cukup efektif untuk menyampaikan pesan dakwah kepada siapa saja dan dimana saja tanpa terhalang ruang dan waktu. Hal ini mendorong peneliti tertarik untuk menganalisis pesan dakwah Gus Mus melalui akun twitternya @gusmus dengan pendekatan semiotika. Beberapa pesan dakwah yang dianalisis peneliti dalam twitter @gusmus diantaranya akhlak, toleransi, persaudaraan, dan ketuhanan. Kata Kunci: Mustofa Bisri, Twitter, Pesan Dakwah Abstract KH Mustofa Bisri or Gus Mus is one of the scholars who actively preach using social media. With a twitter account, Gus Mus can send da'wah messages effectively to the public wherever and whenever specifically for the younger generation. Through the @gusmus twitter account given by KH Mustofa Bisri since 2013 to date, the number of followers has reached 1.8 million people. One of the goals of Gus Mus is using twitter to enable him to deliver the messages of da'wah that bring peace from today's society to many who use social media. For Gus Mus, preaching using twitter is a fairly effective way to send da'wah messages to anyone and anywhere without time and space. This prompted researcher to study the message of Gus Mus's preaching through his twitter account @gusmus with the semiotic approach. Some da'wah messages were analyzed on twitter @ gusmus adult morals, tolerance, brotherhood, and divinity. Keywords: Mustofa Bisri, Twitter, Message of Da'wah Referensi Abidin, Yusuf Zainal. 2015. .Metode Penelitian Komunikasi penelitian kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Bandung: Pustaka Setia Barthes, Roland. 2012. Elemen-elemen Semiologi. Yogyakarta: Jalasutra. Danesi, Marcel. 2010. Pengantar Memahami Semiotika Media, Yogyakarta. Effendy, Onong Uchjana. 2017. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Adtya Bakti. Pimay, Awalidin. 2013.Menejemen Dakwah Sebuah Pengantar. Jakarta: Pustaka Ilmu. Basit, Abdul. 2013. Filsafat Dakwah. Depok : PT Rajagrafindo Persada. Abdullah Sayyid. 2001. Kesempurnaan dan Kemuliaan Dakwah Islamiah. Bandung: Pustaka Setia. Arifin, Anwar. 2011. Dakwah Kontemporer, Sebuah studi Komunikasi, Yogyakarta: Graha Ilmu. Ilahi, Wahyu. 2010. Komunikasi Dakwah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Morrisan. 2013. Teori Komunikasi Massa, Bogor: Ghalia Indonesia. Nasrullah, Rulli. 2017. Media Sosial, Bandung: Simbiosa Rekanita Media, Saputra, Wahidin. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Munir Amin, Samsul. 2008. Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: AMZAH. Abdullah Sayyid. 2001. Kesempurnaandan Kemuliaan Dakwah Islamiah. Bandung: Pustaka Setia. Munir, M. 2003. Metode Dakwah. Jakarta: Prenada Media. Fathoni, Abdurrahman. 2005. Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineka Cipta. Ghoni, M. Djunaidi & Fauzan, 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif , Yogjakarta: Ar-ruzz. Abidin, Yusuf Zainal, 2015. Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: Pustaka Setia. Rakhmat, Jalaluddin, 2000. Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya. Ibrahim, Idi Subandy. 2011. Budaya Populer sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer Yogyakarta: Jalasutra. Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. __________. 2013. Semiotika Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Vera, Nawiroh. 2014. Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia. Widiastuti, Desi Kurnia. 2014. Twitter Sebagai Media Alternatif Informasi Publik. Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Puspita, Ayu Widya. 2016. Analisis Penggunaan Media Sosial Twitter Oleh Pejabat Publik Dalam Penerapan Good Governance. Skripsi, Universitas Lampung, Lampung, www.setkab.go.id diakses pada tanggal 4 September 2018 10.30 WIB www.kompasiana.com diakses 4 September 2018 pukul 23.40 WIB
Hermeneutika Kemanusiaan Perspektif al-Qur’an dalam Puisi Gus Mus (Telaah atas Buku Gus Mus berjudul Aku Manusia)
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 1 No. 02 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai sosok tokoh (kiai) yang unik dan memiliki ketekunan dalam mengkaji sastra, baik yang tertuang dalam bentuk puisi, cerpen, kaligrafi, lukis, dan jenis kesusastraan lainnya, adalah tokoh yang hari ini banyak diidolakan oleh masyarakat umum. Karya puisinya-lah yang menjadi sarana paling menonjol untuk menggambarkan fenomena yang terjadi dalam ruang kehidupan manusia. Tema utama yang menjadi pokok pembahasan pada puisi tersebut ialah perihal kemanusiaan, dan yang ditulis secara khusus dalam sebuah buku kumpulan puisi Aku Manusia. Cara pandang dan penyampaian dengan gaya (narasi) yang berbeda menjadi sesuatu yang unik untuk ditelisik lebih jauh lagi. Puisi yang juga sebagai media menyampaikan pesan moral yang termuat secara tersurat maupun tersirat, dan juga untuk mengetahui makna di balik teks puisi -sudah barang tentu memiliki metode yang berbeda-beda pula-. Hermeneutika sebagai metodologi, sedangkan teks sebagai objek utamanya, dan antara keduanya memiliki relevansi untuk menguak makna di balik teks puisi Gus Mus. Dari uraian singkat di atas, penelitian ini akan difokuskan secara khusus pada pembacaan peneliti atas puisi Gus Mus, pertama, menelisik lebih mendalam tentang pesan yang terkandung dalam puisi Gus Mus, fokusnya tentang makna dan nilai Qur’ani-, kedua, menampilkan bagaimana pandangan dan juga kritik Gus Mus mengenai fenomena kehidupan manusia. Nantinya, pada bab selanjutnya akan dibahas secara terperinci terkait hal itu, dan akan dimuat pada sub-sub bab penelitian ini. Kata kunci: Hermeneutika, Kemanusiaan, Nilai Qurani, dan Puisi Gus Mus. Abstract K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) as a unique figure (kiai) who has perseverance in studying literature, both in the form of poetry, short stories, calligraphy, painting, and other types of literature, are figures who are idolized today by the general public. His poetry works are the most prominent means to describe phenomena that occur in the space of human life. The main theme which is the subject of discussion on the poem is about humanity, and which is written specifically in a collection of poems called Aku Manusia. The perspective and delivery of different narratives is something unique to be examined further. Poetry which also serves as a medium conveyes moral messages expressed explicitly or implicitly, and also to find out the meaning behind the text of poetry - of course it has different methods too -. Hermeneutics as a methodology, while the text is the main object, and between its (methodology and poetry as a object) has relevance to uncover the meaning behind Gus Mus's poetic text. From the brief description above, this research will be focused specifically on the reading of researchers on Gus Mus's poetry, first, to examine more deeply the message contained in Gus Mus's poetry, its focus on the meaning and value of the Qur'an, second, showing how views and also Gus Mus's criticism of the phenomenon of human life. Later, the next chapter will be discussed in detail regarding this matter, and will be included in the sub-chapters of this research. Keywords: Hermeneutics, Humanity, Quranic Value, and Gus Mus's Poetry. Referensi Adnan, Mohammad. Tafsir Alquran Suci Bahasa Jawi, Penerbit Offset, 1981. Andito, Atas Nama Agama; wacana agama dalam dialaog, Bandung, Pustaka Hidayat, 1998. Bisri, A. Mustofa, Kumpulan Puisi Aku Manusia. Mata Air Indonesia, 2016. ______________, Agama Anugerah, Agama Manusia, Mata Air Indonesia, 2013. Faruk. Metode penelitian sastra, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2012. Hamid, Abu Zayd Nasr. Rethinking the Qur’an, Amsterdam, 2004.Neuwirth, Angelika. Locating the Qur’an in the Epistemic of Late Antiquity, dalam jurnal Ankara Üniversitesi İlahiyat Fakültesi Dergisi, 2013. http://m.republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/02/14/p44dom396-ketika-agama-kehilangan-tuhan. Pradopo, Rachmat Djoko. Beberapa Teori Sastra, Metode kritik, dan,,, Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2013. Syamsuddin, Sahiron. Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an, Pesantren Nawesea Press; 2009. Syari’ati, Ali. Sejarah masa depan, Karkasa, 2017. Zain, Labibah, dkk. Gus Mus, Satu Rumah Seribu Pintu, Yogyakarta; LKIS, 2009.
Pemberdayaan Komunitas Muslim Perbukitan Melalui Program Sosial Bank Indonesia di Kaur Bengkulu
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 1 No. 02 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji pola pemberdayaan komunitas muslim perbukitan di Kabupaten Kaur, Bengkulu dalam memanfaatkan dan mengolah batu alam melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI). Dari proses operasionalisasinya, pola pemberdayaan memiliki dua kecenderungan: pertama, kecenderungan primer, yaitu kecenderungan proses yang memberikan atau mengalihkan sebagian kewenangan dan kemampuan kepada masyarakat atau individu menjadi lebih berdaya.Proses ini dapat dilengkapi dengan upaya membangun asset material guna mendukung pembangunan kemandirian mereka melalui organisasi; dan kedua, kecenderungan sekunder, yaitu kecenderungan yang menekankan pada proses memberikan stimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data perpustakaan, lapangan, dan wawancara. Hasil temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Bank Indonesia melalui program sosialnya menggunakan pendekatan pertama dan kedua dalam pemberdayaan masyarakat perbukitan dengan memberikan bantuan peralatan dan juga ketrampilan serta tenaga ahli dalam pengolahan batu agate sehingga berdaya saing tinggi. Kata Kunci:Pemberdayaan, Efektifitas, Program Sosial, Bank Indonesia Abstract This study examines the pattern of hilly muslim community empowerment in Kaur Regency, Bengkulu in utilizing and processing natural stone through PSBI(Corporate Social Responsibility of Bank Indonesia). Based on its operational process, the empowerment pattern has two tendencies: first, the primary tendency, namely the process that provides benefits and abilities for the community or individual to become more empowered. This process can be multiplied by efforts to build material assets to encourage the development of their abilities through the organization; and second, secondary tendency, namely the tendency to focus on the process of stimulating, encouraging or motivating individuals to have the ability or empowerment to determine what is chosen through the process dialogue. This study uses qualitative methods by collecting library data, fields, and interviews. The results of this research conclude that Bank Indonesia through its social program uses the first and second approaches in community empowerment by providing equipment assistance, skills and experts in agate stone processing from highly competitive provinces. Keywords:Empowerment, Effectiveness, CSR, BI Referensi Bank Indonesia. 2014.Obor Para Pelopor: 24 Gugus Kisah Asa Indonesia, Laporan PSBI. Belle, Ruth Witkin. 1984. Assessing Needs in Educational and Social Programs. London: Jossey-Bass Publisher. Budi Untung,Hendrik. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika. Hurairah, Abu. 2008. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat. Bandung: Humaniora. Pemerintah Kabupaten Kaur. 2013. Usaha Pengembangan Batu Agate Kabupaten Kaur. Ritawati, RA dan Mubarok, Nurul. 2015. “Efektifitas Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) terhadap UMKM di Kota Palembang”, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang,I-Economics Journal, Vol. 1. No. 1. Teguh, Ambar Sulistyani. 2004. Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan. Yogyakarta: Gaya Gava Media. Susanto. 2009. Reputation-Driven Corporate Social Responsibility Pendekatan Strategic Management dalam CSR. Jakarta: Esensi Erlangga Group. Trianita, Kurniati & Rahmatullah. 2011. Panduan Praktis Pengelolaan CSR (Corporate Social Responsibility).Yogyakarta: Samudra Biru. Widayanti, Sri. 2012. “Pemberdayaan Masyarakat: Pendekatan Teoritis”, Welfare, Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, Vol. 1, No. 1, Januari-Juni. Yusuf, Wibisono. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing. Wawancara Rizal, salah satu pengrajin batu agate di Pusat Agro Industri Pondok Pusaka, Kabupaten Kaur pada 15 November 2014. Edi, salah satu pengrajin batu agate di Pusat Agro Industri Pondok Pusaka, Kabupaten Kaur pada 15 November 2014. Jon Sirwan, Ketua Koperasi Teratai Indah Muara Sahung, Kabupaten Kaur pada 15 November 2014. Miri, penambang batu alam di Ulak Bandung, Muara Sahung pada 15 November 2014. Mendri, penambang batu alam di Ulak Bandung, Muara Sahung pada 15 November 2014. Khusairi, penambang batu alam dari Surakarta yang berdomisili sejak tahun 1983 di Ulak Bandung, Muara Sahung pada 15 November 2014.
Kajian Tafsir Nusantara: Tafsir Al-Quran Berbahasa Bugis (Ugi) Karangan AGH Daud Ismail
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 1 No. 02 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Di nusantara ini berbagai tafsir yang di hadirkan para ulama-ulama yang menakoni hal tersebut. Baik menulis tafsir dalam berbahasa arab ataupun berbahasa lokal serta bahasa daerah yang lain. Berbagai penafsir menggunakan bahasa dan tulisan dengan alasan agar tulisan itu bisa di mengerti oleh masyarakat yang mempelajarinya. Salah satu karya tafsir ulama nusantara yang ada di suku bugis di sulawesi selatan adalah tafsir al-qur’an berbahasa bugis. Tafsir ini di tulis oleh ulama bugis yang bernama Ag. KH. Daud Ismail. Beliau menulis tafsir ini dengan tulisan lontarak dan bahasa bugis dengan al-qur’an 30 juz. Beliau menafsirkan al-qur’an dengan mengartikan kemudian di tafsirkan dengan menggunakan bahasa bugis. Salah tujuannya adalah agar masyarakat bugis mampu memahami isi al-Qur’an dan rajin membacanya. Kata Kunci: Tafsir, Bahasa Bugis, Ag KH. Daud Ismail Abstract In this archipelago, various interpretations were presented by the ulamas who were impressed with this. Both writing interpretations in Arabic or in local languages and other regional languages. Various interpreters use language and writing on the grounds that the writing can be understood by the people who study it. One of the interpretations of the scholars of the archipelago in the Bugis tribe in South Sulawesi is the Bugis interpretation of the Qur'an. This interpretation was written by the scholars of Bugis named Ag. KH. David Ismail. He wrote this commentary with the words lontarak and bugis language with al-quran 30 juz. He interpreted the quran by interpreting it and interpreting it using bugis language. One of the goals is so that the bugis community is able to understand the contents of the Qur'an and diligently read it. Keywords:Interpretation, Bugisnese, Ag KH. Daud Ismail. Referensi Anwar, Hamdani. 2002, dalam Jurnal ―Mimbar Agama”, Vol. XIX, No.2. Ismail, AGH Daud. 2001, Tafsir al-Munir, Mabbicara Ugi, Juz XIX-XXI, Jilid VII Makassar:Bintang Lamumpatue, Nasution, Harun.1975, Pembaharuan dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang. Prasidjo Sudjoko,et al., 1982, Profil Pesantren, Jakarta: LP3ES. Ruslan Muhammad dan Waspada Santing. 2007, Ulama Sulawesi Selatan;Biografi Pendidikan & Dakwah,Makassar: Komisi Informasi dan Komisi MUI SulSel, Shihab, M. Quraish. 1996, Membumikan al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Penerbit Mizan. ­­­­­­­­­­­­­­­­­­_______________. 1999,Mukjizat Al-Quran, Bandung: Mizan Suhartono. 1994, SejarahPergerakan Nasional, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yunus, Mahmud. 1995, Pokok-pokok Pendidikan dan Pengajaran, Jakarta: Hidakarya Agung.
Rekontekstualisasi Pemikiran Islam dalam Manhaj Ushul Fiqh Hassan Hanafi
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Artikel ini mencoba membahas upaya pembaharuan Ushul Fiqh oleh Hasan Hanafi dalam karyanya ‘Min al-nahs ila al-waqi’. Pembaharuan yang ditawarkan Hanafi dalam karyanya ini adalah rekonstruksi Ushul Fiqh untuk merespon tantangan modernitas. Bagi Hanafi, Ushul fiqh adalah falsafah Hukum Islam. Ia menilai bahwa Ushul Fiqh hari-hari ini telah kehilangan fungsinya vitalnya sebagai falasfah bagi hukum Islam. Akibatnya, ummat Islam acapkali gagap ketika dihadapkan pada tantangan modernitas yang begitu kompleks. Kondisi semacam itu, menurut Hanafi disebabkan oleh “worldview” mainstream umat Islam terhadap turats; utamanya Ushul fiqh. Kebanyakan ummat Islam memandang Ushul Fiqh sebagai produk jadi, dan harus diterima apa adanya (taken for granted). Sehingga Ushul Fiqh menjadi produk yang terus dibaca secara berulang-ulang, tanpa adanya upaya pembacaan yang reproduktif. Padahal, pada awal kemunculanya, Ushul fiqh merupakan ‘perangkat teoritik’ dalam proses ijtihad. Sebagai piranti ijtihad, maka Ushul Fiqh senantiasa melibatkan : rasionalitas, teks dan konteks dalam memproduksi sebuah hukum (al-Istinbath al-ahkam). Maka dari itu, paper ini akan mencoba mengulas : Bagaimanakah ushul fiqh sebagai Falsafah hukum Islam dalam perspektif Hanafi? Bagaimana kontribusi gagasan Hanafi dalam konteks modern? Kata Kunci : Ushul fiqh, Falsafah, Hukum Islam, Turats. Abstract This article tries to discuss the renewal of Ushul Fiqh by Hasan Hanafi in his work "Min al-nahs ila al-waqi". The renewal offered by Hanafi in his work is the reconstruction of Ushul Fiqh to respond to the challenges of modernity. For Hanafi, Ushul fiqh is the foundation of Islamic Law. He considered that Ushul Fiqh had lost its vital function as a function for Islamic law. As a result, the ummah of Islam often stutter when faced with the challenges of modernity. Such conditions, according to Hanafi are caused by the mainstream worldview of Muslims towards turats; mainly Ushul fiqh. Most Muslims see Ushul Fiqh as a finished product, and must be accepted (taken for granted). So, Usul Fiqh is a product that continues to be read repeatedly, without any reproductive reading. In fact, at the beginning of its emergence, Ushul fiqh was a 'theoretical device' in the process of ijtihad. As a tool of ijtihad, Ushul Fiqh always involves: rationality, text and context in producing a law (al-Istinbath al-ahkam). Therefore, this paper will try to review: What is the ushul fiqh as a philosophy of Islamic law in Hanafi's perspective? What is the contribution of Hanafi's ideas in the modern context? Keywords : Ushul fiqh, Philosophy, Islamic Law, Turats.
Makna Puisi Wiji Thukul dalam Film “Istirahatlah Kata-Kata” dengan Pendekatan Semiotika Ferdinand De Saussure
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Puisi merupakan ungkapan yang ditulis menggunakan bahasa yang indah. Selain itu, puisi dapat digunakan sebagai media berkomunikasi, dengan menyelipkan pesan yang mengandung nilai kehidupan manusia. Tujuan puisi adalah membawa manusia melihat keindahan pesan dari puisi. Penelitian terhadap puisi Istirahatlah kata-kata dan Tanpa Judul karya Wiji Thukul dalam Film Istirahatlah Kata-Kata bertujuan untuk mengetahui secara mendalam kondisi sosial pada masa pemerintahan orde baru dimana banyak terjadi penindasan dan penculikan aktivis kala itu. Pengungkapan tersebut dilakukan dengan cara mengidentifikasi tanda-tanda berupa teks dalam puisi yang telah tersaji, kemudian tanda-tanda tersebut dimaknai dengan kondisi sosial. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan pedekatan semiotika Ferdinand De Saussure, yaitu dengan memilah yang dimaksud dengan signifier (Penanda, aspek material berupa tulisan, gambar maupun suara yang bermakana), signified (Pertanda; “gambaran mental” pemikiran atau konsep aspek mental dari bahasa), dan signification pada kalimat didalam puisi. Kata Kunci : Film Wiji Thukul, Makna Puisi, Semiotika. Abstract Poetry is an expression written in beautiful language. In addition, poetry can be used as a medium of communication, by inserting messages that contain the value of human life. The purpose of poetry is to bring people to see the beauty of the message of poetry. Research on poetry “Istirahatlah Kata-Kata” and “Tanpa Judul” of Wiji Thukul's work in the film of “Istirahatlah Kata-Kata” aims to find out in depth the social conditions during the New Order government where there were many oppressions and kidnappings of activists at that time. The disclosure is done by identifying the signs in the form of text in the poem that has been presented, then the signs are interpreted as social conditions. This research includes the type of qualitative research, using the semiotic approach of Ferdinand De Saussure, namely by sorting out what is meant by the signifier (Markers, material aspects in the form of writing, drawing and sounding), signified (Signs of "mental images" thinking or concepts of mental aspects from language), and signification on sentences in poetry. Keywords : Wiji Tukul, Film, The Meaning of Poetry, Semiotics
Pembajakan Hak Kekayaan Intelektual Perspektif Islam dan Perundang-undangan di Indonesia
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kegiatan pembajakan karya cipta merupakan sesuatu yang meresahkan dan sudah bukan rahasia lagi khususnya bagi para pencipta/produksi suatu karya. Salah satu pembajakan karya intelektual yang sering kita jumpai adalah penggandaan buku. Sebagai orang yang bergelut di dunia pendidikan, sudah menjadi hal yang lumrah untuk menggandakan buku sebagai penunjang kegiatan pendidikan. Namun, masih banyak pelaku penggandaan buku baik mahasiswa, atau dosen yang belum paham mengenai hukum penggandaan buku. Banyak dari mereka yang beranggapan bahwa memfotocopy buku merupakan hal yang dibolehkan dalam hukum, sehingga mereka terus mengulangi perbuatan tersebut tanpa tahu hukum penggandaan karya yang berlaku di Indonesia. Fenomena ini dapat dengan mudah dijumpai dari tumbuhnya usaha-usaha fotokopi di sekitar perguruan tinggi. Usaha jasa fotokopi ini biasanya sekaligus menyediakan buku-buku teks hasil penggandaan. Ironisnya, mereka secara terang-terangan berani memajangkan buku-buku hasil penggandaan itu, tanpa peduli apakah penulis buku-buku dimaksud adalah juga dosen-dosen di perguruan tinggi di lokasi itu. Tulisan ini secara khusus akan membahas problematika terkait pembajakan karya cipta dalam perspektif Islam dan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Kata Kunci: HAKI, Islam, Undang-Undang, Pembajakan Abstract The activity of piracy of copyright works is something that is troubling and it is no secret especially for the creators / production of a work. One of the intellectual piracy works that we often encounter is the multiplication of books. As a person who struggles in the world of education, it has become commonplace to copy books to support educational activities. However, there are still many perpetrators of doubling books either students, or lecturers who do not understand the law of copying books. Many of them think that copying books is permissible in law, so they keep repeating these actions without knowing the copying laws that apply in Indonesia. This phenomenon can easily be found from the growth of photocopying businesses around universities. This photocopying service business usually provides duplicate textbooks. Ironically, they openly dare to display the copies of the books, regardless of whether the authors of the books are also lecturers at the university in that location. This article will specifically discuss the problems related to piracy of copyrighted works in the Islamic perspective and the regulations in Indonesia. Keywords: Intellectual property right, Islam, Law, Piracy
Menakar Peluang dan Tantangan Lulusan PTKIS Era Revolusi Industri 4.0
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Situasi pergeseran tenaga kerja manusia ke arah digitalisasi merupakan bentuk tantangan yang perlu direspon oleh para mahasiswa dan almuni Perguruan Tinggi, terutama lulusan PTKIS. Tantangan ini perlu dijawab dengan peningkatan kompetensi alumni terutama penguasaan teknologi komputer, keterampilan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama secara kolaboratif, dan kemampuan untuk terus belajar dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Di samping itu, alumni PTKIS mempunyai keunggulan tersendiri, mereka mempunyai; cultural capital, social capital, dan spiritual capital. Literasi data dibutuhkan oleh alumni Perguruan Tinggi untuk meningkatkan skill dalam mengolah dan menganalisis big data untuk kepentingan peningkatan layanan publik dan bisnis. Literasi teknologi menunjukkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital guna mengolah data dan informasi. Sedangkan literasi manusia wajib dikuasai karena menunjukan elemen softskill atau pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi, adaptif dan menjadi arif di era “banjir” informasi. Kata Kunci: PTKIS, Revolusi Industri, Literasi Abstract The situation of shifting human labor towards digitalization is a form of challenge that needs to be responded by students and academics, especially graduates of Islamic Private University (PTKIS). This challenge needs to be answered by increasing alumni competence, especially mastering computer technology, communication skills, the ability to collaborate collaboratively, and the ability to continue to learn and adapt to environmental changes. In addition, PTKIS alumni have their own advantages, they have; cultural capital, social capital, and spiritual capital. Data literacy is needed by university alumni to improve skills in processing and analyzing big data for the benefit of improving public and business services. Technology literacy shows the ability to utilize digital technology to process data and information. Whereas human literacy must be mastered because it shows the soft skill element or individual character development to be able to collaborate, be adaptive and be wise in the flood era of information. Keywords: Islamic Private Institution, Industrial Revolution, Literacy
Revitalisasi Dakwah Sebagai Paradigma Pemberdayaan Masyarakat
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari kegiatan dakwah yang seringkali dimaknai sebagai aktivitas oral (ceramah). Dakwah dalam bentuk kegiatan pemberdayaan masyarakat dikenal dengan dakwah billhal. Berdakwah dengan tindakan (bilhal) semata-mata tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan mad’u, akan tetapi juga sebagai upaya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sebagai mad’u. Peningkatan taraf kehidupan masyarakat bisa dilakukan dengan pola pemberdayaan. Seirama dengan paradigma pemberdayaan masyarakat, bahwa berdakwah mempunyai tujuan untuk mengubah keadaan mad’u melalui ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Pemberdayaan masyarakat memposisikan mad’u sebagai subjek maupun objek dalam kegiatan dakwah. Dalam perspektif Islam pemberdayaan masyarakat mempunyai tujuan yang mulia yakni menghilangkan kesenjangan sosial ekonomi antara satu dengan yang lain. Sehingga dalam Islam diajarkan prinsip-prinsip keadilan sosial, prinsip persamaan, prinsip partisipasi, prinsip penghargaan terhadap etos kerja,dan prinsip tolong menolong. Ada dua cara yang ditempuh dalam Islam dalam pemberdayaan masyarakat yakni pemberdayaan masyarakat yang bersifat konsumtif dan pemberdayaan masyarakat yang bersifat produktif.
Konflik dan Bina Damai Masyarakat Multirelijius: Studi Masyarakat Turgo Lereng Merapi Yogyakarta
MUHARRIK: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 2 (2019): Muharrik - Jurnal Dakwah dan Sosial
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan umtuk menemukan relasi konflik dan bina damai dalam masyarakat pedesaan jawa, tepatnya di dusun Turgo Lereng Merapi. Dusun Turgo menjadi unik dan menarik untuk diteliti karena di dusun ini terdapat 3 agama resmi, yaitu Islam, Katolik dan Protestan. Di wilayah ini juga dalam beberapa tulisan dan kampanye perdamaian menjadi sebuah wilayah yang ikonik, yaitu terkenal dengan nilai harmonis dan toleransi beragama yang baik. Sebagai desa wisata religius serta dipromosikan sebagai ikon desa harmonis jika ditelisik dari perspektif teori konflik Dahendrof maka masyarakat selalu memiliki dua wajah, yaitu konflik dan integrasi. Paradigma teoritik ini penulis gunakan untuk menelaah masyarakat Turgo. Temuan dari penelitian ini adalah: Pertama, konflik keagamaan masyarakat Turgo terjadi karena adanya dominasi kekuasaan dan pengaruh keagamaan dimana ruang publik keagamaan dimonopoli oleh satu kelompok agama dengan tidak memberikan ruang gerak yang sama kepada agama lain. konflik pendirian Panti Asuhan Daarul Selamat Sinar Melati 26 adalah titik puncak konflik keagamaan dalam satu dekade trakhir. Potensi konflik keagamaan di Turgo ada pada dua pusaran, yaitu SD Katolik Tarakanita versus Panti Asuhan Daarul Selamat Sinar Melati 26. Kedua, dinamika bina-damai merupakan satu kekuatan yang menjadikan konflik di Turgo tidak mengalami eskalasi sampai pada bentuk manifest. Kerja bina-damai: dialog warga berbeda agama, konversi dan kohesi sosial. Artikulasi bentuk integrasi agama dan budaya diantaranya; (1) Pola komunikasi dan interaksi; (2) Kehidupan sosial keagamaan; dan (3) Kehidupan sosial budaya.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 9 No. 1 (2026): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 8 No. 2 (2025): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 8 No. 1 (2025): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 7 No 2 (2024): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 7 No. 2 (2024): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 7 No 1 (2024): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 7 No. 1 (2024): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 6 No. 2 (2023): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 6 No 2 (2023): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 6 No 1 (2023): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 6 No. 1 (2023): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 5 No. 2 (2022): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 5 No 2 (2022): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 5 No. 1 (2022): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 5 No 1 (2022): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 4 No 02 (2021): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 4 No. 02 (2021): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 4 No 01 (2021): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 4 No. 01 (2021): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 3 No. 02 (2020): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 3 No 02 (2020): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 3 No 01 (2020): Muharrik - Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 3 No. 01 (2020): Muharrik - Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 2 No 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 01 (2019): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 2 No. 2 (2019): Muharrik - Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 2 No 2 (2019): Muharrik - Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 1 No 02 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 1 No. 02 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol. 1 No. 01 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial Vol 1 No 01 (2018): Muharrik: Jurnal Dakwah dan Sosial More Issue