cover
Contact Name
Jurnal Arsitektur Zonasi
Contact Email
jurnal_zonasi@upi.edu
Phone
-
Journal Mail Official
yudi.permana@upi.edu
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ZONASI
ISSN : 26211610     EISSN : 26209934     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Journal of Architectural ZONASI is an online open access journal. It features articles on a wide range of issues in architecture, including architectural history and theory, dwelling culture, building technology and material science, architectural design, interior design, landscape architecture, heritage and conservation, and urbanism. Published three annually, in February, June, and October, the journal welcomes contributions from all over the world
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
STUDI KELAYAKAN AKSES MASUK STADION KEBONDALEM KENDAL Kurniati, Rina
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i2.17193

Abstract

Abstract:The development of the city is inseparable from the development of increasingly diverse community needs, including sports activities that are now not only as basic needs but also become the lifestyle of the community. These developments require the availability of sports venues with centralized and comfortable facilities. Kendal District Government is developing the Kebondalem Stadium in order to accommodate this development. Kebondalem Stadium is in a strategic location with a main building in the form of a soccer field and other supporting facilities. The purpose of this study is to conduct a study of the feasibility of the Kebondalem t stadium. The method used is a qualitative research method. Data is obtained through field observations and document review. The analysis was carried out by qualitative descriptive analysis of the feasibility of the Kebondalem Stadium. The results of this study indicate that the condition of the Kebondalem Stadium access and parking area is not sufficient to accommodate the activities of the Kebondalem Stadium, so that a design alternative is needed in the form of a new access construction connected to Jl. Soekarno Hatta and the addition of a more adequate parking area.Keywords: Feasibility; Access, Sport Stadium. Abstrak:Perkembangan kota tidak terlepas dari perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam termasuk aktivitas olahraga yang sekarang tidak hanya sebagai kebutuhan dasar akan tetapi juga menjadi gaya hidup masyarakat. Perkembangan tersebut menuntut tersedianya tempat olahraga yang fasilitasnya terpusat dan nyaman. Pemerintah Kabupaten Kendal melakukan pengembangan Stadion Kebondalem agar dapat mewadahi perkembangan tersebut. Stadion Kebondalem berada pada lokasi strategis dengan dilengkapi bangunan utama berupa lapangan sepakbola dan sarana pendukung lainnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melakukan kajian studi kelayakan stadion kebondalem Kendal. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan telaah dokumen. Analisis dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif terhadap kelayakan Stadion Kebondalem. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi akses masuk Stadion Kebondalem dan area parkir belum memadai untuk mewadahi aktivitas Stadion Kebondalem, sehingga diperlukan alternatif perancangan berupa pembangunan akses baru yang terhubung ke Jl. Soekarno Hatta dan penambahan area parkir yang lebih memadai kapasitasnya.Kata Kunci:Kelayakan; Akses; Stadion Olahraga
KAMPUNG ISLAMI: PENGARUH PONDOK PESANTREN SURYALAYA DALAM PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI KAMPUNG GODEBAG Shan Shan, Shan Shan; Pataruka, Marwoto
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i2.12400

Abstract

Abstract: Kampung Godebag  is a village located in Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, West Java - Indonesia. Godebag village is famous for its nickname as Kampung Islami, all starting from the building of a mosque that is Nurul Anshar Mosque which is the forerunner to the establishment of Pondok Pesantren Suryalaya. With the establishment of Pondok Pesantren Suryalaya make the environment around the boardingers undergo many changes, in terms of infrastructure, livelihood, habits, social and cultural community. Godebag village becomes thick with Islamic nuances and improvements in the quality of education because of the many built education fasilites by the pesantren, the livelihood of many people who turned into entrepreneurship because of the many opportunities for entrepreneurship to meet the needs of the students at boarding schools and students from out of town. By conducting field surveys to related locations and additional data collection from the internet it can be seen what changes and developments are taking place in Kampung Godebag, the results of the research indicate that many people change their homes as entrepreneurs, especially those on the main access road Kompleks Pendidikan Pondok Pesantren Suryalaya.Keyword: History, Settlement, Islamic Village.                                                                          Abstrak: Kampung Godebag adalah sebuah kampung yang berada di Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat – Indonesia. Kampung Godebag terkenal dengan julukannya sebagai Kampung Islami, semua berawal dari di bangunnya sebuah masjid yaitu Masjid Nurul Anshar yang merupakan cikal bakal terbentuknya Pondok Pesantren Suryalaya. Dengan berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya membuat lingkungan di sekitar pesantren mengalami banyak perubahan, dari segi infrastruktur, mata pencaharian, kebiasan, sosial dan budaya masyarakat. Kampung Godebag menjadi kental dengan nuansa islami dan peningkatan dalam kualitas pendidikan karena banyaknya dibangun fasilitas pendidikan oleh pihak pesantren, mata pencaharian masyarakat banyak yang berubah menjadi berwirausaha karena banyaknya peluang berwirausaha untuk memenuhi kebutuhan para santri di pesantren dan pelajar dari luar kota. Dengan melakukan survey lapangan ke lokasi terkait dan pengumpulan data tambahan dari internet dapat diketahui perubahan dan perkembangan apa saja yang terjadi di Kampung Godebag, hasil dari penelitian menyebutkan bahwa banyak dari masyarakat yang merubah rumah tingggal mereka sebagai tempat berwirausaha terutama yang berada di pinggir jalan utama menuju Kompleks Pendidikan Pondok Pesantren Suryalaya.Kata Kunci: Sejarah , Permukiman, Kampung Islami.
ADAPTASI SETING RUANG PASAR JIUNG TERHADAP KEHADIRAN PASAR TEMPORER DI JALAN KEMAYORAN GEMPOL BARAT JAKARTA Hantono, Dedi; Butudoka, Zubair; Prakoso, Aditha Agung; Yulisaksono, Danang
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i2.13628

Abstract

Pasar Jiung adalah pasar tradisional yang berada pada empat sisi jalan di daerah Kemayoran Jakarta Pusat yaitu tepatnya berada pada sisi Jalan Benyamin Sueb, Jalan Haji Ung, Jalan Kemayoran Gempol Barat dan Jalan Kemayoran Gempol Utara. Pada sisi dalam deretan kios-kios pasar tersebut terdapat permukiman padat penduduk. Pada umumnya kios-kior pasar yang ada dimiliki oleh warga dari permukiman tersebut. Mereka berhuni sekaligus berdagang sudah dalam wakrtu yang cukup lama. Namun keberadaan Pasar Jiung beberapa tahun belakangan ini sedikit “terusik” dengan kehadiran pasar temporer yang menempati lokasi yang sama dengan Pasar Jiung yaitu pada ruas Jalan Kemayoran Gempol Barat. Deretan kios pasar temporer ini terbuat dari konstruksi yang bisa dibongkar-pasang. Melihat keberadaan pasar temporer yang masih hadir sampai saat ini menandakan bahwa kehadiran pasar temporer ini telah diterima oleh masyarakat Pasar Jiung. Hipotesa ini diperkuat dengan melakukan penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan menjadikan alasan utama diterimanya pasar temporer ini. Masyarakat Pasar jiung pun melakukan beberapa penyesuaian dengan hadirnya pasar baru tersebut. Selain Pasar Jiung itu sendiri, daerah di sekitarnya juga melakukan beberapa penyesuaian seting ruang.
OPTIMALISASI DESAIN FASAD BANGUNAN RESTAURANT DI KEBONWARU, BATUNUNGGAL KOTA BANDUNG Nurrahman, Hafiz; Muslim, Ridwan
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i2.17470

Abstract

Abstract: Bandung is a country with a tropical climate. The highest temperature reaches 32 ° C while the highest solar radiation exposure is more than 10 hours. On the other hand, the top speed of the wind only reaches 1 m / s. As a tourist city, building design in Bandung is demanded to be able to offer convenience for tourist visitors. Located at an altitude of 600-900dpl, the city of Bandung in addition to having an average air of 28 ° C, an average humidity of 68, thus significantly influencing the achievement of thermal comfort in the building to be designed. This paper aims to analyze the facade design of recreational-culinary function buildings that are able to respond to the tropical climate, especially those that offer thermal comfort to visitors. The double skin hollow facade system and there are hinges that are able to respond to interactions between buildings, wind, and sun exposure, so that wind speed and sun exposure can be optimally regulated through the dynamic function of the building's façade. Design experiments using the sunhour and flow design plugins to assess solar radiation and wind speed by manipulating facades, especially in the northern orientation can reduce sun exposure in 5-7 hours.Keywords: Building facade design, tropical building design, thermal comfort.Abstrak: Bandung merupakan negara dengan iklim tropis. Suhu tertinggi mencapai 32 °C sementara paparan radiasi matahari tertinggi lebih dari 10 jam. Di sisi lain, kecepatan tertinggi angin hanya mencapai 1 m/s. Sebagai kota wisata, desain bangunan di Bandung dituntut mampu menawarkan kenyamanan bagi para pengunjung wisata. Terletak pada ketinggian 600-900dpl, Kota Bandung selain memiliki udara rata-rata 28°C, kelembapan rata-rata 68, sehingga berpengaruh secara signifikan terhadap pencapaian kenyamanan termal pada bangunan yang akan didesain. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis desain fasade pada bangunan fungsi rekreatif-kuliner yang mampu merespon iklim tropis, terutama yang menawarkan kenyamanan termal pengunjungnya. Sistem double skin fasade berongga dan terdapat engsel yang mampu merespon interaksi antara bangunan, angin, dan paparan sinar matahari, sehingga kecepatan angin dan paparan sinar matahari dapat diatur secara optimal melalui fungsi dinamis façade bangunan. Percobaan desain menggunakan plugin sunhour dan flow desain untuk menilai radiasi matahari dan kecepatan angin dengan memanipulasi fasade, terutama di orientasi utara mampu mengurangi paparan matahari dalam 5-7 jam.Kata Kunci: Desain fasade bangunan, desain bangunan tropis, kenyamanan termal.
WATERFRONT CULTURE SEBAGAI ATRAKSI WISATA TEPIAN AIR della, prima
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Juni 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i2.14168

Abstract

Abstract: This research is motivated by the lack of reference regarding waterfront culture for students and practitioners that have an impact on education. Aims of this paper is to explore the reference source for waterfront culture as a waterfront tourist attraction. Researchers use various libraries and some empirical facts related to waterfront culture as data. Analysis of content from various literatures then formulated the element which is the fundamental basis of tourist interest in waterfront tourism is the existence of a waterfront culture in the region.Keywords: Waterfront, Culture, Attraction Abstrak: Penelitin ini dilatarbelakangi minimnya refrensi mengenai waterfront culture bagi mahasiswa dan praktisi yang berdampak kepada pendidikan. Untuk itu tulisan ini bertujuan menggali kembali sumber refrensi mengenai waterfront culture sebagai atraksi wisata tepian air. Penelitin menggunkan berbagai pustaka dan beberapa fakta empiri terkait waterfront culture yang ada sebagai data. Analisis konten dari bebagai literatur maka dirumuskan elemen yang menjadi landasan fundamental ketertarikan wisatawan terhadap wisata tepian air adalah keberadaan budaya tepi air (waterfront culture) pada kawasan tersebut.Kata Kunci: Tepian air, Budaya, Atraksi
ARSITEKTUR MEDITERANIA DI INDONESIA: ADAPTASI KEMEGAHAN DAN KINERJA TERMAL BANGUNAN DARI DAERAH MEDITERANIA DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM DI DAERAH TROPIS LEMBAB Nadiar, Feriza; Nusantara, Danayanti Azmi Dewi
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i3.19532

Abstract

Abstract: The Mediterranean architectural style began to be a reference style in designing buildings in Indonesia since the 1990s and applied to various buildings including residential buildings because it offers an impressive aesthetic element of grandeur and its response to heat according to the origin region. The potential application of Mediterranean architectural style elements in the middle of Modern architectural style invasion can still be taken to resolve thermal problems caused by environmental issues namely climate change and global warming. This research aims to evaluate the thermal performance of Mediterranean-style residential buildings in response to the local climate and the potential adaptation of the envelope elements to Modern architectural styles using ECOTECT  simulations. The results showed that a sample house with a combination of three architectural styles shows that the Mediterranean architectural style can still be used and able to compete with other architectural styles at this time by including its Mediterranean style which presents grandeur, and incorporates elements of minimalist architectural style to give a modern nuance, also implementing shading strategies from Tropical architectural styles as adaptations to the tropical climate. That house sample has the longest thermal comfort duration compared to the others, which is 8.5 hours.Keywords: thermal building performance; building envelope; architecture style; environmental issue. Abstrak: Gaya arsitektur Mediterania mulai menjadi referensi gaya dalam mendesain bangunan di Indonesia sejak tahun 1990an dan banyak sekali diminati serta diaplikasikan ke berbagai bangunan tidak terkecuali bangunan rumah tinggal karena menawarkan unsur estetika yang mengesankan kemegahan dan responnya terhadap iklim sekitar yang cenderung panas sesuai dengan wilayah asalnya. Potensi pengaplikasian unsur-unsur gaya arsitektur Mediterania di tengah gempuran gaya arsitektur Modern masih dapat diperhitungkan dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan termal berupa peningkatan temperatur yang diakibatkan oleh isu lingkungan yaitu climate change dan global warming. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja termal bangunan rumah tinggal bergaya Mediterania dalam responnya terhadap iklim setempat dan potensi pengadaptasian elemen selubungnya terhadap gaya arsitektur Modern dengan menggunakan simulasi termal ECOTECT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel rumah dengan perpaduan tiga gaya arsitektur menunjukkan bahwa gaya arsitektur Mediterania masih bisa dipergunakan dan mampu bersaing dengan gaya arsitektur lainnya saat ini yaitu dengan memasukkan gaya Mediterania sendiri yang mempresentasikan kemegahan, dan juga memasukkan unsur gaya arsitektur Minimalis untuk memberi balutan nuansa modern, serta menerapkan strategi shading dari gaya arsitektur Tropis sebagai adaptasi dengan iklim tropis. Sampel rumah tersebut memiliki durasi kenyamanan termal paling lama dibanding yang lainnya yaitu selama 8,5 jam.Kata Kunci: kinerja termal bangunan; selubung bangunan; gaya arsitektur; isu lingkungan
PERAN KONTEKSTUALITAS KAWASAN DALAM DESAIN TOURISM INFORMATION CENTER BOROBUDUR MAGELANG Kirana, Wibisono Adi; Pamungkas, Luhur Sapto
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 1 (2020): Vol. 3 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i1.17854

Abstract

Abstract: Magelang is a district in Central Java. Magelang has many tourist attractions, including natural and cultural tourism and temples. Therefore, many foreign and local tourists visit Magelang. The number of tourists coming to Magelang from 2013 to 2017 experienced a significant increase. One of the tourists’ favorite destinations was Borobudur Temple in 2017. Thus, tourists who visit need an information place to facilitate tourism information, give them new and broad insights, and provide them with up-to-date information. The Tourism Information Center itself is already available in Borobudur, Magelang, and has some rooms to support activities. However, some functions of the rooms have problems of inadequacy, so that visitors are reluctant to come there. The contextual architecture approach is used because the site area is near the tourist area of Borobudur Temple, so that the contextual architecture approach is very appropriate to apply. The concept of the mass composition which tells the composition of the Borobudur master stupa is applied and the materials identical to Borobudur Temple are also used as well. The landscape concept from the history of Borobudur Temple which used to be a lake is applied into several ponds, so that the Tourism Information Center has an identity in the area as a means of tourism information.Keywords: Borobudur, Contextual Architecture, Magelang, Redesign, Tourism Information Center. Abstrak: Magelang merupakan sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Magelang mempunyai banyak tempat wisata, baik wisata alam, budaya, serta candi.  Sehingga banyak wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung ke Magelang. Diagram wisatawan yang datang ke Magelang dari tahun 2013 sampai 2017 mengalami peningkatan yang signifikan. Salah satu tujuan favorit wisatawan yaitu Candi Borobudur. Pada tahun 2017.Dengan demikian wisatawan yang berkunjung memerlukan tempat informasi untuk mempermudah informasi wisatawan, memberi wawasan baru dan luas terhadap wisatawan, memberikan informasi up date kepada wisatawan. Tourism Information Center. Tourism Information Center sendiri sudah tersedia di Borobudur Magelang, dan mempunyai beberapa ruang untuk menunjang kegiatan. Namun dari beberapa fungsi ruang mempunyai permasalahan yang dianggap kurang layak, sehingga pengunjung enggan untuk datang ke sini. Pendekatan arsitektur kontekstual digunakan karena area site berada di dekat kawasan wisata Candi Borobudur, sehingga pendekatan arsitektur kontekstual sangat layak digunakan. Konsep gubahan masa yang menceritakan gubahan stupa induk borobudur diterapkan, material yang identik dengan Candi Borobudur juga digunakan pula. Pengambilan konsep lanskap dari sejarah Candi Borobudur yang dulunya danau diterapkan menjadi beberapa kolam. Sehingga Tourism Information Center ini mempunyai identitas pada kawasan sebagai sarana informasi turis.Kata Kunci: Arsitektur Kontekstual, Borobudur, Magelang, Redesain,  Tourism Information Center
PENGARUH BUKAAN TERHADAP PENCAHAYAAN ALAMI DAN PENGHAWAAN ALAMI PADA MASJID AL AHDHAR BEKASI Vidiyanti, Christy; Siswanto, Rodi; Ramadhan, Febriansyah
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 1 (2020): Vol. 3 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i1.18621

Abstract

Abstract: The building should be able to provide a comfortable space for users to avoid outside unfavorable climate, so that the activities in it can run optimally. The comfort aspect is one of the important factors in special worship in it. Al-Ahdhar Mosque is a mosque designed by architect Nataneka. This mosque has large openings so that natural lighting and natural ventilation can enter the building. However, it needs to be investigated whether this large opening is enough to influence the lighting conditions and conditions of the Al-Ahdhar mosque. This research was also conducted to find out the relationship between natural lighting and natural ventilation produced and to find out the opinions of respondents to the thermal comfort of the Al-Ahdhar mosque. The method used in this study is field measurements and observations which are then processed quantitatively. The results showed that natural lighting at Al-Ahdhar mosque was 180 lux on the 1st and 128th floors of lux on the 2nd floor, which meant that natural lighting in this mosque still did not meet the standards of 200 lux. Thermal conditions at Al-Ahdhar mosque, the lowest temperature of 240C is found in areas that have openings of 34%. While 80% openings produce temperatures that tend to be higher at 29.20C to 29.60C. Larger openings do not necessarily produce good natural lighting and air conditioning conditions. But keep in mind the location of openings, orientation of openings, and types of openings. The bigger the openings will also include large solar radiation as well.Keywords: natural lighting; natural ventilation; thermal conditions; mosqueAbstrak: Bangunan sebaiknya dapat memberi ruang beraktivitas yang nyaman kepada pengguna agar terhindar dari iklim luar yang tidak menguntungkan, sehingga aktivitas di dalamnya dapat berjalan dengan optimal. Aspek kenyamanan merupakan salah satu faktor penting dalam kekhusukan beribadah di dalamnya. Masjid Al-Ahdhar merupakan masjid yang didesain oleh arsitek Nataneka. Masjid ini memiliki bukaan yang cukup besar sehingga pencahayaan alami dan penghawaan alami dapat masuk ke dalam bangunan. Namun, perlu diteliti apakah bukaan yang besar ini cukup berpengaruh terhadap kondisi pencahayaan dan kondisi penghawaan pada masjid Al-Ahdhar. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pencahayaan alami dan penghawaan alami yang dihasilkan serta mengetahui pendapat responden terhadap kenyamanan termal masjid Al-Ahdhar. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengukuran lapangan dan observasi yang kemudian diolah secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencahayaan alami pada masjid Al-Ahdhar adalah sebesar 180 lux pada lantai 1 dan 128 lux pada lantai 2 yang berarti pencahayaan alami pada masjid ini masih belum memenuhi standar yaitu sebesar 200 lux. Kondisi thermal pada masjid Al-Ahdhar, suhu terendah yaitu sebesar 240C didapatkan pada area yang memiliki bukaan 34%. Sedangkan bukaan 80% menghasilkan suhu udara yang cenderung lebih tinggi yaitu sebesar 29,20C sampai 29,60C. Bukaan yang semakin besar belum tentu menghasilkan kondisi pencahayaan alami dan penghawaan alami yang baik. Namun perlu diperhatikan letak bukaan, orientasi bukaan, dan jenis bukaan. Semakin besar bukaan juga akan memasukkan radiasi matahari yang besar pula.Kata Kunci: pencahayaan alami; penghawaan alami; kondisi termal; masjid
KAJIAN BENTUK, FASAD, DAN RUANG DALAM PADA MASJID CHENG HO PALEMBANG Narhadi, JM Sri
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Oktober 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i3.19261

Abstract

Abstract: The architecture of places of worship is one of architecture that is specifically designed to meet human needs in terms of worship. Architecture for a place of worship itself, consisting of church architecture, temples, temples, and mosques. The mosque is a place of worship that is always there in every city in Indonesia, because the majority of Indonesian people are Muslims. Over time, the architecture of the mosque also developed in terms of design by adjusting the culture and environmental conditions. The Cheng Ho Mosque in Palembang is one of the mosques that was established in the city of Palembang with the mosque's unique architectural design and style. The full name of the mosque itself is Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Mosque. As one of the tourist attractions and also a place of worship of Muslims, Cheng Ho Mosque has attracted the attention of writers to conduct research on mosque design. The different design makes the writer want to research more about the shape, facade and inner space of the Ceng Ho Mosque. Therefore, this research was made under the title Study of Forms, Facades, and Inner Space at the Ceng Ho Mosque in Palembang.Keywords: Form, Façade, Inner Space Abstrak: Arsitektur tempat ibadah merupakan salah satu arsitektur yang didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam hal beribadah. Arsitektur untuk sebuah tempat ibadah sendiri, terdiri dari arsitektur gereja, vihara, klenteng, dan juga masjid. Masjid merupakan  salah satu tempat ibadah yang selalu ada di setiap kota di Indonesia, karena mayoritas umat Indonesia adalah muslim. Seiring berjalannya waktu, arsitektur masjid pun berkembang dari segi desain dengan menyesuaikan kebudayaan dan kondisi lingkungan sekitar. Masjid Cheng Ho Palembang merupakan salah satu masjid yang didirikan di Kota Palembang dengan desain dan gaya arsitektur masjid yang cukup unik.  Nama lengkap dari masjid ini sendiri adalah Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya. Sebagai salah satu tempat wisata dan juga tempat ibadah umat muslim, Masjid Cheng Ho telah menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian terhadap desain masjid.. Desain yang berbeda membuat penulis ingin menelliti lebih lanjut mengenai bentuk, fasad dan ruang dalam dari Masjid Ceng Ho. Oleh karena itu, penelitian ini dibuat dengan judul Kajian Bentuk, Fasad, dan Ruang Dalam pada Masjid Ceng Ho Palembang. Kata Kunci: maksimal; empat; kata; kunci.
KAWASAN WISATA WATERFRONT TANJUNG ADIKARTO KULON PROGO muflihah, azizah nurul; Natalia, Dita Ayu Rani
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 3, No 1 (2020): Vol. 3 No. 1 (2020): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2020
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v3i1.17892

Abstract

Abstract: Tourism is one of the biggest sectors in Yogyakarta. The increasing number of new tourist destinations has increased the number of tourists. Increasing visitors every year makes the Yogyakarta government make a policy about tourism, one of which is the development of tourism in the coastal area of Kulon Progo. Kulon Progo Regency is one of the tourist destinations that has many natural and culinary attractions. Downstream of the Serang river which is next to Tanjung Adikarto port in Karangwuni village, Wates has the potential as a tourist area with high natural resources and potential fish. The development of this area aims to empower the surrounding community with the main livelihood of the population are fishermen and traders. However, the surrounding community is less able to utilize its natural resources. Then the need for encouragement from the development of this region with the concept of community development. This approach aims to accommodate the economic needs of fishermen by designing fishing areas specifically for small fishermen on the Serang river and the food court used to process fish caught by fishermen to have a higher selling value. Support local traders and industries in Kulon Progo by designing souvenir centers so that local products can be marketed. This concept aims to increase the social status and economic status of the community. And can reduce the unemployment rate which is still quite high in Kulon Progo.Keywords: community development; TanjungAdikarto; waterfront tourism.Abstrak: Pariwisata merupakan salah satu sektor terbesar di Yogyakarta. Semakin banyaknya destinasi wisata baru membuat peningkatan jumlah wisatawan. Bertambahnya pengunjung setiap tahunnya membuat pemerintah Yogyakarta membuat kebijakan tentang pariwisata, salah satunya adalah pengembangan pariwisata di kawasan pesisir pantai Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu destinasi wisata yang memiliki banyak tempat wisata alam dan kuliner. Hilir sungai Serang yang berada disamping pelabuhan Tanjung Adikarto di desa Karangwuni, Wates memiliki potensi sebagai kawasan wisata dengan sumber daya alam dan potensi ikan yang cukup tinggi. Pembangunan kawasan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitar dengan mata pencaharian utama penduduk adalah nelayan dan pedagang. Namun masyarakat sekitar kurang mampu memanfaatkan sumber daya alam yang dimilikinya. Maka perlu adanya dorongan dari pembangunan kawasan ini dengan konsep community development. Pendekatan ini bertujuan untuk mewadahi kebutuhan perekonomian nelayan dengan merancang area pemancingan khusus nelayan kecil di sungai Serang dan foodcourt yang digunakan untuk mengolah ikan hasil tangkapan nelayan agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Mendukung pedagang dan industri lokal yang terdapat di Kulon Progo dengan merancang pusat oleh-oleh sehingga produk lokal bisa dipasarkan. Konsep ini bertujuan untuk menaikkan status sosial dan status ekonomi masyarakat. Serta dapat mengurangi tingkat pengangguran yang masih cukup tinggi di Kulon Progo.Kata Kunci: community development; Tanjung Adikarto; wisata waterfront.

Page 3 of 22 | Total Record : 213