cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Gelar : Jurnal Seni Budaya
ISSN : 14109700     EISSN : 26559153     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Gelar focuses on theoretical and empirical research in the Arts and Culture.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 1 (2017)" : 9 Documents clear
ANALISIS KOREOGRAFI SRIKANDI BISMA KARYA DARYONO Pujiyani -
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1273.804 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2067

Abstract

Penelitian dengan judul “Analisis Koreografi Srikandi Bisma Karya Daryono” ini mengungkap tentang tari Srikandi Bisma. Persoalan yang menjadi pokok bahasan adalah koreografinya. Pemikiran ini disinergikan dengan teori Sumandiyo Hadi, bahwa koreografi merupakan proses perencanaan, penyeleksian sampai kepada pembentukan gerak tari dengan maksud dan tujuan tertentu. Pengumpulan data dilakukan dengan mengikuti prosedur penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa koreografi Srikandi Bisma dibentuk oleh ketubuhan penari, tema, dan dinamika. Diawali dengan tubuh penari, koreografer menuangkan bentuk sesuai dengan tema sehingga terwujud motif gerak yang perwujudannya terbentuk oleh dinamika. Bentuk gerak yang dihasilkan oleh ketiga aspek tersebut memiliki warna dan corak sendiri. Adapun corak motif gerak tari Srikandi Bisma cenderung tegas dan dinamis dengan karakter antara halus dan gagah (magak). Hal itu ditandai dengan jangkauan gerak yang cenderung mengarah ke sedang dan besar. Melalui tari Srikandi Bisma, Daryono menerapkan gaya madya taya dengan menitikberatkan pada gerak tangan dan kaki sebagai pokok pengekspresiannya.Kata kunci: Analisis, Koreografi, Srikandi Bisma.The research entitled “Analisis Koreografi Srikandi Bisma Karya Daryono” reveals the dance Srikandi Bisma. Problem of this research is the choreography. The ideais adjusted to the theory of Sumandiyo Hadi telling that choreography includes the process of planning, selection up to the composing dance movements with certain purpose and meaning. Data collecting is executed through the procedure of qualitative research. The research finding tells that choreography of Srikandi Bisma is formed by the dancer’s embodying, theme, and dynamic. Started by the dancer’s embodying, the choreographer conveys the form in accordance to the theme so that the movement motives are visualized through the dynamics. The form of movements resulted by the threeaspects has special motives and colors.The motive and color of Srikandhi Bisma tend to be firmed and dynamic betweenfine and strong (magak) characters. It can be seen from the middle and large movement range. In the dance Srikandi Bisma, Daryono applies madya taya style by stressing on the arms and footmovements as the main expression.Keywords: Analysis, choreography, Srikandi Bisma
EDHAYA SUKOHARJO PEMADATAN OLEH M.TH. SRI MULYANI Ika Ayu Kuncara Ningtyas; S., Slamet
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1016.573 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2073

Abstract

Tari Bedhaya Sukoharjo garap padat merupakan bentuk tari bedhaya yang telah mengalami proses pemadatan. Tarian ini dipadatkan guna untuk memenuhi kebutuhan pertunjukan di luar tembok keraton, yang pertama kali dipentaskan di Taman Budaya Jawa Tengah. Koreografi tari Bedhaya Sukoharjo merupakan bentuk koreografi yang digarap dengan kaidah-kaidah bedhaya, yang memiliki jumlah sembilan penari yang masing-msing memiliki nama dan kedudukan masing-masing. Pada motif gerak telah mengalami pemadatan dengan mengurangi durasi dari jumlah pengulangan motif gerak yang terkait dengan perubahan cakepan dan pengurangan jumlah gong-an. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pemadatan tari Bedhaya Sukoharjo terdiri dari faktorinternal dan eksternal. Faktor internal dari dalam diri senimannya yaitu pengalaman. M.TH. Sri Mulyani sebagai penari bedhaya yang ingin menampilkan tari bedhaya yang lebih singkat durasi pertunjukannya hal ini terkaitdengan kebutuhan pentas di luar tembok keraton. Faktor eksternal sangat terkait dengan kebutuhan pentas dan masyarakat pada saat ini. Dipengaruhi juga oleh garap-garap pemadatan tari bedhaya lainnya yang jugamengalami pengurangan motif gerak. Hal ini mendorong untuk digarapnya pemadatan tari Bedhaya Sukoharjo. Sehingga pemadatan tari Bedhaya Sukoharjo secara eksternal banyak dipengaruhi oleh bedhaya-bedhayasebelumnya yang telah mengalami pemadatan yang fungsinya adalah digunakan sebagai suatu bentuk pertunjukan non ritual. Penelitian ini menggunakan metode yang bersifat kualitatif dengan bentuk deskriptif analisis, sehingga ruang lingkup pembahasan meliputi 1) bagaimana proses pemadatan Bedhaya Sukoharjo oleh M.TH. Sri Mulyani, 2) bagaimana koreografi Bedhaya Sukoharjo hasil pemadatan oleh M.TH. Sri Mulyani, 3) bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi Bedhaya Sukoharjo hasil pemadatan oleh M.TH. Sri Mulyani.Analisis data dilakukan dari setiap bagian yang ditemukan. Data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan studi pustaka dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan secara kualitatif sesuai dengan pokok bahasannya. Konsep yang digunakan dalam memadatkan tari Bedhaya Sukoharjo adalah konsep bentuk dalam kajian tari: teks dan konteks dengan memberi inovasi yaitu pertunjukan yang singkat, padat dan menarik.Kata Kunci: Pemadatan, Tari Bedhaya Sukoharjo, Koreografi.The condensed style of dance Bedhaya Sukoharjo represents the form of dance Bedhaya that has been condensed. The dance is condensed to meet the performance outside the palace that firstly presented in Taman Budaya Jawa Tengah. The choreography of Bedhaya Sukoharjo shows a choreography with Bedhaya rules telling that it has nine dancers with their own names and positions. The movement motive has been condensed by reducing the duration of repeating movement motive related to the change of cakepan as well asthe gong beating number. The factors that influence the condensing of dance Bedhaya Sukoharjo including internal and external factors. The internal factor comes from the artist’s experience, whose name is M.TH.Sri Mulyani, as a Bedhaya dancer who wants to present a shorter dance Bedhaya. It is related to the need of performance outside the palace. The external factors are closely related to the presentation need and the current society. It is also influenced by condensing treatments of other dance Bedhaya that reduce their movement motives. It leads to the condensing of dance Bedhaya Sukoharjo. It is used as a non-ritual performance. This research applies qualitative method with descriptive analysis. The scope of discussion includes 1) how the process of condensing Bedhaya Sukoharjo by M.TH. Sri Mulyani is, 2) how the choreography ofBedhaya Sukoharjo condensed by M.TH. Sri Mulyani is, 3) how the factors that influence Bedhaya Sukoharjo condensed by M.TH. Sri Mulyani are. The data found through observation, interview, and library study is analyzed by applying descriptive analysis and qualitative method according to the main problem. The concept used in condensingthe dance Bedhaya Sukoharjo is the concept of form in dance study covering text and context innovation called a short, condensed and interesting performance.Keywords: condensing, dance Bedhaya Sukoharjo, choreography
PAMOR KAWALI DALAM MASYARAKAT BUGIS S., Satriadi; Dharsono Sony Kartika
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.902 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2068

Abstract

Artikel ini adalah hasil penelitian tentang senjata tradisional masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, yaitu senjata berupa kawali. Kawali merupakan warisan kebudayaan fisik dan juga merupakan produk kesenian berupa senjata tikam jarak pendek dengan bilah yang hanya memiliki satu sisi tajam dan ujung yang runcing. Kawali secara utuh memiliki tiga elemen pokok yaitu bilah, wanoa dan pangulu. Masing-masing elemen tersebut memiliki bentuk dan makna tersendiri. Bilah merupakan elemen paling pokok karena di dalamnya terdapatmotif pamor yang mengadung pesan atau makna simbolik yang dijadikan pedoman masyarakat pendukungnya, dalam hal ini masyarakat Bugis. Oleh karena itu, ada dua aspek kesenian yang perlu diperhatikan dalammenganalisis bentuk dan makna simbolik motif pamor pada kawali yaitu konteks estetika atau penyajian yang mencakup bentuk dan gaya, kedua adalah konteks makna (meaning) yang mencakup pesan dan kaitan dengan simbol-simbolnya (simbolic value). Penelusuran bentuk dan makna motif pamor melalui interpretasi analsis dengan pendekatan Estetika Nusantara dan penjelasan emik dalam kebudayaan, sehingga diketahui bahwa eksistensi pamor kawali adalah selain sebagai motif penghias bilah juga sebagai pesan yang menggambarkan kehidupan yang ideal dalam masyarakat Bugis.Kata kunci: kawali, pamor, Bugis, idealisme, simbol.This article tells the research finding about traditional guns in Bugis, South Sulawesi, called Kawali. Kawali represents a physical cultural heritage as well as an art product showing a short tikam gun with a bilah of one side sharp and sharp tip. Kawali, totally, has three elements covering bilah, wanoa, and pangulu.Each element has its own form and meaning. The bilah represents a main element for there is a pamor (prestige) motive inside containing message or symbolic meaning made to be a guide for the supportingsociety called Bugis.For the reason, there are two aspects of arts need to be discussed in analyzing the form and symbolic meaning of pamor motive of Kawali including,firstly, aesthetic context or the presentation covering the form and style; secondly, the context of meaning including message and its relationship with the symbols (symbolic value). The form and meaning of pamor motives is traced by analysis interpretation with Estetika Nusantara approach and emic description in culture. The result shows that the existence of Kawali pamor represents theaccessories of bilah as well as the message telling about the ideal life of Bugis people.Keywords: Kawali, pamor (prestige), Bugis, idealism, symbol.
KAJIAN ADAPTASI DONGENG TRADISIONAL DALAM FILM ANIMASI TIMUN MAS PRODUKSI STUDIO KASATMATA JOGJAKARTA Anugrah Irfan Ismail
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.58 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2064

Abstract

Dongeng tradisional adalah salah satu aset budaya bangsa Indonesia yang sangat bernilai namun keberadaannya perlahan tersisihkan.Perkembangan zaman membuat budaya mendongeng semakin jarang dilakukan.Terlebih dengan munculnya televisi, membuat budaya masayarakat saat ini lebih cenderung menjadi budaya melihat ketimbang hanya sekedar mendengar.Semakin pesatnya arus teknologi dan informasi membuat cerita-cerita dari luar negeri semakin familiar bagi anak-anak Indonesia masa kini.Dongeng tradisional Indonesia semakin asing bagi mereka. Dongeng tradisional agar bisa bertahan harus beradaptasi.Dongeng tradisional harus merubah karakter atau bahkan mediumnya untuk menyesuaikan diri dengan karakter masyarakat masakini. Film animasi Timun Mas (2012) adalah sebuah film hasil adaptasi dongeng tradisional yang diproduksi sebagai upaya memperkenalkan kembali dongeng tradisional kepada anak-anak masa kini.Dalam upaya adaptasi tersebut dongeng tradisional yang merupakan sastra lisan dengan karakter ceritanya yang spontan kemudian dirubah menjadi film yang sangat memperhatikan struktur cerita.Untuk menarik minat penonton, film animasi juga harus menampilkan beberapa strategi kreatif. Strategi tersebut dapat berupa tampilan visual maupun gaya penceritaan.Kata kunci: adaptasi, dongeng, film animasi.Traditional tale is one of the Indonesian valuable cultural heritages but its existence gradually excluded. The developing era leads to decrease the tale telling culture. Along with the television growing, people tend to beaudiences than listeners. The rapid growing of technology and information make the foreign stories more familiar to Indonesian children. Traditional tales become unfamiliar to them. It has to adapt in order to survive. It has to change its characteristic and medium supposed to adjust to the modern society. The animation filmTimun Mas (2012) is an adapted film of traditional tales produced as an effort to introduce traditional stories to the present children. In the adaptation process, the traditional tales as a spoken literature withspontaneous stories are changed to be a film concerning the story structure. To get the audience’s interest, an animation film has to present some creative strategies including visual presentation as well as the style ofstory -telling.Keywords: adaptation, traditional stories, animation film.
INOVASI DESAIN LURIK PEDAN PADA ACESORIES INTERIOR SEBAGAI PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN Siti Badriyah
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1569.902 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2069

Abstract

Lurik Pedan adalah produk kekayaan potensi daerah yang merupakan warisan budaya yang sangat berharga sebagai produk unggulan kota Klaten. Produktivitasnya hingga kini masih tersisa meskipun beberapa banyakyang sudah gulung tikar pengusaha pada industry ini. Di era global yang sangat kompetitif industri kain tradisional harus berbenah dengan berbagai alternative untuk mempertahankan eksistensinya. Melalui inovasi desainsebagai pengembangan produk akan memberikan solusi untuk meningkatkan daya saing dan mempertahankan kelestarian produk warisan tersebut. Lurik dengan beragam motif yang khas bisa dimanfaatkan melaluipengembangan inovasi desain pada segmen acesoris interior. Dengan memperhatikan karakter spesifik Lurik akan tetap ditampilkan secara khas melalui ide desain sehingga dapat memberikan stimulus bagi pengrajinuntuk mengembangkan ketrampilan secara sederhana namun tetap mempertahankan kekhasannya.Kata kunci: Lurik Pedan, inovasi desain , acesories interior, produk unggulan.Lurik Pedan is a local product that becomes a valuable cultural heritage as a seeded product of Klaten. The productivity still can be found eventhough some producers have closed their industries. In this very competitive global era, industry of traditional textilehas to move to the various alternates in order to keep their existences. Design innovation as the product development will provide solutions to increase competitiveness and keeping the preservation of heritage product.Lurik with various special motives can be used through the development of design innovation on interior accessories.The specific character of Lurik will surely and specifically presented through the design ideas so that it gives stimulus to the pengrajin to mengembangkan ketrampilan sederhana by preserving its characteristic.Keywords: Lurik Pedan, design innovation, interior assesories, seeded product.
FILM FIKSI PENDEK “DESAK TERDESAK” Gede Basuyoga Prabhawita; Rahayu Supanggah
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (868.005 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2065

Abstract

“Desak Terdesak” merupakan sebuah film fiksi pendek yang berangkat dari isu tentang kurangnya “penghargaan” terhadap perempuan Bali. Karya ini mengangkat posisi serta status perempuan Bali dalam hukum adat yangselalu berada di bawah kekuasaan laki-laki. Hal tersebut berkaitan erat dan didasari oleh keyakinan mayoritas penduduk Bali, sistem kekerabatan patrilineal, sistem wangsa dan petuah-petuah orang tua. Dalam film fiksi pendek ini pengkarya berusaha menghadirkan konflik sosial yang lebih tajam dengan menggabungkan permasalahan kekerasan dalam rumah tangga, tekanan ekonomi, dan ketidakberdayaan melawan hukum adat yang membuat posisi perempuan Bali bernama Desak semakin terdesak. Sejak kecil perempuan Balidididik untuk mandiri, bekerja keras dan bukan mahkluk lemah yang harus dilindungi. Orang tua mengajarkan untuk selalu menjunjung tinggi martabat dan siap berkorban demi nama baik keluarga. Perempuan Bali telah diberikan persamaan hak dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan dan mengutarakan pendapat, namun disisi lain mereka tetap diikat oleh berbagai sistem yang berlaku di Bali. “Desak Terdesak” berdurasi 20 menit, menggunakan pendekatan Realis medan Hollywood Klasik sebagai bentuk karya dengan plot linier yangsesuai aksi peristiwa. Dialog dalam film ini menggunakan bahasa Bali dialek Singaraja untuk memperkuat setting dan penokohan yang dibangun dalam cerita. Beberapa sumber pustaka seperti Filsafat Timur, Sebuah Pengantar Hinduisme dan Buddhisme, Perempuan Bali, Hukum Adat Bali, Hak Waris Perempuan Bali dan Kesalahpahaman Kasta digunakan sebagai rujukan dalam menciptakan karya ini. Film yang diilhami dari kisah nyata ini memberikan sedikit pengetahuan, informasi, pemahaman kepada pembaca serta penontonterkait posisi perempuan dalam hukum dan pergaulan adat masyarakat Bali yang menganut sistem kekerabatan patrilineal.Kata kunci: film, perempuan, Bali, budaya, sistem, bentuk.“Desak Terdesak” is a film of short fiction based on the issues of the lack of “appreciation” towards Balinese women. This work tells about the position and status of Balinese women in the custom that they are always under the men’s power. It is closely related to and based on the most Balinese belief, the patrilineal kinship system, wangsa system, and the parental teachings. In the short fiction film, the creator tries to present the sharper social conflict by combining the problems of domestic violance, economic depression, and thehelpnessness against customary law that makes Balinese women namely Desak is more distressed. Sinceyoung, Balinese women have been educated to be independent, working hard, and not to be a poor being that mustbe protected. Parents teach to always uphold dignity and to be ready to sacrifice in the name of family’s reputation. Balinese women have been given similar rights in getting education, employment and proposing opinion, on the other hand, they are tied by various systems held in Bali. “Desak Terdesak” has 20 minutes duration using Realism and Classical Hollywood approach as a form of work with linear plots corresponding to the action of events. Dialogue in the film uses Balinese language with Singaraja dialect to strengthen settingand characterization built in the story. Library sources like Eastern Philosophy, An Introductory To Hinduism AndBuddhism, Balinese Women, Balinese Custom, Hereditary Right Of Balinese Women And Misconceptions Of Caste is used as a reference in creating this work. The film that has been inspired by a real storyprovides little knowledge,informations, the reader as well as the audience understanding related to the women position in law and in customary intercommunication of Balinese community that follow patrilineal kinshipsystem.Keywords: film, woman, Bali, culture, system, form.
BENTUK ESTETIK ONDEL-ONDEL S., Supriyanto; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.318 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2071

Abstract

Studi tentang keberadaan Ondel-ondel di Jakarta sebagai sajian dan fungsi Ondel-ondel. Penelitian ini menjelaskan bentuk dan pemaknaan Ondel-ondel dikaji dengan pendekatan estetik digunakan teori De Witt H. Parker. Pembahas masalah tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif. Analisis data menggunakan interaksi analisis dan interprestasi analisis tekstual. Keberadaan Ondel-ondel di Jakarta berdasarkan dari latar belakang sejarah Ondel-ondel sebelumnya bernama Barongan setelah mendapatkan kembang kelapa (ronceronce) yang terbuat dari kertas nama Barongan diganti dengan Ondel-ondel. Barongan di yakini masyarakat Betawi memiliki kekuatan magis berkarakter seram berfungsi sebagai penolak mara bahaya (sedekah desaatau sedekah bumi) dan peresmian gedung pada masa lalu. Tetapi sekarang Ondel-ondel dengan bentuknya yang ramah berfungsi sebagai hiburan seremonial dan dekorasi untuk tujuan estetis.Kata kunci: Ondel-Ondel, Estetik.It is a study on the existence of Ondel-ondel in Jakarta as an entertainment and a function of Ondel-ondel. This research tells about the form and meaning of Ondel-ondel. It is analyzed through aesthetic approach of De Witt H. Parker’s theory and uses qualitative method. Data is analyzed by using interaction analysis and textual analysis interpretation. Based on the historical background of Ondel-ondel, it is previously named Barongan and after getting coconut flower (ronce-ronce) made of paper, it is changed to Ondel-ondel.People inBetawi believe that Barongan has a magic power with scary character functioning to avoid danger (offerings to village or earth)) and building inauguration in the past. But nowadays,Ondel-ondel with a kindly form becomesa ceremonial entertainment and decorations for aesthetic meaning.Keywords: Ondel-ondel, Aesthetic.
VISUAL BRANDING KAOS MESEM SITHIK Novi Pradhana Putra; Dharsono Sony Kartika
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.122 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2066

Abstract

Penelitian ini berjudul VISUAL BRANDING KAOS MESEM SITHIK. Penelitian membahas tentang strategi visual branding pada produk cinderamata pariwisata dari Kabupaten Tulungagung, yaitu Kaos Mesem Sithik. Permasalahan penelitian terletak pada keberadaan kaos Mesem Sithik, konsep branding kaos Mesem Sithik, dan strategi komunikasi pada visal brand Kaos Mesem Sithik. Berdasarkan hasil penelitian, diperolehkesimpulan keberadaan kaos Mesem Sithik berawal dari gagasan komunal organisasi Paguyuban Cinta Wisata Tulungagung, yang kemudian kepengurusan produksi dipindah tangankan kepada perseorangan. Wahyu Cahyo Utomo sebagai pemilik usaha kaos Mesem Sithik lebih leluasa menuangkan gagasan idiom kebudayaan daerah KabupatenTulungagung kedalam visual brand produk. Perpindahan kepengurusan kaos Mesem Sithik membawa perkembangan dari segi konsep branding produk yang mencakup strategi media dan strategi visual. Desain ilustrasi yang tercetak pada permukaan kaos Mesem Sithik tidak serta merta mengungkap strategi komunikasi produk. Strategi komunikasi kaos Mesem Sithik didapatkan melalui pendekatan ikonografi Erwin Panofsky yang menkaji desain ilustrasi dalam tiga lapisan makna, pra-ikonografi, ikonografi, dan ikonologi. Dari analisisyang dilakukan, strategi komunikasi pada kaos Mesem Sithik mengedepankan keindahan visual, pemanfaatan teks sebagai penjelas universal, penekanan biaya produksi, dan kepantasan norma dalam menyampaikan idiom kebudayaan daerah Kabupaten Tulungagung sebagai brand produk.Kata Kunci: Strategi komunikasi, visual brand, kebudayaan daerahThis studyis entitled VISUAL BRANDING KAOS MESEM SITHIK. The research discusses about visual branding strategy on tourism souvenir product from Kabupaten Tulungagung, namely T-shirt Mesem Sithik. The problem lies on the existence of T-shirt Mesem Sithik, the branding concept of T-shirt Mesem Sithik, and communication strategies at visual brand of Mesem Sithik T-shirt. Based on the research, it can be said that the existence of T-shirt Mesem Sithik started fromthe notion of communal association Paguyuban Cinta WisataTulungagung that later move the management of production to individual. Wahyu Cahyo Utomo as the owner of T-shirts Mesem Sithik is more flexible to explore the cultural ideas of Tulungagung into visual brand products.Thedisplacement of management T-shirt Mesem Sithik shows the development in terms of the concept of branding products including strategy media and visual strategy. The illustration design printed on the T-shirt Mesem Sithik doesn’t necessarily show the product communication strategy. The communication strategy of T-shirt Mesem Sithik is studied through the iconography approach Erwin Panofsky that studies illustration design in three steps of meaning; they are pre-iconography, iconography, and iconology.From the analysis done, communication strategy of T-shirt Mesem Sithikputs forward the visual beautyutilizing text as universal explanation, pressing production fee, and the norms suitability in expressing cultural idioms of Tulungagung as theproduct brand.Keywords: communication strategy, visual brand, rural culture
HUBUNGAN EKSPRESI PENUANGAN TARI BEDHAYA DENGAN KOREOGRAFI BEDHAYA SARPA RODRA SUSUNAN SARYUNI PADMININGSIH Ryndhu Puspita Lokanantasari; S., Slamet
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.776 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2072

Abstract

Tari Bedhaya Sarpa Rodra merupakan karya tari model bedhaya yang diciptakan di luar istana. Tari ini menggambarkan keserakahan manusia yang diwujudkan pada tokoh Sarpakenaka. Sajian koreografinya menghadirkan keunikan terutama pada gerak dan musik tarinya. Untuk itu, perlu dianalisis bentuk tari bedhayadan proses pembentukan koreografinya dengan pisau analisis konsep bentuk Suzanne K. Langer, konsep Hastasawanda, dan teori Effortshape, serta aspek koreografi kelompok Y. Sumandiyo Hadi.Kata kunci: bedhaya, Bedhaya Sarpa Rodra.The dance Bedhaya Sarpa Rodra is a dance work of bedhaya model created outside the palace. The dance shows human greedmanifested in the figureSarpakenaka. The choreography presents uniqueness especiallyon the movement and the dance music. For the reason, the form of dance Bedhaya and the composing process of choreography need to be analyzed by the concept of form by Suzanne K. Langer, concept of Hastasawanda, and Effortshape theory, as well as aspect of group choreography by Y. Sumandiyo Hadi.Keywords: Bedhaya, Bedhaya Sarpa Rodra.

Page 1 of 1 | Total Record : 9