cover
Contact Name
pramesti
Contact Email
fadesti@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
fadesti@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Gelar : Jurnal Seni Budaya
ISSN : 14109700     EISSN : 26559153     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Gelar focuses on theoretical and empirical research in the Arts and Culture.
Arjuna Subject : -
Articles 426 Documents
Gareng Sumarbagyo: Analisis Karakter Gerak Dewi Wulandari
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v17i2.2632

Abstract

Penelitian ini mengungkapkan tentang karakter gerak yang dibawakan Sumar Bagyo ketika membawakan tokoh Gareng di atas panggung wayang maupun di luar panggung wayang. Terdapat tiga persoalan penting yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana personifikasi Gareng dalam wayang kulit ke dalam wayang orang?, mengapa Sumar Bagyo memilih Gareng?, karakter gerak gecul Sumar Bagyo dalam mengekspresikan Gareng disetiap pementasannya?. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan secara analisis tentang personifikasi Gareng, alasan Sumar Bagyo memilih Gareng, dan tentang karakter gerak gecul yang dibawakan Sumar Bagyo dalam mengekspresikan Gareng menurut versinya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnokoreologi dengan meminjam atau menggunakan beberapa konsep dan teori sebagai pendukung penelitiannya, yaitu teori perubahan sosial A. Boskoff, konsep solah ebrah Slamet yang sesuai dengan teori effort-shape Ann Hutchinson, konsep fisiognomi  Prasetyono, mimic dan expressive gestures oleh Morris. Simpulan dari penelitian ini adalah karakter gerak Gareng Sumar Bagyo cenderung menyempit, volume kecil, mengacu pada bentuk gerak tari Jawa Timur dengan iringan menyentak, bentuk jari selalu dalam posisi kipas atau megar (Jawa).
Dimensi Estetis Tari Bedhaya Senapaten daryono darmo rejono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8717.474 KB) | DOI: 10.33153/glr.v17i2.2733

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang berjudul Dimensi Estetis Tari Bedhaya Senapaten ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk Tari Bedhaya Senapaten dan untuk mengetahui nilai estetis elemen-elemen yang membentuk Tari Bedhaya Senapaten.Tari ini mengungkapkan nilai Nebu-sauyun yang merupakan semangat kejuangan R.M. Sahid atau Pangeran Sambernyawa dengan laskarnya. Selama kurun waktu 16 tahun (1740-1756) semangat perjuangan nebu-sauyun mampu menjadi perekat yang sangat kuat terhadap berbagai unsur masyarakat untuk bersama-sama memerangi kedholiman yang terjadi di negeri ini.Abstraksi nilai-nilai wigati tersebut dituangkan ke dalam karya tari bergenre bedhaya dengan judul Bedhaya Senapaten. Bentuk tari ini memiliki dimensi estetis pada elemen-elemennya. Parker mengatakan bahwa karya seni harus merupakan kesatuan organis dari berbagai elemen-elemen pembentuknya. Indikatornya adalah The Principle of Theme, The Principle of Thematic Variation, The Principle of Balance, The Principle of Evolution, dan The Principle of Hierarchi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari ini merupakan kesatuan organis yang memiliki indikator estetis pada elemen-elemen pembentuk tari yaitu vokabuler gerak dan pola lantai, rias, busana, properti, musik tari, dan tempat pertunjukannya. Kata kunci: nebu-sauyun, Bedhaya Senapaten, dimensi estetis. ABSTRACT The research entitled The Aesthetic Dimensions of the Bedhaya Senapaten Dance aims to describe the form of the Bedhaya Senapaten Dance and to find out the aesthetic value of the elements that make up the Bedhaya Senapaten Dance. This dance reveals the value of Nebu-sauyun (literally a handful of sugarcane stems); the spirit of the struggle of R.M. Sahid or Prince Sambernyawa with his army against the Duth occupation. In 16 years (1740-1756), the spirit of the Nebu-Sauyun was able to become a powerful glue to various elements of society to jointly fight the cruelty that occurred in this country. The abstraction of the wigati (meaningful) values is poured into the Bedhaya genre dance work entitled Bedhaya Senapaten. This dance form has an aesthetic dimension to its elements. Parker said that the work of art must be an organic unity of the various constituent elements. The indicators are The Principle of Theme, The Principle of Thematic Variation, The Principle of Balance, The Principle of Evolution, and The Principle of Hierarchy. The results showed that the dance is an organic unit with aesthetic indicators. The elements that formed the dance are namely the motion vocabulary and floor patterns, make-up, clothing, property, dance music, and the venue.Keyword: nebu-sauyun, Bedhaya Senapaten, aesthetic dimensions.
Unsur penggarapan Tari Dolalak Lentera Jawa II karya Melania Sinaring Putri Putri Rachmawati
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1881.955 KB) | DOI: 10.33153/glr.v17i2.2681

Abstract

Tari Dolalak Lentera Jawa II  merupakan sebuah karya tari baru yang disusun oleh Melania Sinaring Putri tahun 2014. Diciptakan untuk mewakili Indonesia  pada  Festival  di  Malaysia  pada  tanggal  12-15  November  2014. Garapan ini menarik karena terdapat inovasi yang dilakukan koreografer. Teori yang dijadikan sebagai pisau bedah unsur-unsur penggarapan menggunakna teori garap oleh Rahayu Supanggah menegaskan bahwa garap merupakan   sebuah   sistem   yang   melibatkan  6   (enam)   unsur   yang   saling berkaitan, yaitu terdiri dari materi garap atau ajang garap, penggarap, sarana garap, prabot atau piranti garap, penentu garap, dan pertimbangan garap (Supanggah 2007, 4). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan         entokoreologi.       Hasil   penelitian     ini menyimpulkan terbentuknya            komposisi                baru, bentuk  sajian         yang       dihasilkan       terkesan berkarakter gagah centil karena adanya gerak tari yang dihasilkan lebih energik, bervolume besar dan adanya tempo gerak yang lebih cepat. Elemen-elemen koreografi yang dipadatkan sehingga pertunjukkan berdurasi 8 menit..
Fungsi Belajar Tari Srimpi Sangupati Gaya Kasunanan Bagi Penari di Keraton Surakarta indah cahyasari
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v18i1.2769

Abstract

Srimpi Sangupati dance has beauty which is visualized by smooth move and in flow. The Process of Srimpi Sangupati dance creation is created based on devotion to life experience, that is why Srimpi Sangupati dance is full of education value. This writing is for analyzing kinds of benefits in learning Srimpi Sangupati Dance in Kasunanan Style. This research analysis process uses qualitative approach. Qualitative descriptive research method is done by study book, observation and interview. The research result concludes that learning Srimpi Sangupati in Kasunanan Style has benefits for ethics education, social, religious and cognitive  source.
Lokalitas sebagai Identitas Masyarakat Kampung Mahmud Anggar Erdhina Adi
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.356 KB) | DOI: 10.33153/glr.v18i1.3019

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang lokalitas sebagai identitas masyarakat kampung Mahmud.  Sebagai salah satu kampung yang memiliki keunikan adat dan tradisi, kampung Mahmud kini menghadapi berbagai macam tantangan baik dari masyarakat dalam maupun luar. Imbasnya adalah muncul berbagai macam persoalan baik secara sosial maupun kultural. Hal ini dikarenakan lemahnya pewarisan identitas tentang lokalitas masyarakat Kampung Mahmud. Penelitian ini memiliki tujuan sebagai sebuah pemahaman mengenai lokalitas sebagai identitas kultural khususnya untuk masyarakat kampung adat. Sebagai sebuah kampung religi yang harus memiliki identitas kelokalan, kampung ini seringkali berbenturan dengan nilai adat dan tradisi yang datang dari luar dan kian mengaburkan identitas kultural kampung tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Sedangkan tipe penelitiannya adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil yang didapatkan adalah perlu adanya penguatan nilai lokalitas sebagai identitas kultural masyarakat Kampung Mahmud.
Konsep Kesederhanaan Tari Renteng di Desa Saren, Nusa Penida, Klungkung, Bali Anak Agung Gde Agung Indrawan
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.087 KB) | DOI: 10.33153/glr.v18i1.2988

Abstract

The Renteng dance is a group dance that is held and only taken by adult women in Saren Village, Nusa Penida, Klungkung, Bali. This dance movement is multiyear and repetitive, and the presentation, clothing and musical accompaniment is very simple. The simplicity of the form and presentation of Renteng gives rise to the beauty that provides the formalistic aesthetic experience of this dance. However, the form of a formalistic aesthetic experience has not many people understand it. The focus of the problem in this study was how the concept of simplicity in the Renteng dance in Saren village. The research discusses the concept of simplicity in the Renteng dance which can create a formalistic aesthetic experience. The purpose of this research is to obtain a conceptual depiction of this dance based on the simplicity of its shape. This type of research is descriptive-analytic using non-participant observation methods, interviews, and documentation. The results of this study, that the concept of simplicity on the Renteng dance consisted of the simplicity of the element, the simplicity of the structure, and the simplicity of the technique. The conclusion is first, the concept of simplicity of elements or elements on the Renteng dance is the simplicity of the composition of the elements contained in this dance, which includes motion, floor design, and top design, fashion, and musical accompaniment; Second, the concept of the simplicity of the Renteng dance structure is a draft whose application is composed through simple motion and repetitive patterns; Thirdly, the concept of the simplicity of the Renteng dance technique is achieved through simple means with low or uncomplicated complexity making it easy to be extracted.
Kajian Bahasa Rupa pada Batik Gendongan Lasem Motif Pohon Hayat dan Satwa Morinta Rosandini; Yuki Kireina
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.428 KB) | DOI: 10.33153/glr.v18i1.3022

Abstract

Batik Gendongan Lasem merupakan salah satu produk budaya Indonesia yang saat ini keberadaannya sudah mulai hilang, hal tersebut terlihat dari menurunnya jumlah produksi kain batik gedongan di daerah Lasem, serta kerumitan motif serta teknik pembuatannya menambah faktor kelangkaan. Dalam upaya mengenalkan visual motif serta makna dan memaknai unsur desain yang terkandung pada batik gendongan asal lasem, kajian bahasa rupa pada motif batik ini diperlukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisa wimba pada unsur bagian motif batik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif-motif pada batik gendongan asal lasem memiliki karakter stilasi primitif dan mengisahkan cerita tentang keharmonisan alam yang memiliki makna cerita tentang doa-doa kebaikan bagi pemakai (ibu dan anak). Studi visual bahasa rupa ini dapat dijadikan acuan bagi para desainer untuk mengembangkan desain motif sebagai inspirasi berkarya agar batik gendongan Lasem dapat dikenal lebih luas
Wayang Golek Ringan Pemanfaatan Limbah sebagai Pengembangan Boneka Wayang Golek Trisno Santoso
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3059.819 KB) | DOI: 10.33153/glr.v18i1.2982

Abstract

Wayang Golek Ringan (Light Marionette Puppet) Waste Utilisation in Developing Wayang golek is a new modification model in making Wayang golek in order to avoid logging. The novelties in the creation of this wayang puppet are presented in its elements, namely the core material, fashion, make-up, and the connection of the limbs of the puppet. The material used in making the puppet cement paper bags, dacron, patchworks. And used styrofoam. The research used a combination method of field work including observation, interview, literature study, Particioan Art Research Technique (PART), FGD, exploration, and empirical method. The combination of the methods was used to collect, classify and analyse the data as well as in the process of creating the puppet. The main purpose of the change of the core material in making the puppet is to preserve the environment by decreasing the logging which may result in the environmental damage.Key word: Wayang golek ringan, wasteWayang Golek Ménak Sentolo pernah mengalami masa kejayaan,  tetapi kini pertunjukan wayang tersebut dapat dikatakan mati. Perlu adanya inovasi di segala hal, penelitian ini menggali dan berinovasi pada penemuan boneka wayang  besar tetapi ringan, serta menggunakan bahan utama dari limbah. Rekayasa model pembuatan boneka wayang golek baru, untuk menghindari penebangan kayu. Pembuatan boneka wayang ini mempunyai kebaruan dalam berbagai unsur yaitu; bahan utama, tata busana, tata rias, serta cara menyambung tangan pada boneka Wayang Golek. Pembuatan kepala boneka Wayang Golek memanfaatkan dahan kayu albasiyah, kemudian dikolaburasikan dengan kertas bekas pembungkus semen, dakron, kain perca, dan stereoform bekas. Metode pencapaian untuk menciptakan boneka merupakan kombinasi antara metode kerja lapangan dengan metode pengamatan, wawancara, studi pustaka, Partisipant Art Reseach Technic (PART), Focus Group Diccuscion (FGD), eksplorasi, dan empiris. Tujuan utama dari perubahan bahan utama pembuatan boneka Wayang Golek ini adalah untuk ikut melestarikan lingkungan agar tidak terlalu mudah untuk menebang pohon yang merusak lingkungan.Kata kunci: Wayang Golek Ringan, Bahan Limbah
Kajian Komponen Struktural Dan Fungsional Pada Kemeja Bermotif Batik Kontemporer Dalam Elemen Estetik Busana Sari - Yuningsih; Achmad Haldani Destiarman; Chandra - Tresnadi
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.887 KB) | DOI: 10.33153/glr.v18i1.3018

Abstract

Busana pria khususnya kemeja merupakan salah satu jenis busana yang tak luput dari perkembangan tren fesyen. Penggunaan kemeja berbahan batik kontemporer telah mengalami perkembangan yang pesat, hal tersebut nampak dari tampilan visual kemeja bermotif batik yang bervariatif, bahkan beberapa diantaranya cenderung tidak biasa dan unik, terutama dalam hal elemen estetik meski secara visual masih menampilkan motif-motif klasik. Fenomena tersebut belum banyak dikaji, untuk itu kajian ini bertujuan menganalisa elemen estetik yang terdapat pada kemeja bermotif batik kontemporer. Analisis dilakukan terhadap komponen struktural dan fungsional pada kemeja bermotif batik kontemporer untuk memetakan elemen estetik yang terkandung di dalamnya. Hasil kajian ini menunjukan adaya perkembangan elemen estetik dalam komponen struktural dan fungsional kemeja bermotif batik dalam persentasi yang kecil, hal tersebut dapat dilihat dalam detail kemeja yang menampakkan modifikasi pada kerah, yoke dan saku. 
Visualisasi dan Makna Simbol Busana Tari Turak Kabupaten Musi Rawas Risa Marta Yati; Ira Miyarni Sustianingsih
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v18i2.3006

Abstract

Tari Turak adalah sebuah tari tradisional yang ada di Kabupaten Musi Rawas yang memiliki nilai historing yang sangat tinggi dan menjadi salah satu kekayaan budaya Kabupaten Musi Rawas. Tari Turak diperkirakan telah ada sejak zaman kolonial, hal ini dibuktikan dengan penampilan tari ini yang ditujukan untuk melumpuhkan tentara NICA yang ingin menguasai wilayah Tanjung Sakti dengan senjata turak. Metode peneltian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis dengan tahapan: 1) identifikasi dan merumuskan masalah; 2) menyusun kerangka pemikiran; 3) merumuskan hipotesis; 4) menguji hipotesis secara empirik; 5) melakukan pembahasan; 6) menarik kesimpulan. Teknik pengumpulan data yang digunakan: studi kepustakaan, observasi (pengamatan), wawancara (interview), dokumentasi dan triangulasi (gabungan). Teknik analisis data terdiri dari: data reduction, data display, conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bawah visualisasi busana Tari Turak pada awal dipentaskan tidak sama dengan busana tari turak saat ini. Busana Tari Turak masa kolonial terdiri dari: Kebaya/dodot, sanggul malang dan bunga untuk pemanis di kepala, kain sebagai rok, selendang dan  dan turak sebagai properti pendukung. Sementara itu, busana Tari Turak saat ini mengikuti perkembangan pakaian adat Musi Rawas yang terdiri dari: a) bagian atas: baju kurung, mahkota Musi Rawas/mahkota beringin/pilis, anting, sanggul malang dan kembang cempako; b) bagian tengah: lidah Musi Rawas/teratai Musi Rawas/teratai lidah, kalung Musi Rawas, gelang, kain pelangi atau selendang pelangi; c) bagian bawah: kain songket atau sewet songket. Secara keseluruhan makna yang terkandung dalam busana Tari Turak modern ini adalah keanggunan, kesopanan, kesucian, kekeluargaan, kerapian, ketenangan, kecantikan, kemuliaan, keagungan, kesabaran, ketabahan hati, keramahan, kebahagiaan, kemakmuran dan keberanian.