cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
sutarno.haryono151@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Greget
ISSN : 1412551X     EISSN : 2716067X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Greget focuses on theoretical and empirical research in the Dance Arts. The journal welcomes the submission of manuscripts with the theoretical or empirical aspects from the following broadly categories.
Articles 298 Documents
DARI KARYA SASTRA “MENAK CINA” MENJADI SEBUAH KARYA TARI Rambat Yulianingsih
Greget Vol 15, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1185.064 KB) | DOI: 10.33153/grt.v15i2.2379

Abstract

AbstrakSeni sastra jawa yang kaya sangat sayang bila hanya tetap menjadi sebuah manuskrip atau catatan tertulis yang tersimpan dalam musium. Keadaan yang demikian tentu tidak semua orang bisa membacanya ataupun mendapatkan akses untuk bisa memanfaatkannya. Dari keadaan tersebut muncul keinginan untuk mencoba membawa kembali khazanah sastra jawa kedalam suatu bentuk karya seni lain dengan harapan agar sastra jawa lebih dikenal dan bisa diapresiasi. Seperti juga Serat Menak yang berasal dari kitab Qissay Emr Hamza, sebuah kesusastraan persia pada pemerintahan Harun Al Rasyid (766-809). Di melayu kisah ini dikenal dengan nama Hikayat Amir Hamza. Salah satu bagian dari Serat Menak adalah Menak Cina. Kisah ini cukup dikenal dalam budaya Jawa Tengah, khususnya Surakarta. Roman tersebut menjadi dikenal oleh jasa R. Ng. Yasadipura I dalam mengubah karya tersebut kedalam bahasa jawa dipadu dengan cerita panji, yang disusun dalam bentuk sekar macapat.Kata kunci: serat menak, literature seni, dan khasanah sastra Jawa. AbstractThe Art literature rich java very fondly if only the remains an manuscripts or a written record stored in museums. The state of being will certainly not everyone can read it or access can use it unit of this condition.Appearing desire to re reading literary into its java a form of artwork another by  hope that literature  java more  famous and can  be appreciated as also a letter menak derived from the Qissay Emr Hamza, an outgrowth literature versi in the government Harun Al Rasyid (786 – 809) In malays this story was known as the Hikayat Amir Hanza, one part of fibers menak  is  menak  china.  This  story  is  known  in  central  java  culture,  especially  Surakarta.  The romance became  famous by  service R.  Ng. Yasadipura  in turn  to the  language of  java .In  inte- grated centera ensign arranged in the form of is now re macapat.Keywords: fiber menak, art literature, and khazanah literature java.
KOREOGRAFI RASA GUNDAH GEOMETRIS KARYA EKO SUPENDI Dewi Wulandari; S Slamet
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.289 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2356

Abstract

Abstrak Rasa Gundah Geometris karya Eko Supendi merupakan koreografi kelompok pengembangandari koreografi Daun Kelor. Permasalahan yang diambil adalahelemen-elemen koreografi Rasa Gundah Geometris dan kreativitas Eko Supendi dalam menciptakan karya Rasa Gundah Geometris. Konsepyang digunakanuntuk menganalisis koreografi tari Resah Gundah Geometris ialah konsep dari Sumandiyo Hadi tentang elemen-elemen koreografi kelompok yang terbagi menjadi sebelas unsur yaitu: 1) gerak tari; 2) ruang tari; 3) iringan tari; 4) judul tari; 5) tema tari; 6) tipe/jenis/sifat tari; 7) mode penyajian; 8) jumlah penari dan jenis kelamin; 9) rias dan busana; 10) tata cahaya; 11) properti tari dan perlengkapan lainnya.Untuk mengupas kreatifitas Eko Supendi dalam karya tari Resah Gundah Geometris menggunakan teori pembentukan yang diungkapkan oleh Utami munandar yaitu pribadi kreatif, pendorong kreatif, proses kreatif, sertaproduk kreatif. Hasil menunjukan Rasa Gundah Geometris merupakan pengungkapan dari ide yang diambil dari fenomena perubahan sosial antar rumah datar dan rumah susun sebagai sebuah koroegrafi kelompok yang ditarikan 19 penari. Antara tema judul gerak meliputi gerak terdapat gerak pokok penghubung sampai pada kostum musik dan pola lantai sebagai satu kesatuan. Koroegrafi yang tidak lepas dari kreativitas koreografer meliputi pribadi, pendorong dan proses kerja koreografer. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan tentangkoreografi dan kreativitas tari Rasa Gundah Geometris karya Eko Supendi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif analitis.Simpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa pengungkapan bahwa bentuk koreografi tidak lepas dari kekuatan pengalaman koreografer sebagai sebuah bentuk kreativitas.Kata kunci: Rasa Gundah Geometris, Koreografi, Kreativitas. Abstract Rasa GundahGeometrisbyEkoSupendiis a group choreography which is a development of the previous work DaunKelor. The problems addressed in this research are the choreographic ele- ments of Rasa GundahGeometris and EkoSupendi’s creativity in creating this work. The concept used for analyzing the choreography of the Rasa GundahGeometris dance is SumandiyoHadi’s concept of the elements of group choreography which can be divided into eleven elements: 1) dance movement; 2) dance space; 3) dance accompaniment; 4) dance title; 5) dance theme; 6) dance type/ character; 7) performance style; 8) number and gender of dancers; 9) make-up and costume; 10) lighting; 11) dance properties and other paraphernalia. In order to analyze EkoSupendi’s creativ- ity in the dance Rasa GundahGeometris, UtamiMunandar’s theory of formation is used to ana- lyze the creative person, creative incentive, creative process, and creative product. The results show that Rasa GundahGeometris is the expression of an idea based the phenomenon of social  change from a single storey house to a block of flats, in the form of a group choreography per- formed by 19 dancers. The theme, title, and movement of the dance include basic movements which connect with the costume, music, and floor patterns to create a sense of unity. The choreog- raphy is closely related to the creativity of the choreographer, including his character, his incen- tive, and his work process. The goal of this research is to describe and explain the choreography and creativity of EkoSupendi’s dance, Rasa GundahGeometris. The research uses a qualitative de- scriptive analytical method. The conclusion of the research shows that the expression of a form of choreography is closely connected to the strength of the choreographer’s experience as a form of creativity.Keywords: Rasa GundahGeometris, Choreography, Creativity.
IMPLIKATUR DAN DAYA PRAGMATIK DALAM SENI PERTUNJUKAN Sutarno Haryono
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.643 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2361

Abstract

Abstrak Pertuturan antara manusia yang satu dengan yang lain, memerlukan daya pragmatik atau paling tidak kekuatan dialog yang sama memiliki budaya yang sama. Pemahaman implikatur akan lebih mudah jika penutur dan mitra tutur telah berbagi pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan tentang konteks tuturan yang melingkupi ujaran atau kalimat- kalimat yang disampaikan oleh penutur. Mitra tutur sulit untuk memahami dan menangkap maksud penutur yang terimplikasikan atau tersirat dari tuturan penutur, jika tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang dunia di sekitarnya. Interpretasi dalam memahami kalimat ataupembicaraanharus memiliki kesamaan makna, apa yang dibicarakan diperlukan latar belakang budaya yang tidak berbeda. Dengan demikian akan terjadi komunikasi implikatur yang sama dan tidak akan terjadi interpretasi yang berbeda serta pembicaraan akan terjalin dengan baik.Kata kunci: Pertuturan, Implikatur, Daya Pragmatik, dan Budaya. Abstract The speech that takes place between people requires pragmatic force, or at least an equal dialogic force and a similar culture. The understanding of implicature becomes easier if the speaker and interlocutor have a shared experience –experienceand knowledge about the context which surrounds the speech or sentences uttered by the speaker. The interlocutor will have difficulty understanding or grasping the implicit meaning contained in the speaker’s utterance if he does not have a similar knowledge or experience of the world around him. In order to interpret or understand a sentence or utterance, the interlocutor must have a similar understanding of what is being said as well as a similar cultural background. In this way, the communication will have the same implicature and there will be no difference in interpretation, thus ensuring a conversa- tion with a good interaction.Keywords: Speech, Implicature, Pragmatic Force, and Culture.
TARI KETHEK OGLENG SEBAGAI EKSPRESI SENI KOMUNITAS CONDRO WANORO DESA TOKAWI KECAMATAN NAWANGAN KABUPATEN PACITAN Catur Mustika Peni; RM. Pramutomo
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.463 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2352

Abstract

Abstrak Ekspresi merupakanhasil dan bentuk manifistasi dari emosi ekspresi, juga merupakan pengungkapan dalam suatu proses mengutarakan maksut. Tari Kethek Ogleng merupakan sebuah tarian yang menjadi jembatan bagi para pelaku seni yang ada di Komunitas Condro Wanoro. Tari kethek ogleng adalah tari yang diciptakan guna untuk memberikan nuansa baru di sebuah desa. Tarian ini bisa disajikan secara kelompok, individu dan pasangan.. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanabentuk tari Kethek Ogleng Desa Tokawi Kecamatan Nawangan dan mengapa ekspresi seni komunitas Condro Wanoro terbentuk melalui tari Kethek Ogleng. Konsep yang di gunakan untuk menganalisis bentuk tari Kethek Ogleng Desa Tokawi ini ialah Sumandyo Hadi. yang meliputi urutan sajian, Penari, gerak, pola lantai, karawitan, atau music tari, rias dan busana, tempat dan waktu pertunjukan. Untuk mengupas ekspresi yang terbentuk melalui tari Kethek Ogleng mengunakan teori dari Setephanie Ross. Metode yang digunakan dalam penelitian ini mengandalkan data kualitatif dalam hal pengumpulan data dan yang menghasilkan data deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi yang terbentuk melalui tari Kethek Ogleng itu ada beberapa hal yang mendasari sebuah ekspresi itu sendiri. Ada beberapa model orientasi ekspresi yang terbentuk dalam sebuah komunitas melalui tari Kethek Ogleng. Orientasi itu diantaranya adalah Orientasi Keagamaan atau religi, Orientasi Solidaritas, orientasi komunikasi, orientasi kekeluargaandan Orientasi Integratif. Simpulan dari penelitianini yaitu tari Kethek Ogleng merupakan tari yang digunakan sebagai penyalur bagi para pelaku seni yang ada di Komunitas Condro Wanoro.Kata kunci : Tari Kethek Ogleng, Bentuk Tari, Ekspresi Komunitas. Abstract The Expression is a result of the manifestation from emotion. It was also the process to respond the way emotion proposed. This article will strives a Kethek Ogleng which is belong to the bridge among dance participants of Condro Wanoro Community. This dance form was created to present a new nuance from the country side. Generally it was also presented by individual,  duet or in a group. This article will examine the Kethek Ogleng dance form in Tokawi Village, Kecamatan Nawangan and why they have Condro Wanoro Community which was supporting thir dance form. Choreograplically this article will use. Y. Sumandiyo Hadi concepts of dance choreography’s as recreasional form. Another side it is also examine the many aspects of Choreog- raphy. There is another concept of arts as community expression from Stephanie Ross. From this concept this article will expose several orientation of community like, religion orientation, soli- darity orientation, communication orientation, family orientation, and integrative orientation. The perspective will use in this article called ethnochoreological perspective and practically using dance ethnography method.Keywords: Tari Kethek Ogleng, Dance Form, Expression of Community.
REINTERPRETASI SUPRIYADI PADA TARI BALADEWA DALAM PERTUNJUKAN LENGGER Iva Catur Agustina; Wahyu Santoso Prabowo
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1643.66 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2357

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ide garap serta proses reinterpretasi Supriyadi pada Tari Baladewa dalam pertunjukan lengger. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengalamannya sebagai penari maupun koreografer, kreativitas tersebut diwujudkan dalam motif gerak Tari Baladewan. Gerak-gerak tersebut terinspirasi dari Tari Baladewayang terdapat pada lenggerdandipengaruhi olehketubuhan Supriyadi pada tari gaya Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Sunda. Tari Baladewan diiringi dengan gending Kulu-Kulu atau Cindung Cina yang juga merupakangendhing untuk mengiringi Tari Baladewa dalam kesenianlengger.Kata kunci: Baladewan, Reinterpretasi, Kreativitas. Abstract This study aims to examine the idea of working and reinterpretation of Supriyadi in Baladewa Dance in a lengger performance. The results of this study indicate that his experience as a dancer and choreographer, creativity is embodied in motion motion Baladewan Dance. The movements are inspired by Baladewa dance found on lengger and influenced by Supriyadi’s body in Yogyakarta style dances, Surakarta, Banyumas and Sunda. Baladewan dance is accompanied by Kulu-Kulu or Cindung gending of China which is also a gendhing to accompany Baladewa Dance in lengger arts.Keyword: Baladewan, Reinterpretation, creativity.
SENDHANG SINANGKA SEBAGAI SUMBER INSPIRASI TERCIPTANYA IDE KARYA SENI Nandhang Wisnu Pamenang; Silvester Pamardi
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.363 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2353

Abstract

Abstrak Sumber mata air bagi kehidupan makluk hidup menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan. Tanpa adanya kepedulian dari masyarakatnya untuk merawat sumber mata air maka akan berpengaruh terhadap perkembangan ekosistem disekitar area tersebut. Fenomena ini menjadi ketertarikanbagi pengkarya tentang keberadaan sumber mata air yang sangat penting bagi keberlagsungan kehidupan masyarakatnya dan di transformasikan dalam bentuk karya seni pertunjukan. Keberadaan Sendhang Sinangka bagi masyarakat Desa Keloran menciptakan titik temu diantara keduanya. Dalam perspektif ini, masyarakat tidak dapat terlepas dari lingkungan sebagai sumber kehidupan. Begitu pula sebalikya, Sendhang Sinangka juga membutuhkan kesadaran dari masyarakatnya untuk bersinergi dalam membangunsebuah keseimbangan kosmos. Proses penciptaan seni sebagai representasi dari fenomena manfaat sumber air, membawa pengkarya pada pengembangan eksplorasi ruang, membuat alur cerita yang berkaitan dengan Sedhang Sinangka, serta mengakomodir beberapa elemen masyarakat setempat yang juga turut berpartisipasi melakukan proses. Untuk memperkuat esensi dari pertujukan seni, pengkarya melakukan observasi lokasi, wawancara, pendekatan secara emosional kepada penduduk setempat, pengumpulan data, studi pustaka, dokumentasi, analisis data hingga melakukan kroscek data.Kata kunci: Sendhang Sinangka, Inspirasi, Seni Pertunjukan. Abstract The source of springs for the life of living beings becomes a very important necessity for the sustainability of life. Without public awareness to treat springs, it will affect the development of ecosystems around the area. This phenomenon becomes the attraction for the pengkarya about spring which is very important for the sustainability of community life and transformed in the form of performance art. The existence of Sendhang Sinangka for Keloran Village community creates similarities between them. In this perspective, society can not be separated from the envi- ronment as a source of life. Similarly, on the contrary, Sendhang Sinangka also requires aware- ness from the community to work together in building the balance of the cosmos. The process of art creation as a representation of the phenomenon of the benefits of water resources, bringing pengkarya on the development of space exploration, create a story line associated with Sedhang Sinangka, and accommodate some elements of local communities who also participate in the  process. To strengthen the essence of art performances, pengkarya make location observations, interviews, emotional approaches to the local population, data collection, literature studies, docu- mentation, data analysis to cross check data.Keywords: Sendhang Sinangka, Inspiration, Performing Arts.
PERANAN OTORITAS ESTETIS PADA TARI GOLEK LAMBANGSARI DI PURA MANGKUNEGARAN Endah Purwaning Tyas
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.167 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2358

Abstract

- Abstrak Tari Golek Lambangsari merupakan tarian yang berkembang di dalam Pura Mangkunegaran yang pada mulanya berasal dari Keraton Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan teori otoritas dari Max Weber dan RM. Pramutomo, konsep bentuk dari Y. Sumandiyo Hadi dan Effort-Shape dari Laban. Penulisan skripsi ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan otoritas estetis memberikan warna pada Tari Golek Lambangsari. Warna yang dimaksudkan meliputi teknik, motif gerak dan rasa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk dan iringannya. Bentuk Tari Golek Lambangsari di Pura Mangkunegaran sudah mengalami perubahan proses artistik, hal ini dapat dilihat dari bentuk gerak yang telah mengalami modifikasi. Selain itu perubahan pada iringan tari yang memiliki rasa iringan gaya Surakarta. Perubahan bentuk Tari Golek Lambangsari ini dikarenakan adanya peranan otoritas estetis yang dijalankan oleh Mangkunegara VII.Kata kunci: Tari Golek Lambangsari, bentuk tari, peranan otoritas estetis. Abstract Golek Lambangsari is a dance that first originated in the Yogyakarta Keraton but subsequently developed in the Mangkunegaran Palace. This research uses Max Weber and RM. Pramutomo’s theories of authority, Y. Sumandiyo Hadi’s concept of form, and Laban’s Effort- Shape theory. The dissertation is written using a qualitative method. The results of the research show that the role of aesthetical authority colours the Golek Lambangsari dance in aspects of technique, motifs of movement, and ambience. This is evident in both the form and the musical accompaniment of the dance. The form of Golek Lambangsari in the Mangkunegaran Palace has undergone a process of artistic change, as seen in the modified form of the movements. The musical accompaniment has been altered to adopt a Surakarta-style feel. The changes that have influenced the form of the Golek Lambangsari dance are due to the role of aesthetical authority implemented by Mangkunegara VII.Keywords: Golek Lambangsari dance, dance form, role of aesthetical authority.
ANALISIS ESTETIS TARI BROMASTRO KARYA WAHYU SANTOSO PRABOWO S Sumargono
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1236.231 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2363

Abstract

Abstrak Penelitianini mengungkapdan mengidentifikasi estetika ataukeindahantari Bromastro karya Wahyu Santoso Prabowo dengan titik perahatian pada analisis unsur- unsur tari dan bentuk hubungan sebagai pembentukan keindahan tari.Oleh karena itudipaparkan diskripsi Tari Bromastroyang berhubungan dengan musik tari dan rasa gerak tarinya untuk diidentifikasi, sehingga kesan harmoni muncul dalam koreografi tari tersebut. Analisis estetik ini juga didasarkan pada konsep kepenarian tari tradisi Jawa gaya Surakarta baik teknik maupun rasa sebagai koridornya. Konsep tersebut meliputi pacak, pancat, lulut, luwes, ulat, wiled, irama, dan gendhing yang juga dikenal dengan konsep Hastha Sawanda. Kata kunci: Tari Bromastro, gendhing, dan estetik Abstract This writting will disclose and identyfy the aesthetics of Bromastro dance by aplying a special attentionto the analysis of dance’s elementsand the relations of one element to the others. The notation patterns of the music of the dance were describet in detail so that it was posible to identify the tempo, laya, rhythm, musical taste and the pattern of kendangan mungkus. The result is that we know the choreography of Bromastro dance has harmonious impresion. This aestetic analysis was based on the aesthetic concept of javanese traditional dancing of Surakarta style,both the technique and its taste. The concept covers pacak, pancat, lulut, luwe, ulat, wiled, rhythm and gendhing which are known as hastha sawanda.Keywords: Bromastro, gendhing, and aesthetic.
DEO KAYANGAN: DARI RITUAL PENGOBATAN MENJADI HIBURAN MASYARAKAT TEBING TINGGI OKURA KECAMATAN RUMBAI PESISIR DI PEKANBARU Nur Desmawati; Sri Rochana Widyastutieningrum
Greget Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1837.295 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i1.2354

Abstract

Abstrak Deo Kayangan merupakanritual pengobatan penyakit yang disebabkan oleh kekuatan gaib. Ritual ini ada di Kelurahan Tebing Tinggi Okura, Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Ritual tersebut dipimpin oleh seorang dukun Melayubernama Tuk Damai.Tuk Damai diminta olehmasyarakat untuk menjadikanritualtersebut sebagai tontonan dengan membuat imitasi Deo Kayangan yang diberi nama Badeo.Fenomena Deo Kayangan sebagai tontonan ini merupakan permintaan masyarakat agar bisa ditampilkan Deo Kayangan tersebut sebagai hiburan. Untuk mencapai harapan itu, proses sekularisasi menjadi pilihan bersama. Deo Kayangan sebagai ritual pengobatan tetap pada hakekatnya sebagai pengobatan dan di pertunjukkan pada saat manusia membutuhkan pengobatan jika si sakit membutuhkan pertolongan yang dilengkapi dengan berbagai persyaratan yang telah ditentukan, seperti kelengkapan sesaji dan keperluan lainnya. Sementara imitasi Deo Kayangan dibuat untuk tujuanpertunjukan sekuler sebagai tontonandan hiburan masyarakat, demikian pula untuk para wisatawan. Kronologi dari ritual menjadi tontonan, tidak terlepas dari tujuanpemerintah yang ingin manjadikan Desa Tebing Tinggi Okura sebagai desa wisata. Oleh karena itu, masyarakat antusias dalam menyambut proprgam tersebut, dengan menggali potensi desanya.Kata kunci: Deo Kayangan, Badeo, Faktor. Abstract Deo Kayanganis a healing ritual performed to cure illnesses that are caused by supernatu- ral powers. This ritual is found in Tebing Tinggi Okura, in the Rumbai Pesisir District of Pekanbaru, in the Riau Province. The ritual is conducted by a Malay shaman known as Tuk Damai who in recent times has been asked by the local community to turn the ritual into a form of entertainment by creating an imitation of Deo Kayangan known as Badeo. The phenomenon of Deo Kayangan as a form of entertainment is the result of this request by the community. In order to achieve this new form, the community agreed on a process of secularization. DeoKayangan as a healing ritual retains its true nature as a healing medium and is performed for the purpose of  healing a sick person, complete with various predetermined requirements such as offerings and other elements. The imitation of DeoKayangan, on the other hand, is designed as a secular per- formance and a form of entertainment for members of the local community and for tourists. The chronology of the process through which the ritual became a form of entertainment is also tied to the goal of the local government to make the village of TebingTinggi Okura a tourist destination. Therefore, the local community have welcomed the program enthusiastically by exploring the potential of their village.Keywords: DeoKayangan, Badeo, Factor.
FUNGSI TARI LENGGER PUNJEN DALAM UPACARA NYADRAN TENONGAN DI DUSUN GIYANTI DESA KADIPATEN KECAMATAN SELOMERTO KABUPATEN WONOSOBO Diajeng Rahma Yusantari
Greget Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.618 KB) | DOI: 10.33153/grt.v16i2.2359

Abstract

Abstrak Tari Lengger Punjenmerupakan tari berpasangan laki-laki dan perempuan yang hidup dan berkembang di Dusun Giyanti Kabupaten Wonosobo. Di Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo setiap tahunnya selalu mengadakan Upacara Nyadran Tenongan yang didalamnya selalu dipentaskan tari Lengger Punjen. Mayarakat percaya jika tidak melaksanakan Upacara Nyadran Tenongan akan terjadi malapetaka seperti penyakit dan gagal panenkarena mereka percaya denganadanya roh leluhur yang menjaga Dusun Giyanti. Landasan teori bentuk dari Suzane K. Langer dan teori fungsi Anthony Shay. Penelitian ini bersifat kualitatif. Tari Lengger Punjen disajikan dalam Upacara Nyadran Tenongan memiliki fungsi sebagai cerminan dan legitimasi tatanan sosial, wahana ekspresi ritus yang bersifat sekuler dan religious, hiburan atau kegiatan rekreasional, saluran maupun pelepas kejiwaan, cerminan nilai estetik, dan sebagai cerminan pola kegiatan ekonomi.Kata kunci: Tari Lengger Punjen, bentuk dan fungsi. Abstract The Lengger Punjen dance is a duet, performed by a male and female dancer, which devel- oped and exists in the Giyanti hamlet of Wonosobo. Each year, in this hamlet, the Nyadran Tenongan ceremony is held and the Lengger Punjen dance is always performed during this ceremony. The local community believes that if they fail to hold the Nyadran Tenongan ceremony, they may be afflicted by disaster, such as illness or a failed harvest, because the spirits of their ancestors guard the wellbeing of the Giyanti hamlet. The research is qualitative and is based on Susanne K. Langer’s theory of form and Anthony Shay’s theory of function. The function of the Lengger Punjen dance performed at the Nyadran Tenongan ceremony is a reflection of the legitimacy of the social order, a vehicle of ritual expression that is both secular and religious in nature, a form of entertainment or a recreational activity, a channel for spiritual release, a reflection of aesthetical values, and a reflection of a pattern of economic activities.Keywords: Lengger Punjen dance, form, and function.