cover
Contact Name
Muhammad Nur Salim
Contact Email
denmassalim88@gmail.com
Phone
+6281392727084
Journal Mail Official
keteg@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No.19, Jebres, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126, Indonesia
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
ISSN : 14122065     EISSN : 27146367     DOI : https://doi.org/10.33153/ktg
Core Subject : Art,
The journal is invited to the original article and has never been published in conjunction with another journal or conference. The publication of scientific articles is the result of research from both the external and internal academic communities of the Surakarta Indonesian Art Institute in the Karawitanologi discipline. The scope of distribution, Karawitan Education and Learning; Historical Study and Development of Karawitan; Study on Karawitan; Karawitan Organology Study; Karawitan Aesthetic Study; Karawitan Composition Study.
Articles 202 Documents
GARAP GENDERAN DALAM GENDING LAMPAH TIGA Wahyu Thoyyib Pambayun; Nanang Bayu Aji
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 20, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3569

Abstract

 Gending lampah tiga composed by Harjasubrata in the 1950s. At the very beginning of its existence, lampah tiga composition focused and working on vocals, so gending lampah tiga has not been equipped with settled garap instruments. Most pengrawits find it hard to present gending lampah tiga, especially on ricikan gender, this is because the information about genderan lampah tiga is still limited. This article is entitled “Garap Genderan in Gending Lampah Tiga”, the problem  described in this article is how to present garap genderan in gending lampah tiga. The method that used to solve the problem in this article is to analyze and transcribe the presentation of gending lampah tiga, then interpreted.The writer hopes to provide an offer about how to interpret genderan in gending lampah tiga and to give a “little” contribution of thoughts for the development of karawitan science.
SUBAKASTAWA DALAM PERSPEKTIF RAGAM GARAP PENYAJIANNYA Sigit Setiawan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 20, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3553

Abstract

Subakastawa dalam Perspektif Ragam Garap Penyajiannya This study intends to describe the variety of Subakastawa's musical works. The method used is descriptive-analytic using Kuntowijoyo's developmental approach and Rahayu Supanggah's approach to work. The development of Kuntowijoyo helps to see the variety and interpretation of musical works from one period to another which is identical to the usefulness of the music itself, while the working approach is used as a tool to dissect the musical situation in the intended musical. The result of this research is that there are five types of work on Subakastawa, namely; Working on the public, Subakastawa Cara Balen, Subakastawa Winangun, Subakastawa Rinengga and Subakastawa in the context of shadow puppet shows.
GARAP KENDANG GAYA SURAKARTA DAN YOGYAKARTA DALAM RANGKAIAN MRABOT (STUDI KASUS: GENDING MADUWARAS) Wiliyan Bagus Dwi Krismiatin; Suyoto Suyoto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 20, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3551

Abstract

Penelitian pada Maduwaras, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah 4: Kajian Garap Kendang, Gaya Surakarta dan Yogyakarta Dalam Rangkaian Mrabot” adalah menganalisis garap kendang gendhing Maduwaras.  Gagasan dalam penelitian ini adalah kolaborasi garap dua gaya Karawitan yaitu gaya Surakarta dan Yogyakarta dengan rangkaian; Maduwaras, gendhing gendhing kethuk 2 kerep minggah 4 kalajengaken ladrang Mara Lagu, suwuk, trus lagon Sanga Wetah, ada-ada kasambet Playon kaseling rambangan Kinanthi, Sinom, Durma laras sléndro pathet sanga.  Dalam rangkaian tersebut terdapat dua gaya karawitan yang berbeda dengan berbagai macam garap kendhangan.  Permasalahan tersebut dikaji sesuai dengan kaidah-kaidah karawitan pada kedua gaya tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.  Penelitian dimulai dari proses rancangan penelitian karya, pemilihan sumber dan jenis data. Teknik pengumpulan data dimulai dari studi pustaka, observasi, dan wawancara.  Dalam analisa penelitiannya menggunakan tiga pendekatan konsep yaitu konsep garap (materi garap dan prabot garap), konsep mungguh, konsep matut dan konsep padhang ulihan.Hasil yang diperoleh adalah kedua gaya yang memiliki latar belakang berbeda dapat dikolaborasi dengan baik dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku dari kedua gaya tersebut khususnya garap kendhangan.  Perbedaan garap kendhangan pada masing-masing bentuk gending dapat menghasilkan berbagai karakter, warna dan dramatik musikal dengan didukung oleh beberapa aspek kendhangan antara lain; penerapan sekaran, laya, wiledan, serta dinamika dengan tetap memperhatikan konsep mungguh. Kata kunci : gending, kendhangan, garap, gaya
GENDING DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI STUDI KASUS GENDING-GENDING KARYA TJOKROWARSITO Siswati Siswati
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 20, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3536

Abstract

Penelitian ini mengkaji gending-gending Tjokrowarsito yang bertema tentang lingkungan secara khusus dan secara umum. Gending yang dikaji merupakan karya yang berkaitan tentang program-program pemerintahan di masanya. Lancaran Penghijauan merupakan salah satu karya yang digunakan sebagai objek analisis gending dengan tema lingkungan hidup. Dengan menganalisis teks gending yang terdiri dari lirik/ cakepan dan melodi pada gending karya ki Tjokrowarsito, dapat ditemukan bahwasanya Lancaran penghijauan sebagai media untuk mempromosikan program pemerintah dalam merespon kondisi lingkungan alam yang terjadi saat itu. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menelaah kajian garap gending karya Tjokrowarsito beserta faktor-faktor apa saja yang menjadi pembentuk ide-ide karya Tjokrowarsito.  
KOMPOSISI KARAWITAN ISMUNING CAHYA: INTERPRETASI KEESAAN TUHAN MELALUI TOKOH SEMAR Danis Sugiyanto; Sigit Setiawan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 20, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v20i2.3555

Abstract

This work is entitled "Ismuning Cahya", is a work of contemporary Javanese gamelan music composition with the theme "the form of the Oneness of God” represented by the wayang character, Semar. The purpose of the creation of this works is to prove the existence of contemporary music (gamelan), as a reference for gamelan students who are interested in creating works of art (music). The output of this artistic research work is in the form of works (both live and/ or audio documentation) and scientific works which contain the process of developing the works "Ismuning Cahya". From there, it is hoped that this work will be able to become a model for the creation of works of art, especially the creation of contemporary gamelan.  
PROSES PENYUSUNAN KOMPOSISI GAMELAN "ARUHARA" Wahyu Thoyyib Pambayun
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 21, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3622

Abstract

 This article contains the author’s experience in composing gamelan composition, “Aruhara”. In the composing process of “Aruhara”, the author was inspired by the Genderan of Ada-ada Ngobong Dupa presented by Sumiyati. In order to create the gamelan composition “Aruhara”, the author uses reinterpretation approaches. The steps of composing the piece are: observation, exploration, elaboration, rehearsal, and finalization. The process that has been passed has resulted new offers in addressing the gender instrument, such as  the use of patterns, techniques, musical scales and the connection between the instruments. The author hopes this article can be useful as an alternative source to learn gamelan compositions for gamelan composition learners, and it can provides an overview about the discourse, also the performance of Indonesian composers.Keywords::Composition, Gamelan, Gender, Aruhara, Karawitan
FUNGSI TEMBANG SINOM LOGONDHANG LARAS PELOG PATHET BARANG DALAM KARYA TARI PRAWESTRI Nandhang Wisnu Pamenang
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 21, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3784

Abstract

Fungsi tembang sebenarnya adalah memaknai berbagai macam tembang yang terdapat dalam macapat. Macapat terdiri dari sebelas jenis dan memiliki arti sendiri-sendiri. Tembang macapat awalnya adalah berdiri sendiri atau vocal tunggal tetapi dalam perkembanganya disesuaikan dengan gamelan akhirnya menemukan bentuk pengembangan tembag macapat yang lebih menarik. Salah satu perkembangannya adalah dengan digunakannya salah satu jenis tembang macapat sebagai salah satu urutan gending tari yang memunculkan tema dan dinamika musik. Sebagai contoh tembang Sinom Logondhang yang digunakan dalam karya tari Pawestri sebagai awalan dan syairnya berisikan tema tarian. Peranan tembang Sinom Logondhang dalam karya tari Pawestri sangat penting karena sebagai penyampai isi. Kata Kunci : Fungsi, Tembang, Sinom
KARAWITAN : ANALISIS PATHET DAN JALAN SAJIAN GARAP GENDING PAKELIRAN Sigit Setiawan
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 21, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3740

Abstract

Hal yang ingin diungkap pada penelitian ini adalah, bentuk gending, jalan sajian, dan studi pathet dalam gending Krawitan. Krawitan merupakan gending yang lebih dikenal oleh masyarakat karawitan sebagai gending pakeliran. Maka, naskah ini fokus pada jalan sajian guna keperluan pakeliran. Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah, teori garap Rahayu Supanggah, pendekatan kontekstual dan tekstual dalam antropologi pandangan Ahimsa Putra, yang mana pada kajian tekstual mendapat perhatian yang lebih besar. Kajian tekstual yang dihadirkan adalah kajian bentuk gending, jalan sajian, dan studi pathet. Jalan sajian dianalisis dengan menggunakan tiga contoh kasus yakni, versi Media Ajar, versi RRI dan versi Nartosabda. Sedangkan studi pathet menggunakan pendekatann pathet melalui biang pathet karya Sri Hastanto. Dari hasil analisis yang dilakukan, investigasi bentuk gending berhasil memetakan posisi ketawang gending kethuk 4 kerep yang merupakan pemekaran dari ketawang gending kethuk 2 kerep dan diawali dari bentuk ketawang. Jalan sajian, termasuk di dalam dinamika irama pada garap pakeliran ada dua versi yakni versi dari ayak-ayak dan versi buka rebab. Hal tersebut berdampak pada perjalanan Gending Krawitan. Terakhir, investigasi terkait pathet, membuktikan bahwa meski Gending Krawitan ini merupakan gending dengan pathet induk nem, tetapi pada faktanya gending ini terdiri dari frasa-frasa melodi yang tidak hanya pathet nem. 
CENGKOK GENDERAN DUALOLO SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK “FANTASIA FROM DUALOLO” KARYA : PURWA ASKANTA Purwa Askanta; Danis Sugiyanto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 21, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3779

Abstract

This journal is entitled "Cengkok Genderan Dualolo as a Source of Ideas for the Creation of Fantasia From Dualolo Music Composition" by Purwa Askanta. The focus of the problems studied in this paper includes the analysis of musical composition works that use the source of artistic ideas from a dualolo genderan twist in Javanese Karawitan. How the idea is used as a theme and developed to form a sound building in the form of Fantasia in three parts. In this composition, there are several creation systems that need to be expressed in order to understand the reader in order to understand the concept of creating this musical work. The method used in this journal is descriptive analysis with a form of music analysis approach. The findings of this research will show creativity in composing a new musical composition by Purwa Askanta. Meanwhile, the purpose of this research is to contribute in the form of techniques and methods of creating musical works that raise a simple idea from elements of the Javanese musical tradition in the form of the dualolo gendered twisted. It is hoped that the writings in this journal can broaden the readers' insight and become a reference for those who explore the creation of musical works.
LANGGAM DAN ZAPIN GRUP MUSIK MELAYU SAYANG SENANDUNG Yusnelli Yusnelli; Ferry Herdianto
Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol 21, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v21i1.3681

Abstract

Malay art generally displays songs that have song ranges or tempo such as langgam and zapin. Likewise with the Malay art of Sayang Senandung always plays these two tempos in every show. However, there is something unique about Sayang Senandung where the two tempo forms are packaged using different instruments from other Malay forms. Tempo Langgam uses violin instruments (melodic instruments), bebano pasu, kompang, and tetawak as tempo control instruments, and in every show always plays the songs Dondang Sayang, Inang Cina and Serampang Laut. Tempo Zapin uses the string instrument, the violin as the carrier of the melody and filler and the Marwas and the tetawak as the instrument for cntrolling the tempo. The songs he often performed were zapin major and zapin minor.

Page 11 of 21 | Total Record : 202