cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ornamen@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ornamen Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya
ISSN : 16937724     EISSN : 2685614X     DOI : 10.33153
Core Subject : Humanities, Art,
Art craft journal contains scientific articles on the results of research on the art of craft and the creation of craft art within the scope of Indonesian culture. The substance presented is in the form of a mission to preserve the cultural values of the archipelago as well as the development of concepts and aesthetics, along with the development of the complexity and dynamics of people's lives. The critical approach method in an interdisciplinary scientific perspective can open the widest possible opportunity for scholars, researchers, and stakeholders to work together in advancing a dignified national culture in the midst of global competition. ORNAMENTS art craft journals are published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
PENERAPAN MOTIF TRENGGILING PADA KERIS DENGAN TEKNIK TINATAH Ari Harmawan; Kuntadi Wasi Darmojo
Ornamen Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i1.3258

Abstract

Senjata tradisional khususnya keris mengalami perkembangan dari bentuk dan karakternya seiring dengan kemajuan zaman. Dalam tugas akhir ini penulis membuat keris kreasi baru, mengabungkan motif Trenggiling pada keris dengan teknik tinatah didalam karya tersebut. Motif Trenggiling memberikan insipirasi pada penulis, karena memiliki bentuk pada sisik yang menarik dan mewakili  simbol perlindungan diri. Trenggiling adalah satu-satunya hewan mamalia yang memiliki sisik untuk melindungi tubuhnya dari pemangsa atau predator di alam liar. Motif Trenggiling disesuaikan dengan desain dan akan diterapkan pada karya tosan aji berupa Keris.Metode penciptaan yang diterapkan dalam proses penciptaan yaitu tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Eksplorasi meliputi obervasi, studi pustaka dan wawancara. Perancangan meliputi analisis dan sketsa alternatif. Perwujudan meliputi penerapan pada material yang sudah sesuai dengan sketsa yang terpilih, yang menghasilkan tiga keris yakni: dhapur Trenggiling Sisik Waja, dhapur Trenggiling Lingkaring Urip, dhapur Manis Javanica. Penciptaan tugas akhir ini berpijak pada penerapan motif Trenggiling pada keris dengan teknik tinatah. Motif Trenggiling memberikan inspirasi pada penulis, karena memiliki karakter yang menarik, unik, dan mewakili simbol perlindungan diri. Diharapkan menghasilkan keris-keris kreasi baru tanpa meninggalkan tradisi yang dapat membangun makna-makna yang terkandung serta turut melestarikan karya seni.Kata kunci: Keris, motif, Trenggiling
LALAT SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA RELIEF LOGAM Antok Dirgantoro Putro; Aji Wiyoko
Ornamen Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i1.3241

Abstract

Penciptaan seni relief logam bertema lalat merupakan gagasan untuk mengangkat peran lalat dalam kehidupan manusia. Lalat identik dengan hal kotor dan penyakit. Namun demikian, perannya dalam ekosistem sangat besar, khususnya dalam proses penguraian sampah. Penelitian medis juga ada yang merilis bahwa lalat dapat digunakan sebagai sarana penyembuhan. Adanya manfaat lalat bagi kehidupan manusia menjadi daya tarik untuk diangkat sebagai sumber ide penciptaan seni. Metode penciptaan seni menerapkan metode tiga tahap enam langkah, melalui tahapan eksplorasi, perancangan, dan pewujudan. Teknik ukir logam digunakan selama pembentukan relief yang menggunakan aluminium sebagai media ekspresi. Hasil karya relief bertema lalat menjadi media introspeksi tentang peran masing-masing makhluk ciptaan Tuhan. Semua makhluk telah dirancang sedemikian rupa untuk dapat menjalankan perannya dalam kehidupan. Dengan demikian tidak diperkenankan merendahkan satu diantara lainnya.Kata kunci: lalat, seni, introspeksi
HIASAN DINDING VELBOA BERTEMA KASIH IBU MELALUI TEKNIK PYROGRAPHY Rizki Nizam
Ornamen Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i1.3242

Abstract

Kesan memorabilia berupa kasih sayang diwujudkan dalam karya seni bertema Kasih Ibu, yang terinspirasi dari fenomena pilu kehidupan anak Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Desa Kutawaru, Cilacap. Penulis berusaha mengolah rasa empati menjadi lembaran-lembaran ilustrasi imajinatif dalam balutan nuansa dunia bermain anak. Inovasi berhasil dilakukan dengan menerapkan teknik pyrography pada media tekstil-kain berbulu tiruan (velboa), setelah dilakukan uji coba dan adaptasi pada piranti solder dan teknik. Selain itu, juga dibuat pengembangan produk dengan memadukan hasil seni pyrography velboa dengan teknik quilting dan penambahan zat glow in the dark. Muara dari karya seni pyrography dan pengembangannya ini tentunya adalah produk aksesori pelengkap interior berupa hiasan dinding gantung. Keseluruhan terdapat 9 karya yang berhasil direalisasikan, pun terdapat tiga variasi bentuk; berbingkai lingkaran, berbingkai kotak penuh, dan berbingkai gagang atas-bawah. Produk hiasan dinding gantung ini cocok ditempatkan di ruang tamu, ruang santai keluarga, ataupun kamar anak, dengan memperhatikan ukuran karya dan luas dinding ruang.Kata kunci: kasih ibu, pyrography, velboa, wall hanging.
PERANCANGAN BATIK DENGAN SUMBER IDE TRIBAL PADA JAKET DENIM Lukman Setiaji
Ornamen Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i1.3243

Abstract

Penerapan Teknik Batik di Atas Kain Denim Dengan Sumber Ide Tribal untuk Bahan Pembuatan Jaket. Tugas Akhir: Program Studi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret. Fokus permasalahan yang dibahas dalam perancangan ini yaitu: Bagaimana merancang batik pada kain denim dengan sumber ide motif tribal sebagai bahan pembuatan jaket? Sumber ide motif yang digunakan adalah motif tribal Navajo dan Afrika. Jenis denim yang digunakan adalah denim dengan berat 493 gram/yard dengan anyaman keper 3 per 1\1. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam perancangan ini adalah studi pustaka, observasi, uji coba visual dan uji coba teknik. Pengumpulan data dilakukan untuk mendukung pemecahan visual yang digunakan dalam perancangan ini. Percobaan dilakukan guna mendapatkan teknik dan material yang tepat. Perancangan ini menghasilkan: (1) dalam proses perancanagan tekstil perlu memperhatikan beberapa aspek agar tercapai sesuai ide dasar perancangan, yaitu: aspek estetis, aspek teknik, aspek bahan, aspek fungsi, dan aspek segmentasi pasar. (2) Perancangan ini menghasilkan 3 produk dari 6 desain yang dibuat.Kata kunci : tribal, batik, jaket denim
MOTIF BATIK MAGELANG: PERPEKTIF PENGGABUNGAN MOTIF BATIK TRADISI DENGAN MOTIF KREASI BARU Anggia Adriadna Miranda; Felix Ari Dartono; Setyawan Setyawan
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3695

Abstract

Tujuan dari penelitian berjudul ‘Kajian Batik Magelang’ adalah untuk mengetahui latar belakang munculnya batik di Kota Magelang dan motif Batik Magelang. Melalui teori pendekatan desain oleh John. A. Walker untuk memahami latar belakang munculnya batik di Kota Magelang berdasarkan kaitannya dengan bentuk motif batiknya, konsep pengembangan batik di Kota Magelang, dan pengaruh latar belakang individu pengrajin. Metode Penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel berupa produk kain batik Motif  Panen Raya, Motif Organik, Motif Mawar dan Melati, Motif Sejuta Bunga, Motif Cempaka, dan Motif Sekar Jagad Magelangan. Adapun data tertulis maupun visual dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Latar belakang budaya mempengaruhi munculnya batik di Kota Magelang, 2) Keterkaitan antar aspek artefak, konsep, manusia, dan lingkungan dapat terlihat dalam berkembangnya batik Magelang.
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh Ayu Dea Irgi Ramadhani
Ornamen Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i1.3696

Abstract

Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenisnya seperti, Wayang Kulit Purwa, Wayang Golek, Wayang Wong, Wayang Beber, Wayang Klithik, Wayang Kancil, Wayang Gedhog, Wayang Madya, Wayang Krucil, dan lain-lain. Di antara nama-nama jenis wayang di atas terdapat jenis wayang yang mempunyai ciri visual khusus dan cara pementasan yang berbeda pula, yaitu Wayang Beber. Wayang Beber Wayang beber terdiri dari dua gaya yaitu gaya Pacitan dan gaya Wonosari. Penelitian ini ditujukan pada Wayang Beber Pacitan yang mempunyai bentuk Visual yang unik dan menarik pada bidang seni rupa. Secara estetik. Wayang Beber juga mempunyai cara yang berbeda dari segi pementasanya yaitu dibeber atau dibentangkan dan dalang berdialog untuk menceritakan sebuah narasi cerita. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan mengunakan teori estetik. Perkiraan hasil Penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan baru mengenai visual Wayang Beber yang mendukung sebuah dialog pada pertunjukan Wayang Beber.Kata Kunci : Wayang Beber, Visual, Tokoh  Abstract               Indonesia is a country that has many cultures and artifacts of ancestral heritage, one of which is worldwide Puppet, Puppets in Indonesia are of many types such as, Wayang Kulit Purwa, Wayang Golek, Wayang Wong, Wayang Beber, Puppet Klithik, Wayang Kancil, Wayang Gedhog, Wayang Madya, Puppet Krucil, and others. Among the names of the types of wayang above, there is a type of wayang that has special visual characteristics and a different way of staging, namely Wayang Beber. Wayang Beber Wayang Beber consists of two styles, namely the Pacitan style and the Wonosari style. This research is aimed at Wayang Beber Pacitan which has a unique and interesting visual form in the field of art. Aesthetically. Wayang Beber also has a different way in terms of staging, which is exposed or unfolded and the puppeteer has a dialogue to tell a narrative story. The method used is descriptive qualitative research method using aesthetic theory. Estimated results This research is expected to be able to provide new insights about the visuals of Wayang Beber that support a dialogue in the Wayang Beber show.Keywords: Wayang Beber, Visual, Character
NAVADURGA SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK SINJANG DIPADUKAN DENGAN KEBAYA Eka Anggita Rahmadani
Ornamen Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i2.3707

Abstract

ABSTRAK Wanita sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki beberapa aspek dan kodrat yang harus dipahami. Fungsinya sebagai pedoman bagi kaum wanita supaya dapat memahami dan menghargai dirinya sendiri. Salah satu konsep yang menggambarkan aspek wanita adalah konsep navadurga, yaitu satu sosok dewi yang menjelma menjadi beberapa bentuk manfestasi dengan wujud dan karakter yang berbeda. Tugas Akhir Karya ini bertujuan untuk menciptakan karya sinjang batik bersumber ide navadurga dipadukan dengan kebaya menjadi busana yang menonjolkan keanggunan wanita. Tujuan khusus dalam penciptaan karya adalah menggali konsep navadurga untuk dituangkan dalam motif batik tulis sebagai penggambaran wanita dalam beberapa karakter. Proses penciptaan karya dimulai dari tahap eksplorasi untuk mendapatkan informasi lebih mengenai tema, kemudian dituangkan pada tahap perancangan desain alternatif untuk dipilih sebagai motif batik yang akan digambarkan pada kain sinjang. Proses perwujudan karya diawali dengan membuat pola batik diatas kertas, lalu nyorek pada kain yang sudah dipotong sesuai ukuran dan dicuci, nglowongi, ngiseni, nyolet, nglorod, mbironi, nyoga, nglorod. Karya sinjang dibuat menggunakan teknik batik tulis. Teknik pewarnaan dalam proses penciptaan karya adalah kombinasi teknik colet menggunakan pewarna remasol dan tutup celup menggunakan pewarna alam. Karya berjumlah 5 lembar sinjang batik tulis dalam penampilannya, dipadukan dengan kebaya sebagai busana atasan. Nama motif batik yang diciptakan antara lain: Wikrama (keteguhan hati), Gantari (yang menyinari), Pramesti (dewi yang baik hati), Dahayu (cantik), Widyanata (berilmu). Kata Kunci: Navadurga, batik tulis, sinjang.            ABSTRACT Women as God's creatures have several aspects and natures that must be understood. Its function is as a guide for women in order to understand and appreciate themselves. The concepts of navadurga describes the aspect of women have. Navadurga is a goddess who transforms into several manifestations with different forms and characters. This final project aims to create batik sinjang based on the idea of Navadurga, combined with kebaya that accentuates the elegance of women. The main purpose in creating the work is to explore the concept of navadurga to be translated into written batik motifs that symbolize women in several characters. The process of creating works starts from the exploration to get more information about the theme, then its poured into the  alternative design to be selected as batik motif to be depicted on the sinjang. The process of creating the work begins with making batik pattern on paper, then applying it to the cloth that has been cut to size and washed, nglowongi, ngiseni, nyolet, nglorod, mbironi, hopefully, nglorod. Sinjang made with the batik technique. The coloring technique is combine of colet techniques using remasol dyes and tutup celup using natural dyes. There are 5 pieces of written batik sinjang created, combined with kebaya as a top outfit. The names of the batik motifs that were created include: Wikrama (courage), Gantari (who shines light), Pramesti (kind-hearted goddess), Dahayu (beautiful), Widyanata (knowledgeable) Keywords: Navadurga, sinjang, written batik.  
KARAKTERISTIK BATIK TULIS SUMBERSARI MAESAN BONDOWOSO Rini Istiqfarina
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3693

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengambil subyek tentang perusahaan batik tulis Sumbersari, yang berlokasi di Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan batik tulis Sumbersari merupakan salah satu perusahaan batik tulis yang awal berdiri di Kabupaten Bondowoso, perusahaan tersebut didirikan oleh Lilik Soewondo (alm) pada tahun 1985. Proses pembuatan batik Sumbersari pada dasarnya secara teknis sama dengan pembuatan batik pada umumnya. Namun demikian terdapat beberapa perbedaan diantaranya adalah alat-alat pendukung yang digunakan seperti tidak digunakannya canting tembokan dan gawangan. Ciri khas batik tulis Sumbersari terdapat pada motif dan warna yang digunakan, yaitu berupa motif daun singkong dan daun tembakau sebagai unsur utama motif. Warna yang digunakan didominasi oleh warna kontras, yaitu perpaduan antara warna panas dan warna dingin. Warna panas diwakili warna merah, kuning dan orange, sedangkan warna dingin diwakili oleh warna hijau, dan biru. Kata kunci: Kain Batik Tulis Sumbersari, Motif dan warna Batik Tulis Sumbersari.                                              Abstract                This study takes the subject of the Sumbersari batik company, which is located in Sumbersari Village, Maesan District, Bondowoso Regency. This research is a qualitative descriptive study. The results showed that the Sumbersari batik company was one of the batik companies that was originally established in Bondowoso Regency, the company was founded by Lilik Soewondo (late) in 1985. The process of making Sumbersari batik is technically the same as making batik in general. However, there are some differences, including the supporting tools used, such as not using canting walls and barriers. The characteristic of Sumbersari batik is found in the motifs and colors used, namely in the form of cassava leaves and tobacco leaves as the main elements of the motif. The colors used are dominated by contrasting colors, which are a mix of hot and cold colors. Hot colors are represented by red, yellow and orange, while cool colors are represented by green and blue. Keywords: Sumbersari Batik Fabrics, Motifs and Colors of Sumbersari Batik Tulis  
IDE FOLKLORE NYAI AGENG BANOEWATI DAN POTENSI ALAM DAERAH BAKARAN SEBAGAI BLUS WANITA Tria Agusti Mulyani
Ornamen Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i1.3697

Abstract

ABSTRAK Batik Bakaran merupakan batik yang dipercaya sebagai peninggalan Majapahit yang memiliki  sejarah Panjang dan potensi artistik yang menarik. Salah satu keunikanya adalah meiliki warna khas batik pedalaman tetapi dengan corak atau motif khas pesisir seprti hasil laut. Walapun begitu batik bakaran masih bisa dibilang kalah popular dengan batik tradisi daerah lain. Selama ini pengembangan hanya terbatas flora dan fauna di daerah sekitar, masih belum banyak yang mengembangkan batik Bakaran dengan sumber ide folklore daerah tersebut yaitu Nyai Ageng Banoewati. Tujuan pengembangan ini adalah terciptanya produk Batik Bakaran yang Inovatif, Kompetitif, dan mempunyai diferensiasi produk yang tinggi.Metode perancangan diawali dengan Analisis Permasalahan, Strategi Pemecahan Masalah, Pengumpulan Data, Uji Coba dan Gagasan Awal Perancangan. Kemudian dilanjutkan dengan Proses Perancangan Colin Clipson dalam Nanang Rizali yang melewati tahap Identifikasi Masalah, Analisa Perencanaan Produksi, Proses Kreatif, Proses Produksi dan dan Distribusi Pemasaran.Hasil perancangan tekstil ini sebagai berikut: 1) Perancangan ini menghasilkan pembaharuan desain motif yang menampilkan visual folklore Nyai Ageng Banoewati dan potensi alam daerah Bakaran berupa 8 desain motif baru yang lebih kreatif. 2) Perancangan ini diaplikasikan sebagai fashion wanita berupa blus untuk wanita usia 20-25 tahun.Kata Kunci: Batik Bakaran, Fashion Wanita, Nyai Ageng Banoewati            ABSTRACT Batik bakaran is believed to be a legacy of Majapahit which has a long history and interesting artistic potential. One of the uniqueness is having the distinctive color of inland batik but with typical coastal patterns or motifs such as marine products. Even so, Batik Bakaran is still arguably less popular than the traditional batik in other regions. So far, the development of this batik only limited on flora and fauna in the surrounding area, there are still not many who have developed Batik Bakaran with the source of the local folklore idea, namely Nyai Ageng Banoewati. The purpose of this development is to create Batik Bakaran products that are innovative, competitive, and have high product differentiation.The design method begins with Problem Analysis, Problem Solving Strategies, Data Collection, Trials and Initial Design Ideas. Then proceed with the Colin Clipson Design Process in Nanang Rizali which goes through the stages of Problem Identification, Production Planning Analysis, Creative Process, Production Process and Marketing Distribution.The results of this textile design are as follows: 1) This design results in a renewal of the motif design featuring the visual folklore of Nyai Ageng Banoewat and the natural potential of the Bakaran area in the form of 8 new, more creative motif designs. 2) This design is applied as women's fashion in the form of blouses for women aged 20-25 years.Keywords: Batik Bakaran, Women Fashion, Nyai Ageng banoewati.
DESAIN MEJA KONSOL (CONSOLE TABLE) DENGAN EKSPLORASI BENTUK ANTURIUM DAUN GELOMBANG CINTA Abas Maisul Arif
Ornamen Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i1.3698

Abstract

ABSTRAK Berawal dari banyaknya permasalahan desain mebel khususnya di ruang tamu yang monoton dan juga permasalahan barang rumah tangga yang kurang pas pada penempatannya, Berbagai cara dilakukan untuk menambah solusi yang tepat mengisi elemen dekoratif ruang tamu sehingga menambah estetika di dalam ruangan. Hal tersebut mendorong penulis untuk menciptakan desain meja konsol yang bertujuan untuk memecahkan solusi menyimpan barang kebutuhan rumah tangga khususnya di dalam ruangan. Selain itu nilai estetika di dalam ruangan tampak elegan dan tidak membosankan. Desain meja konsol ini bertemakan tanaman hias anturium daun gelombang cinta. Bahan utama pada purwarupa karya ini adalah kayu trembesi dan kaca serta pendukungan teknik pengerjaan pertukangan (kerja bangku), dan teknik pemahatan (ukir). Penulis memilih finishing bakar erosi dan finishing cat duco. Penciptaan tugas akhir ini menggunakan pendekatan estetik Kajian Teori Dharsono dalam Hukum penyusunan (asas desain) yang menjelaskan 4 penyusunan meliputi: a) Kesatuan (unity),  b) Keseimbangan (balance), c) Formal balance (keseimbangan formal), d) Informal balance (keseimbangan infomal). Metode penciptaan dalam tugas akhir ini menggunakan pendapat Dharsono 4 tahap meliputi: Seniman/desainer, Subject matter, Karya seni (desain), Objek. Hasil karya tugas akhir ini meliputi: purwarupa 1 dengan judul “Kaendahan” dan purwarupa 2 dengan judul “Adem Ayem”. Kata Kunci: Anturium, Gelombang Cinta, Meja Konsol (console table) ABSTRACT Starting from the many problem in furniture design especially in the monotonous living room and also the problem of household items that do not fit properly in their placement, various ways are done to add the right solution to fill the dekorative elements of the living room so as to add to the aesthetics insideroom. This encourages the aut hor to create a console table design that aims to solve solutions for storing household items, especially in the room. Besides the aesthetic value in the room looks elegan and not boring. This console table design is themed ornamental plant anturium leaves wave of love. The main materials for this prototype are tamarind wood and glass, as well as supporting techniques for carpentry work (bench work), and carving techniques (carving). The aut hor chooses erosion burn finishing and Duco paint finishing. The creation of this final projectuses an aesthetic approach Dharsono’s Theory Study in the law of preparation (design principles) which explains 4 arrangements include: a) Unity, b) Balance, c) Formal balance, d) Informal balance. The method of creation in this final project uses Dharsono’s opini in 4 stages including: Artist/designer, Subject matter, Artwork (design), Object. The results of this final project include: prototype 1 with the title “ Kaendahan” and prototype 2 with the title “Adem Ayem”. Keywords: Anturium, Love Wave, Consol Table