cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
ornamen@isi-ska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ornamen Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Kriya
ISSN : 16937724     EISSN : 2685614X     DOI : 10.33153
Core Subject : Humanities, Art,
Art craft journal contains scientific articles on the results of research on the art of craft and the creation of craft art within the scope of Indonesian culture. The substance presented is in the form of a mission to preserve the cultural values of the archipelago as well as the development of concepts and aesthetics, along with the development of the complexity and dynamics of people's lives. The critical approach method in an interdisciplinary scientific perspective can open the widest possible opportunity for scholars, researchers, and stakeholders to work together in advancing a dignified national culture in the midst of global competition. ORNAMENTS art craft journals are published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
KOMBINASI TEKNIK IKAT CELUP DAN TRAPUNTO UNTUK PARTISI Rohmah Purwanti
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3257

Abstract

ABSTRAKKurangnya inovasi dan pengembangan desain dan produk dari teknik ikat celup mengakibatkan menurunnya minat dan daya jual terhadap produk ikat celup dipasaran. Desain dengan bentuk biasa serta produk ikat celup yang hanya dijadikan produk fesyen  tanpa inovasi dan pengembangan menciptakan kesan monoton bagi konsumen. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para desainer (pengrajin) untuk menciptakan produk yang berbeda dan memiliki karakter tersendiri untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Penulis mencoba mengembangkan teknik ikat celup dengan kombinasi trapunto dengan tema Alur Kehidupan  pada Tugas Akhir ini. Trapunto berasal dari bahasa Italia yang artinya menjahit kain perca. Trapunto merupakan salah satu keterampilan seni menjahit, dimana beberapa bagian desainnya dihiasi dengan gambar yang berisi gumpalan kapas, wol atau benang, sehingga akan membentuk gambar yang timbul pada permukaan kain. Perancangan  yang dilakukan menghasilkan delapan desain unik dan menarik, dengan teknik tritik, jumput dan smockdengan kombinasi trapunto yang diaplikasikan untuk produk interior yaitu partisi. Diharapkan dengan dilakukannya Pengembangan Teknik Ikat Celup dan Trapunto untuk Partisi dapat menambah variasi pada produk ikat celup.Kata Kunci : Ikat Celup, Trapunto, PartisiABSTRACTThe lack of innovation as well as the lack of development in designs and products of tie-dye techniques has led to a decrease in interest and marketability for tie-dye products in the market. Designs with common forms along with the tie-dye products that are only used as fashion products without innovation and development create a monotonous impression for consumers. This is a challenge for designers (craftsmen) to create different products and have their own character to meet the needs of the consumers. The author tries to develop a tie-dye technique with a combination of trapunto with the theme of Life Flow in this Final Project. The term Trapunto comes from Italian word which means to sew patchwork. Trapunto is one of the sewing art skills, where some parts of the design are decorated with images that contain lumps of cotton, wool or yarn, so that they will form images that arise on the surface of the fabric. The design that was carried out resulted in eight unique and attractive designs, with the technique of tritik, jumput and smock with a combination of trapunto which was applied to interior products namely partitions. It is expected that the Development of the Tie-Dye and Trapunto Technique for Partitions can add variety to the tie-dye products. Keywords : Tie-Dye, Trapunto, Partitions
Parang Rusak Sebagai Sumber Ide Pengembangan Ragam Hias Pada Tas Kulit Casual Wanita Renanda Hima Intan Ekasari Hima Intan Ekasari
Ornamen Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i2.3708

Abstract

ABSTRAK Parang rusak merupakan ragam hias yang biasanya diterapkan di kain. Selain diterapkan di kain, ragam hias parang rusak juga diaplikasikan di tas sebagai motif penghias. Dalam pembuatan Tugas Akhir Karya ini, ragam hias parang rusak diaplikasikan pada tas casual wanita berbahan dasar kulit samak nabati. Teknik penerapan motifnya menggunakan teknik tatah timbul dan teknik phyrografi. Ragam hias yang diaplikasikan merupakan sebuah desain pengembangan sebagai objek estetik pada tas casual wanita. Tas casual wanita dibuat agar bisa dikenakan wanita yang akan bepergian, ke kantor dan sebagai pelengkap busana. Bahan dasar pembuatan tas menggunakan kulit samak nabati dari binatang lembu yang belum melalui proses pewarnaan. Agar maksimal dan rapi, pembuatan karya tas menggunakan teknik jahit.Pemilihan ragam hias parang rusak yang diaplikasikan pada tas berbahan dasar kulit agar dapat dikenal. Hasil penciptaan karya sejumlah empat buah karya menggunakan metode tiga tahapan dan enam langkah yang dirumuskan oleh SP Gustami dalam bukunya “Butir-butih Mutiara Estetika Timur”. Penciptaan karya menggunakan pendekatan estetis dan fungsional. Pendekatan estetis dimaksudkan untuk keindahan karya. Pendekatan fungsional dimaksudkan untuk kegunaan karya.Kata Kunci: Parang Rusak, Tas Casual Wanita, Kulit Samak Nabati             ABSTRACT A broken machete was the variety of ornamentation normally applied to the fabric. Besides being applied to the fabric, the design variety of the broken machete was applied to the bag as a decorative motive. In the completion of this research, broken machete trimming was applied to the casual bag of female leather of vegetal. His motives application techniques involve arising techniques and pyrography techniques. Apply ornamentation design was an aesthetic object on the female handbag. Women's casual bags are kept handy in order to keep women on trips, offices, and fashion accessories. The basic building material used the soft husk of oxen that had not been through the dying process. For a maximum and neat finish, the making of the handbag is used a sewing technique.A faulty machete designs applied to a leather based bags for recognition. The results of four works of creation use the three stages and six step formulated by SP Gustami in his book "The Grains Of Eastern Aesthetic Pearls. Creative works employ aesthetic and functional approaches. The aesthetic approach is intended for the beauty of the work. A functional approach was intended for working purposesKeywords: Broken Machete, Bag Of Casua/Woman, Leather Of Vegetal 
BURUNG MERAK HIJAU SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK PADA BUSANA KERJA WANITA Tiyas Suherini
Ornamen Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i1.3659

Abstract

ABSTRAKBurung Merak Hijau sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik pada Busana Kerja Wanita merupakan tema yang diangkat untuk pembuatan Karya Tugas Akhir. Burung Merak Hijau merupakan salah satu burung terindah di dunia yang juga hidup di Indonesia. Sayangnya burung ini terancam kepunahan dikarenakan banyaknya perburuan liar dan kerusakan habitat. Tujuan dari Tugas Akhir Kekaryaan ini adalah menciptakan karya motif batik yang kreatif dan inovatif dengan sumber ide Burung Merak Hijau untuk busana kerja wanita. Alasan pengambilan tema tersebut dikarenakan rasa empati penulis untuk mengapresiasi dan melestarikan Burung Merak Hijau yang hampir punah dengan cara mewujudkannya ke dalam beberapa karya baru, dengan menggunakan teknik batik tulis dan jahit untuk pembuatan busana kerja wanita. Metode penciptaan seni yang digunakan berupa eksplorasi data, desain dan perwujudan karya. Ide/gagasan sudah terpenuhi dengan terciptanya karya tugas akhir disini berjumlah lima busana kerja wanita yang memiliki judul Sarwamanggala, Lalita, Maharddhika, Bheda, dan  Adhyasta. Motif Burung Merak Hijau dibuat dengan teknik stilasi dengan sedemikian rupa, sehingga berbeda dengan karya dengan tema Burung Merak yang sudah ada. Kata Kunci: Burung Merak Hijau, Batik Tulis, Busana Kerja Wanita. ABSTRACTGreen Peacocks as a Source of Ideas for Creating Batik Motifs in Women's Work Clothes is the theme raised for the making of the Final Project. The Green Peacock is one of the most beautiful birds in the world that also lives in Indonesia. Unfortunately this bird is threatened with extinction due to the large amount of poaching and habitat destruction. The aim of this Final Project is to create creative and innovative batik motifs with Green Peacock ideas for women's work clothes. The reason for taking the theme is due to the author's empathy to appreciate and preserve the endangered Green Peacock by realizing it into several new works, using batik and sewing techniques for the manufacture of women's work clothes. Art creation methods used in the form of data exploration, design and embodiment of the work. The ideas have been fulfilled with the creation of the final assignment work here, there are five women's work clothes with titles Sarwamanggala, Lalita, Maharddhika, Bheda, and Adhyasta . The motif of the Green Peacock is made with a stilation technique in such a way that it differs from works with existing Peacock themes.Keywords: Green Peacocks, Batik, Women's Work Clothing
KAJIAN BENTUK DAN MAKNA MOTIF BATIK KLITIKAN SINTOK DALAM BATIK CYNTOK Adzrool Idzwan Ismail
Ornamen Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i2.3699

Abstract

AbstrakBatik Cyntok adalah  salah satu ikon baru  dari Negri Kedah, Malaysia .yang telah memiliki hak paten, dan  memiliki sembilan motif,salah  satu  dari Sembilan motif tersebut  adalah motif batik Klitikan Cyintok.Motif batikKlitikan Cyintok. mempunyai ke”khas”an yang terletak pada motifnya  karena hasil  dari  unsur tumbuhan yang hidup dari lingkungan Bandar Sintok, Negri Kedah, yaitu pohon sintok,  yang digayakan   sedemikian rupa menjadi setruktur bentuk  motif batik Klitikan Cyintok.Didasarkan pada  keinginan untuk mempopulerkan  motif batik Klitikan Cyintokyang menjadi salah satu motif dalam Batik sintok  maka penulisan ini dilakukan dengan rumusan masalah : Bagaimana perwujutan motif batikKlitikan Cyintok?, dan Bagaimana makna motif batikKlitikan Cyintok?.Tujuan dalam penelitian ini adalahUntuk mengetahui dan mendiskripsikan perwujudan  motif  batik Klitikan Cyintok. Dan untuk mengetahui dan  mendeskripsikan makna motif batik Klitikan Cyintok. Penelitian Menggunakan metode kualitatif  yang diuraikan secara deskriptif, pengumpulan data dilakukan, dengan obserfasi, wawancara, dokumentasi yang diperoleh saat penelitian, serta dengan literature yang relefan dan menggunakan teori Rolan bartes untuk membedah makna dari motif Klitikan CyintokKata Kunci:batik,  motif Klitikan Cyintok,bentuk , makna.AbstractBatik Cyntok is one of the new icons from the State of Kedah, Malaysia. It already has a patent right, and has nine motifs, one of which is the Klitikan Cyintok batik motif. Klitikan Cyintok batik motif has a "distinctive" characteristic that lies in its motive because it is the result of plant elements living from the neighborhood of Bandar Sintok, Negri Kedah, namely the Sintok tree, which is styled in such a way as to form the structure of the Klitikan Cyintok batik motif. Based on the desire to popularize the Klitikan Cyintok batik motif which is one of the motifs in the Sintok Batik, this writing is done with the formulation of the problem: How is the Klitikan Cyintok batik motif made up ? and What is the meaning of the Klitikan Cyintok batik motif?. The purpose of this research is to determine and describe the embodiment of the Klitikan Cyintok batik motif, to find out and describe the meaning of the Klitikan Cyintok batik motif. Research Using qualitative methods described descriptively. Data collection was carried out with observation, interviews, documentation obtained during the study, as well as with relevant literature and using Rolan Bartes' theory to dissect the meaning of Klitikan Cyintok's motives.Keywords: batik, Klitikan Cyintok motif, shape, meaning.
PENCIPTAAN KUJANG WAYANG PANDAWA Dika Ekwan Widayat
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3260

Abstract

AbstrakWayang merupakan hasil karya seni dan kebudayaan yang paling tinggi nilainya. Salah satu jenis yang populer bagi di masyarakat Jawa adalah wayang purwa ( wayang kulit). Mereka beranggapan bahwa kisah wayang berisi pedoman dan ajaran kehidupan yang patut dijadikan pedoman hidup. Dalam cerita wayang ada beberapa tokoh yang cukup terkenal salah-satunya adalah tokoh pandhawa. Pandhawa merupakan penggambaran kebaikan dalam berkehidupan, karena sifat yang dimilikinya. Oleh karena maka penulis tertarik terhadap tokoh pandhawa terutama bentuk wajahnya untuk dijadikan sebagai sumber ide dasar penciptaan kujang. Kujang merupakan puncak seni tempa logam yang kelahirannya dari sarana peralatan mahuma (petani/peladang) dalam menginterprestasikan rasa syukur mereka atas rezeki yang berlimpah dan pramarta (rasa welas asih serta pengasih) yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Kujang memiliki berbagai macam bentuk dan karakter, yang memilki konsep dasar dari alam flora maupun fauna. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk menghasilkan karya kujang yang memiliki karakter bentuk yang berbeda dari bentuk kujang yang sudah ada. Metode penciptaan yang diterapkan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, perwujudan. analisis pada penciptakan ini menggunakan pendekatan estetika yang mengacu pada konsep tosan aji yang digagas Panembahan hadiwijaya, yaitu Greget, Guwoyo dan Wangun. Hasil dari penciptaan ini berjumlah lima yakni kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula dan Kujang Sadewa. Kata Kunci: Wayang, pandawa, kujang. Abstract Puppet is a work of art and culture of the highest value. One type that is popular in Javanese society is Puppet purwa (Puppet kulit). They think that the Puppet story contains guidelines and teachings of life that should be used as a guide for life. In the Puppet story, there are several characters who are quite famous, one of which is the pandhawa character. Pandhawa is a depiction of goodness in life, because of its characteristics. Therefore, the author is interested in the Pandhawa character, especially the shape of his face to serve as a source of basic ideas for the creation of a cleaver. Kujang is the pinnacle of the art of metal forging which was born from the means of mahuma (farmers /cultivators) tools in interpreting their gratitude for the abundant sustenance and pramarta (compassion and compassion) given by God Almighty. Cleaver has various forms and characters, which have the basic concept of flora and fauna. The purpose of this creation is to produce a cleaver that has a different character from the existing cleaver. The creation method applied includes the exploration, design, and embodiment stages. The analysis on this creator uses an aesthetic approach which refers to the concept of tosan aji which was initiated by Panembahan Hadiwijaya, namely Greget, Guwoyo and Wangun. The results of this creation amounted to five, namely the Kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula and Kujang Sadewa.  Keywords: Puppet, pandawa, kujang.
MONUMEN NASIONAL SEBAGAI IDE PENCIPTAAN DHAPUR TOMBAK Muhammad Fandra
Ornamen Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i2.3700

Abstract

ABSTRAK Monumen Nasional ( Monas ) adalah icon kota Jakarta, selain merupakan sebuah mahakarya dan kebanggaan Nasional bagi Republik Indonesia, juga menjadi simbol lahirnya Proklamasi Republik Indonesia. Sehingga Monumen Nasional ini menarik untuk diangkat sebagai ide penciptaan karya tugas akhir yang divisualkan menjadi karya dhapur tombak. Tujuan penciptaan karya Tugas Akhir ini untuk menciptakan karya seni tombak dengan dhapur baru, sehingga dengan konsep tersebut diharapkan jika orang-orang yang menggunakan dan memegang tombak hasil karyacipta penulis dapat teringat dengan Monas, menjunjung nilai-nilai sejarah Proklamasi Kemerdekaan NKRI, untuk peringatan perjuangan bangsa Indonesia sepanjang zaman,  dan sebagai bangsa Indonesia menjadi sadar betapa besar jasa pejuang kemerdekaan RI, dan betapa tingginya makna kemerdekaan 17-8-1945 itu.Landasan tiga komponen dalam proses menciptakan karya tombak ini terbagi menjadi tiga yaitu, tema, bentuk, dan isi. Batasan idenya adalah obyek Monas, material berupa besi, nikel, kayu, teknik pengerjaan, bentuk tombak, dan hasil karya artistik.  Konsep estetika untuk Tugas Akhir Karya ini mengacu kreteria lahiriah atau wujud tombak meliputi aspek wutuh, wesi, garap, waja, wangun. Metode Penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan teori yang terdiri-dari tiga tahap enam langkah, eksplorasi dengan langkah studi pustaka dan studi lapangan, perencanaan dengan menggambar sketsa dan desain tombak terpilih, dan perwujudan yaitu persiapan bahan, peralatan dan teknik pengerjaan tombak.  Adapun untuk menganalisis hasil karya dengan menggunakan konsep pemikiran yakni kreteria lahiriah yang mengutamakan pada aspek material dan garap.Teknik perwujudan tombak ini meliputi: pemindahan pola tombak, penempaan besi, menyatukan nikel, tinatah/pengukiran, menggerenda, mengikir, penghalusan  dan pembuatan rericikan tombak. Pembuatan dua tombak ini dilengkapi dengan warangka dan landeyan dari bahan kayu Akasia.  Tugas Akhir Karya ini menghasilkan 21 sketsa bentuk tombak yang mengacu dan mengembangkan bentuk Monas, dua desain tombak dan gambar kerjanya. Adapun hasil karyanya dapat dikerjakan dua buah tombak yaitu: Dhapur Tombak Monumen Nasioal,  Dhapur Tombak Lidah Api Monumen Nasional. Kata kunci: Monumen Nasional, dhapur tombak.  ABSTRACT The National Monument (Monas) is an icon of the city of Jakarta, besides being a masterpiece and nation pride for the Republik of Indonesia, also a symbol of the birth of the proclamation of the Republic of Indonesia. Because this national monument is interesting to be appointed as the idea of creating a final project that is visualized into a work of dhapur spears. The purpose of the creation of this final project is to create a spear artwork with a new dhapur, so that with this concept it is hoped that people who use and hold the spear created by the author can be reminded of the National Monument, uphold the historical values of the proclamation of independence of the Republic of Indonesia, to commemorate the struggle of the Indonesia nation throughout the ages, and as an Indonesia to become aware of struggle for Indonesia independence, and how high the meaning of independence from 17-8-1945 is.The basic tree components in the process of creating this spear work are divided into tree types, namely, theme, form, and content. The definition of the idea is Monas objects, material in the form of iron, nickel. Wood, working techniques, shapes, spear shapes, and artistic work. The aesthetic concept for this final project refers to the lahiriah kreteria or the form of a spear covering aspects of wutuh, wesi, garap, waja, wangun. The method of creating this final project work uses a theory consisting of three stages of six steps, exploration with steps of literature study and field studies, material planning, tols and spear working techniques.As for analyzing the work using the concept of thought, namely external criteria that prioritas the material aspecst and the concept of working. These spear embodiment techniques include: spear pattern removal, iron forging, nikel fusing, engraving, grinding, filing, refining and crafting spears. The manufacture of these two spears is equipped with a warangka and landeyan made of acacia wood. The final project of this work produces 21 sketches of spear shapes that refer to and develop the Monas shape, two spear designs and a drawing of the work. As for the results of his work, two spears can be worked on, namely: Dhapur Tombak Monumen Nasioal,  Dhapur Tombak Lidah Api Monumen Nasional. Keywords: Monumen National, dhapur tombak.
Ragam Hias Relief Candi Kalasan Sebagai Sumber Ide Motif Batik Tulis Maharsi Laksita Resmi
Ornamen Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i1.3660

Abstract

ABSTRAKLatar belakang proyek Tugas Akhir ini adalah untuk menciptakan motif batik dengan menerapkan relief Candi Kalasan yang sudah dikembangkan menjadi bentuk motif yang bervariasi dan upaya pelestarian Candi Kalasan terutama relief candi. Serta diharapkan hasil perancangan ini menambah keanekaragaman motif batik Candi Kalasan dan dapat dijadikan sebagai souvenir turis lokal maupun mancanegara.Metode yang dipakai yaitu metode desain dengan melewati 3 tahap yakni metode perancangan, konsep dan visualisasi. Untuk metode perancangan melewati tahap Analisis permasalahan, Strategi pemecahan masalah, Pengumpulan data, Uji coba, dan menentukan Gagasan awal perancangan. Konsep meliputi landasan pemikiran untuk perancangan desain tugas akhir. Visualisasi yakni tahap memvisualkan konsep rencana perancangan yang sudah ditulis dalam proses perancangan.Hasil perancangan tugas akhir ini menghasilkan enam desain batik yang bertemakan relief Candi Kalasan yang meliputi mahkota kala, sulur, sulur gelung, bunga, untaian mutiara dengan penggambaran stilasi dekoratif.Kata Kunci: Batik Tulis, Relief Candi Kalasan.ABSTRACTThe background of this final project is to create batik motifs by applying the reliefs of Kalasan Temple which have been developed into various motifs and efforts to preserve Kalasan Temple, especially the temple reliefs. And it is hoped that the results of this design will increase the diversity of the Kalasan temple batik motifs and can be used as souvenirs for local and foreign tourists.The method used is the design method by passing 3 stages, namely the design method, concept and visualization. For the design method, it passes through the problem analysis stage, problem-solving strategy, data collection, testing, and determining the initial design idea. The concept includes the rationale for designing the final project design. Visualization is the stage of visualizing the design plan concept that has been written in the design process.The results of this final project design produced six batik designs with the theme of the Kalasan temple reliefs which include kala crowns, tendrils, tendrils, flowers, pearl strands with decorative stylization depictions.Keyword: Batik Tulis (Handmade Batik), Relief of Kalasan Temple.
KAKANG KAWAH ADHI ARI-ARI DALAM KARYA BUSANA READY TO WEAR PRIA BATIK TULIS Danang Priyanto
Ornamen Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i2.3702

Abstract

AbstrakArtikel yang berjudul “kakang kawah adhi ari-ari dalam karya busana ready to wear batik tulis” difokuskan pada proses cipta busana ready to wear pria dengan sumber ide konsep kelahiran pada budaya Jawa yakni kakang kawah adhi ari-ari. Ketertarikan pada konsep tersebut yang sudah mulai tidak dikenal di tengah masyarakat menjadi salah satu tujuan untuk memunculkan nilai-nilai sakral dan luhur yang terdapat pada konsep kakang kawah adhi ari-ari. Adapun Tujuan dari penciptaan ini adalah sebagai bentuk representasi nilai pada konsep Jawa kakang kawah adhi ari-ari sekaligus sebagai pengayaan karya batik melalui objek pengangkatan ide bersumber dari nilai yang tertuang dalam konsep kakang kawah adhi ari-ari. Analisis data yang digunakan menggunakan metode studi pustaka dan interpretasi. Langkah-langkah penciptaan meliputi  memanfaatkan metode penciptaan SP Gustami yakni eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Konsep cipta dalam penciptaan karya menggunakan teori cipta Dharsono yakni reinterpretasi, ekspresi simbolik dan abstraksi simbolik.  Karya yang diciptakan berupa tiga buah karya busana ready to wear pria yang terdiri dari busana kemeja panjang, kemeja pendek, dan t-shirt. Adapun karya tersebut adalah “aku” yang memanfaatkan konsep cipta reinterpretasi, “kakangku” yang memanfaatkan konsep cipta ekspresi simbolik dan “adhiku” yang memanfaatkan konsep cipta abstraksi simbolik.Kata kunci: Kakang kawah adhi ari-ari, busana ready to wear pria, batik. Abstract               The article entitled "kakang crater adhi ari-ari in ready-to-wear batik works" is themed on the process of creating ready-to-wear clothing with the source of the idea of the concept of birth in Javanese culture, namely kakang crater adhi ari-ari. Interest in the concept, which is already known in the community, is one of the goals to bring out the sacred and noble values contained in the concept of kakang crater adhi ari-ari. The purpose of this creation is as a form of value representation in the Javanese concepts of kakang adhi ari-ari as well as enrichment of batik works through ideas originating from ideng ideas in the kakang crater adhi ari-ari concept. Analysis of the data used using literature study and interpretation methods. The initial steps to utilize the method of making SP Gustami are exploration, design, and embodiment. The concept of copyright in the work uses Dharsono's theory of copyright, namely reinterpretation, symbolic expression and symbolic abstraction. The works made in the form of three pieces of ready-to-wear men's clothing consisting of long clothes, short shirts, and t-shirts. The works are "I" which utilizes the concept of copyright reinterpretation, "kakangku" which utilizes the concept of copyrighted symbolic expression and "Adhiku" which utilizes the concept of copyrighted symbolic abstraction.Keywords: Kakang kawah adhi ari-ari, ready to wear men's clothing, batik.
BATIK TULIS KHAS SRAGEN DENGAN SUMBER IDE MOTIF GAJAH PURBA Duwi Wahyu Hidayat
Ornamen Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v17i2.3664

Abstract

ABSTRAK Duwi Wahyu Hidayat. C0913017. 2019. Batik Tulis khas  Sragen dengan Sumber Ide Gajah Purba. Tugas Akhir : Program Studi Kriya Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret Surakarta.Proyek penciptaan desain motif ini dilatarbelakangi oleh peluang untuk membuat produk baru yang berfokus pada pengolahan visual (motif). Ide visual yang ditawarkan adalah potensi museum purbakala  Kabupaten Sragen yaitu gajah purba yang memiliki keunikan dan karakternya sendiri.Tujuan pengembangan desain ini adalah mengembangkan desain Batik Sragen yang berfokus pada pengolahan visual (motif) gajah pruba.Metode yang dipakai dalam pengembangan desain batik ini adalah metode desain berbasis riset. Metode desain yang dipakai melewati tiga proses pokok yakni metode perancangan, konsep perancangan, dan visualisasi. Untuk metode perancangan melewati tahap analisis permasalahan yang ada di Kabupaten Sragen, strategi pemecahan masalah, pengumpulan data tentang kekhasan daerah Sragen, uji coba teknik dan visual, dan bagan alur perancangan. Konsep perancangan meliputi landasan pemikiran untuk perancangan desain. Visualisasi yakni tahap memvisualkan 8 desain sesuai dengan konsep rencana perancangan yang sudah ditulis dalam proses perancangan.Hasil dari perancangan desain sebagai berikut: (1) unsur-unsur visual dari hasil gajah purba yang diolah dengan penggayaan stilasi dan dekoratif yang sederhana dengan mempertimbangkan unsur estetis agar tetap mempertahankan karakter gajah purba. (2) Pembuatan batik tulis dengan motif hasil gajah purba ini diaplikasian kedalam kain batik. Kata Kunci : Pengembangan, Batik Sragen, gajah purba museum purbakala Sragen ABSTRACT               Duwi Wahyu Hidayat. C0913017. 2019. Typical Batik Sragen with Ancient Elephant Ideas Source. Final Project: Textile Craft Study Program, Faculty of Arts and Design, Sebelas Maret University, Surakarta.              The motive design project is motivated by the opportunity to create new products that focus on visual processing (motifs). The visual idea offered is the potential of an ancient museum in Sragen Regency in the form of an ancient elephant which has its own uniqueness and character.              The purpose of developing this design is to develop a Sragen Batik design which focuses on the visual processing (motif) of pruba elephants.              The method used in the development of this batik design is a research-based design method. The design method used goes through three main processes, namely the design method, design concept, and visualization. The design method is through problem analysis in Sragen Regency, problem solving strategies, data collection about the uniqueness of the Sragen area, technical and visual trials, and design flow diagrams. The design concept includes the rationale for design design. Visualization is the stage of visualizing 8 designs according to the design plan concept that has been written in the design process.              The results of the design are as follows: (1) Visual elements of ancient elephants were processed in a stylized style and simple decorations by paying attention to aesthetic elements in order to maintain the character of ancient elephants. (2) Making written batik with an ancient elephant motif is applied to the batik cloth. Keywords: Development, Batik Sragen, the ancient elephant of the ancient museum of Sragen
WAYANG PURWA SEBAGAI OBJEK LUKIS KACA KARYA RETNO LAWIYANI : Sebuah Kajian Visual Ornamentik Irawati, Desi; Prabowo, Rahayu Adi
Ornamen Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/ornamen.v18i2.3705

Abstract

Wayang merupakan karya adiluhung Bangsa Indonesia yang dapat dikembangkan dari berbagai sisi, salah satunya adalah wujud visual wayang yang diterapkan pada karya lukis kaca. Retno Lawiyani adalah seniman lukis kaca yang menggunakan wayang purwa sebagai ide gagasan dalam setiap karya lukis kacanya. Ide gagasan tersebut sangat menarik untuk diteliti, terkhusus dari sisi estetikanya. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan 1) latar belakang kekaryaan Retno Lawiyani, 2) proses kreatif Retno Lawiyani pada karya lukis kaca, 3) wujud visual lukis kaca Retno Lawiyani. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menghasilkan data diskriptif analisis, dengan alur pengumpulan data, reduksi data, analisis data, dan simpulan. Objek penelitian adalah 5 karya lukis kaca Retno Lawiyani yang dipilih menggunakan tekhnik purposive sampling. Jenis pendekatan yang digunakan adalah pendekatan biografi, pendekatan kreativitas, dan pendekatan estetika menurut teori A.A.M Djelantik. Menurut A.A.M Djelantik, terdapat 3 unsur estetika yaitu wujud/rupa, bobot/isi, dan penampilan, ketiga unsur tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis karya lukis kaca Retno Lawiyani. Kata kunci : lukis kaca, wujud visual, ornamentik.     ABSTRACT Wayang is a valuable work of the Indonesian people that can be developed from various sides, one of which is a visual form of wayang which is applied to glass painting. Retno Lawiyani is a glass painting artist who uses wayang purwa as an idea in each of her glass painting works. The ideas are very interesting to study, especially in terms of aesthetics. This study aims to describe 1) the   background of Retno Lawiyani's work, 2) Retno Lawiyani's creative process in glass painting, 3) the visual form of Retno Lawiyani's glass painting. This study uses qualitative research methods that produce descriptive analysis data, with data collection flow, data reduction, data analysis, and conclusions. The research objects were 5 Retno Lawiyani's glass paintings which were selected use of technique purposive sampling. The type of approach used is the biography approach, creativity approach, and aesthetic approach according to A.A.M Djelantik's theory. According to A.A.M Djelantik, there are 3 aesthetic elements, namely appearance, weight / content, and appearance, these three elements are then used to analyze Retno Lawiyani's glass painting. Keywords : painted glass , a form of visual, ornamental.