cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 18 No 3 (2018): October 2018" : 9 Documents clear
Reproductive biology of kawakawa, Euthynnus affinis (Cantor, 1849) in Eastern Indian Ocean Rani Ekawaty; Irwan Jatmiko
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.313

Abstract

Kawakawa (Euthynnus affinis) is one of the economically important fish species for fishermen in Denpasar, Bali. The objective of this study was to analyze the reproductive biology of kawakawa such as the gonadal maturity level (GML), gonad maturity index (GMI) and the length proportion of the mature gonads 50% (L50) and 95% (L95) of kawakawa in the Eastern Indian Ocean. Fish samples were collected from the fishermen catch landed at Kedonganan Fishing Port (PPI), Bali from May to September 2016. The total of fish samples collected were 168 individual. Each individual species was measured their fork length (FL), individual weight, gonad weight and determination of gonadal maturity level. The data obtained were analyzed to determine GML, GMI and proportions of gonads mature. The results showed that the fork length ranged from 26-55 cm with an average of 38 cm and dominated by a 28 cm. The maturity level of fish gonads was dominated by GML III (38%), followed by GML II (26%), GML I (22%) and GML IV (14%), respectively. The average gonad maturity index was 0.558 with a range of 0.009-5.075. The length of gonad matured in proportion 50% and 95% was 48.4 cm and 55.7 cm, respectively. It is suggested to regulating in fishing capture of kawakawa so that 50% of the fish caught have spawned. Abstrak Tongkol komo (Euthynnus affinis) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting bagi nelayan di Denpasar, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biologi reproduksi ikan tongkol komo seperti tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG) dan panjang proporsi matang gonad 50% (L50) dan 95% (L95) tongkol komo di Samudra Hindia Bagian Timur. Contoh ikan dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan, Bali dari bulan Mei hingga September 2016. Jumlah contoh ikan yang dikumpulkan sebanyak 168 ekor, masing-masing diukur panjang cagak, bobot individu, bobot gonad dan penetapan TKG. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan TKG, IKG dan proporsi matang gonad. Hasil penelitian diperoleh panjang cagak berkisar antara 26-55 cm dengan rata-rata 38 cm dan didominasi kelas panjang 28 cm. Tingkat kematangan gonad ikan didominasi oleh TKG III (38%), kemudian diikuti oleh TKG II (26%), TKG I (22%) dan TKG IV (14%). Rata-rata indeks kematangan gonad sebesar 0,558 dengan kisaran 0,009-5,075. Proporsi Panjang matang gonad 50% dan 95% berturut-turut adalah 48,4 cm dan 55,7 cm. Perlu dilakukan pengaturan penangkapan sehingga 50% ikan yang tertangkap sudah pernah memijah.
Diversity of Demersal Fish Resources in Ambon Island Waters Friesland Tuapetel; Delly DP Matrutty; Welem Waileruny
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.315

Abstract

The waters surrounding Ambon Island is a potential fishing gound for demersal fish resources, yet information regarding species diversity is still slightly understood. This research aimed to analyze the diversity of species and size of demersal fish around Ambon Island oceans. Data was collected based on experimental fishing using fish trap at two locations, in northern and southern waters of Ambon Island. The data were collected by experimental capture using fishing gear at two locations, namely northern waters (March-April 2015) and south of Ambon Island (July-October 2016). Methods of demersal resource diversity analysis are several ecological indexes i.e. Shannon-Wiener diversity index, Pielou uniformity index, and Simpson's dominance index. The result showed that 21 family and 57 species with details of 35 species in the northern waters and 32 species in the southern water. Species diversity based on Shannon-Wiener Index (H´) ranged between 1,61-3,10 while species evenness index (E) was around 0,83-0,95. The abundance of demersal fish was not dominated by any fish species, showed by the average Simpson index of dominant (D) around 0,05-0,26. Abstrak Perairan Pulau Ambon termasuk daerah penangkapan sumber daya ikan demersal yang potensial, namun informasi ke-anekaragamannya masih sangat sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekayaan jenis dan keanekara-gaman ikan demersal di perairan Pulau Ambon. Pengambilan data dilakukan dengan cara penangkapan eksperimental dengan menggunakan alat tangkap bubu pada dua lokasi yakni perairan utara (Maret-April 2015) dan perairan selatan Pulau Ambon (Juli-Oktober 2016). Metode analisis keanekaragaman sumber daya ikan demersal menggunakan bebe-rapa indeks ekologi yakni indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks keseragaman Pielou, dan indeks dominansi Simpson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan Pulau Ambon teridentifikasi 21 famili dan 57 spesies de-ngan rincian 35 spesies di perairan utara dan 32 spesies di perairan selatan. Status keanekaragaman jenis indeks Shannon-Wiener (H´) berkisar 1,61-3,10 sedangkan indeks keseragaman jenis (E) sebesar 0,83-0,95. Kelimpahan ikan demersal tidak ada yang dominan, ditunjukkan oleh indeks dominan Simpson (D) sebesar 0,05-0,26.
Acute toxicity test of carbamate insecticide on common carp, Cyprinus carpio Linnaeus, 1758 Cathrine Ferlianova Leuwol; Djamar Tumpal Floranthus Lumban Batu; Ridwan Affandi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.340

Abstract

Carbamate is a highly toxic pollutant for animal, even though this insecticide is biodegradable in nature and in the food chain. The purpose of this research was to find the LC50-96 of carbamate insecticide (Marshall 200 EC) on test organism. The test organism used common carps (Cyprinus carpio L.) with 6-8 cm of length and 5,5-9 g of weight. This study used an experimental method by divided into two steps i.e. preliminary test and acute toxicity (LC50-96) tests. Preliminary test was done without repetition and twice repetition for acute toxicity. Acute toxicity test data were analyzed by probit analysis. The result showed that LC50-96of carbamate insecticide (Marshal 200 EC) on Cyprinus carpio L. was 1,68 mgL-1. Abstrak Pestisida golongan karbamat merupakan sumber pencemar yang sangat toksik bagi hewan, meskipun insektisida go-longan karbamat ini mudah terurai di alam baik pada media air maupun pada organisme dalam rantai makanan. Tujuan penelitian ini ialah mengukur nilai LC50-96 insektisida karbamat (Marshal 200 EC) terhadap hewan uji. Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah ikan mas (Cyprinus carpio L.) dengan panjang 6-8 cm dan bobot 5,5-9 g. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah metode eksperimental dengan dua tahapan penelitian, yaitu uji pendahuluan dan uji toksisitas akut (LC50-96). Uji pendahuluan dilakukan tanpa ulangan dan uji toksisitas akut dilakukan ulangan sebanyak dua kali. Data uji toksisitas akut dianalisis dengan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50-96 insektisida karbamat (Marshal 200 EC) terhadap ikan mas adalah 1,68 mgL-1.
Genetic analisys of cytochrome oxidase sub unit 1 gene fragment from Cirrhilabrus cf. ryukyuensis (Labridae) from Cenderawasih Bay and Raja Ampat Muhammad Dailami; Darma Santi; . Murtihapsari; Hermawaty Abubakar; Abdul Hamid A. Toha
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.347

Abstract

Cirrhilabrus cf. ryukyuensis from Cenderawasih Bay and Raja Ampat have different colormorphs with Cirrhilabrus ryukyuensis. This study was conducted to determine the phylogenetic relationship, evolution and genetic diversity of Cirrhilabrus cf. ryukyuensis based on Cytochrome oxidase sub unit 1 (COI) gene. Mitochondrial DNA extracted by using chelex 10%. FISH-BCH and BCL primers were used to amplify COI gene fragment and sequencing. Data analysis conducted by using software Sequencher 4.1 and MEGA 5. COI genes from six samples of C. cf rykyuensis from Cenderawasih Bay and Raja Ampat have total 613 base pairs. The average compositions of nucleotides are T 32.8%, C 26.3%, A 23.2% and G 17.7%. There is six positions of polymorphism that caused by transition. Conversion of nucleotides to amino acid sequence resulted in 204 amino acid with the same sequence. The phylogenetic tree from six sample showed that all in one clade, but different clade from Cirrhilabrus cyanopleura from GenBank Abstrak Cirrhilabrus cf. ryukyuensis asal Teluk Cenderawasih dan Raja Ampat secara morfologi memiliki perbedaan warna dengan Cirrhilabrus ryukyuensis. Penelitian ini bertujuan menentukan hubungan filogenetik, evolusi, dan keragaman genetik Cirrhilabrus cf. ryukyuensis berdasarkan gen Sitokrom Oksidase sub Unit I (COI). Genom DNA mitokondria diekstrak menggunakan larutan chelex 10%. Primer FISH-BCH dan BCL digunakan untuk mengamplifikasi fragmen Gen COI dan sekuensing. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Sequencher 4.1 dan MEGA 5. Gen COI dari enam sampel C. cf. rykyuensis asal Teluk Cenderawasih dan Raja Ampat, memiliki panjang basa men-capai 613 bp. Komposisi rata-rata nukleotida T 32,8%, C 26,3%, A 23,2% dan G 17,7%. Terdapat enam posisi poli-morfisme yang kesemuanya disebabkan oleh mutasi transition. Hasil penerjemahan nukleotida, diperoleh asam amino dengan panjang 204 asam amino dengan urutan yang sama. Pohon filogenetik menunjukkan keenam sampel berada dalam satu clade yang sama dan berbeda dari clade Cirrhilabrus cyanopleura data Gene Bank.
Ichthyofauna in Keliling and Pangelang Protected Lakes in Kapuas Hulu Regency Sri Endah Purnamaningtyas
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.348

Abstract

Ichthyological diversity of the Pangelang and Keliling protected lakes are scarce. The study aimed to analyze the diver-sity of fish species in both lacustrine ecosystems. Sample collection was made by stratification sampling method in the core, buffer and free zones of lakes. All samples obtained by using fishing gears such as traps, gill nets and seine nets. The study successfully collected and identified 30 species (11 families) from the Lake Keliling and 21 species (9 fami-lies) from the Lake Pangelang. The most dominant species found in the Lake Keliling was Pseudeutropius brachypo-pterus (52.08%), and followed by Helostoma temminkii (29.53%). The dominance of species in Lake Pangelang was Thynnichthys polylepis (44.55%), and followed by Helostoma temminckii (15.17%). Abstrak Data iktiofauna ikan Danau Lindung Pangelang dan Keliling masih sangat minim. Penelitian ini bertujuan untuk meng-analisis keanekaragaman jenis ikan di kedua ekosistem lakustrin tersebut. Koleksi sampel dilakukan dengan stratifikasi sampling, di zona inti, zona penyangga, dan zona bebas. Sampel didapatkan dengan menggunakan alat tangkap seperti bubu dan jaring insang dan jala. Penelitian berhasil mengoleksi dan mengidentifikasi 30 spesies (11 famili) ikan dari Danau Lindung Keliling dan 21 spesies (9 famili) dari Danau Lindung Pangelang. Spesies yang paling dominan dite-mukan di Danau Lindung Keliling adalah Pseudeutropius brachypopterus (52,08%), disusul Helostoma temminkii (29,53%), sedangkan dominansi spesies di Danau Lindung Pangelang adalah Thynnichthys polylepis (44,55%), disusul Helostoma temminckii (15,17%).
Biodiversity conservation of coastal fish of Indonesia Victor P. H. Nikijuluw
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.382

Abstract

Each species has a special value. No species was created without intention. If one species matters, all species are altogether admirably important. This paper elucidates critical importance of species conservation in the context marine fish biodiversity in Indonesia. This resource endowment has not been truly known and hence improperly utilized. As direct consequences, biodiversity loss and species extinction are unstoppable trend. This condition is attributed to the lack systematic research and serious education programs. Beside the needs of improving research and education at national level, conservation programs should be intentionally adapted by regional government. Of the various available conservation approaches, the adapting of focal species by each regional government may become an effective approach to massively promote fish conservation program at provincial and regency levels. It also may become an input for conservation practices at larger scale. Abstrak Setiap spesies mempunyai nilai khusus. Tidak ada satu spesies pun yang diciptakan tanpa tujuan. Jika satu spesies saja begitu berarti, keberadaan semua spesies sekaligus sangat penting. Makalah ini menekankan begitu pentingnya konser-vasi spesies pada keragaman hayati laut di Indonesia. Sumber daya ini belum diketahui dengan sempurna dan sebab itu menjadi alasan untuk tidak dimanfaatkan dengan baik. Sebagai akibatnya, kehilangan keragaman hayati dan kepunahan spesies adalah kecenderungan yang tidak terhentikan. Hal ini terjadi karena kekurangan penelitian dan program pendi-didikan. Selain kebutuhan untuk meningkatkan penelitian dan pendidikan pada skala nasional, program konservasi harus sengaja diadakan di tingkat daerah. Dari berbagai pendekatan program konservasi, penentuan spesies kunci bisa menjadi pendekatan efektif untuk mempromosikan konservasi spesies ikan secara masif oleh pemerintah daerah provin-si atau kabupaten. Pendekatan ini bisa menjadi pelajaran bagi praktif konservasi pada skala yang lebih luas.
Evaluation of larvae production and growth of juvenile red tilapia NIFI F1 during the nursery phase Adam Robisalmi; Priadi Setyawan; Bambang Gunadi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.420

Abstract

Genetic quality improvement can be done through breeding programs. The indicator of success in the selection is the improvement of the character of production. Larval production and growth of NIFI of F1generation red tilapia seeds in the selection and its control parents were evaluated in this study. The research was conducted at the Fish Breeding Research Center for four months. Spawning was carried out on freshwater ponds of cage with size of 1 x 1 m. Tilapia brood stock were stocked with male to female ratio of 1: 1. The larvae rearing were conducted in the cage with size 2x2x1 m3 and stocking density 125 m-2. Pellets with a protein content of 38-40% are given to ad libitum larvae three times a day for first month, and then feeding rate was given 15-20% daily from biomass. Seed production, growth, specific growth rate, and survival rate were observed. The results of the experiment show a difference between fish selected and control. Seed production of selection reached 540 ± 114 and controls 508 ± 142. The growth performance of selected red tilapia juvenile showed higher compared with the control. The mean length of selected population reached 6.33 ± 0.43 cm , weight gain 6.60 ± 0.52 g, specific growth rate 7.33 ± 0% g days-1 and survival rate 81.50 ± 4.46% were respectively and the control population 5.76 ± 0.52 cm ; 4,90 ± 0.58 g; 4.50 ± 0.35% g days-1; and 74.85 ± 3.26%. These values indicate that the growth of red tilapia juvenile NIFI F1 generation was increased 25.76%. Abstrak Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas genetik yaitu melalui program pemuliaan. Per-baikan karakter reproduksi dan pertumbuhan dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produksi larva dan pertumbuhan benih ikan nila merah NIFI F1 dari induk seleksi dan kontrol. Kegiatan dilaksanakan selama empat bulan di Balai Riset Pemuliaan Ikan. Pemijahan dilakukan di kolam air tawar pada hapa 1 m x1 m. Perbandingan induk ikan nila jantan dan betina 1:1. Larva yang sudah dipanen dimasukkan pada hapa pendederan ukuran 2x2x1 m3 dengan padat tebar 125 ekor m-2 . Selama pendederan , larva diberi pakan (protein 38-42%) secara ad libitum tiga kali sehari pada bulan pertama dan selanjutnya diberi pakan dua kali sehari 15-20% dari biomassa. Pakan yang diberikan selama pendederan mempunyai protein berkisar 38-42%. Parameter yang diamati meliputi produksi larva, pertumbuhan, laju pertumbuhan spesifik, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan produksi larva ikan nila merah seleksi yaitu 540±114 ekor dan kontrol 508±142 ekor. Performa pertumbuhan benih ikan nila merah seleksi menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibanding kontrol dengan nilai pertumbuhan panjang 6,33 ±0,43cm, pertumbuhan bobot 6,60±0,52 g, laju pertumbuhan spesifik 7,33±0% g hari-1 serta sintasan 81,50±4,46%, se-dangkan populasi kontrol masing-masing 5,76±0,52 cm; 4,90±0,58 g; 4,50±0,35% g hari-1; dan 74,85±3,26%. Nilai ini menunjukkan bahwa ada peningkatan pertumbuhan sebesar 25,76% pada benih ikan nila merah NIFI F1.
Morphoregression and length-weight relationship of Bali sardinella, Sardinella lemuru Bleeker 1853 in Bali Strait Waters Nyoman Dati Pertami; M.F. Rahardjo; Ario Damar; I.W. Nurjaya
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.425

Abstract

Bali Sardinella, Sardinella lemuru Bleeker 1853, included in small pelagic groups which have an important economic value. The production of Bali Sardinella was the highest among the other small pelagic fish in Bali Strait waters. The morphoregression and length-weight relationship are important to be known to facilitate the conversion between a length measurement to another type of length measurement and the weight. The aims of this research were to reveal the relationship between total length (TL) and standard length (SL), total length and fork length (FL), fork length and standard length, and the length-weight. The research was held in Bali Strait waters from March 2017 – Mei 2018. The morphoregression was analyzed using simple linear regression, whereas the length-weight relationship using power regression. A total of 470 individuals of Bali sardinella were collected during the study period. The fish that analyzed have a length range 9.7 –20.2 cm TL. The average length of Bali sardinella was13.7 cm. The relationship between total length (TL) and standard length (SL); total length (TL) and fork length (FL); fork length (FL) and standard length (SL) for Bali sardinella respectively were TL = 1.1038SL + 0.9313; TL = 1.0861FL + 0.2967; and FL = 1.0068SL + 0.6936, respectively. The value of b which were generated from the length-weight relationship of Bali Sardinella was 3.22 with the growth patterns were positive allometric. Abstrak Ikan lemuru, Sardinella lemuru Bleeker 1853, termasuk dalam kelompok ikan pelagis kecil yang bernilai ekonomis tinggi. Dibandingkan dengan jenis pelagis kecil lainnya, hasil tangkapan ikan lemuru lebih dominan di perairan Selat Bali. Persamaan morforegresi dan hubungan panjang bobot penting untuk diketahui sehingga mudah melakukan kon-versi dari satu jenis panjang ke jenis panjang lain dan bobotnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara panjang total (PT) dengan panjang baku (PB), panjang total dengan panjang cagak (PC), panjang cagak dengan panjang baku, serta hubungan panjang bobot ikan lemuru. Penelitian dilaksanakan di perairan Selat Bali kurun waktu Maret 2017 – Mei 2018. Morforegresi dianalisis menggunakan regresi linear sederhana, sedangkan hubungan panjang bobot dianalisis menggunakan regresi power. Ikan lemuru (Sardinella lemuru Bleeker 1853) yang dikumpulkan selama penelitian berjumlah 470 ekor. Ikan yang dianalisis memiliki kisaran panjang antara 9,7 – 20,2 cm PT. Panjang rata-rata ikan lemuru adalah 13,7 cm. Hubungan antara panjang total (PT) dan panjang baku (PB); panjang total (PT) dan pan-jang cagak (PC); panjang cagak (PC) dan panjang baku (PB) ikan lemuru secara berturut-turut adalah PT = 1,1038 PB + 0,9313; PT = 1,0861 PC + 0,2967; and PC = 1,0068 PB + 0,6936. Nilai b yang terbentuk pada hubungan panjang bobot ikan lemuru adalah 3,22 dengan pola pertumbuhan adalah allometrik positif.
Morphology of appendicular skeleton of the Thai mahseer’s Tor tambroides (Bleeker, 1854) Yusrizal Akmal; ilham zulfahmi; M. F. Rahardjo
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.443

Abstract

This study aims to describe the appendicular skeleton morphology (ossa appendicularis) of Thai mahseer’s (Tor tambroides Bleeker, 1854). The samples were obtained from fish traders in the Tangse River area of Pidie district, fish weight about 5 kg and length of 65 cm. The axial skeleton preparations conducted at the Laboratory of Mathematics and Natural Sciences, Almuslim University, Bireuen district. The skeleton terminology identification was done at Integrated Biology Laboratory, Biology Department, Faculty of Science and Technology, Ar-Raniry Islamic State University. The preparation of Thai mahseer’s axial skeleton was done by physically and chemically processed. Axial skeleton was arranged into a single piece to analyze every part of it. Documentation every part of axial skeleton was using Canon EOS 700D camera and processed by Adobe Photoshop CS3. The structure of fish constituent was named based on some published papers. The results showed that appendicular skeleton of Thai mahseer belonging to a pair of pectoral fin (pinna pectoralis), a pair of abdominal fins (pinna pelvis), the dorsal fin (pinna dorsalis), anal fin (pinna analis) and the caudal fin (pinna caudalis). Thai mahseer has similar morphological characters of appendicular skeleton compared to its family (Cyprinidae) but has some difference when compared to other families (Osphronemidae, Zaproridae, dan Tetraodontidae). Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan morfologi tulang anggota gerak (ossa appendicularis) ikan keureling (Tor tambroides Bleeker, 1854). Contoh ikan diperoleh dari pedagang ikan di wilayah sungai Tangse Kabupaten Pidie dengan bobot 5 kg dan panjang 65 cm. Tahapan pembuatan preparat tulang dilakukan di Laboratorium Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Almuslim Kabupaten Bireuen, sedangkan identifikasi terminologi tulang anggota gerak ikan dilakukan di Laboratorium Terpadu Biologi, Program studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Univer-sitas Islam Negeri Ar-Raniry. Pembuatan tulang anggota gerak dilakukan secara fisik dan kimiawi. Pemotretan setiap bagian tulang dilakukan dengan menggunakan kamera Canon EOS 700D dan diolah dengan menggunakan Adobe Photoshop CS3. Penamaan setiap bagian tulang anggota gerak dilakukan dengan cara membandingkan kemiripan bentuk dan letak setiap bagian tulang anggota gerak ikan yang telah diteliti sebelumnya, baik dari famili yang sama maupun dari famili yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tulang anggota gerak (ossa appendicularis) ikan keureling terdiri atas sepasang sirip dada (pinna pectoralis), sepasang sirip perut (pinna pelvis), sirip punggung (pinna dorsalis), sirip anal (pinna analis), dan sirip ekor (pinna caudalis). Karakteristik sirip ikan keureling relatif sama pada famili sejenis (Cyprinidae), namun terdapat perbedaan apabila dibandingkan dengan ikan dari famili lainnya (Osphronemidae, Zaproridae, dan Tetraodontidae).

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue