cover
Contact Name
Ahmad Buchori
Contact Email
ahmadbuchori23@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ahmadbuchori23@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Istighna : Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
ISSN : 19792824     EISSN : 26558459     DOI : https://doi.org/10.33853/istighna
Core Subject : Education, Social,
his journal emphasizes aspects related to Islamic Education and Islamic thought, with special reference to applied research in Islamic education that can be focused on the components of learning including curriculum, methods, models, psychology, Islamic thought and several issues of Islamic education and its problems. The Journal Istighna is published twice a year in January and July.
Arjuna Subject : -
Articles 78 Documents
MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERGURUAN TINGGI UMUM (Studi Multisitus di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang) Ahmad Buchori Muslim
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2019): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.386 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v2i1.12

Abstract

Universities as autonomous educational institutions in the administration of education, made the development of this course will be submitted to the respective colleges. So that the implementation of the model of Islamic education among college one with the other universities are no exception can be different between the UB and the State University of Malang. Therefore in this study are the focus of research is; 1) how the Islamic education curriculum development at the UB and the State University of Malang; 2) how the learning system of Islamic education at the UB and the State University of Malang. This study uses qualitative approach, case study type with multi-site design, data analysis techniques in this study through the stages of data analysis of individual cases with the steps of data collection, data reduction, data presentation, and then draw a conclusion, after analysis of individual case data and then do the data analysis cross-site. These results indicate that the model of development of Islamic Religious Education conducted at UB and the State University of Malang is 1) the development of Islamic education curriculum using a competency-based curriculum, developed by learned center theme-based curriculum approach to social reconstruction. 2) learning system of Islamic education at both universities held in the classical cross-faculty and monitoring the deepening of learning outside the classroom with student active learning approach and contextual learning which leads to inquiry learning strategy. Generally that model of Islamic religious education at public universities can be categorized to a central model isolated entities / mechanisms and a decentralized model with interconnected entities / systemic organism.
RAHASIA MULTIPLE INTELLIGENCE PADA ANAK Juli Astuti
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 1, No 2 (2018): edisi JULI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.498 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v1i2.3

Abstract

In educational institutions, parents, teachers and the public often assume that intelligence can only be seen through academic scores and formal test results such as getting a high score or being ranked in a class. This conception is outdated and superficial. In this era of globalization where educational practitioners are exploring the concept of Multiple Intelligences. Multiple Intelligences as a broad concept of intelligence and has undergone several changes due to the emergence of the theory of multiple intelligences proposed by a psychologist from Harvard University. Intelligence is not limited to formal tests, it's a multidimensional and one's discovery process of competence. Multiple Intelligences is a theory of intelligence pioneered by a psychologist from Harvard University who shows that everyone is intelligent and tends to have intelligence among the ten dimensions of intelligence. In Islam (al Qur'an) multiple intelligences is actually already put forward various developments about intelligence and various human potential. There are ten dimensions of intelligence put forward by Hardward Gardner namely linguistic intelligence, logical-mathematical intelligence, visual-spatial intelligence, kinesthetic-physical-kinesthetic, musical intelligence, interpersonal intelligence, intrapersonal intelligence, naturalistic, existential and emotional intelligence
HAKIKAT PENDIDIKAN DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK Gunaldi Ahmad
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 1, No 1 (2018): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.098 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v1i1.17

Abstract

Perubahan terus terjadi pada penanganan dan pembinaan anak-anak nakal di Indonesia. Peraturan tata laksana pembinaan terus dilakukan. Dari Undang-undang No 3 tahun 1997 tentang Undang-undang Peradilan Anak saat diubah menjadi Undang-undang No 11 Tahun 2012 Tentang  Sistem Peradilan Pidana Anak. Karakteristik undang-undang yang relatif baru ini memiliki karakteristik utama yakni memberikan perlindungan kepada anak yang bermasalah dengan hukum serta sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak. Pendidikan di LPKA sudah terlaksana dengan segala keterbatasan serta mampu membawa perubahan perilaku anak pemasyarakatan untuk lebih baik maka pendidikan dapat mengembalikan jati diri  anak. Pendidikan yang diselenggarakan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak diharapkan dapat mencapai cita-cita “anak” agar lebih bermanfaat setelah selesai menjalani pendidikan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Selanjutnya LPKA ditantang untuk melakukan modernisasi dalam bidang pendidikan.
DAMPAK KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM (Study Tentang Lahirnya Kelas Elit Muslim di Indonesia) Latifatul Khasanah
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2019): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.181 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v2i1.8

Abstract

Education which applied in Indonesia influenced by many factors, for example: government political policy. Government policies ranging from colonial, pre independence day, post independence day until the new orde seemed to ignore Islamic education. This problem causing Islamic education institution have many weakness that have to find a solution. Islamic education institution lack of human resource, management, and fund. Muslims have not been able to optimally actualize Islam transformatively. Islamic education is less attractive to the public. This weakness can be solved due to the struggle of muslims and Islamic figure and the increase of government attention to Islamic education. Thus making various policies and regulations that bring Islamic education and Islamic education institutions increasingly play a role in the implementation of education in general in Indonesia. This can be seen from the number of recitation in hotels, the development of religious music, Muslim Television, Muslim newspaper and many young designer appeared to make a fashion trend in many national and international events.
MEMBINCANG KEMBALI HUBUNGAN SYARIAH DAN FILSAFAT Maskur Rosyid
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2019): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.021 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v2i1.13

Abstract

Mempertentangan Filsafat dengan Agama (Syariah) sama dengan mempertentangkan akal dengan wahyu sebagai sumber kebenaran. Diskursus tersebut memuncak ketika al-Ghazālī memberikan kritik tajam atas filsafat. Kritik tersebut dikritik oleh Ibn Rushd. Lebih dari itu, upaya rekonsiliasi filsafat dan Syariah diberikan oleh Ibn Rushd. Epistemologinya dibangun atas tiga hal, metode al-Khaṭabiyah (Retorika), metode al-Jadaliyyah (dialektika), dan metode al-Burhāniyyah (demonstratif) yang dilakukan dengan metode takwil. Dalam Bahasa uṣūl al-fiqh, Ibn Rushd menggunakan metode al-jam’ wa al-tawfīq. Akal dan wahyu diposisikannya secara proporsional. Akal dan wahyu sama-sama digunakan sebagai alat untuk menemukan pengetahuan tanpa mengunggulkan yang satu di atas yang lainnya.
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI PONDASI SOSIAL BUDAYA DALAM KEMAJEMUKAN Leni Nurmiyanti
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 1, No 2 (2018): edisi JULI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.405 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v1i2.4

Abstract

Penulisan ini mencoba menjelasakan akan hubungan Pendidikan Agama Islam dalam menciptakan perubahan dan kemajuan peradaban bangsa. Pendidikan agama Islam sebagai pondasi utama dalam menciptakan generasi yang berkualitas dan berdaya guna, dengan pendidikan yang mumpuni dan sesauai dengan hakikat dari pendidikan agama Islam. Dalam tulisan ini, penulis menjabarkan akan beberapa hal yang menjadi dasar dalam memahami akan pendidikan agama Islam di era modern. Perkembangan dan perubahan yang kian pesat menghantarkan pada kenyataan, bahwa kualitas generasi hendaknya memiliki ideologi pemahaman yang dapat mengikuti perkembangan zaman. Kompleksitas permasalahan sosial yang terjadi pada era modern membutuhkan teori sosial, sebagai alat dalam menentukan solusi masalah sosial suatu bangsa dalam menciptakan peradaban dan mebudayakan kebudayaan bangsa. Pada tulisan ini, penulis membahas teori kritik sebagai salah satu teori yang tepat dalam menjawab kompleksitas masalah di era modern. Perkembangan di era modern membutuhkan generasi madani, generasi yang tidak hanya memahami akan tekstualis dalam pemahaman agamanya. Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat menghasilkan generasi yang berkulitas, sehingga mampu mensinergikan penegtahuan yang dimilikinya dan teraplikasi dengan baik dalam hubungan bermasyarakat, sehingga mampu menjawab berbagai permasalahan sosial budaya. Agama tidak lagi dijadikan alat untuk ajang promosi ibadah atau mengharapkan imbalan pahala dan surga semata, melaikan agama dapat mengembalikan hakikat sesungguhnya. Agama menjadi penuntun dan petunjuk dimana aturan-aturan yang berlaku  disadari dan dipahami oleh manusia sehingga kehidupannya di dunia tidak kacau. Agama Islam merupakan agama yang memiliki kesempurnaan dalam aturannya, namun manakala manusia yang meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar akan agamanya, tentunya agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tidak akan terimplementasi dengan baik dalam kehidupan manusia di dunia. Pemahaman manusia tersebut jika tidak didukung dengan pendidikan agama yang benar, pada akhirnya manusia tidak akan memahami akan hakikat beragama sesungguhnya. Manusia yang beragama adalah manusia beradab, manusia yang beradab akan mampu menciptakan peradaban dan memahami akan hakikat dirinya sebagai mahluk sosial.
TAKLIF DEWASA DINI DALAM HUKUM ISLAM (Analisis Pubertas Prekoks dan Gifted) Aprianif Aprianif
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 1, No 1 (2018): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.776 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v1i1.18

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah mempertanyakan hakikat taklif atau pertanggungjawaban hukum dalam hukum Islam. Kemudian dikaitkan dengan fenomena dewasa dini berupa pubertas prekoks dan gifted. Penelitian ini mendukung pendapat Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad Abu Zahrah dan Subhi Mahmasani yang mengatakan bahwa perubahan dalam hukum Islam biasa terjadi. Hukum Islam bisa berubah-ubah dengan berbedanya keadaan, tempat dan waktu. Sekaligus penelitian ini menolak pendapat Abid Muhammad as-Sufyani dan Muhammad Muslehuddin yang mengatakan bahwa hukum Islam tidak dapat berubah-ubah. Sumber yang dipakai dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berhubungan dengan konsep taklif, dewasa dini dan perubahan-perubahan hukum dalam hukum Islam dengan menjadikan data primernya berupa kitab I’lam al-Muwaqi'in 'an Rabbil 'Alamin karangan Ibn Qayyim al-Jauziyah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang mengunakan bahan-bahan kepustakaan yang ada kaitannya dengan masalah pokok penelitian ini sebagai sumbernya. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi hukum milik Ibn Qayyim al-Jauziyyah yang mengatakan bahwa hukum bisa berubah-ubah dengan berubahnya keadaan, waktu dan tempat.
INTERNALISASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PERSPEKTIF TEORI BARAT DAN ISLAM Wari Setiawan
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2019): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.294 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v2i1.9

Abstract

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai makhluk sosial sepatutnya mendapatkan layanan pendidikan yang sebaik-baiknya, termasuk pendidikan agama. Perlakuan terhadap mereka dapat dipahami melalui model medis dan model sosial. Model medis memandang ABK  sebagai masalah sosial yang menghambat perkembangan masyarakat sehingga harus dipisahkan dari masyarakat. Model sosial menghendaki perlakuan ABK sebagai makhluk sosial yang harus diperlakukan sama karena punya hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Begitu pula dengan teori Barat dan fithrah. Teori barat umumnya memandang pendidikan agama bgai mereka tidak perlu, karena agama adalah wilayah privasi. Berbeda dengan teori fithrah, ABK memiliki potensi keagamaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan.
PUBERTAS PREKOKS MENURUT HUKUM ISLAM (Analisis Konsep Taklif) Aprianif Aprianif
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2019): edisi JANUARI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.572 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v2i1.14

Abstract

Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah konsep taklif bagi penderita pubertas prekoks. Penelitian ini mendukung pendapat Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad Abu Zahrah dan Subhi Mahmasani yang mengatakan bahwa perubahan dalam hukum Islam biasa terjadi. Hukum Islam bisa berubah-ubah dengan berbedanya keadaan, tempat dan waktu. Sekaligus menolak pendapat Abid Muhammad as-Sufyani dan Muhammad Muslehuddin yang mengatakan bahwa hukum Islam tidak dapat berubah-ubah. Sumber yang dipakai dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berhubungan dengan konsep taklif, dewasa dini dan perubahan-perubahan hukum dalam hukum Islam dengan menjadikan data primernya berupa kitab I’lam al-Muwaqi'in 'an Rabbil 'Alamin karangan Ibn Qayyim al-Jauziyah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi hukum milik Ibn Qayyim al-Jauziyyah yang mengatakan bahwa hukum bisa berubah-ubah dengan berubahnya keadaan, waktu dan tempat.
KEBIJAKAN TENTANG SEKOLAH ELIT ISLAM Maemunah Maemunah
ISTIGHNA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 1, No 2 (2018): edisi JULI
Publisher : stit-islamic-village

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.841 KB) | DOI: 10.33853/istighna.v1i2.5

Abstract

Munculnya sekolah elite / sekolah unggulan Islam,  diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan yang tengah dihadapi oleh internal umat Islam sendiri yakni keprihatinan terhadap mutu pendidikan Islam yang rendah dan sekaligus memberi solusi terhadap tantangan terhadap Iptek dan Imtak. Kebijakan pendidikan dirumuskan dengan mendasarkan diri pada landasan pemikiran yang lebih ilmiah empirik. Kajian ini menggunakan pola pendekatan yang beragam sesuai dengan faham teori yang dianut oleh masing-masing penentu kebijakan. Kebijakan demokratisasi pendidikan adalah kebijakan untuk menyeimbangkan komposisi peserta didik menurut kelompok status sosial ekonomi dan geografis guna mengurangi ketimpangan pendidikan. Dalam hal ini, dapat dinyatakan bahwa analisis terhadap kebijakan terkait sekolah elite; Sekolah Islam Unggulan yaitu ada pada kebijakan yang tertuang pada: UUD 1945 pasal 31 ayat 3, GBHN tahun 1992-2000 pada bagian agama Nomor 2, Pasal 5 ayat 1 UU SISDIKNAS 2003 BAB IV, Pasal 10 UU SISDIKNAS No. 20 2003 BAB IV, UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 50 ayat 3, UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 55 ayat 1, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), UU No. 17 Tahun 2007.