cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009" : 9 Documents clear
PENGGUNAAN ALGINAT PADA FORMULASI PENYALUT TIPIS TABLET VITAMIN A Dina Fransiska; Murdinah Murdinah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.433

Abstract

Penelitian penggunaan alginat sebagai pahan penyalut tipis (film coating) pada tablet vitamin A telah dilakukan. Pada penelitian ini digunakan alginat yang merupakan hasil ekstraksi dari rumput laut coklat Sargassum sp. Formula larutan penyalut terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan A (1,00 g alginat + 0,20 g PEG), perlakuan B (1,25 g alginat + 0,25 g PEG), perlakuan C (1,5 g alginat + 0,30 g PEG), perlakuan D (1,75 g alginat + O,35 g PEG) dan sebagai pembanding adalah (10 g HPMC + 1 g PEG), uji yang dilakukan terhadap tablet inti dan tablet salut adalah uji visual, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, keseragaman kandungan bahan aktif, kekerasan, keregasan, waktu hancur, dan uji stabilitas vitamin A. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik pada penelitian ini adalah perlakuan D.
ANALISIS DEREPLIKASI UNTUK IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIBAKTERI SPONGE Axinella sp. DARI PERAIRAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA Hedi Indra Januar; Cherie Motti; Dianne Tapiolas; Anthony D. Wright
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.439

Abstract

Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa antibakteri pada Axinella sp. yang diambil dari kepulauan Karimunjawa dengan metode dereplikasi menggunakan LCMS (Liquid Chromatography Mass Spectrometer) dan FT-MS (Fourier Transfer Mass Spectrometer). Data pola spektra massa dan LC-MS menunjukkan adanya tiga senyawa terbrominasi yang mungkin memiliki bioakfivitas antibakteri. Analisis massa akurat (limit kesalahan di bawah 20 ppm) menggunakan FT-MS menemukan bahwa ketiga senyawa tersebut memliki monosotop negatif (M-H) pada m/z 321,9931 [senyawa (a)]; m/z 383,9089 [senyawa (b)]; dan m/z 385,9249 [senyawa (c)]. Analisis komposisi kimia dari besaran massa tersebut yang menggunakan Elemental Composition Calculator menemukan bahwa komposisi kimia dari ketiga senyawa tersebut adalah C11H10N5O2Br (a), C11H9N5Br2 (b) dan C11H11Br2N5O (c). Penelusuran struktur kima yang didasarkan pada komposisi tersebut di database MarinLit 2008 (Database struktur kimia senyawa-senyawa dari biota laut) menemukan bahwa ketiga senyawa tersebut merupakan hymeniadisine (a), 3-bromohymenialdiside (b), dan dibromophakelin (c).
PENGARUH PERENDAMAN TULANG IKAN TUNA (Thunnus albacares) DALAM LARUTAN NaOH TERHADAP KUALITAS GELATIN HASIL OLAHANNYA Tazwir, Tazwir; Kusumawati, Rinta
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.434

Abstract

Gelatin tulang ikan tuna (Thunnus albaceres) dengan kualitas baik seringkali sulit diperoleh, karena kebanyakan produk ini mengandung lemak dan protein non kolagen yang cukup tinggi. Dalam memproduksi gelatin tulang tuna, lemak, dan protein non kolagen tersebut harus direduksi hingga batas minimum. Dalam penelitian ini dipelajari pengaruh perendaman tulang ikan tuna dalam larutan NaOH sebelum ekstraksi terhadap kualitas gelatin yang dihasilkan. Tahapan yang dilakukan adalah degreasing, pencucian, perendaman dalam NaOH dengan variasi konsentrasi 0; 0,4; dan 0,8%, kemudian perendaman dalam HCl, ekstraksi, filtrasi, evaporasi, dan pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik gelatin yang terbaik diperoleh dari perendaman tulang dalam NaOH 0,4%, yaitu dengan nilai rendemen 8,37%; viskositas 3,27-3,37 cPs; pH 5,03; dan kekuatan gel 157,8 g Bloom gel strength.
PENAMBAHAN BAHAN PEMBENTUK GEL DALAM PEMBUATAN SURIMI DARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) Theresia Dwi Suryaningrum Dwi Suryaningrum; Diah Ikasari; Syamdidi Syamdidi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.435

Abstract

Kajian tentang pengolahan surimi dari ikar patin (P. hypophthalmus) dengan menggunakan karaginan atau kalsium laktat 0,05% sebagai bahan pembentuk gel telah dilakukan. Pengamatan dilakukan selama proses pengolahan dan mutu surimi yang dihasilkan. Mutu surimi yang diamati adalah uji daya lipat, kekuatan gel, viskositas, derajat putih, komposisi proksimat, kandungan bakteri, serta uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan daging ikan patin menjadi surimi menghasilkan rendemen sebesar 23,03% dengan kadar lemak yang masih cukup tinggi yaitu sebesar 13,14% (bk), derajat putih 27,90 serta mengandung benda asing berupa serpihan kulit yang jumlahnya berkisar antara 11-16 serpihan/100 cm². Penambahan karaginan atau kalsium laktat sedikit meningkatkan rendemen surimi dibandingkan dengan kontrol. Penambahan karaginan atau kalsium laktat tidak berpengaruh terhadap daya lipat surimi, yaitu tidak retak ketika dilipat menjadi 4 (grade AA). Surimi yang diberi perlakuan penambahan kalsium laktat menghasilkan derajat putih dan kekentalan yang lebih tinggi dibandingkan dengan surimi yang diberi perlakuan karaginan dan kontrol. Kekuatan gel yang diperoloh dalam penelitian ini berkisar antara 978,93-1095,25 g/cm² dengan kekuatan gel terbaik diperoleh pada surimi yang ditambah karaginan. Penambahan bahan pembentuk gel tidak berpengaruh terhadap kadar air, abu, protein maupun lemak produk. Uji sensori menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh terhadap warna dan bau surimi, tetapi penambahan karaginan menghasilkan surimi dengan nilai tekstur paling tinggi sedangkan penambahan kalsium laktat menghasilkan surimi dengan nilai penampakan paling tinggi. Berdasarkan uji kesukaan, surimi yang diberi penambahan kalsium laktat lebih disukai oleh panelis dibandingkan dengan surimi yang diberi perlakuan karaginan.
PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN ASAP CAIR TERHADAP MUTU BELUT ASAP YANG DIHASILKAN Bagus Sediadi Bandol Utomo; Reki A. Febriani; Sri Purwaningsih; Tati Nurhayati
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.436

Abstract

Telah dilakukan riset tentang pengaruh konsentrasi larutan asap cair terhadap mutu belut asap yang dihasilkan. Belut yang digunakan adalah jenis Monopterus albus dan asap cair yang dipakai diperoleh dari CV Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu,Yogyakarta. Riset pendahuluan dilakukan untuk mengetahui waktu pengeringan yang terbaik, dengan melakukan pengeringan dalam oven pada suhu 90ºC selama 2, 4, 6, dan 8 jam diikuti pengujian kadar air terhadap produk yang dihasilkan. Riset utama dilakukan unluk mengetahui pengaruh konsentrasi asap cair terhadap mutu belut asap yang dihasilkan dengan variasi konsentrasi larutan asap cair 0, 10, 20, dan 30%. Penilaian mutu dilakukan berdasarkan analisis komponen asap, komposisi proksimat, den mutu organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi larutan asap cair terbaik untuk pembuatan belut asap adalah 30% dengan waktu pengeringan 8 jam yang menghasilkan rendamen 28,04%. Secara umum produk ini disukai oleh panelis dengan nilai orgenoleptik 7,36 dengan karakteristik kadar air 10,38%, lemak 2,74%, protein 68,96%, dan abu 15,81%. Asap cair den belut asap hasil pengolahan menggunakan asap cair tidak mengandung senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH), sebaliknya belut asap komersial mengandung senyawa PAH.
MUTU SEMIREFINED CARRAGEENAN (SRC) YANG DIPROSES MENGGUNAKAN AIR LIMBAH PENGOLAHAN SRC YANG DIDAUR ULANG Basmal, Jamal; Utomo, Bagus Sediadi Bandol
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.430

Abstract

Telah dilakukan penelitian mutu semi refined carrageenan (SRC) yang diproses menggunakan air limbah pengolahan SRC Yang didaur ulang. Air limbah pengolahan SRC terlebih dahulu dinetralkan, dikoagulasi, diflokulasi, dan disaring menggunakan zeolit dan arang aktif. Air yang sudah diolah tersebut selanjutnya digunakan untuk proses pengolahan SRC berikutnya. Untuk melihat optimalisasi penggunaan air hasil daur ulang terhadap penurunan mutu fisiko kimia SRC yang dihasilkan, dilakukan 5 kali daur ulang berturut-turut. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa limbah cair pengolahan SRC dapat digunakan kambali untuk pengolahan SRC berikutnya. Berdasarkan parameter kekuatan gel karaginan yang dihasilkan, ternyata terjadi peningkatan kekuatan gel dari 806 g/cm² menjadi 1147 g/cm² untuk SRC yang diolah/dicuci dengan air limbah yang telah mengalami 4 kali proses daur ulang. Pada tahap ini SRC mempunyai kadar abu 16,0%, abu tak larut asam 0,04%, kadar sulfat 3,9%, dan kadar air 12,3%.
PENAPISAN BAKTERI KITINOLITIK DARI LIMBAH PENGOLAHAN UDANG Ekowati Chasanah; Miftahul Ilmi; Wibowo Mangunwardoyo
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.437

Abstract

Limbah pengolahan udang merupakan salah satu sumber enzim pendegradasi kitin (enzim kitinolitik) potensial. Tulisan ini melaporkan sebagian hasil rangkaian riset mengenai pencarian sumber enzim Kitinolitik dari lingkungan laut, khususnya dari limbah industri perikanan. Tujuan dari riset ini adalah mengisolasi bakteri kitinolitik dan limbah pengolahan udang, mengetahui kondisi optimum untuk memproduksi enzim tarsebut dan mengidentifikasi bakteri terbaik penghasil enzim tersebut. Penapisan diakukan dengan mengevaluasi indeks kitinolitik pada medium kitin padat (2%) dan mengukur aktivitas kitinolitik pada medium minimal (MSM) cair yang diperkaya koloidal kitin 0,5%. Optimasi produksi enzim dilakukan dengan mangkultur isolat pada berbagai pH, suhu, dan substrat menggunakan penangas air bersuhu 37ºC dengan agitasi 100 rpm. Sejumlah 106 isolat berhasil diisolasi, dan di antaranya isolat KPU 218 yang memiliki aktivitas kitinolitik tertinggi (0,134 ± 0,004 U/mg) dalam waktu tercepat (24 jam). Kondisi optimum untuk memproduksi enzim tersebut adalah pH 5, suhu 25ºC dengan substrat koloidal kitin dan waktu produksi 30 jam. Hasil identifikasi berdasarkan 16S-rDNA menunjukkan bahwa isolat KPU 218 memiliki kemiripan 87% dengan Acinetobacter sp.
PENGARUH CAMPURAN SEMI REFINED CARRAGEENAN (SRC) DAN LOCUST BEAN GUM (LBG) TERHADAP SIFAT FISIK DAN SENSORI GEL PENGHARUM RUANGAN Ellya Sinurat; Murdinah Murdinah; Rosmawaty Peranginangin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.432

Abstract

Penelitian penggunaan campuran semi refined carrageenan (SRC) dan locust been gum (LBG) (1:1) dalam b/v sebagai bahan pembentuk gel dalam pembuatan gel pengharum ruangan telah dilakukan. Campuran bahan divariasi konsentrasinya yaitu 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; dan 3,0%, terhadap formulasi yang terdiri atas surfaktan, carrying agent, fragrance, dan pengawet. Parameter yang diamati untuk mengetahui kualitas produk meliputi kekuatan gel, sineresis dan uji organoleptik (pembedaan atribut dan mutu hedonik terhadap takstur dan bau). Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran SRC can LBG dengan konsentrasi 2,0-3,0% menghasilkan gel pengharum ruangan dengan nilai sineresis yang lebih rendah (0,96-1,24%) bila dibandingkan dengan gel pengharum ruangan komersial yang sineresisnya 1,63%. Produk gel pengharum ruangan yang kualitasnya paling mendekati produk komersial adalah gel pengharum ruangan yang menggunakan campuran SRC dan LBG dengan konsentrasi 2,0% berdasarkan hasil uji sineresis dan uji organoleptik (tekstur dan bau).
KARAKTERISASI ENZIM KITOSANASE DAR] ISOLAT BAKTERI KPU 2123 DAN APLIKASINYA UNTUK PRODUKS1 OLIGOMER KITOSAN Yusro Nuri Fawzya; Asri Pratitis; Ekowati Chasanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v4i1.438

Abstract

Penelitian ini merupakan sebagian dari rangkaian penelitian mengenai eksplorasi enzim kitinolitik dari mikroba lingkungan laut, khususnya dari limbah udang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi isolat bakteri KPU 2123 dari limbah udang, mengkarakterisasi dan mengaplikasikan enzim kitosanase yang dihasilkan oleh bakteri tersebut untuk produksi oligomer kitosan dan menguji bioaktivitas oligomer kitosan tersebut sebagai antitumor dan antibakteri. Karakterisasi enzim dilakukan dengan menguji aktivitas enzim pada berbagai suhu dan pH. Selain itu juga ditentukan besarnya aktivitas yang tersisa setelah enzim diinkubasi pada suhu dan lama waktu tertentu. Pengaruh ion logam terhadap aktivitas enzim juga dilihat dengan mereaksikan enzim dengan 1 mM ion logam dalam bentuk larutan khlorida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis gen 16S-rRNA, isolat bakteri KPU 2123 memiliki kemiripan 95% dengan Stanotrophomonas maltophilia. Enzim kitosanase dari isolat ini bekerja optimal pada suhu 50 ºC dan pH 6. Enzim ini cukup stabil pada suhu 37 ºC selama 120 menit. Penambahan ion logam berpengaruh terhadap aktivitas enzim. Ion logam Zn²+ (sebagai garam klorida 1 mM) menghambat 100% aktivitas enzim tersebut. Penggunaan enzim kitosanase dalam menghidrolisis substrat kitosan, menghasilkan oligomer kitosan yang mengandung tetramer, pentamer dan heksamer Oligor kitosan tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus sebesar 10,06% dan dapat menyebabkan kematian sel HeLa dengan LC50 pada dosis 120 ppm.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue