cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010" : 9 Documents clear
Pengolahan Mie yang Difortifikasi dengan Ikan dan Rumput Laut sebagai Sumber Protein, Serat Kasar, dan Iodium Murniyati Murniyati; Subaryono Subaryono; Irma Hermana
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.427

Abstract

Penelitian pembuatan mie ikan-rumput laut telah dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan formulasi pembuatan mie yang kaya akan protein, serat, dan iodium. Bahan formulasi yang digunakan adalah ikan swangi/mata goyang (Priacanthus tayenus) dan rumput laut (Eucheuma cottonii). Variasi perlakuan yang digunakan adalah jumlah penambahan daging ikan (20, 30, dan 40%) dan rumput laut (10, 20, 30, dan 40%). Pengamatan yang dilakukan meliputi organoleptik (kenampakan, warna, aroma, rasa, dan tekstur) menggunakan skala hedonik dan uji kimiawi (kadar air, abu, protein, lemak, serat kasar, dan kadar iodium). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah mie dengan penambahan ikan 30% dan rumput laut 20%. Produk akhir mie ikan-rumput laut kering mengandung protein 16,64%; kadar air 9,04%; kadar serat kasar sebanyak 0,20%; dan kadar iodium 6,29 ppm.
Isolasi dan Elusidasi Struktur Kimia Antimikroba yang Dihasilkan Oleh Aktinomisetes Laut Rofiq Sunaryanto; Bambang Marwoto Irawadi; Tun Tedja Irawadi; Zainal Alim Mas’ud; Liesbetini Hartoto
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.422

Abstract

Isolasi senyawa aktif dari aktinomisetes laut yang memiliki aktivitas antimikroba telah dilakukan. Isolasi aktinomisetes dilakukan dengan pengenceran dan praperlakuan sampel dengan cara pemanasan dan pengasaman. Sampel diambil dari sedimen laut di 6 titik lokasi Pantai Anyer, Banten. Dari total 29 isolat yang diperoleh, isolat A32 merupakan isolat terpilih untuk penelitian lebih lanjut. Isolat A32 memiliki aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus ATCC25923 dan Candida albican BIOMCC00122. Elusidasi struktur kimia menggunakan ESI-LCMS, 1 HNMR, dan COSY menunjukkan bahwa senyawa aktif tersebut memiliki bobot molekul 501,2 g/mol dan rumus molekul C26H35N3O7. Diduga senyawa ini termasuk dalam golongan makrolakton virginiamycin yaitu Madumycin I.
Pengaruh Pencucian Daging Lumat Ikan Patin Siam terhadap Karakteristik Dendeng yang Dihasilkan Suryanti, Suryanti; Irianto, Hari Eko; Muljanah, Ijah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.428

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencucian daging lumat ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) terhadap karakteristik dendeng. Ikan patin siam hidup diberi perlakuan pemberokan selama 24 jam, kemudian dimatikan dengan cara perendaman dalam es selama ± 20 menit. Daging dipisahkan dari tulang dan kulit serta digiling hingga diperoleh daging lumat. Daging lumat diberi perlakuan pencucian satu sampai tiga kali masing-masing dalam air suhu 4-5oC dengan perbandingan 1:5 (b/v), yang dilanjutkan dengan pengepresan. Daging lumat yang diperoleh dari masing-masing perlakuan pencucian kemudian diolah menjadi dendeng dengan mencampurkan bahan tambahan gula putih, garam serta rempah-rempah seperti bawang putih (2%), bawang merah (1,5%), ketumbar (2,5%), asam jawa (3%), lengkuas (2,5%), dan jahe (0,5%). Tahap selanjutnya adalah pencetakan campuran bahan dalam loyang dan dikeringkan dengan sinar matahari selama ±15 jam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin banyak perlakuan pencucian menyebabkan kandungan protein dan karbohidrat semakin kecil, dan sifat tekstur (kekuatan tarik dan elongasi) semakin besar. Dendeng berwana coklat kekuningan dengan rasa dan aroma rempah-rempah, sedangkan tekstur agak kenyal dan tidak mudah sobek. Dendeng dari perlakuan satu sampai tiga kali pencucian memiliki nilai angka lempeng total (ALT) antara <25 x 102 sampai dengan 1,6 x 104 kol/g serta tidak terdapat kapang yang tumbuh.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Turbinaria decurrens Terhadap Perbaikan Kerusakan Hati Tikus Putih Wikanta, Thamrin; Rahayu, Lestari; Fajarningsih, Nurrahmi Dewi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.423

Abstract

Turbinaria decurrens mengandung pigmen karoten yang berfungsi sebagai antioksidan sehingga mampu meredam radikal bebas. Kerusakan sel hati akibat radikal bebas terdeteksi dari peningkatan kadar malondialdehid (MDA) dan aktivitas glutamat-piruvat transaminase (GPT) dalam serum darah. Pengujian toksisitas akut dari ekstrak etanol T. decurrens dilakukan dengan menggunakan mencit secara intraperitonial, sedangkan pengaruh pemberian ekstrak tersebut terhadap perbaikan kerusakan liver menggunakan tikus secara oral. Pengaruh pemberian ekstrak tersebut terhadap perbaikan kerusakan hati diamati menggunakan 6 kelompok tikus yaitu: KI (kelompok normal yang hanya diberi air suling), KII (kelompok kontrol negatif yang diberi air suling), KIII (kelompok perlakuan yang diberi ekstrak dengan dosis 0,2 g/200 g BB (Bobot Badan)), KIV (kelompok perlakuan yang diberi ekstrak dengan dosis 0,4 g/200 g BB), KV (kelompok perlakuan yang diberi ekstrak dengan dosis 0,8 g/200 g BB), dan KVI (kelompok kontrol positif yang diberi vitamin E dosis 5,4 mg/200 g BB). Kelompok II, III, IV, V, dan VI diberi perlakuan selama 12 hari berturut-turut, setelah dua jam pemberian perlakuan yang terakhir tikus diberi CCl 40,11 g/200 g BB, 24 jam kemudian tikus diambil darahnya untuk pengukuran kadar MDA, aktivitas GPT, serta pengambilan organ hati untuk penentuan rasio bobot hati/bobot badan serta pembuatan sediaan histopatologi hati. Hasil riset menunjukkan bahwa ekstrak etanol T. decurrenstermasuk dalam kategori toksisitas rendah dan ekstrak memiliki aktivitas antioksidan dan potensi hepatoprotektor sehingga dapat membantu perbaikan kerusakan hati.
Mutu Protein Dendeng Ikan Hiu yang Diolah Dengan Cara Pengeringan Berbeda Ratna Sari Dewi; Nurul Huda; Ruzita Ahmad; Wan Nadiah Wan Abdullah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu protein dendeng ikan hiu (Chiloscyllium sp.) yang dikeringkan dengan menggunakan tiga jenis metode pengeringan yang berbeda, yaitu pengeringan dengan sinar matahari, oven udara panas (60°C) dan oven vakum (60°C). Sebelum dikeringkan, irisan daging ikan (ukuran 4 cm x 12 cm x 3 mm) direndam dalam larutan bumbu dan dikeringkan sehingga kandungan airnya berkisar antara 23-25%. Analisis dilakukan terhadap kandungan asam amino bahan baku dan dendeng hiu, dan nilai asam amino digunakan untuk menghitung skor kimia, skor asam amino, dan indeks asam amino. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada daging ikan hiu segar, skor kimia, skor asam amino, dan indeks asam amino esensial lebih tinggi dibandingkan dengan dendeng ikan hiu dengan berbagai cara pengeringan. Secara umum, pengeringan menyebabkan terjadinya penurunan mutu protein dendeng ikan hiu. Skor kimia, skor asam amino, dan indeks asam amino esensial daging ikan hiu segar berturut-turut adalah 65,93; 100,49; dan 89,13; pengeringan oven 56,48; 82,59; dan 75,86; pengeringan sinar matahari 51,15; 61,55; dan 79,43; dan pengeringan oven vakum 51,86; 62,41; dan 72,44. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dendeng ikan hiu dengan pengeringan oven udara panas memiliki nilai skor kimia dan skor asam amino lebih tinggi, sedangkan dendeng dengan pengeringan sinar matahari memiliki indeks asam amino esensial lebih tinggi dari sampel lain
Penggunaan Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium guajava) sebagai Pengawet Pindang Tongkol Farida Ariyani; Jovita Tri Murtini; Tuti Hartati Siregar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.424

Abstract

Penelitian aplikasi ekstrak daun jambu biji (Psidium guajava) untuk menghambat kemunduran mutu pindang tongkol (Scomber australasicus CV) telah dilakukan. Pada penelitian ini digunakan 4 konsentrasi ekstrak daun jambu (0, 3, 6, dan 9%) sebagai larutan perebus pada pengolahan pindang tongkol. Perubahan mutu ikan pindang diamati setiap 24 jam secara organoleptik, kimia (TVB, TBA) dan mikrobiologi (TPC, kapang), sedangkan pengamatan terhadap perubahan asam lemak dilakukan pada ikan pindang dengan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun jambu sebagai larutan perebus pada pemindangan ikan tongkol mampu menghambat peningkatan kadar TBA dan menekan oksidasi asam lemak tidak jenuh, tetapi tidak mampu menghambat peningkatan kadar TVB dan pertumbuhan mikroorganisme selama penyimpanan pada suhu ruang. Meskipun penggunaan ekstrak daun jambu menyebabkan warna pindang cenderung menjadi lebih gelap (kecoklatan), pindang tongkol yang direbus dengan ekstrak daun jambu mempunyai intensitas bau dan rasa tengik yang sangat rendah dan tekstur yang lebih baik bila disbanding kontrol. Perlakuan ekstrak daun jambu yang paling efektif sebagai pengawet pindang tongkol dengan nilai sensori terbaik adalah perlakuan ekstrak daun jambu pada konsentrasi 9%.
Pembentukan Gel Alginat yang Diekstrak dari Sargassum filipenduladan Turbinaria decurrensMenggunakan CaCO3 dan Glucono- δ lactone (GDL) Subaryono Subaryono; Rosmawaty Peranginangin; D. Fardiaz; F. Kusnandar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.425

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan CaCO3 pada pembentukan gel dan karakteris tik gel alginat yang diekstrak dari Sargassum filipendula danTurbinaria decurrens.Sebagai pembanding digunakan alginat komersial dari Sigma. Rumput laut dipanen dari perairan Binuangeun, Provinsi Banten. Rumput laut direndam dalam larutan KOH 0,1 N selama 1 jam, lalu dicuci dengan air tawar dan dikeringkan. Alginat diekstrak dengan metode ekstraksi yang dikembangkan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Jakarta. Gel alginat disiapkan dengan metode pembentukan gel internal menggunakan CaCO3 sebagai sumber ion Ca2+ dan glucono-d-lactone (GDL) untuk mengatur pelepasan ion Ca2+. KonsentrasiCaCO3yang digunakan divariasi 0; 2,5; 5,0; 7,5; 10,0; 12,5;15,0; 20,0; 25,0; dan 30,0 mM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel mulai terbentuk pada konsentrasi CaCO3 5,0 mM dangel yang kuat terbentuk pada konsentrasi 20,0 mM atau lebih.Alginat dari S. filipendula danT. Decurrens membutuhkan konsentrasi CaCO3 yang lebih tinggi untuk pembentukan gelnya dibandingkan alginat komersial. Pada konsentrasi CaCO3 20,0 mM atau lebih, gel alginat dari S. filipendula dan T. Decurrens menunjukkan kekuatan gel, modulus rigidity, dan sineresis yang lebih tinggi dibandingkan alginat komersial.
Karakterisasi Permen Jeli yang Dibuat dari Hasil Formulasi Jelly Powder Ellya Sinurat; Murdinah Murdinah; Dina Fransiska
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.426

Abstract

Penelitian karakterisasi permen jeli dengan bahan baku formula jelly powder telah dilakukan. Formula jelly powder terdiri dari campuran karaginan murni, konjak, dekstrosa, dan KCl. Jelly powder ini digunakan untuk pembuatan permen jeli dengan variasi 3,5; 4,0; 4,5; dan 5,0%. Sebagai pembanding digunakan produk permen jeli impor berbahan dasar karaginan yang sudah ada di pasaran. Untuk mengetahui kualitas permen jeli, parameter yang diamati meliputi aktivitas air, sifat fisik (kekerasan, kelengketan, dan elastisitas) serta nilai organoleptik (kenampakan, bau, rasa, tekstur, elastisitas, transparansi, dan penerimaan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi  jelly powder menyebabkan meningkatnya kekerasan, kelengketan, dan elastisitas permen jeli. Nilai organoleptik untuk rasa, tekstur, elastisitas, transparansi, dan penerimaan yang paling baik menurut panelis adalah pada konsentrasi jelly powder 4,5%
Bioaktivitas Ekstrak Kasar Aseton, Fraksi, dan Subfraksinya dari Ulva fasciata Terhadap Sel Lestari Tumor Hela Thamrin Wikanta; Andika Prabukusuma; Dian Ratih; Hedi Indra Januar
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v5i1.421

Abstract

Telah dilakukan pengujian bioaktivitas ekstrak kasar aseton, fraksi, dan subfraksinya dari Ulva fasciata terhadap sel lestari tumor HeLa. U. fasciata dimaserasi dalam aseton lalu ekstrak disaring dan pelarut dievaporasi. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak kasar aseton U.  fasciata mengandung golongan senyawa flavonoid, steroid, dan saponin. Ekstrak kasar tersebut memiliki aktivitas antioksidan (IC50 = 411,81 mg/mL) lebih rendah dibandingkan vitamin C sebagai control (IC50 = 5,01 mg/mL). Ekstrak kasar aseton dipartisi menggunakan heksan, etil asetat, dan metanol-air. Hasil uji toksisitas terhadap Artemia salinamenunjukkan nilai LC50 dari ekstrak kasar aseton, fraksi heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol-air masing-masing sebesar 103,86; 128,03; 63,07; dan 406,05 mg/mL. Hasil uji sitotoksisitas terhadap sel lestari tumor HeLa menunjukkan nilai IC50 dari ekstrak kasar aseton, fraksi heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi metanol-air masing-masing sebesar 62,86; 43,56; 18,85; dan 37,56 mg/mL. Fraksi etil asetat yang memiliki sitotoksisitas tertinggi kemudian difraksinasi melalui kolom khromatografi Sepra C-18 dengan elusi gradien polaritas menghasilkan 6 subfraksi. Hasil uji sitotoksisitas masing-masing subfraksi terhadap sel lestari tumor HeLa pada konsentrasi 19 mg/mL menunjukkan nilai inhibisi: subfraksi-1 negatif (non-aktif); subfraksi-2 > 100% (sitotoksik); subfraksi-3 > 100% (sitotoksik); subfraksi-4 > 100% (sitotoksik); subfraksi-5 < 50% (non-aktif); dan subfraksi-6 = 100% (sitostatik).

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue