Articles
187 Documents
BAHAYA KONFLIK SOSIAL BERBASIS PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN BANGGAI LAUT
Ahmad Pratama Putra
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3685
Dalam indeks peta bahaya BNPB tahun 2011, Kabupaten Banggai  Laut memiliki bahaya konflik sosial yang relatif rendah meskipun berstatus sebagai daerah tertinggal dan baru dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2013. Kabupaten ini juga terletak di kawasan Teluk Tolo yang memiliki potensi sumber daya alam untuk pengembangan di Indonesia Timur. Oleh karena itu, konflik sosial mungkin terjadi sebagai akibat dari perencanaan pembangunan daerah yang tidak tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bahaya konflik sosial di Kabupaten Banggai Laut berdasarkan perencanaan pembangunan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Banggai Laut memiliki potensi konflik sosial yang tinggi yaitu pada daerah dimana akan terjadi pembebasan lahan dan pada daerah tanah sengketa sebagai akibat dari pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah. Pola spasial dari bahaya konflik sosial di Kabupaten Banggai Laut juga ternyata mengikuti rencana penataan ruang dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.
BENCANA BANJIR BANDANG DI GARUT 20 SEPTEMBER 2016
Iwan G. Tejakusuma
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3686
Bencana banjir bandang terjadi di Garut pada 20 September 2016. Bencana ini merupakan bencana terbesar dalam sejarah kota ini dan menimbulkan korban jiwa sebanyak 33 orang tewas, 20 orang hilang tersapu aliran banjir bandang dan lebih dari 6300 orang mengungsi serta sekitar 2000 rumah mengalami kerusakan. Curah hujan yang sangat tinggi hingga mencapai di atas 150 mm atau tergolong ekstrim terjadi di hulu dan tengah Daerah Aliran Sungai Cimanuk. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan menyebabkan run off menjadi semakin besar dan menyumbang faktor yang signifikan dalam terjadinya banjir bandang. Morfologi sungai berkelok pada setelah morfologi perbukitan dan pegunungan serta perkembangan permukiman di tepi sungai memberikan efek tingginya risiko bencana di Garut. Kombinasi curah hujan yang tinggi, perubahan penggunaan lahan dan morfologi sungai yang disertai dengan perkembangan permukiman di tepi sungai yang tidak ditata dengan baik menjadi faktor dominan untuk terjadinya bencana banjir bandang di Garut.
METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM MENENTUKAN PEMBOBOTAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERENTANAN GEDUNG DI DKI JAKARTA TERHADAP ANCAMAN GEMPA
Raditya Panji Umbara
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3687
Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta berada pada zona ancaman gempa sedang, akan tetapi ada kemungkinan terjadi gempa skala besar. Gempa dapat memberikan ancaman terhadap gedung-gedung di DKI Jakarta. Di dalam tulisan ini akan dihitung nilai bobot dari faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan gedung di DKI Jakarta terhadap ancaman gempa menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kriteria-kriteria yang dihitung dalam pembobotaan menggunakan AHP yaitu bentuk gedung, fungsi gedung, tahun desain, dan jumlah lantai. Dari hasil penghitungan pembobotan dapat digunakan untuk pembuatan peta kerentanan gedung di DKI Jakarta terhadap ancaman gempa.
KAJIAN KARAKTERISASI TUTUPAN LAHAN KAWASAN PENYANGGA SITU BOJONGSARI DAN SIMULASI OPTIMASI INFILTRASI UNTUK MENGURANGI RISIKO BANJIR
Akhmadi Puguh Raharjo
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3688
Situ di kawasan perkotaan memiliki fungsi penting dalam mengurangi dampak banjir dan menyediakan sumber air bersih di kawasan perkotaan. Laju pertumbuhan kawasan perkotaan mengancam keberlangsungan situ, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengkarakterisasi tutupan lahan pada kawasan penyangga Situ Bojongsari dan melakukan simulasi optimasi tutupan lahan menggunakan biopori untuk mengurangi risiko banjir. Data tutupan lahan didapatkan menggunakan aplikasi daring berbasis web (i-Tree Canopy) dengan enam tipe tutupan lahan yang berbeda. Estimasi tutupan lahan untuk kelas terbangun (atap dan jalan) dan untuk kelas alami (pohon, rumput atau tumbuhan bawah, badan air dan lahan terbuka) mencapai 34,70 ± 1,51% dan 65,30 ± 1,51% berturut-turut dari total 757,64 hektar luas wilayah studi. Aplikasi biopori diharapkan mampu mengurangi debit puncak sebesar 12%. Kombinasi dengan pendekatan bioteknologi lainnya diperlukan untuk lebih menurunkan debit puncak di masa yang akan datang.
KAJI CEPAT RESPONS MASYARAKAT PULAU PAGAI DI KEPULAUAN MENTAWAI TERHADAP GEMPABUMI SAMUDERA HINDIA 2 MARET 2016
Novian Andri Akhirianto
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3689
Gempabumi Samudera Hindia berkekuatan 7,8 Skala Richter yang terjadi pada tanggal 2 Maret 2016 di sekitar 682 km barat daya Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, menimbulkan berbagai reaksi spontan dari masyarakat yang terdampak. Respons masyarakat berbeda-beda terhadap gempabumi, peringatan dini, dan pemberitaan media. Kaji cepat sudah dilakukan dengan survei menggunakan kuesioner ke masyarakat Pulau Pagai secara sampling. Hasil kaji cepat respons masyarakat harapannya dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi bagi pihak-pihak terkait, dengan harapan untuk meminimalisir adanya korban akibat gempabumi dan tsunami.
MITIGASI LAHAN TERDEGRADASI AKIBAT PENAMBANGAN MELALUI REVEGETASI
E. Hanggari Sittadewi
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3690
Salah satu dampak negatif dari aktifitas penambangan adalah terjadinya degradasi lahan. Degradasi lahan ditandai dengan menurunnya kondisi fisik, kimia dan biologi. Mitigasi atau upaya pencegahan harus dilakukan agar tidak berlanjut ke kondisi yang lebih parah. Revegetasi adalah langkah yang dapat dilakukan untuk mitigasi lahan terdegradasi tersebut. Keberhasilan revegetasi tergantung pada pemilihan vegetasi yang adaptif dan cepat tumbuh sesuai dengan karakteristik tanah, iklim dan kegiatan pasca penambangan. Selain itu perbaikan kondisi fisik, kimia dan biologi lahan juga ikut menentukan keberhasilan revegetasi. Beberapa jenis tanaman cepat tumbuh (Fast Growing Plant) yang umum digunakan untuk revegetasi adalah sengon laut (Paraserianthes falcataria), akasia (Acasia mangium, Acasia crassicarpa), Lamtoro (Leucaena glauca), turi (Sesbania grandiflora), gamal (Gliricidia sepium). Selain tanaman cepat tumbuh, tanaman lokal juga menjadi pilihan untuk revegetasi. Keberhasilan revegetasi akan meningkatkan kadar bahan organik dan memperbaiki siklus hara serta meningkatkan jumlah dan aktifitas mikroba. Hal ini akan memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologi sehingga degradasi lahan pasca penambangan tidak terjadi lebih buruk.
PENETAPAN PRIORITAS LOKASI PEMANFAATAN ALAT PERINGATAN DINI LONGSOR DI JAWA BARAT
Wisyanto Wisyanto;
Ahmad Pratama Putra
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 11 No. 2 (2016): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v11i2.3691
Salah satu bagian penting dalam upaya penanggulangan bencana longsor adalah peningkatan kesiapsiagaan melalui pemasangan alat peringatan dini longsor. Pemerintah pusat berencana memasang beberapa alat peringatan dini untuk Wilayah Jawa Barat. Adanya keterbatasan alat yang mungkin diadakan, sedang jumlah lokasi yang perlu dipantau cukup banyak, maka diperlukan suatu langkah penentuan skala prioritas pemasangan terhadap kesemua daerah rawan yang ada. Analisis data terhadap kesemua kondisi titik-titik rawan longsor tersebut, serta dibantu dengan metoda skor dan pembobotan dari 8 parameter penting gerakan tanah, telah ditetapkan 3 titik rawan longsor yang akan dipasang alat peringatan dini longsor. Ketiga lokasi tersebut adalah Kampung Talegong dan Urug, Blok Babakan Sari dan Kampung Margahayu.
ANALYSIS OF ACHIEVEMENTS OF NET ZERO CARBON EMISSIONS AS INDONESIA'S REFERENCE IN FULFILLMENT OF CLIMATE CHANGE MITIGATION COMMITMENTS
Teddy Wartono Sudinda
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v16i2.5143
Indonesia plans a target of reducing carbon emissions in the Nationally Determined Contribution (NDC) of 29 percent in 2030 on a business as usual basis (BAU) and 41 percent with international assistance until 2050. NDC is a measurable commitment in dealing with the threat of climate change, the main cause of which is the increasing emission of greenhouse gases. glass/GHG to the atmosphere. The composition of GHG itself is 94 percent in the form of carbon dioxide, CO2 produced by human activities. Almost all human activities contribute 75 percent to carbon emissions because their activities tend to come from the use of fossil fuels, BBF. Taking into account the source of carbon emissions is the largest of the main human activities, then to detect the amount of carbon emissions into the atmosphere is to calculate the individual carbon footprint, carbon footprint. The results of individual carbon footprint studies in several places/regions and nationally are informed as follows: in the Puspiptek Serpong Tangerang area, an individual carbon footprint of around 3.1-6.6 tons CO2e per year was obtained, in Semarang, Central Java an individual carbon footprint value of around 3.84 tCO2e per year was obtained. , Medan, North Sumatra produces what individual carbon footprint values ??are around 2.52 tCO2e per year, at the national level the calculation of individual carbon footprints is approached by dividing the total carbon emission data published by the Ministry of Environment and Forestry in the period 2010-2018 with the total population of Indonesia at that time, we get a range of figures carbon footprint from 3.40 sd. 9.29 tCO2e per year. The highest number occurred in 2015.
CITARUM RIVER FLOOD MANAGEMENT REVIEW FROM THE ASPECT OF SPATIAL PLANNING AND ENVIRONMENNTAL CARRYING CAPACITY (CASE STUDY OF THE DAYEUHKOLOT AREA)
Teddy Wartono Sudinda
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v16i2.5144
Penambahan ruang di lahan-lahan terbuka hingga ke daerah pinggiran kota mengakibatkan bertambah luasnya lahan (dengan fungsi perkotaan) terbangun (urban built-up land). Dengan semakin tingginya tingkat pembangunan di kawasan tersebut yang tanpa terkendali (unplan) dikemudian hari akan menimbulkan dampak negatif yang dirasakan yang ditandai dengan penuruan kualitas lingkungan itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Dayeuhkolot (termasuk hulu sungai Citarum) merupakan daerah rawan banjir dan genangan dimana beberapa desanya termasuk daerah yang sering dilanda banjir. Berdasarkan telaahan maka terdapat akar pemasalahan yang menyebabkan wilayah hulu sungai Citarum setiap tahun mengalami banjir dan genangan yaitu perkembangan penggunaan lahan terbangun (built up area) selama kurun waktu 1993-2013 tahun telah mencapai 78,95% dari luas wilayah Kecamatan Dayeuhkolot 1.078,60 ha dibanding lahan non terbangun yang menyisakan luas sebesar 21,05% dari 1.078,60 ha, angka daya dukung lahan wilayah Kecamatan Dayeuh Kolot menunjukan 0,0098 sudah berada diluar ambang batas konsumsi lahan populasi antara 100.000-250.000 jiwa dan hasil analisis dari Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Kecamatan Dayeuh Kolot untuk kawasan budidaya non pertanian (kawasan terbangun) mencapai 85% dan sisanya 15% untuk kawasan budidaya pertanian.
LANDSLIDE FORENSIC AND PREDICTION USING DENDROGEOMORPHOLOGY
Iwan Gunawan Tejakusuma
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol. 16 No. 2 (2022): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29122/jstmb.v16i2.5369
Landslide forensic can be investigated using dendrogeomorophological method. This method can be used to predict future landslide on the basis of the analysis of the past landslide. However, this method has not been used in Indonesia although the prospects of research using this method is possible. Plants will respond to a landslide event where plants in landslide area can be injured, tilted, scratched, the roots are damaged or partially removed. This plant can then continue to grow and track a record of the landslide event indicated by the abrupt changes in tree rings series. The combined study between the landslide geomorphology and plant response through the pattern changes in tree rings series can reveal landslide events so that the forensics of landslide can be described. Furthhermore the landslide events can be predicted both in time space, allowing for a more precise landslide disaster mitigation, spatial planning and management.