Jurnal Teknologi Dirgantara
Jurnal Teknologi Dirgantara (Journal of Aerospace Technology) is an Indonesian accredited scientific publication that covers topics of Rocket, satellite, and aeronautics technology, as well as a spin-off from aerospace technology, such as aerodynamics, astronautics, aerospace structure, power and thermal system of satellites, flight controls. Propulsion and energetic technologies, such as propellant, rocket static-test, thermodynamics of propulsion system. Launch vehicle technology and space operations, such as satellite telecommunication systems, space payloads, and ground station technologies.
Articles
333 Documents
RAIM DALAM RANGKA MENDUKUNG IMPLEMENTASI SISTEM NAVIGASI PENERBANGAN BERBASISKAN SATELIT DI INDONESIA (RAIM IN THE IMPLEMENTATION OF SATELLITE BASED NAVIGATION IN INDONESIAN AIR TRAFFIC MANAGEMENT)
Reza Septiawan;
Bayu Sutedjo;
Afrias Sarotama
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol 10 No.1 Juni 2012
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Receiver Autonomous Integrity Monitoring (RAIM) is a method to monitor the integrity of GPS using mesurement to redundant satellites on the receiver side. Comonly 2 algorithm are used to perform RAIM, i.e. snapshot method and sequential method. In snapshot method, single set measurement of GPS signal is used, meanwhile in sequential method several sets of measurements (past and current) GPS signal are used. Therefore, the sequential method has the capacity to detect position failure due to low fault to noise ratio. The low fault to noise ratio is mostly caused by the satellite’s position at the time of position measurement. RAIM is very useful for GPS users to be able to determine the whether the GPS can give accurate position, based on its satellite’s positions, satellite’s service life or error in the receivers. Such accuracy is important especially for the use in GPS navigation sistem in Air Traffic Management (ATM). The disturbance can also be caused by ionosfer condition. In order to support the use of GPS navigation system in ATM in Indonesia, Communication Navigation Surveillance-ATM (GPS CNS-ATM) team of BPPT perform simply RAIM asessment that can be informed to the flightcrew or Air Traffic Center, to be informed via Notice To Air Men (NOTAM). The GPS signal observation is done in 5 different locations in Indonesia. Keywords: Air navigation system, GPS
SISTEM KENDALI KOOPERATIF UAV UNTUK MENDUKUNG PENGAWASAN ILLEGAL FISHING
Agus Wiyono;
Teuku Muhammad I. Hakim
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 17 No.2 Desember 2019
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30536/j.jtd.2019.v17.a3128
Terjadinya kegiatan illegal fishing sangat merugikan bagi bangsa Indonesia, terutama bagi para nelayan. Kementerian Kelautan dan Perikanan merupakan institusi pemerintah yang memiliki kewenangan dalam melakukan pengawasan dan penindakan terhadap kegiatan illegal fishing. Salah satu kegiatan pengawasan yang dilakukan selama ini adalah dengan memanfaatkan pesawat terbang berawak. Hal tersebut memiliki beberapa kelemahan. Untuk melengkapi kekurangan yang ada dalam penggunaan pesawat terbang berawak, pengoperasian UAV dapat digunakan untuk mendukung operasi pengawasan illegal fishing. Penggunaan single-UAV tidak akan sesuai tugas pengawasan dimana area yang diawasi sangatlah luas. Aplikasi multi-UAV untuk melaksanakan tugas semacam ini akan cukup efektif. Untuk mewujudkannya suatu system kendali kooperatif telah dibangun. Pada tahap pertama, sistem kendali dibangun dan diuji dalam lingkungan virtual yaitu melalui simulasi. Perangkat lunak yang digunakan untuk membangun system kendali adalah: Matlab/Simulink untuk membangun sistem kendali terbang dan X-Plane 9 digunakan untuk pemodelan matematis pesawat dan visualisasi dinamika pesawat. Metoda kooperatif yang digunakan adalah leader-follower. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa simulasi multi-UAV dengan menggunakan Matlab/Simulink dan X-Plane telah berhasil digunakan untuk mengendalikan 3 UAV mengikuti topologi kooperatif.
ANALISIS KETINGGIAN ORBIT SATELIT LAPAN-TUBSAT SETELAH SATU TAHUN BEROPERASI
Chusnul Tri Judianto
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol 7, No.2 Desember (2009)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Satelit LAPAN-TUBSAT merupakan salah satu program unggulan pengembangan satelit eksperimen berskala nasional yang dilakukan oleh LAPAN. Sejak diluncurkan tanggal 10 Januari 2007, kini telah mengorbit selama 1 tahun lamanya. Pengontrolan data status kesehatan satelit (house keeping data) terus dilakukan setiap harinya dengan mengamati semua komponen utama satelit seperti batery, solar panel, star sensor, camera sony dan kappa, gyroscope, sistem komunikasi payload S band 2220 MHz dan TTC UHF 437,325 MHz. Dari data TTC yang diperoleh ternyata setelah satu tahun mengorbit, telah terjadi perubahan ketinggian orbit satelit LAPAN-TUBSAT dari ketinggian orbitnya saat pertama diluncurkan. Peluruhan ini diakibatkan oleh pengaruh kondisi lapisan teratas atmosfir. Dalam tulisan ini akan dijelaskan fenomena peluruhan orbit satelit LAPAN-TUBSAT setelah satu tahun operasi dengan menganalisis data keplerian atau 2-line element yang digunakan.
PEMROGRAMAN CAD UNTUK PEMODELAN BENTUK PERMUKAAN SAYAP BURUNG (CAD PROGRAMING FOR MODELING THE SHAPE OF BIRD WING SURFACES)
Rais Zain;
Sulistyo Atmadi;
Iqbal Pamungkas;
Fajar Suryono
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 12 No. 1 Juni 2014
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kemampuan terbang sayap burung sudah sejak lama dipelajari untuk pengembangan teknologi penerbangan dan masih terus dipelajari sampai saat ini. Jenis burung soaring seperti Albatros, secara alamiah sayapnya mempunyai bentuk yang sangat komplek. Sekalipun pada saat terbang melayang, bentuk sayapnya memiliki banyak parameter yang bervariasi secara halus dengan bentuk yang berkelok mulai dari pangkal sampai ke ujung sayapnya. Pada paper ini keindahan bentuk permukaan sayap burung dipelajari yang kemudian secara sistematik dikembangkan suatu teknik untuk merepresentasikan variasi parameter bentuk sayap seperti;bentuk potongan sayap, sudut swept, sudut dihedral, sudut twist, dan panjang chord. Pemrograman CAD diterapkan pada pembuatan model permukaan sayap dimana CATIA V5 dipilih karena kemampuannya yang andal dalam memodelkan bentuk permukaan dengan akurasi yang tinggi. Sejumlah fungsi dan obyek milik Catia diakses melalui sarana Component Object Models (COMs) dengan menggunakan Microsoft Visual Basic.Net. Studi ini menghasilkan suatu program komputer yang mampu merepresentasikan bentuk permukaan sayap burung secara otomatis dan dilengkapi dengan kemampuan pengaturan parameternya. Program komputer ini dapat dipakai sebagai alat bantu untuk desain sayap burung. Bahkan dapat digunakan sebagai referensi untuk keperluan analisa aerodinamika dan struktur sayap.Kata kunci: Permukaan Sayap Burung, Pemrograman CAD, Catia V5, Visual Basic
SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 200 mm
Ahmad Jamaludin Fitroh;
- Saeri
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 8 No.1 Juni 2010
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
One of rocket movement types is spin maneuver. The rocket rotation towards the axisymmetric axis is needed so the rocket can move straight in it’s flight line. The object of spin simulation and calculation in this work is the Rocket of LAPAN with the diameter of 200 mm. The simulation and calculation were done for 0.6, 1.0, 2.0, and 3.0 Mach of flight speed. The simulation and calculation results show that spin and drag of fin will increase while the flight speed is increasing. The spin and drag of fin for 3.0 Mach of flight speed are 36 rps and 16.6 kg respectively
PENGGUNAAN BINDER HTPB BERENERGI TINGGI UNTUK MENINGKATKAN ENERGETIK PROPELAN KOMPOSIT
Luthfia Hajar Abdillah;
Heri Budi Wibowo;
Kendra Hartaya
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 16 No. 1 Juni 2018
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30536/j.jtd.2018.v16.a2974
Untuk mendapatkan performa propelan yang lebih energetik, penelitian terbaru menunjukkan bahwa diperlukan penggunaan material-material yang bersifat lebih energetik, misalnya penggunaan binder energetik. Pengawasan yang ketat atas peredaran material energetik seperti ini cukup menyulitkan untuk mendapatkan material-material tersebut. Oleh karena itu kemandirian untuk memiliki material tersebut sudah seharusnya menjadi perhatian. Binder propelan komposit yang paling banyak digunakan saat ini adalah HTPB yang bersifat non-energetik. Untuk membuatnya lebih berenergi tinggi dapat dilakukan dengan menambahkan gugus yang bersifat energetik seperti gugus nitro, namun tetap aman digunakan (bersifat stabil). Tulisan ini mengkaji potensi konversi binder HTPB menjadi nitro-HTPB yang bersifat energetik, meliputi material, peralatan, dan metode yang dapat diaplikasikan di Indonesia. Prosesnya adalah nitrasi HTPB menjadi nitro-HTPB. Berdasarkan kajian energetiknya, nitro-HTPB memiliki potensi untuk meningkatkan sifat energetik propelan padat komposit. Metode proses pembuatan nitro-HTPB yang paling efektif dan optimal adalah proses nitrasi dengan menggunakan bahan sodium nitrit pada suhu rendah (0oC).kata kunci : HTPB, nitro-HTPB, binder energetik, propelan
MEMPREDIKSI FREKUENSI FUNDAMENTAL PADA MODEL SATELIT INASAT.1 PADA SUMBU X DENGAN MENGGUNAKAN METODA SPEKTRUM DAYA
Daryono Restu Wahono
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol 2, No.2 Desember (2004)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30536/j.jtd.2004.v2.a799
The fundamental frequency of UUT can be predicted using power spectral density method with random signal input source. The test execution of INASAT 1 satellite shall meet the following standard of Indian Space Research Organisation (ISRO) in Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) auxiliary satellite user's manual a fundamental frequency in Lateral axis X 45 Hz. these values are with fixed boundary conditions at the spacecraft mounting interface and include the contribution of separation system. The test result of LAPAN satellite model INASAT.1 for X axis is predicted for fundamental frequency. It was detected that resonance frequency started at 80 Hz and peak accured at 120 Hz
RANCANG BANGUN TABUNG KOMPOSIT TEKANAN TINGGI UNTUK PROPELAN ROKET CAIR KOROSIF (DESIGN OF COMPOSITE OVERWRAPPED PRESSURE VESSEL FOR CORROSIVE LIQUID ROCKET PROPELLANT)
Arif Nur Hakim;
Panataran Sitinjak;
Taufiqur Rochman
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 13 No. 2 Desember 2015
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Rancang bangun tabung komposit tekanan tinggi (COPV) telah dilakukan untuk memperkecil berat struktur tabung propelan wahana roket cair. Tekanan operasi yang diharapkan dari tabung ini adalah 150 bar dan harus mampu menahan asam nitrat yang bersifat sangat korosif. Simulasi numerik dilakukan untuk memprediksi kekuatan struktur tabung SS304. Stainless steel SS304 dipilih sebagai tabung liner karena karakteristik ketahanan yang bagus terhadap korosi dan biaya yang relatif murah. Tabung liner kemudian dilapisi dengan serat karbon dan resin epoxy EPR 174 secara manual dengan metode hand lay up. Uji hidrostatik dilakukan untuk menguji kekuatan tabung dan uji X-ray digunakan untuk menganalisa kondisinya setelah uji hidrostatik. Berat riil tabung komposit adalah 9,1 kg, atau 67% dari berat tabung yang menggunakan SS304 setebal 5,5 mm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tabung komposit tersebut dapat menahan tekanan statis hingga 200 bar, namun masih ada sedikit kebocoran. Stretching dilakukan pada pembebanan pertama dengan menaikkan tekanan secara perlahan-lahan sehingga tabung akan meregang secara tepat dan menjaga komposit tetap terikat pada tabung liner dan dapat mencegah kegagalan struktur hingga tekanan 200 bar.Kata kunci:Tabung propelan cair, Korosif, Komposit, Liner
RANCANGAN AWAL DAN STRATEGI PENGEMBANGAN RUDAL JELAJAH LAPAN
- Triharjanto R.H.;
- Sofyan E.;
- Putro I.E.;
- Riyadl A.;
- Mariani L.
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol 5, No.2 Desember (2007)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The paper describes academic exercise of designing a cruise missile for Indonesian Armed Forces. The missile is inteded to deliver 300 kg ordinance to the distance of 1000km. The baseline design yield a vehicle with diameter of 530 mm, total length (with booster) of 4,6 m, and weight of 1300 kg. The vehicle has solid rocket booster and turbojet sustainer engine. The vehicle will have the capacity to fly to the pre-programmed target area autonomously by the use of its GNSS-INS system and horning to their target by the use of its optical target seeker or horning radar. The paper also discusses the strategy to develop the aforementioned missile. The design and the development strategy consider the limitation that Indonesian resources have in method involves capacity survey. The study resulted into missile development steps that grow in size and complexity. The milestones of the development are establishment of test vehicle with diameter of 100 mm for vehicle dynamic survey, test vehicle with diameter of 150 mm to study the deployable wing, handling of turbojet system and autopilot qualification, and test vehicle with diameter of 320 mm for seeker and dummy warhead. Keywords: Prelimenery design, guided missile.
DEKOMPOSISI TERMAL PROPELAN KOMPOSIT BERBASIS AMONIUM PERKLORAT/HYDROXY TERMINATED POLYBUTADIENE (AP/HTPB) (THE THERMAL DECOMPOSITION ANALYSIS OF AMMONIUM PERCHLORATE/HYDROXYTERMINATED POLYBUTADIENE (AP/HTPB) COMPOSITE SOLID PROPELLANT)
Wiwiek Utami Dewi;
Yulia Azatil Ismah
Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 14 No. 1 Juni 2016
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space - LAPAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30536/j.jtd.2016.v14.a2944
Thermal decomposition process of AP/HTPB solid propellant type RUM, 450 and 1220 were investigated by DTG60 (Differential Thermogravimetric) with operational parameters: temperature 30 – 400oC, nitrogen flow rate 50 ml/min, and heating rate 2.5 C/min. Thermal decomposition analysis will be the first step of decomposition kinetics research in determining life time of the propellant. TGA curve of propellant RUM was found to be two staged meanwhile the thermal decomposition of propellant 450 and 1220 has become one staged. The DTA curve/thermogram of propellant RUM show the formation of intermediate product before full-length decomposition. Unlike propellant RUM, DTA curves of propellant 450 and 1220 do not show the formation of intermediate product. Decomposition process of propellant 450 and 1220 accelerate by Al presence. The difference between AP modal on propellant 450 and 1220 show insignificance effect to the amount of decomposition energy consumption. ABSTRAKProses dekomposisi termal propelan padat AP/HTPB jenis RUM, 450 dan 1220 telah dianalisis menggunakan Differential Thermogravimetric 60 (DTG) dengan parameter operasi: suhu 30 - 400⁰C, atmosfer nitrogen berlaju alir 50 ml/menit, dan laju pemanasan 2,5⁰C/menit. Analisis dekomposisi termal adalah langkah awal penelitian kinetika dekomposisi propelan dalam menentukan life time propelan. Kurva TGA menunjukkan bahwa propelan RUM mengalami proses dekomposisi dua tahap sedangkan propelan 450 dan 1220 mengalami proses dekomposisi satu tahap. Kurva DTA/ termogram proses dekomposisi propelan RUM menunjukkan adanya pembentukan produk intermediate sebelum akhirnya terdekomposisi sempurna. Berbeda dengan propelan RUM, termogram propelan 450 dan 1220 tidak menunjukkan terbentuknya produk intermediate. Proses dekomposisi propelan 450 dan 1220 terakselerasi oleh keberadaan Al. Perbedaan modal AP pada propelan 450 dan 1220 ternyata tidak begitu berpengaruh pada nilai konsumsi energi proses dekomposisi.