cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2021)" : 5 Documents clear
DETEKSI OTOMATIS DAERAH TERANG DI SISI JAUH MATAHARI UNTUK PREDIKSI KEMUNCULAN BINTIK Muhamad Zamzam Nurzaman; Johan Muhamad; Rasdewita Kesumaningrum; Santi Sulistiani; Ayu Dyah Pangestu
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v18.a3471

Abstract

Active regions that responsible to flare occurrences often appear at east limb as mature active regions. Therefore, we use EUVI instrument onboard STEREO-A spacecraft to observe far-side extreme ultra violet (EUV) for the automatic detection system. The procedure running on the system is by combining the latest STEREO/EUVI and the SDO/AIA data into a single composite heliographic coordinate system map. Active regions are detected based on their intensities on the heliographic map and their duration after they are detected. The program has successfully detected far-side bright-regions in an automatically  near real-time system. 85 % of active regions that have been detected for more than 4 days appear in the east limb as sunspots. On the other hand, bright-regions that have detected between 2-3 days develop to be plagues or decay before reaching the east limb. We find that the different between the mean intensities of the bright-regions that develop to sunspot and no-sunspot regions is about 200 DN//s, which is insignificant to determine the threshold. 
DETEKSI OTOMATIS DAERAH AKTIF CITRA SDO/HMI MAGNETOGRAM MATAHARI MENGGUNAKAN ADAPTIVE CENTROID CLUSTERING Ahmad Zulfiana Utama; Tiar Dani
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v18.a3499

Abstract

Peristiwa flare terjadi pada daerah aktif di Matahari dapat teramati melalui citra yang dihasilkan oleh satelit Solar Dynamics Observatory (SDO). Citra Helioseismic and Magnetic Imager(HMI)-Magnetogram SDO menampilkan informasi area medan magnet pada permukaan matahari yang direpresentasikan oleh area putih (polaritas positif) dan area hitam (polaritas negatif). Daerah aktif yang muncul dalam citra magnetogram merupakan struktur berpasangan antara polaritas positif dan negatif. Teknik pengolahan citra digital digunakan untuk mendeteksi dan mengelompokan daerah aktif citra HMI-Magnetogram dari fase preprocessing, pengelompokan kluster lokal kontur hitam/putih, pengelompokan daerah aktif, dan ekstraksi parameter luas daerah aktif. Algoritma Adaptive Centroid Clustering telah dikembangkan untuk mengelompokan daerah aktif menggunakan titik data dipusat cluster (centroid) yang terdeteksi dan mengelompokannya berdasarkan jarak serta perpotongan garis batas area. Pengujian pengelompokan daerah aktif menggunakan 12 data historis peristiwa flare kelas X dan M yang terekam dan diuji menggunakan metriks evaluasi area-based accuracy. Metriks evaluasi  menunjukan bahwa algoritma ACC dapat mendeteksi daerah aktif pada citra HMI-Magnetogram. Selain itu, setiap daerah aktif yang terdeteksi pada 12 citra dapat diekstraksi parameter luasnya dan diperoleh bahwa luas daerah aktif terbesar memiliki korelasi dengan daerah aktif penghasil flare.
PERUBAHAN KARAKTERISTIK CURAH HUJAN JANGKA PANJANG DI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 1921-2010 Muhammad Fikri Sigid; Muhammad Rais Abdillah; Zadrach Leudofij Dupe
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2021.v18.a3555

Abstract

Fenomena perubahan iklim berdampak besar pada sistem iklim di Bumi yang salah satunya ditunjukkan pada perubahan karakteristik curah hujan. Berbeda dengan respons temperatur yang cenderung homogen, respons curah hujan terhadap perubahan iklim lebih kompleks karena presipitasi sangat dipengaruhi oleh karakter sirkulasi dan topografi regional. Di sisi lain, variabilitas iklim jangka panjang seperti Interdecadal Pacific Oscillation (IPO) juga dapat menyebabkan perubahan karakteristik curah hujan global. Namun, dampak perubahan iklim dan IPO terhadap hujan di Indonesia, khususnya Jawa Barat, belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini menganalisis perubahan karakteristik curah hujan jangka panjang di Provinsi Jawa Barat pada periode 1921-2010 dengan mempertimbangkan faktor perubahan iklim dan variabilitas interdecadal. Berdasarkan tren linier, curah hujan di Provinsi Jawa Barat meningkat sebesar 1,61 mm/dekade. Semua periode baik DJF, MAM, JJA, maupun SON, menunjukkan peningkatan curah hujan, namun peningkatan yang signifikan secara statistik hanya terjadi pada musim pra-monsun (SON) yaitu sebesar 3,70 mm/dekade. Penyebab lemahnya tren tersebut adalah curah hujan di Jawa Barat bervariasi kuat secara interdecadal (standar deviasi 10,38 mm). Variabilitas ini berkorelasi positif secara signifikan dengan indeks IPO; menunjukkan bahwa telekoneksi akibat variabilitas internal dari Samudra Pasifik berpengaruh besar terhadap tren hujan di Jawa Barat. Anomali suhu muka laut dan pola sirkulasi angin permukaan terlihat menyebabkan perubahan hujan tersebut sebagai akibat dari sinyal-sinyal IPO yang bervariasi secara spasial. Dalam studi perubahan iklim terhadap curah hujan di Indonesia, diperlukan perhatian khusus pada variabilitas-variabilitas interdecadal agar tren dan proyeksi iklim yang muncul dapat dijelaskan dengan baik.
EVALUASI SKEMA PARAMETERISASI MODEL WRF UNTUK PENGAMATAN KEMUNCULAN AWAN DARI SATELIT HIMAWARI-8 DI ATAS INDONESIA Farid Lasmono; NFN Risyanto; Ibnu Fathrio
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2021.v18.a3249

Abstract

Berbagai kombinasi skema parameterisasi kumulus dan mikrofisika telah diimplementasikan pada model WRF untuk menemukan skema terbaik kemunculan awan saat siang hari di atas Indonesia. Parameterisasi dilakukan dengan melakukan simulasi model ensemble resolusi tinggi selama sebulan menggunakan delapan skema kumulus dan empat skema mikrofisika. Selanjutnya hasil simulasi dibandingkan dengan data awan yang diturunkan satelit Himawari-8 pada tiga level ketinggian. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa kombinasi skema kumulus Kain-Fritsch dan skema tanpa kumulus/eksplisit, serta skema mikrofisika WSM3 menghasilkan korelasi yang cukup tinggi untuk kemunculan awan berdasarkan perhitungan nilai skill (score skill) dan analisa spasial. Secara umum, korelasi kemunculan awan luaran WRF dan Himawari-8 lebih baik pada awan tinggi daripada awan menengah atau rendah, dan hasil model cenderung overestimate di semua level ketinggian.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK CO-ROTATING INTERACTION REGION GEOEFEKTIF Anton Winarko; Fitri Nuraeni
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2021.v18.a3512

Abstract

Co-rotating Interaction Region (CIR) dipicu oleh interaksi angin matahari berkecepatan tinggi dengan angin Matahari yang lebih lambat. Diketahui bahwa CIR merupakan salah satu penyebab terjadinya badai geomagnet. Pada studi ini diidentifikasi dan dianalisis badai geomagnet yang dipicu CIR pada periode tahun 2008 – 2019 (Solar Cycle, SC 24). Diperoleh distribusi statistik badai geomagnet CIR dan parameter-parameter CIR pada angin Matahari. Analisis korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antarparameter. Hasil studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 176 kejadian badai geomagnet pada SC ke-24, sebanyak 48 (sekitar 27%) badai geomagnet diakibatkan oleh CIR. Kebanyakan badai geomagnet yang dipicu CIR ini berada pada level badai lemah. Meskipun plasma cepat (high speed streamer, HSS) adalah pemicu utama CIR, parameter komponen selatan medan magnet antarplanet dan medan listrik memegang peranan yang lebih krusial dibandingkan kecepatan angin Matahari pada tingkat gangguan badai geomagnet CIR.

Page 1 of 1 | Total Record : 5