cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 179 Documents
ANALISIS MATHEMATIK FRAKTAL UNTUK KLASIFIKASI MENGGUNAKAN CITRA PENGINDERAAN JAUH SPOT-4 (FRACTAL MATHEMATIC ANALYSIS FOR CLASSIFICATION USING SPOT-4 REMOTE SENSING IMAGE) Muchlisin Arief
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 11 No. 1 Juni 2014
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1222.333 KB)

Abstract

Fraktal adalah seperangkat matematika yang biasanya menampilkan pola kemiripan dirinya sendiri. Fraktal memiliki dua karakteristik dasar yang cocok untuk pemodelan topografi permukaan bumi, yaitu: kesamaan diri dan keacakan. Aplikasi geometri fraktal dalam penginderaan jauh sangat bergantung pada estimasi dimensi fraktal non integer (D). Dimensi fraktal dihitung menggunakan model Luas Permukaan Prisma Segitiga. Dimensi fraktal digunakan untuk mengamati pengulangan spasial suatu permukaan. Pada penelitian ini, dimensi fraktal digunakan untuk mengamati ketinggian relatif suatu bangunan/obyek dipermukaan di wilayah perkotaan. Pada makalah ini dijelaskan analisis dimensi fraktal non integer untuk menentukan ketinggian relatif suatu obyek terhadap lainnya, kemudian dilakukan pengelompokan ketinggian obyek dilakukan dengan metode thresholding. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi fraktal dari obyek homogen lebih kecil dari pada obyek/permukaan yang heterogen (permukaan kasar). Berdasarkan dimensi fraktalnya, obyek/bangunan di kota Jakarta (seluas 1600 ha) dapat dibagi dalam 3 klas, yaitu sangat tinggi, tinggi dan agak tinggi dan terdapat bangunan sangat tinggi seluas kurang lebih 178 ha dengan windows 9 x 9 dan kurang lebih 30 ha dengan windows 17 x 17. Bagaimanapun juga, penelitian ini merupakan tahap awal dalam mengkuantifikasi interpretasi struktur dan kompleksitas spasial citra penginderaan jauh menggunakan Dimensi Fraktal. Oleh karena itu, penelitian perlu ditindak lanjuti untuk membandingkannya dengan pengukuran dilapangan dan menggunakan data satelit dengan resolusi sangat tinggi (seperti IKONOS)Kata kunci: Dimensi Fraktal, Klasifikasi, Pengambangan, SPOT-4
METODE DETEKSI TERUMBU KARANG DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT SPOT DAN PENGUKURAN SPEKTROFOTOMETER STUDI KASUS: PERAIRAN PANTAI RINGGUNG, KABUPATEN PESAWARAN (DETECTION METHOD OF CORAL REEF USING SPOT SATELLITE DATA AND MEASUREMENT SPEKTROFOTOMETER CASE STUDY: COASTAL WATERS RINGGUNG, DISTRICT PESAWARAN) Muchlisin Arief
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 10 No.2 Desember 2013
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.731 KB)

Abstract

Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang menakjubkan. Ekosistem ini menyediakan barang dan jasa, termasuk perlindungan dari badai tropis, perikanan karang, peluang untuk pariwisata dan pengembangan obat-obatan baru. Terumbu karang merupakan sumber daya kelautan yang sensitif terhadap perubahan lingkungan (perubahan kualitas air), oleh karena itu, perlu untuk mengidentifikasi status dan memantau perubahannya sesering mungkin. Informasi ini sangat penting untuk tujuan konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini difokuskan pada identifikasi terumbu karang dengan mengkorelasikan informasi spektral yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan menggunakan spetrofotometer dengan informasi band spektral satelit penginderaan jauh SPOT. Berdasarkan berbagai percobaan, fungsi korelasi yang mempunyai nilai koefisien korelasi terbesar adalah fungsi yang diperoleh antara penjumlahan band (band1 dan band3), kemudian fungsi yang diperoleh digunakan untuk memproses band1. Berdasarkan hasil analisis, metode/algorithma yang telah dibangun dapat mendeteksi terumbu karang dangkal/terumbu karang-1 (kedalaman kurang dari 1 meter) dan terumbu karang dalam/ terumbu karang-2. Hasil pemrosesan menunjukkan bahwa terumbu karang-2 terdapat disepanjang Pantai Ringgung, sedangkan didasarkan pada perhitungan disekitar Pulau Pegal terdapat 49 ha terumbu karang-1, dan 116 ha terumbu karang-2, serta terumbu karang disekitar gosong (pasir yang timbul dipermukaan air dengan luas 320 m2), terdapat terumbu karang-1 seluas 12,38 ha dan 2,33 ha dan terumbu karang-2 seluas kurang lebih 42 ha.Kata kunci: Terumbu karang, Korelasi, Ringgung, Spektrofotometer, SPOT
KAJIAN KOREKSI TERRAIN PADA CITRA LANDSAT THEMATIC MAPPER (TM) Bambang Trisakti; Mahdi Kartasasmita; - Kustiyo; Tatik Kartika
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol 6, (2009)
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3351.106 KB)

Abstract

Terrain correction is used to minimize the shadow effect due to variation of earth`s topography. So, the process is very useful to correct the distortion of the pixel value at the mountainous area in the satellite image. The aim of this paper is to study the terrain correction process and its implementation for Landsat TM. The algoritm of the terrain correction was built by determining the pixel normal angle which is defined as an angle between the sun and surface normal directions. The calculation of the terrain correction needs the information of sun zenith angle, sun elevation angle (obtained from header data), pixel slope, and pixel aspect derived from digital elevation model (DEM). The C coefficient from each band was determined by calculating the gradient and the intercept of the correlation between the Cos pixel normal angle and the pixel reflectance in each band. Then, the Landsat TM image was corrected by the algorithm using the pixel normal angle and C coefficient. C Coefficients used in this research were obtained from our calculation and from Indonesia National Carbon Accounting System (INCAS). The result shows that without the C coefficient, pixels value increases very high when the pixel normal angle approximates 900. The C coefficient prevents that condition, so the implementation of the C coefficient obtained from INCAS in the algorithm can produce the image which has the same topography appearance. Further, each band of the corrected image has a good correlation with the corrected band from the INCAS result. The implementation of the C coefficient from our calculation still needs some evaluation, especially for the method to determine the training sample for calculating the C coefficient. Keywords: Terrain correction, Pixel normal angle, C coefficient, Landsat TM
KLASIFIKASI MULTIKSKALA UNTUK PEMETAAN ZONA GEOMORFOLOGI DAN HABITAT BENTIK MENGGUNAKAN METODE OBIA DI PULAU PARI (MULTISCALE CLASSIFICATION FOR GEOMORPHIC ZONE AND BENTHIC HABITATS MAPPING USING OBIA METHOD IN PARI ISLAND) Ari Anggoro; Vincentius Paulus Siregar; Syamsul B. Agus
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 14 No. 2 Desember 2017
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.544 KB) | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.1017.v14.a2622

Abstract

This study used multiscale classification and applied object-based image analysis (OBIA) for geomorphic zone and benthic habitats mapping in Pari islands. An optimized segmentation was performed to get optimum classification result. Classification methods for level 1 and 2 used contextual editing classification and for level 3 used support vector machines classifier. The results showed that overall accuracy for level 1 was 97% (reef level), level 2 was 87% (geomorphic zone), and level 3 was 75% (benthic habitats). Accuracy achieved by support vector machines classification was performed only in level 3 and optimum scale value achieved was 50 in compare with other scale values, i.e. 5, 25, 50, 75, 95. OBIA methods can be used as an alternative for geomorphic zone and benthic habitats map. Abstrak Penelitian ini menggunakan klasifikasi multiskala dan penerapan analisis citra berbasis obyek (OBIA) untuk pemetaan zona geomorfologi dan habitat bentik di Pulau Pari. Analisis berbasis obyek dilakukan optimasi pada proses segmentasi untuk mendapatkan hasil klasifikasi optimal. Metode klasifikasi pada level 1 dan 2 menggunakan klasifikasi contextual editing dan pada level 3 menggunakan klasifikasi Support Vector Machines (SVM). Hasil penelitian ini menunjukkan akurasi keseluruhan pada level 1 yaitu 97% (reef level), level 2 yaitu 87% (Geomorphic level), dan level 3 yaitu 75% (benthic habitat level). Klasifikasi SVM hanya diterapkan pada level 3 dan nilai skala optimum sebesar 50 dari percobaan nilai skala yaitu 5, 25, 50, 75, 95. Metode OBIA dapat digunakan sebagai alternatif untuk pemetaan zona geomorfologi dan habitat bentik.
KAJIAN PEMANFAATAN DATA ALOSPALSARDALAM PEMETAAN KELEMBABAN TANAH (THE STUDY OF ALOS PALSAR DATA APPLICATION FOR SOIL MOISTURE ESTIMATION) Indah Prasasti; Ita Carolita; A. E. Ramdani; Idung Risdiyanto
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 9 No. 2 Desember 2012
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.16 KB)

Abstract

Pemetaan kelembaban tanah mempunyai peran penting dalam bidang hidrologi, meteorologi, dan pertanian. Oleh karena itu, pengembangan metode identifikasi kelembaban tanah yang praktis, efisien dan handal untuk areal yang luas menjadi sangat penting. Pada penelitian ini dilakukan kajian tentang identifikasi kelembaban tanah menggunakan penginderaan jauh gelombang mikro. Sebaran kelembaban tanah dapat mencerminkan karakteristik permukaan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan citra dua polarisasi (VV dan HH) dari data polarimetrik-ALOS PALSAR dalam pemetaan kelembaban tanah dan mengidentifikasi karakteristik hambur-balik dan konstanta dielektrik kelembaban tanah beberapa jenis penutup lahan di wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya. Kelembaban tanah (mv) diestimasi berdasarkan persamaan Top et al. (1980), yang menggunakan nilai konstanta dielektrik (ε') sebagai peubahnya, dimana konstanta dielektriknya dihitung berdasarkan persamaan yang dikembangkan oleh Dubois et al. (1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa data polarisasi ALOS-PALSAR diidentifikasi sebagai penduga yang sangat baik dalam memetaan kelembaban tanah. Pada kedalaman tanah 0–5 cm, rata-rata kelembaban tanah (% volume) untuk lahan bervegetasi, lahan bera, lahan terbuka, dan lahan terbangun secara berturut-turut adalah 25%, 20%, 24.9%, dan 23.7%. Pada permukaan lahan dengan kelembaban yang tinggi, nilai hambur-balik polarisasi VV lebih sensitif dibandingkan dengan polarisasi HH. Konstanta dielektrik tinggi mencerminkan kelembaban tanah yang tinggi. Kekasaran permukaan juga berpengaruh terhadap akurasi nilai estimasi kelembaban tanah. Kata Kunci: Kelembaban Tanah, SAR, ALOS-PALSAR, Polarisasi, Hambur-balik
Halaman Depan Vol. 15 No. 2 Desember 2018 Redaksi Jurnal
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 15 No. 2 Desember 2018
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.351 KB) | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.2018.v15.a3000

Abstract

PERBANDINGAN HASIL KLASIFIKASI LIMBAH LUMPUR ASAM DENGAN METODE SPECTRAL ANGLE MAPPER DAN SPECTRAL MIXTURE ANALYSIS BERDASARKAN CITRA LANDSAT - 8 (THE COMPARISON OF CLASSIFICATION OF ACID SLUDGE WITH SPECTRAL ANGLE MAPPER AND SPECTRAL MIXTURE ANALYSIS METHOD BASED ON LANDSAT-8) Sayidah Sulma; Junita Monika Pasaribu; Hana Listi Fitriana; Nanik Suryo Haryani
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 12 No. 2 Desember 2015
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.849 KB)

Abstract

Pemanfaatan data penginderaan jauh merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk deteksi daerah tercemar limbah B3 secara cepat dengan wilayah yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasi daerah tercemar lumpur asam menggunakan data Landsat 8 dengan metode Spectral Angle Mapper (SAM), kemudian membandingkan hasil klasifikasi SAM menggunakan spektral referensi berdasarkan pengukuran spektrometer dengan spektral yang diperoleh dari endmember citra. Tingkat akurasi klasifikasi SAM dengan spektral referensi berdasarkan endmember citra adalah sebesar 66,7 %, sedangkan dengan menggunakan referensi spektrometer hanya mencapai 33,3 %. Tingkat akurasi klasifikasi Spectral Mixture Analysis (SMA) dengan spektral referensi berdasarkan endmember citra adalah sebesar 62,5 %. Faktor yang mempengaruhi rendahnya akurasi adalah perbedaan yang signifikan antara profil spektral yang diperoleh dari spektrometer dengan spektral Landsat-8 akibat perbedaan spasial dan ketinggian.Kata Kunci: Limbah lumpur asam, Spectral Angle Mapper, Spectral Mixture Analysis, Landsat-8
PENGEMBANGAN LAYANAN WEB SPASIAL INFORMASI PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH (DEVELOPMENT OF SPATIAL WEB SERVICES FOR REMOTE SENSING APPLICATION INFORMATION) nFN Sarno
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 14 No. 1 Juni 2017
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.889 KB) | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.2017.v14.a2546

Abstract

ABSTRACT Dissemination implementation of remote sensing application information through the management of  National Earth Observation System at the Remote Sensing Application Center of National Institute of Aeronautics and Space could be achieve by expanding and completing the dissemination mechanism, from the traditional way  to  spatial web services.  The service is a standard defined by the Open Geospatial Consortium, which have enabled the dissemination implementation mechanisms could more interoperable and helpfully in organizing the implementation function of data application and remote sensing information dissemination. This research aims to analyze and provide development methods of spatial web services for remote sensing application information. The research methods include setting the initial requirements, programming a map file and spatial web services testing. The results showed that the spatial web services based on University of Minnesota Mapserver has been successfully implemented and tested using real web map service client Google Map and QGIS Desktop in case study forest cover change in Indonesia.  ABSTRAKPelaksanaan diseminasi informasi pemanfaatan penginderaan jauh melalui pengelolaan Sistem Pemantauan Bumi Nasional di Pusat Pemanfaatan Pemanfaaatan Penginderaan Jauh,  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional dapat dicapai dengan memperluas dan melengkapi mekanisme pelaksanaan diseminasi cara tradisional dengan pengembangan layanan web spasial.  Layanan tersebut merupakan standar yang didefinisikan oleh Open GeoSpasial Consortium, yang memungkinkan mekanisme pelaksanaan diseminasi lebih interoperabilitas dan sangat membantu dalam penyelenggaraan fungsi pelaksanaan pemanfaatan data dan diseminasi informasi pemanfaatan penginderaan jauh.  Penelitian ini bertujuan menganalisis dan menyediakan metode pengembangan layanan web spasial informasi pemanfaatan penginderaan jauh. Metode penelitian meliputi pengaturan persyaratan awal, pemrograman file map dan pengujian layanan web spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan web spasial berbasis perangkat lunak University of Minnesota Mapserver telah berhasil di implementasikan dan dilakukan pengujian menggunakan klien layanan web map nyata Google Map dan QGIS Desktop melalui studi kasus infromasi perubahan tutupan hutan di Indonesia.
KAJIAN PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN DATA SATELIT LANDSAT DI KABUPATEN KENDAL Muchlisin Arief; Gathot Winarso; Teguh Prayogo
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol 8 (2011)
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.382 KB)

Abstract

Indonesia has the second longest of coastal line in the world. The change of coastal line is generated by sediment transport from the upland and the sea or generated by coming energies of sea current and wave. Coastal line change have been analyzed by multi-temporal analysis using Landsat Series Satellite (MSS, TM and ETM+). Visual interpretation of RGB 542 was done to identify coastal line, and using other combination if necessary. Based on analysis of Landsat data the coastal lines length on 1972, 1991, 2001 and years 2008 was 43.172 m, 52.646 m, 50.171 m, 53.827 m, respectively, and the change of coastal lines occurred dominant along the capes and the bays and the other places was not significantly changed. Based on Landsat satellite data analysis, in 1972 to 1991 period the abrasion and accretion occurred on 765,14 ha and 356,00 ha area, in 1991 to 2001 period were 90,64 ha and 261,89 ha, in period 2001 to 2008 were 111,67 ha and 80,37 ha. Keys word: Landsat, Coastal line change, Erosion, Sedimentation, Abrasion and Accretion 
PENGOLAHAN GEOLOKASI PRODUK DATA GAS RUMAH KACA (GRK) DARI SATELIT SUOMI NPP ATMS DAN CRIS DENGAN METODE INTERPOLASI RADIAL BASIS FUNCTION Andy Indradjad; Haris Suka Dyatmika; Noriandini Dewi Salyasari; Liana Fibriawati; Masnita Indriani
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 15 No. 1 Juni 2018
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.902 KB) | DOI: 10.30536/j.pjpdcd.2018.v15.a2798

Abstract

Geolocation processing to produce spatial greenhouse gases data products consisting of CH4, CO2 and N20 gases has been carried out systematically. The greenhouse gases data are derived from Enviomental Data Record (EDR) Suomi NPP Satellite CrIS and ATMS Sensor products. During this process, there is an obstacle while performing the information data of greenhouse gases concentrations, due to the result of systematic processing files from EDR are still in netcdf format, so that it could not be distributed to users as they expected. The unique of  unlimited netcdf format is that, it displays only numeric values with irregular resolution, unregistered and incompatible with commonly processing data software. This research aims to produce geolocation processing module in order to provide information of greenhouse gases data spatially by using coordinate pixel registration method into image data, convert Digital Number (DN) value with scale corresponding to Indonesian region and interpolation value between pixels with Radial Basis Function (RBF) method using linear function. The result from the geolocation processing module of greenhouse gases data product are concentration information from some altitude level. The product is in geotiff format with 50 km spasial resolusion. AbstrakPengolahan geolokasi untuk menghasilkan produk data gas rumah kaca (GRK) spasial yang terdiri dari gas CH4,CO2 dan N20 telah dilakukan secara sistematis. Data gas rumah kaca tersebut dihasilkan dari produk Enviomental Data Record (EDR) Satelit Suomi NPP Sensor CrIS dan ATMS. Hingga saat ini terdapat permasalahan dalam penyajian data informasi konsentrasi gas rumah kaca, yaitu file hasil pengolahan sistematis masih dalam format netcdf sehingga belum dapat didistribusikan untuk melayani kebutuhan pengguna. Format netcdf terbatas hanya menampilkan nilai berupa angka, resolusi yang tidak seragam, belum teregistrasi dan tidak compatible dengan aplikasi pengolahan data yang umumnya digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul pengolahan geolokasi  yang dapat menyajikan informasi data gas rumah kaca secara spasial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah registrasi piksel koordinat ke dalam data citra, konversi nilai Digital Number (DN). Interpolasi nilai antar piksel menggunakan metode Radial Basis Function (RBF) dengan fungsi linier. Hasil dari penelitian ini adalah modul pengolahan geolokasi produk data yang dapat menyajikan informasi konsentrasi gas rumah kaca pada beberapa level ketinggian. Produk yang dihasilkan dalam format geotiff dengan resolusi spasial 50 km.

Page 9 of 18 | Total Record : 179