cover
Contact Name
Linlin Parlinah
Contact Email
linlinparlinah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
budiasihenty@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian
ISSN : 20885113     EISSN : 25980327     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Lingkup naskah PASPALUM : Jurnal Ilimiah Pertanian mencakup bidang ilmu pertanian yang meliputi Agroteknologi dan Agibisnis.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2011)" : 9 Documents clear
Respon Pertumbuhan Kolonisasi Mikoriza dan Hasil Tanaman Kedelai sebagai Akibat dari Takaran Kompos dan Mikoriza Arbuskula Noertjahyani Noertjahyani
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6371.084 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.42

Abstract

Sebagian besar lahan di Indonesia mengandung bahan organik yang rendah (<1%), sehingga produktivitas lahan menjadi rendah. Produktivitas lahan yang rendah disebabkan rendahnya ketersediaan hara akibat peran mikroba tanah yang menguntungkan bagi tanaman menurun. Penambahan bahan organik dan penggunaan pupuk hayati merupakan usaha untuk meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Mikoriza Arbuskula (MA) merupakan salah satu pupuk hayati yang dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Percobaan rumah kasa dilakukan dengan tujuanuntuk mempelajari efek takaran pupuk kompos disertai inokulasi mikoriza terhadap pertumbuhan,kolonisasi mikoriza dan hasil tanaman kedelai. Percobaan menggunakan Rancangan Acak kelompok berfola faktorial dengan dua faktor dan dua ulangan. Faktor pertama yaitu takaran kompos terdiri dari tanpa kompos, 10 ton ha-1, 20 ton ha-1 dan 30 ton ha-1, sedangkan faktor kedua  kedua yaitu takaran mikoriza terdiri atas tanpa mikoriza, 5 g, 10 g dan 15 g per lubang tanam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa takaran kompos dan mikoriza memberikan efek yang berbeda terhadap jumlah polong, jumlah biji dan bobot biji kering per tanaman, tetapi tidak terhadap tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah nodula efektif per tanaman, nisbah pupus akar, kolonisasi mikoriza, dan bobot 10 butir. Hasil lebih tinggi diperoleh jika pemberian 30 ton ha-1 dan 20 ton ha-1 disertai dengan inokulan miroriza masing-masing 10 g dan 15 g per lubang tanam.
Kebutuhan Kedelai dan Kapasitas Produksi Tahu pada Pengrajin Tahu di Kabupaten Sumedang Dety Sukmawati
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4991.639 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.37

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditi pokok masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan kedelai merupakan bahan baku pembuatan tempe dan tahu yang telah menjadi menu sehari-hari masyarakat Indonesia pada umumnya. Pertanian adalah mata pencaharian utama penduduk Kabepaten Sumedang. Selain daerah ini terkenal dengan hasil padi, Sumedang penghasil palawija diantaranya kedelai yang banyak digunakan sebagai bahan baku tahu oleh sebagian besar penduduk Sumedang sebagai pengrajin tahu yang terdiri dari 232 pengrajin tahu. dari data Kabupaten Sumedang, kedelai dihasilkan pada 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Jatigeude 309 ton dan Kecamatan Surian 233 ton, jumlah kedelai yang dihasilkan Kabupaten Sumedang adalah 542 ton, melihat kebutuhan kedelai pada pengrajin tahu per bulan 630.180 kg (630,18 ton), maka produksi kedelai di Sumedang tidak mencukupiuntuk memenuhi kebutuhan bahan baku tahu per bulan. Dari 26 Kecamatan di Kabupaten Sumedang, hanya 2 kecamatan daerah penghasil tanaman kedelai, disamping rendahnya daerah penghasil kedelai, kondisi seperti ini hampir terjadi diseluruh Indonesia, hal ini terjadi dari segi persaingan pasar, ternyata harga riil kedelai impor jauh lebih murah daripada kedelai dalam produksi dalam negeri. Selama harga kedelai impor rendah, maka arus impor akan semakin tinggi, sehingga harga kedelai produksi dalam negeri akan turun, hal ini menyebabkan petani enggan untuk menanam kedelai. Penurunan harga riil kedelai menjadi disinsentif yang menyebabkan terjadinya penurunan  areal kedelai.
Usahatani Padi Sawah (Oriza sativa, L) dengan Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pandu Sumarna
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3421.704 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.43

Abstract

Padi sawah (Oriza sativa L) merupakan salah satu tumbuhan yang menghasilkan sumber pangan pokok bagi masyarakat Indonesia. Keberhasilakn usaha peningkatan produksi padi sawah sangat bergantung pada daya dukung dan kemampuan petani sebagai pengelola usaha tani, antara lain menyediaan modal, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki petani serta luas kepemilikan lahan garapan yang dikelola petani. Kendala dalam peningkatan produksi tanaman padi antara lain serangan hama dan penyakit tanaman yang menyerang tanaman sejak dipersemaian sampai menjelang panen. serangan hama dan penyakit ini dapat mengurangi hasil produksi baik kalitas maupun kuantitas sampai mengakibatkan kegagalan panen. Oleh karena itu upaya pengendalian serangan hama dan penyakit perlu mendapat perhatian yang serius agar produksi dapat dipertahankan dan petani memperoleh keuntungan dalam mengelola usahanya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa usahatani dengan penerapan PHT mengeluarkan biaya total sebesar R. 5.276.930,60,- per hektar dan menghasilkan penerimaan Rp. 8.050.900,53,- per hentar , sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp. 2.773.969,93,- per hektar. Adapun tingkat efisiensi usahatani yang menerapkan PHT tingkat efisiensinya (RC) sebesar 1,53. Begitu pula dilihat dari kelayakan usahanya (renatabilitas) memperoleh 52,57 lebih tinggi dari bunga bank sebesar 6 persen per musim. Hal ini menunjukkan usahatani yang menerapkan PHT dalam usahanya layak untuk dikembangkan.
Efek Suspensi Pengawet terhadap Kualitas Bunga Potong Anyelir Farida Iriani
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4048.753 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.38

Abstract

Pemanfaatan bahan pengawet sebagai upaya meningkatkan kualitas bunga potong anyelir kultivar Red Sims adalah efektif. Bahan pengawet yang diformulasi dari  senyawa sukrosa  + asam sitrat + lisol + perak tiosulfat yang telah dibuat menjadi bentuk sediaan suspensi dengan penambahan penyuspensi cmc, akan dikaji dalam keefektifannya dalam percobaan. Percobaan menggunakan Acak Kelompok dwi faktor, yaitu takaran susfensi dan lama susfensi tersimpan yang akan ditambahkan ke dalam air perendam sebelum bunga potong tersebut diperagakan. Peubah yang diamati adlah umur peragaan, diameter mekar maksimum, dinamika perkembangan bobot segar relatif dan serapan air relatif 2- harian. Hasil percobaan menunjukkan bahwa takaran susfensi 50 mlL-1 dan tersimpan tiga bulan adalah terbaik terhadap semua peubah yang diamati.
Peranan Lembaga Keuangan Mikro dalam meningkatkan Pembangunan Ekonomi Pedesaan Zulki Zulkifli Noor
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5145.962 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.44

Abstract

Suatu pengkajian empiris tentang LKM pertanian yang dikemukakan oleh penelitian sebelumnya dari Rahmat Hendayana dan Sjahrul  Bustaman (2009) yang berjutuan untuk mengetahui kinerja LKM dalam perspektif pembangunan ekonomi pedesaan telah dilakukan di Jawa dan luar Jawa pada awal tahun 2007 melalui pendekatan pemahaman pedesaan secara partisipatif menggunkan metode group interview melibatkan pengurus dan pengguna LKM. pada tahun 2010 dilakukan penelitian lagi dengan topik yang relatif hampir sama, yaitu dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif terhadap LKM, diperoleh gambaran sebagai berikut :  a0. kebberadaan LKM diakui masyarakat memiliki peran strategis sebagai intermediasi aktivitas perekonomian yang selama ini bersama-sama dengan lembaga perbankan umum/bank konvensional, jadi ternyata saat ini lembaga perbankan sudah mulai masuk ke pedesaan dalam meningkatkan perekonomian pedesaan terutama bank BRI dan BPR; b) secara faktual pelayanan LKM telah menunjukkan keberhasilan, serta keberhasilannya sudah masuk pada usaha-usaha ekonomi pertanian disamping non pertanian. Skim perkreditan LKM untuk usahatani sudah mendapat prioritas, hal itu ditandai oleh meningkatnya plafon (alokasi dana) untuk mendukung usahatani, yakni sudah mencapai 10% terhadap total plafon LKM; c) Faktor kritis dalam pengembangan LKM sektor pertanian terletak pada aspek legalitas kelembagaan, kapabilitas pengurus, dukungan seed capital, kelayakan ekonomi usahatani, karakteristik usahatanidan bimbingan teknis nasabah/pengguna jasa layanan LKM; d0 untuk memprakarsai penumbuhan dan pengembangan LKM pertanian diperlukan adanya pembinaan peningkatan kapabilitasbagi SDM calon pengelola LKM, dukungan penguatan modal dan pendampingan teknis kepada nasabah pengguna kredit, serta bermitra dengan perbankan untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. LKM dapat menjadi perpanjangan dari Perbankan yang besar.
Korelasi Beberapa Karakter Biokimia dengan Ketahanan Tanaman cabai terhadap Penyakit Antraknos yang Disebabkan Colletotruchun gloeosporioides Lia Amalia
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3111.36 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.39

Abstract

Penelitian untuk mengetahui korelasi antar karakter  biokimia dengan katahanan cabai terhadap penyakit Antraknos. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Hama dan Penyakit Fakultas Pertanian UNWIM, Tanjungsari Sumedang dari bulan Oktober 2003 - Februari 2004. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan jumlah ulangan tidak sama, dengan asumsi model acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik dilapangan maupun di laboratorium, karakter kadar air buah mempunyai nilai korelasi fenotip dan genetik yang tidak nyata dengan intensitas penyakit Antraknos. Karakter kadar antosianin dan kadar lignin kulit buah berkorelasi fenotip negatif nyata terhadap intensitas penyakit antraknos, tetapi berkorelasi genetik negatif tidak nyata terhadap intensitas penyakit Antraknos. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan seleksi tidak langsung secara genetik untuk karakter ketahanan tanaman cabai merah melalui karakter kadar antosianin, kadar air dan kadar lignin kulit buah tidak akan efektif.
Pengaruh Sistem Tanam Tumpangsari Terhadap Penekanan Gulma, Pertumbuhan serta Hasil Tanaman Padi Gogo, Kedelai dan Jagung Nurdin Hadirochmat
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1799.303 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.45

Abstract

Rendahnya produksi tanaman jagung, kedelai dan padi gogo antalain disebabkan oleh kehadiran gulma pada pertanaman tiga komoditi tersbut. Lebih dari 10% hasil pertanian hilang akibat terjadinya kompetisi antara gulma dengan tanaman hanya karena sumber cahaya saja. Jika gulma dibiarkan tidak dikendalikan, kehilangan hasil tanaman mencapai kisaran 20%-100%, tergantung pada jenis tanaman dan lingkungannya. Cara yang baik dalam menangani masalah persaingan antara gulma dengan tanaman budidaya adalah meminimalkan peluang tumbuh bagi gulma, yaitu menutup lahan sedemikian rupa dengan memanfaatkan tanaman yang memiliki kemampuan berkompetisi secara efisien serta mempertimbangkan agar tidak terjadi persaingan anatar tanaman budidaya itu sendiri. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok fola faktorial dengan dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama sistem tumpangsari terdiri dari dua taraf yaitu tumpangsari kedelai/jagung (t1), kedelai/padi gogo (t2); faktor kedua waktu kehadiran gulma dengan 5 taraf yaitu : 3 MST (h1), 5 MST (h2), 7 MST (h3), 9 MST (h4) dan gulma hadir selama pertumbuhan tanaman (h5). hasil penelitian menunjukkan sistem tumpangsari kedelai/jagung lebih efisien dalam menekan kehadiran gulma dibanding dengan sistem tanam tumpangsari kedelai/padi gogo, sehingga penampilan hasil dari tanaman jagung lebih baik dibanding tanaman padi gogo dan kedelai, yang dicapai pada waktu kehadiran gulma awal MST.
Pengaruh Kitosan pada Dua Tingkat Kematangan yang Berbeda terhadap Kadar Vitamin C Paprica (Capsicum annuum L. var Grossum) Neneng Srimulyati
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2875.977 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.40

Abstract

Pemanenan paprika dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu panen buah matang hijau dan panen buah matang berwarna (merah atau kuning) sesuai dengan permintaan pasar dan harga di pasaran. Paprika tergolong komoditi yang mudah rusak (very perishable), baik sesudah panen, maupun dalam penyimpanan. Secara umum paprika memiliki masa simpan yang pendek yaitu 5-7 hari. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua perlakukan yaitu beberapa taraf konsentrasi kitosan (0%, 1%, 1,5%, 2% dan 2,5%) dan dua tingkat kematangan paprika (hijau dan merah) dan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1).Pemberian Kitosan pada tingkat kematangan yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas paprika (Capsicum annuum L. var Grossum) kultivar Edison,yaitu dapat mempertahankan kadar vitamin C; 2). Pengaruh pemberian kitosan pada paprika kondisi matang hijau yang paling baik terjadi pada konsentrasi 2%, yaitu terbukti dapat menghasilkan kadar vitamin C sebanyak 171, 493 mg. Sedangkan pada paprika kondisi matang merah pengaruh pemberian kitosan yang paling baik terjadi pada konsentrasi 1,5%, yaitu terbukti dapat menghasilkan kadar vitamin C sebanyak 188, 643 mg dan hasil ini tidak berbeda nyata dengan pemberian kitosan konsentrasi 2% dan 2,5%.
Respon Pertumbuhan dan Hasil Umbi Benih Kentang akibat Perompesan Tunas Aplikal dan Takaran Pupuk Super Fosfat (SO-36) Nunung Sondari; Ujah Ujah
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5767.977 KB) | DOI: 10.35138/paspalum.v1i1.41

Abstract

Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Balai Pengembangan Benih Kentang, Pangalengan, Bandung dari Mei samapi Agustus 2010. Penelitian ini mempelajari pengaruh Perompesan Tunas Aplikal dan Takaran Pupuk Super Fosfates terhadap Pertumbuhan dan Hasil Umbi Benih Kentang varietas Granola. Rancangan penelitian yang digunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama perompesan tunas apikal (C) terdiri dari (c1=tanpa peromperasan tunas apikal, c2=perompesan tunas apikal). Faktor kedua yaitu Takaran pupuk fosfat (P) terdiri dari : p1=150 kg ha-1; p2= 300 kg ha-1; p3= 450 kg ha-1; p4=600 kg ha-1 dan p5=750 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara perompesan tunas apikal dengan takaran pupuk fospat terhadap berat umbi per tanaman. Tapi tidak menunjukkan adanya interaksi terhadap tinggi tanaman, jumlah umbi per tanaman, nisbah pupuk akar dan luas daun, takaran optimum untuk tunas apiukal yang tidak dipotong terhadap bobot umbi sebesar 502,57 kg ha-1 SP-36 dengan hasil 12,29 kg per plot, dan takaran fospat optimum dengan tunas apikal yang dipotong yaitu 722,52 kg SP-36 dengan hasil 16,68 kg per plot dengan luas area per plot 3 m2.

Page 1 of 1 | Total Record : 9