cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2009)" : 10 Documents clear
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI DATA WAREHOUSE METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, GEOFISIKA DAN BENCANA ALAM Agus Safril
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.824 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.42

Abstract

BMKG telah memiliki data berasal dari beberapa sistem basis data historis (legacy system) baik yang telah tersimpan dalam sistem informasi database maupun data dalam bentuk lembar kerja (worksheet). Data lama ini sering tidak digunakan ketika  sistem database baru dikembangkan. Agar data lama tetap dapat digunakan, diperlukan integrasi data lama dan baru. Data warehouse adalah konsep yang digunakan untuk mengintegrasikan data dalam penyimpanan sistem database terpadu BMKG. Integrasi data dilakukan dengan melakukan ekstraksi dari sumber data dengan mengambil item data yang diperlukan. Sumber data diperoleh dari sistem informasi yang ada di kelompok meteorologi, klimatologi dan geofisika. Proses integrasi data dimulai dengan ekstraksi (extraction) kemudian dilakukan penyeragaman (transformation) sehingga sesuai dengan format yang digunakan untuk kepentingan analisis. Selanjutnya dilakukan proses penyimpanan dalam data warehouse (loading). Prototipe data warehouse yang dibangun mencakup proses input data melalui ekstraksi data lama maupun data baru menggunakan media perangkat lunak akuisisi data. Hasil keluaran (output) berupa laporan data dengan perioda data sesuai dengan kebutuhan. The data collections of BMKG is captured from the legacy systems that is stored in the information systems or data worksheet. Sometimes the legacy system is not used when the new DBMS has been developed. In order the legacy system usefull for DBMS of BMKG, the data is integrated from the legacy systems to the new database systems. Data warehouse is the concept to integrate data to the BMKG Data Base Management System (DMBS). To integrate data, data is integrated the data sources from legacy systems that has been stored in the meteorology, climatology and geophysic information system. The next steps is transformed to data that has the format accordance with the weather analysis requirement. Finally, data must be loaded into the data warehouse.  The data warehouse prototype that it is developed consist of data input troughout extract from historical data and new data use with the data acquisition software. The result is data report that is accordance with the BMKG requirement to analyse the data.
Pengantar dan Daftar Isi JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.745 KB)

Abstract

Pengantar dan Daftar Isi Jurnal Meteorologi dan Geofisika
PEMANFAATAN DAN VALIDASI CONFORMAL-CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) UNTUK PRAKIRAAN CUACA DI JAKARTA Roni Kurniawan; Donaldi Sukma Permana
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.872 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.38

Abstract

Pada penelitian ini dilakukan prakiraan cuaca untuk wilayah Jakarta pada bulan februari 2008 menggunakan CCAM untuk prediksi 2 hari kedepan dengan interval 3 jam. Data keluaran CCAM kemudian dilakukan validasi dengan data sinoptik dari stasiun pengamatan BMKG di wilayah Jakarta. Hasil validasi dan analisis data untuk parameter curah hujan diperoleh hasil korelasi dan RMSE yang kurang baik. Akan tetapi untuk akurasi kejadian hujan menunjukkan hasil yang baik. Untuk parameter tekanan permukaan laut diperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan dengan parameter yang lain, untuk prediksi 12 jam pertama mempunyai nilai korelasi sebesar 0,5-0’8. Dari hasil luaran CCAM menunjukkan bahwa CCAM dapat dimanfaatkan untuk prakiraan kejadian curah hujan pada skala lokal, seperti di kota Jakarta. This research accomplished the weather forecast over Jakarta region in February 2008 using Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) to forecast weather up to 2 days with 3 hours interval. The ouput CCAM data was then compared to the synoptic data from the BMKG’s observation station in Jakarta. Validation and data analysis showed that correlation and Root Mean Squared Error (RMSE) of rainfall  was unfavourable. However, the occurance of the rainfall gave an accurate result. Parameter of sea surface pressure gave better correlation than the other parameter, the prediction of the first 12 hours has 0.5-0.8 in correlation. The CCAM result showed that the output was applicable to forecast the occurance of the rainfall at local scale, like in Jakarta city.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS RADIO INTERNET Dian Oktari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.113 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.43

Abstract

Penggunaan Ranet tidak hanya untuk desiminasi informasi gempabumi dan tsunami, tetapi juga untuk desiminasi informasi meteorologi dan klimatologi. Teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) menjadikan informasi yang terdapat di Ranet ditampilkan lebih dinamis berdasarkan area (spasial), yang didukung oleh proses query yang cepat dengan menampilkan atribut: lokasi Ranet, nama kabupaten, toponimi dan mampu dioverlay dengan tema lainnya. Dari teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) diharapkan informasi gempabumi dan tsunami dapat diproses secara spasial dan didesiminasikan secara interaktif. Radio Internet (Ranet) is not only for information dissemination of earthquakes and tsunamis, but it can be used for information dissemination of meteorology and climate. Geographic Information System (GIS) technology makes Ranet information is shown more dynamically based on spatial, which is provided by quick query that shows attributes: Ranet location, name of regency/district, toponimi, and could be overlaid with another layer. From Geographic Information System (GIS) technology earthquakes and tsunamis information can be processed in a spatial way and can be disseminated interactively.
MODEL PRAKIRAAN CURAH HUJAN BULANAN DI WILAYAH JAWA BAGIAN UTARA DENGAN PREDIKTOR SUHU MUKA LAUT (SML) DAN OUTGOING LONGWAVE RADIATION (OLR) Dedi Sucahyono; Hidayat Pawitan; Aji Hamim Wigena
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.393 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.39

Abstract

Penelitian ini telah menganalisis pengaruh Suhu Muka Laut (SML) dan Outgoing Longwave Radiation (OLR) terhadap curah hujan bulanan di wilayah Jawa bagian utara. Sebagai wilayah represntatifnya digunakan data curah hujan empat Zonasi Musim (ZOM) meliputi ZOM 30, 43, 88, dan 90. Data curah hujan bulanan ke empat ZOM tersebut dihitung koefisien Pearson (r) saat dikorelasikan dengan SML  dengan resolusi 1º X 1º dan OLR dengan resolusi 2.5º  X 2.5º pada domain 5º LU -  20º LS dan 90º BT – 150º BT selama periode 1979 – 2007. Hasilnya menunjukkan korelasi yang signifikan antara curah hujan bulanan dengan SML dan OLR. Dalam penelitian ini digunakan juga Jaringan Syaraf Tiruan (JST) untuk menyusun model prakiraan curah hujan bulanan di empat ZOM dengan masukan SML dan OLR  hasil korelasi di atas  yang berperan sebagai prediktor. Untuk menentukan validasi model tersebut, hasil prakiraan diverifikasi dengan data observasi selama periode 2003 – 2007. Hasil luaran model menunjukkan pola yang sama dan konsisten ketika dibandingkan dengan data observasi. Hal tersebut ditunjukkan pula dengan nilai RMSE yang kecil selama tahun 2006. Disisi lain, hasil evaluasi dengan menggunakan nilai galat, galat besar diperoleh selama periode bulan-bulan kering. Aims of this research is to analysis the influence of sea surface temperature (SST)) and Outgoing Long wave Radiation (OLR) on monthly rainfall in northern Java Island. The rainfall data are from   Rainfall Type (ZOM) 30, ZOM 43, ZOM 88, and ZOM 90 as defined by Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (MCGA). The  monthly rainfall of each region were calculated by Pearson coefficient ( r) to be correlated to SST resolution 1º X 1º and OLR  resolution 2.5 º  X 2.5º at area domain 5º N -  20º S and 90º E – 150º E and over  period 1979 – 2007. The result indicates significant correlations   between the monthly rainfall and SST and OLR. Artificial Neural Network (ANN) was applied to predict monthly rainfall over the four ZOM using input SST and OLR selected base on the correlation result. The validation of ANN model was done by comparing output of the monthly predicted rainfall to its observation over period 2003 – 2007. It is found out that the output model pattern is reasonably its consistent to its observation. The value of RMSE is smallest in 2006. The evaluation result using bias indicates that the biggest error occurred during dry season period.
APLIKASI HOPFIELD NEURAL NETWORK UNTUK PRAKIRAAN CUACA Septima Ernawati
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.404 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.44

Abstract

Prakiraan cuaca ditentukan oleh unsur-unsur cuaca, beberapa diantaranya adalah arah angin, suhu udara, kelembaban udara, dan tekanan udara. Daerah Cilacap sebagai daerah rawan banjir sekaligus rawan kekeringan sangat menarik untuk diteliti bagaimana sifat-sifat unsur cuacanya. Metode Hopfield Neural Network sebagai aplikasi untuk prakiraan cuaca, karena metode ini dapat memberikan klasifikasi cuaca. Pada metode Hopfield unsur-unsur cuaca tersebut sebagai neuron input, kemudian hasil dari prosses simulasinya akan dikembalikan lagi sebagai input secara terus menerus sampai mencapai kondisi stabil. Output yang dihasilkan di Cilacap untuk kondisi tidak ada awan (clear) atau awan yang tipis dan sangat sedikit, adalah nilai-nilai atau jarak yang mendekati cerah, hal ini karena unsur-unsur cuacanya adalah dalam kategori cerah. Begitu pula untuk kondisi hujan, output yang dihasilkan adalah nilai-nilai atau jarak yang mendekati hujan, hal ini disebabkan unsur-unsur cuacanya adalah bersifat atau dalam kategori hujan. Untuk kondisi berawan nilai-nilai yang dihasilkan adalah sebagian cerah, sebagian lagi hujan. Klasifikasi pada  Hopfield ini menghasilkan output yang tepat, maka sifat-sifat dari unsur-unsur cuaca di Cilacap dapat digunakan untuk prakiraan cuaca. Weather forecasting is determined by weather substaces, some of them are wind direction, temperature, humidity, and pressure. Cilacap area which have high potentially for flood and dryness is very interesting to be reseached about how characteristics of weather substances. Hopfield Neural Network method have being application for weather forecast because this method can give the recurrent weather classification. This weather substance in Hopfield method as the neuron input and then the result of simulation process will be recurrent as input until reach stabil condition. The result output in Cilacap for the clear condition are the values or the distance near the clear, because the weather substance are in the clear category. And so for rain condition, the output result are the values or the distance near the rain, because the weather substance have the rain character. The research of the values some of them are the clear, and the other are rain. Classification in Hopfield to produce output that are definitely, so characteristics of weather substances in Cilacap that can using for weather forecasting.
STUDI SEISMOTEKTONIK SEBAGAI INDIKATOR POTENSI GEMPABUMI DI WILAYAH INDONESIA Supriyanto Rohadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.169 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.40

Abstract

Distribusi aktivitas kegempaan di suatu wilayah dapat diketahuni melalui  analisis parameter seismotektonik menggunakan relasi Gutenberg-Richter, analisis ini mampu memberikan informasi penting terkait dengan usaha mitigasi bencana gempabumi. Pada penelitian ini, analisis parameter seismotektonik menggunakan data relokasi gempabumi dari katalog EHB (1964-2005) dan katalog BMKG (2006-2008). Wilayah penelitian meliputi wilayah kegempaan, dengan batas 10° LS - 8° LU dan 92° BT -142° BT, yaitu meliputi wilayah Indonesia dan sekitarnya. Perhitungan parameter seismotektonik menggunakan metode maksimum likelihood dengan software ZMAP. Dari analisis data diperoleh bahwa distribusii spatial nilai-a berkisar  4,0 – 12,1 dan distribusi nilai-b berkisar antara 0,6 – 1,8, sedangkan periode ulang gempabumi Mw 6,5 berkisar 4 – 12 tahun. Pola distribusi  nilai-b yang tinggi bersesuaian dengan nilai-a yang tinggi pula, sedangkan periode ulang gempa pendek di wilayah tersebut. Earthquake activity distribution can be inferred from analyzing seismo-tectonic parameter in its region by using Gutenberg-Richter relation. This analysis result important information for earthquake mitigation. This research analyze earthquake relocation data from EHB catalogue (1964-2005) and BMKG catalogue (2006-2008). Area of interest is Indonesia region and its vicinity,  10° S - 8° N dan 92° E -142° W. Maximum likelyhood method to computating of these parameter by using ZMAP software. The b-value relating the number of large to small earthquakes of indonesia region is estimated to be 0,6 – 1,8. From the spatial variability of b-value show that some region with low value have a larger risk of relatively big earthquake. Some region which have higher a-value usually are very active seismicity region. Return periode of relatively big eartquake (M=6,5) are about 2 – 12 years. Temporal variability of b-value show that have decrease before a large earhtquake, but need more ressearh to be used this value as a earhtquake precursor.
ANALISA VERTICAL TOTAL ELECTRON CONTENT DI IONOSFER DAERAH JAWA DAN SEKITARNYA YANG BERASOSIASI DENGAN GEMPABUMI YOGYAKARTA 26 MEI 2006 UTC I Made Kris Adi Astra; I Putu Pudja
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.41

Abstract

Kenyataan bahwa dampak gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 (local time) memberikan dampak negatif bagi kehidupan menjadikannya salah satu bencana yang tidak memberikan waktu yang cukup lama untuk sebuah peringatan.  Sebelumnya, telah banyak dilakukan penelitian untuk membangun sebuah system yang diharapkan memberikan petunjuk untuk mem-pre-deteksi gempabumi. Salah satunya adalah pendekatan dengan Seismo-Ionospheric Coupling. Dalam pemikiran ini dijelaskan tahapan-tahapan yang terjadi di Ionosfer ketika gempabumi akan terjadi dan saat terjadi.Dalam tulisan ini dipilih Densitas Elektron dalam arah Vertical (Vertical Total Electron Content) di Ionosfer sebagai parameternya. Total Electron Content (TEC) adalah jumlah elektron dalam kolom vertikal (silinder) berpenampang seluas 1 m2 sepanjang lintasan sinyal perangkat GPS yang dilalui di lapisan ionosfer pada ketinggian sekitar 350 km.Dari analisa didapatkan, terjadi tiga kali penurunan nilai VTEC yang signifikan di daerah Jawa dan sekitarnya. Yaitu pada 18, 20 dan 22 Mei 2006. Namun setelah dikoreksi Dst Index, penurunan nilai VTEC pada tanggal 18 Mei 2008 berkaitan dengan gangguan magnetic. Selanjutnya pada tanggal 20 Mei 2006 dan 22 Mei 2006, penurunan nilai VTEC  diindikasikan sebagai akibat dari proses fisis Seismo-Ionospheric Coupling sebelum terjadinya gempabumi. Hal ini diperkuat dari koreksi Dst. Index yang tidak menunjukan adanya gangguan magnetik yang berarti. Earthquake that struck Jogjakarta on May 27 2006 (local time) gives negative impact to life and it became of no awareness disaster. Previously, there are many researches that developed a system which can give signal to earthquake pre-detection. One of them is Seismo-Ionosperic Coupling. This research, explain phases in Ionospere before and after shock.Electron densities in vertical direction in Ionospere (Vertical Total Electron Content) is selected as parameter. Total  Electron Content  (TEC) is defined as the amount of electron in vertical column (cylinder) with cross-section of 1 m2 along GPS signal trajectory in Ionospere at arround 350 km of height.There are three times of significant decrease of VTEC value in Java and its surrounding, i.e. at 18, 20, 22 of May 2006. However, after corrected by Dst Index, the decrease VTEC value on May 18 2008 has relationship with magnetic disturbance. The decrease of VTEC value on May 20 and May 22 2006 is indicated as effect of Seismo-Ionosperic Coupling physical process before shock. This is supported by correction of Dst. index that shows there is no significant magnetic disturbance.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampul Jurnal Meteorologi dan Geofisika
OPERATIONAL WEATHER SYSTEMS FOR NATIONAL FIRE DANGER RATING Guswanto Guswanto; Eko Heriyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.37

Abstract

Prakarsa Indonesia untuk sistem FDR dimulai pada bulan April 2000 dengan pengembangan pusat FDRS. Ketika itu FDRS dirancang untuk mendukung lembaga – lembaga sentral di Indonesia yang berkompeten dalam memantau kondisi-kondisi kebakaran dan untuk mengembangkan tindakan tingkat nasional untuk mendukung tindakan pencegahan, pemantauan dan kegiatan mitigasi pada tingkat provinsi. Pada akhir tahun 2001, FDRS tingkat pusat juga akan diadaptasikan dan dioperasikan secara elektronik dan manual di dua provinsi di Indonesia (Provinsi Riau di Sumatra dan di Provinsi Kalimantan Barat). Sebelumnya, pada tahun 2002 (10 Februari) serah terima dari Proyek FDRS kepada BMG untuk mengoperasikan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran harian untuk seluruh wilayah nasional dimulai, berdasarkan pada pengamatan cuaca harian. Pengoperasian dan aplikasi output FDRS di Indonesia juga akan menjadi kegiatan penting di tahun kedua. Untuk Indonesia, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) bertanggung jawab untuk mengumpulkan data dan menyebarluaskan informasi cuaca harian di tingkat nasional dan lokal. Pada tahun 2004 BMG membuat prediksi FDR harian (3 hari) berbasis pada NWP Perancis (modul Sinergi). Implementasi ini adalah kerjasama antara BMG dan Meteo France International (MFI). Pusat Penelitian dan pengembangan BMG membangun Perhitungan FDR dan Model Polutan Udara (termasuk asap dari kebakaran hutan) berdasarkan Numerical Weather Prediction dari CSIRO (menggunakan Output CCAM) pada akhir tahun 2007. Model polutan udara untuk lintasan asap dijalankan dengan menggunakan informasi hotspot dari Dephut (Sipongi Output Program). The Indonesia Initiative for FDR system commenced in April 2000 with the development of a central FDRS. It’s being designed to support Indonesian central agencies in monitoring fire conditions and in developing national level actions to support prevention, monitoring and mitigation activities at a provincial level. In late 2001, the central-level FDRS will also be adapted and operated electronically and manually in two provinces in Indonesia (Riau Province in Sumatra and in West Kalimantan Province). Earlier, in 2002 (10th February) the handover from the FDRS Project to BMG for operated a daily Fire Danger Rating System for whole National Region began, based on daily weather observation. Operations and application of FDRS outputs in Indonesia will also be important activities in year two. For Indonesia, the Meteorology and Geophysical Agency (BMG) is responsible to collect record and disseminate daily weather information at national and local levels. In 2004 BMG produced daily FDR Prediction (3 days) base on France NWP (Synergy module). This implementation is collaboration between BMG and Meteo France International (MFI). R&D of BMG developing FDR Calculation and The Air Pollutant Model (Include smoke from forest fire) base on Numerical Weather Prediction from CSIRO (Using CCAM Output) in late of 2007. The Air Pollutant Model for smoke trajectory runs by using the hotspot information from MoF (Sipongi Output Programs).

Page 1 of 1 | Total Record : 10