cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2011)" : 12 Documents clear
TSUNAMI NUMERICAL SIMULATION APPLIED TO TSUNAMI EARLY WARNING SYSTEM ALONG SUMATRA REGION Wiko Setyonegoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9724.236 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.85

Abstract

Wilayah Sumatera bagian barat merupakan daerah tektonik aktif yang kerapkali menimbulkan bencana gempabumi dan tsunami. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan simulasi run-up, inundasi, waktu, dan waktu kedatangan tsunami, hal itu dilakukan dengan membuat skenario pemodelan tsunami sebelum terjadi tsunami yang sesungguhnya. Skenario tersebut dibuat sebanyak mungkin menjadi sebuah database pemodelan tsunami. Untuk menghasilkan pemodelan tsunami dalam jumlah banyak maka diperlukan berbagai variasi skenario dari mekanisme faultnya, kemudian variasi skenario yang diambil dikelompokkan pada segmen di daerah rawan tsunami, sehingga hasil database tidak melebar. Skenario ini didasarkan pada nilai-nilai parameter fault dan dimodifikasi sedemikian rupa untuk menghasilkan jenis model fault dengan melakukan pendekatan data historis kondisi mekanisme fault pada segmen tersebut. Sebagai acuan lain untuk memperkirakan lokasi gangguan pada segmen tersebut, dilakukan dengan mengamati proses sejarah deformasi geologis dan pergerakan relatif dari kerak buminya. Kemudian dilakukan juga validitas hasil perhitungan dengan data historis dan hasil survei pada segmen yang sama. Western Sumatra region is tectonically active region that often lead to catastrophic earthquakes and tsunamis. When the tsunami disaster will occur and how big run-ups and expansion of the resulting tsunami inundation, could be the arrival time calculation and simulation, it is done by creating a scenarios tsunami modeling before the real tsunami is occured. To generate a tsunami modeling in large quantities will require a variety of mechanisms fault scenarios, subsequently scenarios variations are grouped in segments taken in areas prone to tsunamis, so that the database does not widen. This scenarios is based on the values of fault parameters and modified in such a way as to produce the type of fault models with historical data approach the mechanism of fault conditions in that segment. As another reference to estimate the location of disturbances in these segments, done by observing the deformation history of geological processes and the relative movement of the earth's crust. Then do as well the validity of the calculation results with historical data and the results of a survey on the same segment.
SAMPUL JURNAL MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12606.218 KB)

Abstract

Sampul Jurnal MG Volume 12 No. 1 Tahun 2011
KAJIAN METEOROLOGIS BENCANA BANJIR BANDANG DI WASIOR, PAPUA BARAT Findy Renggono; M. Djazim Syaifullah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4681.989 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.81

Abstract

Banjir bandang telah melanda kawasan Wasior, Papua Barat pada Senin 4 Oktober 2010. Bencana ini menyebabkan puluhan orang meninggal, ratusan luka dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Keterbatasan data meteorologis untuk wilayah ini yang sangat minim menyebabkan kesulitan dalam melakukan analisa kondisi cuaca pada saat sebelum dan selama kejadian banjir. Data penakar hujan yang terdekat hanya terdapat di Manokwari dan Sorong, yang letaknya lebih dari 200 km dari Wasior. Dari pengamatan skala sin op, kondisi meteorologis pada saat sebelum banjir memang mendukung adanya pertumbuhan awan yang cukup besar, sedangkan hasil analisa dengan data TRMM diketahui bahwa telah terjadi hujan dengan intensitas yang cukup tinggi dari tanggal 3 malam sampai 4 pagi. Analisa data curah hujan selama 2 tahun terakhir dengan data TRMM menunjukkan kejadian hujan seperti ini memang beberapa kali pernah terjadi sebelumnya, walaupun tidak menimbulkan bencana banjir. Great flood which hit Wasior, West Papua, Monday October 4th, 2010, has caused up to 200 people were killed or injured, and 1000 homeless. The lacks of meteorological data of this place make it difficult to analyze the meteorological condition before the flood. The nearest rain gauge was only in Sorong and Manokwari which is more than 200 km away from Wasior. Synoptic analysis showed that the atmospheric condition supports cloud development over Wasior area. TRMM data analysis found that the night before the flood, there was a heavy rain, but this kind of rain was also found several times in the last three years.
MEMAHAMI DAN MENGANTISIPASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM PADA PESISIR DAN LAUT DI INDONESIA BAGIAN TIMUR Ibnu Sofian; Agus Supangat; M. S. Fitriyanto; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9453.351 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.86

Abstract

Indonesia mempunyai peran yang cukup besar dalam negosiasi internasional untuk mengelola dampak dari perubahan iklim. Peran tersebut antara lain dengan menyelenggarakan the 13th Conference of the Parties to the UNFCCC di Bali yang menghasilkan the Bali Action Plan. Peran pada isu perubahan iklim di atas merupakan konsekuensi logis dari besarnya bahaya dan kerentanan wilayah Indonesia terhadap fenomena global tersebut, antara lain di wilayah pesisir dan laut. Secara lebih spesifik, wilayah Indonesia bagian timur memiliki karakteristik bahaya dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Kenaikan muka air laut dengan laju sekitar 0,6 – 0,8 cm/tahun, yang dapat menimbulkan dampak pada wilayah pemukiman, infrastruktur, dan ekosistem di wilayah pesisir serta pulau-pulau kecil. Sementara itu, peningkatan intensitas El Niño dan La Niña menyebabkan terjadinya perubahan pola arus dan sirkulasi laut seperti Arus Lintas Indonesia di Selat Makassar yang akan berdampak pada hasil tangkapan ikan. Selanjutnya, karakteristik gelombang laut juga mengalami perubahan sebagai akibat dari perubahan variabilitas iklim yang berdampak pada sektor transportasi laut. Selain itu, peningkatan intensitas La Niña, menyebabkan kenaikan intensitas pemutihan terumbu karang (coral bleaching) sebagai akibat dari kenaikan suhu permukaan laut yang drastis. Mengingat besarnya dampak dan kerentanan di wilayah Indonesia bagian timur tersebut, perlu disusun strategi adaptasi, yang meliputi strategi proteksi, akomodasi, dan retreat-adaptation. Indonesia has provided substantial role in international negotiations to manage the impacts of climate change. Roles include the holding of the 13th Conference of the Parties to the UNFCCC in Bali who produce the Bali Action Plan. Role in climate change issues is a logical consequence of the hazard and vulnerability of Indonesia to the global phenomenon, including in coastal areas and sea. More specifically, the eastern part of Indonesia has the characteristics of hazards and vulnerability to climate change. Sea level rise rate of about 0.6 to 0.8 cm / year, could have an impact on residential areas, infrastructure, and ecosystems in coastal zones and small islands. Meanwhile, the increased intensity of El Niño and La Niña leads to changes in currents and ocean circulation patterns such as Indonesia Through Flow in Makassar Strait that will be impact on fish catches. Furthermore, the characteristics of ocean waves is also changing because of climate changes variability and wil be impact on marine transportation sector. In addition, the increased intensity of La Niña, causing an increase in the intensity of coral bleaching (coral bleaching) as a result of rising sea surface temperatures are drastic. In consideration of the impact and vulnerability in eastern Indonesia, need to be developed adaptation strategies, include protection strategies, accommodation, and retreat-adaptation.
PEMBUATAN MODEL SEDERHANA PENGARUH GAS CO2, SO2 DAN NO2 TERHADAP TINGKAT KEASAMAN AIR HUJAN Agusta Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1488.971 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.82

Abstract

Telah dilakukan pembuatan model sederhana menggunakan pengaruh gas CO2,SO2 dan NO2 terhadap tingkat keasaman (pH) air hujan. Pengukuran gas Co2, SO dan NO dilakukan dengan metode monitoring terus-menerus. Gas CO diukur dengan instrumen 2 Picarro analyzer G1301 dengan metode CRDS, gas NO2 diukur dengan instrumen TS42-TL dengan metode Chemiluminescence, sedangkan gas SO2 diukur dengan instrumen TS43i-TLE dengan metode UV Fluorescence.Dari tiga macam gas tersebut muncul 7 macam skenario model. Besarnya pengaruh gas CO2, SO2 dan NO2 dihitung, kemudian dibandingkan dengan pH air hujan observasi. Besarnya nilai Korelasi Pearson digunakan sebagai indikator pemilihan skenario model yang sesuai. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tingkat keasaman air hujan di SPAG Bukit Kototabang pada bulan April 2009 dipengaruhi oleh campuran gas CO2 dan gas NO2, pada bulan Mei 2009 dipengaruhi oleh gas CO2 saja, pada bulan Juni 2009 dipengaruhi oleh campuran gas CO2 dan gas SO2. Data tingkat keasaman air hujan bulan April, Mei dan Juni 2009 dibandingkan dengan model ini mengkonfirmasi bahwa kondisi udara di lingkungan sekitar SPAG Bukit Kototabang masih bersih. Simple model has been created using effect of CO2, SO2 and NO2 on the level of rain water acidity (pH). Measurement of gases (CO2, SO2 and NO2) are conducted using continuous monitoring program. CO2 is measured by Picarro G1301 analyzer with CRDS method, NO2 is measured by TS42-TL analyzer with Chemiluminescence method, while SO2 gas is measured with TS43i-TLE analyzer with UV Fluorescence method. Three kinds of gas make 7 different scenario models. The amount of the influence of CO2, SO2 and NO2 is calculated, then acidy result from calcutation compared with its observation. Pearson correlation value is used as an indicator of an appropriate selection of model scenarios. The results show that acidity level of rainwater in GAW Bukit Kototabang Station in April 2009 was influenced by a mixture of CO2 and NO2 gases, in May 2009 was affected by CO2 alone, in June 2009 wasinfluenced by a mixture of CO2 and SO2 gas. The Data of acidity level of rain water in April, May and June 2009 compared with this model confirmed that air condition in environment around of Bukit Kototabang GAW Station still cleanness.
TEKNIK STATISTICAL DOWNSCALING DENGAN REGRESI KOMPONEN UTAMA DAN REGRESI KUADRAT TERKECIL PARSIAL UNTUK PREDIKSI CURAH HUJAN PADA KONDISI EL NINO, LA NINA, DAN NORMAL Woro Estiningtyas; Aji Hamim Wigena
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4155.775 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.87

Abstract

Makalah ini menyajikan hasil validasi model prediksi curah hujan di Kabupaten Indramayu dengan pendekatan statistika untuk downscaling, yaitu Regresi Komponen Utama dan Regresi Kuadrat Terkecil Parsial, pada kondisi El Nino, La Nina, dan Normal. Data curah hujan dari 6 stasiun hujan dan data presipitasi dari Global Circulation Model ECHAM3 digunakan dalam analisis ini dengan domain grid 8x8 (1.4°LU-18.1°LS; 98.4°-118.1°BT), di atas wilayah Indramayu. Data dibagi untuk setiap kondisi anomali iklim berdasarkan pada Oceanic Nino Index (ONI) yang menggunakan data suhu permukaan laut di Nino 3.4 dari hasil analisis NOAA. Rata- rata nilai RMSEP dan korelasi pada kondisi El Nino adalah 95.22 dan 0.66 untuk PCR serta 102.52 dan 0.62 untuk PLS, pada kondisi La Nina adalah 85.14 dan 0.65 untuk PCR, serta 98.43 dan 0.69 untuk PLS, sedangkan pada kondisi Normal diperoleh nilai rata-rata 91.41 dan 0.57 untuk PCR, serta 85.37 dan 0.63 untuk PLS. Secara umum pada kondisi El Nino PCR menunjukkan performa yang lebih baik daripada PLS, sedangkan pada kondisi La Nina dan Normal, PLS lebih baik daripada PCR. Pemilihan model tergantung pada cakupan wilayah yang dikaji, apakah mewakili daerah di sekitar stasiun hujan atau mewakili suatu wilayah kabupaten. This paper presents the results of validation of rainfall prediction models in Indramayu district using statistical approaches for downscaling, i.e. Principal Component Regression and Partial Least Square Regression, during El Nino, La Nina, and Normal conditions. Rainfall data from 6 stations and the precipitation data from Global Circulation Model ECHAM3 are used in this analysis with the domain size 8x8 (1.4°S-18.1°S; 98.4°-118.1°E), over the Indramayu region. Data are classified into each climatic anomaly condition based on the Oceanic Nino Index (ONI) which uses sea surface temperature data at the Nino 3.4 as the results of NOAA analysis. The average value of RMSEP and correlation in El Nino conditions are 95.22 and 0.66 for PCR and 102.52 and 0.62 for PLS,in La Nina conditions the values are 85.14 and 0.65 for the PCR, and 98.43 and 0.69 for the PLS, and in normal conditions the values are 91.41 and 0.57 for PCR, and 85.37 and 0.63 for PLS. In general PCR shows better performance than PLS in El Nino conditions, while in La Nina and Normal conditions the PLS performance is better than PCR. The selection model depends on the coverage areas studied, whether representing the area around the rainfall station or representing a district area.
COULOMB STATIC STRESS CHANGE DALAM INTERAKSI GEMPABUMI DOUBLETS 5.8 Mw DAN 5.9 Mw 22 JANUARI 2007 DAN GEMPABUMI 7.0 Mw 16 JUNI 2010 DI WILAYAH PAPUA I Made Kris Adi Astra
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3103.702 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.83

Abstract

Dalam kasus gempabumi di daerah Papua, teridentifikasi sebuah sekuel gempabumi. Dimulai dari hentakan gempabumi doublets 5,8 Mw dan 5,9 Mw pada 22 Januari 2007 dan kemunculan gempabumi berkekuatan 7,0 Mw pada tanggal 16 Juni 2010. Dari analisa perubahan stress coulomb didapatkan bahwa setelah gempabumi 5,8 Mw membentuk pola peningkatan stress positif berharga 0,02-0,09 bar berarah timur laut-barat daya dari episenter. Daerah  pola  peningkatan  stress  positif  ini  kelak  menjadi  episenter  bagi gempabumi 5,9 Mw selanjutnya. Selanjutnya setelah terjadinya gempabumi 5,9 Mw, terbentuk pola perubahan stress coulomb baru berarah utara-selatan dengan nilai signifikan 0,02-0,09 bar pada daerah peningkatan stress coulomb positif. Daerah sebelah utara ini juga merupakan lokasi episenter dari gempabumi 7,0 Mw kelak. Dalam artian perubahan peningkatan stress coulomb (coulomb stress change) yang bernilai positif berharga 0 < sf  < 1 bar dapat memicu terjadinya gempabumi terdekat selanjutnya. We identified an earthquake sequence over Papua region. Its strart from doublets earthquake on 22 January 2007 with 5,8 Mw and 5,9 Mw. Followed by 7,0 Mw that struck on 16 June 2010, 5,8 Mw earthquake produce the increasement of coulomb stress pattern 0,02-0,09 bar NE-SW. Area where the increasement of coulomb stress change  in NE, become the future 5,9 Mw epicenter. Then, after the 5,9 Mw struck, new pattern of coulomb stress change showed. Coulomb stress change increase from North to South with 0,02-0,09 bar. The Northern area of the 5,9 Mw epicenter where the coulomb stress increase is the location of 7,0 Mw future epicenter. This result show that increasement of  coulomb stress change in positive value between 0 < sf  < 1 could trigger future nearby earthquakes.
PEMANFAATAN DATA LUARAN MODEL PRAKIRAAN CUACA CONFORMAL-CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) SEBAGAI INPUT MODEL GELOMBANG WIND WAVE-05 Roni Kurniawan; Suratno Suratno; Hastuadi Harsa; Muhammad Najib Habibie; Utoyo Ajie Linarka
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13706.201 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.88

Abstract

Pada kajian ini dilakukan uji coba pemanfaatan data model cuaca CCAM untuk dijadikan sebagai input model WindWave-05. Data kondisi awal yang digunakan adalah dari data GFS, NCEP-NOAA tanggal 20 dan 23 Oktober 2010, diperoleh data angin hasil luaran model CCAM pada sigma level 1 dan  GFS pada ketinggian 10 meter untuk  prediksi 7 hari per 6 jam (dari jam ke 0 sampai 168). Adapun wilayah kajian adalah 90°-141°BT dan 15°LS–12°LU. Hasil kajian diperoleh bahwa data CCAM dapat digunakan sebagai input WindWave-05. Hasil verifikasi visual dari luaran model WindWave-05 menggunakan input data GFS dan CCAM menunjukkan kemiripan pola spasial, namun diperoleh perbedaan intensitas nilai yang cukup besar, hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan pengertian level ketinggian angin yang digunakan, dimana CCAM menggunakan sigma level 1 yang berada pada kisaran nol meter, sedangkan pada GFS level ketinggian angin 10 meter. Terkait dengan ketersediaan data, output CCAM dapat dijadikan sebagai alternatif untuk input Windwave-05, akan tetapi perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memperoleh parameter angin yang lebih sesuai dan dilakukan validasi dengan data observasi. This research accomplished the utilization of the CCAM output as input data for WindWave-05 model. The initial conditions data is the GFS NCEP-NOAA at 20 and 23 October 2010, and the wind data predictions from the CCAM model at sigma level 1 and GFS at 10 meters of altitude, for 7 days per 6 hours (from 0 to 168 hours), for the corresponding time scale. The coverage area of this study is 90°-141°E and 15°S-12°N. The results  showed that CCAM output can be used as input for WindWave-05. Visual verification method showed that the outputs of WindWave-05 have similar spatial patterns when using GFS and CCAM as input. The differences occured in the output of intensity values for each dataset. This occurred due to the difference of understanding the level of altitude winds that are used. CCAM used sigma level 1 to mesure the heights in the range of zero meters, while the GFS model used 10 meters of height. The results also proved that CCAM's output can be used as an alternative data for WindWave-05. Nevertheless, it is suggested to perform further research to obtain a more suitable, verified, and validated wind parameters according to the observation data.
ESTIMASI DATANGNYA KEMARAU PANJANG 2012/2013 BERBASIS HASIL ANALISIS KOMBINASI DATA ESPI DAN DMI Eddy Hermawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.79

Abstract

Penelitian ini dibuat dengan tujuan utamanya menganalisis perilaku fenomena baru atmosfer yang merupakan hasil silang antara fenomena El-Niño yang diwakili oleh data ESPI (ENSO Precipitation Index) dengan DMI (Dipole Mode Index) sebagai mini ENSO-nya Indonesia untuk kawasan Pasifik Barat selama 29 tahun pengamatan periode Januari1979 hingga Desember 2008. Berbasis kepada hasil analisis dengan menggunakan teknik analisis wavelet dan juga FFT (Fast Fourier Transform), kami mendapatkan bahwa osilasi baru tersebut berkisar sekitar 180 bulanan (~ 15 tahunan). Jika siklus ini berjalan sempurna(tanpa ada faktor lain yang mengganggunya), maka berbasis kejadian tahun 1982 dan 1997, diperkirakan tahun 2012/2013 nanti, kita akan mengalami musim kering yang berkepanjangan seperti kejadian tahun 1997. Hasil ini tentunya masih perlu dipertajam lagi, seperti analisis siklus ke-24 matahari, selain pemanfaatan data emisi CO2 Indonesia.Satu hal yang menarik dari penelitian ini adalah bahwa kawasan Sumatera Utara bagian utara, khususnya Aceh dan Medan, mereka nampaknya akan relatif aman dari bahaya (dampak) kering yang panjang, mengingat kawasan ini relatif basah sepanjang tahun hasilanalisis data GPCP (Global Precipitation Climatology Project) untuk analisis waktu pengamatan yang sama. This research was made with the main objective is to analyze the behavior of new atmospheric phenomena as the result of the crossing between El-Niño phenomenon represented by the data ESPI with DMI for 29 years observation for period of January 1979 to December 2008. Based on the results of analysis using wavelet analysis techniques as wellas FFT, we find that the new oscillation ranges for about 180 monthly (~ 15 years). If the cycle is running perfectly (without any other factors that bothered it), then based on events in 1982 and 1997, estimated the year 2012/2013, we will experience a prolonged dry season like the 1997 incident. These results are of course still need to be sharpened again, such as the analysis of the 24 solar cycles, in addition to the utilization of CO2 emission data in Indonesia. One thing the interesting point of this research is that the northern part of North Sumatra region, especially Aceh and Medan, they appear to be relatively safe from harm (impact) the long dry, since this region is relatively wet throughout the year results of data analysis GPCP for the same time observation of data analysis.
QUALITATIVE INTERPRETATION OF THE GRAVITY CHANGED AROUND LUSI, PORONG, SIDOARJO Masturyono Masturyono; Agustya Adimarta
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.84

Abstract

Bekerjasama dengan LAPINDO, BMKG melakukan pengukuran gavitasi di sekitar LUSI. Pengukuran dilakukan empat kali di 171 titik, dengan interval waktu rata-rata 24 hari antara dua pengukuran berturutan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan micro-gravimeter Scientrex CG-5, dengan tujuan untuk meneliti perubahan gravitasi disekitar LUSI yang disebabkan oleh keluarnya lumpur panas  ke atas permukaan bumi. Untuk itu penulis hanya memperhitungkan koreksi pasang surut dan koreksi drift saja, sebelum menghitung besarnya perubahan untuk tiap-tiap titik. Perubahan gravitasi Δg, didefinisikan sebagai selisih antara pengukuran sebelumnya dengan dengan pengukuran saat itu. Dari 4 kali pengukuran dapat dibuat 3 buah peta distribusi Δg. Pola nilai Δg yang negatif berbentuk hampir bulat, dengan pusatnya tidak berimpit dengan  pusat semburan lumpur panas, tetapi tergeser kearah Barat dan Barat Laut. Nilai maksimum Δg nya adalah sekitar -0,311 mgal, -0,243 mgal, dan -0,273 mgal untuk peta perubahan gravitasi pertama (Δg1), kedua (Δg2) dan ketiga (Δg3) berturut- turut. Dengan membandingkan subsiden yang ada di lokasi dan nilai Δg, dapat disimpulkan bahwa perubahan nilai gravitasi tersebut disebabkan oleh dua hal yaitu penurunan elevasi (subsiden) dan juga pengurangan densitas batuan. Sehingga dapat diperkirakan subsiden akan terjadi lagi di sebelah Barat dan Barat Laut dari pusat semburan lumpur panas. In collaboration with Lapindo, BMKG measured the micro-gravity around LUSI. The measurements were conducted at 171 points. Each point was measured 4 times with time interval between two consecutive measurement is 24 days, in average. The measurements were using micro-gravimeter Scientrex CG-5, intended to investigate the gravity changed caused by the hot- mud outflows in LUSI. Authors applied the tide and drift correction before calculating the gravity changed. The gravity changed (Δg) is defined as the difference between the previous and the recent gravity measurement for each point. The pattern of negative (Δg) are in circular shapes, in which the location of the center is not co-located with the source of hot-mud outflow, but displaced to the west and to the north west. The maximum (Δg) in this area are -0.311 mgal -0.243 mgal and -0.273 mgal for the first (Δg1), second (Δg2) and third (Δg3), respectively. By comparing the occurrence of subsidence on sites and the value of the Δg, the changed of gravity is caused by both the subsidence and the decrease of density. Therefore, it can be predicted that the subsidence around Porong may be expanded to the West and North west of the mud outflow center.

Page 1 of 2 | Total Record : 12