cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2014)" : 8 Documents clear
PERBANDINGAN INDEKS FINE FUEL MOISTURE CODE (FFMC) DAN FIRE WEATHER INDEX (FWI) PADA SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN HUTAN/LAHAN LUARAN WRF DENGAN OBSERVASI ( PERIODE: JUNI - AGUSTUS 2013) Eko Heriyanto; Lailan Syaufina; Sobri Effendy
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.759 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.181

Abstract

Pengembangan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan (SPBK) dilakukan dengan memanfaatkan luaran WRF resolusi 9 km. Indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau tingkat kemudahan terjadinya kebakaran dan Fire Weather Index (FWI) atau tingkat kesulitan pengendalian kebakaran disusun menggunakan parameter cuaca, seperti suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin, serta curah hujan kumulatif. Kondisi klimatologis periode bulan Juni–Agustus 2013 pada umumnya normal, tanpa dipengaruhi El-Nino maupun La-Nina. Dilakukan verifikasi parameter cuaca luaran WRF terhadap data observasi. Indeks FFMC dan FWI luaran WRF dibandingkan dengan hasil observasi pada 8 (delapan) lokasi yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Hasil verifikasi luaran WRF menunjukkan korelasi yang kuat – sangat kuat dengan rentang nilai 0.53–0.80 untuk semua parameter penyusun indeks. Perbandingan indeks FFMC dan FWI luaran WRF dengan observasi mempunyai korelasi diatas 0.56 dengan maksimum persentase kesalahan sebesar 0.57. Berdasarkan hasil verifikasi, luaran WRF dapat digunakan untuk menyusun indeks FFMC dan FWI pada Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan. Development of Land/Forest Fire Danger Rating System (SPBK) is done using WRF output resolution 9 km. Fine Fuel Moisture Index Code (FFMC) or a level of ease of fire and the Fire Weather Index (FWI) or the level of difficulty of fire control were prepared using weather parameters, such as temperature, humidity, wind speed, and direction, as well as the cumulative rainfall. Climate conditions in the period June to August 2013 at the generally normal, independent of the El-Nino and La-Nina. The WRF output weather parameters have been verified with observation data. FFMC and FWI index WRF outputs compared with observations at 8 (eight) locations are covered in Sumatra and Kalimantan. The result of verification WRF outputs showed a strong - very strong correlation with a value range 0.53-0.80 for all parameters making up the index. A comparison of FFMC and FWI index from WRF's output with observation correlates 0.56 with a maximum percentage error of 0.57. Based on the results of verification, WRF outputs can be used to index FFMC and FWI Land/Forest Fire Danger Rating System.
ANALISIS PARAMETERGEO-ATMOSFERIK DAN GEOKIMIA SEBAGAI PREKURSOR GEMPABUMI DI PELABUHAN RATU, SUKABUMI Suliyanti Pakpahan; Boko Nurdiyanto; Drajat Ngadmanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.063 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.177

Abstract

Monitoring parameter geo-atmosferik dan geokimia sebagai perpaduan dari monitoring emisi gas radon, suhu udara permukaan, suhu dan kelembaban tanah dilakukan di Stasiun Observatori Geofisika Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat untuk mengetahui hubungannya dengan aktivitas gempabumi. Penelitian di Indonesia mengenai hubungan parameter geo-atmosferik dan geokimia dengan prekursor gempabumi baru pertama kali dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (Puslitbang BMKG). Monitoring gas radon, suhu, dan kelembaban tanah dilakukan menggunakan sistem monitoring radon RAD7 dengan sensor soil gas probe yang ditanam pada kedalaman 1,2 meter. Data pengamatan suhu permukaan adalah suhu maksimum dan minimum yang tercatat menggunakan termometer air raksa. Anomali radon, suhu, dan kelembaban dikorelasikan dengan kejadian gempabumi yang memenuhi radius zona manifestasi prekursor berdasarkan penelitian Dobrovolsky. Hasil analisis parameter geo-atmosferik menunjukkan adanya penurunan sebesar 5,3°-13° yang diikuti kenaikan sebesar 6°-8,2° pada nilai Tmax-Tmin suhu permukaan. Sementara untuk analisis geokimia menunjukkan adanya kenaikan gas radon sebesar 1,5-60 kali dari nilai normalnya, kenaikan kelembaban sebesar 6%-21%, dan kenaikan suhu tanah 1,5°-3,2° yang diikuti penurunan sebesar 1,5°-4°.  Anomali geo-atmosferik dan geokimia yang diduga sebagai prekursor gempabumi terdeteksi 3-30 hari sebelum gempabumi sehingga parameter ini termasuk dalam prekursor jangka pendek yang berhubungan dengan proses deformasi di wilayah pengamatan sebelum gempabumi. Monitoring of geo-atmospheric and geochemical parameters, as a combination monitoring of radon emission, surface air temperature, and soil temperature and humidity, located in Geophysical Observatory Station Pelabuhan Ratu, Sukabumi, West Java, to determine its relation with the earthquake. In Indonesia, it was the first research of earthquake precursors using these methods, conducted by Research and Development Center, Indonesian Agency of Meteorology Climatology and Geophysics. Monitoring of radon, soil temperature and humidity using RAD7 radon monitoring system where probes sensor are placed at 1.2 meters below land surface. The maximum and minimum air temperature recorded by a mercury thermometer. The anomalies of radon, temperature, and humidity are correlated with the occurrence of earthquakes within a radius of precursor manifestation zone, refer to Dobrovolsky's research. The results of analysis show a decrease of 5.3°-13° which followed by an increase of 6°-8.2° on the surface temperature; an increase of radon gas at 1.5-60 times of the normal value, the increase of humidity ranged on 6% -21%, and the soil temperature rise of 1.5°-3.2° followed by a decrease of 1.5°-4°. Geo-atmospheric and geochemical anomalies indicated as precursors detected 3-30 days before the earthquake and categorized as short-term precursors that associated with the deformation process in the observation region before the earthquake.
AKTIVITAS SESAR LEMBANG DI UTARA CEKUNGAN BANDUNG Rasmid Rasmid
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.404 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.182

Abstract

Sesar Lembang yang membentang mulai dari Gunung Manglayang di bagian Timur hingga Cisarua di bagian barat yang panjangnya sekitar ± 22 km diduga merupakan sesar yang masih aktif. Untuk membuktikannya, maka dipasang 4 buah seismometer disekitar Sesar Lembang yaitu di Ciater, Tangkuban Perahu, Cimenyan dan di Lembang mulai Mei 2010 – Agustus 2013. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menentukan lokasi hypocenter gempa bumi yang lebih presisi, serta menentukan mekanisme sumber gempa bumi. Untuk mengetahui posisi gempabumi-gempabumi tersebut, maka dilakukan proses pengolahan penentuan pusat gempa bumi yaitu metoda tiga lingkaran, direlokasi lagi dengan metoda single event determination dan joint hypocenter determination, dan penentuan mekanisme sumbernya dengan menggunakan software isola. Gempa bumi-gempa bumi terkonsentrasi pada kedalaman 3-4 km, sebagian lagi tersebar pada kedalaman 6-7 km. Berdasarkan data mekanisme sumber, maka gempa bumi-gempa bumi yang terjadi, terdiri dari gempa bumi yang dihasilkan oleh Sesar Lembang bagian atas yaitu berupa gempa bumi-gempa bumi tipe strike slip, serta gempa bumi dengan kedalaman 6-7 km dengan tipe pensesaran naik (thrusting). Selain itu juga terdapat gempa bumi-gempa bumi yang dihasilkan oleh sesar-sesar sekunder yang berarah timur laut dengan tipe pensesaran normal. Berdasarkan data diatas, maka Sesar Lembang merupakan sesar yang masih aktif. Lembang Fault which extends from Manglayang mount in the east to Cisarua in the West, which long about ± 22 km is thought to be the fault is still active. To prove it, then to install 4 seismometers around Lembang fault Ciater, Tangkuban Perahu, Cimenyan and in Lembang and began in May 2010 - August 2013. The purpose of this study was to determine the hypocenter location and the mechanism of the earthquake source. To locate the earthquakes, 3 circles methods were employed: relocated used single event determination method and joint hypocenter determination method, and processed with the software mechanism Isola source. Earthquakes are concentrated at depths of 3-4 km, partly scattered at a depth of 6-7 km. Based on the source mechanism data, the earthquakes that occurred consisted of earthquakes produced by the upper Lembang fault of earthquakes strike-slip type, and the depth earthquakes 6-7 km with thrusting type. There are also earthquakes generated by second faults with northeast-trending normal type. Based on the above data, Lembang's fault is active.
SIMULATION OF RAINFALL OVER WEST NUSA TENGGARA PROVINCE BASED ON ECHAM5/MPI-OM AND GFDL CM2.1 Dian Nur Ratri; Mugni Hadi Hariadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.216 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.178

Abstract

Simulasi curah hujan di Propinsi Nusa Tenggara Barat dipelajari dengan menggunakan Regional Climate Model (RCM) Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) dari CSIRO yang didukung oleh model global (General Circulation Models atau GCMs) yaitu ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Tiga periode yang dikaji dalam studi ini adalah 1980–1999, 2050–2069, dan 2080–2099. Untuk simulasi periode 1980–1999 dievaluasi terhadap observasional data. Secara umum, untuk simulasi pola curah hujan tahunan periode 2050–2069 dan 2080–2099,  ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 menunjukkan pola simulasi yang hampir sama. Namun, simulasi kedua model global ini untuk curah hujan tahunan periode observasi (1980–1999) berbeda. Bila dilihat secara musiman, simulasi model untuk musim kemarau periode 2060 dan periode 2090, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 jika dibandingkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dan sebaliknya pada musim hujan. Rainfall over the West Nusa Tenggara Province was simulated by a Regional Climate Model (RCM) - the CSIRO Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) driven by two host General Circulation Models (GCMs), ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Three periods considered for this study were 1980–1999, 2050–2069, and 2080–2099 for the IPCC SRES greenhouse gas emission scenario A2. Simulations for the 1980–1999 periods were evaluated against observational data. The finding shows that in general, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 did not show any significant behavior in simulating annual mean rainfall patterns for the period of 2050–2069 and period of 2080–2099. Nevertheless, for the current period (1980–1999) those both GCMs are markedly different in the simulation of annual mean rainfall. There are also simulations of seasonal mean rainfalls, dry and wet season, and show that ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 are nearly similar in simulating dry season but not for the wet season.
MODEL PRAKIRAAN KEJADIAN GEMPABUMI DI DAERAH BENGKULU Sabar Ardiansyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.762 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.183

Abstract

Sebelum terjadi gempabumi utama, biasanya akan didahului oleh suatu pola atau siklus kegempaan. Siklus ini meliputi periode normal, periode anomali yang ditandai dengan peningkatan aktivitas, periode precursory gap yang ditandai dengan penurunan aktivitas seismik, dan periode terjadinya gempabumi utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat siklus kegempaan serta membuat model (persamaan) perkiraan terjadinya gempabumi di wilayah Bengkulu untuk kegunaan mengestimasi besarnya magnitudo gempabumi yang akan terjadi berdasarkan model yang dibuat. Data yang digunakan adalah katalog data kegempaan M ≥ 4,5 di daerah Bengkulu pada rentang tahun 1971-2013 yang diambil melalui website USGS. Metode yang digunakan untuk perhitungan model perkiraan magnitudo gempabumi menggunakan metode predictive regressions dengan perhitungan  regresi linier berbobot. Berdasarkan hasil analisis model yang sudah dibuat menunjukkan bahwa siklus kegempaan daerah Bengkulu memasuki periode precursory gap yang ditandai dengan penurunan aktivitas kegempaan dan diperkirakan saat ini daerah Bengkulu memilki potensi gempabumi dengan kekuatan M>7,5. Before a major earthquake occurs, it will usually be preceded by a pattern or cycle of seismicity. This cycle includes a period of a normal, anomalous period marked by increased activity, the precursory gap period is characterized by a decrease in seismic activity, and the period of occurrence of major earthquakes. The purpose of this study is to look at the seismic cycle and the model (equation) estimates the occurrence of earthquakes in the region to estimate the Bengkulu earthquake magnitude that will occur based on the model created. The data used is a catalog of seismic data for M ≥ 4.5 in the Bengkulu areas in the range of 1971 to 2013 and was taken through the USGS catalog. The method used to estimate the magnitude of earthquake model calculations using the predictive regressions with weighted linear regression calculation. Based on the analysis, a model that has been made indicates that the current estimated Bengkulu area has a potential earthquake with the strength of M > 7.5 seismicity cycle Bengkulu area entered a period of the precursory gap is characterized by a decrease in seismic activity.
ANALISIS SPASIAL INDEKS KEKERINGAN KABUPATEN INDRAMAYU Muhamad Iid Mujtahiddin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.65 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.179

Abstract

Analisa spasial indek kekeringan di wilayah Kabupaten Indramayu dilakukan dengan menggunakan 13 pos hujan yang tersebar di wilayah Kabupaten Indramayu selama periode 30 tahun dari tahun 1980 hingga 2009. Penghitungan neraca air dilakukan dengan menggunakan metode Thornthwaite-Matter. Hasil analisa indeks kekeringan menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Indramayu mengalami kekeringan dimulai dari bulan April hingga November dengan tingkat kekeringan kategori berat mengalami puncaknya pada bulan September sebesar 86%.  Dari analisa spasial indeks kekeringan, pada bulan Juli hingga Oktober secara keseluruhan wilayah kabupaten Indramayu mengalami kekeringan tingkat berat. Wilayah di kabupaten Indramayu yang mengalami kekeringan lebih cepat terjadi di sekitar wilayah Bulak dan Losarang. Hasil penelitian ini menjadi rekomendasi dalam melakukan antisipasi dan mitigasi kekeringan di wilayah kabupaten Indramayu terkait Indramayu sebagai kabupaten penghasil padi terbesar pertama di Provinsi Jawa Barat. Analisa kekeringan dalam penelitian ini merupakan analisa kekeringan secara meteorologis yaitu pendekatan kekeringan yang berdasarkan pada data curah hujan dan evaporasi, belum memperhitungkan secara agronomis. Spatial analysis of drought index at Indramayu using 13 (thirteen) rain gauge scattered of district Indramayu during the period 30 years from 1980 to 2009 has conducted. The water balance calculation was done with the Thornthwaite-Matter method. Drought index analysis results indicated that Indramayu experiencing drought starting from April to November with a severe level drought index experienced its peak in September by 86%. From the spatial analysis of drought index, from July to October, its district Indramayu relatively experiencing a rate of severe drought. Bulak and Losarang region was experienced faster drought. This research recommended in anticipation and mitigation of drought since Indramayu is the first largest rice-producing region in West Java Province. Analysis of drought in this research is an analysis of meteorological drought based on rainfall data and evaporation, not taking into agronomically.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.612 KB)

Abstract

Sampul dan Pengantar Jurnal MG Volume 15 No 2 Tahun 2014
VALIDASI DATA TRMM TERHADAP DATA CURAH HUJAN AKTUAL DI TIGA DAS DI INDONESIA M. Djazim Syaifullah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.180

Abstract

Validasi data TRMM telah dilakukan dengan data curah hujan di tiga DAS di wilayah Indonesia. Ketiga DAS tersebut adalah: DAS Citarum-Jawa Barat, DAS Sutami-Brantas Jawa Timur dan DAS Larona-Sulawesi Selatan. Dari analisis dua jenis tipe data TRMM NASA (3B42RT) dan TRMM Jaxa (GSMap_NRT) menunjukkan bahwa TRMM Jaxa lebih mendekati data pengamatan dibandingkan dengan TRMM NASA. Secara umum dari hasil analisis untuk ketiga DAS memperlihatkan bahwa nilai curah hujan TRMM Jaxa (GSMap_NRT) mempunyai pola yang mengikuti curah hujan pengamatan (aktual) meskipun nilainya cenderung di bawah perkiraan. Perbedaan ini salah satunya bisa diakibatkan karena pemasangan penakar hujan yang kurang representatif terhadap DAS sehingga rerata curah hujan wilayahnya kurang merepresentasikan DAS tersebut. Untuk plot scatter bulanan nilai korelasinya lebih baik dibandingkan dengan plot scatter harian (dari 0.13~0.14 meningkat menjadi 0.58~0.75) dan nilai RMSE menurun (dari rerata 11.6 mm/hari menjadi 7.6 mm/hari), sehingga analisis TRMM bulanan lebih merepresentasikan kondisi aktual. TRMM data validation has been done with rainfall data in three watersheds of Indonesia. There are Citarum (West Java), Sutami-Brantas (East Java) and Larona (South Sulawesi). There are two types of TRMM data; TRMM NASA (3B42RT) and TRMM Jaxa (GSMap_NRT). The analysis of both types of data indicates that the TRMM Jaxa closer to observed data. In general, the results of the analysis for all three catchments showed that the value of TRMM rainfall Jaxa (GSMap_NRT) has a better agreement to the pattern of observed rainfall data although it's value tends to underestimate. This difference could be caused due to the installation of the rain gauge less representative of catchment so that the average rainfall less territory represents the catchment. Scatter plot for the monthly data has a better correlation coefficient than the daily plot (0.13~0.14 raise 0.58~0.75) and decreasing RMSE value (from average 11.6 mm/day to 7.6 mm/day), so monthly analysis of TRMM has more represents the actual conditions.

Page 1 of 1 | Total Record : 8