cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.287 KB)

Abstract

Sampul dan Pengantar Jurnal MG Volume 15 No 3 Tahun 2014
Pengantar JMG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.303 KB)

Abstract

Pengantar Jurnal Meteorologi dan Geofisika  Volume 14 No 1 Tahun 2013
COMPARING BIAS CORRECTION METHODS TO IMPROVE MODELLED PRECIPITATION EXTREMES Yeli Sarvina; Thomas Pluntke; Christian Bernhofer
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.877 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.449

Abstract

ESTIMASI WAKTU ULANG GEMPABUMI MENGGUNAKAN BESARAN STRESS DROP STATIS DAN STRAIN RATE (Studi kasus : Gempabumi Mentawai 25 Oktober 2010) Jaya Murjaya; P. J. Prih Haryadi; Lilik Hendrajaya; Kirbani Sri Brotopuspito; Subagyo Pramumijoyo
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.808 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i1.115

Abstract

Usaha untuk menentukan waktu perulangan (τr) gempabumi telah banyak dilakukan dengan berbagai metode, namun sampai saat ini hasilnya masih kurang memuaskan. Pada studi ini penetuan τr dilakukan dengan   menggunakan parameter karakteristik sumber gempabumi.  τr diestimasi dengan menggunakan stress drop statis (∆σ) dari parameter sumber gempabumi dan seismogram. Parameter sumber gempabumi yang digunakan terdiri dari momen seismik (Mo), Slip rata-rata (panjang L dan lebar W) digunakan untuk mengestimasi ∆σ gempabumi Mentawai (Mw 7.7) tanggal 25 Oktober 2010. 6 (enam) lembar seismogram dari stasiun seismik PPI, PSI, KLI, KAPI, AAI dan JAY juga digunakan untuk menduga besaran ∆σ untuk gempabumi tersebut. Menggunakan varian parameter sumber gempabumi pada model circular crack, didapatkan nilai ∆σ sekitar 3,6 bar sampai 28,8 bar, sedangkan pada model dip slip sekitar 9,62 bar sampai 65,86 bar. Apabila digunakan nilai strain rata-rata berorde 10-15 s-1, akumulasi stress dapat diduga sekitar 7076 Pa/tahun. Dengan membandingkan kedua nilai ∆σ yang dilepas oleh gempabumi Mentawai terhadap akumulasi stress, maka nilai τr didapat sekita 75 tahun sampai 930 tahun. A lot of methods is used to determine of earthquake recurrence time (τr) but the result was still unsufficient. τr  can be estimated by using the static stress drop (∆σ) from the earthquake source parameter (ESP) and seismogram. That parameters consist of seismic moment (Mo), Slip rate (length L and width W) is used to estimate of ∆σ of Mentawai earthquake (Mw 7.7) on Oct 25, 2010. Then the six seismograms from PPI, PSI, KLI, KAPI, AAI and JAY was used also to estimate of the ∆σ. Using the variant of ESP above to the circular crack model, the ∆σ was found around 3,6-28,8 bars, for dip slip model around 9,62- 65,86 bars. Then applied strain rate value with order 10-15 s-1, the stress accumulation can be estimated around 7076 Pa yr-1. By comparing the ∆σ values with stress accumulation, the τr is found around 75 yr until 930 yr.
RELOKASI DAN DISTRIBUSI b-VALUE GEMPABUMI SWARM JAILOLO, HALMAHERA BARAT Yanuarsih Tunggal Putri; Nova Heryandoko; Wandono Wandono; Rivai Marulak; Suwardi Suwardi; Zulfikar Zulfikar; Barkah Yuniarto; Lutfi Pary; Basri Kamaruddin
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 3 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2378.748 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i3.336

Abstract

Aktivitas kegempaan di daerah Jailolo meningkat tajam pada bulan November sampai Desember 2015, dimana terjadi fenomena gempabumi swarm pada rentang waktu tersebut. BMKG pusat Jakarta mencatat 96 gempabumi dengan magnitude antara 2.5 sampai 4.8. Sedangkan stasiun geofisika BMKG wilayah Ternate mencatat 1185 gempabumi dengan magnitude 1.1 sampai 5.1 menggunakan single station. Sejumlah 33 gempabumi dirasakan dengan intensitas antara dua sampai dengan empat MMI dengan beberapa kerusakan pada rumah warga dan sarana umum. Relokasi gempabumi dilakukan menggunakan data BMKG pusat dengan metode MJHD. Relokasi gempabumi ditujukan untuk mengetahui distribusi gempabumi yang terjadi dengan lebih baik. Penghitungan b-value di daerah Jailolo menggunakan data gempabumi single station dari stasiun geofisika Ternate dilakukan untuk mengetahui distribusi dan karakteristik b-value di daerah tersebut. Hasil relokasi gempabumi menunjukkan gempabumi swarm yang terjadi terkonsentrasi pada 127.4° - 127.6° BT dengan perbaikan pada distribusi kedalaman dimana sebagian besar gempabumi terjadi pada kedalaman kurang dari 20 km. Sedangkan hasil penghitungan nilai b-value menunjukkan daerah dengan konsentrasi gempa memiliki nilai b-value cukup tinggi (± 1.0). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gempabumi swarm yang terjadi kemungkinan dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik. Namun penelitian lebih lanjut diharapkan dapat dilakukan untuk lebih memahami penyebab dan karakteristik gempabumi swarm tersebut.
COULOMB STATIC STRESS CHANGE DALAM INTERAKSI GEMPABUMI DOUBLETS 5.8 Mw DAN 5.9 Mw 22 JANUARI 2007 DAN GEMPABUMI 7.0 Mw 16 JUNI 2010 DI WILAYAH PAPUA I Made Kris Adi Astra
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3103.702 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.83

Abstract

Dalam kasus gempabumi di daerah Papua, teridentifikasi sebuah sekuel gempabumi. Dimulai dari hentakan gempabumi doublets 5,8 Mw dan 5,9 Mw pada 22 Januari 2007 dan kemunculan gempabumi berkekuatan 7,0 Mw pada tanggal 16 Juni 2010. Dari analisa perubahan stress coulomb didapatkan bahwa setelah gempabumi 5,8 Mw membentuk pola peningkatan stress positif berharga 0,02-0,09 bar berarah timur laut-barat daya dari episenter. Daerah  pola  peningkatan  stress  positif  ini  kelak  menjadi  episenter  bagi gempabumi 5,9 Mw selanjutnya. Selanjutnya setelah terjadinya gempabumi 5,9 Mw, terbentuk pola perubahan stress coulomb baru berarah utara-selatan dengan nilai signifikan 0,02-0,09 bar pada daerah peningkatan stress coulomb positif. Daerah sebelah utara ini juga merupakan lokasi episenter dari gempabumi 7,0 Mw kelak. Dalam artian perubahan peningkatan stress coulomb (coulomb stress change) yang bernilai positif berharga 0 < sf  < 1 bar dapat memicu terjadinya gempabumi terdekat selanjutnya. We identified an earthquake sequence over Papua region. Its strart from doublets earthquake on 22 January 2007 with 5,8 Mw and 5,9 Mw. Followed by 7,0 Mw that struck on 16 June 2010, 5,8 Mw earthquake produce the increasement of coulomb stress pattern 0,02-0,09 bar NE-SW. Area where the increasement of coulomb stress change  in NE, become the future 5,9 Mw epicenter. Then, after the 5,9 Mw struck, new pattern of coulomb stress change showed. Coulomb stress change increase from North to South with 0,02-0,09 bar. The Northern area of the 5,9 Mw epicenter where the coulomb stress increase is the location of 7,0 Mw future epicenter. This result show that increasement of  coulomb stress change in positive value between 0 < sf  < 1 could trigger future nearby earthquakes.
IDENTIFIKASI AMBANG BATAS CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI JABODETABEK: STUDI KASUS BANJIR JAKARTA TANGGAL 09 FEBRUARI 2015 Rahayu Sapta Sri Sudewi; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2613.294 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.315

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik dinamika atmosfer saat kejadian hujan lebat di wilayah Jakarta pada tanggal 09 Februari 2015 dan menentukan nilai ambang batas (threshold) intensitas curah hujan (CH) yang dapat digunakan untuk peringatan dini cuaca ektrim di wilayah Jakarta. Hujan lebat dengan intensitas rata-rata 118,4 mm/hari yang terjadi tanggal 09 Februari 2015 di wilayah Jabodetabek bukan merupakan peristiwa yang signifikan bila dibandingkan dengan kejadian sebelumnya. Berdasarkan tinjauan dinamis pada tanggal tersebut, terdapat cold surge dari Asia yang membangkitkan angin timur laut bertemu dengan angin selatan yang berasal dari Samudera Hindia, dan pada saat bersamaan terdapat tekanan rendah di bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membentang dengan arah utara-selatan dan bergerak ke arah barat. Kondisi tersebut membangkitkan dominan angin timur dan di sebelah utara NTT hingga Jawa barat bagian utara terdapat shear, selain itu wilayah sebelah utara Jawa Barat, Banten dan Jakarta merupakan daerah pertemuan interaksi ketiga angin tersebut. keadaan tersebut memicu terjadinya pembentukan awan disepanjang Pulau dan laut Jawa, selat karimata, dan Pulau Jawa, termasuk di wilayah Jakarta yang menimbulkan hujan lebat yang berpotensi banjir. Hasil pendekatan model statistik dengan lima pengelompokan/kategori berdasarkan intensitas CH di wilayah Jakarta saat terjadi banjir tahun 2007, 2008, 2013, dan 2014, adalah untuk kategori “Awas” dengan intensitas CH rata-rata sebesar 35-47 mm/hari, “Siaga 3” dengan intensitas CH rata-rata 48-61 mm/hari, “Siaga 2” dengan intensitas CH 62-74 mm/hari, kategori “Siaga 1” dengan intensitas CH rata-rata 75-87 mm/hari, dan kategori “Bencana” dengan intensitas curah hujan sebesar 88-101 mm/hari. This study aimed to understand the atmospheric dynamic characteristic of heavy rainfall in Jakarta on February 9, 2015, and to determine the threshold value of rainfall intensity (CH) that can be used for early warning of extreme weather in Jakarta area. Heavy rainfall with an average intensity of 118.4 mm/day which occurred on February 9, 2015, in the Jakarta area is not as significant as previous events. Based on dynamical conditions on that date, the cold surge from Asia enhances northeasterly winds met with southerly winds coming from the Indian Ocean, and at the same time there was a low-pressure system in the south of NTT stretches north-south direction moving westward. This condition created dominantly easterly winds and at the north of NTT to the northern part of West Java exist a shear, meanwhile, the northern part of West Java, Banten and Jakarta were a meeting and interaction area of these three wind components. This condition triggers the clouds formations along Karimata Strait, Java Sea and the island of Java, including Jakarta that caused heavy rainfall and flood potential. Statistical models result in five categories based on the rainfall intensity in Jakarta during floods in 2007, 2008, 2013, and 2014, which were "Caution" for average rainfall of 35-47 mm/day, "Standby 3" for average rainfall of 48-61 mm/day, "Alert 2" for average rainfall of 62-74 mm/day, "Alert 1" for average rainfall of 75-87 mm/day, and “Disaster” for average rainfall of 88-101 mm/day, respectively.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.772 KB)

Abstract

Sampul Jurnal Meteorologi dan Geofisika
MODEL PRAKIRAAN KEJADIAN GEMPABUMI DI DAERAH BENGKULU Sabar Ardiansyah
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.762 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.183

Abstract

Sebelum terjadi gempabumi utama, biasanya akan didahului oleh suatu pola atau siklus kegempaan. Siklus ini meliputi periode normal, periode anomali yang ditandai dengan peningkatan aktivitas, periode precursory gap yang ditandai dengan penurunan aktivitas seismik, dan periode terjadinya gempabumi utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat siklus kegempaan serta membuat model (persamaan) perkiraan terjadinya gempabumi di wilayah Bengkulu untuk kegunaan mengestimasi besarnya magnitudo gempabumi yang akan terjadi berdasarkan model yang dibuat. Data yang digunakan adalah katalog data kegempaan M ≥ 4,5 di daerah Bengkulu pada rentang tahun 1971-2013 yang diambil melalui website USGS. Metode yang digunakan untuk perhitungan model perkiraan magnitudo gempabumi menggunakan metode predictive regressions dengan perhitungan  regresi linier berbobot. Berdasarkan hasil analisis model yang sudah dibuat menunjukkan bahwa siklus kegempaan daerah Bengkulu memasuki periode precursory gap yang ditandai dengan penurunan aktivitas kegempaan dan diperkirakan saat ini daerah Bengkulu memilki potensi gempabumi dengan kekuatan M>7,5. Before a major earthquake occurs, it will usually be preceded by a pattern or cycle of seismicity. This cycle includes a period of a normal, anomalous period marked by increased activity, the precursory gap period is characterized by a decrease in seismic activity, and the period of occurrence of major earthquakes. The purpose of this study is to look at the seismic cycle and the model (equation) estimates the occurrence of earthquakes in the region to estimate the Bengkulu earthquake magnitude that will occur based on the model created. The data used is a catalog of seismic data for M ≥ 4.5 in the Bengkulu areas in the range of 1971 to 2013 and was taken through the USGS catalog. The method used to estimate the magnitude of earthquake model calculations using the predictive regressions with weighted linear regression calculation. Based on the analysis, a model that has been made indicates that the current estimated Bengkulu area has a potential earthquake with the strength of M > 7.5 seismicity cycle Bengkulu area entered a period of the precursory gap is characterized by a decrease in seismic activity.
ANALISIS DATA GRAVITASI UNTUK IDENTIFIKASI SESAR LOKAL PENYEBAB GEMPABUMI DI WILAYAH BARAT DAYA SUMBA INDONESIA Relly Margiono; Adinda Novitri; Anggi Pevriadi; Hilmi Zakariya
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 22, No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2059.074 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v22i2.824

Abstract

Pulau Sumba terletak pada Zona Transisi Busur Sunda-Banda dan memisahkan Cekungan Savu dengan Cekungan Lombok. Pulau ini memiliki tatanan tektonik yang komplek dan termasuk wilayah yang rawan terhadap bencana gempabumi. Berdasarkan monitoring kegempaan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah terjadi gempabumi sebanyak 380 kali sejak 5 Agustus 2020 hingga 12 Agustus 2020. Gempabumi tersebut merupakan jenis gempabumi dangkal akibat deformasi kerak benua di dasar laut. Berdasarkan kejadian gempa tersebut, penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan pada lokasi hiposenter gempa dengan menggunakan data gravitasi dari Satelit Topex dan juga untuk menentukan nilai anomali bouger di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah Second Vertical Derivative (SVD) dan First Horizontal Derivative (FHD) untuk mengetahui batas karakteristik geologi dan batas bidang kontak struktur. Berdasarkan hasil analisis FHD dan SVD, didapatkan struktur sesar yang memanjang dari Barat Laut ke Tenggara dengan mekanisme sesar turun. Selain itu, didapatkan nilai anomali bouguer pada rentang -29,6 mGal hingga 184,5 mGal.