cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
PROFIL VERTIKAL ATMOSFER SELAMA AKTIVITAS SIKLON TROPIS CEMPAKA DAN DAHLIA Eka Fibriantika
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.563 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i2.589

Abstract

Siklon Tropis Cempaka dan Dahlia yang terbentuk di wilayah Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta pada akhir bulan November 2017 telah mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sebagian besar Pulau Jawa. Posisi kedua siklon tersebut yang sangat dekat dengan Pulau Jawa mempengaruhi kondisi tropospher atas dan stratosphere bawah di Pulau Jawa. Pada penelitian ini dilakukan  analisis profil vertikal atmosphere di Pulau Jawa dengan menggunakan data Radiosonde pada tiga stasiun pengamatan radiosonde, yaitu Stasiun Meteorologi Cengkareng, Stasiun Meteorologi Cilacap, dan Stasiun Meteorologi Juanda. Penelitian  ini bertujuan mengetahui kondisi profil vertikal pada saat terjadi Siklon Tropis Cempaka dan Siklon Tropis Dahlia. Data yang digunakan adalah data radiosonde pada Desember-Februari (DJF) tahun 2013-2017 di Stasiun Meteorologi Cengkareng dan Juanda, DJF tahun 2017 di Stasiun Meteorologi Cilacap, serta data pada ketiga stasiun saat terjadi siklon tropis. Nilai rerata parameter cuaca dan indeks stabilitas atmosphere yang diperoleh melalui software RAOB versi 6.5 menunjukan Siklon Tropis Cempaka memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap kondisi profil vertikal atmosfer di Pulau Jawa dibandingkan dengan Siklon Tropis Dahlia. Equatorial Undercurrent (EUC) plays an important role in the dynamic of the eastern Indian Ocean. EUC supplies water masses with high salinity into Indonesian waters. This article examines the EUC and its water mass characteristics at 90°E across 2°S - 2°N on 1st - 3rd March 2017 which is part of the Initiative on Maritime Observation and Analysis Expedition (Indonesian Prima 2017). The analysis of temperature, salinity, and sigma-t data obtained from conductivity, temperature and depth (CTD) instruments at five stations (CTD11-CTD14) and current profiles of Shipboard Acoustic Doppler Current Profiles (SADCP) indicate the presence of high-speed water column flowing the Arabian Sea High Salinity Water (ASHSW) as characterized by maximum salinity (35.15 - 35.2 PSU) in the temperature range of 18 ° C - 23 ° C and density of 23 - 25 kg / m3. ASHSW is carried by EUC from the western Indian Ocean at the upper thermocline layer. It was found that EUC during this study tended to be asymmetrically stronger to the north of the equator. The analysis shows a maximum speed of 94 cm/sec and a transport estimated of EUC water masses based on salinity contour 35.15 and 35.2 PSU respectively of ̴ 3.4 Sv and ̴ 1.4 Sv, while at salinity 35.00 - 35.10 PSU of ̴ 8.7 Sv. The total estimated EUC mass transport calculated in this study is ̴ 13.5 Sv.
TECHNOLOGY NEEDS ASSESSMENT (TNA) FOR CLIMATE CHANGE MITIGATION IN AGRICULTURE SECTOR: CRITERIA, PRIORITIZING AND BARRIERS Kasdi Subagyono; B. Sugiharto; E. T. Purwani; D. Susilokarti; Irsal Las; A. Unadi; E. Runtunuwu
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.931 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.69

Abstract

Upaya mitigasi di sektor pertanian menjadi sangat penting karena sektor ini berkontribusi terhadap munculnya emisi gas rumah kaca (GRK), namun demikian kajian terhadap kebutuhan teknologi untuk mitigasi belum dilakukan. Kajian difokuskan pada seleksi teknologi, kendala dan peluang untuk mengatasi masalah. Seleksi teknologi didasarkan pada criteria dan opsi teknologi yang diperlukan. Data dan informasi dikumpulkan dari berbagai lembaga baik badan, pusat dan lembaga-lembaga terkait lainnya serta melalui lokakarya yang melibatkan para pemangku kepentingan. Seleksi teknologi untuk mitigasi mempertimbangkan criteria umum yang meliputi pengurangan emisi GRK dari tanaman dan ternak, konservasi sumberdaya, untuk keberlanjutan keanekaragaman hayati, mengangkat isu energi hijau, keberlanjutan keamanan pangan, dan mengangkat isu energi alternatif; dan spesifik criteria yang meliputi memprioritaskan teknologi lokal untuk mitigasi, keberlanjutan plasma nutfah spesifik lokasi, memprioritaskan teknologi yang murah untuk petani miskin, introduksi varietas tanaman yang rendah emisi, mengganti sebagian pupuk kimia dengan pupuk organik, serta mengurangi emisi gas metana (CH4). Kriteria tersebut diskor kedalam 4 kelas, yaitu nilai tinggi/relevansi tinggi/sangat berdampak (skor 5), nilai sedang/relevan/berdampak sedang (skor: 3); nilai rendah/kurang relevan/kurang berdampak (skor: 1); dan tidak relevan/tidak berdampak (skor: 0). Hasil kjian menunjukkan bahwa prioritas teknologi yang dibutuhkan untuk mitigasi: (a) untuk lahan sawah: varietas tanaman dengan emisi rendah, pemupukan yang tepat, tanpa olah tanah/olah tanah minimum, dan irigasi berselang, (b) untuk tanaman tahunan: teknologi tebang baker yang tepat dan biofuel, (c) untuk peternakan: teknologi pengomposan dan biogas, dan (d) untuk lahan gambut: menghindari tebang bakar, menghindari drainasi yang berlebihan dan menjaga kelembaban tanah. Mitigation action in agriculture sector is crucial since it contributes to greenhouse gas emission, yet technologies need for have not been assessed. The technology needs assessment for the agriculture sector cover paddy field, perennial crops, peat soil, and livestock. The concern of the assessment is categorized into technology options, priority/key technology, barriers, and modalities. Selected technologies are based on criteria and priority options of technology needs. Data and information have been collected from related agencies, center, institutes and other relevant sources as well as through a workshop. Technology selection process for mitigation considered general criteria of reducing GHG emissions from crops and livestock, promoting resource conservation, promoting sustainable biodiversity, promoting green energy, sustaining food security, and promoting energy alternative; and specific criteria of promoting local technology for mitigation, sustaining site-specific germ plasms, promoting simple and cheap technology for poor farmers, promoting less emission crop varieties, substituting chemical with organic fertilizers/compost, and reduce CH4 emissions. Those criteria are scored into 4 classes, i.e. high value/high relevant/high impact (score: 5), Medium value/relevant/med impact (score: 3); Low value/less relevant/less impact (score: 1); nil – not relevant/no impact (score: 0). The assessment has come up with the results that priority technologies needed for mitigation are (a) low methane emitter crops varieties, appropriate fertilizing, no tillage, and intermittent irrigation for paddy fields, (b) appropriate slash and burn and bio-fuel for perennial crops, (c) composting manure and biogas production for livestock, and (d) overcoming slash and burn, avoiding over drain and maintaining soil moisture for peat soils.
KONDISI ATMOSFER PADA KEJADIAN BANJIR DESEMBER 2007 SAMPAI JANUARI 2008 DI KABUPATEN BOJONEGORO Fithriya Yulisiasih Rohmawati; Ana Turyanti; Indah Prasasti
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2462.342 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i2.270

Abstract

Banjir merupakan salah satu bencana yang menimbulkan kerugian bagi manusia. Bencana tersebut biasanya didahului oleh curah hujan yang tinggi (lebat) dan lama. Proses terjadinya hujan yang tinggi dan lama memerlukan kondisi atmosfer yang mendukung seperti . Tujuan utama penelitian ini adalah menjelaskan kondisi atmosfer pada saat banjir di Kabupaten Bojonegoro tanggal 26 Desember 2007 sampai 7 Januari 2008. Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi atmosfer saat banjir tidak stabil, kandungan uap air tinggi, pengangkatan massa udara intensif dan kecepatan angin rendah. Kondisi tersebut cukup potensial dalam menyebabkan hujan yang lebat, meskipun kondisi atmosfer tersebut belum termasuk kategori ekstrim. Dengan demikian banjir tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi atmosfer setempat tetapi dipengaruhi juga oleh kondisi atmosfer sekitarnya dan kondisi permukaan. Flood is one of the disasters that cause harm to humans. That disaster is usually preceded by heavy and long-term rainfall. The occurrence of high and long-term rainfall requires atmospheric conditions that supported it. The main objective of this study is to explain the atmospheric conditions while flood events in Bojonegoro on December 26th, 2007 until January 7th, 2008. The analysis showed that the atmospheric conditions are unstable during floods, high moisture content and the removal of intensive air mass and low wind speeds. The atmospheric condition during the flood was sufficient to support the heavy rain but not in extreme categories. Therefore, the flood-affected by atmospheric conditions in the surrounding area and surface conditions in that area.
STUDY OF SINGLE- AND DOUBLE-MOMENT MICROPHYSICS SCHEME IMPACT ON LILI AND MANGGA TROPICAL CYCLONE Fazrul Rafsanjani Sadarang; Destry Intan Syafitri J.
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.845 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.804

Abstract

In this study, prediction of tropical cyclones using the Weather Research and Forecasting (WRF) model was used to test the double-moment (DM) and single-moment (SM) microphysical parameterization schemes in event of Lili and Mangga Tropical Cyclones. Models with microphysical parameterization schemes WDM5, WDM6, WSM5, WSM6, and without microphysical parameterization schemes (CTL) were each tested against track predictions, the pressure value, and maximum wind speed. The results of track prediction show that the best schemes in the tropical cyclone case of Lili and Mangga is WSM6 and WDM6, respectively, with an average error value of 78.1 and 80.1 km. Based on the Taylor diagram, the prediction results of the pressure value and the maximum wind speed in case of Lili Tropical Cyclones get the WDM6 scheme as the best scheme. Meanwhile, the results of the pressure prediction at the cyclone center in the case of Mangga Tropical Cyclones show that the WDM6 scheme is the best. However, the prediction of maximum wind speed in Mangga tropical cyclones produces the CTL scheme as the best scheme. This study shows that DM dan SM microphysical parameterization schemes have a big impact on track prediction compare to pressure value and maximum wind speed variable.
Sampul Jurnal MG JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.98 KB)

Abstract

Sampul Jurnal Meteorologi dan Geofisika
KARAKTERISTIK DAN TREN PERUBAHAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI INDONESIA PERIODE 1982-2009 Muhammad Najib Habibie; Tri Astuti Nuraini
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.726 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.171

Abstract

Suhu permukaan laut (SPL) merupakan komponen penting yang dapat mengendalikan cuaca dan iklim di wilayah Indonesia. Seiring dengan adanya isu perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu global, maka SPL disinyalir juga berubah. Pada penelitian ini dikaji tentang karakteristik dan tren perubahan SPL di wilayah Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perubahan SPL di wilayah Indonesia. Untuk itu dianalisa data SPL selama 28 tahun (1982-2009) dengan metode Mann-Kendall test. Domain yang digunakan adalah 15°LU- 15°LS, 90°BT-145°BT. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa karakteristik siklus SPL di wilayah Indonesia berhubungan erat dengan siklus monsun yang bertiup di wilayah ini dimana pada periode monsun Asia SPL di wilayah utara lebih hangat sebaliknya pada periode monsun Australia, di selatan yang lebih hangat dan di sekitar ekuator mengalami SPL paling hangat pada periode peralihan. Secara umum di wilayah Indonesia terutama di inner sea terjadi tren peningkatan SPL dengan probabilitas > 95%. Daerah inlet Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan South Equatorial Current yang meliputi perairan sekitar Biak, Selat Makassar, Halmahera, dan Laut Banda, pada umumnya mengalami tren peningkatan SPL yang paling tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya dengan peningkatan mencapai 0,5-1,1 oC pada periode DJF. Pada masa peralihan dan musim kemarau, hanya di Pasifik bagian barat yang mengalami tren meningkat. Sea Surface Temperature (SST) is an important factor in weather and climate regulation over Indonesia. According to the climate change issue which is characterized by increasing global temperatures, the SST was allegedly increased too. The purpose of this study was to determine the existence of SST change over Indonesia. Mann-Kendall test used to analyze 28 years (1982-2009) SST data. The domain of this research is 15° N-15° S, 90° E-145° E. The result of this research shows that increasing trend of SST occurring over Indonesia waters. It was found that the characteristic of SST in Indonesia is correlated with the monsoon system, whereas in the Asian summer monsoon, the SST of the northern region is warmer. Contrary, in the Australian summer monsoon, the SST of the southern region is warmer. The SST of the equator region is warmest in the transition period. In general, Indonesia's waters experiencing an increasing trend of SST with a probability of over 95%. The Indonesian throughflow and South Equatorial Current on the western part of the Pacific Ocean covering Biak waters, Makassar Strait, Halmahera, and the Banda Sea generally experiencing the highest increasing trend of SST compared with other areas between 0.5 to 1.1°C. In the transitional period and dry season, the SST over Indonesia, largely unchanged, except in the western Pacific.
STUDI KARAKTERISTIK GEMPABUMI SIGNIFIKAN MW > 6.0 AKIBAT AKTIVITAS SISTEM BUSUR BELAKANG SEGMEN BALI LOMBOK MENGGUNAKAN ANALISIS ENERGI KUMULATIF DAN PERIODE ULANG Tomy Gunawan; Aldilla D. P. Ratri; M. Taufik Gunawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 21, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.544 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v21i1.625

Abstract

Analisis energi dan periode ulang gempabumi akibat aktivitas sistem busur belakang Flores dilakukan untuk mengetahui besarnya energi yang telah dilepaskan serta menghitung periode ulang gempabumi yang akan terjadi disertai kemungkinan energi yang akan dilepaskan oleh gempabumi di masa yang akan datang. Data yang digunakan adalah katalog gempabumi International Seismological Centre (ISC), Engdahl-van der Hilst-Buland (EHB) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun 1963-2018. Daerah penelitian dibatasi pada daerah dengan rentang 7,5 LS – 8,5 LS dan 115 BT – 117 BT. Perhitungan energi gempabumi didapatkan dengan mengkonversikan nilai momen seismik kedalam energi fisis gempabumi. Sedangkan nilai momen seismik didapatkan dari konversi magnitudo gempabumi. Nilai periode ulang didapatkan dengan membagi nilai slip rata-rata terhadap sliprate. Dengan asumsi bahwa energi seismik potensial yang tersimpan pada sistem busur belakang Flores segmen Bali-Lombok setara dengan gempabumi Mw 7,4 dan energi seismik yang telah terlepas selama periode 1963-2018 setara dengan gempabumi Mw 7,3, maka selisih atau sisa energi seismik yang masih tersimpan setara dengan Mw 7,0. Sedangkan hasil perhitungan periode ulang gempabumi signifikan Mw 6,7 – Mw7,1 berkisar antara 117 tahun hingga 201 tahun. The analysis of seismic energy and return period of the earthquakes due to the Flores back arc thrust fault system were conducted to determine the amount of the seismic energy that has been released and to estimate the return period and potential energy of the significant earthquakes which may occur in the future. The data used in this study were retrieved from the earthquake catalogs of the International Seismological Centre (ISC), Engdahl-van der Hilst-Buland (EHB) dan The Agency for Meteorology, Climatology, and Geophysics of the Republic of Indonesia (BMKG) between 1963 to 2018. The research area is restricted to the range of 7.5 LS - 8.5 LS and 115 BT - 117 BT. The earthquake energy was obtained by converting the values of a seismic moment into the physical energy of the earthquake. Whereas, the seismic moment value was obtained using the empirical formulas which show the relation between seismic moment and magnitude of the earthquake. The return period of the earthquakes has been done by dividing the average slip of the specific earthquake against the slip rate of the fault system. By making the assumption that the potential seismic energy which stored in the Flores back arc thrust fault system, segment Bali-Lombok, is equal to the earthquake Mw 7.4, while the seismic energy which has been released is equal to the earthquake Mw 7.3. We estimate the remaining seismic potential energy is equal to the earthquake Mw 7.0. Whereas the return period of the significant earthquakes Mw 6.7 – Mw 7.1 is about 117 to 201 years.
RELOKASI HIPOSENTER GEMPABUMI WILAYAH JAWA MENGGUNAKAN TEKNIK DOUBLE DIFFERENCE Bambang Sunardi; Supriyanto Rohadi; Masturyono Masturyono; Sri Widiyantoro; Sulastri Sulastri; Pupung Susilanto; Thomas Hardy; Wiko Setyonegoro
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 3 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.777 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i3.133

Abstract

Relokasi hiposenter gempabumi penting dilakukan untuk mendapatkan lokasi gempabumi dengan ketelitian yang tinggi, diperlukan untuk pemetaan kerawanan gempabumi, studi struktur kecepatan, analisis seismisitas untuk studi global maupun studi lokal dan dalam analisis struktur detail seperti halnya identifikasi zona patahan dan sebaran serta orientasi patahan mikro. Salah satu teknik yang sekarang ini digunakan untuk merelokasi gempabumi adalah algoritma double difference (perbedaan ganda). Relokasi dilakukan terhadap data gempabumi BMKG yang terjadi di wilayah Jawa yang terletak pada 105°-115°BT dan 4°–12°LS. Jumlah gempabumi sebanyak 1352 kejadian. Jaringan stasiun  pencatat yang dipergunakan sebanyak 47 buah. Hasil relokasi menunjukkan pergeseran hiposenter lebih dari 50 km sebanyak 7 gempabumi. Pergeseran hiposenter menyebar ke segala arah dan tidak memiliki kecenderungan ke arah tertentu, namun demikian perubahan hiposenter terbanyak ke arah barat. Relokasi gempabumi dengan kedalaman awal 10 km menunjukkan pergeseran yang random. Relokasi menggunakan hypoDD menunjukkan peningkatan kualitas bila dilihat dari distribusi residual.  Relocation of earthquake hypocenter is important for obtaining an very accurate earthquake location which is needed for mapping of earthquakes vulnerability, velocity structure study, global and local studies of seismicity analysis and detail structural analysis as well as identification of the fault zone, distribution and orientation of microfracture. One technique currently used to relocate earthquakes is double difference algorithm. Relocation performed on BMKG earthquake data that occurred on Java region, located on 105°-115°E and 4°-12°S. The total number of earthquakes are 1352 events. We used 47 recording station networks. Hypocenter relocation results showed 7 earthquakes shift more than 50 km. Shift in hypocenter spread in all directions and do not have a tendency, however, most hypocenter changes to west. Relocation of initial depth 10 km earthquakes showed random shifst. Relocation using hypoDD showed an increase in quality when viewed from the residual distribution.
KARAKTERISTIK ANGIN ZONAL SELAMA UPWELLING DI PERAIRAN SELATAN JAWA PADA KONDISI NORMAL DAN ENSO Martono Martono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 18, No 3 (2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4052.234 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v18i3.382

Abstract

Perairan selatan Jawa dikenal sebagai salah satu lokasi upwelling di Indonesia. Penelitian upwelling di perairan ini sudah banyak dilakukan oleh para peneliti. Namun, penelitian tentang aspek-aspek atmosfer pada saat terjadi upwelling masih sedikit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik angin zonal selama upwelling di perairan selatan Jawa pada kondisi normal dan ENSO. Data yang digunakan terdiri dari suhu permukaan laut dari tahun 1984-2013 dan angin zonal dari tahun 1988-2011 yang diperoleh dari Physical Oceanography Distributed Active Center – National Aeronautics and Space Administration. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angin zonal di perairan selatan Jawa dominan bergerak ke arah barat. Upwelling di perairan selatan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur terjadi ketika angin zonal bergerak ke arah barat secara terus menerus lebih dari 2 bulan, kecepatan lebih besar dari 5 m/dt dan fluktuasi kecepatan kecil. Terdapat jeda waktu sekitar 1-1,5 bulan antara tiupan angin zonal sejajar pantai dengan proses upwelling. Intensitas upwelling paling kuat dan paling lama terjadi di atas perairan selatan Jawa Timur. Arus Lintas Indonesia mempunyai peranan penting terhadap peningkatan intensitas upwelling di selatan Jawa Timur. Intensitas upwelling selama periode El Niño lebih kuat, tetapi selama periode La Niña lebih lemah daripada kondisi normal. Kata kunci : angin zonal, upwelling, Arus Lintas Indonesia, El Niño, La Niña
PEMANFAATAN SATAID UNTUK ANALISA BANJIR DAN ANGIN PUTING BELIUNG: STUDI KASUS JAKARTA DAN YOGYAKARTA Hastuadi Harsa; Utoyo Ajie Linarka; Roni Kurniawan; Sri Noviati
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.554 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.101

Abstract

Japan Meteorology Agency (JMA) mengembangkan aplikasi SATAID (Satellite Animation and Interactive Diagnosis) untuk menampilkan citra satelit dan mendapatkan nilai beberapa parameter meteorologi di dalamnya. Pada makalah ini dibahas mengenai pemanfaatan aplikasi tersebut terkait kejadian banjir di Jakarta 1 Februari 2008 dan angin puting beliung di Yogyakarta 18 Februari 2007. Prosedur yang dilakukan pada kajian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan analisa berdasar citra satelit yang diperoleh dari aplikasi SATAID tersebut. Japan Meteorology Agency (JMA) developed SATAID (Satellite Animation and Interactive Diagnosis) application to display and to retrieve some meteorology parameter values in satellite image data. This paper studies the use of  the application in analyzing the Jakarta flood February 1st, 2008 and the Yogyakarta Tropical cyclone February 18th, 2007. The procedure described in this paper can be applied in another issues as a reference material in analyzing SATAID image data.