cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2014)" : 5 Documents clear
POLA ANOMALI GAYABERAT DAERAH TALIABU-MANGOLE DAN LAUT SEKITARNYA TERKAIT DENGAN PROSPEK MINYAK BUMI DAN GAS Saultan Panjaitan; Subagio Subagio
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1509.373 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.247

Abstract

Anomali gayaberat di daerah penelitian merupakan anomali tertinggi di Indonesia, secara umum dikelompokkan ke dalam 2 (dua) satuan, yaitu: kelompok anomali gayaberat 160 mGal hingga 260 mGal membentuk pola rendahan/cekungan anomali, dan kelompok anomali gayaberat 260 mGal hingga 620 mGal membentuk pola tinggian anomali. Anomali sisa 0 mGal hingga 5 mGal membentuk tinggian anomali, diduga merupakan gambaran antiklin dengan diameter 10 – 15 kilometer. Perangkap struktur migas di daerah Minaluli, Madafuhi dan Lekosula Pulau Mangole berdekatan dengan lokasi rembesan migas, sehingga diusulkan untuk dilakukan pemboran eksplorasi. Sedangkan di Pulau Taliabu, Tolong, Pena, Samuya dan Teluk Jiko masih perlu dilakukan penambahan data. Batuan reservoir terdiri dari batupasir dan batugamping Formasi Tanamu berumur Kapur Akhir, menempati daerah beranomali sisa 0 mGal hingga 5 mGal, dengan rapat massa batuan sekitar 2.65 gr/cm³. Batuan induk adalah Formasi Buya umur Jura Tengah - Jura Akhir dari serpih hitam dengan rapat massa 2.71 gr/cm³, dan dapur migas terbentuk di sekitar daerah beranomali sisa -4 mGal hingga -28 mGal yang membentuk sub-cekungan di utara lepas pantai Pulau Mangole. Kata kunci: gayaberat, dapur minyak, cekungan, migas, serpih hitam, anomali sisa, rapat massa, antiklin, batuan induk. The gravity anomaly of research area is the highest anomaly in Indonesia, generally it can be grouped into 2 (two) units, that are 160 mGal up to 260 mGal anomaly groups formed low anomaly pattern, and 260 mGal up to 620 mGal anomaly groups formed high anomaly pattern. 0 mGal to 5 mGal residual anomaly formed high anomaly pattern, it is interpreted as anticline with diameter are 10-15 kilometers. The trap oil and gas structures of this area at Minaluli, Madafuhi, and Lekosula are near the location of oil and gas seepage, that is propose to explore and drill in that area. Whereas in Taliabu Island, Tolong, Pena, Samuya, and Jiko Gulf still need increasing datas. Reservoir rocks consist of sandstones and limestones of Tanamu Formations were Late Cretaceous age, that occupied the location of 0 mGal to 5 mGal residual anomaly with density 2.65 g/cm ³. Hostrock are Buya Formation are Middle Jurassic - Late Jurassic from black shales with density 2.71 g/cm³, and kitchen oil were formed in the area - 4 mGal to -28 mGal residual anomaly that formed low anomaly in the northern offshore of Mangole Island. Keyword: gravity, oil kitchen, basin, oil and gas, black shales, recidual anomaly, density, anticline, hostrocks.
KANDUNGAN MINERAL DI PERAIRAN BINUANGEUN, LEBAK-BANTEN Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.775 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.248

Abstract

Data dan informasi sumberdaya mineral terkait dengan batuan penyusunnya di daerah pantai dan lepas pantai masih terbatas. Untuk keberadaan sumberdaya mineral ini maka dilakukan identifikasi kandungan mineral dalam sedimen sebagai objek penelitian guna mengetahui jenis, persentase, distribusi dan perkiraan sumber batuannya. Metode penelitan meliputi pengambilan sampel sedimen, pemisahan konsentrat dulang, analisis mineragrafi butir, dan petrografi batuan. Ragam mineral di dalam endapan sedimennya terdiri dari kuarsa, magnetit, amfibol, ilmenit, felspar, glaukonit, apatit, piroksen, limonit, zirkon, fragmen batuan dan pecahan cangkang. Fraksi mineral yang dominan adalah fraksi pasir sangat halus dan lanau kasar. Secara lateral distribusi kuarsa, felspar dan piroksen relatif membesar ke arah endapan sedimen gisik pasir, tanggul gisik dan sedimen sungai dengan persentase tertinggi, masing-masing mencapai 49 %, 21 % dan 13 %. Sedangkan distribusi limonit dan zirkon membesar ke arah endapan sedimen gisik pasir dengan persentase tertinggi, masing-masing mencapai 5 % dan 2 %. Persentase tertinggi magnetit 17 %, ilmenit 23 %, apatit 3 %, fragmen batuan 51% dan pecahan cangkang 90 % umumnya terdapat dalam endapan sedimen permukaan dasar laut. Keterdapatan mineral utama dan tambahan ini diduga bersumber dari Batuan Gunungapi andesiti-basaltik, dan Formasi Batuan Sedimen berbahan volkanik. Sedangkan klastika biogeniknya bersumber dari batugamping terumbu. Hasil analisis petrogafi menunjukan bahwa fragmen batuannya memiliki kesesuaian dengan penyusun litologinya. Kata Kunci : Kandungan mineral, distribusi mineral, sumber batuan, Perairan Binuangeun. Data and information mineral resources related to rock forming mineral on shore and offshore area is still limited. For the existence of mineral resources is then to identify the content of the sediment as the object study in order to determine the type, percentage, distribution and estimation of rocks origin. The method includes sedimentary sampler, pan concentrates separation, grain mineragraphy analysis, and petrography rock. The mineral in the sediment consist of quartz, magnetite, amphibole, ilmenite, feldspar, glauconite, apatite, pyroxene, limonite, zircon, rock fragments and shell fragments. The minerals fractions are dominant in very fine sand and coarse silt. Laterally, the distribution of quartz, feldspar and pyroxene relatively increasing towards sand beach, berm and river sediments with the highest percentage, respectively reach 49 %, 21 % and 13 %. While, distribution of limonite and zircon are increasing toward sand beach with the highest percentage, respectively 5 % and 2 %. The highest percentage of magnetite (17 %), ilmenite (23 %), apatite (3 %), and rock fragments (51 %) and shell fragments of surfacially sediments (90 %). The occurrence of these main and accessory minerals is thought to be originated from andesitic-basaltic volcanic rocks and from volcanoclastic sediments whereas bioclastic sediments are from reefs limestone. The petrography analysis shows that their rock fragments are compatible with their rocks forming minerals. Keywords: The minerals content, mineral distribution, source rocks, and Binuangeun Waters.
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN (IKL) DI WILAYAH PERAIRAN NATUNA TERKAIT DENGAN AKTIVITAS INDUSTRI MIGAS Rahayu Kusuma Risdianto; Undang Hernawan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.144 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.249

Abstract

Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) dapat digunakan untuk memantau kondisi lingkungan. Analisis Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) dilakukan di kawasan industri migas di perairan Laut Natuna. Studi ini menggunakan data penginderaan jauh dan analisa sembilan parameter kualitas air dari 15 titik lokasi untuk menyusun algoritma kualitas air. Hasil dari studi ini menunjukkan distribusi IKL tergolong kriteria baik (70-91) dan sangat baik (91-100). Nilai IKL baik berada di bagian Utara (U) sampai Timur Laut (TL) dan Timur (T) sampai Selatan (S) dan terlihat dominan di bagian Selatan (S) sampai Utara (U). Nilai IKL sedang berada di bagian Barat Daya (BD) sampai Barat (B). Distribusi IKL sangat baik dominan berada di bagian Utara (U) sampai Timur Laut (TL), Timur (T) sampai Selatan (S) dan terlihat dominan di bagian Timur Laut (TL) sampai Timur (T). Kata kunci: IKL, penginderaan jauh, MODIS, kualitas Air, perairan Natuna. Environmental Quality Index (EQI) can be used for monitoring of environmental condition. Analysis of Environmental Quality Index (EQI) in petroleum and gas industry area had been done at Natuna waters. This study was based on remote sensing data and analysis data of nine water quality parameters from fifteen sampling sites to arrange water quality algorithm. The result shows that the distribution of EQI is within good (70-91) to very good (91-100) criteria. The good value of EQI is distributed from north (N) to north east (NE) and east (E) until south (S) that is dominated at the soutern to northern parts. The medium value of EQI is in southwest to west parts. The very good EQI is dominated at the north (N) until North East (NE), East (E) to southern parts that is dominated at the northeast to eastern parts. Keywords: EQI, Remote Sensing, MODIS, Water Quality.
GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DASAR LAUT BERDASARKAN PENAFSIRAN REKAMAN SEISMIK PANTUL DANGKAL SALURAN TUNGGAL DI PERAIRAN SELAT SUNDA Nyoman Astawa; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1205.157 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.250

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan dasar laut dengan metode seismik pantul dangkal saluran tunggal, dan pemeruman. Seismik stratigrafi daerah penelitian dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) unit, yaitu Unit 1 diinterpretasikan sebagai batuan intrusi, Unit 2 yang dekat dengan Pulau Jawa sebagai batuan volkanik dan yang dekat dengan Pulau Sumatera diduga sebagai Formasi Lampung, dan batuan lava andesit, serta Unit 3 diinterpretasikan sebagai sedimen Kuarter. Kedalaman permukaan dasar yang dapat direkam berkisar antara -5 hingga -125 meter dengan perubahan yang terjadi secara bergradasi dari arah pantai ke laut. Kata kunci : Morfologi permukaan dasar laut, seismik stratigrafi, geologi bawah permukaan, Selat Sunda The aims of study is to determine the subsurface geology condition of Sunda Strait by using single channel shallow seismic reflection, and the sounding method. Seismic stratigraphy of the study area can be divided into three (3) units, those are Unit 1, interpreted as intrusive rocks, Unit 2, which is close to Java be expected at volcanic rocks and the adjacent of Sumatera island interpreted Lampung Formation and andesitic lava rock, while Unit 3 as suspected Quaternary sediments. The sea floor depth that can be recorded ranging from -5 to -125 metres with the changes depth gradually from the shore to the sea. Keywords : Seafloor morphology, seismic stratigraphy, subsurface geology, Sunda Strait
MODEL EMPIRIS HARI TENANG VARIASI MEDAN GEOMAGNET DI STASIUN GEOMAGNET TONDANO MANADO Lukman Arifin; John Maspupu
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.539 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.2.2014.251

Abstract

Penentuan model empiris hari tenang variasi medan geomagnet dikonstruksi berdasarkan data geomagnet dari stasiun geomagnet (SG) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tondano, Manado. Hari tenang variasi medan geomagnet dinyatakan sebagai fungsi dari keempat komponen atau variabel yang mempengaruhinya yaitu: aktivitas matahari SA (solar activity), hari dalam setahun DOY (date of year), usia bulan LA (lunar age) dan waktu lokal LT (local time). Dalam bentuk matematis ditulis sebagai, EMQD ( SA, DOY, LA, LT ) = f(SA). g(DOY). h(LA). m(LT). Model empiris yang didasarkan pada fungsi kecocokan ini terdiri dari 270 bentuk ekspresi matematik. Sedangkan bentuk-bentuk ekspresi matematik ini juga mencakup proses-proses non-linier yang tak dapat diabaikan dalam model empiris hari tenang variasi medan geomagnet tersebut. Model empiris ini dapat ditiru atau dikonstruksi kembali pada suatu selang waktu yang relatif panjang (misalnya satu siklus matahari), asalkan kondisi geomagnet selalu berada dalam keadaan tenang. Kontribusi dari model empiris hari tenang ini akan memberikan informasi tentang gangguan geomagnet yang ada di stasiun geomagnet Tondano (Nilai Gangguan geomagnet = Nilai variasi medan geomagnet yang terukur – Nilai model empiris hari tenang). Dengan demikian model ini akan memberikan informasi gangguan geomagnet untuk operasi survey geomagnet disekitar stasiun geomagnet Tondano, Manado. Kata kunci : Model empiris, Hari tenang, Variasi medan geomagnet. The determination an empirical model of the quiet daily geomagnetic field variation that is constructed based on geomagnetic data from Tondano, Manado station geomagnetic This quiet daily of geomagnetic field variation was described as a function of four variables that its influence, these are solar activity (SA), day of year (DOY), lunar age (LA) and local time (LT). In the mathematically writes: EMQD ( SA, DOY, LA, LT ) = f(SA). g(DOY). h(LA). m(LT). The empirical model based on this fitting function consist of 270 coefficients which included in expression form of mathematic. While, expression form of this mathematic also comprise nonlinear processes which can not minimized in the empirical model of the quiet daily geomagnetic field variation. This empirical model can be reconstructed on the time interval that is long relative (for example one solar cycle). Provided that, under geomagnetic quiet conditions. Contribution of this empirical model of the quiet daily variation is can give information about the existence of geomagnetic disturbance at Tondano (value of geomagnetic disturbance equal value of measurable geomagnetic field variation minus value of empirical model of the quiet daily variation). Thus, information about the existence of this geomagnetic disturbance very useful for necessity geomagnetic survey at Tondano, Manado geomagnetic station. Keywords: Empirical model, the quiet daily variation, geomagnetic field variation.

Page 1 of 1 | Total Record : 5