cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 3 (2014)" : 5 Documents clear
LINGKUNGAN DAN EVOLUSI TEKTONIK BATUAN DAN SEDIMEN BERDASARKAN UNSUR KIMIA UTAMA DI PERAIRAN BAYAH DAN SEKITARNYA, PROVINSI BANTEN Ediar Usman; Udaya Kamiludin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1585.17 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.252

Abstract

Pengeplotan data unsur kimia pada diagram SiO2 vs K2O untuk sampel sedimen dasar laut cenderung terjadi kenaikan SiO2 dan penurunan K2O, sehingga arah evolusi berkembang dari kalk-alkalin sedang ke kalk-alkalin rendah (toleitik). Pada sampel batuan beku dan sedimen hasil pemboran memperlihatkan pola evolusi magma sebaliknya, terjadi kenaikan SiO2 dan K2O dalam seri magma yang sama (toleitik). Kondisi ini diperkuat oleh diagram segitiga AFM (A = Na2O+K2O; F = FeOtotal ; M = MgO) yang menunjukkan sebagian besar sampel yang diplot berada antara toleitik dan kalk-alkalin sedang. Hasil ini memberi kesimpulan bahwa batuan ini bersifat transisi antara toleitik dan kalk-alkalin sedang, dan condong ke arah seri toleitik sebagai indikasi batuan berasal dari daerah samudera. Berdasarlan pengeplotan pada diagram segitiga TiO2 – 10MnO – P2O5, lingkungan tektonik batuan beku di pantai Cibobos, sedimen dasar laut dan sedimen pemboran pada umumnya berada pada lingkungan tektonik andesit kepulauan samudera dan sebagian busur benua. Hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sedimen di daerah Bayah berhubungan dengan seri magma dengan afinitas rendah mulai toleitik hingga kalk-alkalin sedang dan batuan samudera yang menyusup ke busur kepulauan atau busur benua. Hasil ini dapat mengetahui lingkungan dan evolusi batuan sumber sehingga diharapkan bermanfaat dalam kegiatan ekplorasi sumber daya mineral dan energi di masa mendatang. Kata kunci: unsur kimia utama, lingkungan tektonik, evolusi, kerak samudera dan kontinen, perairan Bayah Plotting of major elements data of the seafloor sediment samples on diagram of SiO2 vs K2O tends to increase the SiO2 and decrease the K2O, therefore the direction of evolution develop from medium to low calc-alkaline (tholeitic). From igneous rocks and drilling sediment samples shows that the evolution magma has the opposite pattern, increasing of SiO2 and K2O in the same magma series ( tholeitic). This condition is confirmed by the triangular diagram of AFM (A = Na2O+K2O; F = FeOtotal ; M = MgO) that shows the most of plotted samples are between medium calc-alkaline and tholeitic. This result give a conclusion that these rocks are at transitional area between tholeitic and medium calc-alkaline, and tend towards tholeitic series as an indication of rocks from oceanic zone. Based on plotting on the triangular diagram of TiO2 - 10MnO - P2O5, tectonic environment of igneous rocks in the coast of Cibobos, surface and drilling sediment samples, in general these samples are in the tectonic environment of oceanic islands andesite and partial of continental arc. From this study, it can be concluded that the sediment in the Bayah area is associated with affinity magma series from low kalk-alkaline (tholeitic) to medium calc-alkaline, and oceanic crust is being subducting to continental arc. This result could recognize the environment and the evolution of source rocks, therefore it may useful in the exploration activities of mineral and energy resources in the future. Keywords: major elements, tectonic environment, evolution, continental and oceanic crust, Bayah waters.
ANALISIS PENTARIKHAN RADIOKARBON UNTUK PENENTUAN FLUKTUASI MUKA LAUT DI SEBELAH UTARA PULAU BANGKA Darwin Siregar; Kresna Tri Dewi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.283 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.253

Abstract

Salah satu metode penentuan umur absolut batuan, fosil, sedimen atau artefak adalah menggunakan pentarikhan radiokarbon (C14) dari material organik. Data umur tersebut dapat berguna untuk menunjang berbagai penelitian terkait dengan sejarah bumi dan kehidupan manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melacak fluktuasi muka laut berdasarkan data umur sedimen bawah dasar laut di sebelah utara Pulau Bangka. Hasil analisis pentarikhan radiokarbon terhadap tiga sampel sedimen menunjukkan dua umur yang berbeda. Sedimen dari bagian bawah (70-80 cm) dibawah dasar laut telah diperoleh umur 15.050± 60 SM dan 15.250 ±850 SM. Rentang waktu ini termasuk dalam segmen 2 pada saat laut naik sedang dari kedalaman -114 ke -96 m dari muka laut saat ini. Sedimen dari bagian atas (30 cm) telah diperoleh umur 6.500 ± 360 SM pada saat muka laut mendekati posisi sekarang. Studi ini memperlihatkan fluktuasi muka laut di wilayah lokal di sekitar Pulau Bangka. Katakunci: pentarikhan karbon, muka laut, Pulau Bangka One method for absolute dating of rocks, fossils, sediments or artefacts is by using radiocarbon dating (14C dating) of organic materials. This age data can be useful for supporting various researches related to the history of earth and human being. The purpose of this paper is to trace the sea level fluctuation based on subsurface sediments from northern part of Bangka Island. The radiocarbon dating from three sediment samples has resulted two different age. Sediments at the bottom part of the core (70-80 cm) below seafloor have been dated at 15.050 ± 60 BP and 15.250± 850 BP. It belongs to segment 2 when sea rose moderately from -114 to-96 m of the present-day sea level. The sediment at the upper part (30 cm) has been dated at 6.500 ± 360 BP when sea level as close as present-day position. This study shows sea level fluctuation in the local area off Bangka Island. Keywords: radiocarbon dating, sea level, Bangka Island
APLIKASI KONSEP KRIGING PADA DATA SIMULASI GANGGUAN GEOMAGNET LOKAL John Maspupu; Lukman Arifin
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.801 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.255

Abstract

Makalah ini membahas aplikasi konsep Kriging pada data simulasi gangguan geomagnet lokal dari 3 (tiga) stasion geomagnet (SG). Konsep ini asal mulanya dari geostatistik dan sekarang digunakan secara luas dalam analisis spasial. Metode ini juga dikenal sebagai regresi proses Gauss, prediksi Kolmogorov-Wiener atau prediksi ketakbiasan linier terbaik. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melakukan estimasi atau interpolasi gangguan geomagnet di sekitar tiga stasion geomagnet (lokasi observasi) tersebut. Untuk merealisasikan tujuan di atas ini mengunakan metode punctual kriging. Kontribusi hasil estimasi atau interpolasi gangguan geomagnet ini nantinya digunakan sebagai dasar pembuatan peta atau kontur gangguan geomagnet di sekitar ketiga lokasi observasi tersebut. Dengan demikian informasi gangguan geomagnet akan berguna dalam survei geologi di sekitar lokasi pengamatan. Kata kunci : Konsep kriging, data simulasi, gangguan geomagnet lokal This paper discuss about the application of Kriging concept on simulation data of local geomagnetic disturbance at three geomagnet stations (SG). This concept was derived from geostatistic and now it is widely used in spatial analysis. This method is also well known as Gaussian process regression, Kolmogorov-Wiener prediction or Best Linear Unbiased Prediction. The aim of this paper is to estimate or interpolate the geomagnetic disturbances at three observation locations. In order to realize the above purpose, it uses punctual kriging method. The contribution of estimation result of this geomagnetic disturbances will be used as a basic for contour mapping of geomagnetic disturbance around these three observation locations. Hence, the information of these geomagnetic disturbances will be useful for geological survey around observation locations. Keywords: Kriging concept, simulation data, local geomagnetic disturbance
ATENUASI WATER-BOTTOM MULTIPLE DENGAN METODE TRANSFORMASI PARABOLIC RADON Subarsyah Subarsyah; Tumpal Benhard Nainggolan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1088.164 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.254

Abstract

Interferensi water-bottom multipel terhadap reflektor primer menimbulkan efek bersifat destruktif yang menyebabkan penampang seismik menjadi tidak tepat akibat kehadiran reflektor semu. Teknik demultiple perlu diaplikasikan untuk mengatenuasi multipel. Transformasi parabolic radon merupakan teknik atenuasi multipel dengan metode pemisahan dalam domain radon. Multipel sering teridentifikasi pada penampang seismik. Untuk memperbaiki penampang seismik akan dilakukan dengan metode transformasi parabolic radon. Penerapan metode ini mengakibatkan reflektor multipel melemah dan tereduksi setelah dilakukan muting dalam domain radon terhadap zona multipel. Beberapa reflektor primer juga ikut melemah akibat pemisahan dalam domain radon yang kurang optimal, pemisahan akan optimal membutuhkan distribusi offset yang lebar. Kata kunci: Parabolic radon, multipel, atenuasi Water-bottom mutiple interference often destructively interfere with primary reflection that led to incorrect seismic section due to presence apparent reflector. Demultiple techniques need to be applied to attenuate the multiple. Parabolic Radon transform is demultiple attenuation technique that separate multiple and primary in radon domain. Water-bottom mutiple ussualy appear and easly identified on seismic data, parabolic radon transform applied to improve the seismic section. Application of this method to data showing multiple reflectors weakened and reduced after muting multiple zones in the radon domain. Some of the primary reflector also weakened due to bad separation in radon domain, optimal separation will require a wide distribution of offsets. Keywords: Parabolic radon, multiple, attenuation
STRUKTUR GEOLOGI LAUT FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR Riza Rahardiawan; Catur Purwanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.015 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.3.2014.256

Abstract

Tujuan penelitian seismik saluran banyak di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur adalah untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan dasar laut. Daerah penelitian merupakan daerah yang aktif secara tektonik dan diekspresikan dalam bentuk prisma akresi, vulkanik tidak aktif dan sesar-sesar aktif yang membentuk morfologi dasar laut. Berdasarkan penafsiran stratigrafi seismik lapisan bawah permukaan dasar laut terdiri dari empat satuan batuan: Batuan Dasar, Prisma Akresi, Gunungapi Bawah Laut, dan Sedimen Klastika. Sedimen Klastika ini dibagi menjadi lima unit. Kata kunci: seismik, morfologi dasar laut, sesar aktif, Laut Flores The purpose of the study of seismic multi channel in Flores Sea, East Nusa Tenggara is to recognize subsurface geology condition. The study area is an active tectonic that expressed by accretion prisms, inactive vulcanic and active faults form seabed morphology. Based on seismic stratigraphy interpretation, the study area is composed of four rocks units: Basement rocks, Accretionary Wedge, Seamount, and Clastic Sediments. This clactic sediment is divided into five units. Keywords: seismic, seabed morphology, active fault, Flores Sea

Page 1 of 1 | Total Record : 5