cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2005)" : 8 Documents clear
TORANG S AMUA BASUDARA (Studi Kasus Pasca Konflik Di Manado) Arifuddin Ismail
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.768 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.589

Abstract

Konflik sosial bernuansa SARA di berbagai daerah telah 'berhasil'ditanggulangi bersama oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. Namuntelah meninggalkan berbagai masalah dalam hubungan antar umat beragamasetempat. Setidaknya, telah terjadi hubungan yang sangat hati-hati ataubahkan kurang harmonis yang selanjutnya mempengaruhi aktivitaskeagamaan dan interaksi sosial umat beragama. Inilah yang kemudianmendasari penelitian ini.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penciptaan Kerukunan UmatBeragama di Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya sudah merupakanhal yang tidak bisa ditawar-tawar. Pemerintah dan para pemuka agamatelah sepakat dan berkomitmen untuk memelihara kedamaian dalam suatukehidupan yang rukun di kalangan umat beragama. Komitmen tersebutdimanifestasikan dalam bentuk: 1) Umat beragama secara leluasa melakukanaktivitas keagamaan, baik dalam kaitannya dengan peribadatan, sosisalisasiajaran agama (pendidikan) maupun pendirian rumah ibadah. 2) Dalamkehidupan sosial secara umum memang tanpa terjalin interaksi sosial yangmesra dengan menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kedamaian denganmengedepankan simbol "Torang Samua Basudara". 3) Walaupun tampakterkesan, bahwa intervensi pemerintah (top down) terlalu tinggi untukpemeliharaan kerukunan, namun hasilnya tidak mengecewakan, 4) Intervensipemerinfah dalam upaya penciptaan kerukunan mendapat respons positifdari masyarakat. Keterlibatan mereka dalam program-program BKSAUA,BKWAUA dari provinsi hingga ke kecamatan-kecamatan merupakangambaran wujud peran serta masyarakat.
MENELITIDIANTARA DESINGAN PELURU, ASAP, AIR MATA, DAN RERUNTUHAN Penelitian Sosial di Daerah Konflik dan Pasca Bencana george Junus aditjondro
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.875 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.594

Abstract

Penelitian sosial di daerah konflik atau daerah yang baru dilandabencana, tidak bisa dilakukan seperti penelitian sosial di daerah'normal', terhadap komunitas 'normal', untuk menjawabpenelitianyang 'normal'. Baikkendala waktu, maupun sipeneliti, sendiri ataupunbersama team-nya, kadang-kadang harus bergerak cepat, tanpa mintaizin atau tanpa menempuh semua birokrasi penelitian yang diwajibkanoleh negara atau kekuatan-kekuatan politik yang berkuasa di daerahitu.Kendati demikian, penelitian sosial di daerah konflik atau dalamsituasi pasca bencana, tetap menghendaki penelitian ilmiah (scientificrigour) dijaga. Di daerah konflik, secara khusus, peneliti harusmenjaga agar dia sendiri tidak digerogoti oleh prasangka-prasangkayang mungkin masih diidap oleh pihak yang diteliti. Makanya, dalamtulisan singkat ini, penulis pertama-tama akan menguraikan berbagaibias yang sering dihadapi, atau yang menghinggapi, peneliti di daerahkonflik, seperti Poso, atau daerah yang baru saja menghadapi bencanaalam yang luar biasa, seperti Aceh. Sesiidahnya, penulis akanmengajukan saran-saran untuk mengatasi berbagai jebakan itu.
REKONSTRUKSIKERUKUNAN UMATBERAGAMA (Studi Kasus i Kupang ) Muhammad As'ad
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.432 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.590

Abstract

Ketika terjadi konflik dalam masyarakat, agama sering kali dibawaserta sebagai faktor legitimasi penyebab konflik dengan maksud untukmenggalang solidaritas yang lebih besar dari sesama umat. Dalamsuasana konflik, agama sering kali menjadi titik singgung paling sensitifdan eksklusif dalam interaksi sosial masyarakat plural. Di Provinsi NusaTenggara Timur yang penduduknya plural, baik dari segi etnis, budaya,agama, dan lainnya. Kerukunan masyarakatnya sudah terbina sejakdahulu, namun secara kasuistik terjadi peristiwa yang bisa digolongkankonflik bernuansa agama. Kasus paling menonjol adalah pencemaranHostia Kudus.Penelitian ini berkesimpulan bahwa kerusuhan 30 Nopember 1998,mengganggu kerukunan umat beragama di Kota Kupang khususnya,dan NTT umumnya. Pada satu sisi menimbulkan dampak psikologisyang negatif bagi umat Islam, terutama bagi pendatang. Dampakpsikologis ini masih memerlukan penanganan yang baik. Namun padasisi lain, menimbulkan usaha-usaha perbaikan yang hasilnyamemperlihatkan terpelihara dan terbinanya kerukunan. Kendala utamadalam upaya peningkatan kegiatan dan program kerja kerukunan adalahmasalah dana. Kendala lainnya dalam proses integrasi masyarakat ialahbersifat psikologis dan kultural.
KETIKA171BERGOLAK (Studi Kasus Kerukunan Umat Beragama di Mataram) Sirajuddin Ismail
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.501 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.591

Abstract

Sederetan konflik yang terjadi menunjukkan bahwa telah terjadipergeseran nilai, dimana nilai budaya ketimuran Indonesia yang kentaldengan nuansa agama, ramah dan santun berubah menjadi kurangterpuji, membawa kerugian baik moral maupun material, bahkansampai kepada korbanjiwa. Yang menarik adalah terjadinya konflikpada daerah yang selama ini sangat menjunjung tinggi nilai agamadan kulturnya, seperti masyarakat Kota Mataram yang selama inidikenal hidup rukun dengan multi agama, etnik dan kultur, tiba-tibaterjadi konflik SARA yang mengejutkan semua pihak, terutamapemerintah Kota Mataram.Penelitian ini berkesimpulan bahwa kerusuhan yang terjadi diKota Mataram mudah diredam karena masyarakatnya hanya ikutikutan.Masyarakat Sasak yang umumnya beragama Islam sangatpatuh kepada ulama yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru. Dalammemelihara kerukunan umat beragama pasca kerusuhan (kerusuhan171), pemerintah Kota Mataram bersama tokoh agama dan adatmembentuk Forum Komunikasi Situasi Daerah (FOKOSIDA). Forumini menjadi pengayom dan atau induk dari beberapa lembaga danforum yang ada dan berfungsi sebagai sarana dialog dan komunikasidi antara mereka.
POTENSILATEN PREJUDICE DAL AM HUBUNGAN UMAT BERAGAMA Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.697 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.587

Abstract

Bagaimana pun juga hubungan antar berbagai umat beragamaakan terpola dalam bentuk harmonisasi dan konflik. Harmonis, jikapara penganut agama mampu melokalisir energi keagamaan merekadalam bentuk yang positif. Dan konflik, jika energi agama diarahkankepada radikalisasi keyakinan.Penelitian ini mengungkapkan kedua hal tersebut (harmonis dankonflik) dalam pandangan tokoh-tokoh agama dari dua agama besaryang memiliki tradisi yang panjang di Indonesia, yaitu Agama Islamdan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensikerawanan sosial khusunya di kota Makassar sangat besar. Indikatorutamanya adalah bahwa para tokoh agama mengungkapkankekhawatiran akan posisi mereka dan kekhawatiran akan didominasioleh kelompok lain.
BERS AMA DAL AM PERBEDA AN (Studi Kasus Pasca Konflik di Kabupaten Alor Provinsi NusaTenggaraTimur) Badruzzaman Badruzzaman
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.806 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.592

Abstract

Kondisi kerukunan umat beragama pasca konflik perlu digaliuntuk dijadikan bahan rujukan dalam menetapkan kebijakanpembangunan agama, khususnya pola pembinaan kerukunan hidupumat beragama. Aspek yang digali adalah gambaran konflik yangpernah terjadi, kondisi kerukunan hidup umat beragama pasca konflikdan faktor utama yang menyebabkan kondisi kerukunan hidup umatberagama pasca konflik.Konflik yang pernah terjadi di Kabupaten Aim memangtampaknyadipicuoleh oknum tertentu yang berbeda agama. namunrealitas konflik yang munculkemudian bukan k< mllik horizi mtal, akantetapi berupa tuntutan masyarakat terhadap Pemerintah KabupatenAlor agar oknum yang melakukan tersebut ditindak segera secarahukum dan dinonaktifkan dari jabatannya. Konflik horizontal tidakterwujud karena didukung oleh struktur sosial budaya masyarakatseperti pranata budaya lokal yang didukung oleh kckerabatan yangkuat (amalgamation), kebiasaan masyarakat hidup dalam pluralitas,dan upaya-upaya pemerintah. Karena itu kondisi kerukunan hidupumat beragama di Kabupaten Alor tampak kondusif. Keadaaan inidapat dilihat pada aktifitas keagamaan masyarakat yang dirasakanaman dan nyaman, kerjasama antara penganut agama di berbagaikegiatan pendidikan, sosial, dan budaya bahkan pada kegiatankegiatankeagamaan.
MENUJU DAMAI DENGAN KEARIFAN BARU (Studi Kasus Pasca Konflik Di Aralle, Tabulahan dan Mambi) Hamdar Arraiyah
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.814 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.588

Abstract

Faktor sejarah dan agama menjadi faktor utama terciptanyakonflik yang berkepanjangan di Mamasa. Pemicu konfliknya adalahpemekaran Kabupaten Mamasa. Bagi sebagian besar masyarakatMandar yang tergabung dalam Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'banaBinanga merasa berkeberatan dengan dipilihnya Mamasa sebagaiibu kota kabupaten dan nama kabupaten. Ini karena secara historidan agama, masyarakat Mandar yang tergabung dalam ikatan komunaltujuh kerajaan yang secara kebetulan mayoritas beragama Islam,merasa lebih terhormat kedudukannya dibanding Mamasa yangkebetulan mayoritas beragama Kristen.Penelitian ini mencatat beberapa upaya-upaya pemerintahdaerah dalam usaha menangani persoalan konflik, setidaknya adasembilan kebijakan yang menjadi kerangka dasar untukmenanggulangi persoalan konflik di Mamasa khususnya di areal ATM(Aralle, Tabulahan dan Mambi). Namun hal ini tidak cukup untukmenyelesaikan persoalan yang terjadi. Karena itu kedua penelitimerekomendasikan perlunya persfektif baru dalam melihat konflik diMamasa, khususnya dengan mempertimbangkan pendekatan kultural.
AREK-AREK SUROBOYO: MENANGKAP HIKMAH DARE KONFLIK pat badrun
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.891 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.593

Abstract

Konflik-konflik sosial bernuansa agama yang terjadi dibeberapa daerah termasuk di daerah Jawa Timur, tidak dapat disangkaltelah memberikan dampak terhadap kerukunan umat beragama di KotaSurabaya. Namun demikian, dampak yang dipandang menonjol ialahmeningkatnya kewaspadaan pihak-pihak terkait yang disusul dengantindakan nyata sehingga konflik serupa tidak sempat terjadi diSurabaya.Penelitian ini menemukan bahwa setidaknya ada dua hal yangmendukung terciptanya kondisi tersebut, yakni: (1) tingkat kesadaranyang tinggi dari para pemimpin dan pemuka/tokoh agama danmasyarakat setempat tentang pentingnya menjaga dan memeliharakerukunan umat beragama yang juga berarti kerukunan masyarakat;(2) ciri dan sifat khas orang Surabaya (arek-arek Suroboyo) yaknipragmatis, egaliter, terbuka, lugas, dan kritis

Page 1 of 1 | Total Record : 8