cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus" : 6 Documents clear
Analysis of Factors Affecting Return Visits: A Study on Religious Tourism of Sunan Ampel Surabaya Anshori , Mohammad Yusak; Mardhotillah, Rachma Rizqina; Salamah, Umi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.320

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat kunjung kembali pada objek wisata religi Sunan Ampel Surabaya. Pertanyaan dari penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan minat kunjung kembali pada objek wisata religi Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan cara menguji pengaruh Citra Wisata, Mutu Wisata dan Nilai Pelanggan guna meningkatkan minat kunjung kembali pada obyek wisata Religi Sunan Ampel Surabaya. Daya tarik wisata digunakan sebagai variabel intervening. Populasi dari penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Religi Sunan Ampel, dan yang sudah pernah berkunjung sebanyak dua kali. Dengan criteria usia mulai dari 16 sampai 40 tahun di kalangan remaja sampai orang tua. Sampel dari penelitian ini adalah 150 responden yang didapat dengan metode purposive sampling. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan path analysisdengan software smartPLS. Hasil penelitian ini membuktikan tiga hipotesis diterima dan satu hipotesis ditolak. Tiga hipotesis yang diterima mencakup mutu wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap dayatarik wisata, citra wisata berpengaruh positif dan signifikan terhadap dayatarik wisata, dan nilai pelanggan berpengaruh positif dan signifikan dengan minat kunjung kembali. Hipotesis yang ditolak adalah dayatarik wisata berpengaruh negatif terhadap minat kunjung kembali.
Nilai-Nilai Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung Cathrin, Shely; Wikandaru, Reno; Indah, Astrid Veranita; Bursan, Rinaldi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.321

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung dengan makna filosofis yang ada di dalam tradisi tersebut. Muara dari kajian ini adalah untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia, yang eksistensinya mulai terancam di tengah perkembangan arus globalisasi saat ini. Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif tentang pandangan filosofis di lapangan. Objek material dari penelitian ini adalah tradisi Begawi Cakak Pepadun Lampung. Objek formal atau sudut pandang dari penelitian ini adalah filsafat, khususnya filsafat kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara etimologis Begawi berarti pekerjaan atau membuat gawi (kerja), sedangkan cakak pepadun berarti naik pepadun yaitu peristiwa pelantikan Penyimbang sebagai keturunan dari raja Lampung. Prosesi ini terdiri atas cangget, ngediyou, nigel, potong kerbau, sesemburan, pineng di paccah aji, dan cakak pepadun. Setiap tahapan dan kelengkapan ucapara tersebut mengandung nilai-nilai filosofis, yang meliputi nilai spiritual, nilai moral, nilai sentimental, nilai material, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai estetika, dan nilai hiburan.
Modernisasi di Tengah Tradisi Kraton: Pasoekan Poeteri J.P.O. (1934-1942) Setyantoro, Agung Suryo
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.322

Abstract

avaansche Padvinders Organisatie(J.P.O.), merupakan salah satu organisasi yang diprakarsai oleh Mangkunegara VII dan cukup menonjol yang bergerak dalam bidang kepanduan. Peranan wanita turut memberi kontribusi yang tidak sedikit dalam induk organisasi J.P.O.. Walaupun pada awal pembentukannya J.P.O. hanya diikuti oleh laki-laki, akan tetapi dalam perkembangannya sekelompok wanita muncul didalamnya, dengan sebutan ‘Pasoekan Poeteri J.P.O.’. Permasalahan yang menarik untuk diangkat dari organisasi kepanduan ini ialah bagaimana J.P.O. yang tumbuh dan berkembang di lingkungan maupun latar belakang budaya tradisional kraton yang masih sangat kental, mempersepsikan wanita dalam organisasi. Pendek kata Pasoekan Poeteri J.P.O telah merepresentasikan harapan dari Mangkunegara VII yaitu telah melakukan modernisasi dengan bertumpu pada akar kebudayaan Jawa. Pasoekan Poeteri J.P.O. sebagai wadah bagi anak-anak atau remaja perempuan di lingkungan Mangkunegaran telah mampu menjadi agen modernisasi khususnya bagi kaum perempuan itu sendiri maupun seluruh rakyat di Mangkunegaran.
Ki Hadjar Dewantara, Berpolitik dengan Akal Budi dan Hati Nurani Purwanto, Bambang
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.323

Abstract

Narasi besar historiografi Indonesia dan memori kolektif bangsa tentang Ki Hadjar Dewantara selama ini hanya dibatasi pada kenyataan sejarah yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan bersama Taman Siswa, sebagai sesuatu yang terpisah dari kesadaran dan kegiatan politik kebangsaannya. Padahal terdapat banyak bukti yang dapat diinterpretasikan bahwa Ki Hadjar Dewantara menjadikan Taman Siswa bukan hanya sebagai sebuah lembaga pengajaran dan pendidikan, melainkan representasi jati diri merdeka dari kesadaran kebangsaan Indonesia. Sebagai sebuah keutuhan cara berpikir, perilaku, dan tindakan, semua kegiatan Ki Hadjar Dewantara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan merupakan perwujudan dari politik identitas untuk membedakan diri dari kolonialisme Belanda, yang tidak terlepas dari konteks besar perubahan di dalam masyarakat kolonial, dunia,dan kemanusiaan.
Buruh dan Kemerdekaan: Solidaritas Buruh dalam Film Indonesia Calling (1946) Fathoni, Rifa’i Shodiq
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.324

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji memori yang terdapat di dalam film Indonesia Calling dan korelasinya dengan historiografi Indonesia. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah mengapa film Indonesia Calling dibuat? Penelitian menggunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Indonesia Calling dibuat oleh Joris Ivens sebagai bentuk perlawanan terhadap propaganda film Belanda. Film itu menampilkan pemogokan buruh dari berbagai negara di Pelabuhan Sydney Australia. Pemogokan tersebut merupakan bentuk protes terhadap agresi Belanda dan Sekutu di wilayah Indonesia. Melalui narasi antikolonialisme film Indonesia Calling menjadi salah satu film paling awal antikolonial.
Bahasa Tua dan Penutur Tua; Sebuah Cerita Dari Maluku Barat Daya Dwiningsih, Santi; Agustini, Bhakti Lisanti
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 22 No. 2 (2021): Agustus
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.325

Abstract

Dalam Sekapur Sirih Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia Edisi Keenam, disebutkan bahwa bahasa adalah penjaga budaya, jika bahasa punah, maka budaya masyarakatnya pun bisa turut punah, itu karena bahasa menyimpan tata nilai budaya dalam berbagai wujud, yakni; kosakata, pantun, cerita rakyat, sejarah masyarakat setempat, mitos, legenda, tradisi lisan, dan ungkapan-ungkapan yang sarat dengan nilai etika serta moral (https://petabahasa.kemdikbud.go.id/sekapursirih.php). Indonesia sangat kaya bahasa daerah yang sarat dengan nilai-nilai budaya. Sayangnya, bahasa daerah di Indonesia sudah berada dalam posisi yang mengkhawatirkan dan hal itulah yang terjadi di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). MBD memiliki beragam bahasa daerah dan tradisi lisan, salah satunya berupa bahasa tua atau disebut juga dengan bahasa tanah. Kini, bahasa tersebut terancam punah karena semakin jarang dituturkan kecuali dalam ritual adat, dan karena jumlah penutur bahasa tanah semakin sedikit dengan usia yang terbilang tua. Mereka para penutur bahasa tanah adalah kaum marna (bangsawan) yang hanya diperkenankan mewariskan pengetahuan bahasa tanah tersebut kepada keturunan mereka yang juga berdarah marna. Ironisnya, proses pewarisan tersebut mandek, akibatnya, bahasa tanah semakin tersingkir. Oleh karenanya, pewarisan bahasa tanah harus segera diupayakan kembali, karena jika bahasa tanah punah, maka tata nilai serta budaya yang dikandungnya pasti turut punah. Artikel ini ditulis untuk memberi wawasan mengenai bahasa tanah yang ada di Maluku Barat Daya dan untuk mencaritahu apa upaya terbaik untuk menyelamatkannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6