cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 23 No. 1 (2022)" : 5 Documents clear
Kajian Nilai Kesejarahan Istana Al Mukaromah Kesultanan Sintang Kalimantan Barat Sartika, Ropita Dewi; Rochmat, Saefur; Arrazaq, Naufal Raffi
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.374

Abstract

Peninggalan sejarah dapat dikenalkan secara menyeluruh kepada generasi muda untuk menumbuhkan semangat patriotisme, sifat kepahlawanan, dan nasionalisme. Salah satu peninggalan sejarah tersebut adalah Istana AlMukaromah yang merupakan peninggalan dari Kesultanan Sintang di Kalimantan Barat.Tujuan dari penulisan artikelini adalah mengidentifikasi peristiwa penting di Istana Al Mukaromah Kesultanan Sintang dan nilai kesejarahanIstana Al Mukaromah Kesultanan Sintang. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa studipustaka. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Istana Al Mukaromah adalah istana yang merupakan peninggalan dari Kesultanan Sintangdibangun tahun 1939. Peristiwa penting yang pernah terjadi di Istana Al Mukaromah Kesultanan Sintang adalahperumusan Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Garuda Pancasila dengan semboyan BhinnekaTunggal Ika. Nilai-nilai yang terdapat dalam Istana Kesultanan Sintang adalah sejarah, religus, budaya, serta sosial.
Harsja Bachtiar dan Pembentukan Bangsa Indonesia: Teori dan Historiografi Ahimsa-Putra, Heddy Shri
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.375

Abstract

Pembangunan bangsa (nation building) merupakan salah satu isu utama politik nasional Indonesia setelah kemerdekaan, karena “bangsa Indonesia” bukanlah sebuah satuan sosial yang telah hadir di kawasan kepulauan Nusantara sejak zaman purbakala. Bangsa dan negara Indonesia adalah dua satuan sosial-politik-budaya yang baru muncul di abad yang lalu, dan usianya belum lagi mencapai satu abad. Di abad 21 ini -dalam usianya yang mendekati tiga perempat abad- tarikan sosial-politik yang mengarah pada konflik nasional bukannya melemah, tapi seringkali menguat ketika mendekati masa pemilihan presiden dan wakil presiden, kepala daerah atau para wakil rakyat yang baru. Tidaklah mengherankan jika fenomena pembangunan bangsa tetap merupakan fenomena sosial yang masih sangat perlu diteliti dan dipahami prosesnya dengan baik di Indonesia. Topik ini merupakan salah satu topik utama ilmu-ilmu sosial Indonesia di tahun 1960an hingga tahun 1990an.Salah seorang ilmuwan sosial Indonesia yang menaruh perhatian terhadap masalah tersebut adalah almarhum Harsja W. Bachtiar, seorang guru besar sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Beliau menulis disertasi tentang topik tersebut untuk mencapai gelar doktornya di tahun 1973, di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Meskipun sudah hampir 50 tahun, namun hasil kajian ini belum banyak dikenal para ilmuwan sosial-politik di Indonesia. Sangat jarang ia dikutip atau dirujuk oleh mereka yang meneliti masalah integrasi nasional di Indonesia. Mungkin karena ia masih berupa disertasi dalam bahasa Inggris, dan belum terbit menjadi buku dalam bahasa Indonesia. Tulisan ini memaparkan pembahasan Harsja W. Bachtiar mengenai proses “pembangunan bangsa” -lebih tepatnya proses kemunculan, kelahiran sebuah bangsa baru-, bangsa Indonesia dalam disertasi tersebut.
Dari Niaga Lada hingga Formasi Multikultur Budaya Kuliner Banten Abad XVI-XVIII Setyawan, Alfonsus Tegar; Sholihah, Azmah; Rohmah, Siti Lilik Nur
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.376

Abstract

Lada menjadi komoditas niaga utama dalam jalur rempah Nusantara di Banten. Hal ini didukung oleh kondisi geografis yang menghubungkan Banten dengan Pulau Sumatra sebagai salah satu penghasil utama lada sekaligus berperan dalam menciptakan jalinan budaya multikultur di Banten. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan formasi budaya kuliner Banten sebagai dampak dari niaga jalur rempah pada abad XVI-XVIII. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan menggunakan literatur sezaman berupa catatan perjalanan karya Cornelis de Bruijn (1737) dan Stavorinus (1798) yang melukiskan suasana jamuan makan di lingkungan istana Banten. Sumber-sumber tersebut kemudian dikaji lebih lanjut dalam artikel ini untuk mendeskripsikan bukti dari jejak awal asimilasi budaya kuliner Banten. Selain itu, studi arkeologi tentang Kesultanan Banten yang dilakukan oleh Kaoru Ueda, dkk (2016), memperlihatkan bentuk asimilasi budaya kuliner Banten dari adanya penggunaan peralatan makan yang terbuat dari porselen, penggunaan kendi dalam ritual keagamaan, serta pemanfaatan daging kerbau sebagai bagian dari kuliner Banten. Penelitian ini juga menggunakan naskah lokal Sanghyang Swawarcinta yang mendeskripsikan budaya pengolahan bahan pangan masyarakat Sunda. Hasil penelitian ini berupa adanya asimilasi budaya di Banten yang menghasilkan formasi budaya kuliner yakni hidangan berkuah, bercita rasa pedas, manis, asam serta penggunaan ikan dan unggas. Formasi budaya kuliner tersebut terjalin dari adanya perjumpaan budaya berbagai bangsa seperti Arab, India, Cina, dan Belanda sebagai dampak dari perniagaan lada.
Strategi Desa Wisata Berbasis Budaya Siregar, Nurul Aldha Mauliddina; Priyatmoko, Rakhman
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.377

Abstract

The cultural perspective in a broad sense covers people’s lives or how the community should be the basis for developing a tourist village. In Petingsari Tourism Village, Sleman Regency, D.I. Yogyakarta, the concept is apllied by the manager of the tourist village by making the culture or variety of original patterns of community life into a unique and attractive tourist activity for tourists. Village community participation is initiated by implementing empowerment programs. The empowerment strategy is carried out in stages starting with awareness, training, and implementation. As a result, rural communities are able to develop sustainable tourism destinations that have a significant impact on community welfare, nature conservation, and do not interfere with local cultural values due to tourism activities. The purpose of the study was to analyze the processes and strategies implemented by the village government of Pentingsari in initiating the presence of a cultural-based tourism village. The descriptive approach is a research method carried out with data collection techniques through interviews, observations, direct observations, as well as literature studies and visual documentation.
Potret Keselarasan Agama, Budaya dan Lingkungan Masyarakat Silurah: Nyadran Gunung Afad, Mochammad Najmul
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.378

Abstract

This paper attempts to present the ethnography of Nyadran Gunung which is a tradition of Silurah community. This research uses ethnographic approach to obtain in-depth data on the knowledge and experience of Silurah community about Nyadran Gunung. The results of this study shows that the tradition of Nyadran Gunung is the cultural behavior of community that has been inherited from generation to generation. This ritual is performed by the entire Silurah community, young, old, children, men and women. Nyadran Gunung is a religious rite which is also a process of harmony between religion, nature, society and culture. Nyadran Gunung is a ritual that brings together aspects of environmental balance (cosmos), religion and culture of Silurah Community. This ritual portrays the involvement of the community with all elements in preserving nature and community culture. Nyadran Gunung answered the importance of protecting nature in the midst of environmental damage.

Page 1 of 1 | Total Record : 5