Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Inovasi Filantropi Islam dalam Menanggulangi Masyarakat Miskin Terdampak Covid-19: Studi Kasus di Baznas Provinsi Kalimantan Barat Khamim, Khamim; Afad, M.Najmul; Widodo, Agus; Perdhiansyah, Perdhiansyah; Hakim, Muhammad Lutfi
Sosio Konsepsia Vol 10 No 3 (2021): Sosio Konsepsia
Publisher : Puslitbangkesos Kementerian Sosial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33007/ska.v10i3.2435

Abstract

Abstrak: Dunia sekarang lagi dilanda Pandemi Covid-19. Ada 34 provinsi di Indonesia yang tergolong zona merah terdampak Covid-19, termasuk Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Penyebaran virus ini sangat cepat dan berdampak terhadap berbagai lapisan masyarakat, terutama ekonomi para karyawan dan masyarakat miskin di Provinsi Kalbar. Untuk menanggulangi dampak tersebut, perlu adanya peran dan partisipasi dari suluruh kalangan, termasuk Baznas Provinsi Kalbar sebagaimana amanat dari Undang-Undang Nomor 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Tulisan ini fokus pada inovasi dalam fundraising filantropi Islam, pemanfaatannya dan kendala-kendala yang dialami Baznas dalam menanggulangi masyarakat miskin terdampak Covid-19 di Provinsi Kalimantan Barat. Dengan menggunakan jenis penelitian lapangan dan didukung dengan hasil wawancara dan dokumentasi, tulisan ini menemukan dua strategi yang digunakan oleh Baznas Provinsi Kalbar dalam fundraising ZIS yang mengalami kenaikan sebesar 2,92 kali dibandingkan tahun 2019, yaitu sosialisasi Fatwa MUI terkait pemanfaatan ZIS dan optimalisasi peran UPZ. Dalam hal pemanfaatannya pada masa pandemi Covid-19, Baznas Provinsi Kalbar mendistribusikan 91% dana ZIS pada bidang darurat kesehatan berupa program kesehatan dan kuratif, sedangkan sisanya (9%) dimanfaatkan untuk bidang darurat sosial-ekonomi berupa paket logistik keluarga, zakat fitrah dan fidyah, serta BTM. Terbatasnya waktu dan ruang gerak pada masa pandemi merupakan kendala yang dirasakan Baznas Provinsi Kalbar. Kata kunci: Filantropi Islam, Covid-19, Masyarakat Miskin, Baznas Provinsi Kalimantan Barat  
Merdeka Belajar Dari Rumah: Sebuah Pemberdayaan Masyarakat Di Masa Pandemi COVID-19 Sri Ayu Tiwikrama; Mochammad Najmul Afad; Muhammad Lutfi Hakim
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37064/jpm.v9i1.8827

Abstract

Pandemi Covid-19 menjadikan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembelajaran sekolah di rumah. Aktivitas peserta didik terpusat di rumah masing-masing. Praktiknya peserta didik justru sibuk bermain gadget yang berdampak pada rendahnya karakter peserta didik. Kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa tahapan diantaranya riset problem masyarakat, perencanaan program, analisis dan penyusunan program, mengorganisasi masyarakat dan menentukan komunitas dampingan dan implementasi serta monitoring. Hasil data yang diperoleh melalui pengamatan dari sekelompok masyarakat sekitar yang menyasar pada anak-anak tingkat sekolah dasar. Pemberdayaan masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata Dari Rumah (KKN-DR) Angkatan 49 IAIN Pekalongan dilakukan untuk menyelesaikan problematika tersebut diantaranya mengadakan kegiatan peningkatan literasi dan numerasi berupa literasi digital, bimbingan belajar tatap muka dan bimbingan belajar daring, kegiatan pelatihan kreasi kain, dan kegiatan hidroponik mengarahkan pada hasil nyata bentuk pemberdayaan dapat dilakukan dengan pembelajaran sederhana yang mengarah pada asas keterampilan hidup di tengah pandemi Covid-19
DINAMIKA STRATEGI MEDIA DALAM GERAKAN ANAK MUDA Mochammad Najmul Afad
Mediakom Vol 4 No 2 (2021): Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika, Informasi dan Komunikasi Publik (APTIKA dan IKP) Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/diakom.v4i2.229

Abstract

Anak muda berkumpul dan membentuk komunitas untuk melakukan gerakan guna menyelesaikan masalah sosial, salah satunya komunitas ketjilbergerak. Tujuan riset ini untuk melihat dinamika strategi gerakan anak muda pada komunitas ketjilbergerak. Riset ini menggunakan metode etnografi (offline) dan etnografi digital sebagai metode pengumpulan datanya. Peneliti menjadi bagian dari anggota komunitas ketijlbergerak, mengikuti kegiatan komunitas ketjilbergerak sejak tahun 2015 hingga 2018 secara offline dan 2019-2021 terus mengamati perkembangan komunitas ini melalui media online. Penulis melakukan observasi, wawancara serta mencatat dalam bentuk fieldnote (catatan lapangan) dalam setiap kegiatan yang diamati penulis. Hasil penelitian ini menunjukkan media yang digunakan komunitas ketjilbergerak beragam dan selalu dinamis mulai zine, diskusi tatap muka, pameran, pertunjukkan, riset, mural, musik, hingga diskusi online. Media yang digunakan mereka disesuaikan dengan kondisi masyarakat sasaran dan zaman. Dinamika strategi juga telah dilakukan sejak awal berdirnya komunitas ini, yang semula membuat zine, dan diskusi tatap muka bergeser menjadi pameran hingga mural. Sekolah Desa dan Sekolah Pemuda Desa salah satunya, yang biasa dilaksanakan secara offline namun di masa pandemi dilaksanakan secara online. Rekomendasi penelitian diberikan kepada aktor gerakan anak muda untuk selalu update dan menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Adanya pandemi Covid-19 bukan menjadi sebuah hambatan, melainkan peluang melakukan sebuah gerakan.
Imām Al-Ghazālī Thoughts on Islamic Politics: A Study of The Values of Islamic Education Khamim Khamim; Muhammad Lutfi Hakim; Mochammad Najmul Afad
AT-TURATS Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/at-turats.v15i1.1868

Abstract

This article discusses Imām Al-Ghazālī’s thoughts regarding politics in Islam, the socio-political conditions behind it, and the values of Islamic education contained in it. This discourse is urgent because seeing the political phenomenon in Indonesia is very worrying after the collapse of the authoritarianism regime during the Old Order era. This paper uses a type of literature research using some of the works of Imām Al-Ghazālī as the primary source. The socio-political conditions underlying the beginning of Imām Al-Ghazālī’s writings related to Islamic politics were the weak understanding of society’s religion and disintegration in the political field of Muslims at that time. From some of his works, there are four themes studied by Imām Al-Ghazālī regarding politics in Islam, namely amar ma’rūf nahī munkar in politics, the origin of the emergence of a nation, theories about state leadership, sources of power and authority of the head of state. As for the values of Islamic education contained in Imām Al-Ghazālī’s thoughts regarding politics in Islam, namely amar ma’rūf nahī munkar, power comes from God, the authority of leaders in matters of the world and the hereafter, mutualism between the people and leaders, mature, intelligent, free, male, a descendant of Quraish, healthy hearing or vision, real power, guidance, knowledge, and being careful in doing things. The fourteen values of Islamic education above include the spiritual dimension, the cultural dimension, and the intelligence dimension.
Muda Berdaya: Sebuah Pendidikan Moderat Kritis Komunitas Santri Batang Mochammad Najmul Afad
Islamic Management and Empowerment Journal Vol 2, No 1 (2020): Islamic Management and Empowerment Journal
Publisher : IAIN Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/imej.v2i1.35-52

Abstract

Radikalisme merupakan salah satu kajian yang populer. Kondisi ini sebagai wujud respon atas maraknya perilaku kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Penelitian ini menjelaskan mengenai model pemberdayaan anak muda. Pemberdayaan dilakukan dengan pendidikan moderat kritis yang mengambil locus komunitas Santri Batang. Metode etnografi digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah komunitas Santri Batang muncul sebagai sebuah gerakan pemberdayaan baru di Kabupaten Batang. Santri Batang menjadi komunitas anak muda yang bergerak di dunia maya dan dunia nyata. Content visual di media yang diproduksi dan melalui perjumpaan langsung (kopdar/kopi darat), ajaran Islam disampaikan dengan gaya anak muda mampu menyebarkan semangat belajar kajian Islam Rahmatan Lil’alamin.
Penguatan Moral Melalui Pendidikan Agama Terinteragrasi Desa Sembungjambu Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan Mochammad Najmul Afad; Aris Priyanto; Abdul Basid; Nur Fajariyah; Milda Irbayani
Turast: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/turast.v11i1.5922

Abstract

Sembungjambu Village has local potential and needs to develop including community traditions that are still being carried out and there are two tombs of the guardian Mbah Kyai Gede Ceper and Mbah Datuk. Nevertheless, Sembungjambu Village has social problems, one of which is a moral decline marked by promiscuity, alcoholism, and a community that is considered deviant or deviates from the norms of the local community. One effort to overcome moral degradation is through religious education. This community empowerment activity uses the Participatory Rural Appraisal (PRA) method, a participatory empowerment model implemented in the village. This activity was carried out in three stages, namely first planning, second, implementation, and third evaluation. These empowerment activities include organizing community leaders from Sembungjambu Village from all elements who have concerns over the issue of moral decline, mapping community potential that can be used for the Moral Strengthening process through Focus Group Discussions, Mapping formal, non-formal and informal educational institutions in Sembungjambu Village which will later produce a Model of Strengthening Morale Through Integrated Religious Education. Holding Inspiration Class activities in the form of sharing sessions by presenting successful practitioners and local youth so that the Village community remains enthusiastic about carrying out knowledge and religion. Storytelling Training for Parents as a form of re-socializing Fairy Tales as a means of character and religious education. Digital marketing training to increase the entrepreneurial capacity of the Sembungjambu Village community, and create working groups as follow-up activities. Evaluation and control of the process of implementing empowerment activities. It is hoped that this program can also be implemented in other villages in the context of strengthening morale. Desa Sembungjambu menyimpan potensi lokal yang perlu dikembangkan diantaranya tradisi masyarakat yang masih dijalankan dan terdapat dua makam wali Mbah Kyai Gede Ceper dan makam wali Mbah Datuk. Kendati demikian Desa Sembungjambu mempunyai problem sosial salah satunya kemerosotan moral yang ditandai dengan pergaulan bebas, alkoholisme dan komunitas yang dianggap deviant atau menyimpang dari norma masyarakat setempat. Salah satu upaya untuk menanggulangi degradasi moral ialah melalui pendidikan agama. Kegiatan pemberdayaan masyarakat ini menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) model pemberdayaan partisipatif yang dilaksanakan di desa. Kegiatan ini dilakukan dengan tiga tahap yaitu Pertama perencanaan, Kedua, pelaksanaan dan Ketiga evaluasi. Kegiatan pemberdayaan ini diantaranya mengorganisir tokoh masyarakat Desa Sembungjambu dari semua elemen yang mempunyai keresahan atas isu kemerosotan moral, melakukan pemetaan potensi masyarakat yang bisa digunakan untuk proses Penguatan Moral melalui Focus Group Discussion, Melakukan pemetaan lembaga pendidikan formal, non formal dan informal di Desa Sembungjambu yang nantinya akan menghasilkan Model Penguatan Moral Melalui Pendidikan Agama Terinteragrasi. Mengadakan kegiatan Kelas Inspirasi berupa sharing session dengan menghadirkan praktisi dan local youth yang sukes agar masyarakat Desa tetap bersemangat mengemban ilmu pengetahuan dan agama. Pelatihan mendongeng untuk orang tua sebagai bentuk memasyarakatkan kembali Dongeng sebagai sarana pendidikan karakter dan agama. Pelatihan digital marketing dalam rangka peningkatan kapasitas wirausaha masyarakat, dan membuat kelompok kerja sebagai follow up kegiatan. Evalusi dan kontrol proses pelaksanaan kegiatan pemberdayaan. Harapannya program ini bisa juga dilaksanakan di desa lainnya dalam rangka penguatan moral.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN BANK SAMPAH SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN LIMBAH PLASTIK DI DESA API - API KECAMATAN WONOKERTO KABUPATEN PEKALONGAN Mochammad Najmul Afad; Evi Oiyah; Nur Fajariyah
Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat- LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/diseminasiabdimas.v5i1.1982

Abstract

This community service program is a form of community service activity. This service focuses on community empowerment in the creative economy through TPS Bestari. The purpose of this service is to provide related knowledge the amount of potential that can be developed from the Bestari TPS which can increase welfare community and at the same time as an effort to overcome the waste problem in Api-api Village. Service activities are located in Api – Api Village, Wonokerto District, Pekalongan Regency with the people of Dusun Pegedangan Desa Api – Api RT 01/ RW 01 as the target object. The result of this research is TPS Bestari with the organization changed to Bank waste becomes a place for local communities to develop collective awareness in protect the environment and develop the creative economy and create an independent economy. Abstrak Program pengabdian kepada masyarakat ini sebagai bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah yang sedang dialami. Pengabdian ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat dibidang ekonomi kreatif melalui TPS Bestari. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk memberikan pengetahuan terkait besarnya potensi yang dapat dikembangkan dari TPS Bestari yang dapat meningkatan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus sebagai upaya dalam mengatasi permasalahan sampah di Desa Api-api. Kegiatan pengabdian berlokasi di Desa Api – Api Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan dengan masyarakat Dusun Pegedangan Desa Api – Api RT 01/ RW 01 sebagai objek sasarannya. Hasil dari penelitian ini adalah TPS Bestari dengan pengorganisasian yang diubah menjadi Bank sampah menjadi wadah bagi masyarakat setempat dalam mengembangkan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan hidup serta mengembangkan ekonomi kreatif dan menciptakan ekonomi mandiri.
Merayakan Living Heritage Batik Rifaiyah: Sebuah Tafsir atas Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Mochammad Najmul Afad
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 25, No 1 (2023): (June)
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v25.n1.p107-116.2023

Abstract

This paper describes the emphasis on rifaiyah batik which is a characteristic of rifaiyah people who are trying to be distracted by cultural activities through an activity entitled Celebrating Rifaiyah Batik which is seen in terms of interpretation of the Law on the Promotion of Culture. This research uses ethnographic methods and studies on Law Number 5 of 2017 concerning the Pemajuan Kebudayaan. The results showed that rifaiyah batik was made by rifaiyah people living in the Batang region. Rifaiyah batik is not just batik, but becomes a daily activity as well as a spritual practice of the rifaiyah. An activity entitled Celebrating Rifaiyah Batik was held as a form of concern, preservation and advocacy for rifaiyah batik to be known by the wider community by bringing the core message of rifaiyah batik. This is so if contextualized by Law Number 5 of 2017 concerning Pemajuan Kebudayaan, it becomes complete that the community as the owner and driver of culture. This research recommends that the interpretation of Law Number 5 of 2017 concerning the Promotion of Culture be interpreted transformatively. The government as a policymaker should support and create an atmosphere so that the community always preserves culture by continuing to explore the values of locality that exist in the context of promoting culture itself, regional development both in the human resources sector, economy and other sectors with cultural roots.
Gender Justice Actualization through Gender Islamic School Haq, Muhammad Izzul; Afad, Mochammad Najmul
Al-Maiyyah: Media Transformasi Gender dalam Paradigma Sosial Keagamaan Vol 15 No 2 (2022): AL-MAIYYAH
Publisher : LP2M IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/al-maiyyah.v15i2.752

Abstract

The Islamic School and Gender (SIG) is the first formal cadre of the Women’s Indonesian Islamic Student Movement Corps (PMII) after participating in the acceptance of new members organized by the Indonesian Islamic Student Movement to provide an understanding of the Islamic perspective in responding to gender issues. This study uses qualitative methods with interviews and participatory observations and documentation techniques as data collection techniques. The results show the Islamic School and Gender (SIG) organized by PMII convey the values ​​of gender equality, mubadalah (mutuality), and partiality to women. Recommendations for this research are given to educational institutions that become places of gender equality socialization to make Islamic and Gender Schools as sone reference for students or young people to study Islam and gender.
Women's Boarding School: Forms of Gender Justice for Female Santri Naela Sofiana; Mochammad Najmul Afad; Nada Alfa Farah; Nur Fajariyah; Nur Hamid
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol 7, No 1 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/humanisme.v7i1.6284

Abstract

This research explores women's pesantren as a forum for Islamic religious education for women to learn Islam and other soft skills that will be needed in the future. The location of this research is Nurul Huda Islamic Boarding School, Pandansari Batang Regency. Qualitative research methods, in-depth interview data collection techniques, and participatory observation of this research were conducted. The results of this research show that it is Pesantren Nurul Huda, a traditional Islamic boarding school or pesantren whose students live together under the guidance of a Pak Kyai and Bu Nyai. Pak Kyai and Bu Nyai guide their students to become good female leaders by adhering to the teachings of Islam because Islam does not prohibit women from being leaders in society. Women's boarding schools empower women to create gender equality between men and women, but that does not mean women have to be equal to men. Women's empowerment prioritises women's independence so that they are not too dependent on men.