cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016" : 12 Documents clear
MOKATAKE: BUDAYA MEGALITIK Dl SITUS HITIGIMA LEMBAH BALIM SELATAN KABUPATEN JAYAWIJAYA [MokatAke: Megalithic Culture in Hitigima] Erlin Novita Icfje Ojami
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4305.516 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.181

Abstract

The findings of the spirits path or MokatAke in the Hltiglma Site, Asotlpo District, regency of Jayawijaya, has brought a new perspective related to the distribution and diversity of megalithb culture In Indonesia, in addition, as a proof that in the central mountainous region of Papua have also been touched by the megalithic culture, is a cultural tradition that was introduced byAustmnesian speakers since the Neolithic and continues a tradition until now. Research resuits from the Hitigima site is in the form ofAsama Indigenous Village, spirits path (mokat ake), a few of stone pillars, a large stone, and a niche in the mountain Hesagenem, as well as blue lake. These elements constitute a single entity associated with the context of indigenous deaths in Hubula tribe in southern Balim Valley, which is also described how the ancestors of the trip, and the reintegration of descent with ancestors. AbstrakTemuan jaian arwah atau mokat ake di Situs Hitigima, Distrik Asotlpo, Kabupaten Jayawijaya, telah msmbawa perspektif baru terkait dsngan sebaran dan keragaman bentuk megalitik di Indonesia. Di samping itu, sebagai bukti bahwa di wilayah pegunungan tengah Papua juga teiah tersentuh oleh budaya megalitik yaitu suaiu tradisl budaya yang diperkenalkan oleh penutur Austronesia sejak masa neolitik dan terns mentradisi hingga kini. Hasil penelltian di Situs Hitigima adalah berupa Kampung Adat Asoma, jaian arwah {mokat ake), beberapa buah tiang batu, satu buah batu berukuran besar, dan ceruk di Gunung Hesagenem, serta Kali Biru. Unsur-unsur tersebut merupakan satu kesatuan kontefcs yang terkait dengan adat kematian pada suku Hubuia di Lembah Balim selatan, yang juga menggambarkan tentang hubungan peijalanan nenek moyang, dan penyatuan kembali para ksturunan dengan ieluhumya.
BUDAYA AUSTRONESIA Dl KAWASAN DANAU SENTANI (Austroneslan Culture In the Sentani Lake Area) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2625.917 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.182

Abstract

Pottery artifacts distribution and language show that Austroneslan speakers mostly settle, do activity, and interact with indigenous Papua In the coastal. Sentani Lake area is located in north part of Papua, in which Sentani language belongs to the non-Austronesian (phylum Trans New Guinea). This study is aimed to reveal the influence of Austroneslan culture in Sentani Lake area through descriptive and qualitative methods. The data is gathered by conducting surface survey, environmental observation, and ethnoarchaeological approach. The influence of Austroneslan culture in Sentani Lake area is brought through the coastal communities in Vanimo, Altape, and East Sepik Papua New Guinea. Artifacts as the evidences showing the influence of Austroneslan culture am in the form of pottery, glass bracelet, glass beads, and bronze artifacts. It is also shown through a pottery making tradition, tattoo, alcoholic drink, leadership system, and the breeding of dog, pig, and chicken. AbstrakPersebaran artefak gerabah dan bahasa menunjukan penutur Austronesia lebih banyak bermukim, beraktivitas, dan berinteraksi dengan penduduk asli Papua di pesisir. Kawasan Danau Sentani terletak di pesisir utara Papua, bahasa Sentani tergoiong dalam bahasa non-Austronesia (phylum Trans New Guinea). Tuiisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya Austronesia di Kawasan Danau Sentani. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpuian data dilakukan dengan survei permukaan tanah serta pengamatan lingkungan, serta perdekatan etnoarkeologi. Pengaruh budaya Austronesia di Kawasan Danau Sentani melaiui masyarakat pesisir di Vanimo, Aitape, dan Sepik Timur Papua Nugini. Aftefek yang menjadi bukti pengaruh budaya Austronesia yaitu gerabah, geiang kaca, manik-manik kaca, artefak pemnggu, Pengaruh iainnya yaitu tradlsi pembuatan gerabah, tradlsi tato, pembuatan minuman beralkohol, sistem kepemimpinan serta pemeiiharaan anjing, babi dan ayam.
MENJAJAKI KEBERADAAN Saccharum Spp DI PAPUA MELALUI PENDEKATAN ARKEOLOGI (Exploring the Existence of Saccharum spp In Papua through archaeological approach) Marlin Tolla
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3958.677 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.183

Abstract

This paper aims to propose a discussion about the existence of Saccharum spp in Papua which is based on archaeological and ethnographic study. The academic discipline such as literary studies, archaeology, ecology etc been so intensely involved in answering the question about the origins of Saccharum spp. Unpublished research together with some previously published results also etnography data is provide in this paper to explore the possibility and an explanation of cultural process especially the the influence of the Hobcene period in the introduction for the growth of plants, such as Saccharum spp. it is concluded that Papua has long played a key role in the development of plants including Saccharum spp. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendlskusikan mengenai keberadaan jenis Saccharum.spp di Papua yang didasarican pada data arkeologi dan juga data etnografi. Penelitian mengenai Saccharum spp telah lama menjadi bahan penelitian oleh beberapa disiplin ilmu seperti: arkeologi, lingkungan, bahasa dan lain sebagainya telah sangat aktif dalam menjawab berbagai macam pertanyaan terutama terkait dengan asai usul dari tanaman Saccharum spp. Adapun data yang diulas dalam tuiisan ini yakni berasal dari beberapa tulisan baik itu yang pemah dipublikasikan, tulisan yang tidak dipublikasikan dan juga tidak tertinggal data etnografl. Data-data ini dlmaksudkan untuk memberikan penjeiasan serta kemungkinan atas prosea budaya dari tumbuhan termasuk Saccharum spp baik yang ditemukan dalam situs-situs arkeologi maupun yang digunakan dalam suku-suku yang ada di Papua sekarang ini. Kesimpulan yang ditarik dalam tulisan ini adalah adanya kemungkinan yang menjelaskan tentang peranan Papua pada masa lalu sebagai tempat asal tumbuh kembangnya beberapa jenis tumbuhan termasuk Saccharum spp. 
SITUS BENTENG 03 PAPUA BARAT: FUNGSI NILAI PENTING DALAM KEARIFAN LOKAL (Fort Site in West Papua: Value, Function in Local Knowledge) Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3391.14 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.184

Abstract

Studies on the site of the fort in West Papua has never been done. This paper aims to be able to know forts in West Papua, the importance and function of the fortress. The method used in this research is the field surveys, interviews and a literature review. Archaeological research find Yenbekaki fort, Usaha Jaya fort, Wayom fort, Claudia sacred fort, and Babo fort. Construction of the fort was based on the defense function and has values of local wisdom is with wear resources adapted to the local environment and the local topography.AbstrakKajian tentang situs benteng di Papua Barat belum pernah dilakukan. Tulisan ini bertujuan dapat mengetahui benteng-benteng yang ada di Papua Barat, nilai penting dan fungsi benteng tersebut. Metode yang digunakan dalam peneiitian ini adalah survei lapangan, wawancara dan kajian pustaka. Peneiitian benteng yang dilakukan di Papua Barat menemukan benteng Yenbekaki, benteng Usaha Jaya, benteng Wayom, benteng keramat Claudia, dan benteng Babo. Pembangunan benteng didasarkan pada fungsi pertahanan serta memiliki nilai kearifan lokal yaitu dengan memanfaaatkan sumberdaya iingkungan setempat dan disesuaikan dengan topografi setempat.
KEHIDUPAN RELIGI MASYARAKAT Dl DAERAH PERBATASAN KABUPATEN KUNINGAN- KABUPATEN CILACAP (Religious Life of Communities in the Border of Kuningan Regency-Cilacap Regency) Effie Latifundia
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5040.613 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.185

Abstract

Until now, in some villages in the border area of Kuningan-Cilacap people still support the megalithic tradition. Ancestor worship or veneration of ancestral spirits Is a growing belief in the concept of megalithic culture, ie a culture that uses objects atu stone building as a means of rituals. This study aims to explore the remains of megalithic tradition which is still ongoing in the community to this day in some villages in the border area of Kuningan Regency, West Java to Cilacap, Central Java, and the media are to be used. This research was conducted by survey method to collect information and describe forms of cultural remains. The results showed although Islam has been embraced as a religion, but belief in ancestors as local religious understanding before Islam developed, ongoing, and maintained by several rural communities in the border. It can be concluded, that the less an area under the influence of the outside then resulting in stronger local element/dominant code of conduct rooted in the community, because it is already in progress in the long term. AbstrakSampai sekarang ini, beberapa desa di daerah perbatasan Kuningan-Cilacap masyarakatnya maslh mendukung tradisi megalitik. Pemujaan leluhur atau pemujaan terhadap roh nenek moyang merupakan suatu konsep kepercayaan yang berkembang pada kebudayaan megalitik, yaitu suatu kebudayaan yang menggunakan benda-benda atu bangunan dari batu sebagai sarana ritualnya. Penelitian ini bertujuan menggali sisa-sisa tradisi megalitik yang masih berlangsung dalam masyarakat hingga sekarang ini di beberapa desa di daerah perbatasan Kabupaten Kuningan (Jawa Barat) dengan kabupaten cilacap (Jawa Tengah) dan media apa saja yang digunakan. Penelitian Ini dilakukan dengan metode survel untuk mengumpulkan informasi dan mendeskripaikan bentuk-bentuk tinggalan budayanya. Hasil penelitian menunjukkan meskipun Islam telah dianut sebagai agama namun kepercayaan terhadap Ieluhur sebagai paham religi lokal sebelum Islam berkembang, masih tetap berlangsung dan dipertahankan oleh beberapa masyarakat pedesaan dl perbatasan. Dapat disimpulksn, bahwa semakin kurang suatu daerah mendapat pengaruh dari luar maka dapat mengakibatnya unsur lokal semakin kuat/dominan mengakar dalam tata laku dan kepercayaan masyarakatnya, karena hal tereebut sudah berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
MENGOPTIMALKAN SUMBER DAYA ARKEOLOGI SEBAGAI DAYA TARIK WISATA UNTUK KETAHANAN BUDAYA (Studi Kasus Sumber Daya Arkeologi di Provinsi Papua) [Optimizing Tourisme Attractions for Cultural Endurance: A Case Study of Archaeological Resources in Papua] Ni Komang Ayu Astiti
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7673.699 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.186

Abstract

Development of the tourism sector contributes a sizeable foreign exchange after oil and gas, coal, and oil palm. The government has also set a target of 20 million foreign tourists visit and 275 local tourist movement In 2019. Entering the era of globalization the movement of people from one country and region more quickly because the distance is getting closer, so it supports the growth of tourism . These conditions have a positive impact on the economy and science and technology, but social change is very vulnerable to the Impact on the weakening of the resilience of culture in society. For that how to increase the resilience of culture by minimizing the negative effects of tourism development in the era of globalization in Papua is very important. Trend rating is currently more concerned about the quality of experience and a tendency to look for something unique and authentic and can not be found in the region or country. To meet market demand trends and this can be done by presenting archaeological resources in Papua as a tourist attraction. Optimizing the archaeological resources in Papua as a tourist attraction that can be empowered to improve the resilience of culture in addition to providing economic benefits is the goal of this research. The study was conducted with the literature study and survey and using descriptive analysis techniques - qualitative. From the results of analysis show that Papua has the potential archaeological resources can still be presented authenticity and contextualization. Unlock the value of cultural and archaeological resources significance in the present context to make it as a tourist attraction in Papua embryonic formation of a positive image and local identity as multi cultur values, solidarity, unity and unity, mutual assistance and proud of their own culture. AbstrakPembangunan sektor pariwisata membarikan kontribusi devisa yang cukup besar setelah minyak dan gas, batubara, dan keispa sawit. Pemerintah juga teiah menetapkan targat kunjungan 20 juta wisman dan 275 pergerakan wisatawan nusantara di tahun 2019. Memasuki era globallsal pergsrakan manusia dari suatu Negara dan daerah semakin cepat karena jarak semakin dekat, sehingga sangat mandukung pertumbuhan pariwisata. Kondisi ini mempunyai dampak positif di bidang ekonomi dan IPTEK, tetapi perubahan sosial sangat rentan yang berdampak pada melemahnya ketahanan budaya di masyarakaL Untuk itu bagaimana meningkatkan ketahanan budaya dengan meminimalisasi pengaruh negatif pembangunan pariwisata pada era globalisasi di Papua sangat periling dilakukan.Trend wisatawan saat ini lebih memperhatikan kualitas pengalaman dan kecenderungan untuk mencari sesuatu yang unik dan otentik serta tidak ditamukan di daerah atau negaranya.Untuk memenuhi trend dan permintaan pasar ini dapat dilakukan dengan menyajikan sumber daya arkeologi di Papua sabagai daya tank wisata. Mangoptimalkan sumber daya arkeologi di Papua sebagai daya tarik wisata agar dapat diberdayakan untuk meningkatkan ketahanan budaya masyarakat seiain msmberikan manfaat ekonomi merupakan tujuan dari panelitian ini. Penelitian dilakukan dengan studi pustaka dan survei serta menggunakan teknik anallsls deskriptif-kualitatif. Dari hasil analisis diketahui bahwa Papua mempunyai potansi sumber daya arkeologi masih Mengoptimalkan sumber daya arkeologi sebagai daya tarik wisata untuk ketahanan budaya
ARKEOLOGI PULAU TERDEPAN: TINJAUAN POTENSI PURBAKALA DI PULAU SELARU MALUKU TENGGARA BARAT (Archaeology of Outermost Island: The Potential Overview in Selaru Island West Southeast Moluccas Indonesia) Marion Ririmasse
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7778.083 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.187

Abstract

Selaru Is one of the 92 outermost Islands In Indonesia. Geographically located in the TanlmbarArchipelago, Selaru is one of the southeastemmost island of Indonesia which is closely located to Australia. A condtion that present the strategic value in terms of politics and academics for this area. Unfortunately, despite the importance of this Island, very limited archaeological and cultural historical study has been conducted In Selaru. This paper is a prelimenary overview of archaeological potential in one of the country frontline. The reconaissance survey has been adopted as an approach in this research. The results shows that Selaru is a potential region to be developed in the framework of archaeology and cultural history of the region. Includes, the cultural study to develop the border area of Indonesia. AbstrakPulau Seiaru adalah salah satu dan 92 pulau terdepan di Indonesia. Terletak di Kepulauan Tanlmbar; Selaru menjadl salah satu pulau terselatan Nusantara yang paling dekat dengan daratan Australia. Hal mana memberi nilai strategis secara politis dan akademis bagi wilayah ini. Meski dengan nilai penting sedemikian, belum banyak perhatian dari studi arkeologi dan sejarah budaya bagi Pulau Selaru. Makalah ini merupakan tinjauan awal atas potensi arkeologi yang ada di salah satu wilayah teras negara ini. Pendekatan peneiitian dilakukan dengan menggunakan metode survei penjajakan. Hasil studi menemukan bahwa Selaru memiliki potensi dalam kerangka studi arkeologi dan sejarah budaya kawasan. Termasuk dalam kaitan dengan kajian budaya untuk pengembangan kawasan perbatasan.
KAJIAN INTEGRATIF SITUS PRASEJARAH Dl KAWASAN MANGKULIRANG, KUTAI TIMUR (Integrative Study of Prehistoric Site In Mangkulirang Region, East Kutai) nFN Nasruddin
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6084.294 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.188

Abstract

Studies on karst is a study that can be done hotisticaliy, because in the karst region them are various potentials such as; prehistoric archaeological remains which are quite old, there am groups of people who have local knowledge seekers swallow nest, traditional agricultural activities and the utilization of the site of the settlement (settlement area), as well as habits embodied in traditions and art. Through archaeological approach to spatial {spatial archeology), the archaeological research in East Kutai Karst, not only reveal the spatial and temporal aspects alone, but as a whole want to explain culturally and physically; synchronic and diachronic this region inhabited by humans. Mangkulirang karst area is so vast traffic would require a study to obtain an explanation; subsistence, technology and the ancient environment, as well as the adaptation of the system that have become extinct Cave sites and niches in the Mangkulirang a valuable contribution to the knowledge of the history and prehistory of cultural processes. Any kind of potential above require management in the context of synergy, participation and shared responsibility with the local authorities, cross-institutional and community organizations, as well as cross-sectoral and multi-disciplinary to minimize conflicts of the various interests in the karst region in the management and preservation of cultural heritage Indonesia. AbstrakKajian tentang karat adalah kajian yang dapat dilakukan secara holistik, karena di daiam kawasan karst tendapat berbagai potensi seperti; tinggalan arkeologis prasejarah yang cukup tua, terdapat keiompok-kelompok masyarakat yang memiliki kearifan lokal, para pencari sarang waist, aktivitas pertanian tradisional dan pemanfaatan menjadi lokasl pemukiman, serta kebiasaan-kebiasaan yang dlwujudkan daiam bentuk tnadisl dan kesenian. Melalui pendekatan arkeologi kemangan, maka penelitian arkeologi di Karst Kutai Timur, tidak hanya mengungkapkan aspek spasial dan temporal saja, tetapl secara utuh ingin menjelaskan secara kultural maupun fisikal; sinkronik maupun diakronik kawasan ini dihunl manusia. Kawasan karst Mangkulirang yang begitu luas tentunya memerlukan iintas kajian untuk memperoleh penjelasan; subsistensi, teknologi dan lingkungan purba, serta sistem adaptasi yang teiah punah. Situs gua dan cernk di kawasan Mangkulirang dapat memberlkan kontribusl berharga tarhadap pengetahuan sejarah dan proses budaya prasejarahnya. Sagaia jenis potensi di atas memerlukan pengeioiaan daiam rangka sinergitas, peran serta dan tanggung jawab bersama dengan pemerintah daerah, iintas kelembagaan dan organisasi masyarakat, maupun lintas sektoral dan multi disiplin untuk meminimalisir benturan atas berbagai kepentingan di kawasan karst dalam rangka pengelolaan dan pelestarian cagar budaya Indonesia.
MODA TRANSPORTASI TRADISIONAL JAWA (Traditional Transportation Equipment in Java) Lilyk Eka Suranny
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7107.814 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i2.189

Abstract

The transportation technologies develop more rapidly along with the development of science and technology. One of consequences is the traditional transportation being abandoned by the community. Therefore, it needs cultural preservation efforts, especially in traditional transportation because it is a high historical value for Indonesia. This article describe some kind of traditional transportation modes in Java. It also described the role of society in the era of globalization. Data was collected using observation, interviews and literature study This study used a qualitative descriptive method. Based on the research of traditional modes of transportation used by the Java community is pedicab, wagon, gerobag and onthel bicycle. Traditional modes of transportation have a role namely the role of social, cultural, economic and environmental. AbstrakPerkembarvgan teknologi transportasi semakin pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu dampaknya adalah moda transportasi traditional semakin ditinggalkan oteh masyarakat. Oleh karena itu diperlukan upaya pelestarian budaya khususnya pada alat transportasi tradisional karena memiliki nilai historis yang tinggi bagi bangsa Indonesia. Tuiisan ini menguraikan beberapa jenis moda transportasi tradisional di Jawa. Seisin itu juga dijelaskan mengenai peranannya dalam masyarakat di tengah era globalisasi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan basil penelitian moda transportasi tradisional yang digunakan oleh masyarakat Jawa yakni becak, delman, gerobag dan sepeda onthel. Moda transportasi tradisional memiliki peranan yaitu peran sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan.
Front Cover Vol. 8 Edisi No. 2 November 2016 Redaksi Jurnal Penelitian Arkeologi Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v8i2.190

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 More Issue