cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN" : 7 Documents clear
Keragaan Pertumbuhan dan Produktivitas Padi Gogo Varietas Unggul Baru (VUB) di Lahan Sawah Tadah Hujandi Kabupaten Semarang,Jawa Tengah Endah Winarni; Dewi Sahara
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.454

Abstract

Varietas unggul baru (VUB) merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas padi gogo. Tujuan pengkajian untuk mengetahui : 1) keragaan pertumbuhan tanaman, 2) tingkat serangan hama, dan 3) produktivitas (VUB) padi gogo di lahan sawah tadah hujan.  Kegiatan pengkajian dilaksanakan di Desa Pucung, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang, pada bulan Mei – Agustus 2016. Kegiatan dilaksanakan di lahan petani dengan metode OFCOR (On Farm Client Oriented Research) seluas 6,5 ha, terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu Inpago 5 (1,6 ha), Inpago 8 (1,25 ha), Inpago 9 (1,1 ha), Inpari 19 (1,3 ha) dan lokal/Umbul (1,25 ha). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa daya tumbuh benih VUB padi gogo  87,31–99,92%, pada umur 90 HST tanaman tertinggi pada varietas Inpago 8, sedangkan jumlah anakan tertinggi pada Inpari 19.  Jenis hama yang ditemui adalah penggerek batang dan hama putih palsu pada Inpari 19 dengan tingkat serangan masing-masing 32% dan 7,4 %.  Produktivitas gabah tertinggi diperoleh pada Inpago 8, yaitu 5,52 ton/ha GKG, sedangkan produktivitas varietas lainnya berkisar antara 4,63–5,31  ton/ha GKG.  Berdasarkan hasil tersebut maka untuk meningkatkan produktivitas padi gogo di lahan sawah tadah hujan dapat mengembangkan varietas Inpago 8.   Abstract New superior varieties (NSV) is one of the solutions to increase the productivity of upland rice.  This study aimed to know  : 1) the performance of plant growth, 2) the level of pest attack, and 3) the NSV productivity of upland rice in rain-fed rice fields.  The study was conducted in Pucung Village, Bancak Dubdistrict, Semarang Districk in May-August 2016.   The activity was carried out on the farmer's land using the OFCOR (On Farm Client Oriented Research) method in area of 6.5 ha, divided into  Inpago 5 (1.6 ha), Inpago 8 (1.25 ha), Inpago 9 (1.1 ha), Inpari 19 (1.3 ha) and local/Umbul (1.25 Ha).  The results showed that the vigor percentage of NSV seeds 87,31–99,92%, at the age of 90 DAP, the highest plant height was in the Inpago 8, while the highest number of tillers was Inpari 19.  The types of pests found were stem borer and fake white pests on Inpari 19 with attack rates of 32% and 7.4% respectively.  The highest productivity was obtained at Inpago 8 with 5,52 tons/ha of MPD, while the productivity of other varieties ranged from 4,63 – 5,31 tons/ha of MPD.  Based on these results, to improve the productivity of upland rice in rain-fed rice fields can develop Inpago 8 varieties.
Pengaruh Germinasi Kedelai terhadap Komposisi Proksimat dan Komponen Bioaktif IsoflavonTempe Segar dan Semangit Made Astawan
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.460

Abstract

Tempe is a traditional food from Indonesian made from soybeans fermented with Rhizopus spp. Based on the fermentation time, tempeh is divided into fresh tempeh and semangit tempe. Purpose of this study to determine the difference in chemical composition between fresh tempe flour from germination soybean (SG) and non-germination (SNG) and semangit tempe flour made from germination soybean (TG) and non-germination (TNG). Stage of the research include soybean germination process for 24 hours, making fresh tempe (48 hours fermentation), making semangit tempeh (120 hours fermentation), the process of making fresh tempe flour and semangit tempe flour. Analysis carried out on all tempeh flour includes yield, proximate, crude fiber, antioxidants and isoflavones. The process of germination of soybean as a raw material and the addition of fermentation time had no significant effect (p> 0,05) on the nutritional component, but had a significant effect (p <0,05) on the isoflavone levels and antioxidant activity of fresh tempe flour and semangit tempe flour produced. TNG has the highest levels of isidlavone daidzein and genistein, which are 432,8 and 707,8 μg / g, respectively. TNG has the highest antioxidant capacity (IC50 value of 2109 ppm) which is significantly better than SG and SNG, but not significantly different from TG.
Perbandingan Karakteristik Fisikokimia dan Komposisi Asam Amino Tepung Tempe Larut Air dengan Isolat Protein Kedelai Komersial Made Astawan; Ananda Putri Cahyani; Leonita Maulidyanti; Tuti Wresdiyati
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.462

Abstract

The aim of this research was to compared the physicochemical characteristics and amino acid composition of conventional water-soluble tempe flour (CWSTF), germinated soybean water-soluble tempe flour (GSWSTF) and commercial soy protein isolate (CPI). Water-soluble tempe flour was made from defatted flour and alkali extraction-isoelectric precipitation. The yield of CWSTF, GSWSTF, and CPI were not significantly different (p>0.05). Proximate analysis of CWSTF and GSWSTF showed significantly different from CPI except water content (p<0.05). The essential amino acids in CWSTF and GSWSTF are lysine, leucine, isoleucine, phenylalanine, valine, methionine, and threonine. Analysis of the physical characteristic CWSTF and GSWSTF showed significantly different (p<0.05) with CPI in colors, aw, and bulk density in a lower with CPI.   Ekstraksi alkali-presipitasi isoelektrik yang dilakukan pada tepung tempe konvensional dan tepung tempe kecambah kedelai menghasilkan tepung tempe larut air. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik fisikokimia dan komposisi asam amino tepung tempe konvensional larut air (TKLA), tepung tempe kecambah kedelai larut air (TKKLA), dan isolat protein kedelai komersial (IPK). Tepung tempe konvensional dan tempe kecambah kedelai dihilangkan lemaknya kemudian diekstrak menggunakan ekstraksi alkali-presipitasi isoelektrik. Hasil penelitian menunjukkan kadar proksimat terhadap kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat pada TKLA dan TKKLA nyata lebih rendah (p<0,05) dibanding IPK. Kadar asam amino esensial pada TKLA dan TKKLA berturut-turut sebesar 20,4 persen; 20,0 persen, lebih rendah dari IPK sebesar 29,6 persen. Analisis sifat fisik dan fungsional terhadap nilai L, derajat putih, dan daya serap minyak menunjukkan TKLA dan TKKLA nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan IPK. Proses ekstraksi pada TKLA dan TKKLA masih dapat dioptimalkan untuk memperoleh kadar proksimat utamanya protein yang lebih baik.
Analisis Efisiensi Rantai Pasok Bawang Merah Di Kabupaten Bantul ESTHI DWI APURWANTI; Endang Siti Rahayu; Heru Irianto
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.463

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum) sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Bantul yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kondisi rantai pasok bawang merah dan menyusun alternatif skenario sistem manajemen rantai pasok bawang merah di Kabupaten Bantul. Penelitian berlangsung pada bulan April – Juli 2019. Penelitian menggunakan analisis deskriptif, evaluasi dengan membandingkan aktivitas anggota rantai pasok dengan menggunakan analisis marjin pemasaran, farmer’s share serta analisis AHP. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah snowball sampling, sejumlah 50 petani dan 10 pedagang. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 3 saluran rantai pasok bawang merah di Kabupaten Bantul, saluran I (petani-pedagang besar lokal-pengecer lokal-konsumen), saluran II (petani-pedagang pengumpul-pedagang besar lokal-pengecer lokal-konsumen), saluran III (petani-pedagang pengumpul-pedagang besar non lokal-pengecer non lokal-konsumen). Berdasarkan analisis AHP, dalam membentuk manajemen rantai pasokan bawang merah yang efisien, kriteria meningkatkan kemitraan atau bekerjasama semua pihak menjadi prioritas yang paling berperan penting.
Analisis Teknik Budidaya Bawang Merah Pada Off Season di Kabupaten Sorong Fransiska Renita Basundari
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.467

Abstract

Pemilihan varietas yang tepat, penggunaan jarak tanam, dan pemberian pupuk serta faktor iklim sangat menentukan keberhasilan usahatani bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi jarak tanam dan dosis pupuk yang memberikan hasil terbaik dalam budidaya bawang merah di Desa Klaigit Sub Distrik Aimas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober tahun 2017, menggunakan varietas Bima Brebes dengan 2 kombinasi perlakuan (jarak tanam dan dosis pemupukan). Jarak tanam yang digunakan adalah 20x20 cm, 20x15 cm, dan 15x15 cm. Dosis pemupukan yang digunakan adalah pupuk rekomendasi (NPK 500 kg/ha), pupuk rekomendasi + pupuk kandang 10 ton/ha; pupuk rekomendasi + pupuk kandang 15 ton/ha; dan pupuk kandang (10 ton/ha). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mendapatkan hasil terbaik bawang merah dengan kondisi agroekosistem yang ada di Desa Klaigit, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, jarak tanam ideal digunakan adalah 15 x 15 cm dengan dosis pupuk disarankan hanya menggunakan pupuk kandang saja. Dapat juga dengan menggunakan kombinasi jarak tanam 20 cm x 20 cm dengan dosis pupuk NPK 500 kg/ha dan pupuk kandang 10 ton/ha atau hanya dengan menggunakan pupuk kandang saja.
Daya Saing dan Posisi Sektor Pangan IndonesiaMenghadapi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Dadan adi nugraha; Minar Ferichani; Joko Sutrisno
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.468

Abstract

This study aims to know the competitiveness of the Indonesian food sector in the market of RCEP partner countries, the competitiveness ofthe food sector of RCEP partner countries in the Indonesian market, and the position of the food sector is facing RCEP trade liberalization. The analysis method used in this study is the Constant Market Share Analysis (CMSA). This study uses secondary data from UN Comtrade and the ASEAN Secretariat. Indonesian food products that have positive competitiveness in the markets of RCEP partner countries are mostly processed products such as bread, biscuits, instant noodles, pasta, margarine, and vegetable oil.RCEP partner countries that have competitiveness in the Indonesian market consist of processed and fresh food products such as meat, rice, beans, and garlic. The position of the Indonesian food sector in utilizing RCEP’s trade cooperation is to propose the elimination of tariffs on Indonesian food products, and there are 23 products in China, five products in India, 16 products in Japan, and two products in Korea. The position of the Indonesian food sector in protecting the food sector from RCEP’s trade liberalization is to implement tariff policies for sensitive categories of products such as rice and sugar. Abstrak Kerja sama RCEP dipastikan akan membuka akses pasar yang luas di negara anggota RCEP. Di saat yang bersamaan Indonesia dihadapkan dengan tantangan dan ancaman apabila kerja sama RCEP diberlakukan. Tulisan ini bertujuan mengetahui daya saing produk pangan Indonesia di pasar negara mitra RCEP, mengetahui daya saing produk pangan negara mitra RCEP di pasar Indonesia, mengetahui posisi produk pangan yang dapat dimanfaatkan dan perlu dilindungi dalam rangka kerja sama perdagangan bebas RCEP. Daya saing produk pangan di analisis menggunakan Constant Market Share Analysis (CMSA). Posisi sektor pangan diketahui dengan melakukan analisis terhadap kebijakan tarif dan nilai daya saing produk pangan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari UNCOMTRADE dan Sekretariat ASEAN. Hasil analisis menunjukkan jumlah produk pangan Indonesia yang memiliki daya saing tetapi masih memiliki hambatan tarif berjumlah 23 produk di China, 5 produk di Korea, 16 produk di India, dan 2 produk di Jepang. Produk pangan Indonesia yang masih menerapkan hambatan tarif terhadap seluruh negara mitra RCEP dan perlu perlindungan tarif berjumlah 17 produk. Sedangkan produk pangan Indonesia yang sudah dihapuskan tarifnya di seluruh negara mitra RCEP berjumlah 260 produk. Produk pangan Indonesia yang memiliki hambatan tarif untuk salah satu atau lebih negara mitra RCEP berjumlah 257 produk.
Tantangan dan Peran BULOG di Era Industri 4.0 Bachtiar Utomo
JURNAL PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v29i1.479

Abstract

The management of government food stocks, especially rice, corn, and soybean commodities carried out by BULOG as a state-owned enterprise mandated by the Government to maintain food security is still experiencing problems, including the policy implementation of non-cash food aid programs, policies that are still sectoral and BULOG’s own internal operations management.In addition, BULOG’s food management is also facing the presence of Industry 4.0 challenges. With this background, this paper aims to: (i) identify problems in food management in Indonesia (ii) analyze the roles and efforts of BULOG as a food institution institution mandated by the Government in maintaining food security, and (iii) examines the efforts made by BULOG in maintaining national food security in the Industry 4.0 Era. Some food-management problems in Indonesia, namely policies on management, development, and technology of food commodities, are only focused on rice; post-harvest technology has not been implemented well; inadequate transportation infrastructure and facilities; price volatility and low efficiency of the marketing system for food products. The roles and efforts undertaken by BULOG include the integration of government rice stock management, which is considered quite useful. For this reason, the integration of government rice stock management is recommended to be continued and increased in capacity. BULOG has not been effective in managing national corn and soybean commodities. Therefore, it is recommended that the policies/assignments given to BULOG are integrated from upstream to downstream sustainably. Some regulations issued by the Government through several ministries still do not support each other. For this reason, it is suggested that a Government institution be established to handle the food sector, which is under and reports directly to the President by the mandate of the Food Law. The application of modern logistics and the development of digital technology needs to be done by BULOG to maintain national food security in the Industry 4.0 Era. Coordination and commitment must be carried out consistently from all stakeholders to develop a variety of creativity, initiatives, and innovation as well as be able to maintain the quality, quantity, and existence of BULOG in facing the agricultural Industry 4.0 Era. Abstrak Pengelolaan stok pangan pemerintah khususnya komoditas beras, jagung dan kedelai yang dilakuan oleh BULOG selaku BUMN yang diamanatkan pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan masih mengalami permasalahan, diantaranya penerapan kebijakan program bantuan pangan non tunai, kebijakan-kebijakan yang masih bersifat sektoral dan manajemen operasional BULOG sendiri. Selain itu, pengelolaan pangan yang dilakukan BULOG juga dihadapkan dengan tantangan hadirnya Revolusi Industri 4.0. Dengan latar belakang tersebut, tulisan ini bertujuan untuk : (i) mengidentifikasi permasalahan dalam pengelolaan pangan di Indonesia; (ii) menganalisis peran dan upaya yang telah dilakukan BULOG sebagai lembaga pangan yang diamanatkan Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan; serta (iii) menelaah upaya yang dilakukan BULOG dalam menjaga ketahanan pangan nasional di Era Industri 4.0. Beberapa permasalahan pengelolaan pangan di Indonesia yaitu kebijakan pengelolaan, pengembangan dan teknologi komoditas pangan hanya terfokus pada beras; teknologi pasca panen belum diterapkan dengan baik; prasarana dan sarana transportasi belum memadai; ketidakstabilan harga dan rendahnya efisiensi sistem pemasaran hasil-hasil pangan. Peran dan upaya yang dilakukan BULOG di antaranya adalah integrasi pengelolaan stok beras pemerintah yang dinilai cukup efektif. Untuk itu integrasi pengelolaan stok beras pemerintah disarankan untuk diteruskan dan ditingkatkan kapasitasnya. BULOG belum efektif melakukan pengelolaan komoditas jagung dan kedelai nasional. Oleh karena itu, disarankan agar kebijakan/penugasan yang diberikan kepada BULOG terintegrasi dari hulu ke hilir bersifat keberlanjutan. Beberapa regulasi yang diterbitkan Pemerintah melalui kementerian masih belum saling mendukung antara satu dengan lainnya. Untuk itu, disarankan agar dibentuk lembaga Pemerintah yang menangani bidang pangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden sesuai amanat UU Pangan. Penerapan logistik modern dan pengembangan teknologi digital perlu dilakukan BULOG untuk menjaga ketahanan pangan nasional di Era Industri 4.0. Perlu dilakukan koordinasi dan komitmen yang konsisten dari seluruh stakeholder untuk mengembangkan berbagai kreativitas, inisiatif, dan inovasi, serta mampu menjaga kualitas, kuantitas dan eksistensi BULOG dalam menghadapi era industri pertanian 4.0.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 3 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue