cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pengembangan Jagung untuk Ketahanan Pangan, Industri dan Ekonomi Corn Development for Food Security, Industry and Economy Tadjuddin Bantacut; Yasser Redin Firdaus; Muammar Tawaruddin Akbar
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i2.29

Abstract

Jagung adalah komoditi strategis karena produktivitasnya tinggi dan kegunaannya beragam mulai dari pakan, pangan, energi dan bahan baku industri. Permintaan jagung dalam negeri sangat tinggi yang sebagian masih dipenuhi dengan impor. Kenaikan permintaan akan terus terjadi sejalan dengan pertambahan penduduk dan perbaikan kesejahteraan. Kenaikan konsumsi protein hewani terutama daging ayam dan telur menambah kebutuhan bahan baku industri pakan. Produktivitas jagung yang masih sangat rendah menjadi kendala peningkatan produksi, karena keterbatasan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sarana produksi lainnya. Potensi lahan dan kesesuaian iklim untuk penanaman jagung menjadi faktor penguat perluasan dan peningkatan produksi jagung. Nilai kalori dan nutrisi yang jauh lebih baik dibandingkan beras hendaknya dijadikan pemicu pengembangan jagung sebagai pangan pokok. Oleh karena itu, orientasi pertambahan produksi jagung seharusnya tidak dibatasi pada swasembada untuk memenuhi permintaan saat ini terutama bahan baku pakan, tetapi lebih untuk penguatan ekonomi, industri dan kemandirian pangan.Corn is a strategic commodity because of its high productivity and its usage diversity ranging from feed, food, energy to industrial raw materials. Domestic corn demand, which is partly fulfilled by import, is very high. This demand will continue to grow in line with population growth and well-being improvement. The increase of animal protein consumption, especially chicken meat and eggs, adds the demand on feed industry raw material. One of the main constraints to increase production is the low productivity due to insecure provision of hybrid seed, fertilizer and other agricultural inputs. Potential land availability andclimatic suitability for corn cultivation are among reinforcing factors to the corn cultivation expansion and production improvement as staple food alternative. Therefore, the goal to improve production should not be limited to self-sufficiency to meet current demand mainly feed raw materials, but more than that to strengthen domestic economic, food sovereignty and industry.
Goncangan Iklim Mengancam Ketahanan Pangan Nasional Istiqlal Amien; Eleonora Runtunuwu; Erni Susanti; Elza Surmaini
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.30

Abstract

Kebutuhan pangan meningkat pesat dengan bertambahnya penduduk dan perbaikan ekonomi. Penduduk juga telah lebih banyak menempati perkotaan yang sebagian besar di hilir sehingga mengurangi ketersediaan air bagi pertanian. Sementara produksi pangan yang telah terkendala oleh alih fungsi lahan pertanian yang dipercepat kebijakan transportasi dan tajamnya kompetisi penggunaan air yang diperparah oleh keragaman dan perubahan iklim. Peran Jawa sebagai pemasok utama beras nasional sudah semakin melemah, sehingga perlu dicari pusat pertumbuhan pangan baru. Mengantisipasi tantangan ini perlu dikaji dan dikembangkan potensi pangan tradisional yang kurang dimanfaatkan maupun yang telah terlupakan. Riset perlu terus dipacu untuk meningkatkan manfaat sumberdaya maritim yang lebih luas dari daratan untuk produksi pangan dan pengembangan varietas baru yang lebih efisien menggunakan air dan karbon. Teknologi pangan dari hulu ke hilir perlu cepat didiseminasikan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang telah berkembang pesat untuk meningkatkan ketahanan pangan.Rapid rise of food requirement has been driven by not only increasing population but also improving welfare. More people now live in urban areas located mostly in the downstream areas that reduce the water supplies for agricultural production. Meanwhile, food production is already constrained by agricultural lands conversion, by inappropriate transportation policy and by tighter water competition that is exacerbated by climate anomaly and climate change. The decreasing role of Java as the national rice supplier requires the development of new food production centers in outer islands. To anticipate the challenge, traditional food crops which are either underutilized or neglected must be assessed and more developed. Researches on potential utilization of maritime resources, that are larger than the terrestrial ones for food production, can be developed to become more efficient by using water and carbon. Food technology, from the up-streams to downstreams, has to be rapidly disseminated by using more appropriately state-of-the-art information technology to enhance food security. 
Kecenderungan Permasalahan Pasokan Pangan Global dan Antisipasinya Bagi Indonesia Endang Gumbira Said
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.31

Abstract

Krisis pangan global merupakan salah satu masalah terpenting masyarakat dunia yang perlu diantsipasi dan dicari solusinya yang lebih baik, mengingat krisis tersebut dapat menyebabkan kelaparan, kemiskinan dan kerentanan sosial yang semakin kompleks, atau bahkan perang memperebutkan sumberdaya bahan pangan. Kecenderungan gagal panen akibat anomali cuaca mengisyaratkan agar pemerintah dan masyarakat harus cerdas mencermati kejadian, sumberdaya dan potensi pangan lokal, agar mampu memanfaatkannya secara optimal. Mengingat beras adalah komoditas penting yang rawan politis, maka selain diperlukan usaha peningkatan produksi dan produktifitasnya, juga diperlukan gerakan nasional pengurangan konsumsi beras yang lebih memaksa, bukan hanya sebatas himbauan seperti dahulu. Oleh karena itu diperlukan penggalakkan nasional penganekaragaman menu pangan non beras, dan penganekaragaman varitas tanaman, ikan atau ternak yang lebih bermanfaat bagi ketahanan pangan masyarakat Indonesia. Gerakan tersebut bukan hanya melibatkan peranan pemerintah, tetapi juga harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat, agar konsep penngembangan produksi pangan dan konsumsi yang berkelanjutan dapat dilaksanakan. Agar kinerja gerakan tersebut efektif, efisien dan terpadu, diperlukan pemantauan produksi dan konsumsi pangan global dan dalam negeri sehingga dampak krisis pangan global akan dapat diantisipasi dengan baik. Kebijakan pemerintah yang seyogianya diperbaiki adalah memperkuat pengembangan produksi pangan domestik, mengembangkan industri pengolahan dan industri pengawetan yang mengubah komoditas-komoditas unggulan daerah menjadi ragam pangan yang citarasanya enak, tahan simpan dan terjangkau harganya, serta industri distribusi (rantai pasok) yang efektif dan efisien.Global food crisis which is the most important problem faced by humankind needs proper and urgent solution, since the crisis might lead to the problems of hunger, poverty and complex social tensions, or even war in securing food supplies. The sharp spike in hunger has hit the lowest income people in developing countries, including Indonesia. The failure of harvest due to the weather anomaly gives an indication that government and community have to cleverly observe the evidence, and find the local food resources and potency to be optimally utilized. Considering that rice is very important political commodity, its production and productivity have to be increased, along with the national movement for the community to reduce the consumption of rice. Therefore, a national program of non-rice food diversification is urgently needed, coupled with the diversification of cultivated varieties of plant, animal or fish to increase food security in Indonesia. The above movement should not only involve government institutions, but embraces all layers of the society, so that the concept of sustainable food production and consumption can be accomplished. To ensure the effectiveness, efficiency and integration of the movement, a good monitoring of global and domestic food production and consumption should be done, so that the impact of global food crises can be anticipated well. However, the Indonesian government should also improve its policy on the strengthening of domestic food security, by developing food processing and preservation industries which convert prime local commodities to various food meals with excellent taste, long shelf live, inexpensive, as well as improving food supply chains in the domestic market. 
Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan (Protocol for Recovery and Prevention of Food and Nutrition Crises on Vurnerable Group) Dodik Briawan; Purwiyatno Hariyadi; Eko Hari Purnomo Hari Purnomo; Fahim M. Taqi
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i2.32

Abstract

Krisis pangan dan gizi merupakan permasalahan yang berdampak terhadap pembangunan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan protokol pencegahan dan penanggulangan krisis pangan dan gizi. Data yang digunakan terdiri dari data sekunder dan primer. Protokol krisis pangan dan gizi dikembangkan dengan melibatkan ahli dan narasumber dari pemerintah daerah di Sukabumi, Situbondo dan Bogor. Kondisi krisis pangan dan gizi dapat ditetapkan dengan sistem survailan menggunakan indikator yang valid, sensitif, dan mudah dikumpulkan. Model yang sudah ada yaitu “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi” dapat digunakan dengan beberapa modifikasi tertutama pada komponen indikator. Protokol pencegahan dan penanggulangan dikembangkan untuk kelompok rumah tangga rawan di masyarakat. Kelompok ini dapat ditetapkan berdasarkan 14 indikator nonmoneter yang dikembangkan oleh BPS, dengan prioritas yang mempunyai anak di bawah usia lima tahun dan atau ibu hamil. Upaya penyelamatan terutama dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pada kelompok rawan ini. Penanggulangan diarahkan melalui bantuan ekonomi kepada rumah tangga sasaran. Pemerintah daerahperlu membentuk tim manajemen krisis pangan dan gizi yang disertai peran dan tanggungjawab yang jelas. Disarankan, pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam menetapkan kondisi krisis, yang disertai anggaran pelaksanaan protokol tersebut. Selain itu, dalam jangka panjang program seperti SKPG, Posyandu dan UPGK perlu diperbaiki dan ditingkatkan.Food and nutrition crises affect Indonesian development. This study aims to develop general protocol for prevention and recovery of food and nutrition crises. The data comprises of secondary and primary data. The crisis protocol is developed by involving experts and resource persons from Sukabumi, Situbondo and Bogor local governments. The crisis condition could be determined using mechanism of surveillances, valid, sensitive, and easy to generate indicators. The existing “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi” model could be applied with some modification on its components. The recovery and prevention protocolshould specifically be developed for vulnerable groups which can be determined using 14 non-monetary indicators developed by CBS, with special priority given to households with children under 5 years and/or pregnant mothers. The recovery is focused on feeding program for those groups. Prevention program is designed for the development of economic activities for the targeted households. The local government need to establish a crisis management team with well defined roles and responsibilities. It is proposed that Head of Local Governments should have authority to determine, declare crisis condition, and allocate budget to execute the protocol. In the long run, existing food and nutrition programs; especially SKPG, Posyandu and UPGKshall be up-graded and improved.
Produktivitas dan Proses Penggilingan Padi Terkait Dengan Pengendalian Faktor Mutu Berasnya Slamet Budijanto; Azis Boing Sitanggang
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.33

Abstract

Beras merupakan sumber karbohidrat utama bagi masyarakat Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, ternyata Indonesia masih memiliki nilai impor beras yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya yang ada dikawasan ASEAN. Kecenderungan ini mungkin dapat dilatarbelakangi oleh proses panen yang gagal (on-farm) maupun pada proses penggilingan (off-farm). Dua komponen kualitas beras hasil giling yang harus dijaga untuk dapat mempertahankan daya saing beras di pasar adalah persentase beras kepala dan derajat sosoh. Secara umum, kedua parameter diatas merupakan fungsi dari varietas gabah yang digiling, serta metode penggilingan yang terkait dengan jenis dan waktu proses penyosohan.Rice is the staple food and the main source of calorie in Indonesia. In the last few decades, Indonesia has been importing rice from ASEAN countries such as Thailand and Vietnam with significant value. This phenomenon could be caused by on-farm constraints such as crop failures or agricultural pests and even off-farm constraints, like milling process. Two important quality parameters, namely the percentage of head rice and the milling degree, have to be maintained during milling to keep the competitiveness of rice produced in the market. Generally, the values of those two parameters could be the function of paddy variety and the milling techniques which are related to the type of whitening and polishing machines used and the residence time in the machine. 
Pemanfaatan Komoditas Lokal Sebagai Bahan Baku Pangan Darurat Riyanti Ekafitri; R. H. Firi Faradilla
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.34

Abstract

Indonesia yang terletak dalam Lingkaran Api Pasifik (Ring of Fire) dan memiliki puluhan patahan aktif membuat negeri ini rawan terkena bencana seperti gempa tektonik maupun vulkanik. Ketika bencana terjadi bahan makanan menjadi langka. Padahal pada kondisi tersebut tubuh membutuhkan banyak energi. Penyediaan pangan darurat yang mudah dikonsumsi dan mengandung kalori yang tinggi menjadi penting untuk dilakukan. Untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan ketahanan pangan bangsa, pengembangan pangan darurat berbasis produk lokal telah banyak dieksplorasi. Beberapa komoditas lokal yang berpotensi sebagai bahan baku pangan darurat adalah pisang, ubi jalar, dan singkong sebagai sumber karbohidrat serta kedelai dan kacang hijau sebagai sumber protein. Hingga saat ini terdapat berbagai macam bentuk pangan darurat di dunia. Di Indonesia sendiri produk pangan darurat yang telah dikembangkan berbentuk olahan pangan semi basah (IMF), cookies, food bars, dan lain-lain.Indonesia located in the Pacific “Ring of Fire” has tens of active plates. All of these make Indonesia face risks in natural disasters such as volcanic and tectonic earthquakes. When a disaster happens, food availability becomes a problem. This is not a good situation because in time of disaster our body needs much energy to recovery. Provision of emergency food that is easy to consume and high in calories becomes important to do. To suppress the emergency food production cost and to increase food security, development of emergency food based on local commodity has been explored by many studies. There are several local commodities that have potency to be raw material of food emergency, such as banana, sweet potato and cassava as carbohydrate sources and soy bean and mung bean as protein sources. Types of emergency food that are already explored in Indonesia are intermediate moisture food (IMF), cookies, food bars, etc. 
Bakar Nabati Terhadap Kondisi Bahan Baku Industri Gula di Propinsi Lampung Hanung Ismono; Bustanul Arifin; Fitriani Fitriani
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.35

Abstract

Krisis energi pada tahun 2007 menyebabkan setiap negara memberikan perhatian penting dalam pengembangan bioenergi, termasuk Indonesia. Sayangnya sebagian besar sumber bioenergi berasal dari bahan pangan, termasuk bioetanol dari tebu. Makalah ini bertujuan menganalisis pengaruh promosi pengembangan bioetanol terhadap pendapatan petani tebu, dengan fokus pada tanggapan/respon petani tebu terhadap pengembangan bioetanol pada pola kemitraan petani tebu dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Perkebunan Nusantara VII Bunga Mayang di Kabupaten Lampung Utara dan dengan perusahaan swasta besar PT. Gunung Madu Plantations di Kabupaten Lampung Tengah. Statistik deskriptif digunakan dalam menjelaskan respon petani tebu terhadap pengembangan bioetanol. Selanjutnya pengaruh pengembangan bioetanol terhadap pendapatan petani tebu dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa respon petani tebu terhadap issue pengembangan bioetanol dari tebu berbeda antarpola kemitraan. Respon pengembangan bioetanol berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani tebu yang berasal dari bagian gula petani secara signifikan. Tanda negatif koefisien variabel respon pengembangan bioetanol menunjukkan indikasi adanya pengalihan sumber bahan baku tebu petani untuk industri gula menjadi bahan baku industri bioetanol.Energy crisis in 2007 makes countries in the world, including Indonesia, give extra attention to the development of bio-energy. Unfortunately many of the bio-energy resourcescome from food, including bio-ethanol from sugarcane. This paper tries to analyze the effect of bio-ethanol development on the income of sugarcane farmers, focusing on the responses of the farmers on bio-ethanol development to the partnership between the sugarcane farmers and a State-Owned Enterprise (SOE) of PT. Perkebunan Nusantara VII Bunga Mayang in North Lampung and a big private enterprise of PT. Gunung Madu Plantations in Central Lampung. The descriptive statistics is applied to describe the response of farmers toward bio-ethanol development. Moreover the effect of bio-ethanol development on the income of sugarcane farmers is analyzed using a regression equation. The results show that response of farmers on bio-ethanol development creates different perspectives between the two partnerships. Bio-ethanol development significantly affects the income of sugarcane farmers from the sugar. Meanwhile the negative coefficient sign indicates that bio-ethanol development causes the reallocation of sugarcane products from sugar industry to bio-ethanol industry. 
Kebijakan Pemupukan Berimbang untuk Meningkatkan Ketersediaan Pangan Nasional Balanced Fertilization Policy to Improve Availability of National Food A. Husni Rosadi
JURNAL PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i1.36

Abstract

Pupuk anorganik, pupuk organik dan pupuk hayati telah digunakan secara luas oleh masyarakat. Penggunaan pupuk-pupuk tersebut umumnya dilakukan petani secara terpisah. Padahal, ketiga jenis pupuk tersebut dapat saling melengkapi satu dengan lainnya. BPPT telah mengembangkan pupuk, yang merupakan perpaduan antara pupuk anorganik, pupuk organik dan pupuk hayati menjadi satu kesatuan dalam bentuk granul. Pupuk tersebut dinamakan pupuk majemuk SRF plus. Pupuk majemuk SRF plus mampu menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman (sebagai fungsi pupuk anorganik) sekaligus memperbaiki struktur dan kesuburan tanah (sebagai fungsi pupuk organik dan pupuk hayati).Makalah ini memaparkan tentang produktivitas penggunaan pupuk SRF plus dan dukungan kebijakannya. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah analisis produktivitas dan analisis kebijakan, dengan menggunakan data hasil percobaan serta data hasil peninjauan lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan pupuk SRF plus mampu meningkatkan produktivitas pertanian lebih tinggi (di atas 50 persen) dibandingkan pupuk konvensional, dengan output (hasil panen) yang lebih tinggi dan input (jumlahpupuk, jumlah benih dan biaya pemupukan) yang lebih rendah. Pupuk ini memiliki potensi besar untuk mempercepat peningkatan ketersediaan pangan nasional. Untuk membuat pupuk SRF plus ini dapat diproduksi secara lebih luas, maka perlu dukungan kebijakan. Kebijakan yang diusulkan adalah kebijakan produksi dan kebijakan penyediaan bahan baku.Inorganic fertilizers, organic fertilizers and bio-fertilizers have been used extensively by thecommunity. The use of these fertilizers is generally done separately by farmers. In fact, these fertilizers can complement each other. BPPT has developed a fertilizer that is a blend of inorganic fertilizers, organic fertilizers and bio-fertilizers into a granule form. This fertilizer is called a balanced fertilizer or SRF compound plus fertilizer. SRF compound plus fertilizer is able to provide plants with the necessary nutrients (as a function of inorganic fertilizer) while improving soil structure and fertility (as a function of organic fertilizers and bio-fertilizers). This paper describes the productivity of SRF plus fertilizers on andthe policies support. The method is the productivity analysis and policy analysis, using experimental data and data from field observation. The results show that the use of SRF plus fertilizers is able to increase agricultural productivity (above 50 percent higher) compared to conventional fertilizers, with higher output (yield) and lower inputs (fertilizer amount, the amount of seed and fertilizer costs). This fertilizer has great potential to accelerate the improvement of the national food supply. To make SRF plus fertilizer be produced more broadly, it necessary needs support policies. The proposed policies are policy of production and policy of raw materials supply.
Model Distribusi Hasil Pertanian Yang Berdampak Pada Perbaikan Kualitas Lingkungan Emmy Darmawati
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.37

Abstract

Sampah pasar tidak saja berasal dari mata rantai distribusi tetapi juga dari jumlah pasokan yang berlebih. Perbaikan pada sistem distribusi hasil pertanian khususnya hortikultura menjadi satu solusi yang efektif dan efisien terhadap penanggulangan sampah kota. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengkaji sistem distribusi komoditas hortikultura dan membuat model sistem distribusi yang mampu mengurangi pasokan sampah ke pusat-pusat distribusi yang umumnya berlokasi di kota. Hasil pengamatan di lapang menunjukkan bahwa sistem distribusi komoditas hortikultura pada umumnya masih menghasilkan sampah cukup besar. Tujuh puluh delapan persen komoditas sayuran di Jabotabek didistribusikan dengan cara tersebut dan sampah yang dihasilkan mencapai 60 persen dari volume pasokan. Berdasarkan tingkat kegiatan pascapanen yang dilakukan, sistem distribusi dimodelkan dalam bentuk perwilayahan (zona) dimana dalam setiap zona diberlakukan aturan kegiatan pasca panen. Ada dua zona yang dibuat yaitu zona podusen dan zona konsumen (pasar kota, pasar induk, dan terminal agribisnis). Dengan model tersebut diharapkan sampah pasar berkurang sampai 40 persen untuk sayuran daun dan 20 persen untuk sayuran umbi. Untuk mendukung penerapan model distribusi yang diusulkan, pada penelitian ini dibangun prototipe sistem berbasis web yang secara real time menginformasikan permintaan dan penawaran atas suatu komoditas sehingga diharapkan dapat memperkecil peluang dalam menghasilkan sampah pasar.Market waste comes not only from the distribution chain but also from the amount of excess supply. Therefore improvements in the distribution system of horticultural product may be one solution that can effectively reduce city waste. This research is conducted to study the supply-chain system of horticultural commodities that is capable of reducing the supply of waste to the distribution centers which are generally located in the city. The results of observation show that horticultural commodity distribution system still generates considerable amount of waste in the market. 78 percent of vegetable in Jabotabek are distributed in such manner in which the waste reaches 60 percent of the volume. Based on the level of post-harvest activities, the distribution system is modeled in the form of zoning system where in every zone the rules of post-harvest activities are applied. There are two zones, namely the zone of producers (farmers, collectors) and the zone of consumers (market town, the main markets, and agribusiness terminal). With this model it is expected that waste market will decrease up to 40 percent for leafy vegetables and 20 percent for tuber vegetables. By utilizing the information system it is expected that the supply matches with the demand, so that it will reduce the chance of producing waste. 
Analisis Optimasi Rantai Pasok Beras dan Penggunaan Gudang Di Perum BULOG Divre DKI Jakarta Cory Trisilawaty; Marimin Marimin; Noer Azam Achsani
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.38

Abstract

Strategi ideal dalam manajemen rantai pasok adalah menekankan adanya efisiensi dan mengelola kemampuan dalam ketepatan merespon permintaan konsumen yangdiwujudkan dengan aplikasi kebijakan perusahaan dalam mengoptimalkan enam faktor pendorong kinerja rantai pasokan yaitu fasilitas, persediaan, transportasi, informasi, sumber daya dan harga secara menyeluruh. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan struktur rantai pasok beras dan penggunaan gudang yang optimal di Perum BULOG Divre DKI Jakarta dengan (i) menganalisis optimasi struktur rantai pasok beras dan penggunaan gudang yang optimal menggunakan model goal programming dan (ii) menganalisis biaya transportasi distribusi beras Raskin dengan membandingkan biaya yang menggunakan tarif transportasi tetap dengan tarif transportasi yang berbeda untuk setiap wilayah titik distribusi. Dalam kondisi optimal maka pasokan beras dari wilayah Jawa Barat seluruhnya dilakukan melalui pengadaan regional untuk wilayah Jakarta dan Serang sedangkan pasokan beras dari wilayah Sulawesi Selatan dilakukan melalui pengadaan regional ke Jakarta dan Lebak, movenas langsung untuk Tangerang, Serang dan Lebak serta dengan transit di gudang Jakarta untuk Serang dan Lebak. Penggunaan gudang yang dapat disewakan untuk keperluan tugas komersial hanya terdapat di Jakarta dan di Cikande Tangerang Biaya transportasi distribusi Raskin yang dihitung dengan tarif berbeda untuk setiap wilayah lebih kecil jika dibandingkan biaya transportasi distribusi Raskin yang dihitung dengan tarif tetap untuk setiap wilayah.Ideal strategy in supply chain management is to emphasize the efficiency and to manage capability for responding consumer demand appropriately which is realized with application of company policy by simultaneously optimizing six supply chain performance drivers: facilities, inventory, transportation, information, resources and price. The purpose of this study is to formulate the optimal rice supply chain structure and use of the warehouse in Perum BULOG Divre DKI Jakarta by (i) analyzing the optimization of the rice supply chain structure and the use of warehouse using goal programming approach and (ii) analyzing transportation cost of rice distribution by comparing the cost of transport with fixed rates and with different rates for each area of distribution points. In optimal conditions, the supply of rice from West Java province is entirely done by regional procurement to Jakarta and Serang region while the supply of rice from South Sulawesi province is done by regional procurement to Jakarta and Lebak region, movenas directly to Tangerang, Lebak and Serang region and movenas by transit in Jakarta warehouses to Serang and Lebak region. The use of warehouses that can be rented for commercial assignment is in Jakarta region and Cikande Tangerang region. Transportation costs of rice distribution calculated by different rates for each region is smaller than transportation costs of rice distribution calculated by fixed rates for each region. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue