Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor Risiko Dispepsia pada Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Susanti, Andri; Briawan, Dodik; Uripi, Vera
Jurnal Kedokteran Indonesia Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Jurnal Kedokteran Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.324 KB)

Abstract

Background: Dyspepsia syndrome frequently occurs among adolescents. This study aimed, to analyzerisk factors of dyspepsia among university students.Methods: The study design was a case-control study, where two groups of samples were selectedpurposively in the first grade student living in IPB’s dormitory. The case group was the students withgastric disorder (gastritis or peptic ulcer history) in the last six months, meanwhile the control groupwas having similar characteristics except they suffered gastric disorder. The total of 120 universitystudents were taken pairly as samples, consisting of 60 students for the each group (24 male and 36female). Data were collected include gastric disorder history, dyspepsia symptom, characteristic ofsamples, nutritional status, eating habit, smoking, alcohol consumption, physical activity, drugsconsumption (especially antacid), stress, blood type, and family disease history of gastritis or pepticulcer.Results: The frequency of dyspepsia in the case group was higher than the control group (p<0.05).Gastric disorder history significabtly related to frequency of dyspepsia (p<0.05). The body mass index(BMI) scores of samples had no difference in both sample groups (p<0.05). Having meal regularly,meal frequency, carbonated drink consumption habit, and fat intake related significantly with frequencyof dyspepsia (p<0.05). Physical activity, taking antacid, and stress level related significantly withfrequency of dyspepsia (p<0.05). Family disease history and blood type had no relation with frequencyof dyspepsia. The multiple logistic regression analysis showed that the significant risk factors of dyspepsiaare meal frequency more than twice per day (OR=0.08; CI 95%: 0.02 hingga 0.45), habitually consumecarbonated drink (OR=8.95; CI 95%: 1.27 hingga 63.23), and higher stress level (OR=1.22; CI 95%: 1.06hingga 1.37).Conclusion: Eating frequency more than twice per day can reduce risk of dyspepsia, meanwhileconsuming carbonated drink more than three bottles per week, and having higher stress level preciselyincrease the risk of dyspepsia.Keywords: risk factors, dyspepsia, university students.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN KUALITAS KONSUMSI PANGAN PADA RUMAH TANGGA MISKIN DI INDONESIA Baliwati, Yayuk Farida; Briawan, Dodik; Melani, Vitria
GIZI INDONESIA Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v38i1.168

Abstract

Rumah tangga miskin merupakan kelompok yang berisiko mengalami rawan pangan karena keterbatasan akses secara ekonomi maupun secara fisik. Keragaman konsumsi pangan rumah tangga diduga mampu dijadikan sebagai indikator rawan pangan. Salah satu metode sederhana untuk menilai keragaman konsumsi pangan rumah tangga adalah Household Dietary Diversity Score (HDDS). HDDS mencerminkan kemampuan ekonomi rumah tangga dalam memperoleh berbagai jenis pangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas konsumsi pangan rumah tangga miskin menggunakan skor HDDS dan validasi HDDS sebagai metode alternatif dalam mendeteksi kejadian rawan pangan pada rumah tangga miskin. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bogor pada bulan Mei-Oktober 2013. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik rumah tangga dan konsumsi pangan di dalam rumah yang dikumpulkan menggunakan metode recall 1 x 24 jam. Wawancara dilakukan terhadap ibu yang memiliki peran penting dalam menentukan konsumsi pangan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan skor HDDS yang tinggi di seluruh lokasi penelitian (skor 6-12), yang berarti konsumsi pangan rumah tangga cukup beragam, namun secara kuantitas asupan energi dan proteinnya masih rendah. Terdapat 61,3 persen rumah tangga tergolong kelompok defisit energi tingkat berat ( 70% Tingkat Kecukupan Energi). Uji sensitivitas (Se) menunjukkan HDDS sensitif 26,95 persen untuk mendeteksi kejadian rawan pangan pada rumah tangga miskin. Hasil uji spesifisitas (Sp) menunjukkan HDDS spesifik 85,16 persen untuk mendeteksi tahan pangan pada rumah tangga miskin. Setelah dilakukan modifikasi dengan mengategorikan kelompok pangan berdasarkan fungsi gizi, nilai Se meningkat menjadi 91,04 persen dan nilai Sp menurun menjadi 35,61 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa HDDS modifikasi memiliki sensitivitas yang baik untuk mendeteksi kejadian rawan pangan pada rumah tangga miskin.ABSTRACT  THE DEVELOPMENT OF DIETARY QUALITY ASSESSMENT INSTRUMENT  IN POOR HOUSEHOLDS IN INDONESIA  Poor households were a risk group of food insecurity due to limited of economic and physic access. Household dietary diversity was predicted can be used as an indicator of food insecurity. Household Dietary Diversity Score (HDDS) is the method used to assess the dietary diversity. The purpose of this study was to determine dietary quality of poor households using HDDS scores and to test HDDS as an alternative method to identify food insecurity in poor households in Indonesia. Data collected from May until October 2013 included household characteristics and household dietary intake  at home using 1 x 24-hour recall. The results showed a high HDDS scores (scores 6-12) across the study sites, which means, household food consumption is quite diverse. In terms of quantity, energy and protein intakes of household members remained low despite HDDS scores indicated that consumption had been diverse. There were 61.3 per cent households which classified as severe level of energy deficit group (70%). The test of the sensitivity (Se) and specificity (Sp) showed that HDDS only 26,95per cent sensitive to identify food insecurity in poor households and 85,16% specific to identify food security in poor households. After modifications by grouping of food based on nutritional function, the Se values increased to 91.04per cent and Sp values decreased to 35.61per cent. These results indicated that the modified HDDS were able to identify food insecurity in poor households. Keywords: HDDS, dietary diversity, food insecurity, sensitivity, specificity
KONSUMSI MINUMAN DAN PREFERENSINYA PADA REMAJA DI JAKARTA DAN BANDUNG Briawan, Dodik; ., Hardinsyah; ., Marhamah; ., Zulaikhah; Aries, M.
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v34i1.100

Abstract

Studi ini adalah cross-sectionalyangdilakukan di Jakarta (pantai) dan di Bandung (pegunungan) dengan suhu  rata-rata  harian  masing  masing  adalah  28 C  dan  22 C.  Sampel  dipilih  secara  acak  dari  sekolah berturut-turut  sebanyak  masing  masing  110  orang  dan 99  orang.  Data  dikumpulkan  melalui  pengisian kuesioner, dan recallselama satu minggu untuk konsumsi aneka jenis minuman. Sebagian besar (73,2%) remaja di Bandung lebih menyukai air minum tanpa kemasan. Namun kebiasaan tersebut berbeda untuk di Jakarta, yaitu proporsi remaja yang mengkonsumsiair minum tanpa kemasan relatif sama dengan air kemasan (52,3% dan 47,7%). Rata-rata konsumsi air minum tanpa kemasan per hari secara signifikan lebihrendah  di  Jakarta  (934  mL)  daripada  di  Bandung  (1038  mL)  (p0,05),  sedangkan  air  minum  kemasan secara  signifikan  berbeda,  yaitu  berturut-turut  1138  mL  dan  452  mL  (p0,05).  Remaja  di  pantai mengonsumsi air minum 500-600 ml lebih banyak dibandingkan di pegunungan. Lebih dari 16 kelompok minuman lainnya yang terdiri dari berbagai jenis minuman yang dikonsumsi oleh remaja, sehingga total asupan minuman per hari secara signifikan lebih besar di Jakarta (2787 mL) daripada di Bandung (2196 mL)  (p0,05).  Meskipun  asupan  air  minum  (plain  water)  remaja  di  pegunungan  hanya  sekitar  1500  mL, namun rata-rata total asupan cairan di kedua daerahsudah lebih tinggi jika dibandingkan dengan anjuran minum air (PUGS) sebanyak 2 liter.Kata kunci: konsumsi minuman, preferensi minuman, asupan cairan, remaja
The Comparison Effect of Small-quantity Lipid-based Nutrient Supplements and Biscuit on Hemoglobin level of infants in Indonesia Muslihah, Nurul; Khomsan, Ali; Riyadi, Hadi; Briawan, Dodik
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.155 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.4

Abstract

Abstrak Suplemen gizi berbasis lipid dosis kecil (SQ-LNS) yang diperkaya lemak dan kandungan vitamin dan mineral dapat memenuhi kekurangan asupan dan kebutuhan zat besi dan hal ini dapat berpotensi untuk mengurangi prevalensi anemia pada anak-anak. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dampak pemberian SQ-LNS dan biskuit terhadap kadar hemoglobin dan mengurangi kejadian anemia. Rancangan penelitian ini non-randomized controlled trial selama enam bulan pada 168 bayi yang menerima 20 g S-LNS atau 3 keping biskuit atau tanpa intervention setiap hari.  Kadar hemoglobin diukur pada awal penelitian, 3 dan 6 bulan setelah intervensi dengan hemocue autoanalyzer. Untuk membandingkan kadar hemoglobin menggunakan uji Linear Model ANCOVA dan uji regresi logistic untuk perbedaan insiden anemia.  Pada kelompok SQ-LNS setelah 3 bulan intervensi, kadar hemoglobin meningkat secara signifikan sampai 0.73 g/dl (p<0.05), prevalence anemia menurun sampai 19.5% dan signifikan menurunkan insiden anemia sampai 100% (p<0.05).  Setelah 6 bulan intervensi, kadar hemoglobin meningkat secara signifikan sampai 0.15 g/dl, prevalensi anemia menurun sampai 5.6% dengan menurunkan insiden anemia sampai 79%.  Pada kelompok Biscuit, setelah 3 bulan dan 6 bulan intervensi, kadar hemoglobin menurun sampai 0.17 g/dl dan 0.36 g/dl dengan prevalensi anemia meningkat dari  24.2% dan 17.8%  dan juga menurunkan kejadian anemia sampai 63% dan 27%. Pemberian SQ-LNS lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dan mengurangi insiden anemia pada bayi usia 6-12 bulan setelah 3 bulan intervensi dibandingkan Biskuit.Kata kunci: SQ-LNS; Biskuit; Hemoglobin; Anemia AbstractSmall-quantity lipid-based nutrient supplements (SQ-LNS) with enriching fat and vitamin and mineral can fill the gap of iron intake and requirement as well as the potential for reducing the prevalence of anemia among childhood.  The purpose of the study was to assess the impact of SQ-LNS and biscuit on hemoglobin concentrations and reducing of incidence anemia.  A 6-month non-randomized controlled trial was performed among 168 infants who received 20 g of LNS or 3 pieces biscuits or no intervention.  Hemoglobin was measured at 0, 3, 6 months of intervention using hemocue autoanalyzer. To compare hemoglobin concentration using Linear Model ANCOVA and logistic regression for the difference in the incidence of anemia.  In SQ-LNS group over three-month intervention, the adjusted mean hemoglobin concentration increased a significantly by 0.73 g/dl (p <0.05), the prevalence of anemia decreased by 19.5% and a significant reduction in the incidence of anemia by 100% (p <0.05). Over six-month intervention, the adjusted mean hemoglobin concentration only increased significantly by 0.15 g/dl, the prevalence decreased by 5.6% with a reduction in the incidence of anemia by 79%.  In Biscuit group, over 3-month and 6-month intervention, the hemoglobin concentration decreased by 0.17 g/dl and 0.36 g/dl with the prevalence of anemia was increased by 24.2% and 17.8%  as well as reducing in the incidence of anemia by 63% and 27%.  SQ-LNS was more effective in improving hemoglobin level and reducing of incidence anemia among infant 6-12 months over three-months intervention than the biscuit.Key words: SQ-LNS; biscuit; hemoglobin; anemia  
Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Stunting Remaja Akhir Rahmawati, Rahmawati; Fauziah, Aimmatul; Tanziha, Ikeu; Hardinsyah, Hardinsyah; Briawan, Dodik
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol. 1 No. 2 (April, 2018)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.432 KB)

Abstract

Masalah gizi utama remaja di negara berkembang salah satunya adalah gizi kurang yang tercermin salah satunya dari stunting (Fatmah, 2010). Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi stunting remaja kelompok umur 16-18 tahun sebesar 31,4% (Balitbangkes, 2013). Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear yang diakibatkan oleh multifaktor yang kemungkinan besar dapat mengganggu metabolisme. Tujuan penelitian adalah mengetahui prevalensi stunting di remaja akhir, dan menganalisis pengaruh &nbsp;faktor resiko yaitu karakteristik sosial ekonomi, konsumsi susu dan minuman berkarbonasi, serta aktivitas fisik terhadap kejadian stunting remaja akhir. Desain penelitian ini adalah cross-sectional study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2014 di Institut Pertanian Bogor (IPB). Jumlah sampel penelitian adalah 488 orang mahasiswa TPB IPB 2014/2015. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling, dengan kriteria mahasiswa TPB-IPB usia 17-19 tahun, mengkonsumsi susu secara rutin minimal 1 kali per minggu, sehat (tidak sedang sakit atau memiliki penyakit), dan bersedia untuk dijadikan responden penelitian. Data karakteristik sosial ekonomi, frekuensi konsumsi susu, dan konsumsi minuman berkarbonasi dengan kuesioner. Data antropometri tinggi badan diukur secara langsung. Data-data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. &nbsp;Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi remaja stunting yang didapatkan dari penelitian ini adalah 16,4%, lebih rendah jika dibandingan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 untuk usia remaja 16-18 tahun skala nasional (Balitbangkes, 2013). Faktor resiko yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah pendidikan ayah dengan nilai odds ratio (OR) 1,912; CI 95% (1,119-3,268). Diharapkan faktor resiko stunting remaja akhir dapat mengalami penurunan dengan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting untuk generasi selanjutnya. Diharapkan faktor resiko stunting remaja akhir dapat mengalami penurunan dengan meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan stunting untuk generasi selanjutnya.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN KUALITAS KONSUMSI PANGAN PADA RUMAH TANGGA MISKIN DI INDONESIA Baliwati, Yayuk Farida; Briawan, Dodik; Melani, Vitria
GIZI INDONESIA Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.781 KB)

Abstract

Rumah tangga miskin merupakan kelompok yang berisiko mengalami rawan pangan karena keterbatasan akses secara ekonomi maupun secara fisik. Keragaman konsumsi pangan rumah tangga diduga mampu dijadikan sebagai indikator rawan pangan. Salah satu metode sederhana untuk menilai keragaman konsumsi pangan rumah tangga adalah Household Dietary Diversity Score (HDDS). HDDS mencerminkan kemampuan ekonomi rumah tangga dalam memperoleh berbagai jenis pangan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas konsumsi pangan rumah tangga miskin menggunakan skor HDDS dan validasi HDDS sebagai metode alternatif dalam mendeteksi kejadian rawan pangan pada rumah tangga miskin. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bogor pada bulan Mei-Oktober 2013. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik rumah tangga dan konsumsi pangan di dalam rumah yang dikumpulkan menggunakan metode recall 1 x 24 jam. Wawancara dilakukan terhadap ibu yang memiliki peran penting dalam menentukan konsumsi pangan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan skor HDDS yang tinggi di seluruh lokasi penelitian (skor 6-12), yang berarti konsumsi pangan rumah tangga cukup beragam, namun secara kuantitas asupan energi dan proteinnya masih rendah. Terdapat 61,3 persen rumah tangga tergolong kelompok defisit energi tingkat berat (< 70% Tingkat Kecukupan Energi). Uji sensitivitas (Se) menunjukkan HDDS sensitif 26,95 persen untuk mendeteksi kejadian rawan pangan pada rumah tangga miskin. Hasil uji spesifisitas (Sp) menunjukkan HDDS spesifik 85,16 persen untuk mendeteksi tahan pangan pada rumah tangga miskin. Setelah dilakukan modifikasi dengan mengategorikan kelompok pangan berdasarkan fungsi gizi, nilai Se meningkat menjadi 91,04 persen dan nilai Sp menurun menjadi 35,61 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa HDDS modifikasi memiliki sensitivitas yang baik untuk mendeteksi kejadian rawan pangan pada rumah tangga miskin.ABSTRACT  THE DEVELOPMENT OF DIETARY QUALITY ASSESSMENT INSTRUMENT  IN POOR HOUSEHOLDS IN INDONESIA  Poor households were a risk group of food insecurity due to limited of economic and physic access. Household dietary diversity was predicted can be used as an indicator of food insecurity. Household Dietary Diversity Score (HDDS) is the method used to assess the dietary diversity. The purpose of this study was to determine dietary quality of poor households using HDDS scores and to test HDDS as an alternative method to identify food insecurity in poor households in Indonesia. Data collected from May until October 2013 included household characteristics and household dietary intake  at home using 1 x 24-hour recall. The results showed a high HDDS scores (scores 6-12) across the study sites, which means, household food consumption is quite diverse. In terms of quantity, energy and protein intakes of household members remained low despite HDDS scores indicated that consumption had been diverse. There were 61.3 per cent households which classified as severe level of energy deficit group (<70%). The test of the sensitivity (Se) and specificity (Sp) showed that HDDS only 26,95per cent sensitive to identify food insecurity in poor households and 85,16% specific to identify food security in poor households. After modifications by grouping of food based on nutritional function, the Se values increased to 91.04per cent and Sp values decreased to 35.61per cent. These results indicated that the modified HDDS were able to identify food insecurity in poor households. Keywords: HDDS, dietary diversity, food insecurity, sensitivity, specificity
EFIKASI SUPLEMEN BESI-MULTIVITAMIN UNTUK PERBAIKAN STATUS BESI REMAJA WANITA Briawan, Dodik; ., Hardinsyah; ., Muhilal; Setiawan, Budi; Marliyati, Sri Anna
GIZI INDONESIA Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.977 KB)

Abstract

EFFICACY OF IRON-MULTIVITAMIN SUPPLEMENT FOR IMPROVING THE IRON STATUS OF ADOLESCENT FEMALESThe study was aimed to analyze the efficacy of supplementation iron-multivitamin for improvingthe iron status of adolescent females through the double-blind trial. Subjects were 224 of the firstgrade university students (IPB) who were randomly allocated to three study groups through adouble blind trial. The first group received only placebo (control group); the second group received60 mg iron, 250 ug folate (B-F group); the third group received 60 mg iron,800 ug folate, 4200 ugretinyl acetate, 500 mg vitamin C, and 16.8 ug vitamin B12 (B-MV group). All supplements weredistributed and consumed weekly during 25 weeks. The mean changes in Hb, STfR and SFamong the groups were tested with Ancova and adjusted with BMI; capsule compliance;food/snack compliance; adequacy of energy, protein, vitamin A, vitamin C, iron; and baselinevalue of Hb, STfR, SF. The results showed the demographics and nutritional characteristics ofsamples were not significantly different. At the baseline, the mean of haemoglobin(Hb=126.2±13.1 g/l) and serum ferritin (SF=18.3±15.9 ug/l) were not significantly different amongthe three groups (p<0.05). However, the serum transferrin receptor (STfR) was lower in the control(5.8 ± 3.2 mg/l) than B-F (7.9 ±4.4 mg/l) and B-MV (11.8±5.5 mg/l). After 25 week ofsupplementation, the mean change of hemoglobin was not different among the three groups (10.1g/l; p>0.05). The B-MV group significantly lower decreased in STfR (-4.2 mg/l) and higherincreased in SF (+13.4 ug/l) compared to B-F and control group (p<0.05). Meanwhile, only theSTfR in B-F group (-1.3 ug/l) was significantly lower than control group (p<0.05). This implied theimportant of the multi-vitamin to complement the iron supplementation.Keywords: haemoglobin (Hb), serum transferrin receptor (STfR), serum ferritin (SF), iron status, iron-multivitamin, iron-folate, adolescent female
KONSUMSI MINUMAN DAN PREFERENSINYA PADA REMAJA DI JAKARTA DAN BANDUNG Briawan, Dodik; ., Hardinsyah; ., Marhamah; ., Zulaikhah; Aries, M.
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.029 KB)

Abstract

Studi ini adalah cross-sectionalyangdilakukan di Jakarta (pantai) dan di Bandung (pegunungan) dengan suhu  rata-rata  harian  masing  masing  adalah  28 C  dan  22 C.  Sampel  dipilih  secara  acak  dari  sekolah berturut-turut  sebanyak  masing  masing  110  orang  dan 99  orang.  Data  dikumpulkan  melalui  pengisian kuesioner, dan recallselama satu minggu untuk konsumsi aneka jenis minuman. Sebagian besar (73,2%) remaja di Bandung lebih menyukai air minum tanpa kemasan. Namun kebiasaan tersebut berbeda untuk di Jakarta, yaitu proporsi remaja yang mengkonsumsiair minum tanpa kemasan relatif sama dengan air kemasan (52,3% dan 47,7%). Rata-rata konsumsi air minum tanpa kemasan per hari secara signifikan lebihrendah  di  Jakarta  (934  mL)  daripada  di  Bandung  (1038  mL)  (p<0,05),  sedangkan  air  minum  kemasan secara  signifikan  berbeda,  yaitu  berturut-turut  1138  mL  dan  452  mL  (p<0,05).  Remaja  di  pantai mengonsumsi air minum 500-600 ml lebih banyak dibandingkan di pegunungan. Lebih dari 16 kelompok minuman lainnya yang terdiri dari berbagai jenis minuman yang dikonsumsi oleh remaja, sehingga total asupan minuman per hari secara signifikan lebih besar di Jakarta (2787 mL) daripada di Bandung (2196 mL)  (p<0,05).  Meskipun  asupan  air  minum  (plain  water)  remaja  di  pegunungan  hanya  sekitar  1500  mL, namun rata-rata total asupan cairan di kedua daerahsudah lebih tinggi jika dibandingkan dengan anjuran minum air (PUGS) sebanyak 2 liter.Kata kunci: konsumsi minuman, preferensi minuman, asupan cairan, remaja
Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan (Protocol for Recovery and Prevention of Food and Nutrition Crises on Vurnerable Group) Briawan, Dodik; Hariyadi, Purwiyatno; Hari Purnomo, Eko Hari Purnomo; M. Taqi, Fahim
JURNAL PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1724.573 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i2.32

Abstract

Krisis pangan dan gizi merupakan permasalahan yang berdampak terhadap pembangunan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan protokol pencegahan dan penanggulangan krisis pangan dan gizi. Data yang digunakan terdiri dari data sekunder dan primer. Protokol krisis pangan dan gizi dikembangkan dengan melibatkan ahli dan narasumber dari pemerintah daerah di Sukabumi, Situbondo dan Bogor. Kondisi krisis pangan dan gizi dapat ditetapkan dengan sistem survailan menggunakan indikator yang valid, sensitif, dan mudah dikumpulkan. Model yang sudah ada yaitu “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi” dapat digunakan dengan beberapa modifikasi tertutama pada komponen indikator. Protokol pencegahan dan penanggulangan dikembangkan untuk kelompok rumah tangga rawan di masyarakat. Kelompok ini dapat ditetapkan berdasarkan 14 indikator nonmoneter yang dikembangkan oleh BPS, dengan prioritas yang mempunyai anak di bawah usia lima tahun dan atau ibu hamil. Upaya penyelamatan terutama dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pada kelompok rawan ini. Penanggulangan diarahkan melalui bantuan ekonomi kepada rumah tangga sasaran. Pemerintah daerahperlu membentuk tim manajemen krisis pangan dan gizi yang disertai peran dan tanggungjawab yang jelas. Disarankan, pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam menetapkan kondisi krisis, yang disertai anggaran pelaksanaan protokol tersebut. Selain itu, dalam jangka panjang program seperti SKPG, Posyandu dan UPGK perlu diperbaiki dan ditingkatkan.Food and nutrition crises affect Indonesian development. This study aims to develop general protocol for prevention and recovery of food and nutrition crises. The data comprises of secondary and primary data. The crisis protocol is developed by involving experts and resource persons from Sukabumi, Situbondo and Bogor local governments. The crisis condition could be determined using mechanism of surveillances, valid, sensitive, and easy to generate indicators. The existing “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi” model could be applied with some modification on its components. The recovery and prevention protocolshould specifically be developed for vulnerable groups which can be determined using 14 non-monetary indicators developed by CBS, with special priority given to households with children under 5 years and/or pregnant mothers. The recovery is focused on feeding program for those groups. Prevention program is designed for the development of economic activities for the targeted households. The local government need to establish a crisis management team with well defined roles and responsibilities. It is proposed that Head of Local Governments should have authority to determine, declare crisis condition, and allocate budget to execute the protocol. In the long run, existing food and nutrition programs; especially SKPG, Posyandu and UPGKshall be up-graded and improved.
Persepsi Remaja Mengenai Kesehatan Reproduksi, Kehamilan dan Pernikahan di Usia Remaja: Studi Kualitatif Pada Siswi SMA Pedesaan dan Perkotaan Hidayati, Listyani; Dainy, Nunung Cipta; Rohmatullayaly, Eneng Nunuz; Briawan, Dodik
Jurnal Kesehatan Vol 6, No 1 (2013): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jurkes.v6i1.5564

Abstract

Teenage pregnancy may result poor birth outcomes , such as the risk of stunting , infantmortality, premature and Low Birth Weight ( LBW ) . This study aimed to determine the perceptions ofhigh school girls in two different environments , namely rural and urban areas regarding teen pregnancy.The data included perceptions about nutrition and reproductive health , marriage and teen age pregnancy, premaritalpregnancy , as well as nutrition and health during pregnancy.This study was conductedin SMA Negeri 1 Lewiliang, Bogor Regency and SMA Negeri 1 Bogor City with total subjectsweresix people. The result of this study showed a similar perception of the reproductive health of youngwomenin both rural and urban area . Subjects from the countryside can still tolerate teenage marriageandpregnancy if there is readiness of teenagers. In contrast, the subjects in urban areas do not thinkofan excuse to get married in young age . Youngwomen in the village can express more detailaboutfoodthat should be consumed or avoided , including food relating to taboo. In addition, young womeninthe village can provide more in-depth opinion about health care during pregnancy.
Co-Authors . Hartoyo A'immatul Fauziyah Abdul Razak Thaha Abdul Razak Thaha Abdul Salam Abdul Salam Adriyani, Ari Agus Triwinarto Aisyah Fathul Jannah alfiah alfiah Alfiah, Elma Ali Khomsan Ali Rosidi Amelia, Leily Amelia, Leily Andi Imam Arundhana Andri Susanti Anggiruling, Dwikani Oklita Anita Christina Sembiring Anna Febritta Intan Sari Ari Adriyani Aris Sulaeman Aslis Wirda Hayati Baiq Fitri Rahmiati Betty Yosephin Simanjuntak Budi Iman Santoso Budi Setiawan Budi Setiawan BUDI SETIAWAN Budi Setiawan Cesilia M Dwiriani Clara M Kusharto Dadang Sukandar Daus, Firdaus Firdaus Dewi Permaesih Dewi, Mira Dewi, Mira Dewi, Mira Dian Herawati Dias Indrasti Dondin Sayuthi Drajat Martianto DWI HASTUTI Dyah Umiyarni Purnamasari Eko Hari Purnomo El Zenitia Villa Rinjani Elvandari, Milliyantri Elvira Syamsir Emmy S Karsin Eneng Nunuz Rohmatullayaly Ermita Arumsari Erni Rukmana Ernis Asanti Erry Yudhya Mulyani Erry Yudhya Mulyani Evy Damayanthi Fahim M. Taqi Farida Dwi Rokhmah Fasli Jalal Fauziah, A'immatul Febiani Riskika Fitrah Ernawati Galih Purnasari Hadi Riyadi Hanifah Nuryani Lioe Hardinsyah Heldi, Ilza Wahyuni Heldi, Ilza Wahyuni Heryanda, Mahfuzhoh Fadillah Hidayat Syarief Hidayat Syarief Hidayat Syarif Hidayat Syarif Husnul Mar&#039;ah I Gusti Bagus Wiksuana Ikeu Ekayanti Ikeu Tanziha Ikeu Tanziha Imas Destiara Iriyani Harun Irmaida Irmaida Irman Hermadi Iskari Ngadiarti Jus'at, Idrus Karlina Nurcahyo Kartika Annisa Khomsan, Khomsan Kudang Boro Seminar Leily Amalia Leily Amelia Leily Amelia Lilik Kustiyah Lilik Kustiyah Lilik N Yuliati Lilis Nuraida Linda Riski Sefrina Listyani Hidayati Listyani Hidayati M Muchtar M. Aries, M. M. Taqi, Fahim Madaniyah, Siti MADE ASTAWAN Mar'ah, Husnul Marhamah . Mei Rini Safitri Mewa Ariani Migi Barunawati Miskiyah, Ainiyah Mohamad Yulianto Kurniawan Mohamad Yulianto Kurniawan Mufidah, Amna Muhamad Rizal Martua Damanik Muhammad Rivai Muhilal . Muhilal ., Muhilal Nadiyah Nadiyah Nasution Nasution Netta M. Putri Ni Made Putria Sukma Febriyani Nida Nadia Rifsyina Nita Yulianis Nunung Cipta Dainy Nur Hikmawaty Syarifuddin Nuradhiani, Annisa Nuri Andarwulan Nurpratama, Widya Lestari Nurul Muslihah Oktaviana Purnamasari Paramitha Rachma Pramita Ariawati Putri Pranita, Rani Fitri Pudji Muljono Purwiyatno Hariyadi Pusparini Pusparini Pusparini Pusparini Pusporini Pusporini Pusporini, Pusporini Putri Putri, Putri Putri, Dini Rizkiani Putri, Pramita Ariswati Putri, Pramita Ariswati Putri, Widya Ayu Kurnia Rahmaniya, Liya Putri Rahmasari, Nisya Cesaryani Rahmasari, Nisya Cesaryani Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Ratu Diah Koerniawati Refdanita Refdanita Refdanita, Refdanita Rekyan Hanung Puspadewi Rezzy Eko Caraka Rimbawan , Rokhmah, Farida Dwi Sedayu, Tyas Rara Siti Aisyah Solechah Siti Madanijah Siti Madanijah Siti Madanijah Siti Madanijah Siti Madaniyah Sri Anna Marliyati Sri Mustika Srirezeki, Yulia Sudikno Sudikno Sudikno Sudikno Sudikno Sudikno Surlitah, Sutemy Sutanti, Yeti Syifa, Nisa Hidayatus Tetty Herta Tin Herawati Tiurma Sinaga Tjahja Muhamdri Tonny C Maigoda Tonny C Maigoda Tyas Permatasari Tyas Permatasari Tyas Rara Sedayu Vera Uripi Vitria Melani, Vitria Widya Ayu Kurnia Putri Wilda Yunieswati Wirawanti, Ika Wirya Woro Riyadina Woro Riyadina Yayat Heryatno Yayuk Farida Baliwati Yekti H Effendi Yekti Widodo Yekti Widodo Yosepha Mextiany Ganella Gurang Yulina Eva Riany Yuni Pradilla Fitri Zulaikhah ., Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah, Zulaikhah Zulhadiman