cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
The Characteristics of Instant Bose Corn Processed with Various Cooking Methods Lista Eka Yulianti
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.554

Abstract

Bose corn is an ethnic food from East Nusa Tenggara, made from corn and beans. The process ofmaking bose corn takes a long time, which is about 4 hours. Instantization can shorten the preparationtime of bose corn until it is ready to eat. The cooking process is one of the stages in the instantization.This study aimed to determine the appropriate cooking method for the bose corn instantization and toassess its effect on the instant bose corn characteristics. This research was carried out using the combinedcooking method (mixed and boiled-steamed, and mixed boiled-autoclaved, mixed and steamed-autoclaved,unmixed and boiled-steamed, unmixed and boiled-autoclaved, and unmixed and steamed-autoclaved). Theresults showed that various cooking methods significantly affected the instant bose corn’s physical andchemical attributes. Compared to other methods, the mixed and boiled-autoclaved method produced thebest characteristics of instant bose corn. This instant bose corn had 6.38 minutes of rehydration time, 0.29g/ml of bulk density, 190.00 percent of volume expansion, 262.55 N of hardness, 7.44 percent of moisture,13.84 percent of protein, and 1.55 mg/100g of iron content.
Prediksi Perubahan Lahan Sawah terhadap Persepsi Masyarakat melalui Pendekatan Sistem Informasi Geografis di Wilayah Perkotaan Pangkajene Provinsi Sulawesi Selatan Reza Asra
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.565

Abstract

Ketahanan pangan selalu menjadi agenda penting dalam pembangunan nasional. Pada satu sisi, pertumbuhan penduduk membutuhkan ruang dan pangan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis prediksi perubahan lahan sawah di wilayah perkotaan Pangkajene pada tahun 2028 serta mengetahui potensi perubahan lahan sawah tahun 2028 terhadap persepsi masyarakat pada wilayah perkotaan Pangkajene. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif melalui pendekatan analisis spasial dengan bantuan teknik Sistem Informasi Geografis. Penelitian ini memiliki tiga tahapan. Pertama, memprediksi perubahan luasan, sebaran dan potensi alih fungsi penggunaan lahan dengan metode Cellular Automata (CA)-Markov Chain. Kedua, menganalisis potensi perubahan lahan sawah berdasarkan persepsi masyarakat dengan metode skoring. Ketiga, menganalisis prediksi perubahan lahan sawah terhadap persepsi masyarakat dengan metode overlay. Luas lahan sawah di wilayah perkotaan Pangkajene dalam rentang waktu 7 tahun, diprediksikan berkurang sebanyak 158,57 ha pada tahun 2028. Pada analisis potensi perubahan lahan sawah di wilayah perkotaan Pangkajene berdasarkan persepsi masyarakat, dari 1.228,94 ha lahan sawah yang ada pada tahun 2020, lahan sawah yang berpotensi mengalami perubahan seluas 656,59 ha atau 53,4 persen dari luas wilayah perkotaan. Untuk luasan 158,57 ha lahan sawah yang diprediksikan pada tahun 2028, sebanyak 82,22 ha lahan sawah berpotensi mengalami perubahan, baik luasan, sebaran maupun potensi alih fungsi penggunaan lahan.kata kunci: lahan sawah; CA-Markov; SIG; Pangkajene.
The Characterization of Fortified Rice (Fortivit) and Biofortified Rice (Nutri Zinc): Karakterisasi Beras Fortifikasi (Fortivit) dan Beras Biofortifikasi (Nutri Zinc) Sonya Mamoriska; Moch Gelar Hidayat; Cynthia G. Magda; Astri Yuliarti; Eny Cahyaningsih; Eriel Manalu; sambudi sambudi; Rista Yulia Kusuma Putri
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.583

Abstract

In overcoming Iron Deficiency Anemia and stunting, the Indonesian government seeks to increase the content of iron (Fe) and zinc (Zn) in milled rice through fortification and biofortification. Fortivit rice is rice fortification produced by BULOG. Inpari Nutri Zinc is biofortified rice grown from plant breeding by the Ministry of Agriculture, which ID Food currently produces. This study is a continuation of the IFFRI research collaboration on the Implementation and Research of Precision Agriculture in Biofortified Rice Strain. This study aimed to characterize the biofortified rice as a result of fertilization recommendations in previous studies and compare biofortified rice with fortified rice in several aspects, including micronutrient contents especially Zn, organoleptic, and production costs. The highest Zn content of Nutri Zinc was found in the aleuron, so that the post-harvest process caused a decrease in Zn level. The differences in fertilization recommendations have an impact on the Zn content in brown rice, each layer of aleurone, and the rice endosperm. The nutritional content of Fortivit and Nutri Zinc rice was relatively the same as non-fortified/biofortified rice. The washing and cooking process caused a decrease eof about 4 percent in Zn content in fortified rice, while in biofortified rice, there was relatively no decrease. Although there was a decrease in Zn in fortified rice, overall, the Zn content was still much higher than in biofortified rice. Based on the results of the hedonic test, fortifed rice (Fortivit) was the most preferred for all sensory attributes. In biofortified rice (Nutri Zinc), respondents prefer the rice with 100 percent milling grade the most. Fortivit rice had a faster research time and a lower estimated cost in research. In the contrary, it had a higher estimated cost in production than Nutri Zinc rice. Nonetheless, the selling price of Fortivit rice is cheaper than Nutri Zinc rice on the market. keywords: rice, fortification, biofortification, Fe, Zn
Potensi Rekayasa Genetik Bawang Putih terhadap Kandungan Senyawa Komponen Bioaktif Allicin dan Kajian Sifat Fungsionalnya Erwin Fajar Hasrianda; R. Haryo Bimo Setiarto
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.586

Abstract

Bawang putih berasal dari daerah tropis dan subtropis di Asia Tengah dan menyebar ke bagian lain dunia melalui perdagangan dan kolonisasi. Bawang putih memiliki sifat farmasi yang tinggi dengan adanya lebih dari 33 senyawa komponen bioaktif mengandung belerang yang ampuh menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur. Kandungan utama dalam umbi bawang putih adalah senyawa allicin yang mengandung sulfur (thio-2-propene-1-sulfinic acid S-allyl ester). Allicin diketahui memiliki berbagai fungsi biokimia, seperti antikoagulan, antihipertensi, antimikotik, antitumor, antioksidan, antipenuaan, detoksifikasi logam berat, fibrinolusis, hipolipidemik (penurun lemak) dan penguat sistem imun. Program pemuliaan tanaman yang menargetkan kultivar bawang putih dengan kandungan allicin lebih tinggi terus diupayakan oleh para ilmuwan untuk meningkatkan manfaatnya. Program ini dilakukan dengan pendekatan rekayasagenetika dan rekayasa jalur biosintesis dari senyawa penyusun allicin. Kajian molekuler tentang biosintesis, transportasi, dan regulasi senyawa allicin pada bawang putih dalam reviu ini tidak hanya memberikan wawasan tentang pengetahuan dasar kita, tetapi juga memfasilitasi rekayasa metabolisme bawang putih di masa depan menggunakan teknologi transgenik dan rekayasa genetika.
Efektivitas Pupuk Organik Cair Hasil Aktivasi Molekul dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Jagung Sri Minarsih; Samijan Samijan; Agus Supriyo; R Heru Praptana; Komalawati Komalawati
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.602

Abstract

Penggunaan pupuk organik cair (POC) merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhanunsur hara makro dan mikro bagi tanaman tanpa menimbulkan pencemaran tanah. Tujuan penelitian adalahuntuk mengetahui efektivitas pupuk organik cair hasil aktivasi molekul dalam meningkatkan pertumbuhan danhasil tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan di Desa Gemolong, KecamatanGemolong, Kabupaten Sragen pada bulan Juli sampai dengan Oktober 2021. Rancangan penelitianmenggunakan rancangan acak kelompok dengan tujuh variasi perlakuan, setiap perlakuan diulang empatkali sehingga menghasilkan 28 unit percobaan. Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini adalah pupukNPK Phonska (15-15-15), Urea dan POC hasil aktivasi molekul. Parameter pengamatan meliputi tinggitanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang dan diameter tongkol, berat tongkol kupas dan beratjagung pipilan kering giling. Data hasil pengamatan diamati dengan sidik ragam dilanjutkan uji Duncan taraf5 persen. Untuk mengetahui efektivitas pupuk digunakan analisis RAE. Hasil penelitian menunjukkan bahwaPOC hasil aktivasi molekul 0,6 mL/L yang diaplikasikan setiap 7 dan 14 hari dengan penerapan pemupukanNPK rekomendasi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pemupukan NPK rekomendasi dengantingkat produktivitas 9,18 ton pipilan kering giling per hektare dan nilai RAE sebesar 107,6 persen.
Peramalan Luas Tanam dan Strategi Pengembangan Bawang Merah di Kabupaten Wonogiri bot pranadi; Darsono Darsono; Minar Ferichani
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.604

Abstract

Bawang merah merupakan komoditas yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani dan mengungkit pertumbuhan ekonomi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan bawang merah di Kabupaten Wonogiri. Prapenyusunan strategi, dilakukan peramalan luas tanam bawang merah sebagai dasar pertimbangan. Data diperoleh melalui studi literatur dan wawancara dengan para ahli. Pemilihan responden dilakukan dengan metode purposive sampling. Metode analisis mengunakan ARIMA untuk peramalan luas tanam dan metode A’SOAR untuk penyusunan strategi pengembangan komoditas. Data yang digunakan untuk peramalan adalah data time series luas tanam bawang merah tahun 2016– 2020. Dari hasil penelitian, diperoleh model ARIMA terbaik yang akan digunakan adalah ARIMA (0,2,1) (1,0,0)12. Hasil peramalan hingga bulan April 2023 menunjukkan gejala penurunan luas tanam sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk pengembangan komoditasnya. Dari hasil analisis A’SOAR diperolehdelapan strategi dengan prioritas strategi yang pertama adalah Strategi OR1 (bobot 0,313). Strategi tersebut adalah melakukan pelatihan dan Sekolah Lapang secara intensif, melekat dan terukur pada petani. 
Ketahanan Genotipe Kedelai Calon Varietas Baru terhadap Hama Penggerek Polong Etiella zinckenella Berdasarkan Karakter Morfologi Surianto Surianto
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i2.617

Abstract

Potensi kerusakan polong dan biji yang dapat ditimbulkan oleh hama penggerek polong kedelai Etiella zinckenella berkisar antara 3–96 persen. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan seleksi pada genotipe kedelai calon varietas baru berdasarkan ketahanan morfologi terhadap hama penggerek polong kedelai. Penelitian dilakukan dengan mengamati pengaruh beberapa karakter morfologi polong terhadap parameter ketahanan tanaman yaitu preferensi peletakan telur, jumlah larva per tanaman, persen polong rusak dan persen biji rusak. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan karakter morfologi polong yang signifikan antar genotipe. Nilai kerapatan trikoma antara 42,66–204,6 trikoma per 2 mm2 dengan nilai F=1595,9, P=2x10-16, panjang trikoma antara 1,39–1,84 mm dengan nilai F=126,03, P=2x10-16, ketebalan kulit polongantara 0,28–0,5 mm dengan nilai F=49,39, P=2x10-16, kekerasan kulit polong antara 24,3-55,6 gram dengan nilai F=4,68, P=1,01x10-4). Parameter ketahanan menunjukkan perbedaan signifikan antar genotipe (nilai preferensi oviposisi antara 0–11 butir dengan nilai F=126,03, P=2x10-16, jumlah larva per tanaman antara 0,25–5,25 individu dengan nilai F=21,68, P=2x10-16, persen polong rusak antara 0,4–42,8 persen dengan nilai F=11,35, P=2,66x10-11 dan persen biji rusak antara 0,4–31,6 persen dengan nilai F=11,69, P=1,58x10-11). Hasil penelitian merekomendasikan 9 genotipe tahan penggerek polong E. zinckenella. Genotipe G511H/ Anj-1-1 menunjukkan respons ketahanan terbaik selain IAC-100 sebagai genotipe kontrol tahan.
Pola Konfigurasi Mesin dan Rendemen Penggilingan di Usaha Penggilingan Padi Kecil (PPK): Studi Kasus di Provinsi Jawa Barat Aminudin Aminudin; Momon Rusmono
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i3.576

Abstract

Pola konfigurasi mesin penggilingan padi adalah urutan proses pengolahan padi menjadi beras. Pola konfigurasi mesin dapat menentukan rendemen penggilingan. Data pola konfigurasi mesin dan nilai rendemen di penggilingan padi PPK di Jawa Barat belum tersedia komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui mutu padi, pola konfigurasi mesin penggilingan padi, rendemen, dan menentukan pola konfigurasi mesin optimum dengan kualitas beras medium tinggi. Penelitian dilakukan dengan cara surveiPPK di Kabupaten Indramayu, Subang, dan Karawang serta pengujian sampel padi. Kegiatan penelitian dari Juli sampai dengan Oktober 2021. Responden PPK ditentukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan padi atau gabah yang digiling di PPK sudah memenuhi standar mutu gabah dengan kadar air 14 persen dan butir hampa kurang dari 3 persen. Varietas padi yang digiling di tingkat PPK didominasi oleh varietas Inpari 32 dan Ciherang dan rata-rata kapasitas penggilingannya kurang dari 1,5 ton/jam. Semua PPK tidak memiliki mesin pemisah butir gabah dari beras pecah kulit dan hanya sedikit yang memiliki mesin pembersih kotoran. Terdapat 12 pola konfigurasi mesin penggilingan padi di PPK dan yang dominan diterapkan adalah pola konfigurasi mesin 0C-2H-0S-2P dengan rendemen penggilingan sebesar 65,35±0,55 persen. Pola konfigurasi mesin yang terbaik adalah 0C-1H-0S-2P dengan nilai rendemen 70,23±1,11 persen. Kisaran rendemen penggilingan lapangan PPK di Jawa Barat adalah 60–74 persen dengan rata-rata 65,87±0,76 persen. Nilai rata-rata rendemen ini lebih besar dari rata-rata rendemen penggilingan nasional 64,02 persen.
Analysis of Trade Distribution Network Structure on Livestock Commodities among Regions in Indonesia Andi Ishak; Emlan Fauzi; Erpan Ramon; Jhon Firison; Zul Efendi; Harwi Kusnadi
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i3.581

Abstract

The inter-regional trade distribution networks are essential for constructing a more efficient trade distribution system. This study aimed to compare the structure and role of regions in the distribution network of trade in beef, broiler meat, and broiler eggs in Indonesia. Secondary data analysis was carried out on the distribution network between regions of each commodity published by BPS-Statistics Indonesia in 2019 using UCINET 6 Software. The results showed that the structure of the beef trading networks in Indonesiaconsisted of one component, while chicken meat and eggs, respectively, consisted of four and two elements. East Nusa Tenggara Province was isolated from two of the three distribution networks: beef and egg trade. The structure of the three trade distribution networks was relatively the same in the variables of network density (between 5.9–7.2 percent), number of clicks (20–21 clicks), reciprocity (14.1–15.7 percent), degree of centralization (31.4–34.1 percent), mean distance (2.331–2.664 steps), and network diameter (6–7).The distribution network of trade of essential livestock commodities in Indonesia is still concentrated in Java, especially DKI Jakarta for beef and East Java for broiler meat and eggs.
Keragaan Pertumbuhan Empat Varietas Padi Sawah melalui Pendekatan Teknologi PTT di Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu Taufik H Ayat
JURNAL PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v31i3.594

Abstract

Produktivitas padi di Kabupaten Seluma masih tergolong rendah. Peningkatan produktivitas padi dapat dilakukan dengan penggunaan VUB. Penelitian bertujuan untuk mengetahui produktivitas VUB padi sawah dengan pendekatan teknologi pengelolaan tanaman terpadu (PTT). Penelitian dimulai bulan Maret sampai bulan Juni 2020 di Desa Padang Merbau, Kabupaten Seluma. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok nonfaktorial dengan 12 ulangan. Sebagai perlakuan adalah empat VUB padi sawah yaituInpari 43 GSR, Cakrabuana Agritan, Padjadjaran Agritan, dan Siliwangi Agritan dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 [(20 x 10) x 40 cm]. Pemupukan berdasarkan rekomendasi KATAM Terpadu dengan dosis pupuk urea 100 kg/ha dan NPK 350 kg/ha. Peubah yang diukur adalah tinggi tanaman, panjang malai, jumlah malai, jumlah gabah bernas, jumlah gabah hampa, bobot 1.000 butir, dan produktivitas. Data dianalisis menggunakan SAS v. 2.3 dan uji lanjut DMRT 5 persen. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapatperbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap peubah tinggi tanaman. Varietas Cakrabuana Agritan (113,88 cm) berbeda tidak nyata dengan varietas Siliwangi Agritan (110,29 cm), tetapi berbeda nyata dengan Inpari 43 GSR (103,54 cm) dan Padjadjaran Agritan (102,50 cm). Varietas Inpari 43 GSR memiliki jumlah gabah bernas tertinggi (1.246,33 butir/rumpun). Produktivitas varietas Inpari 43 GSR merupakan yang tertinggi yaitu 5,54 ton/ha.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue