cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Potensi Tanaman Sagu {Metroxylon sp.) dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Indonesia (Potential of Sago Plant (Metroxylon sp.) to Support Food Security in Indonesia) Wulandari Wening Kusuma, Parama Tirta; Indrianti, Novita; Ekafitri, Riyanti
JURNAL PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1351.807 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i1.78

Abstract

Ketergantungan bangsa Indonesia terhadap beras begitu tinggi, sehingga ketika kebutuhan beras dalam negeri tidak tercukupi, Indonesia harus mengimpor beras. Ketergantungan terhadap beras dapat dikurangi melalui alternatif bahan pangan Iainnya yang dapat dibudidayakan di Indonesia sebagai upaya mendukung ketahanan pangan di Indonesia. Salah satunya dengan mengeskplorasi potensi bahan pangan lokal Indonesia. Dalam kaitan dengan hal tersebut, maka tuiisan ini bertujuan untuk memetakan potensi sagu dan diversifikasi olahan sagu, baik berupa olahan pangan maupun olahan non-pangan sehingga dapat menjadi acuan dalam mengeksplorasi bahan pangan sagu. Sagu dapat diolah menjadi panganan tradisional, tepung sagu dan turunannya seperti tepung sagu termodifikasi dan mi sagu, serta pati sagu dan turunannya seperti edible film, makanan pendamping ASI, dan sohun. Sedangkan untuk kebutuhan non-pangan, sagu dapat dimanfaatkan menjadi bioethanol dan Protein Sel Tunggal. Untuk meningkatkan diversifikasi produk berbasis sagu dan turunannya maka perlu dilengkapi dengan kajian ekonomi, dukungan dan kebijakan pemerintah baik dari sisi ketersediaan maupun kemudahan akses para pelaku usaha komoditas sagu.Indonesia's dependence on rice is so high, that when the domestic rice requirement is not fulfilled, Indonesia has to import rice. The dependence on rice can be reduced through some alternative foodstuffs which can be cultivated in Indonesia. One way to do it is by exploring the potential of local food in Indonesia to support food security. This paper aimed to map out the potential of sago and sago processing diversification, both non-processing food and processing food so it can be a reference in exploring food from sago. Sago can be processed into traditional snacks, sago starchand its derivativessuch as modified sago starch and sago noodles, and sago starch and its derivatives such as edible films, complementary feeding, and vermicelli. For the need of non-food product, sago can be processed to become bioethanol and single cell protein. To improve product diversification based on sago it is necessary to be equipped with the economic assessment, support and government policy both in terms of availability and ease of business access to sago commodity 
Pemanasan Global dan Ketahanan Pangan Nasional Arifin, Bustanul
JURNAL PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.476 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i3.233

Abstract

Makalah ini menganalisis fenomena pemanasan global serta kaitannya dengan ketahanan nasional, dengan menitikberatkan pembahasan pada sektor pangan dan basis sumberdaya alam lainnya. Pemanasan global telah menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau yang makin kacau, sehingga pola tanam, estimasi produksi pertanian, dan persediaan stok pangan menjadi sulit diprediksi secara baik. Sektor produksi pangan, baik nabati, maupun hewani, adalah aktivitas ekonomi yang sangat banyak mengkonsumsi air. Analisis juga dilanjutkan dengan membedah beberapa kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan daerah yang berhubungan dengan bidang pangan dan basis sumberdaya alam lainnya. Sistem dan jaringan irigasi tidak beroperasi optimal karena kapasitas simpan air yang dimiliki tanah-tanah di Indonesia menurun drastis. Singkatnya, risiko ekonomi, sosial, dan lingkungan dari pemanasan global terlalu besar untuk diabaikan karena pasti dapat menimbulkan dampak berikutnya yang lebih rumit. Penutup makalah ini adalah rekomendasi (perubahan) kebijakan dan kerangka aksi untuk mewujudkan strategi adaptasi pemanasan global, untuk mengurangi dampak yang lebih buruk lagi ketahanan pangan nasional. 
Pemanfaatan Limbah Padat Kompos Kotoran Ternak dalam Meningkatkan Daya Dukung Lingkungan dan Biomassa Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Nenobesi, Djonius
JURNAL PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.867 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i1.344

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos limbah kotoran ternak dalam meningkatkan daya dukung lingkungan dan biomassa tanaman kacang hijau varietas Vima 1 pada tanah Vertisol. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terpisah yang petak utamanya adalah jenis kompos dengan 3 level yakni kompos kotoran ayam, kompos kotoran sapi, dan kompos slurry biogas kotoran sapi. Anak petak berupa dosis dengan 4 level yakni 0, 15, 30, dan 45 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos slurry biogas kotoran sapi 45 ton/ha secara nyata memberikan nilai tertinggi kandungan P total, K tersedia, C organik, jumlah koloni bakteri tanah, serta hasil biji, berat biomasa, efisiensi penggunaan air (EPA), dan efisiensi penggunaan pupuk (EPP). Pemberian slurry biogas kotoran sapi dengan dosis tersebut menghasilkan berat biji 1,77 ton/ha, berat biomasa per tanaman 76,1 gram, EPA 0,0113 kg/liter,dan EPP 0,06 kg/kg. Seluruh ukuran produktivitas tanah dan tanaman juga secara nyata lebih tinggi pada perlakuan pemberian kompos daripada tanpa pemberian kompos. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian kompos kotoran ternak meningkatkan daya dukung lingkungan dan peningkatan paling tinggi terjadi pada perlakuan 45 to/ha slurry biogas.
Strategi Sinergistik Peningkatan Produksi Pangan Dalam Hutan Lestari Melalui Wanatani Widodo, Yudi
JURNAL PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1433.262 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i3.166

Abstract

Peningkatan produksi pangan merupakan agenda penting guna mencapai TujuanPembangunan Milenium matra pertama bahwa kelaparan dan kemiskinan harusditanggulangi hingga 50 persen pada tahun 2015. Upaya tersebut tidak mudah untukdicapai, karena terjadinya bencana ekologis berupa perubahan iklim global. Perluasanlahan pertanian untuk meningkatkan produksi pangan dipandang sebagai jawabanpilihan. Perluasan lahan pertanian baru berupa sawah maupun ladang hingga 2 jutahektar, akan mengurangi areal kawasan hutan. Pengalaman proyek sejuta hektar konversihutan di tanah gambut untuk lahan pertanian menjadi pelajaran yang perlu disimak,karena secara ekonomi tidak layak dan ekologi rusak. Makanya perluasan lahan pertanianseluas 2 juta hektar harus dipersiapkan cermat, agar keberlanjutan dapat dicapai.Kelestarian hutan harus dipertahankan sebagai wujud komitmen anggota masyarakatglobal dalam mengantisipasi perubahan iklim. Dua matra tersebut seyogyanya disinergikandalam wanatani, agar kepentingan jangka pendek pemenuhan sumber pangan berikutkebutuhan ekonomi tercukupi tanpa mengabaikan kelestarian hutan beserta hasratekologi. Komoditas sumber pangan tahan naungan seperti kelompok ubi-ubian (tuberosa)famili Araceae layak dikembangkan. Varietas tahan naungan padi dan serealia lainmaupun aneka kacang (leguminosa) perlu dirakit guna diintegrasikan ke dalam wanatani.Mengingat kerimbunan tajuk hutan menimbulkan naungan >80 persen, maka perlumenggali potensi hayati kelompok sumber pangan tidak hanya dari phylum Spermatophyta(tumbuhan berbiji) yang masa panen >4 bulan, tetapi juga dari Thalophyta (jamur),Bryophyta (lumut) maupun Pteridophyta (paku) yang dapat dipanen harian atau mingguan.kata kunci: wanatani, pangan dalam hutan lestariIncreasing food-crop production is urgent to meet Millennium Development Goals(MDGs) in which it is stated that the first objective is to decrease hunger and povertyup to 50 percent till the year 2015. This effort is not easily achieved due to ecologicaldisorder in a form of climate change. Addition of new agricultural land to increase foodcrop production is considered as an alternative answer. Consequently, opening forestsfor agricultural areas causes deforestation up to 2 million hectares. Past experience inconverting one million hectares of peat land for agriculture learnt a lesson, becauseeconomical and ecologically was not sustainable. Therefore, expanding agricultural landup to 2 million hectares has to be planned accurately, so sustainability could be attained.Forest sustainability is also a priority to combat against climate change. Those two objectives can be synchronized synergistically under agro-forestry, so food as well asshort economic seductions could be fulfilled without sacrificing forest sustainability aslong term ecological dreams. Shade tolerance root crops under family of Araceae aresuitable to be developed. Shade tolerance varieties of rice and other cereals as well aslegumes need to be generated and incorporated into agro-forestry. Due to shade intensityunder forest up to more than 80 percent, the food requirement is not merely based onSpermatophyta plant that mostly can be harvested at the period of around 4 months. Itis also a need to explore the potential of Thallophyta (mushroom, algae), Bryophyta(musci) as well as Pteridophyta (Azolla etc.) that can be harvested daily or weekly.
Bakar Nabati Terhadap Kondisi Bahan Baku Industri Gula di Propinsi Lampung Ismono, Hanung; Arifin, Bustanul; Fitriani, Fitriani
JURNAL PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.516 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i2.35

Abstract

Krisis energi pada tahun 2007 menyebabkan setiap negara memberikan perhatian penting dalam pengembangan bioenergi, termasuk Indonesia. Sayangnya sebagian besar sumber bioenergi berasal dari bahan pangan, termasuk bioetanol dari tebu. Makalah ini bertujuan menganalisis pengaruh promosi pengembangan bioetanol terhadap pendapatan petani tebu, dengan fokus pada tanggapan/respon petani tebu terhadap pengembangan bioetanol pada pola kemitraan petani tebu dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT. Perkebunan Nusantara VII Bunga Mayang di Kabupaten Lampung Utara dan dengan perusahaan swasta besar PT. Gunung Madu Plantations di Kabupaten Lampung Tengah. Statistik deskriptif digunakan dalam menjelaskan respon petani tebu terhadap pengembangan bioetanol. Selanjutnya pengaruh pengembangan bioetanol terhadap pendapatan petani tebu dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa respon petani tebu terhadap issue pengembangan bioetanol dari tebu berbeda antarpola kemitraan. Respon pengembangan bioetanol berpengaruh nyata terhadap pendapatan petani tebu yang berasal dari bagian gula petani secara signifikan. Tanda negatif koefisien variabel respon pengembangan bioetanol menunjukkan indikasi adanya pengalihan sumber bahan baku tebu petani untuk industri gula menjadi bahan baku industri bioetanol.Energy crisis in 2007 makes countries in the world, including Indonesia, give extra attention to the development of bio-energy. Unfortunately many of the bio-energy resourcescome from food, including bio-ethanol from sugarcane. This paper tries to analyze the effect of bio-ethanol development on the income of sugarcane farmers, focusing on the responses of the farmers on bio-ethanol development to the partnership between the sugarcane farmers and a State-Owned Enterprise (SOE) of PT. Perkebunan Nusantara VII Bunga Mayang in North Lampung and a big private enterprise of PT. Gunung Madu Plantations in Central Lampung. The descriptive statistics is applied to describe the response of farmers toward bio-ethanol development. Moreover the effect of bio-ethanol development on the income of sugarcane farmers is analyzed using a regression equation. The results show that response of farmers on bio-ethanol development creates different perspectives between the two partnerships. Bio-ethanol development significantly affects the income of sugarcane farmers from the sugar. Meanwhile the negative coefficient sign indicates that bio-ethanol development causes the reallocation of sugarcane products from sugar industry to bio-ethanol industry. 
Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Gula terhadap Kualitas Keju Analog dari Campuran Susu dan Sari Kedelai ( The Effect of Various Types of Sugar Addition on the Quality of Cheese Analog from a Mixture of Cow's Milk and Soy Milk) Indrianti, Novita
JURNAL PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.042 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i4.199

Abstract

Keju analog dari campuran susu sapi dan sari kedelai telah dipelajari secara laboratoris. Pembuatan keju mengadopsi prosedur pembuatan keju Cheddar dengan mengganti rennet dengan ekstrak jeruk nipis sebagai sumber asam dan sebagai bahan penggumpal. Pada proses pembuatan keju, glukosa, sukrosa, atau madu ditambahkan, masing-masing dilakukan pada percobaan yang berbeda. Lactobacillus casei juga ditambahkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan glukosa, sukrosa, dan madu terhadap kualitas kimiawi dan sensoris keju analog. Hasilnya menunjukkan rendemen keju analog tertinggi diperoleh jika glukosa ditambahkan pada proses pembuatannya. Kadar protein dan lisin tersedia tertinggi juga diperoleh jika glukosa ditambahkan pada proses pembuatan keju analog. Kadar lemak tertinggi diperoleh jika madu ditambahkan. Perbedaan jenis gula, yaituglukosa, sukrosa, dan madu, tidak berpengaruh pada penerimaan panelis atas dasar kesukaannya terhadap semua atribut sensori.Cheese analog from a mixture of cow's milk and soy milk has been made in laboratory experiment Theprocessing of cheese was adopted from a procedure of making Cheddarcheese in which rennet was substituted by lemon extractused as acid source as wellas a coagulant whereas Lactobacillus casei was also added. Glucose, sucrose, and honey were added in separated experiments. Thisresearch was aimed to analyze the effect of usingglucose, sucrose, and honey on the chemicaland sensory of cheese analog. The highest yield was found in cheese analog where glucose was used in Its processing. The highest protein and available lysine contents were also found in cheese analog when glucose was added. The highest fat contentof cheese analog was found whenhoney was added. Glucose, sucrose, and honey did not affecton the acceptance of panelists based on their preferences to all atributes of sensory properties. 
FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN PRODUKTIVITAS PADI BERDASARKAN PERBEDAAN STRATA DI KABUPATAN KARAWANG DAN PURWAKARTA JAWA BARAT Subroto, Bubun
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.476 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.293

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara produsen padi papan atas di dunia. Kontribusi produksi terbesar dihasilkan di Pulau Jawa yang mencapai 55% dari total produksi nasional, dan Jawa Barat mempunyai kontribusi sekitar36% dari total produksi padi di Jawa antara lain sebagian berasal dari Kabupaten Karawang dan Purwakarta. Untuk mengumpulkan informasi mengenai tanaman padi, metode pengelolaan dan teknologi yang digunakan, maka dilakukan wawancara dengan beberapa petani di dua Kabupaten tersebut sebagai sample. Variabel-variabel yang dipertimbangkan untuk tujuan peneiitian ini adalah faktor-faktor yang mempunyai hubungan antara produktivitas padi dengan aspek biofisik terutama aspek manajemen dan ekologi. Penilaian faktor-faktor tersebut dilakukan dengan menggunakan the multiple linear regressions. Produktivitas dibedakan dalam empat strata, antara lain: Strata 1 adalah daerah persawahan irigasi teknis golongan kedua dekat dengan pantai, Strata 2 adalah daerah persawahan irigasiteknis golongan pertama dengan lahan tadah hujan, Strata 3 adalah daerah persawahan lahan kering/tadah hujan dan Strata 4 adalah daerah persawahan di lokasi perbukitan/teras. Hasil penilaian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor dari aspek manajemen yang menentukan produktivitas padi pada masing-masing strata, antara lain: Strata 1 adalah jarak tanam 25x25cm dan waktu tanam di bulan Desember; Strata 2 yaitu varitas padi (Santana); Strata 3 adalah tidak ada periakuan penyemprotan hama, jarak tanam 20x20 cm dan pengolahan tanah dengan mesin traktor; dan Strata 4 yaitu varietas padi (Way Apo Buru) dan jumlah benih yang digunakan. Beberapa faktor dari aspek manajemen yang mempunyai korelasi positif meningkatkan produktivitas padi, antara lain: varietas padi, jarak tanam (25 x 25 cm), penggunaan mesin traktor untuk mengolah tanah dan tidak dilakukan penyemprotan hama. Kegiatan pengeloiaan padi yang disarankan kepada petani dan penting diperhatikan guna meningkatkan produktivitas padi, antara lain: penggunaan varietas padi unggul, penerapan jarak tanam (25 x 25 cm) dan pengolahan tanah dengan traktor.
Perubahan Pola Konsumsi Pangan Beras, Jagung dan Terigu Konsumen Indonesia Periode 1999-2009 dan Implikasinya Bagi Pengembangan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Berbasis Pangan Sumarwan, Ujang
JURNAL PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.437 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i2.129

Abstract

Tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas perubahan pola konsumsi beberapa pangan pokok konsumen Indonesia selama kurun waktu 1999-2009. Selama periode tersebut, konsumsi kalori yang berasal dari padi-padian menurun, namun konsumsi kalori yang berasal dari makanan jadi mengalami kenaikan. Selama periode tersebut konsumsi beras dan jagung rata-rata per kapita perminggu mengalami penurunan, namun terjadi kenaikan konsumsi tepung beras dan terigu. Walaupun konsumsi beras per kapita mengalami penurunan, namun produksi padi selama periode 10 tahun tersebut justru mengalami kenaikan. Konsumsi beras sangat rendah pada konsumen yang termasuk golongan pengeluaran rendah namun meningkat pada konsumen golongan pengeluaran 200-500 ribu dan kemudian menurun pada konsumen golongan pengeluaran tinggi. Konsumsi jagung sangat tinggi pada konsumen golongan pengeluaran rendah, namun konsumsi jagung akan terus menurun dengan semakin meningkatnya pengeluaran konsumen. Konsumsi terigu rendah pada konsumen golongan pengeluaran rendah, namun konsumsi tersebut semakin tinggi dengan semakin tingginya pengeluaran. Terjadinya penurunan konsumsi rata-rata jagung per kapita, tidak berdampak kepada produksi jagung nasional selama 10 tahun terakhir sebab telah terjadi kenaikan yang sangat tinggi yaitu sebesar 85persen. Kenaikan produksi jagung disebabkan oleh naiknya luas panen dan produktivitas lahan. Tanaman jagung tampaknya akan memiliki nilai ekonomi yang semakin penting karena jagung dibutuhkan untuk pangan, pakan dan bahan baku energi ramah lingkungan. Perubahan pola konsumsi pangan pokok ini memberikan informasi dan implikasi penting bagi pengembangan bisnis BULOG di masa depan.This article is to discuss the changes in food consumption pattern of Indonesian consumers of some staple foods during 1999-2009. Statistical data showed that the consumption of cereal products declined however; calorie consumption of prepared foods and beverages increased. The average consumption of rice and corn per capita per week decreased, however rice and wheat flours consumption increased during that period. Rice consumption of low income consumers was lower as compared to high income consumer. Corn consumption was high among low income consumers but it started to decline as their income increased. Wheat flour consumption of low income consumers was low but it started to increase as their income increased. Although the average corn consumption per capita decreased but corn production increased significantly by 85% from 1999 to 2009. The increase in corn harvested areas and higher corn productivity were the two major factors contributed to the increase of corn production in Indonesia during that period. The economic value of corns has been predicted to continue to rise because corn is used for foods, feeds and fuels. The changes in food consumption patterns will provide important information including its implication on BULOG’s business development in the future.
STRATEGI INDONESIA MENGHADAPI ESKALASI HARGA PANGAN DUNIA Arifin, Bustanul
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.766 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.224

Abstract

Dunia saat ini, para analis hampir sepakat bahwa era harga pangan murah sudah lewat, karena sejak tahun 2005 harga pangan berbasis biji-bijian mulai menunjukkan trend peningkatan. Sejarah ekonomi pangan berbasis biji-bijian memang diwamai oleh penurunan harga riil secara signifikan selama 100 tahun terakhir, sehingga nyaris semua kebijakan seakan terperangkap untuk menghasilkan pangan murah. Trend penurunan harga riil tidak terjadi sejak tahun 2005, yang akhirnya semakin nyata terlihat sejak tahun 2007 yang lalu. Implikasi penting dari titik balik ekonomi pangan iniadalah betapa strategis dan pentingnya sektor pangan dan pertanian bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Apabila negara-negara ini (tepatnya, pelaku ekonomi skala besar di Amerika Serikat dan Rusia) menahan produksi untuk tidak dilempar ke pasar dunia, maka harga keseimbangan akan bergolak. Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat semakin kuatlah proposisi yang menyebutkan bahwa pola kenaikan harga komoditas pangan (dan pertanian) yang berkait erat dengan peningkatan harga minyak dunia ini telah membentuk pola.Tidak mustahil untuk disimpulkan bahwa tahun 2008 ini adalah titik balik ekonomi pangan karena pola eskalasi harga pangan telah menciptakan keseimbangan baru perdagangan dunia. Jika Bulog tidak main-main, sulit bagi spekulan swasta untuk menandingi kemampuannya mengelola beras, terutama karena kelengkapan infrastruktur dan sumberdaya manusia (SDM) sampai ke kota kabupaten. Manajemen logistik pangan pokok ala Perum Bulog sedang ditiru oleh Thailand, Filipina, Malaysia dan India. Bahwa komoditas pangan adalah primadona investasi saat ini dan beberapa tahun ke depan jelas tidak diragukan lagi. Sesuatu yang harus diperhatikan adalah bahwa komoditas pangan (dan pertanian). Tidak harus ditulis lagi, betapa besar dampak perubahan "politik global" ekonomi pangan berbasis biji-bijian tersebut bagi Indonesia, jika para perumus kebijakan di negeri ini tidak serius meningkatkan produksi dan produktivitas pangan di dalam negeri. Mungkin tidak pada tempatnya apabila saat ini, energi bangsa banyak dihabiskan hanya untuk berdebat sesuatu yang tidak terlalu produktif, misalnya tentang perubahan status Perum Bulog menjadi lembaga pemerintah non-departemen (LPND) seperti masa lalu. Polapikir ad-hoc seperti itu tidak akan mampu menjawab tantangan perubahan ekonomi pangan berbasis biji-bijian ke depan, apalagi jika terdapat agenda lain yang bersifat elitis. Masyarakat hanya menuntut keseriusan para elit untuk melalukan pemihakan kepada 25 juta rumah tangga petani sebagai stakeholders terbesar sektor ini. Sejarah bangsa-bangsa besar di dunia memulai pembangunan ekonominya dengan landasan pembangunan pertanian yang tangguh. Tidak mungkin melakukan lompatan besar (leap frogging) kebijakan yang tiba-tiba mampu mengangkat rakyat dari kemiskinan jika tidak ada terobosan dalam sektor pangan dan pertanian.
Pendugaan Umur Simpan Cookies Jagung Menggunakan Pendekatan Kadar Air Kritis Sugiyono, Sugiyono IPB
JURNAL PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i3.330

Abstract

The critical moisture of corn cookies was 0,0674 gH2O/g solid. The sorption isotherm of corn cookies was evaluated using six equation models i.e. Hasley, Chen-Clayton, Henderson, Caurie, Oswin and Guggenheim-Anderson-de Boer (GAB). The best equation model to describe corn cookies sorption isotherm phenomenon was GAB. Calculation results showed that the shelf life of corn cookies packed in metalized polyethylene and stored at 85 percent relative humidity was 298 days.

Page 8 of 81 | Total Record : 807


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue