cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Kesulitan Pangan Menghadang Khomsan, Ali
JURNAL PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.964 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i2.250

Abstract

Harga beras internasionalyang sudah relatif tinggi belumtentu mendongkrak nasib petani. Petani-petani kita tetap berkubang dalam kemiskinan. Kemiskinan petani sulit terentaskan karena pemilikan lahan yang sempit menyebabkan inefisiensi. Dengan pemilikan lahan rata-rata hanya 900 m persegi, maka sulit bagi petani Indonesia untuk dapat hidup makmur. Pembangunan infrastruktur secara besar-besaran untuk mendukung produksi pangan atau pertanian sangat mendesak untuk segera dilakukan. Sebenarnya produktivitas pangan negarakita sama saja dengan negara-negara lain. Namun, petani di negara lain menikmati sarana prasarana yang lebih baik untuk mendukung kehidupan pertaniannya. Naiknya harga pangan mungkin tidak mendatangkan dampak serius bila rakyat cukup daya belinya. Masalahnya adalah harga pangan naik, daya beli tidak cukup kuat, maka yang terjadi adalah ancaman rawan pangan menghadang. Saat ini penerapan teknologi revolusi hijau dengan menggunakanbenih unggul, pupuk buatan, ataupun pestisida tidak lagi dapat mendongkrak produktivitas lahan secara signifikan. Krisis pangan sangat terasa bila menimpa komoditas yang menyangkut hajad hidup orang banyak yakni beras. Oleh sebab itu upaya diversifikasi pangan pokok harus terus-menerus dilakukan melalui berbagai entry point.
Tempe Bungkil Kacang Tanah Khas Malang Malang Peanut Presscake Tempe Gullit, Edy Tya
JURNAL PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.077 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i3.363

Abstract

Di Malang, Jawa Timur, terdapat pangan khas berbasis bungkil kacang tanah yang telah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “tempe kacang”. Tidak diketahui awal mula dan sejarah produk ini dan tidak banyak referensi yang membahas dan memberikan informasi secara mendetail. Keunikan yang dimiliki tempe bungkil kacang yaitu penggunaan ragi mirip ragi tape dan pemeraman yang dilakukan dalam keadaan terbuka. Dalam produksi tempe kedelai, ragi yang digunakan merupakan ragi tempe dan pemeraman dilakukan dalam keadaan tertutup plastik atau daun pisang. Tulisan ini mengulas  setiap lini proses produksi tempe bungkil kacang tanah  khas Malang serta potensinya sebagai pangan fungsional. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang dimiliki produk ini antara lain dapat menurunkan trigliserida, kolesterol dan LDL, serta meningkatkan HDL dalam darah.In Malang, East Java, figured indigenous food based peanut presscake which been known by local as “tempe kacang”. There aren’t many information about origin and history of peanut presscake tempe and also the  specific detail about this product. Peanut presscake tempe has it own uniqueness about production process such as utilizing starter which similar to tapay starter and aging condition which was held in opened space. Regular soy tempe production utilized tempe starter and aging was wrap in plastic or banana leaves. This articles reviews every step of Malang peanut tempe production along its potency as fungsional food. The health potency of Malang peanut tempe has been reported such as decreasing blood triglyceride, cholesterol, LDL and increasing HDL.Di Malang, Jawa Timur, terdapat pangan khas berbasis bungkil kacang tanah y[A1] ang telah dikenal oleh masyarakat setempat sebagai “tempe kacang”. Tidak diketahui awal mula dan sejarah produk ini dan tidak banyak referensi yang membahas dan memberikan informasi secara mendetail. Keunikan yang dimiliki tempe bungkil kacang yaitu penggunaan ragi mirip ragi tape dan pemeraman yang dilakukan dalam keadaan terbuka. Dalam produksi tempe kedelai, ragi yang digunakan merupakan ragi tempe dan pemeraman dilakukan dalam keadaan tertutup plastik atau daun pisang. Tulisan ini mengulas  setiap lini proses produksi tempe bungkil kacang tanah  khas Malang serta potensinya sebagai pangan fungsional. Beberapa potensi manfaat kesehatan yang dimiliki produk ini antara lain dapat menurunkan trigliserida, kolesterol dan LDL, serta meningkatkan HDL dalam darah. [A1]
Eksplorasi, Identifikasi dan Analisis Keragaman Plasma Nutfah Tanaman Hanjeli (Coix lacryma jobi L.) sebagai Sumber Bahan Pangan Berlemak di Jawa Barat Ali Qosim, Warid; Nurmala, Tati
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1397.637 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i4.181

Abstract

Hanjeli merupakan tanaman pangan yang memiliki kandungan karbohidrat danlemak tinggi digunakan sebagai sumber bahan pangan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan plasma nutfah tanaman hanjeli (Coix lacryma-job L.) yang tersebar di daerah Jawa Barat. Metode penelitian dilakukan dalam bentuk survey di Kabupaten Indramayu, Purwakarta, Sumedang, Ciancur dan Bandung. Koleksi plasma nutfah hanjeli diseleksi berdasarkan karakter morfologi, kandungan lemak dan produk olahan tepung hanjeli. Dari hasil penelitian di 5 (lima) kabupaten tersebut telah diperoleh 41 plasma nutfah hanjeli yang ditemukan secara liar dan telah dibudidayakan oleh masyarakat. Keragaman genetik 41 plasma nutfah hanjeli 0,39 (39 persen) berdasarkan karakter morfologi in situ dan dikelompokan menjadi dua kelompok utama. Penampilan fenotipik karakter kualitatif dan kuantitatif plasma nutfah hanjeli in situ yang lebih baik adalah Acc 1, Acc 2, Acc 4, Acc 5, Acc 6, Acc 6, Acc 11, Acc 13, Acc 21, Acc 22, Acc 23, Acc 28, Acc 34, Acc 35. Berdasarkan analisis kandungan lemak yang baik adalah Acc 11, Acc 23, Acc 24, Acc 27, Acc 28, Acc 29, Acc 30, Acc 31, Acc 31 dan Acc 37. Hasil olahan yang berupa bubur hanjeli lebih disukai adalah Acc 1 dan Acc 4 dibandingkan Acc 10 dan Acc 28.Job’s tears is an alternative food source that has high contents of carbohydrate and fat. The research aims to obtain germ plasmas of Job’s tears plant (Coix lacryma-jobiL.) spread in the areas of West Java. The method of experiment is in form of survey in districts of Indramayu, Purwakarta, Sumedang, Ciancur and Bandung. Job’s tears germ plasms collection is selected based on morphological characters, the content of fat and processed flour products of job’s tears. The results showed that there are 41 job’s tears germ plasms found in wild life and cultivated by farmers. The genetic diversity of germ plasms of job’s tears is 0.39 (39 percent) based on morphological characters. The germ plasms of job’s tears are divided into two main groups. Phenotypic performance of the characters of qualitative and quantitative in-situ germ plasms of job’s tears are Acc1, Acc2, Acc4, Acc5, Acc6, Acc6, Acc11, Acc13, Acc21, Acc22, Acc23, Acc28, Acc34, Acc35. Based on the analysis of fat content, there are Acc11, Acc23, Acc24, Acc27, Acc28, Acc29, Acc30, Acc31, Acc31 and Acc37. In the form of processed porridge of job’s tears, Acc1 and Acc4 are preferred compared to Acc10 and Acc28. 
Komposisi Kimia Ubi Jalar (Ipomoea batatas L) Cilembu pada Berbagai Waktu Simpan sebagai Bahan Baku Gula Cair Chemical Composition of Cilembu Sweet Potato (Ipomoea batatas L) at Various Storage Time as Raw Material of Liquid Sugar Mahmudatussa’adah, Ai
JURNAL PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.737 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i1.51

Abstract

Ubi jalar (Ipomoea batatas L) Cilembu memiliki karakteristik yang khas yaitu rasanya sangat manis. Ubi jalar Cilembu yang memenuhi kualitas ekspor hanya 50 persen dari hasil panen, dan sisanya masih belum banyak dimanfaatkan. Ubi jalar biasanya disimpan terlebih dahulu sebelum diolah. Ubi jalar dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan gula cair. Ubi jalar Cilembu sebagai bahan baku gula cair dapat berupa pati atau bubur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan waktu penyimpanan ubi jalar Cilembu yang paling tepat, sehingga memiliki komposisi kimia yang tepat sebagai bahan baku gula cair. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Masa penyimpanan ubi jalar Cilembu 0, 2, 4 dan 6 minggu. Penyimpanan dilakukan pada suhu ruang di dalam ruangan dengan sirkulasi udara, kelembaban 80-88 persen. Hasil penelitian menunjukkan waktu penyimpanan mempengaruhi kadar air, pati dan gula ubi jalar. Kesimpulan penelitian ini adalah waktu penyimpanan ubi jalar Cilembu yang paling tepat sebagai bahan baku gula cair berupa pati dan berupa bubur dengan masa simpan ubi jalar 0 minggu. Tindak lanjut dari penelitian ini adalah optimasi produksi gula cair dari pati dan bubur yang berasal dari ubi jalar Cilembu dengan masa simpan 0 minggu.Cilembu Sweet potatoes (Ipomoea batatas L), which taste very sweet, have distinctivecharacteristics. Only 50 percents of Cilembu sweet potatoes that meet export quality, while the rest are rarely used. Sweet potatoes as the raw material of liquid sugar are usually stored before being processed. Cilembu sweet potatoes as raw material of liquid sugar can be either formed in starch or slurry. The purpose of this study is to determine the most appropriate storage time of Cilembu sweet potato tuber. The method used is an experimental method. The storage time is varied from zero to six weeks. The storage is conducted at a room with air circulation and humidity of 80-88 percent. The results indicate the storage time affects the water content, starch compotition and total of sweet potato. The conclusion of this study is that the most appropriate storage time for Cilembu sweet potato as a raw material of liquid sugar in the form of slurry and starch is in the 0-week storage period. The follow-up of this study is the optimization of the liquid sugar production from starch and slurry derived from Cilembu sweet potato with 0-week storage period.
Politik Pangan Menghadapi Tantangan Krisis Energi dan Finansial Global Soetrisno, Noer
JURNAL PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.202 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i4.214

Abstract

Tulisan ini mencoba memberikan ulasan posisi ketahanan pangan Indonesia serta memahami problema mendasar persoalan pangan dan instrumen kebijakan pangan yang ada terutama politik produksi dan stabilisasi harga. Kemudian memberikan gambaran akan fenomena perubahan lingkungan intemasional di bidang perdagangan dan investasiterkait dengan semakin berhimpitnya pasar komoditi pangan-energi-pasar finansial. Selanjutnya dicari arah bagaimana seharusnya Indonesia menanggapi perubahan tersebut dengan merumuskan politik pertanian untuk ketahanan pangan yang berlandaskan pada politik pendapatan dan kesejahteraan petani, bukan politik komoditas, serta menjadikan gizi dan kesehatan penduduk menjadi arah politik intervensi pangan. Orientasistabilisasi harus dikembalikan pada orientasi ketahanan pangan rumah tangga, didukung fungsi penyangga (iron stock) pemerintah, dan status gizi masyarakat.
Produksi Padi Optimum Rasional: Peluang dan Tantangan (Rationally Optimum Paddy Production : Chance and Challenge) Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1997.945 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i3.312

Abstract

Pemerintah Indonesia berkeinginan meningkatkan produksi padi hingga surplus 10 juta ton pada tahun 2014. Secara akademik, target diatas harus dikaji dari perspektif yang lebih luas yaitu apakah Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras untuk pangan pokok penduduknya atau berapakah sesungguhnya produksi beras yang rasional yang dapat dihasilkan? Mengacu pada pola pikir sederhana mengikuti kaidah produksi adalah produktivitas digandakan dengan luas panen maka sebuah analisis dapat dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tingkat produksi harus dinaikkan karena kebutuhan konsumsi masih meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan perbaikan kesejahteraan. Banyak pilihan tersedia untuk meningkatkan produksi pertanian yaitu memperluas penanaman, memperbaiki produktivitas dan mengurangi susut pasca panen. Masing-masing pilihan dihadapkan pada masalah dan tantangan. Paper ini membahas masing-masing pilihan yang diakhiri dengan pilihan rasional. Pada bagian akhir dikemukan rekomendasi untuk mencapai produksi rasional dan penguatan ketahanan pangan nasional.Government of Indonesia has targetted to increase rice production to 10 million ton surplus above the necessity to feed its population. According to this target, a wideranalysis wouldbe necessary to estimate a rationalpotency and optimum rice production. A simple way of thinking as the analysis framework is using the following formula: production equals to harvesting area times productivity. The targeted production that population rice consumption plus 10 million ton is used as the analysis base. Therefore, the variables are harvesting area and productivity In the long run, that surplus should be increased further to maintain self sufficiency given that consumption trend is still continuing. There are several scenarios that can be adopted to increase harvesting area, productivity and secure post harvest losses. This paper discusses the possibilityof each scenario and its opportunity and constraint. At the end, it presents a conclusion that is composed from available alternatives followed by a set of recommendation on how to strengthen the future food security. 
Prospek Teknologi Pembuatan Beras Bergizi Melalui Fortifikasi Iodium Rachmat, Ridwan; Lubis, Syafaruddin
JURNAL PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1491.164 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i3.145

Abstract

Dalam upaya penanggulangan masalah gangguan akibat kekurangan Iodium (GAKI), peningkatan mutu gizi beras merupakan salah satu terobosan yang dapat ditempuh terutama untuk memperbaiki mutu gizi masyarakat di daerah endemik Iodium. Penerapan teknologi fortifikasi Iodium pada beras sangat prospektif untuk dikembangkan, karena beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi lebih dari 90% penduduk Indonesia. Teknologi fortifikasi Iodium pada beras dilakukan dengan prinsip memanfaatkan sifat Iodium yang mudah terikat dengan amilosa sebagai unsur utama beras. Iodium sebagai fortifikan dalam bentuk larutan dengan penambahan bahan pengikat dikabutkan dengan alat pengkabut yang digandengkan pada alat penyosoh beras. Hasil penelitian menunjukan bahwa fortifikasi Iodium pada beras dengan menggunakan bahan pengikat dextrose dan sodium bikarbonat tidak berpengaruh terhadap kualitas beras. Hasil uji organoleptik menunjukan bahwa fortifikasi iodium sebesar 1 ppm pada beras menunjukkan bahwa rasa nasi dari beras dengan fortifikan iodit maupun iodat tanpa pengikat tidak berbeda nyata dengan kontrol dan disukai •60% konsumen (responden). Sedangkan dari segi aroma tidak berbeda nyata dengan kontrol dan menunjukkan penampilan permukaan terlihat bersih dan cemerlang. Dari mutu fisik beras, pada umumnya beras beriodium dapat diklasifikasikan pada standar mutu II karena beras kepala diatas 80% dan beras patah paling tinggi 19,41%.In an effort to overcome problems Iodine deficiency disorders (IDD), increased nutrient quality of rice is one of the breakthroughs that can be achieved primarily to improve the nutritive quality of the community in areas of endemic iodine. Iodine fortification technology implementation on highly prospective for development of rice, because rice is the staple food consumed by more than 90% of Indonesian population. Iodine fortification of rice technology by utilizing the principle of the easy nature of iodine bound with amylose as the main element in rice. Iodine as fortifikan in the form of a solution with the addition of a binder in mist sprayer which coupled with the tool on the tool penyosoh rice. The results showed that iodine fortification in rice by using a binder dextrose and sodium bicarbonate did not affect the quality of rice. The organoleptic test showed that iodine fortification of 1 ppm in rice showed that the rice with iodate fortificant iodid or without a binder is not significantly different from the control and preferred •'3d 60% of consumers (respondents). In terms of flavor not significantly different from the control and shows the surface appearance looks clean and bright. From the physical quality of rice, generally can be classified on the quality standard II for over 80% head rice yield and broken rice the highest 19.41%. 
Diversifikasi Konsumsi Pangan Berbasis Ubi Jalar Widowati, Sri
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.328 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i1.12

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu sumber karbohidrat utama di Indonesia yang menempati urutan keempat setelah padi, jagung dan ubi kayu. Masa layak konsumsi ubi jalar lebih lama dibandingkan jenis umbi lain, semakin lama disimpan maka rasanya semakin manis. Produktivitasnya relatif tinggi yaitu: 20-40 ton/ha dan umur panen pendek (4-5 bulan). Umbi ubi jalar mengandung air 59-69 persen, abu 0,68-1,69 persen(bk), protein 3,71-6,74 persen(bk), lemak 0,26-1,42 persen(bk) dan karbohidrat 91,42-93,45 persen (bk).Warna daging umbi yang beragam menunjukkan variasi kandungan komponen bioaktif dan rasanya. Umbi yang berwarna kuning, orange hingga jingga mengandung •-karoten, sedangkan ungu mengandung antosianin. Aneka produk dapat diolah dari ubi jalar segar, tepung maupun pati. Berdasar mutu gizi dan sifat fungsional serta peluang pemanfaatannya,ubi jalar mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dalam upaya penganekaragaman konsumsi pangan.Sweet potato is one of the main source of carbohydrate in Indonesia, which ranks fourth after rice, maize and cassava. Storability is longer than other tubers and the longer the storage period the sweeter the tuber is. It has high productivity (20-40 ton/ha) and short period of maturity (4-5 months). The sweet potato tubers typically contain moisture 59-69 percent , ash 0.68-1.69 percent (db), protein 3.71-6.74 percent (db), fats 0.26-1.42 percent (db) and carbohydrate 91.42-93.45 percent (db). The colour of tuberflesh indicates the variation of the content of various bioactive compounds and taste. Tubers with yellow to orange colored contain •-carotene, while that of purple ones contain anthocyanin. Various products can be prepared from the fresh sweet potato, flour and starch. Based on nutritional quality and functional properties as well as utilization opportunities, sweet potato has a great potential to support the development of food consumption diversification. 
POTENSI INULIN SEBAGAI KOMPONEN PANGAN FUNGSIONAL DARI UMBI DAHLIA (Dahlia pinnata L) Widowati, Sri
JURNAL PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1469.364 KB) | DOI: 10.33964/jp.v16i1.277

Abstract

Inulin, merupakan polimer dar, unit-unit fruktosa. Inulin bersifat larut di dalam air dan tidak dapat dicerna oleh enzim-enzim pencernaan, namun difermentasi mikroflora kolon . (usus besar). Oleh karena itu, inulin berfungsi sebagai prebiotik. Prebiotik merupakan komponen pangan yang berfungsi sebagai substrat mikroflora yang menguntunqkan di dalam usus. Beberapa tanaman menghasilkan karbohidrat, salah satunya yaitu tanaman dahlia Umbi dahlia selain digunakan sebagai bibit, juga dapat dimanfaatkan sebagai sumberkarbohidrat fungsional, yaitu inulin. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang potensi inulin pada umbi dahlia sebagai komponen pangan fungsional. Disimpulkan bahwa inulin dapat digunakan untuk pengkayaan (enrichment) produk makanan, seperti eskrim, jeli, bubur bayi dan masih banyak contoh lainnya. Di balik prospek penggunaan inulin dari umbi dahlia ini, masih ada beberapa kendala, antara lain sumber bahan baku yang masih terbatas
Tingkat Serangan Hama Penggerek Batang Jagung Ostrinia furnacalis Geunee (Lepidoptera: Crambidae) Pada Beberapa Varietas Jagung Komposit Subiadi, Subiadi; Sipi, Surianto
JURNAL PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.988 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i3.383

Abstract

Penggerek batang jagung merupakan salah satu hama penting pada tanaman jagung termasuk di Kabupaten Manokwari. Penggerek batang jagung dapat menyerang semua bagian tanaman seperti daun, batang, bunga jantan, bunga betina, dan tongkol. Pengkajian dilaksanakan pada bulan Maret – Juni tahun 2017 di Kebun Percobaan BPTP Papua Barat di Anday Kabupaten Manokwari. Percobaan dengan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan varietas yang diulang sebanyak 4 kali. Penelitian dilaksanakan untuk melihat tingkat serangan larva penggerek batang jagung O. furnacalis pada beberapa jagung komposit untuk mendapatkan 1 atau lebih varietas jagung yang bersifat nonpreference terhadap larva O. furnacalis. Hasil penelitian ini menunjukkan semua varietas jagung yang ditanam terserang oleh larva penggerek batang jagung dengan tingkat serangan tertinggi pada varietas Sukmaraga dan Srikandi Kuning sebesar 25% dan terendah pada varietas Srikandi Putih sebesar 12,5% dan lebih bersifat nonpreference terhadap penggerek batang jagung dibandingkan dengan ketiga varietas lainnya. Lubang gerekan pada varietas Sukmaraga mulai ditemukan pada umur fase vegetatif sebesar 4,8%, sedangkan lubang gerekan pada varietas Srikandi Kuning, Srikandi Putih, dan Pulut Uri 100% terjadi pada fase generatif

Page 10 of 81 | Total Record : 807


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue