cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pengaruh Kemasan pada Penyimpanan Umbi Kentang Hitam [Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.] Packaging Effect on Storage of Country Potato Tuber [Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.] Setyowati, Ninik
JURNAL PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i3.18

Abstract

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Fisiologi Makropropagasi, Puslit Biologi LIPI, Cibinong. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial, 3 faktor dengan 3 kali blok, masing-masing blok terdiri dari 10 contoh umbi kentang hitam. Faktor ke-1adalah lama penyimpanan dengan 4 taraf yaitu 0, 2, 4, 6 bulan. Faktor ke-2 adalah kemasan dengan 3 taraf yaitu tanpa bungkus (TB), bungkus koran (BK) dan bungkus plastik ziplock (BP). Faktor ke-3 adalah aksesi dengan 2 taraf yaitu Nganjuk dan 25 gray. Penyimpanan umbi dilakukan pada suhu 20ºC. Pengamatan dilakukan dari awal sampai akhir penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan yang ideal hanya sampai 2 (dua) bulan, penyimpanan umbi sampai dengan 4 bulan masih bisa dilakukan namun kondisi umbi menjadi kurang baik. Kemasan berpengaruh nyata pada penyimpanan umbi kentang hitam. Kemasan dengan bungkus koran memberikan pengaruh yang terbaik pada penyimpanan umbi kentang hitam, sedangkan kemasan plastik ziplock menyebabkan pembusukan pada umbi, sehingga tidak dianjurkan. Aksesi Nganjuk secara umum terlihat lebih baik dan lebih segar daripada aksesi 25 gray. This research is carried out at the Macropropagation Laboratory of Plant Fisiology section, Research Centre for Biology, Cibinong Sciences Centre, LIPI. The research is designed by Factorial in Randomized Completely Block Design with 3 factors and 3 replications, each replication with 10 samples. The first factor is storage duration with 4 level factors i.e. 0, 2, 4 and 6 months. The second factor is packaging methods with 3 level factors i.e. un-wrapped, wrapped in newspaper and wrapped in ziplock plastic. The third factor is accession of country potato tuber with 2 level factors i.e. Nganjuk, and 25 gray. Observation is carried out from the start until the end of storage period. The results show that the ideal storage duration is only up to two months. Tuber storage up to 4 months can still be done, but it results in a very poor quality tuber. The packaging treatment has a significant effect on the storage of tuber. Packaging with newspaper wrappers gives the best effect on the tuber. The use of ziplock plastic packaging is not recommended because it decays the tuber. The accession of Nganjuk is generally better and fresher than the accession of 25 gray. 
Teknologi Proses Ekstrusi untuk Membuat Beras Analog (Extrusion Process Technology of Analog Rice) Budi, Faleh Setia; Hariyadi, Purwiyatno; Budijanto, Slamet; Syah, Dahrul
JURNAL PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.965 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i3.114

Abstract

Tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai angka 139 kg/kapita/tahun, lebih tinggi dari konsumsi rata-rata di Asia Tenggara, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya sering dilakukan impor beras. Indonesia memiliki sumber pangan lokal lain seperti jagung, sorgum, ubi kayu, ubi jalar, sagu dan lain-lain. Namun bahan pangan non beras tersebut kurang populer dibandingkan dengan beras. Oleh karena itu, perlu dikembangkan teknologi proses yang potensial untuk mengolah bahan pangan lokal non beras menjadi beras analog. Teknologi ekstrusi merupakan salah satu teknologi yang telah digunakan untuk pembuatan beras analog dengan bahan baku beras patah. Belakangan, teknologi ini juga mulai digunakan untuk pembuatan beras analog dari bahan pangan non beras. Karakteristik beras analog yang mirip dengan beras alami dapat dicapai dengan mengontrol parameter-parameter kritis ekstrusi seperti karakteristik dan komposisi bahan, suhu ekstrusi, kecepatan ulir dan sebagainya. Studi menunjukkan bahwa beras analog bisa dibuat dari bahan pangan non beras. Keberhasilan teknologi ini juga akan memperluas peluang fortifikasi dengan menggunakan beras analog sebagai pembawa zat gizi. seperti protein, vitamin dan mineral, sesuai dengan tujuannya. Makalah ini mengkaji hasil-hasil penelitian pembuatan beras analog dengan teknologi ekstrusi baik dengan menggunakan bahan beras patah maupun bahan non beras yang disertai dengan dan tanpa fortifikasi.Indonesia rice consumption level is very high and up to 139 kg/capita/year, higher than that of average consumption level in South East Asia, so that import of rice is frequently needed to fill the need of population. Indonesia is actually rich in local food sources other than rice; such as corn, sorghum, cassava, sago, etc. but they are not as popular as rice. Therefore technology for the production of analog rice using the localbased non-rice food sources is needed. Extrusion technology has been used to produce analog rice from broken rice as its raw material. Recently; extrusion technology has also been used to develop analog rice using non-rice food material. The characteristic of analog rice which is similar with the natural rice could be achieved by controlling the critical extrusion parameters, such as the characteristics and composition of raw material, the temperature of extrusion, the speed of screw etc. The success of the analog rice production from the non rice food material will open up opportunities for fortification program using analog rice as a carrier for the nutrient target. This paper reviews the research reports for analog rice production with extrusion technology using variety of raw materials; including broken rice and the non-rice food material, with and without fortification. 
Antisipasi terhadap Isu-Isu Baru Keamanan Pangan (The Anticipation of New Issues Food safety) Hariyadi, Ratih Dewanti; Hariyadi, Purwiyatno
JURNAL PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.288 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i1.97

Abstract

Kemunculan emerging dan kontaminan baru yang berkaitan dengan keamananpangan merupakan isu yang tidak bisa dihindari. E. coli enterohemoragik misalnya,merupakan contoh emerging baru yang menyebabkan kematian dan kerugian ekonomi di Eropa, sedangkan di Cina melamin adalah contoh mutakhir kontaminan pada susu formula bayi yang telah menyebabkan kematian dan kerugian perdagangan di dunia. Paper ini mengulas berbagai potensi emerging dan kontaminan baru yang mungkin muncul dalam sistem pangan. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman mengenai emerging dan kontaminan baru tersebut sehingga kemunculannya bisa diantisipasi dengan tepat, baik oleh pemerintah emerging pangan maupun konsumen. Penggunaan kerangka kerja analisis risiko merupakan pendekatan logis yang perlu ditempuh oleh pemerintah untuk melahirkan kebijakan dan tindakan keamanan panganyang tepat untuk keperluan antisipasi tersebut. Sementara itu, emerging pangan perlu secara cermat mengkaji ulang praktek dan tindakan keamanan pangan, termasuk program dan rencana HACCP yang ada. Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh emerging antara lain, mengevaluasi kembali spesifikasi ingriedien dan titik-titik kendali kritis, mengembangkan program pengambilan contoh dan pemantauan lingkungan, serta menyesuaikan program pengambilan contoh produk. Dalam kaitannya dengan pengendalian kontaminan yang sengaja ditambahkan (intentional contamination), rencana HACCP perlu mencakup juga bahaya-bahaya yang telah diidentifikasi pernah secara sengaja dimasukkan dalam sistem produksi, serta mengidentifikasi dan mengevaluasi bahaya-bahaya lain yang diketahui atau yang diduga bisa secara sengaja dimasukkan sistem produksi.Emerging pathogens and food contaminants important for food safety are inevitable issues. Enterohemorhagic E. coli, for example, is the latest one to cause fatality and economic loss in Europe while in China melamine is a very important adulaterant in powdered infant formula that has cost life and trade worldwide. This paper discusses the emergence of foodborne pathogens and contaminants in food system. The objective is to provide better understanding regarding the emerging foodborne pathogens and contaminants so that their emergence should be well anticipated by government, food industries as well as consumers. Use of risk analysis framework is the logical approach for government to produceappropriate food safety measures and policies. Meanwhile,food industry should take into precaution their existing food safety measures and revisit their HACCP plan. The most likely aspects to be reconsidered include re-evaluation of the specification for ingredients and critical control points, establishment of environmental monitoring and sampling, and adjustment of sampling plan. With respect to preventing intentional contaminations, HACCP plan should include hazards that may be intentionally introduced, identify and evaluate known or reasonably foreseeable hazards that may be associated with the facility. 
Penerapan GHP dan GMP Pada Penanganan Pascapanen Padi Di Tingkat Penggilingan (GHP and GMP Implementations in Postharvest Handling of Rice at The Rice Mill Operator Level) Sarastuti, Sarastuti; Ahmad, Usman; Sutrisno, Sutrisno
JURNAL PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.065 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i2.369

Abstract

AbstrakPenerapan Good Handling Practices (GHP) dan Good Manufacturing Practices (GMP) pada penanganan pascapanen padi di tingkat penggilingan di Indonesia masih rendah, bahkan sebagian besar operator tidak memperhatikan tentang standar mutu beras. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan GHP dan GMP pada penanganan pascapanen padi di tingkat penggilingan. Survey dilakukan terhadap enam penggilingan padi penyalur beras mitra Toko Tani Indonesia Center dalam kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM), di wilayah Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, dan pengambilan sampel gabah dan beras sesuai berdasarkan metode SNI 19-0428-1998. Analisis mutu dilakukan berdasarkan metode SNI 01-0224-1987 untuk gabah dan SNI 6128:2015 untuk beras. Penilaian kesesuaian penerapan GHP dan GMP dilakukan berdasarkan praktek yang dilakukan responden, dibandingkan terhadap pedoman GHP dan GMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedoman GHP dan GMP belum sepenuhnya diterapkan oleh penggilingan padi. Tingkat kesesuaian penanganan pascapanen padi adalah 52.9% untuk GHP dan 66.7% untuk GMP. Ketidaksesuaian terhadap pedoman GHP dan GMP dibedakan menurut aspek fasilitas dan penanganan pascapanen padi. Ketidaksesuaian dari aspek fasilitas, yaitu: kondisi bangunan dan gudang penyimpanan tidak dilengkapi pengontrol suhu, tekanan, kelembaban udara, dan perlindungan dari debu, kotoran, binatang pengerat, hama, dan serangga. Ketidaksesuaian pada penanganan pascapanen padi, antara lain: operator penggilingan padi tidak melakukan proses sortasi, pembersihan, dan pemutuan gabah. Selain itu, pengemasan gabah tidak disesuaikan dengan standar kelas mutu. Kondisi tersebut menghasikan beras bermutu rendah berdasarkan persyaratan mutu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 31/Permentan/PP.130/8/2017.kata kunci: beras, mutu, pascapanen padi, penggilingan AbstractsIn Indonesia, implementation of Good Handling Practices (GHP) and Good Manufacturing Practices (GMP) in postharvest handling of rice at the rice mill operator level is categorized low, and even most operators do not care about rice quality standards. This study aims to evaluate the application of GHP and GMP on postharvest handling of rice at the rice mill level. The survey was conducted on six rice mills as milled rice supplier to Toko Tani Indonesia Center in the Food Business Community Development (PUPM) activity, in West Java area. The data were collected through interview, field observation, and sampling of rice and milled rice according to SNI 19-0428-1998 method. Quality analysis was conducted based on SNI 01-0224-1987 method for rice and SNI 6128: 2015 for milled rice. Conformity assessment of GHP and GMP implementation was calculated based on respondents' practice, compared to GHP and GMP guidelines. The results show that GHP and GMP guidelines have not been fully implemented by rice mill operators. The postharvest handling conformity level was 52.9% for GHP and 66.7% for GMP. Non-compliance with GHP and GMP guidelines were grouped into two aspects, facilities and postharvest handling of rice. Non-conformity of the facilities aspect, namely: the condition of the building and storage warehouse was not equipped with temperature control, pressure, humidity, and protection from dust, dirt, rodents, pests, and insects. Non-compliance to postharvest handling of rice, among others are lacks of sorting, cleaning, and rice grading processes. In addition, the rice packaging was not adjusted to the quality standards. These conditions result milled rice with low quality according to the Regulation of the Minister of Agriculture Number: 31/ Permentan/PP.130/8/2017. keywords: milled rice, postharvest handling, quality, rice mill operator
Teknologi Mikrowave untuk Disinfestasi Beras M.I. Sulaiman, M.I. Sulaiman; Irfan, Irfan; I.I. Widaiska, I.I. Widaiska; Alfizarb, Alfizar
JURNAL PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1626.416 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i4.185

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melakukan disinfestasi kutu beras Sitophilus oryzae dengan teknik irradiasi mikrowave sistem batch. Beras diinfestasi dengan 10 ekor S. oryzae dan diaduk secara merata dengan ketebalan tumpukan beras antara 1–4 cm dan diradiasikan dengan gelombang mikrowave dengan daya antara 120–800 Watt selama 30 hingga 1200 detik. Kondisi optimum tercapai pada aplikasi mikrowave dengan menggunakan daya listrik 240 Watt selama 60 detik pada beras dengan ketebalan 1 cm. Pada kondisi ini, suhu beras selama aplikasi akan naik mencapai 60,5oC serta kadar air turun sebesar 3 persen. Energi yang dibutuhkan adalah 26,7 kWh per ton dengan biaya tenaga listrik saja sebesar 24.430 Rupiah per ton. Teknologi mikrowave disimpulkan berpotensi untuk menggantikan fumigasi untuk disinfestasi beras karena disamping ekonomis juga tidak meninggalkan residu kimia serta ramah lingkungan.This study investigates the application of microwave irradiation for batch disinfestation of rice weevil Sitophilus oryzae. Rice was infested artificially with ten rice weevils for each treatment. The infested rice was placed in the microwave oven with a thickness varied from 1 to 4 cm. The rice was irradiated with microwave with a power varied from 120 to 800 Watt for 30 to 1200 seconds. An optimum condition for rice disinfestation was achieved when microwave was applied using a power of 240 Watt for 60 seconds to a bulk of rice with 1 cm thickness. In this condition, the temperature of rice during the application increased up to 60.5oC and the moisture decreased up to 3 percent. Total energy needed for this application was 26.7 kWh per ton. This is similar to an energy cost of about 24,430 Indonesian Rupiah per ton. Microwave technology is concluded to be potential to replace conventional fumigation technology for rice disinfestation because this technology is economically feasible, free from chemical residue in the rice and environmentally friendly.
Kajian Proses Perumusan Standar dan Peraturan Keamanan Pangan di Indonesia Formulation Process Assessment on Food Safety Standards and Regulations in Indonesia Hariyadi, Purwiyatno; Sumarto, Sumarto; Hari Purnomo, Eko
JURNAL PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.371 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i2.55

Abstract

Standar dan peraturan keamanan pangan tidak saja bertujuan untuk melindungi kesehatan publik, tetapi juga menjamin perdagangan yang adil dan meningkatkan daya saing bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara prinsip-prinsip baik dan kenyataan penerapannya pada pengembangan standar dan peraturan keamanan pangan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) melibatkan pemangku kepentingan keamanan pangan. Hasil survei dan FGD menunjukkan bahwa banyak standar dan peraturan keamanan pangan yang mengalami hambatan dalam penerapannya disebabkan karena telah terjadi kesenjangan antara prinsip-prinsip baik dan kenyataan penerapannya. Kesenjangan tersebut adalah dalam hal (i) rendahnya informasi tentang proses dan perkembangan perumusan, (ii) kurangnya pembahasan yang mempertimbangkan kepentingan dan keterlibatan pemangku kepentingan, (iii) rendahnya relevansi antara tujuan perlindungan kesehatan publik dengan kondisi nyata produk dan industri pangan Indonesia, dan (iv) kurangnya kesiapan pelaku usaha dan unsur penunjangnya. Diidentifikasi pula adanya perbedaan persepsi antara pemerintah dan industri pangan tentang prinsipprinsip (i) transparansi, dan (ii) efektifitas dan relevansi. Hal ini perlu diatasi dengan perbaikan (i) sistem informasi, (ii) akses kepada pemangku kepentingan, (iii) kesiapan infrastruktur, dan (iv) kesepakatan mengenai dimensi pengembangan nasional, khususnya untuk (a) kepentingan UMKM, (b) pengembangan bahan baku lokal, dan (c) peningkatan daya saing.Food safety standards and regulations are developed not only for protecting public health but also for facilitating fair trade and nation competitiveness. The objectives of this research are to identify gap between good principles and their implementation in the development of food safety standards and regulations. Survey and focus group discussion (FGD) are used in this research. We find that gaps between good principles and actual development of food safety standard and regulation are the most frequently cited by stakeholders as the main factor hindering standard implementation. Gaps identified are lack of (i) information, (ii) intensive discussions among stakeholders, (iii) relevancy in term of consumer protection objective, and (iv) readiness of business community and its supporting system. Our results suggest that there is also a perception gap between food industry and government regulatory agencies on aspects of (i) transparency and (ii) effectiveness and relevancy. Improvement should be done by (i) improving the information system, (ii) providing access to stakeholders, (iii) making the infrastructures ready, and (iv)streamlining the consensus on national development dimensions; especially those associated with (a) interest for SMEs development, (b) development of local foods and food ingredients, and (c) improvement of competitiveness of Indonesian food products.
Reaktualisasi Diversifikasi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal Sutrisno, Sutrisno; M. Edris, Ismi
JURNAL PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1180.264 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i4.218

Abstract

Kelangkaan pangan telah menjadi ancaman bagi kehidupan setiap negara di dunia, tak terkecuaii Indonesia. Semenjak tahun 1979, telah muncul kecenderungan peningkatan konsumsi beras di negeri ini, sehingga timbul image superior beras sebagai simbol status sosial kemakmuran dan nilai politik, sedangkan sumber pangan (food crops) lain menjadi produk inferior sebagai simbol kemiskinan. Kondisi malnutrisi dan tingginya kematian bayi paling banyak terjadi di kawasan timur Indonesia, bahkan ironisnya kasus rawan pangan juga sering terjadi di daerah yang potensi pangan lokalnya cukup. Kondisi ini akan semakin parah jika tidak ada pergeseran pola konsumsi pangan dari mono komoditas beras ke bahan pangan lainnya. Di dalam UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan dan PP No 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan dijelaskan bahwa ketahanan pangan dapat diwujudkan dengan penganekaragaman (diversifikasi) pangan yang memperhatikan sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal. Dalam pelaksanaannya, beras masih sangat mendominasi asupan karbohidrat dibandingkan dengan sumber pangan lainnya (umbi-umbian), meskipun semenjak tahun 2002 telah terjadi kecenderungan penurunan konsumsi beras. Namun, penurunan ini tidak menunjukkan pergeseran konsumsi ke arah umbi-umbian dan bahan lain, tetapi justru bergeser ke konsumsi mie dengan bahan baku terigu imporsebagai pola pangan kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat mencukupi kebutuhan energinya berdasarkan kemudahan akses produk dan biaya rendah, ketersediannya yang stabil dan populer. Paper ini disusun untuk memberikan informasi potensi pangan lokal yang didasarkan pada potensi keseimbangan gizi dan ketersediaan secara nasional. Sosialisasi produk-produk tersebut menjadi sangat penting melihat kasus pergeseran pola pangan kedua yaitu ke mie dan terigu impor. Sosialisasi bertujuan untuk memberi pencitraan bahan pangan inferior menjadi komoditas yang memiliki kandungan gizi cukup, seimbang dan ketersediaan stabil. Terbentuknya masyarakat yang terdidik secara baik {well educated community) merupakan kunci dari terwujudnya ketahanan pangan berbasis diversifikasi pangan.
Konsumsi Tahu Kedelai Hitam untuk Memperbaiki Nilai SGOT/ SGPT dan Aktivitas Antioksidan Plasma Penderita Diabetes Tipe 2 Zakaria, Fransiska Rungkat; Firdaus, Delina Puspa Rosana; Yuliana, Nancy Dewi
JURNAL PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.988 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i2.325

Abstract

Type 2 diabetes mellitus pathogenesis is characterized by high blood glucose which can be triggered by several factors such as oxidative stress, unhealthy diet, and poor lifestyle. The high content of bioactive components and low content of digestible carbohydrate in black soybeans tofu might contribute to the body antioxidant supply and control blood glucose levels. This study aimed to evaluate the effects of black soy tofu consumption toward plasma SGOT/SGPT and antioxidant capacity. The intervention of black soybean tofu was conducted for 28 days in 15 type-2 diabetic respondents. The results showed that black soybean tofu significantly (p ˂ 0.05) increased plasma antioxidant activity level of respondents, from 45.79 ± 3.31 percent to 53.05 ± 4.44 percent. SGOT / SGPT tests showed a decrement ((p ≥ 0.05), from 14.27 ± 3.81 / 21.07 ± 6.73 (U/L) to 12.73 ± 2.34 / 18.60 ± 4.29 (U/L). The processing of black soybeans into tofu caused a decrease in antioxidant activity, from 144.06 mg AEAC to 45.27 mg AEAC and the total anthocyanin, from 12.27 mg to 1.805 mg/100 g. The results suggested that black soybean tofu improved the health profile of the diabetic respondents by increasing plasma antioxidant capacity and decreasing plasma SGOT/SGPT level.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA RANTAI PASOKAN BERAS: STUDI KASUS DI PERUM BULOG, JAWA BARAT Sa'id, E. Gumbira; Chandra Dewi, Galuh; Fahmi, Idqan
JURNAL PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1093.552 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i1.281

Abstract

Sebagai penghasil padi terbesar kedua di Indonesia, Jawa Barat mampu berproduksi melebihi kebutuhan konsumsi regionalnya, sehingga dapat mendistribusikan kelebihan berasnya kepada wilayah defisit. Di lain prhak, secara komersial, Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Barat harus mempertimbangkan keberlanjutan pasokannya secara lokal dan nasional, karena peningkatan konsumsi beras di wilayah tersebut tidak diimbangi dengan pemanfaatan lahan produksinya. Oleh karena itu, dilakukan kajian mengenai rantai pasokan beras Bulog, melalui identifikasi dan analisis faktor-faktor yangmempengaruhi kinerja manajemen rantai pasokan beras Bulog, serta formulasi altematif strategi Bulog dalam memperbaiki kinerja manajemen rantai pasokan berasnya. Data-data primer diperoleh dari lima orang responden ahli di Bulog Divre Jawa Barat, serta seorang responden ahli di Kantor Pusat Bulog, Jakarta; sedangkan data-data sekunder diperoleh dari Bulog. BPS dan FAO. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja Bulog dibedakan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan nilai dan faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan produktivitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan nilai terdiri dari mutu gabah. mutu beras, perawatan mutu, serta teknologi pengolahan dan pasca panen. Faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulanproduktivitas terdiri dari aspek-aspek produksi di lini on-farm (ketersediaan bibit unggul, kesesuaian lahan, pemupukan, penggunaan pestisida, mekanisasi pertanian, kondisi lingkungan, pengelolaan lahan dan sistem irigasi, sumberdaya manusia, serta riset dan pengembangan), persediaan, transportasi. tingkat kerusakan, biaya operasional pengadaan, serta kemitraan. Dilandasi oleh hasil analisis terhadap faktor-faktor tersebut, Bulog disarankan untuk memaksimalkan kompetensi intinya di bidang logistik, yang diperkuat melalui modernisasi teknologi, serta dipadukan dengan perbaikan teknologi on-farm dan off-farm, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, maupun pengembangan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
Pembangunan Ketahanan Ekonomi dan Pangan Perdesaan Mandiri Berbasis Nilai Tambah (Rural Economic and Food Security Development Based on Added Value Formation) Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.531 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.87

Abstract

Perdesaan adalah produsen sebagian besar hasil pertanian dan bahan pangan, tetapi belum mampu mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kegiatan ekonominya. Salah satu penyebab utamanya adalah perekonomian perdesaan masih bertumpu pada produksi dan perdagangan produk primer yang nilainya rendah dan harganya tidak stabil. Nilai terbesar yang terkandung dalam hasil pertanian “diangkut” dan dimanfaatkan di perkotaan. Perdesaan kemudian menjadi wilayah pasar dari hasil olahan tersebut. Dalam perspektif inilah perdesaan harus dibangun menjadi pemasok bahan pangan olahan bagi perkotaan yang pada saat bersamaan mampu memenuhi kebutuhan pangan dan kegiatan ekonominya. Untuk itu, pangan dan ekonomi perdesaan harus bertumpu pada produksinya sendiri melalui pengembangan usaha pembentukan nilai tambah. Makalah ini bertujuan untuk (i) membahas pengertian dan kegiatan nilai tambah serta pangan berbasis sumberdaya lokal; (ii) menganalisis pengembangan usaha dan pangan perdesaan melalui program pengembangan masyarakat. Perhitungan nilai tambah dari kegiatan pengolahan hasil pertanian lokal menunjukkan bahwa perdesaan berpotensi untuk membangun kemandirian pangan sekaligus ekonomi. Oleh karena itu, perdesaan dapat dibangun melalui pengembangan kegiatan pengolahan hasil komoditas lokal berbasis masyarakat.Being producer of most agricultural products, rural region has not been self-sufficient in staple food supply and economic activities. Most of rural economics rely on producing and trading of primary (fresh) products which value has been declining in terms of customer expense proportion. The “expensive” value containing in the products is transported to urban for further handling and processing. Then, rural region become costumer of those processed products. In this respect, rural development should be designed to be supplier fo urban population processed food and industrial raw material, and at the same time securing its own people staple food and economic activities. Rural staple food should firstly be based on its own available resources through added value creation activities. This paper discusses added value activities and local resource based food development. At the end, it presents several efforts to develop rural food sovereignty and local economic development through community empowerment program. Calculation added value of a commodity to several processed products shown that rural area has the potency to be independent in economic activities and food supply. Therefore, it is recommended that rural region shoud be developed to be community based product processing center. 

Page 6 of 81 | Total Record : 807


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue