cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014" : 15 Documents clear
Environmental Estrogens and Breast cancer llmiawati llmiawati
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.759 KB)

Abstract

Background: Recent studies revealed that various man-made chemicals disrupting properties with endocrine- contribute in the development of breast cancer.objective: To review the state of the science of the endocrine-disrupting chemicals (EDC) and their role in the development of breast cancer.Methods: Key papers on experimental and epidemiologic studies examining the associations between EDC and breast cancer were searched throJgh the Google Sch-olar and pubMedusing Results: EDC effects depend on the level and timing of exposure, with critical window on developmentalstages. Diethylstilbestrol(DES) and bispIenolA(BpA) aretwo thoroughlystudied environmental estrogenic compounds. Epidemiological studies showed increased breast cancer incident in women exposed to DES during gestation. ExperimentalstuQies revealed that BPA induces architectural and gene expression froRte changes ir i"J"rt r;;;"ry gtand, with the stroma of fetal mammary gland as the primary target. ihe effects of these environmental estrogens are mostly mediated through the estrogen ieceptors a and B. Their exposure may further sensitize the mammary tissuelo the hit or otner carcinogens. Epigenome alteration in the mammary gland has also been implicated in its neoplastic dLvelopre"nt.Conclusions: Fetal and perinatal stages are the critical exposure windows to environmental estrogens and multiple mechanism is irnplicated in the development of breast cancer resulted from this exposure.
DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAru LIMFOMA ORtsITA Ardizal Rahman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7450.651 KB)

Abstract

Limfoma orbita merujuk pada limfoma yang terjadi di konjungtiva, kelenjar lakrimal, palpebradan otot-otot ekstraokular. Limfoma primer non-Hodgkin (NHL) dari orbita dapat ditemukanpada hanya 1o/o dari semua limforna non-Hodgkin. Anaiisis mutasi somatik pada regiovariabel (V) dari immunoglobulin (ig) dan segmen gen rantai berat (H) telah menunjukkanperan dari stimulasi antigen kronik pada patogenesis limfoma /nucosa-associated lymphoidflssue (MALT). Patogen mikroba seperti Helicobacter pylaridan Chlamydia pneumonia dapaimendasari proses inflamasi dan pada akhirnya memicu akuisisi MALT juga memainkanperan penting dalam tranformasi maligna dan ekspansi klonal lanjutan limfoma. Penentuanstadium kanker sangat penting karena akan menentukan terapi apa yang akan diberikan dankemungkinan remisi dan prognosisnya. Berdasarkan sistem stadium Ann-Arbor, limfoma yangterbatas di orbita disebut sebagai stadium l, keterlibatan struktur sekitar (sinus paranasal,tonsil, dan hidung) menjadikannya stadium ll. Stadium lll adalah penyakit nodal abdominaldibawah diafragma dan stadium lV merujuk pada keterlibatan yang tersebar dari satu ataulebih lokasi ekstranodal (hepar, sum-sum tulang atau sistem saraf pusat). Mayoritas pasiendatang dengan keluhan massa konjungtiva berwarna pink (91%), diikuti hiperemis konjungtiva(32%), propiosis (27%), massa palpebra atau orbita (19"fi, penurunan visus dan ptosis (6%),dan diplopia(2%). Bilateralitas terjadi pada 10% hingga 15% kasus dimana 80 % terjadisecarasimultan sedangkan 20% merupakan kondisi yang berurutan. Penilaian lanjut untuk stagingyang akurat dan perencanaan terapitermasuk anamnesis yang lengkap dan pemeriksaan fisik,pemeriksaan laboratorium rutin, elektroforesis protein sei-um, LDH serum, Fr-mikroglobulin,rontgen thoraks, CT scan thoraks, abdornen, dan pelvis, dan biopsisum-sum tulang. Diagnosapositif harus berdasarkan pada perneriksaan histologik dari sampeltumor yang memadai yangdiperoleh dengan biopsiorbita. Beberapa kriteria mayor harus dipertimbangkan pada penilaianawal penyakit untuk menentukan ierapi optimal secara jelas, yaitu : (1) subtipe histopatolcgiklimfoma, menurut klasifikasiWHO; (2) perluasan penyakit, clidalam dan di luar regio periokuiar;(3) faktor prognostik yang berhubungan dengan penyakit dan pasien; dan (4) dampak limfomaorbita pada mata dan fungsi visual. Berbagai modalitas terapi konvensiona! dapat diterapkanuntuk iimfoma orbita, termasuk agen tunggal atau kombinasi regimen kemoterapi, radioterapi,dan antibodi anti-CD20 monoklonal atau imunoterapi interferon.
The potency of secondary metabolites from traditional medicine plants as anti cancer agent Mai Efdi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.498 KB)

Abstract

The seconday metabolites from traditional medicine plants have played an important role incancer treatment. Exploration of natural active compounds from medicinal plants for cancertreatment has attracted substantial attention worldwide. Several secondary metabolites thatwere isolated fom the plants, such as vincristne, vinblastine, campthothecins, have been usedhave been used clinically for over 40 years. Numerous techniques have been developedto obtain compounds for drug discovery including isolation from plants, synthetic chemistry,screening bioassays. As part of efforts to discover phytochemicals as anticancer agent, ourgroup were isolated several compunds mainly from Annonaceae and Melliaceae family thatshowed active againts human leukemia HL-60 cells.
Preface and ToC - Vol 37, Supplement 2 (2014) Redaksi MKA
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.215 KB)

Abstract

Ekspresi HER2/neu(c-ErbB2) pada Kanker Kolorektal Nita Afriani; Ening Krisnuhoni; Nur Rahadiani
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4684.439 KB)

Abstract

Kanker kolorektal merupakan keganasan pada kolon dan rektum, penyebab morbiditas danmortalitas ketiga terbanyak diantara keganasan lainnya. Penelitian ekspresi HER2 pada kankerkolorektal memiliki rentang yang cukup jauh yaitu 0-83% dan belum pernah dipublikasi dilndonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menilai ekspresi HER2 pada kanker kolorektal. Studicross-secfiona/ dilakukan terhadap 51 sediaan blok parafin kanker kolorektal rentang tahunJanuari 2011-Desember 2012 di Departemen Patologi Anatorni RS Cipto MangunkusumoJakarta. Penilaian karakteristik sampel diambil dari rekam medis dan penilaian histopatologidari sediaan HE pasien kanker kolorektal. Pulasan imunohistokimia HER2 menggunakanantibodipoliklonalantiHER2(DAKO). Rata-rata usia penderita adalah 57.8t13.54tahun,58.8%penderita adalah laki-laki dan 41.2o/o perempuan. Semua sediaan adalah adenokarsinomakolorektal. Ekspresi HER2 positif ditemukan sebanyak 5(9.8%) kasus.AbstractColorectal cancer is a neoplasia of colon and rectum ,and also the 3rd leading cause ofmorbidity and mortality among men and women in the world. HER2 expression has controversialresults ranging from 0-83% and never been pubiished in lndonesia. This research aims tostudy HER2 expression in colorectal cancer. Cross-sectional study was conducted in 51 casesof colorectal cancer from January 2011 until December 2012 in Pathology Department ofCipto Mangunkusumo Hospital. Patient characteristic was reviewed from medical record andhistopathologic was evaluated from HE slides. lmunohistochemistry staining used anti HER2polyclonal antibody frorn DAKO. Mean age was 57.8113.54 years, 58.8% were males and41.2o4 were females. Positive HER2 was 5 cases (9.8%).
STATE OF THE ART IN PROTEOMICS FOR CANCER DETECTION Syafrizayanti Syafrizayanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.717 KB)

Abstract

The earliest stages of cancer detection determine the successful of cancer treatment andtherapy. The existing cancer test or detection methods have been routinely used, but they arelack of sensitivity and specificity that are needed to avoid false positive or negative results. Thegenomic basedtechniques have been applied, although molecular understandings of cancerfar from complete, but few genomic platforms are becoming routine. Application of proteomicsbasedtechniques provide intriguing outcome, which is cancer detection at their earliest stages.Proteomics have exposed a new perspective into the phases of tumorigenesis and depictedmore detailed molecular network scheme, which made important contributions in the discoveryof biomarker of early diagnosis, prognosis and prediction outcome of cancer therapies.The noticeable proteomic platforms to achieve these goals are protein microarray, tissuemicroarray, mass spectrometry-based proteomic, and two-dimensionalgel electrophoresis (2-DE). The application of these techniques will be overviewed, providing a general review ofcurrent proteomic methods in cancer detection and subsequently improvement in prognosisand prediction of cancer therapies.Keywords: proteomics, protein microarrays, mass spectrometry, cancer biomarkerAbstrakDeteksi dini kanker sangat menentukan keberhasilan penanganan dan terapi kanker. Hinggasaat ini, telah banyak jenis metoda deteksi dan uji kanker yang sudah rutin digunakan, akantetapi metoda-metoda tersebut memiliki tingkat sensitifitas dan spesifikasi yang rendah,sehingga sering menyebabkan terjadi kesalahan hasil uji baik secara positif ataupun negatif.Bidang genomik telah banyak digunakan untuk lebih memahami kanker pada level molekuler,meskipun hasil yang diperoleh belum mendalam, akan tetapi beberapa metoda berbasiskangenomik telah mulai rutin digunakan. Bidang pioteomik mulai banyak diaplikasikan untukkeperluan deteksi kankersedini mungkin. Proteomik memberikan perspektif dalam mempelajarifase-fase pembentukan tumor dan juga bisa memberikan gambaran rangkaian molekuler yangterlibat. Hasil ini akan menjadi suatu kosntribusi yang sangat besar untuk mencari biomarkeruntuk diagnosa awal, prognosa dan dan memprediksikan luaran terapiyang muncul. Beberapametoda proteomik telah banyak digunakan untuk tujuan tersebut, diantaranya adalah proteinmicroarrays, fissue microarrays, /nass spectrometry-based proteomic, dan two-dimensionalgel electrophoresis (2-DE). Beberapa aplikasi teknik proteomik tersebut akan dibahas padatulisan ini, sehingga bisa memberikan pandangan umum tentang metoda-metoda proteomikterkini yang sudah mulai digunakan untuk deteksi kanker dan selanjutnya memperbaikiprognosa yang diberikan dan bias memantau luaran yang dihasilkan dariterapi.
EKSFRESI GEN SUPEROXIDE DISMUTASE 1 SERTA I{UBUNGANNYA DENGAN FUNGSI TIMUS PENDERITA SINDROMA DOWN Siti Nurhajjah; Rinang Mariko; Raysa Ramayumi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3403.28 KB)

Abstract

lnfeksi merupakan masalah kesehatan pada penderita sindroma Down (SD), sehingga tinggiangka kesakitan dan kematian. Peningkatan ekspresi SOD1 1,5 kali pada penderita SDyang berefek terhadap peningkatan peroksidasi (Hr0r), sehingga diperkirakan sebagai faktorpenyebab apoptosis timus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi gen SOD1 danhubungannya dengan sel timus pada penderita SD. Penelitian ini nnengunakan desain crosssectionalcomparative sfudydengan jumlah sampelsebanyak 50 orang (25 orang penderita SDdan 25 orang kontrol). Darah vena diambil sebanyak 5 cc setiap sampel untuk isolasi RNAdanDNA, ekspresi gen SODl dengan teknik Real Time PCR, sedangkan fungsi timus dilihat dariprensentas TREC. Analisis statistik untuk ekspresi gen dan hubungan antar variabel denganmengunakan uji t. Penelitian ini ditemukan log copy nurnber SOD 1 pada kelompok penderita$D adalah 11,10T t0,44lng cDNA, sedangkan pada kontrol 10,501 t 0,48/ng cDNA,secarastatistik terdapat perbedaan bermakna (P=0,000). Presentase TREC adalah 44,7 + 7,4o/opada kelompok penderita SD dan 57,9t5,4% pada kelompok kontrol. secara st-atistik terdapatperbedaan bermakna p<0,05. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatanekspresi gen SOD 1 pada penderita SD dibandingkan kontrol dan rendahnya prensentasiTREC pada penderita SD dibandingkan kontrol, hal ini mungkin disebabkan terjadi penurunanfungsi timus akibat peningkatan ekspresi gen SOD1.Kata Kunci: sindrom Down, ekspresi gen SOD 1, prensentasi TREC
PENGARUH MINYAK GORENG BEKAS YANG DIMURNIKAN DENGAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifotia) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HEPAR DAN JANTUNG TIKUS Susianti Susanti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6365.89 KB)

Abstract

Pemanasan minyak goreng secara berulang-ulang akan menyebabkan pembentukan radikalbebas. Metode pemurnian minyak goreng bekas dapat dilakukan dengan penambahanantioksidan ke dalam minyak. Salah satu tanaman yang kaya antioksidan adalah mengkudu.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh minyak goreng bekai yangdimurnikan dengan buah mengkudu (Morinda Citrifotia,) terhadap gambaran histopatologihepar dan jantung (miokardium dan arteri koronaria) tikus.Sampel penelitian sebanyak 20 ekor yang dipilih secara acak dibagi dalam 4 kelompok dandiberi perlakuan selama 1 bulan. Kl (kontrol) diberikan aquadest 1Oprl/gram BB,K2 diberikan1Opl/gram BB minyak goreng bekas penggorengan lele 3 jam, K3 diberikan 1gprl/gram BBminyak goreng bekas penggorengan lele 6 jam, dan K4 diberikan regenerasi minyak gorengbekas penggorengan lele 6 jam dengan buah mengkudu sebanyak 1Opl/gram BB.Pemberian minyak goreng bekas yang dimurnikan dengan buah mengkudu (Morinda citrifotia)menurunkan jumlah kerusakan hepatosit, menurunkan,jumlah persentase inTiltrasi lemak padasel otot jantung dan menurunkan ketebalan arteri koronaria tikus wistar jantan.ABSTRACTHeating cooking oil repeatly will result formation of free radicals. Purifying used cooking oil canbe done by giving antioxidant to the oil. Noni fruit is one of the ptant that be rich of antioxidants.The aim of this research is to investigate the effect of used cooking oit which purified by nonifruit to liver and heaft (myocardium and caronary artery) histopathology appearance heart ofrat.ln this study, 20 male Wistar rats divided randomly into 4 groups and given treatment for 4weeks. Kl (control) is given aquadest), K2 (given used cooking oit with 3 hours heating 10 mLlgram BW), K3 (given used cooking oil with 6 hours heating 10 ml/gram BW), K4 (given usedcooking oilwith 6 hours of heating which purified by nonifruit 10 mugram BW).Giving used coaking oil which purified by noni fruit decrease fhe damage of hepatocyte,decreased the fatty infiltration percentage in myocardium and decreased the thickness ofcoronary artery.
Kelainan genetik pada kanker - sindrom kanker herediter Samuel J. Haryono
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.164 KB)

Abstract

Selama dua dekade terakhir, pemahaman terhadap kanker yang bersifat herediter mengalamikemajuan yang cukup pesat. Dari seluruh jenis kanker, hanya sekitar 5-1O% yang diturunkan,dan sebagian besar mempunyai pola pewarisan autosomal dominan. Kelainan genetik yangdapat meningkatkan risiko terjadinya kanker disebut sebagai sindrom kanker herediter (SKH).Pada sebagian besar kasus, sindrom ini disebabkan oleh mutasi pada tumorsuppresso r gene,yaitu gen yang berperan dalam menghambat suatu sel untuk berkembang menjadi kanker.Selain itu, gen-gen lain yang berpotensi mengalami mutasi dalam kasus SKH adalah DNArepairgene, oncogen, dan berbagai gen yang terlibat dalam angiogenesis. Berbagai penemuanbidang genetik molekuler memberikan manfaat yang sangat signifikan dalam manajemenpasien dengan SKH. Sebagai contohnya adalah identifikasi berbagai gen yang memungkinkita untuk mendiagnosis SKH melalui analisa genetik. Dalam praktik klinik, tes genetik untuktujuan diagnosis cukup sering digunakan pada kanker kolon, payudara, ovarium, dan kelenjarendokrin. Berbagaikasus SKH yang paling sering dijumpaiantara lain hereditary nonpolyposiscolorectalcancer(HNPCC) atau Lynch syndrome,familialadenomatous polyposis, hereditarybreast and ovarian cancer, Li-Fraumeni syndrome, Cowden syndrome, da-n lain-lain. Dalammakalah ini, kami akan menggunakan beberapa kasus SKH yang sering dijumpai tersebutsebagai model untuk memberikan ilustrasi mengenai identifikasi, implikasi, dan tatalaksananSKH.
BASAL CELL CARCINOMA IN XERODERMA PIGMENTOSUM IN AN 18.YEAR.OLD MALE Satya Wydya Yenny; Frien Refla Syarif
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7308.83 KB)

Abstract

Xeroderma pigmentosum (XP) is a rare autosomalrecessiye disorder that occurs becauseof inactivation of the xeroderma pigmentosum protein, which is an important DNA damagerecognition protein involved in DNA nucleotide excision repair (NER). This defect, whichprevents removal of a wide array of direct and indirect DNA /esions, is assocrafe d with adecrease in catalase activity. This photosensifive disarder resulfs in multipte face, neck andhead basal cell carcinomas (BCCs), squamous cell carcinomas (SCCsJ and melanomas whichis characterized by cellular hypersensitivity to ultraviolet radiation, development of cancers at anearly age, severe actinic cancer, and photophobia. As a common sfressor of skin, uttraviotet-B(UVB) induces a biphasic HIF-Iq variation through ROS generation in keratinocytes. Wereported a case of an 18-year-old-male with XP presented with BCC on the teft cheek. Thcpatient had hypo- and hyperpigmented macules since early childhood, throughout the body,more on sun exposed areas.AbstrakXeroderma pigmentosum (XP) adalah kelainan autosomal resesif yang jarang terjadidisebabkan oleh inaktivasi protein xeroderma pigmentosum yang merupakan protein pentingpengenal kerusakan DNA yang terlibat dalam nucleotide excision repair (NER) DNA. Defekini mencegah penghapusan beragam lesi DNA langsung dan tidak langsung, terkait denganpenurunan aktivitas katalase. Kelainan fotosensitivitas ini menyebabkan terjadinya basalkarsinoma sel (BCC), karsinoma sel skuamosa (SCC) dan melanoma pada wajah, leher dankepala yang ditandaidengan hipersensitivitas seluler radiasi ultraviolet, perkembangan kankerpada usia dini, kanker actinic yang berat, dan fot'ofobia. Ultraviolet-B (UVB) merupakan stressorpada kuit yang menginduksi variasi HIF-1q bifasik melalui generasi ROS dalam keratinosit.Kami melaporkan kasus XP dengan BCC di pipi kiri pada laki-laki berusia 18 tahun. Pasienmemiliki makula hipo- dan hiperpigmentasisejak masa kanak-kanak awal, seluruh tubuh, lebihpada daerah yang terpapar sinar matahari.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue