cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
STATUS MORBIDITAS ANAK PASCA GEMPA DI KECAMATAN SUNGAI LIMAU KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT Yusri Dianne Jurnalis; Asviandri Asviandri; Eva Chundrayetti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 2: Agustus 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.704 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i2.p%p.2009

Abstract

AbstrakGempa bumi yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat, tanggal 30 September 2009 telah memporak porandakan wilayah Sumatera Barat terutama Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman. Pasca gempa ini akan mempunyai efek terhadap status kesehatan masyarakat terutama anak-anak.Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola penyakit pada anak pasca gempa di Kecamatan Sungai Limau Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif, sampel adalah seluruh pasien anak yang berobat ke pos – pos pengobatan IDAI di Kecamatan Sungai Limau.selama 11 hari, mulai dari tanggal 6 sampai dengan 16 Oktober 2009.Sampel berjumlah 508 orang, anak perempuan (53,1%) lebih banyak dari pada anak laki-laki (46,9%). Ada 5 penyakit terbanyak adalah penyakit saluran pernafasan (57,5%), penyakit kulit (13,6%), diare (12,6%), observasi demam (5,1%) dan trauma (2%). Kelompok umur yang terbanyak adalah 5-10 thn (36,2%) disusul oleh usia 1-5 thn (35,4%).Penyakit yang terbanyak adalah penyakit saluran pernafasan disusul dengan penyakit kulit dan diare. Ketiga penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan faktor sanitasi dan higienes, karena terbatasnya sumber air bersih, rusaknya sarana MCK.Kata kunci : morbiditas, anak, pasca gempaAbstractAn earthquake that occurred in West Sumatra on September 30th 2009 had been destroyed the city and caused so many victims, especially in Padang City and Padang Pariaman District. It will be impacted to the health state after disaster, especially in children.This study’s objective is to see the pattern of disease of the children after the earthquake in Sub-district of Sungai Limau, Padang Pariaman District, West Sumatra.A retrospective study was collected from medical record of all the children who went to “Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)” medical station in Sungai Limau sub-district during 11 days, starts from October 6th until October 16th 2009.ARTIKEL PENELITIAN121The number of sample is 508 children, girls (53.1%) are greater than boys (46.9%). The top of five disease are acute respiratory infection (57.5%), skin disease(13.6%), diarrhea(12.6%), fever observation (5.1%) and trauma (2%). The dominant ages range is between 5 - <10 years (36.2%), followed by ages 1 - <5 years (35.4%).The dominant disease are acute respiratory infection, skin disease and diarrhea.Key words: morbidity state, earthquake, health disaster
HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN SEBAGAI FAKTOR RESIKO INDEPENDEN DIBANDING FAKTOR RESIKO KARDIOVASKULER KLASIK PADA INFARK MIOKARD AKUT Eka Fithra Elfi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.02 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p173-180.2015

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara hs-CRP dengan faktor resiko kardiovaskuler klasik pada pasien dengan infark miokard akut. Penelitian ini merupakan subgroup analisis pada penderita infark miokard akut yang dirawat di RSUP Dr.M.Djamil mulai Januari-April 2013. Faktor resiko kardiovaskuler sebagai variabel independen berupa umur, riwayat hipertensi, diabetes, merokok, dan dislipidemia. Pengukuran IMT, profil lipid, dan gula darah random diambil saat pasien masuk dan diperiksa di Laboratorium Sentral RSUP Dr. M. Djamil Padang. Variabel dependen hs-CRP diambil dalam 24-36 jam rawatan dan diperiksa dengan metode ELISA. Data dianalisis dengan t-test dan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan hs-CRP, secara statistik berhubungan signifikan terhadap IMT (r=0,45; p=0,01), namun tidak berhubungan dengan faktor resiko kardiovaskuler lain seperti usia, hipertensi, diabetes, merokok, dan dislipidemia. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan hs-CRP tidak berhubungan dengan faktor resiko kardiovaskuler klasik dan hs-CRP merupakan faktor resiko yang bersifat independen. Pemeriksaan ini bisa menjadi prediksi penyakit kardiovaskuler dan juga sebagai nilai prognostik pada pasien infark miokard akut.Abstract This study aimed to analyze the relationship between hs-CRP with classic cardiovascular risk factors in patients with acute myocardial infarction. This study was a subgroup analysis in patients with acute myocardial infarction who were hospitalized in Dr.M.Djamil hospital started from January to April 2013. Cardiovascular risk factors as independent variables were age, history of hypertension, diabetes, smoking, and dyslipidemia. Measurement of BMI, lipid profile, and random blood sugar were taken and examined at admission. The dependent variable hs-CRP were taken within 24-36 hours of admission and examined by ELISA. Data was analyzed by t-test and Pearson correlation test. The results showed an increase in hs-CRP and significantly related to BMI (r = 0.45; p=0.01), but not associated with other cardiovascular risk factors such as age, hypertension, diabetes, smoking, and dyslipidemia. It was concluded that increased hs-CRP was not associated with classic cardiovascular risk factors and hs-CRP is an independent risk factor. Hs-CRP examination could be a predictive of cardiovascular disease as well as prognostic value in patients with acute myocardial infarction.
Preface and ToC - Vol 35, No 1 (2011) Redaksi MKA
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.369 KB)

Abstract

Kelainan genetik pada kanker - sindrom kanker herediter Samuel J. Haryono
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.164 KB)

Abstract

Selama dua dekade terakhir, pemahaman terhadap kanker yang bersifat herediter mengalamikemajuan yang cukup pesat. Dari seluruh jenis kanker, hanya sekitar 5-1O% yang diturunkan,dan sebagian besar mempunyai pola pewarisan autosomal dominan. Kelainan genetik yangdapat meningkatkan risiko terjadinya kanker disebut sebagai sindrom kanker herediter (SKH).Pada sebagian besar kasus, sindrom ini disebabkan oleh mutasi pada tumorsuppresso r gene,yaitu gen yang berperan dalam menghambat suatu sel untuk berkembang menjadi kanker.Selain itu, gen-gen lain yang berpotensi mengalami mutasi dalam kasus SKH adalah DNArepairgene, oncogen, dan berbagai gen yang terlibat dalam angiogenesis. Berbagai penemuanbidang genetik molekuler memberikan manfaat yang sangat signifikan dalam manajemenpasien dengan SKH. Sebagai contohnya adalah identifikasi berbagai gen yang memungkinkita untuk mendiagnosis SKH melalui analisa genetik. Dalam praktik klinik, tes genetik untuktujuan diagnosis cukup sering digunakan pada kanker kolon, payudara, ovarium, dan kelenjarendokrin. Berbagaikasus SKH yang paling sering dijumpaiantara lain hereditary nonpolyposiscolorectalcancer(HNPCC) atau Lynch syndrome,familialadenomatous polyposis, hereditarybreast and ovarian cancer, Li-Fraumeni syndrome, Cowden syndrome, da-n lain-lain. Dalammakalah ini, kami akan menggunakan beberapa kasus SKH yang sering dijumpai tersebutsebagai model untuk memberikan ilustrasi mengenai identifikasi, implikasi, dan tatalaksananSKH.
ABSES HATI PIOGENIK Yusri Dianne Jurnalis; Delfican Delfican; Yorva Sayoeti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.543 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p106-112.2012

Abstract

AbstrakAbses hati piogenik merupakan suatu kondisi yang berat dan mengancam kehidupan dengan angka mortalitas yang tinggi sehingga membutuhkan diagnostik dan terapi yang akurat. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri perut bagian atas, hepatomegali, demam tinggi, mual dan muntah. Gejala ini bervariasi sesuai ukuran abses, keadaan umum pasien, adanya penyakit dasar dan komplikasi. Pada sebagian besar kasus, penyakit dasarnya tidak diketahui. Abses biasanya soliter dan terletak di lobus kanan hati. USG dan CT scan abdomen merupakan sarana diagnostik utama. Abses hati piogenik diterapi dengan aspirasi perkutaneus bersamaan dengan antibiotik. Jika gagal, drainase dengan pembedahan dibutuhkan. Dengan adanya terapi invasif yang minimal seperti aspirasi jarum perkutaneus atau drainase kateter yang dipandu secara radiologis serta ketersediaan antibiotik berspektrum luas, pasien jarang membutuhkan tindakan pembedahan saat ini.Kata kunci : abses hati piogenik, aspirasi perkutaneus, drainase bedahAbstractPyogenic liver abscess (PLA) is a serious, life threatening condition with a high mortality rate that represents a diagnostic and therapeutic challenge. The most common presenting clinical symptoms are upper abdominal pain, tenderness, hepatomegaly, high-grade fever, nausea and vomiting. These features are variable depending upon the size of the abscess, general health of the patient, associated diseases and complications. In majority of the cases, the underlying cause could not be identified. Majority of abscesses are solitary and are noted in the right lobe of liver. USG and CT of the abdomen are the main tools of diagnosis. PLAs are mainly treated by percutaneous aspiration under antibiotic cover. If fails, surgical drainage becomes necessary. However, with the advent of minimally invasive therapy such as image-guided percutaneous needle aspiration or catheter drainage and the availability of broadspectrum antibiotics, patients with PLA nowadays seldom require open surgery for treatment.Key word : pyogenic liver abscess, percutaneous aspiration, surgical drainage
HUBUNGAN NILAI ANKLE BRACHIAL INDEKS DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA Lydia Susanti; Yuliarni Syafrita
Majalah Kedokteran Andalas Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.092 KB) | DOI: 10.22338/mka.v39.i2.p58-64.2016

Abstract

Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, serta aterosklerosis. Aterosklerosis pada tahap awal yang dikenal dengan atherosclerosis asimptomatis sering ditandai dengan adanya Peripheral Arterial Disease (PAD). Ankle Brachial Index (ABI) adalah ratio tekanan sistolik ankle dan brachial yang dapat digunakan untuk menilai severitas oklusi arteri perifer yang merupakan gambaran penyumbatan arteri secara umum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara nilai ABI dengan fungsi kognitif. Penelitian dilakukan pada 75 pasien lanjut usia yang berobat ke poliklinik saraf RS DR M Djamil Padang dengan metode consecutive sampling. Pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan Indonesia Montreal Cognitive Assessment (InaMoCA). Data dianalisa dengan uji χ2 dengan nilai p<0,05. Hasil penelitian didapatkan gangguan sebanyak 48 orang (64%). Nilai ABI yang rendah sejumlah 31 orang (41,3%), normal 44 orang (58,7%). Tidak didapatkan hubungan langsung antara nilai ABI dengan fungsi kognitif (p>0,05). Namun setelah sampel dispesifikasikan berdasarkan jenis kelamin, hubungan antara ABI dengan fungsi kognitif pada wanita bermakna secara statistik (p<0,05). Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan antara nilai ABI dengan fungsi kognitif pada lanjut usia, namun terdapat hubungan antara nilai ABI dengan fungsi kognitif pada lanjut usia berjenis kelamin wanita.
PROFIL GANGGUAN ELEKTROLIT DAN KESEIMBANGAN ASAM BASA PADA PASIEN DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI BERAT DI RUANG RAWAT INAP BAGIAN ANAK RS DR. M. DJAMIL PADANG Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Sari Dewi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 1: April 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.773 KB) | DOI: 10.22338/mka.v32.i1.p70-74.2008

Abstract

AbstrakDiare akut merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup banyak ditemukan pada bayi dan anak. Asidosis metabolik dan gangguan elektrolit adalah komplikasi yang serius dan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi pada tatalaksana yang tidak tepat. Untuk mengetahui gangguan elektrolit dan asam basa pada pasien diare akut dehidrasi berat, lama rawatan, lamanya diare serta hubungannya dengan komplikasi diare akut dehidrasi berat perlu diteliti. Penelitian ini merupakan studi retrospektif, dilakukan pada pasien rawat inap dengan diare akut dehidrasi berat yang dirawat di bangsal Ilmu Kesehatan Anak RS DR. M. Djamil Padang dari tanggal 1 Januari s/d 31 Desember 2007. Pencatatan dilakukan pada umur, jenis kelamin, lama diare, lama dirawat, dan adanya gejala encephalopati. Juga dicatat hasil pemeriksaan elektrolit dan analisis gas darah. Didapatkan 29 pasien diare akut dengan dehidrasi berat yang memenuhi kriteria penelitian. Umur rata-rata 11,14±7,06 bulan, perempuan 24,1% dan laki-laki 75,9%. Komplikasi diare akut dehidrasi berat adalah asidosis metabolik 75,9%, enchepalopati 13,8%, hiponatremi 44,8%, hipernatremi 10,3%, hipokalemi 62%, hiperkalemi 10,3%. Rata-rata dari perawatan rumah sakit adalah 4,69±1,87 hari, lama menderita diare 8,62±2,98 hari. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama menderita diare dengan kejadian asidosis metabolik (p=0,045) dan hiponatremi (p=0,035). Tidak ada hubungan bermakna antara lama perawatan dengan asidosis metabolik, enchepalopati, hiponatremi, hipernatremi, hipokalemi dan hiperkalemi. Kejadian asidosis metabolik dan hiponatremi berhubungan bermakna dengan lamanya pasien menderita diare akut dehidrasi berat.Kata kunci: Diare, dehidrasi berat, elektrolit, keseimbangan asam basa, lama diareAbstractAcute diarrhea remains one of the most prevalent health problems facing infants and young children. Metabolic acidosis and electrolyte imbalance are serious complications associated with high mortality rate among inappropriately managed patients. To find out the prevalence of electrolyte and acid base imbalance in severely dehydrated diarrhea patients, hospitalisation time, the duration of diarrhea related to complications need to be studied. A restrospective study was done at PediatricARTIKEL PENELITIAN71Department, DR. M. Djamil Hospital Padang from January to December 2007. Age, sex, duration of diarrhea, length of hospitalisation and encephalopathy were recorded. Sodium and potassium level, and gas blood analysis were analysed. Twenty nine hospitalized patients with severely dehydrated diarrhea were enrolled in this study. Mean age were 11.14±7.06 months, female 24.1% and male 75.9%. The complications were metabolic acidosis in 75.9%, encephalopathy 13.8%, hyponatremia 44.8%, hypernatremia 10.3%, hypokalemia 62%, hyperkalemia 10.3%. Mean length of hospitalisation was 4.69±1.87 days, duration of diarrhea was 8.62±2.981 days. The duration of diarrhea related significantly with metabolic acidosis (p=0.045) and hyponatremia (p=0.035). No significant correlation was found between length of hospitalisation with metabolic acidosis, encephalopathy, hyponatremia, hyper-natremia, hypokalemia, or hyperkalemia. Metabolic acidosis and hyponatremia were associated significantly with duration of severely dehydrated diarrhea.Keywords : Diarrhea, severe dehidration, electrolyte, acid babase imbalance, duration of diarrhea.
PENGEMBANGAN ANTIVIRUS HUMAN PAPILLOMA VIRUS BERBASIS MOLEKUL KECIL Dwi Wulandari; T. Mirawati Sudiro
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.392 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i1.p58-63.2014

Abstract

AbstrakSekalipun telah ada program skrining deteksi dini infeksi HPV maupun kanker servis sertaadanya dua vaksin yang telah berlisensi, sekarang ini belum ada obat antivirus yang efektif.Prospek pengembangan molekul kecil inhibitor sebagai antivirus HPV sangat menjanjikan.Modulasi interaksi diantara protein-protein virus atau protein virus dengan protein hospesmenjadi strategi dalam upaya pengembangan molekul inhibitor sebagai antiviral HPV. Halini didukung oleh kemajuan pengetahuan mengenai fungsi protein HPV yang terlibat dalamsiklus hidupnya diantaranya yaitu protein E1, E2, E6 dan E7. Beberapa kandidat antivirustelah ditemukan dan masih dalam penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan senyawa turunandengan aktivitas yang lebih tinggi diantaranya asam bifenil sulfonasetat (inhibitor ATPase E1).Indandione dan repaglinide (inhibitor interaksi E1-E2) dan senyawa-senyawa lainnya.AbstractEventhough there has been screening programs for HPV infection and cervical canceras well as the two vaccines that have been licensed, currently there is no effective cure forHPV. The prospects of the development of small molecule inhibitors as HPV antiviral is verypromising. Development strategy was based on the modulation of interactions between viralproteins or viral proteins with host proteins. This is supported by the advances in knowledgeabout HPV’s protein functions involved in their life cycle such as E1, E2, E6 and E7 proteins.Some antiviral molecule candidates have been found and need further studies to obtainderivatives with higher activity including acid biphenyl sulfonasetat (inhibitor ATPase E1),Indandione & repaglinide (inhibitor interaction E1-E2), etc.
Terapi bedah pada vitiligo Yessy Farina Salim; Sri Lestari
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.567 KB) | DOI: 10.25077/mka.v41.i2.p88-93.2018

Abstract

Vitiligo merupakan suatu gangguan pigmentasi kulit didapat, ditandai dengan adanya makula hipopigmentasi berwarna putih susu berbatas tegas disebabkan oleh hilangnya fungsi melanosit secara kronik dan progresif dari epidermis. Vitiligo merupakan penyakit multifaktorial, gangguan poligenik, dengan patogenesis yang masih belum jelas. Tujuan pengobatan  adalah  terhentinya progresifitas penyakit dan peningkatan repigmentasi. Terdapat tiga pola mekanisme repigmentasi pada vitiligo antara lain berawal dari unit folikel rambut (perifolikular), meluas dari tepi (marginal), dan  difusa. Terdapat beberapa modalitas terapi diantaranya topikal, oral, fototerapi, tindakan bedah maupun alternatif. Tujuan: Untuk mengetahui terapi bedah pada vitiligo. Metode: Review yang dilakukan pada beberapa literatur atau jurnal yang membahas tentang vitiligo dan terapi bedah pada vitiligo. Hasil: Tindakan bedah dapat dibagi menjadi dua teknik dasar yaitu cangkok jaringan yang meliputi split thickness skin grafting, mini punch grafting, cangkok folikel rambut normal dan cangkok selular dengan atau tanpa pembiakkan melanosit. Simpulan: Prinsip dasar tindakan bedah pada vitiligo adalah usaha pembedahan untuk memperoleh  repigmentasi lesi vitiligo yang dapat diterima secara kosmetik dengan transplantasi melanosit autolog dari kulit normal ke lesi vitiligo.
EFEK EKSTRAK MAHKOTA DEWA (Phaleria Macrocarpa) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID SERUM PADA MENCIT DIABETES MELITUS AKIBAT INDUKSI ALOKSAN Zulkarnain Edward; Eti Yerizel
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 1: April 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.737 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i1.p%p.2009

Abstract

AbstrakStress oksidatif yang terjadi pada diabetes melitus (DM) yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan peroksidasi lipid yang menghasilkan malondialdehid (MDA). Untuk menekan stress oksidatif diperlukan antioksidan tambahan dari ekstrak mahkota dewa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek ekstrak mahkota dewa terhadap kadar malondealdehide serum pada mencit DM akibat induksi aloksan.Penelitian ini dilakukan di laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dengan menggunakan binatang percobaan 12 ekor mencit yang berumur 3 bulan. Binatang percobaan dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif (175 mg aloksan/kg BB) dan kelompok perlakuan (175 mg aloksan/kg BB dan 500 mg ekstrak mahkota dewa extract/kg BB). Data yang didapat dianalisa secara statistik dengan uji One Way Anova.Hasil penelitian menunjukan kadar MDA serum kelompok kontrol negatif 4,43 + 0,02 nmol/ml, kelompok kontrol positif 5,32 + 0,74 nmol/ml dan kelompok perlakuan 3,98 + 0,38 nmol/ml. Terdapat perbedaan yang bermakna (p˂0,05) antara kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak mahkota dewa bisa menurunkan kadar MDA serum pada mencit DM akibat induksi aloksan.Kata kunci : mahkota dewa, aloksan, diabetes melitus, MDAAbstractMalondialdehide (MDA) is the important marker of lipid peroxidation and showed that progression of diabetic evidence is corelated with oxidative stress and can be folowed up by MDA measurement. This research was conducted to study the effect of mahkota dewa extract on the MDA serum level on diabetes mellitus aloxan-induced rats.This research was held at Biochemistry Laboratory Medical Faculty of Andalas University Padang. Twelve Wistar rats of 3 months age were used. The rats wereARTIKEL PENELITIAN66grouped into 3 treatment i.e. 1) negative control, 2) positive control (175 mg aloxan/kg BW) and 3) treated group (175 mg aloxan/kg BW and 500 mg mahkota dewa extract/kg BW). The data was analyzed by one way anova test.The results showed that MDA serum level was 4.43 + 0.02 nmol/ml for the negative control group, 5.32 + 0.74 nmol/ml for positive control group and 3.98 + 0.38 nmol/ml for treated group. There were significant differences (p; 0.05) between negative control, positive control and treated groups. It can be concluded that the mahkota dewa extract decreases MDA level in diabetes mellitus aloxan-induced rats.Keywords : mahkota dewa, alloxan, diabetes mellitus, MDA

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue