cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
Pembedahan Pada Tumor Ganas Payudara Wirsma Arif Harahap
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3281.172 KB)

Abstract

Pembedahan Pada Tumor Ganas Payudara
PENDEKATAN PSIKONEUROIMUNOLOGI Adnil Edwin Nurdin
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.169 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i2.p90-101.2010

Abstract

AbstrakPsikoneuroimunologi merupakan konsep terintegrasi mengenai fungsi regulasi-imun untuk mempertahankan homeostasis. Untuk mempertahankan homeostasis, sistem imun berintegrasi dengan proses psikofisiologik otak, dan karena itu mempengaruhi dan dipengaruhi otak. Melalui pendekatan ini telah mulai dipahami mekanisme interaksi antara perilaku, sistem saraf, sistem endokrin, dan fungsi imun. Komponen perilaku dari interaksi ini melibatkan kondisioning Pavlov pada peningkatan maupun penekanan antibodi dan respon imun seluler. Kondisioning ini berekspresi sebagai efek pengalaman stress terhadap fungsi imun. Selanjutnya diketahui bahwa mekanisme terintegrasi ini berlangsung dalam ritme yang berkaitan dengan ritme lingkungan seperti ritme Sirkadian. Respon stress berkelanjutan berekspresi sebagai sindroma adaptasi umum. Sebagai respon akut dimulai dengan initial brief alarm reaction. Dalam tahap ini peningkatan sekresi cortisol pada aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) menimbulkan supresi pada sebagian besar fungsi imun dan peningkatan aktifitas sistem simpatis. Bila stress tidak dapat diatasi secara efektif, tahap kedua prolonged resistance period akan dimulai, dimana aktivasi aksis HPA akan menurun tetapi tidak pernah mencapai kondisi basal. Kegagalan berkelanjutan untuk mengatasi stress akan berakhir pada terminal stage of exhaustion and death. Aplikasi medis psikoneuroimunologi akan meningkatkan efektifitas terapi penyakit keganasan, gangguan kardiovaskular, penyakit infeksi, trauma fisik, transplantasi, dan gangguan jiwa.Kata kunci: aksis HPA, antibodi, aplikasi medis, cortisol, homeostasis, melawan atau lari, otak, Pavlov, perilaku, psikofisiologik, psikoneuroimunologi, sindroma adaptasi umum, sistem imun, sistem LS-NA, respon stress, ritme SirkadianAbstractPsychoneuroimmunology is an integrated concept of immune-regulatory function. To maintain homeostasis, the immune system is integrated with psychophysiological processes of the brain, and is therefore influenced by and capable of influencing the brain. Mechanism of interaction among behavior, neural, endocrine, and immune functions in adaptation to environmental stressors have come to light. The behavioral components of this interaction involve the Pavlov conditioning both in the enhancement and supression of antibody-and cell-mediated immune responses. This conditioning expressed as effects of stressful experiences on immune function. This integrated mechanism operated in a rhythmTINJAUAN PUSTAKA91related to environmental rhythm such as Circadian rhythm. Prolonged stress response will be expressed as general adaptation syndrome. As an acute response it will begin with initial brief alarm reaction. In this stage increased cortisol secretion in Hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis resulted in supression of main immune function and arousal of sympathetic system If the stress can not be coped effectivelly, a second stage of prolonged resistance period will begin, in which HPA axis activation will be decreased but never reach the basal condition. Continued failure to cope with the stress will end in terminal stage of exhaustion and death.Medical application of psychoimmunology can enchance the effectivity of the treatment of malignancy, cardiovascular disorder, infectious diseases, physical trauma, transplantation, and mental disorder.Key word : antibody, behavioral, brain, Circadian rhythm, cortisol, fight or flight, general adaptation syndrome, homeostasis, HPA axis, immune system, LC-NA system, medical application, Pavlov, psychoneuroimmunology, psychophysiological, stress responses
POLIMORFISTIE GEN TNF-q G-238A DAN IL-4 T-34C SERTA HUBUNGAN DENGAN KADAR IL-4 DAN TNF-q PASIEN PENYAKIT GRAVES Raveinal Raveinal; Siti Nurhajjah; Dwitya Elvira; Suci Maulida
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4170.55 KB)

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Graves adalah hipertiraidisme ditandai pembesaran tiroid difus dengan penyebab imunologi. Kondisi autoimun dengan adanya antibodi lmunoglobulin G (lgG) yang mengikat dan mengaktifkan reseptor tirotropin. Pemberian PTU dapat menurunkan hormon tiroid mencapai normal akan tetapi kadar lL-4 tidak pernah mencapai nilai normal. Penyakit Graves di Taiwan didapatkan polimorfisme gen promotor sitokin TNF-q G-238A, sedangkan gen IL-4 tidak berbeda dibanding kontrol sehat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui danmenganalis polimorfrsme TNF-o G-238A dan gen ll-i T-34C serta hubungannya dengan antibcCr tiroid, kadar lL-4 dan TNF-q pasien penyakit Graves. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik, dengan jumlah sampel 35 orang pasien penyakit Graves di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Darah vena diambil sebanyak 10 cc untuk isolasi DNA, kadar TNF-q dan lL-4. Pemeriksaan polimorfisme gen gen TNF-o G-238Adan IL-4 T-34C dengan teknik PCR-RFLP menggunakan enzym retriksi /'lzlsp/ dan Mnll serta dielektroporesis pada agarose 2%. Pemeriksaan TNF-q dan kadar IL-4 rnengunakan teknik ELISA. Analisis statistik untuk polimorfisme gen dengan uji Chi-Square dan untuk melihat hubungan antar variabel menggunakan uji ANOVA. Hasil: Didapatkan polimorfisme TNF-q G-238A dengan distribusi alel GG (91,4%), GA (8,6%) dan AA (0%). Frekuensi alel G adalah 95,99% dan alel A 4,3%.Rerata kadar TNF-q adalah 62,8+16,6 pg/ml. Polimorfisme gen lL-4 T-34C dengan distribusi alel TT t28,6 % ),TC ( 28,6 oA ), CC (42,9 %). Frekuensi alel T adalah 42,9 % dan alel C adalah 57,1 %. Rerata kadar lL-4 adalah sebesar 22,8 t9,4 pg/ml. Kesimpulan: penelitian ini dapat disimpulkan bahwa polimorfisme gen lL-4 T-34C lebih tinggi didapatkan pada penderita penyakit Graves dan terdapat kaiian antara polimorfisme gen inidengan peningkatan kadar IL-4. Kemungkinan adanya kaitan antara polimorfisme gen lL-4 T-34C dengan kejadian penyakit Graves.
TRANSPOSISI ARTERI BESAR PADA DEWASA Deni Arisanti; Rony Yuliwansyah; Akmal Edi M Hanif; Yerizal Karani; Saharman Leman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.062 KB) | DOI: 10.22338/mka.v35.i2.p181-187.2011

Abstract

AbstrakSeorang laki-laki umur 50 tahun dirawat di Emergensi Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan utama sesak nafas meningkat sejak 1 hari yang lalu. Sesak nafas semakin meningkat jika beraktifitas, dan berkurang jika istirahat dengan posisi bantal yang ditinggikan. Jika sesak nafas sering diikuti dengan bibir dan kuku yang membiru. Pasien sudah dikenal menderita penyakit jantung bawaan, awalnya lahir dengan kulit kebiruan dan mudah tersedak jika menyusu. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: Clubbing finger, sianosis, peningkatan Vena Jugolaris, kardiomegali, dan pitting oedema. Dari laboratorium didapatkan: Hemoglobin: 17,1 gr/dl, Hematokrit : 62%, Ureum : 39 mg/dl, Kreatinin : 2,0 mg/dl, TKK :31, Echo Cardiography: Transposisi Arteri Besar, Large Ventrikel Septal Devect, trikuspit regurgitasi dengan hipertensi pulmonal dan moderat Mitral Regurgitasi. Pasien di diagnosa dengan Congestive Heart Failure Functional Class IV LVH- RVH, irama RBBB karena transposisi Arteri Besar dengan Ventrikel Septal Defek.Kata kunci: Transposisi Arteri Besar, Kelainan Jantung Bawaan.AbstractHas been treated a 50 years old man was hospitallized in Internal emengency Department of Dr. M. Djamil Hospital Padang with cief complaints of shortness of breath influenced activity, frequent night waking due to shortness of breath, and an elevated bed with a pillow. On physical examination found: clubbing, cyanosis, increased Jugolaris veins, cardiomegaly, and pitting edema. From the laboratium: Hemoglobin: 17,1 gr/dl, Hematokrit : 62%, Ureum : 39 mg/dl, Kreatinin : 2,0 mg/dl, TKK :31, Echo Cardiography shows: Transposition of the Great Arteries, Large Ventricle Septal Defect, Tricuspid Regurgitation with pulmonary hypertension, and moderate Mitral Regurgitation. Patients with definitife diagnosis: Congestive Heart Failure Functional Class IV LVH- RVH, RBBB rhythm Cause By Transposition of the Great Arteries with a Ventrikel Septal Defec.Key word : Transposition of the Great Arteries, Kongenital Heart Desease.
PERANAN PATOLOGI DALAM DIAGNOSTIK TUMOR PAYUDARA Noza Hilbertina
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.383 KB)

Abstract

SITUASI CAMPAK PADA BALITA (12 -59 Bulan) DI PROPINSI SUMATERA BARAT, DKI JAYA, JAWA BARAT DAN BANTEN) PADA TAHUN 2007 (Analisa Lanjut RISKESDAS 2007) Salma Ma’roef
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 1: April 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.799 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i1.p%p.2009

Abstract

AbstrakPenyakit campak di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan karena diperkirakan 76% orang yang rentan dalam rumah tangga. Insiden kasus pada tahun 2006 golongan umur 12-59 bulan mempati urutan paling pertama yaitu 34,94%. Tujuan dari penelitian untuk melihat gambaran kejadian campak pada empat propinsi ini.Desain penelitian analisa lanjut RISKESDAS 2007 secara cross-sectional di empat propinsi (Sumatera Barat, DKI Jaya, Jawa Barat dan Banten). Populasi dalam RISKESDAS 2007 adalah seluruh rumah tangga yang terpilih menurut blok Sensus dalam Susenas 2007 yaitu two stage sampling dari tiap kabupaten/kota. Kemudian dari kabupaten/kota diambil secara porposional terhadap jumlah rumah tangga (probability proporsional tosize). Setiap blok Sensus diambil 16 rumah tangga secara acak sederhana (simple random sample). Unit sampel seluruh anggota rumah tangga yang terpilih mempunyai balita (berusia 12-59 bulan) dari proses tersebut diatas dapat digunakan sebagai unit analisis. Penelitian melalui wawancara menggunakan kuesioner. Variabel terikat adalah balita yang menderita campak berdasarkan diagnosa petugas dan berdasarkan informasi gejala dari keluarga dan sebagai variabel bebas adalah jumlah balita, cakupan imunisasi dan cakupan vitamin A.Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus berdasarkan diagnosa oleh petugas kesehatan adalah 4,3% di antaranya propinsi DKI Jaya paling banyak (6,9%), sedangkan berdasarkan informasi keluarga dari gejala sebanyak 1,1% di antaranya propinsi Banten paling tinggi (1,8%). Setelah penggabungan jumlah kasus campak menjadi 4,9% diantara propinsi DKI Jaya paling besar (7,5%) dan yang paling rendah propinsi Sumatera Barat (4,1%). Cakupan imunisasi campak sebanyak 65,2% di ataranya propinsi DKI Jaya paling tinggi (71,0%) dan propinsi Banten paling rendah (52,9%).Demikian juga cakupan vitamin A dua kali dalam satu tahun sama (65,2%) di antaranya propinsi Sumatera Barat paling tinggi (79,9%). Odds Ratio (OR) imunisasi 1,6 bermakna (p= 0,001) dan OR pemberian vitamin A adalah 8,3 dan tidak bermakna (p > 0,05). Untuk menurunkan resiko penyakit campak (menurut telaah) maka perlu diberikan vitamin A untuk meningkatkan kekebalan atau antibodi dalam darah, hal ini terlihat di propinsi Sumatera Barat dengan populasi cukup besar serta jumlah kasus paling rendahARTIKEL PENELITIAN19(4,1%), walaupun cakupan imunisasi rendah (61,0%) sedangkan cakupan vitamin A tinggi (79,9%). Informasi ini bisa sebagai masukan program pemberatasan campak dan perlu ditingkatkan kualitas kerja bidan atau petugas kesehatan atau perlu diamati apakah adanya virulensi vaksin meningkat atau perlu dilakukan iminisasi ulang.Kata kunci : balita, campak, imunisasi, vitamin AAbstractMeasles in Indonesia is still become a health problem because it is estimated that 76% of people were vunerable of infection in the household. That case ncident of children aged 12-59 moths to be the first sequence which is 34.94% The aim of the research is to see the picture of measles incidence in four provinces.The design of this Riskesdas 2007 reseach is cross-sectional study, and was held in four provinces (West Sumatera, DKI Jaya, West Java and Banten). Population in 2007 was Riskesdas all households selected according to the survey, the Census block 2007 is a two stage sampling from each district/city. Then from all the districts were taken by porposional to total households (probability proportional to size). Each block of the Census taken 16 households was randomly (simple random samples). Unit samples all household members who elected to have children (12-59 months old) from the above process can be used as the unit of analysis. Research through interviews using a questionnaire. Dependent variables were the infants who suffer from measles diagnosis based on symptoms of the officers and based on information from family and as an independent variable is the number of children under five, immunization coverage and coverage of vitamin A.The results showed that the number of cases based on diagnosis by health workers was 4.3% among the provinces of DKI Jaya’s most lots (6.9%), while based on information from the family as much as 1.1% of symptoms among the highest of Banten province (1.8%). After the merger the number of measles cases to 4.9% among the largest province of DKI Jaya (7.5%) and lowest of West Sumatera province (4.1%). Measles immunization coverage as much as 65.2% in DKI Jaya province among the highest (71.0%) and the lowest Banten province (52.9%). Similarly, coverage of vitamine A twice in the same year (65.2%), provinces including West Sumatera the highest (79.9%). Odds ratio (OR) 1.6 immunization was significant (p=0.001) and the OR of vitamin A is 8,3 and not significantly (p>0.05). Followed the risk for measles (under review) it needs to be given vitamin A to increase immunity or antibodies in the blood, it can be seen in the provinces of West Sumatera with a population large enough and the lowest number cases (4.1%)., although low immunization caverage (61.0%) while the high coverage of vitamin A (79.9%). This information can serve as input control programs measles and should be improved quality of midwives or health workers or need to be observed wether the increased virulence of caccines or immunizations repeated as done.Keywords: children, mesales, immunization, vitamin A
PROFIL LEUKOKORIA PADA ANAK DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG Kemala Sayuti; Azwin Aziz; Maya Nasrul
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.511 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i1.p38-43.2014

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini ialah menilai penyebab leukokoria pada pasien anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan rancang studi cross sectional. Data dikumpulkan dari medical record pasien dengan riwayat leukokoria atau pupil putih yang berusia kurang dari 13 tahun di bagian mata RSUP Dr M Djamil Padang periode Oktober 2009 Februari 2011. Diagnosis banding disingkirkan melalui pemeriksaan USG dan patologi. Dari 36 pasien dengan leukokoria, 21 orang (58,3%) laki-laki dan umur rata-rata 31,3 bulan. Penyebab leukokoria adalah retinoblastoma 12 pasien (33,4%), tiga diantaranya bilateral, katarak kongenital 11 pasien (30,5%), delapan diantaranya bilateral, katarak traumatika 5 pasien (13,8%), uveitis intra uterin 2 pasien (5,5%), keduanya bilateral, dan ROP 2 pasien (5,5%), satu diantaranya bilateral. Kami juga menemukan penyebab lain, masing-masing satu pasien dengan leukokoria unilateral, antara lain: PHPV (2,7%), endoftalmitis eksogen (2,7%), uveitis anterior (2,7%), dan glioma nervus optikus (2,7%). Sangat krusial mengetahui perbedaan gambaran klinik retinoblastoma dan katarak kongenital, karena pengobatannya berbeda, dan retinoblastoma mengancam kehidupan, sedangkan katarak kongenital mengancam penglihatan.AbstractThe objective of this study was to determine the etiology of leukocoria in children using cross sectional study conducted in eye clinic of Dr. M. Djamil Hospital Padang. Samples were taken from medical records of patients with children leukocoria during the period of October 2009 to February 2011. Differential diagnosis eliminated by USG and pathology examination. There were 36 children with leukocoria in total, 21 of them were boys (58,3%). The mean age was 31.3 months old. The causes of leukocoria were retinoblastoma in 12 patients (33,4%) three of them were bilateral, followed respectively by congenital cataract in 11 patients (30.5%) which 8 of them were bilateral, traumatic cataract in 5 patients (13.8%), intrauterine uveitis in 2 patients (5,5%) both were bilateral, and ROP in 2 patients (5,5%) which one of them was bilateral. We also found one patient each with unilateral leukocoria for following causes: PHPV (2.7%), exogen endophthalmitis (2.7%), anterior uveitis (2,7%), and optic nerve glioma (2.7%). Thus, awareness and clinical knowledge to differentiate retinoblastoma and congenital cataract are crucial for appropriate treatment, since retinoblastoma can cost patient’s life while congenital cataract can threat sight condition.
Profil kepemilikan dan tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang buku kia di Kabupaten Padang Pariaman Masrul Masrul
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.914 KB) | DOI: 10.25077/mka.v42.i2.p50-55.2019

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator yang mampu menilai derajat kesehatan masyarakat. Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak adalah dengan memperbaiki pelayanan kesehatan terutama kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dengan pemanfaatan penggunaan buku KIA. Tujuan: Untuk menentukan tingkat kepemilikan buku KIA dan tingkat pemahaman ibu terhadap buku KIA yang dimiliki. Metode: Data ini sebagian dari penelitian yang menggunakan kuasi eksperimental pre-post dimana pada 3 kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman. Kecamatan yang diambil adalah kecamatan yang masalah stunting cukup tinggi, kemudian tingkat kepemilikan buku KIA yang rendah dan angka penimbangan yang rendah. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 102 responden ibu hamil, dan ibu yang memiliki anak balita. Hasil: Lebih dari sepertiga 37,3% ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, 81,4% ibu tidak bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Sebanyak 83,3% ibu yang memiliki buku KIA. Simpulan: Sebagian besar responden (>75%) tidak tahu informasi yang ada di buku KIA. Masih ada ibu-ibu yang tidak memiliki buku KIA dan masih rendahnya informasi yang dimiliki ibu-ibu tentang buku KIA.
Hubungan kadar zink dan kenaikan berat badan ibu hamil dengan berat badan bayi lahir di RSUD Curup Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu Ade Wahyulian Wijaksono; Rosfita Rasyid; Rinang Mariko
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.98 KB) | DOI: 10.25077/mka.v42.i2.p56-61.2019

Abstract

Berat badan lahir bayi merupakan salah satu penanda asupan gizi ibu selama kehamilan. Zink adalah salah satu mikronutrien penting untuk fungsi sejumlah enzim dan hormon pertumbuhan. Defisiensi zink dan kenaikan berat badan selama kehamilan yang kurang dari normal dapat menyebabkan berat badan lahir rendah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kadar zink dan kenaikan berat badan ibu selama kehamilan dengan berat badan lahir bayi. Metode: Desain penelitian ini adalah cross-sectional, observasi pada 39 orang ibu yang pada waktu hamil trimester III pernah datang memeriksakan kehamilannya dan tercatat telah melahirkan di RSUD Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Kadar zink diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat dengan immunoassay, dan kenaikan berat badan ibu hamil diperiksa dengan mengukur selisih berat badan trimester III dengan sebelum kehamilan. Hasil: Didapatkan rerata kadar zink ibu hamil aterm adalah 60,35±39,16 μg/dL; rerata kenaikan berat badan ibu hamil aterm adalah 11,59±5,95 kg; dan rerata berat badan lahir bayi 3002,56±580,60 gr. Terdapat korelasi sangat kuat antara kadar zink dan kenaikan berat badan ibu hamil aterm dengan berat badan lahir bayi, dengan nilai p=0,000 dan r=0,879. Simpulan: Nilai korelasi (r) yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi kenaikan berat badan ibu hamil, maka diperkirakan berat badan bayi yang dilahirkan semakin besar, dan sebaliknya.
Implementasi metode Global Trigger Tool IHI (Institute for Healthcare Improvement) untuk identifikasi kejadian tak diinginkan (KTD) di pelayanan kebidanan RSUD Pariaman Provinsi Sumatera Barat Aladin Aladin; Tjahjono Kuntjoro; Trisasi Lestari
Majalah Kedokteran Andalas Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.5 KB) | DOI: 10.25077/mka.v42.i2.p62-69.2019

Abstract

Kesalahan yang terjadi dalam proses perawatan medis berpotensi dan dapat menyebabkan cedera pada pasien yang merupakan peristiwa buruk. Institute for Healthcare Improved Global Trigger Tool adalah salah satu metode analisis retrospektif yang menggunakan "pencetus" atau "pemicu" untuk mendeteksi kemungkinan peristiwa buruk. Pentingnya rumah sakit dalam memberikan layanan dan dalam rangka meningkatkan perawatan kebidanan, maka IHI dapat menjadi alternatif jawaban masalah yang ada. Tujuan: Untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi efek samping pada perawatan kebidanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pariaman berdasarkan metode IHI Global Trigger Tool. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus dengan desain penyelesaian masalah. Identifikasi instrumen insiden keselamatan pasien menggunakan alat Pemicu IHI digunakan untuk melakukan tinjauan rekam medis pasien sekunder data kebidanan RSUD Pariaman. Hasil: Ditemukan 41 (41,7%) pasien dengan pemicu (+) jumlah pemicu 92, rata-rata 2,04 pemicu per pasien. Ditemukan 9 (9,4%) pasien dengan efek samping 12, rata-rata 1:33 efek samping per pasien. Jumlah yang terluka adalah 12 dengan proporsi cedera parah sebanyak 16,7%. Karakteristik pasien yang paling banyak adalah 20-29 tahun (45,8%) dan umumnya terjadi dalam kasus rujukan darurat (70,8%). Simpulan: Tidak ada hubungan antara usia dan keberadaan pemicu sementara status rujukan secara signifikan terkait dengan pemicu. Unit layanan kamar kebidanan merupakan unit pemicu yang paling umum (43,9%), dan unit rawat inap adalah unit yang paling banyak terjadinya kejadian buruk (44,4%). Sedangkan unit perawatan intensif adalah unit di mana pemicunya berpotensi tertinggi untuk menjadi peristiwa buruk (100%). Hasil audit medis dalam rangka meningkatkan layanan dalam bentuk presentasi kasus salah satu pasien. Audit medis merupakan salah satu upaya untuk menemukan solusi perbaikan pelayanan kebidanan RSUD Pariaman.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue