cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
Kromomikosis yang menyerupai karsinoma sel skuamosa: suatu kasus jarang Shinta Ayu Intan; Salmiah Agus; Anandia Putriyuni
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v41.i3.p112-119.2018

Abstract

Kromomikosis merupakan infeksi jamur kronik yang disebabkan oleh jamur berpigmen (dematiaceous) yang masuk ke dermis dari lingkungan sekitar. Kromomikosis mengenai laki-laki dewasa dengan rentang usia antara 40-50 tahun. Predileksi paling sering yaitu di ekstremitas bawah terutama kaki. Tanah, sayur-sayuran dan bahan organik lainnya merupakan habitat normal dari jamur ini. Tujuan: Melaporkan satu kasus kromomikosis jarang. Kasus: Dilaporkan kasus pada seorang laki-laki usia 53 tahun dengan bercak berwarna keabu-abuan tanpa rasa gatal dan nyeri yang semakin bertambah besar sejak ±1 tahun yang lalu pada pergelangan kaki kiri.  Simpulan: Kromomikosis sering salah didiagnosis sebagai karsinoma sel skuamosa, konfirmasi histopatologi penting untuk menegakkan diagnosis karena pemeriksaan secara histopatologi menunjukkan gambaran khas yaitu adanya copper pennies sehingga dapat menyingkirkan diagnosis bandingnya. 
RESPON Th2 PADA INFEKSI CACING USUS Selfi Renita Rusjdi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 2: Agustus 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.509 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i2.p%p.2009

Abstract

AbstrakPenyakit kecacingan masih merupakan masalah kesehatan di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Prevalensi penyakit kecacingan ini masih cukup tinggi terutama pada kelompok masyarakat dengan higienisitas dan sanitasi yang rendah.Penyakit kecacingan ini disebabkan oleh organisme multi seluler yang mempunyai masa hidup panjang dan siklus hidup yang kompleks. Sepanjang siklus hidupnya, cacing usus mengalami perkembangan stadium yang yang dapat berpindah, melewati atau memasuki organ tertentu serta mampu memodulasi respon imun yang kuat dan khas pada hospes. Efek modulasi infeksi cacing terhadap sistem imun ini terjadi akibat perubahan keseimbangan T helper1/T helper2 (Th1/Th2) ke arah sel Th2 (Th2 palarized).Pada infeksi akut cacing usus terjadi stimulasi respon imun hospes yang terpolarisasi ke arah sel Th2 yang dikenal dengan Th2 response. Polarisasi respon imun ke arah sel Th2 ini ditandai dengan peningkatan Th2 specific cyokines seperti interleukin-4 (IL-4), interleukin-5 (IL-5), interleukin-13 (IL-13) dan peningkatan imunoglobulin E (IgE). Pada infeksi cacing kronis terjadi modified Th2 response yang menekan produksi interleukin-5 (IL-5), mengaktivasi peranan sel Treg. Sel Treg ini menghasilkan interleukin-10 (IL-10) dan Transforming Growth Factor – β (TGF-β). IL-10 berperan dalam class switching antibody response dimana sel B yang sebelumnya memproduksi IgE menjadi memproduksi IgG4. TGF-β berperan dalam menekan respon seluler baik sel Th1 maupun Th2.Kata kunci: Cacing usus, Th2 response, modified Th2 responseAbstractIntestinal helminthiasis is still unsolved problem in developing countries including Indonesia. The prevalence is generally high particularly in bad hygiene and sanitation.Intestinal helminthiasis are caused by human pathogenic intestinal helminth. This multicelllular parasite has long and complex life cycle. Helminth has stadiums which can move, pass through or enter certain internal organ and also modulate immune response. Intestinal heminth modulates immune response by skewing toward Th2 (Th2 polarized).The immune response of the host to acute intestinal helminthiasis is characterized by Th2 response with production of cytokines interleukin-4 (IL-4), interleukin-5 (IL-5), interleukin-13 (IL-13), as well as elevated imunoglobulin E (IgE). In chronic intestinal helminthiasis, modified Th2 response reduce productionTINJAUAN PUSTAKA95Interleukin-5 (IL-5), activate Treg to produce high levels of IL-10 which switches B-cell responses from IgE to IgG4 and transforming growth factor-β (TGF-β), which mediates Th1 and Th2 hyporesponsiveness.Key words: Intestinal helminth, Th2 response, modified Th2 response
KORELASI ANTARA NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX DENGAN DERAJAT KAKI DIABETES KLASIFIKASI WAGNER DI RSUP DR M.DJAMIL PADANG Rahmat Taufik; Raflis Rustam; Vendry Rivaldy; Hafni Bachtiar
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.294 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i3.p181-188.2015

Abstract

AbstrakDiabetes Mellitus merupakan penyakit yang merupakan epidemi global dan menyumbang angka kematian tertinggi di dunia. Salah satu komplikasi diabetes adalah penyakit arteri perifer (PAP), suatu kondisi yang ditandai oleh penyumbatan dalam arteri ekstremitas inferior. Tingkat keparahan PAP dapat diperiksa dengan modalitas pemeriksaan non-invasif seperti pemeriksaan ABI (ante brachial index). Derajat keparahan kaki diabetes dapat di kategorikan berdasarkan klasifikasi Wagner. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara nilai ABI dengan derajat keparahan kaki diabetik klasifikasi Wagner pasien di RS M Djamil Padang. Dengan metode survei analitik desain cross sectional, pada pasien dengan kaki diabetik dilakukan pemeriksaan ABI dan pemeriksaan derajat kaki diabetik klasifikasi Wagner. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan uji non-parametrik dengan tingkat kepercayaan 95%. Signifikansi dari hasil tes ditentukan oleh nilai p <0,05. Dari total 48 sampel diperoleh bahwa nilai ABI adalah obstruksi ringan pada 23 orang (47,92%), dan sebagian besar pasien kaki diabetes klasifikasi Wagner adalah derajat 1 sebanyak 17 (35,42%). Uji statistik menemukan hubungan yang signifikan antara nilai ABI dengan derajat kaki diabetik klasifikasi Wagner (p = 0,000). Dapat disimpulkan, terdapat hubungan yang signifikan antara nilai ABI dengan derajat kaki diabetik klasifikasi Wagner di RSUP Dr M. Djamil Padang.ABSTRACTDiabetes Mellitus is a global epidemic disease and accounts for the highest mortality rate in the world. One of its complications is Peripheral Arterial Disease (PAP) which characterized by blockages in the arteries of inferior extremity. The severity of PAP can be detected and determined by a non-invasive method namely ABI (ante brachial index). The degree of severity of diabetic foot can be classified into several categories based on Wagner classifications. This study aimed to determine the correlation between the values of ABI with the degree of Wagner classification-diabetic foot of patients in M Djamil Padang hospital. Analytical survey with cross sectional design has been done. The variables needed were measured and analysed with a non-parametric test with a 95% confidence level to determine the relationships between variables. Of 48 samples, 23 people (47.92%) were having mild obstruction of ABI values, and about one-third of the samples (35,42%) were having first degree of diabetic foot based on Wagner classification. Statistical analysis showed a significant correlation between ABI values and the degree of diabetic foot based on Wagner classification (p=0.000). To be concluded, there was a significant correlation between ABI values and the degree of Wagner classification-diabetic foot in M.Djamil Padang hospital.
HUBUNGAN PENYAKIT GONDOK DENGAN KADAR YODIUM DALAM URIN MURID MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI (MIN) KORONG GADANG KECAMATAN KURANJI KOTA PADANG Yustini Alioes
Majalah Kedokteran Andalas Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.388 KB) | DOI: 10.22338/mka.v34.i2.p184-192.2010

Abstract

AbstrakYodium adalah komponen esensial dalam asupan makanan manusia, yang merupakan bagian dari hormone tiroid yaitu tiroksin (T4) and triiodotironin (T3). Hormon tersebut dibutuhkan untuk menjaga metabolism basal, metabolism sel, dan kesatuan jaringan tubuh. Hormone tiroid diperlukan dalam perkembangan system sarat janin dan bayi. Kekurangan asupan yodium dapat menyebabkan penyakit gondok, yaitu pembesaran kelenjar tiroid. Gondok endemic merupakan hasil dari peningkatan kerja kelenjar tiroid oleh Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dalam memaksimalkan penggunaan yodium yang tersedia, hal ini merupakan penyesuaian terhadap kekurangan yodium.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penyakit gondok dengan kadar yodium dalam urin murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri Korong Gadang Kecamatan Kuranji Kota Padang.Telah dilakukan penelitian pada 130 murid kelas II, III, IV, V dan VI di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kecamatan Kuranji Kota Padang. Data tentang prestasi belajar didaptkan dari hasil ujian semester. Pertumbuhan fisik ditentukan berdasarkan berat badan dan tinggi badan.Selama penelitian ini didapatkan 80 anak (61,5%) menderita penyakit gondok. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara penyakit gondok dan kadar yodium dalam urin (p>0,05). Penelitian ini juga menemukan tidak terdapat hubungan antara penyakit gondok dan pertumbuhan fisik (p>0,05).Kata Kunci : Iodium, urin, hipertiroidAbstractIodine is an essential component of human diet, which part of thyroid hormones thyroxine (T4) and triiodothyronine (T3). These hormones are involved in the maintenance of metabolic rate, cellular metabolism and integrity of connective tissue. Thyroid hormones are necessary for the development of nervous system in the fetus and infant. Lack of dietary iodine is cause of goiter, an enlargement of the thyroid stimulating hormone (TSH) to maximize the utilization of available iodine and thus respresents maladaption to iodine deficiency.The aim of this study was to investigate the relation between goiter with academic performance and urinary excretion iodine of children in Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) in Korong Gadang Kuranji District, Padang City.ARTIKEL PENELITIAN185A cross sectional study has been done in 130 students of the second, third, fourth, fifth, and sixth degree of Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Korong Gadang Kecamatan Kuranji Padang City. Data of academic performance was taken from the result of study in a semester. Physical growth was determined based on weight and height.During the research, there were 80 children (65,1%) who suffered from goitre. The correlation between goitre and academic performance are unsignificant (p>0,05). This study was also found that there was no correlation between goitre and physical growth (p>0,05).Key Word : Iodine, urine, hyperthyroidism
Korelasi pengukuran antropometri dengan tekanan darah dan angiotensinogen plasma pada dewasa Desmawati Desmawati
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5306.973 KB)

Abstract

Prevalensiobesitas makin lama makin meningkat. Obesitas berhubungan dengan peningkatankadar angiotensinogen (AGT) plasma dan tekanan darah. Salah satu pengukuran statusgizi dengan antropometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi pengukuranantropometri dengan tekanan darah dan kadar AGT plasma pada orang dewasa etnikMinangkabau.Sebanyak 75 subyek berusia 35 - 54 tahun di Padang diambil secara random. Seluruh subyekdiwawacara untuk mengetahui karakteristik dan tingkat aktivitas fisik. Pengukuran persentaselemak tubuh dan antropometri ( indeks massa tubuh /lMT dan lingkar pinggang / LP), tekanandarah dan pemriksaan kadar AGT plasma juga dilakukan. Data dianalisis menggunakan ujikorelasi.Rata - rata IMT subyek adalah 26.297 t 4.03 kglm2. Sebanyak 92.1% subyek mempunyai LPlebih besar dari normal. Rata-rata tekanan darah sistolik adalah 145.47 r 19.40 dan tekanandarah diastolik 87.33 t 8.75 mmHg. Rerata kadarAGTplasma adalah 79.4d0 xfi.Ag ng/mL.tidak terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dan tekanan darah dan terdapat korelasiyang lemah dengan kadarAGT plasma (r=0.291, p=0.011). LP mempunyai korelasi lemahdengan tekanan darah sistolik (r=0.298, p=0.009), dengan TDD (r=0.298, p=6.999), dan jugadengan kadar AGT plasm a (r=0.347 , p=0.002).These result show a moderate correlation between BMI with plasma AGT levels in adultMinangkabau ethnic group. There is also a weak correlation between WC with BP and plasmaAGT levels.AbstrackPrevalence of obesity increased and related with increased of pasma angiotensinogen (AGT)levels and blood pressure. This study aimed to determine the correlation of antropometric withblood pressure (BP) and plasma AGT levels in adult Minangkabau ethnic.Seventy five adult, 35-54 years old, in Padang were enrolled randomely. All subjects wereinterviewed to determine the characteristics and physicai activity. Body fat percentagemeasurement, anthropometric (body mass inde/BMl and wrist circumference/ WC), bloodpressure and plasmaAGT levels examination were done. Data were analyzed using correlationtest.MKA, Volume 37, Nomor.Supl. 2, November 2014Desmawati:Korelasi pengukuran antropometri dengan tekanan darah dan angiotensinogen plasma pada dewasaThe mean BMI is 26.297 t 4.03 kglm2. A total of 92.1% of subjects have WC larger than normalvalue. The mean of systolic blood pressure is 145.47 x 19.40 and diastolic blood pressure87.33 t 8.75 mmHg. The mean plasma levels of AGT 79.460 t 17.08 ng/ml. There was nosiEnificant relationship between BMI with blood pressure (BP), and it has weak correlation withplasmaAGT level {r=0.291, p=0.011) .WC has weak correlation with SBP (r=0.2g8, p=0.009),with DBP (r=0.298, p=0.009), and so with plasma AGT levels (r=0.347, p=0.002).These result show a moderate correlation between BMI with plasma AGT levels in adultMinangkabau ethnic group. There is also a weak correlation between WC with BP and plasmaAGT levels.
OPINI MASYARAKAT TENTANG MALPRAKTEK KEDOKTERAN Hardisman Hardisman
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.553 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i1.p73-86.2012

Abstract

AbstrakDalam menjalankan profesinya, dokter harus taat pada norma-norma sosial, etika profesi dan hukum. Pelanggaran akan nilai-nilai tersebut dapat menjadi sorotan masyarakat, dan bisa berlanjut kepada tuduhan malpraktek kedokteran. Penelitian ini dilakukan untuk menilai bagaimana opini masyarakat tentang malpraktek kedokteran yang dianalisis berdasarkan prinsip-prinsip etika kedokteran. Untuk menjawab tujuan penelitian ini telah dilakukan online survei deskriptif dan kualitatif  pada Bulan November 2009-Oktober 2010, dengan menggunakan kuisioner terstruktur dan pertanyaan terbuka. Respoonden  didapatkan dengan teknik sampling non-probabilitas convenience sampling.  Data dianalisa menggunakan prinsip-prinsip etika kedokteran secara deskriptif. Data kualitatif juga dilakukan analisa tematik serta ditampilkan dalam bentuk narasi. Secara umum opini masyarakat tentang malpraktek kedokteran sesuai dengan pandangan prinsip-prinsip etika kedokteran. Masyarakat berpendapat bahwa terjadinya malpraktek ada unsur kesalahan prosedur atau diagnosis dan penatalaksanaan.  Namun, mereka cendrung pada filosofis konsekuentialis yang lebih menitik beratkan kepada akibat yang dialami oleh pasien yang kurang mempertimbangkan apa yang telah dilakukan dokter berdasarkan standar medis.  Bahkan, ungkapan responden yang dianggapnya sebagai malpraktek lebih disebabkan karena ketidakpuasannya terhadap pelayanan yang diberikan. Ketidakpuasan tersebut timbul akibat rendahnya kualitas informasi dan sikap komunikasi dokter dan petugas dalam melakukan pelayanan. Oleh karena itu, untuk memperbaiki opini masyarakat dan mencegah berbagai tuduhan malpraktek, dokter dan petugas kesehatan harus mentaati etika dan standar profesi dalam melakukan pelayanan, serta memberikan informasi yang cukup dan komunikasi yang baik dengan pasien.Kata Kunci: Malpraktek kedokteran, etika, dan opini masyarakat.  AbstractIn providing services, medical professionals have to aware on social norms, ethics and laws. The behaviours which against those regulations attract public attention and can lead to medical malpractice allegations. This research was conducted to explore public opinion on medical malpractice, which was analyzed base on medical ethic principles. To answer the research question, descriptive and qualitative online survey has been conducted from November 2009 to October 2010, which used structured and open ended questionnaire. The participants were selected by employing non-probability convenience sampling. Later, the quantitative data was analyzed descriptively, and the qualitative data was also analyzed thematically and presented narratively. In general, public opinion on malpractice is similar to the principles of medical ethics. They believe that wrong procedures, diagnosis and treatments are factors of the malpractice. However, the participants adopt more consequentialism philosophy, which emphasize on effect on patients and lack of consideration what the doctors has done base on medical standards. More over, participants' explanations on medical malpractice are expression of dissatisfaction of medical services. The dissatisfaction is as a result of low of quality of information and attitude of doctors and other staffs in providing the services. Threfore, to improve public opinion on medical service and prevent medical malpractice allegation, doctors and other staffs have to obey professional standards and ethics, providing adequate information and good communication.Key word : Medical malpractice, ethics, and public opinion.
Preface and ToC - Vol 39, No 2 (2016) Redaksi MKA
Majalah Kedokteran Andalas Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.278 KB)

Abstract

POLA KEBIJAKAN PENTARIFAN JASA LAYANAN BEDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS BEDAH ROPANASURI Rima Semiarty
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 1: April 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22338/mka.v32.i1.p37-46.2008

Abstract

AbstrakDalam rangka globalisasi perlu upaya lebih besar untuk membenahi rumah sakit, termasuk upaya penetapan pola tarif agar tetap bertahan hidup. Rumah Sakit Ropanasuri sebagai rumah sakit dengan pelayanan bedah belum menetapkan pola tarif pelayanan bedah yang merujuk pada biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan biaya satuan tindakan bedah serta mengidentifikasi tindakan yang mencapai break event point dan kebijakan pola tarif tindakan bedah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis dengan metoda evaluatif dan analisa tarif yang berlaku selama ini di kamar bedah. Data yang digunakan adalah data isian sekunder dari bagian keuangan dan wawancara serta Focus Group Discussion (FGD) dengan para Dokter Bedah. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran biaya satuan tindakan bedah dari empat kelompok bedah yaitu digestif, orthopaedi, onkologi dan urologi serta biaya satuan yang memperhitungkan utilisasi untuk empat jenis operasi (minor, medium, mayor, khusus). Ternyata terdapat beberapa tindakan yang tidak mencapai break event point, defisit serta ada yang surplus. Atas dasar perhitungan analisa tarif didapatkan pola kebijakan tarif yang berdasarkan perhitungan unit cost.Kata kunci: tarif – pelayanan bedahAbstractIn the context of globalization, greater efforts for good hospital administration is needed, including efforts to establish the imbursement pattern for hospital survival. Ropanasuri Hospital as a hospital with surgical services has not set a tariff pattern with reference to the cost of surgery. This study aims to identify unit cost of surgery and to identify actions to achieve break-event point tariff policy and the pattern of surgical costs. This descriptive-analysis research study used analytical and evaluative methods on tariffs currently used operating rooms. Data were gathered from secondary data from financial department, and from interviews with focus group discussion (FGD) and surgeons involved in the hospital. The result showed the pattern of the costs from four surgical groups, namely digestive, orthopaedics, oncology and urology, and the units costs of the utilization in four types of surgeries (minor, medium, major, and specialistic surgeries). There are some operations that do not reach the break-point event, some results in deficit and some in surplus. Based on tariff analysis evaluation, the pattern ofARTIKEL PENELITIAN38tariff policy is established using the calculation of the unit cost.Keywords: hospital tariffs - surgical services
Gambaran radiologi leiomioma intravena dengan perluasan ke intrakardiak Tuti Handayani
Majalah Kedokteran Andalas Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.319 KB) | DOI: 10.22338/mka.v41.i1.p40-47.2018

Abstract

Leiomioma intravena (IVL) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Keterlibatan jantung yang terjadi pada kasus IVL sering salah dikenali sebagai tumor jantung primer atau trombus. Hal ini mengakibatkan tingginya angka kejadian misdiagnosis atau keterlambatan diagnosis yang selanjutnya dapat menyebabkan penatalaksanaan yang kurang tepat. Pemeriksaan radiologi dapat memberikan informasi perluasan tumor yang sangat bermanfaat dalam diagnosis dan perencanaan operasi. Ultrasonografi (USG), computed tomography (CT scan), Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan radiologi intervensi adalah modalitas radiologi yang sangat bermanfaat dalam mendeteksi leiomioma ekstrauterin. Pengetahuan ahli radiologi dari gambaran karakteristik leiomioma ini dapat membantu mengarahkan para klinisi menuju tatalaksana yang tepat, cepat dan jauh dari pengobatan yang tidak diperlukan atau berpotensi bahaya.
POLA RESISTENSI KUMAN PENYEBAB DIARE TERHADAP ANTIBIOTIKA Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoet; Aslinar Aslinar
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 1: April 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.867 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i1.p%p.2009

Abstract

AbstrakResistensi kuman terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh intensitas pemaparan antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada penyakit diare cenderung akan meningkatkan resistensi kuman yang semula sensitif. Perkembangan resistensi kuman terhadap antibiotika perlu dipantau agar dalam pengobatan penyakit diare dengan antibiotika dapat dilakukan pemilihan obat yang tepat.Untuk mengetahui pola resistensi kuman terhadap antibiotika pada pasien diare yang dirawat di bangsal IKA RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari-Desember 2008.Data penelitian diperoleh dari catatan medik pasien diare yang dirawat di bangsal IKA dan dilakukan kultur dan sensitivitas dari sampel feses. Dilakukan uji resistensi terhadap kuman yang terdeteksi dengan antibiotika Ampisilin (Amp), Tetrasiklin (TE), Sulfametoxazole-Trimetoprim (STX), sebagai antibiotik ang paling banyak digunakan pada pasien diare.Dari hasil uji kultur dan sensitivitas pada 173 sampel feses didapatkan 3 jenis kuman yang terbanyak yaitu E.Coli sebanyak 92 (51.4%), Klebsiela sp 30 (16.8%), dan kuman Enterobacter sp 28 (15.6%). Resistensi kuman E.Coli terhadap antibotika AMP sebesar 53.3%, terhadap TE 67.4% dan terhadap STX 87%. Resistensi kuman Klebsiela sp terhadap antibiotika AMP sebesar 46%, terhadap TE 40% dan terhadap STX 73.3%. Dan resistensi kuman Enterobacter sp terhadap antibotika AMP sebesar 64.3%, terhadap TE 75% dan terhadap STX 82,1%.Kuman penyebab diare menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap Sulfametoxazole-Trimetoprim (STX).Kata kunci. resistensi, antibiotika, diareAbstractMicroorganisme resistance against antibiotic is highly influenced by intensity of antibiotics exposure. Irrational use of antibiotics in diarrhea tends to increase resistance of previously sensitive microorganism. Monitoring in antibiotics development resistance is required to achieve appropriate diarrhea therapy.ARTIKEL PENELITIAN42To assess microorganism resistance pattern against antibiotics in diarrhea patients hospitalized at Dr. M. Djamil General Hospital pediatric ward from January – December 2008.Study data obtained from culture of feces of diarrhea patients hospitalized in pediatric ward. Resistance test were performed using antibiotics Ampicillin (Amp), tetracycline (TE), sulphamethoxazole-trimethoprim (SXT), as the 3 most common antibiotic used for diarrhea.There were 173 feces samples performed culture and sensitivity test. Three microorganism species found frequently were E. coli (92; 51.4%), Klebsiella sp. (30; 16.8%), Enterobacter sp. (28; 15.6%). E. coli resistance to AMP were 53.3%, TE 67.4%, and SXT 87%. Resistance of Klebsiella sp. to AMP 46.7%, TE 40%, and SXT 73.3%. Enterobacter sp. resistance were 64.3%, 75%, and 82.1%, respectively.Sulphamethoxazole-trimethoprim was the highest resistance antibiotics against microorganism in acute diarrhea patients.Keywords : resistance, antibiotics, diarrhea

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue