cover
Contact Name
Syaiful Arif
Contact Email
arif_indri10@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
Dialogia_transformasi@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial
ISSN : 16931149     EISSN : 25023853     DOI : -
Core Subject : Social,
Dialogia merupakan jurnal enam bulanan yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Ponorogo. Dialogia menerima tulisan ilmiah hasil pemikiran konseptual dan hasil penelitian yang belum pernah dipublikasikan, terutama yang berhubungan dengan studi Islam dan sosial.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL" : 16 Documents clear
منهج الإمام ابن الجوزي في كتابه: الكشف لمشكل الصحيحين dahlan, ahmad
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.874 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.306

Abstract

Abstract Salah satu cabang ulum hadis yang tidak boleh dilewatkan begitu saja oleh pengkaji hadis adalah ilmu musykil hadis. Di kalangan ulama klasik, ada beberapa ulama yang mendedikasikan dirinya menggeluti salah satu cabang ulum hadis tersebut.Salah satu di antara mereka adalah Imam Ibnu al-Jauzi dengan karyanya yang berjudul ‘Al-Kasyf li Musykil al-Shahihain’. Tulisan ini berusaha untuk mengenal lebih dalam karya tersebut, dengan menitik-beratkan pada metodologi yang ditempuh oleh pengarangnya. Diantara keunikan kitab ini adalah pengarangnya menertibkan hadis-hadis yang dianggap musykil tidak berdasarkan tema, melainkan berdasarkan musnad (riwayat Sahabat). Dalam hal ini, dia terinspirasi oleh musnad al-Humaidi. Sebelum menjelaskan hadis yang dianggap musykil, dia mendahulinya dengan riwayat singkat Sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut. Setelah itu dia menghadirkan redaksi (matan) hadisnya. Terkadang dia meriwayatkan hadis secara maknanya (tidak literal). Yang patut dicatat dalam kitab ini adalah tidak semua yang dibahas dan diulas oleh pengarangnya adalah termasuk dalam kategori musykil hadis--sebagaimana yang didefinisikan dalam Musthalah Hadis. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang dijelaskan oleh Ibnu al-Jauzi meskipun tidak termasuk hadis musykil. Dia melakukan itu untuk memperkuat argumentasinya ketika menjelaskan hadis tertentu, atau untuk mengambil dalil dari hadis tersebut, atau untuk tambahan penjelasan.  يعد علم مشكل الحديث من أهم علوم الحديث الذي لا بد لدارس الحديث الاهتمام به، وإذا تتبعنا جذور هذا العلم نجد بعض المتقدمين من العلماء قد خاضوا في هذا العلم، ومن بين هؤلاء هو الإمام ابن الجوزي الذي ألف كتاب "الكشف لمشكل الصحيحين".  يحاول هذا البحث الموجز التعرف على هذا الكتاب القيم مركزا على منهج مؤلفه. يخرج البحث بنتائج منها: انتهاج المؤلف طريقة المسند في تصنيف الأحاديث المشكلة، وهو في هذا المنوال ينهج منهج الحميدي في ترتيب مسنده، ولو خالفه في بعض المناهج، فعنون لكل مسند بقوله: "كشف المشكل من مسند فلان"، وذكر اسم الصحابي، ثم قام بتعريف موجز عن الصحابي بذكر شيء من فضائله وعدد أحاديثه، ثم أخذ يذكر جزءاً من الحديث الذي يريد شرح إشكاله، وفي الغالب سرد لفظه من أوله، ثم توقف عند موضع الإشكال، وربما ذكر الحديث متصرفاً، فرواه بالمعنى. لم يكن جميع ما تطرق ابن الجوزي لشرحه من قبيل المشكل -على المصطلح المستقر في علوم الحديث. لذلك نجد في كتابه بعض الأحاديث الذي ليس مشكلاً، إلا أن ابن الجوزي ذكره من أجل الاستشهاد أو الاستدلال على شيء أو زيادة بيان.كلمات مفتاحية: مشكل الحديث، غريب الحديث، ناسخ، ومنسوخ
FISIBILITAS HERMENEUTIKA DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN Huda, Muhammad Muchlish
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.361 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.302

Abstract

AbstractThis paper is motivated by the fact that the Quran is the holy book of Islam that is relevant beyond time and space. It is a source of way of life for Muslims. Along with the course of time, to keep the spirit of the Qur'an relevant to the problems of the present, the interpretation of the Quran must be done, accompanied by the process of its contextualization instead of its being ideology. In fact, some people interpret the Qur'an with biases rooted in their ideological backgrounds. The meaning of the Qur'an is often contaminated by ideological interests of its interpreters. As a result, Muslims accused each other of infidelity and heresy. Hermeneutics as a science which deals with the activities of interpretation is supposed to be able to glue the wide spectrum of the activities. This paper focuses the discussion on the feasibility  of hermeneutics in the interpretation of the Quran. It argues that some of the positive principles of interpretation in hermeneutics are feasible for the interpretation of the Quran. The purpose of the hermeneutical interpretation of the Qur'an is to purify the Qur'an from the ideological interests of its interpreters. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam yang cocok untuk segala ruang dan waktu. Ia adalah pedoman hidup bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan. Seiring dengan terjadinya dinamisasi masa, untuk menjaga semangat al-Qur’an agar senantiasa relevan dengan problematika zaman, penafsiran atasnya harus dilakukan dengan disertai proses kontekstualisasi tanpa disertai ideologisasi. Faktanya, beberapa pihak menafsirkan al-Qur’an dengan kecondongan tertentu sebagai akibat pengaruh latar belakang ideologi yang dianut. Maksud dan makna al-Qur’an yang suci dikotori oleh kepentingan ideologi penafsirnya. Akibatnya, saling menghukumi dan mengkafirkan antaraliran sering terjadi di kalangan umat Islam. Hermeneutika sebagai ilmu yang membahas kegiatan interpretasi dipandang mampu merekatkan kembali aliran-aliran tersebut. Dari latar belakang tersebut, tulisan ini membahas fisibilitas hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an. Penulis melihat bahwa beberapa prinsip interpretasi dalam hermeneutika dapat digunakan dalam penafsiran al-Qur’an. Salah satu tujuan hermeneutika dalam penafsiran al-Qur’an adalah menghindarkan al-Qur’an dari pengaruh destruktif ideologi penafsirnya.
BENTUK, ARGUMEN LARANGAN, DAN UPAYA PENANGGULANGAN KORUPSI DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI SAW Tasrif, Muh
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.636 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.303

Abstract

AbstractThe fact of the magnitude of corruption in Indonesia prompted all segments of society to make efforts to overcome. One method for preventing and combating corruption is a development of anti-corruption religious discourse. One form of the development of anti-corruption religious discourse is the study of the traditions of the Prophet. Study of the traditions of the Prophet had previously been done by many researchers. This paper aims to explain thematically and contextually the forms of corruption, the arguments underlying the prohibition of corruption, and preventive, detective, and curative control of corruption as referred to in the traditions of the Prophet Muhammad. Religious views that are part of the Indonesian nation worldview need to be explored in order to play a greater role in these efforts. This research has been successful in uncovering Islamic dimension associated with the concept of corruption, its prohibition arguments, and its eradication measures in the traditions of the Prophet. However, researchs are still open to see Islam more deeply and widely in order to further strengthen and deepen the explanation. Kenyataan masih besarnya tindak korupsi di Indonesia mendorong semua pihak untuk melakukan upaya-upaya untuk mengatasi. Salah satu metode untuk mencegah dan memberantas korupsi adalah pengembangan wacana keagamaan antikorupsi. Salah satu bentuk pengembangan wacana keagamaan antikorupsi adalah kajian-kajian di bidang hadis Nabi. Kajian hadis Nabi seperti tersebut sebelumnya telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk korupsi, argumen yang mendasari larangan korupsi, serta upaya preventif, detektif, dan kuratif penanggulangan korupsi sebagaimana disebut dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. secara tematik-kontekstual. Pandangan keagamaan yang menjadi bagian dari pandangan hidup bangsa Indonesia perlu terus digali untuk berperan lebih besar dalam upaya-upaya tersebut. Penelitian ini telah berhasil mengungkap dimensi ajaran Islam terkait dengan konsep korupsi, argumen pelarangan, dan upaya pemberantasannya dalam hadis-hadis Nabi saw.. Namun demikian, peneliti melihat masih terbukanya penggalian ajaran Islam secara lebih mendalam dan meluas agar lebih menguatkan dan memperdalam penjelasan. Keywords: korupsi, pandangan Islam, hadis, cara penanggulangan.
MENIMBANG PENAFSIRAN SUBJEKTIVIS TERHADAP AL-QUR’AN: TELAAH TERHADAP PENAFSIRAN EDIP YUKSEL DKK. DALAM QURAN: A REFORMIST TRANSLATION Matswah, Akrimi
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.633 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.299

Abstract

AbstractSubjectivist approach to the Qur’anic interpretation is essentially an attempt to contextualize the literal meaning of the Qur'anic text in the current context. Therefore, this approach does not use historical components to support the interpretation of the Qur'an. As a result, hadits, occasions of revelation (asbâb al-nuzûl) and the history of the Prophet (sîrah) are not used as source of the interpretation. Moreover, the interpretation using the subjectivist approach emphasizes more on the textual exploration of the Qur'anic verses by adhering to the logic and language of the Qur'an itself. Thus, the result of such interpretation fully represents the subjectivity of interpreter in exploring the meaning of Qur’anic text without the need to consider the objectivity of the meaning of the text. The subjectivist approach to the Qur’anic interpretation is shown by Edip Yuksel et. al. in their work Quran: A Reformist Translation, as a renewal in the field of translation and interpretation of the Qur'an in which the humanist principles of interpretation does not distinguish gender. Therefore, the application of their interpretation of the gender verses, as I have described in this study, will be relevant. Pendekatan subyektivis dalam penafsiran al-Qur’an pada dasarnya adalah upaya untuk kontekstualisasi makna literal teks Al-Qur'an ke dalam konteks saat ini. Oleh karena itu, pendekatan ini tidak menggunakan komponen sejarah untuk mendukung penafsiran al-Qur'an. Akibatnya, hadits, kesempatan wahyu (asbâb al-nuzûl) dan sejarah Nabi (sîrah). Selain itu, penafsiran dengan pendekatan subyektif lebih menekankan pada eksplorasi tekstual dari ayat-ayat Al-Qur'an dengan mengikuti logika dan bahasa Al-Qur'an itu sendiri. Dengan demikian, hasil interpretasi tersebut sepenuhnya dipengaruhi subyektivitas penafsir dalam mengeksplorasi makna teks al-Quran tanpa perlu mempertimbangkan objektivitas makna teks. Adapun pendekatan subyektif dengan penafsiran Alquran ditunjukkan oleh Edip Yuksel dkk. dalam karya mereka Quran: A Reformist Translation (Quran: Sebuah Terjemahan Reformis) sebagai pembaruan di bidang penerjemahan dan penafsiran al-Qur'an yang di dalamnya prinsip-prinsip humanis interpretasi tidak membedakan gender. Oleh karena itu, penerapan interpretasi mereka atas ayat-ayat gender, saya jelaskan dalam penelitian ini, akan menjadi relevan . Keywords: subjectivist approach, Qur’an reformist, gender interpretation
HADÎTS-HADÎTS TENTANG KEUTAMAAN NIKAH DALAM KITAB LUBÂB AL-HADÎTS KARYA JALÂL AL-DÎN AL-SUYÛTHÎ Azizah, Nuril
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.282 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.304

Abstract

Abstract Lubâb al-Hadîts, creation of  Imam Jalâl al-Dîn al-Suyûthî is a secondary book that contains 400 hadîtss. But in this book the author did not explain about the quality of the sand and matn of the hadîts overall. The issues that will be studied in this paper are hadîtss about the virtues of marriage at chapter twenty-five. The hadîtss have been frequently used by the public as evidence, especially at wedding moments. The writer concludes that only three of seven hadîtss on the importance of marriage in the book of Lubâb al-Hadîts have sands. They are also mentioned in the Ibn Majah’s book and Ahmad bin Hanbal’s book. The sand of first and second hadîts is dla’if and the third hadîts is shahîh lighairih. The matns of all hadîts are shahîh and those hadîtss can be hujjah because they relate to fadlâ’il al-aʻmâl. Lubâb al-Hadits, karya Imam Jalâluddin al-Suyûthî, adalah buku hadis sekunder yang berisi 400 hadîts. Dalam buku ini, penulis tidak menjelaskan kualitas sanad dan matan hadis secara keseluruhan. Masalah-masalah yang akan dikaji dalam tulisan ini difokuskan pada hadis tentang keutamaan pernikahan yang bab dua puluh lima. Hadis-hadis tersebut telah sering digunakan oleh masyarakat sebagai dalil, terutama dalam momen pernikahan. Penulis menyimpulkan bahwa hanya tiga dari tujuh hadis tentang pentingnya pernikahan dalam kitab tersebut memiliki sanad. Hadis-hadis tersebut juga disebutkan dalam kitab Ibn Mâjah dan Ahmad bin Hanbal. Sanad pertama dan kedua hadis adalah dlaʻîf dan sanad hadits ketiga adalah shahîh lighayrih. Matan semua hadits tersebut berkualitas shahîh dan dapat hujjah karena berhubungan dengan persoalan keutamaan amal. Keywords: Keutamaan nikah, Lubâb al-Hadîts, Jalâl al-Dîn al-Suyûthî.
KEBURUKAN DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Telaah Ragam, Dampak, dan Solusi Terhadap Keburukan Sudarmoko, Imam
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.563 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.300

Abstract

AbstractBadness is something hated and thrown away, but in Muslim society of Indonesia, bad expression and activities are still heard and seen. In social interaction it sometimes appears false accusation to a person or a group because of lack of knowledge. As a result, the good is considered bad and the bad is considered good. God endowed human a nature to do good, but due to certain factors, he/she is lapsed into negligence and bad deeds. Every badness would be bad for the culprit. The Qur'an provides solutions to badness. Thematic study of the Quran in depth to get a hint about how to overcome evil is very useful for scientists and commentators of Quran. Keburukan merupakan sesuatu yang dibenci dan harus ditinggalkan, namun dalam kehidupan umat Islam di Indonesia saat ini, ungkapan dan perbuatan buruk masih sering terdengar. Dalam interaksi sosial terkadang muncul tuduhan yang salah kepada seseorang atau suatu kelompok dikarenakan kurangnya pengetahuan. Akibatnya, yang baik dianggap buruk dan yang buruk dianggap baik. Allah menganugerahi manusia fitrah untuk berbuat baik, namun karena adanya faktor tertentu, ia lalai dan terjerumus ke dalam perbuatan buruk. Setiap keburukan akan berdampak buruk kepada pelakunya. Al-Qur’an memberikan solusi terhadap keburukan. Kajian tematik atas al-Qur’an secara mendalam untuk mendapatkan petunjuk tentang upaya mengatasi keburukan sangat bermanfaat bagi ilmuwan tafsir dan masyarakat. Keywords: al-Qur’an, tafsir tematik, problem keburukan.
KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM: KAJIAN TEMATIK DALAM AL-QURAN DAN HADITS Sidiq, Umar
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.864 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.305

Abstract

AbstractThe most basic ethics in leadership is responsibility. Humans living in this world is called the leader. Therefore, as a leader, humans hold responsibility, at least to themselves. A husband and a wife are responsible for their children, an employer is to the workers, and a top leader is to his subordinates. A president, a governor, and a regent are accountable to the people they lead. Etika yang paling pokok dalam kepemimpinan adalah tanggung jawab. Manusia yang hidup di dunia ini disebut pemimpin. Oleh karena itu, sebagai pemimpin manusia memegang tanggungjawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri. Seorang suami bertanggung jawab kepada isteri dan anak-anaknya. Seorang majikan bertanggung jawab kepada pekerjanya. Seorang pimpinan bertanggungjawab kepada bawahannya. Seorang presiden, gubernur, dan bupati bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya. Keywords: kepemimpinan, Islam, dan al-Quran Hadits
STILISTIKA AL-QUR’AN Memahami Fenomena Kebahasaan Al-Qur’an dalam Penciptaan Manusia Tricahyo, Agus
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.344 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.301

Abstract

AbstactThis paper revealed linguistic phenomenon of the Qur'an that takes the story of the creation of human as its central theme. The stylistic problems of the Qur'an studied included  phonology, morphology, syntax, and semantics in the verses about the creation of human. This paper is expected to be a reference for the development of other linguistic research that takes the same object, al-Qur'ân. This paper has proved and showed the value-laden language of the Qur’an that is very spectacular which is known as i‘jâz al-Qur'ân. The method used is the method of stylistics limited to three things: preferences of pronunciation, sentence preference or preferred meaning in a sentence, and deviations from the general rules of grammar. The main object of this research is the construction of various forms of texts as a communication system as they are used in their own contexts. Tulisan ini mengungkap fenomena kebahasaan al-Qur’an yang tema sentralnya adalah kisah penciptaan manusia. Masalah yang dikaji mencakup stilistika al-Qur’an dari aspek fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam ayat-ayat tentang penciptaan manusia. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan pengembangan penelitian kebahasaan lainnya yang mengambil obyek yang sama yakni al-Qur’ân. Tulisan ini membuktikan dan menunjukkan adanya muatan nilai yang sangat spektakuler dalam bahasa al-Qur’ân yang dikenal dengan istilah i’jâz al-Qur’ân. Metode yang digunakan adalah metode stilistika yang dibatasi hanya pada tiga hal: preferensi lafal, preferensi kalimat atau makna yang lebih disukai dalam suatu kalimat, dan deviasi atau penyimpangan dari kaidah umum tata bahasa. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah konstruksi dari berbagai bentuk teks sebagai sistem komunikasi yang digunakan sesuai dengan konteksnya. Keywords: stilistika, al-Qur’an, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik.
BENTUK, ARGUMEN LARANGAN, DAN UPAYA PENANGGULANGAN KORUPSI DALAM PERSPEKTIF HADIS NABI SAW Muh Tasrif
Dialogia: Islamic Studies and Social Journal Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.303

Abstract

AbstractThe fact of the magnitude of corruption in Indonesia prompted all segments of society to make efforts to overcome. One method for preventing and combating corruption is a development of anti-corruption religious discourse. One form of the development of anti-corruption religious discourse is the study of the traditions of the Prophet. Study of the traditions of the Prophet had previously been done by many researchers. This paper aims to explain thematically and contextually the forms of corruption, the arguments underlying the prohibition of corruption, and preventive, detective, and curative control of corruption as referred to in the traditions of the Prophet Muhammad. Religious views that are part of the Indonesian nation worldview need to be explored in order to play a greater role in these efforts. This research has been successful in uncovering Islamic dimension associated with the concept of corruption, its prohibition arguments, and its eradication measures in the traditions of the Prophet. However, researchs are still open to see Islam more deeply and widely in order to further strengthen and deepen the explanation. Kenyataan masih besarnya tindak korupsi di Indonesia mendorong semua pihak untuk melakukan upaya-upaya untuk mengatasi. Salah satu metode untuk mencegah dan memberantas korupsi adalah pengembangan wacana keagamaan antikorupsi. Salah satu bentuk pengembangan wacana keagamaan antikorupsi adalah kajian-kajian di bidang hadis Nabi. Kajian hadis Nabi seperti tersebut sebelumnya telah banyak dilakukan oleh para peneliti. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk-bentuk korupsi, argumen yang mendasari larangan korupsi, serta upaya preventif, detektif, dan kuratif penanggulangan korupsi sebagaimana disebut dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. secara tematik-kontekstual. Pandangan keagamaan yang menjadi bagian dari pandangan hidup bangsa Indonesia perlu terus digali untuk berperan lebih besar dalam upaya-upaya tersebut. Penelitian ini telah berhasil mengungkap dimensi ajaran Islam terkait dengan konsep korupsi, argumen pelarangan, dan upaya pemberantasannya dalam hadis-hadis Nabi saw.. Namun demikian, peneliti melihat masih terbukanya penggalian ajaran Islam secara lebih mendalam dan meluas agar lebih menguatkan dan memperdalam penjelasan. Keywords: korupsi, pandangan Islam, hadis, cara penanggulangan.
MENIMBANG PENAFSIRAN SUBJEKTIVIS TERHADAP AL-QUR’AN: TELAAH TERHADAP PENAFSIRAN EDIP YUKSEL DKK. DALAM QURAN: A REFORMIST TRANSLATION Akrimi Matswah
Dialogia: Islamic Studies and Social Journal Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v12i1.299

Abstract

AbstractSubjectivist approach to the Qur’anic interpretation is essentially an attempt to contextualize the literal meaning of the Qur'anic text in the current context. Therefore, this approach does not use historical components to support the interpretation of the Qur'an. As a result, hadits, occasions of revelation (asbâb al-nuzûl) and the history of the Prophet (sîrah) are not used as source of the interpretation. Moreover, the interpretation using the subjectivist approach emphasizes more on the textual exploration of the Qur'anic verses by adhering to the logic and language of the Qur'an itself. Thus, the result of such interpretation fully represents the subjectivity of interpreter in exploring the meaning of Qur’anic text without the need to consider the objectivity of the meaning of the text. The subjectivist approach to the Qur’anic interpretation is shown by Edip Yuksel et. al. in their work Quran: A Reformist Translation, as a renewal in the field of translation and interpretation of the Qur'an in which the humanist principles of interpretation does not distinguish gender. Therefore, the application of their interpretation of the gender verses, as I have described in this study, will be relevant. Pendekatan subyektivis dalam penafsiran al-Qur’an pada dasarnya adalah upaya untuk kontekstualisasi makna literal teks Al-Qur'an ke dalam konteks saat ini. Oleh karena itu, pendekatan ini tidak menggunakan komponen sejarah untuk mendukung penafsiran al-Qur'an. Akibatnya, hadits, kesempatan wahyu (asbâb al-nuzûl) dan sejarah Nabi (sîrah). Selain itu, penafsiran dengan pendekatan subyektif lebih menekankan pada eksplorasi tekstual dari ayat-ayat Al-Qur'an dengan mengikuti logika dan bahasa Al-Qur'an itu sendiri. Dengan demikian, hasil interpretasi tersebut sepenuhnya dipengaruhi subyektivitas penafsir dalam mengeksplorasi makna teks al-Quran tanpa perlu mempertimbangkan objektivitas makna teks. Adapun pendekatan subyektif dengan penafsiran Alquran ditunjukkan oleh Edip Yuksel dkk. dalam karya mereka Quran: A Reformist Translation (Quran: Sebuah Terjemahan Reformis) sebagai pembaruan di bidang penerjemahan dan penafsiran al-Qur'an yang di dalamnya prinsip-prinsip humanis interpretasi tidak membedakan gender. Oleh karena itu, penerapan interpretasi mereka atas ayat-ayat gender, saya jelaskan dalam penelitian ini, akan menjadi relevan . Keywords: subjectivist approach, Qur’an reformist, gender interpretation

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 23 No. 02 (2025): DIALOGIA: JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol. 23 No. 01 (2025): DIALOGIA: JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol. 22 No. 2 (2024): DIALOGIA: JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol. 22 No. 1 (2024): DIALOGIA : JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol. 21 No. 2 (2023): DIALOGIA : JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol. 21 No. 1 (2023): DIALOGIA : JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 20, No 2 (2022): DIALOGIA : JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 20, No 1 (2022): DIALOGIA : JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 19, No 2 (2021): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 19, No 1 (2021): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 18, No 2 (2020): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 18, No 1 (2020): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 17, No 2 (2019): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 17, No 1 (2019): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 17, No 1 (2019): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 16, No 2 (2018): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 16, No 2 (2018): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 16, No 1 (2018): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 16, No 1 (2018): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 15, No 2 (2017): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 15, No 2 (2017): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 15, No 1 (2017): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 15, No 1 (2017): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 2 (2016): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 2 (2016): Dialogia jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 1 (2016): Dialogia Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 1 (2016): Dialogia Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 13, No 2 (2015): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 13, No 2 (2015): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 13, No 1 (2015): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 13, No 1 (2015): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 12, No 1 (2014): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 10, No 2 (2012): Dialogia Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 10, No 2 (2012): Dialogia Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 8, No 1 (2010): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 8, No 1 (2010): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 6, No 2 (2008): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL Vol 6, No 2 (2008): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL More Issue