cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
E-JUPEKhu
ISSN : 11116789     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
JUPPEKhu: Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus is a peer-reviewed, publishes research manuscripts in the field of special education. The Focus and scope of the journals are to: 1) Early Intervention of Children with Special Needs 2) Identification and Assessment of Children with Special Needs 3) Modification of the Curriculum for Children with Special Needs in Inclusive Education Schools 4) Compensatory Education Services 5) Creative Learning 6) Assistive Technology for Children with Special Needs 7)Physical Adaptive for Children with Special Needs
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2018)" : 14 Documents clear
MENINGKATKAN MOTORIK HALUS MELALUI MOZAIK BAGI ANAK TUNAGRAHITA SEDANG KELAS I DI SLB GEMA INSANI PADANG GUSTIVA -; Zulmiyetri -; Armaini -
Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.092 KB) | DOI: 10.24036/jupe85690.64

Abstract

Abstract. This research was done due tu student’ stiff motors in doing classroom activities. It happened because their fine motors’ ability was still low. This research aimed at improving student’ fine motors by using mosaic for the mental retarded students at class D.I.This design of the research was class action research. The research was done under the collaboration of the homeroom teacher and two students (HF and PT).  The subjects of the research was two mental retarded students of class D.I at SLB Gema Insani Padang. Data were obtained from observation, test, and documentation. They were analyzed by using both qualitative and quantitative approaches.The results of analysis showed that: 1) the learning process by using mosaic (sticking dry banana leaves) in improving students’ fine motors was done in two cycles. Cycle I was done in seven meetings and cycle II was in five meetings. Each cycle consisted of the planning stage, the application stage, the observation stage, and the reflection stage. 2) HF’s learning outcame improved from 43.5% in the assessment stage to 87% in cycle I dan 97.8% in cycle II. Meanwhile PT’s learning outcome improved from 37% in the assessment stage to 78.3% in cycle I improve the mental retarded students’ fine motors. Thus, it is sugested to the school, the teachers and the future researchers to use mosaic in developing mental retarded students’ fine motors.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN TATA CARA BERWUDHUMEMeningkatkan Kemampuan Tata Cara BerwudhuMelalui Model Pengajaran Langsung Bagi Anak Tunagrahita Ringan (Single Subject Research Kelas VISDLB Negeri Manggis Ganting Bukittinggi) Sofia Fatmawaty; Fatmawati -; Zulmiyetri -
Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.02 KB) | DOI: 10.24036/jupe85790.64

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang peneliti temukan di SDLB N Manggis Ganting Bukittinggi, seorang anak perempuan dengan spesifikasi tunagrahita ringan mengalami masalah dalam melaksanakan tata cara berwudhu. Berdasarkan hal tersebut peneliti bertujuan untuk meningkatkan kemampuan tata cara berwudhu melalui model pengajaran langsung bagi anak tunagrahita ringan.Penelitian ini menggunakan pendekatan Single Subject Research, dengan desain A-B-A. Teknik analisis datanya menggunakan analisis visual grafik. Subjek penelitiannya seorang anak tunagrahita ringan kelas VI SDLB, anak di minta untuk melakukan tata cara berwudhu. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh anak yaitu delapan tata cara, setiap kali pertemuan pengukuran variabelnya dengan menggunakan persentase (%).Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pengajaran langsung dapat meningkatkan kemampuan tata cara berwudhu bagi anak tunagrahita ringan. Ini dibuktikan dengan hasil baseline (A1) yang dilakukan sebanyak enam kali pengamatan, persentase kemampuan terletak pada rentang 12.5% sampai 25%. Hasil intervensi (B) dengan menggunakan model pengajaran langsung dilakukan sebanyak delapan kali, persentase kemampuan terletak pada rentang 37.5% sampai 87,5%. Baseline (A2) setelah tidak lagi menggunakan model pengajaran langsung dilakukan sebanyak lima kali, persentase kemampuan terletak pada rentang 62,5% sampai 100%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pengajaran langsung dapat meningkatkan kemampuan tata cara berwudhu. Penulis menyarankan kepada guru hendaknya dapat menggunakan model pengajaran langsung untuk meningkatkan kemampuan tata cara berwudhu bagi anak tunagrahita ringan.
Efektivitas Bermain Papan Pasak Untuk Meningkatkan ketahanan Duduk Anak Down Syndrome Di kelas VII SLB Wacana Asih Padang Cindri Wulan Alam Sari; Mega Iswari; Yarmis Hasan
Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.634 KB) | DOI: 10.24036/jupe85570.64

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi permasalahan yang terjadi pada anak down syndrome yang berperilaku hiperaktif di kelas VII SLB Wacana Asih Padang yang mengalami hambatan dalam duduk tenang di dalam kelas saat proses belajar. Dari hasil pengamatan anak kurang ketahanan duduknya dan terlihat sulit untuk duduk tenang. Maka dari itu peneliti berupaya membantu untuk meningkatkan ketahanan duduk anak dengan memberikan perlakuan melalui bermain papan pasak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan bermain papan pasak ini dapat meningkatkan ketahanan duduk anak down syndrome. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperiment dalam bentuk single subject research (SSR) dengan desain A-B-A dan analisis data penelitian menggunakan teknik analisis visual grafik.Hasil Penelitian menunjukkan pada kondisi baseline (A1) dilakukan sebanyak enam kali, ketahanan duduk anak terletak pada rentang 2-4 menit. Kondisi intervensi (B) dilakukan tujuh kali dengan menggunakan bermain papan pasak, ketahanan duduk anak meningkat, pada rentang 4-7 menit. Kemampuan setelah tidak diberi intervensi(A2) dilakukan 6 kali, ketahanan duduk anak terletak pada rentang 6-8 menit. Persentase overlap pada kondisi baseline (A1) 0% dan kondisi baseline (A2) 71,4%. Dengan demikian bahwa hipotesis diterima, berarti dengan bermain papan pasak dapat meningkatkan ketahanan duduk pada anak down syndrome di kelas VII SLB Wacana Asih Padang. Berdasarkan data hasil penelitian, peneliti memberikan saran bagi guru untuk menggunakan bermain papan pasak dalam meningkatkan ketahanan duduk anak.Kata kunci : papan pasak, ketahanan duduk, anak down syndrome
Strategi Kooperatif Learning Merupakan Salah Satu Alternatif Meningkatkan Partisipasi Siswa Tunagrahita Ringan Dalam Pembelajaran IPA (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas DVI SLB N Ganting Bukittinggi) Indria Syafitri; Ardisal -; Irdamurni -
Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.819 KB) | DOI: 10.24036/jupe85700.64

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi oleh permasalahan siswa Tunagrahita kelas D VI C yang kurang partisipasi dalam pembelajaran. Selama ini usaha guru kepada anak yaitu memberikan motivasi kepada anak dengan memberikan pujian ketika anak menyelesaikan tugas-tugas, dan dalam belajar guru menggunakan metode tanya jawab, demonstrasi, penugasan dan latihan.Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan partisipasi siswa melalui strategi kooperatif learning dalam kegiatan pembelajaran IPA di kelas D VI/C SLB N Ganting Bukittinggi.Metode penelitian adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilakukan berkolaborasi dengan guru kelas. Tindakan ini dilakukan pada anak Tunagrahita ringan kelas D VI/C SLB N Manggis GantingHasil penelitian menunjukkan pada siklus I yang dilaksanakan sebanyak enam kali pertemuan proses pembelajaran dimulai dari peneliti meminta siswa duduk secara berkelompok lalu peneliti menjelaskan materi pelajaran. Setelah itu peneliti memberikan latihan dan mengerjakannya secara bersama-sama. Sebelum dilaksanakan penelitian F yang awalnya tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran seperti menjawab pertanyaan, mengerjakan latihan, menuliskan jawaban ke depan kelas. Setelah diberi tindakan pada siklus I mendapat nilai 61,5% mampu dengan bantuan peneliti dari kemampuan berpartisipasi, dan mendapat nilai 96% dari kemampuan berpartisipasi saat diberikan tindakan pada siklus II. Dengan ini disimpulkan bahwa pelaksanaan strategi kooperatif learning terlihat kemampuan berpartisipasi dalam pembelajaran IPA pada anak telah meningkat. Disarankan pada sekolah, guru dan peneliti selanjutnya untuk dapat menggunakan strategi kooperatif learning dalam meningkatkan kemampuan berpartisipasi pada sisiwa agar terciptanya kegiatan pembelajaran yang lebih efektif dan efesien.

Page 2 of 2 | Total Record : 14