cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 384 Documents
Analisis Peran p53 pada Astrositoma Difus dan Astrositosis: Studi Diagnostik Eka Susanto; Esti DS Soetrisno; Nurjati C Siregar; Ening Krisnuhoni; Primariadewi Rustamadji
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.169 KB)

Abstract

Latar belakang Astrositoma difus (WHO grade II) merupakan tumor astrositik yang paling sering ditemukan di FKUI/ RSCM. Tumor ini merupakan tumor invasif, potensial agresif, dan dapat bertransformasi menjadi astrositoma derajat tinggi. Pada praktik sehari-hari, diagnosis astrositoma difus kadang-kadang sulit ditegakkan hanya dengan gambaran histopatologik. Hal ini terutama disebabkan karena astrositoma difus sukar dibedakan dengan astrositosis, apalagi bila ukuran spesimen biopsi sangat kecil. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mutasi gen TP53 sering ditemukan pada astrositoma difus. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pulasan imunohistokimia p53 dalam membedakan astrositoma difus (WHO grade II) dengan astrositosis. Metode Studi diagnostik dilakukan pada 20 kasus astrositoma difus dan 20 kasus lesi astrositosis dengan baku emas pemeriksaan histopatologi. Penilaian histopatologi dan ekspresi p53 dinilai secara tersamar. Pulasan imunohistokimia dinyatakan dalam skor, yaitu positif bila inti astrosit terwarnai coklat tua. Hasil penilaian ekspresi pulasan p53 dimasukkan ke dalam Tabel 2x2 untuk dihitung nilai diagnostiknya. Hasil Protein p53 terekspresi kuat pada 13 kasus astrositoma difus dan 1 kasus astrositosis karena peradangan. Dengan demikian didapatkan sensitivitas 65% dan spesifisitas 95%. Terdapat 2 kasus astrositosis yang positif kuat pada endotel dan makrofag. Ekspresi lemah dan sedang tidak terbatas pada astrositoma difus, namun dijumpai pula pada kasus astrositosis. Kesimpulan Pada penelitian ini di dapatkan spesifisitas yang cukup tinggi, namun sensitivitas masih rendah. Ekspresi p53 tidak terbatas pada astrosit neoplastik, tapi juga dijumpai pada astrosit reaktif dan sel selain astrosit. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam interpretasi ekspresi p53. Kata kunci: astrositoma difus, astrositosis, imunohistokimia, p53.
Hubungan Positif Ekspresi Cyclooxygenase-2 dengan Micro-vessel Density pada Undifferentiated Carcinoma Nasopharynx di RSUP Sanglah Denpasar Made Dwi Hartayati; I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi; Moestikaningsih Moestikaningsih
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.034 KB)

Abstract

Latar belakang Tumor memerlukan pembentukan pembuluh darah baru atau angiogenesis untuk dapat tumbuh dan bermetastasis. Angiogenesis dapat dinilai dengan menghitung microvessel density (MVD). Salah satu cara untuk menentukan microvessel adalah dengan pewarnaan imunohistokimia CD31. Cyclooxygenase-2 (COX-2) adalah faktor potensial penting pada angiogenesis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan ekspresi COX-2 dengan MVD pada undifferentiated carcinoma nasophrynx di RSUP Sanglah Denpasar. Metode Penelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel penelitian adalah sediaan blok parafin penderita undifferentiated carcinoma nasophrynx yang diperiksa secara histo-patologi di Bagian/SMF Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar dan Laboratorium Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta sejak 1 Januari 2014 sampai dengan 31 Agustus 2014. Diagnosis ulang sediaan histopatologi dilakukan dengan pulasan rutin H&E untuk mendapatkan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga tercapai jumlah 31 sampel. Selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia COX-2 dan CD 31 pada seluruh sampel. Kemudian hasil dianalisis dengan uji Pearson Hasil Ekspresi COX-2 positif ditemukan pada 24 (77,42%) subyek dan dijumpai negatif pada 7 (22,59%). Ditemukan 22 (70,97%) kasus undifferentiated carcinoma nasophrynx dengan MVD tinggi dan 9 (29,03%) dengan MVD rendah. Ditemukan adanya korelasi positif ekspresi COX-2 dengan MVD (r=0,868; p=0,001). Kesimpulan Pada penelitian ini, ditemukan adanya hubungan positif antara ekspresi COX-2 dan MVD pada undifferentiated carcinoma nasophrynx. Kata kunci: cyclooxygenase-2, microvessel density, undifferentiated carcinoma nasophrynx.
Korelasi antara Imunoekspresi Retinoid Acid Receptor (RAR) Alfa dan Ki-67 dengan Stadium Klinis dan Diferensiasi Retino-blastoma Friska Mardianty; Sri Suryanti; Bethy S Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.465 KB)

Abstract

Latar belakang Retinoblastoma merupakan keganasan mata tersering pada anak usia dibawah 5 tahun dan 50-60% kasus retinoblastoma di negara berkembang berakhir dengan kematian. Terapi saat ini sangat tergantung dengan stadium klinis dan walaupun telah diberikan terapi yang sesuai, masih ditemukan kasus rekurensi atau metastasis. Vitamin A diketahui banyak berperan untuk mata, dan telah terbukti pula vitamin A berperan pada karsinogenesis di beberapa keganasan lainnya. RAR alfa adalah reseptor dari retinoid acid yang salah satu fungsinya adalah sebagai anti proliferasi, sedangkan Ki-67 adalah petanda untuk menilai indeks proliferasi dari suatu sel. Tujuan penelitian ini dapat menilai adakah hubungan RAR dan Ki-67, berdasarkan diferensiasi dan stadium klinis pada retinoblastoma. Metode Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan desain analisis korelasi terhadap 40 kasus retinoblastoma yang memenuhi kriteria penelitian, periode januari 2010-november 2014 di Departemen Patologi Anatomik RS Hasan Sadikin, Bandung. Seluruhnya dilakukan pulasan imunohistokimia RAR alfa dan Ki-67 dikorelasikan dengan stadium klinis dan diferensiasi sel. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Coefficient Contingensy dan kriteria Guillford. Hasil Hasil penelitian ini seluruhnya memberikan imunoekspresi positif pada RAR alfa dan Ki-67. Didapatkan imunoekspresi Ki-67 berkorelasi positif terhadap diferensiasi (p=0,042 dan R=0,370), namun tidak terdapat korelasi bermakna dengan stadium klinis, sedangkan pada pemeriksaan RAR alfa tidak terdapat korelasi bermakna baik dengan stadium klinis maupun tipe diferensiasi sel. Kesimpulan Tipe yang tidak berdiferensiasi menunjukkan indeks proliferasi yang lebih tinggi dibandingkan tipe yang berdiferensiasi. Kata kunci : diferensiasi, Ki-67, RAR alfa, retinoblastoma, stadium.
Hubungan antara Ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan Invasi Ekstra Okuler pada Retinoblastoma Emillia Wijayanti; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.82 KB)

Abstract

Latar belakang Retinoblastoma merupakan 80% dari semua kanker okular primer pada anak-anak sampai usia 15 tahun. Invasi tumor adalah tahap penting yang menyebabkan metastasis pada retinoblastoma. Faktor resiko terbesar untuk metastasis adalah invasi pada orbita atau saraf optikus. Angka kelangsungan hidup kasus retinoblastoma ekstra okuler masih rendah, rata-rata antara 50%-70%. Ekspresi MMP-9 dan VEGF dapat berperan sebagai petanda biologis untuk invasi dan metastasis retinoblastoma. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Metode Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel sebanyak 30 dibagi dalam: 21 dengan invasi ekstra okuler dan 9 tanpa invasi ekstra okuler yang telah didiagnosis di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dalam rentang waktu Januari 2011-Desember 2013. Sampel dilakukan pulasan immunohistokimia dengan antibody monoclonal anti VEGF dan antibody polyclonal anti MMP-9 serta dinilai menggunakan metode semikuantitatif. Hubungan ekspresi VEGF dan MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma dianalisa menggunakan Regresi Logistik. Hubungan antara ekspresi VEGF dengan MMP-9 pada retinoblastoma dianalisa menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil VEGF terekspresi pada 24 dari 30 (80%) sampel. MMP-9 terekspresi pada 28 dari 30 (93,3%) sampel. Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi VEGF dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi MMP-9 dengan invasi ekstra okuler pada retinoblastoma. Terdapat hubungan antara ekspresi VEGF dan MMP-9 pada retinoblastoma (p=0,012, r=0,454). Kesimpulan Hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan ekspresi VEGF maupun MMP-9 dengan invasi ekstraokuler pada retinoblastoma namun terdapat kecenderungan peningkatan ekspresi VEGF dan MMP-9 pada sampel retinoblastoma dengan invasi ekstraokuler. Terdapat korelasi positif antara ekspresi VEGF dengan MMP-9 yang menunjukkan adanya peningkatan ekspresi VEGF seiring dengan peningkatan MMP-9, namun tidak terdapat hubungan dengan invasi ekstra okuler. Kata kunci: VEGF, MMP-9, invasi ekstra okuler, retinoblastoma.
Hubungan Ekspresi Imunohistokimia Protein Gene Product (PGP9.5) dengan Derajat Histopatologi Tipe Adenokarsinoma Serosum dan Musinosum Ovarium Radita Nur Anggraini Ginting; T. Ibnu Alferraly; Soekimin Soekimin
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 1 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.353 KB)

Abstract

Latar belakang Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi yang dijumpai hampir 30% dari semua kanker organ reproduksi. Tipe paling umum dijumpai adalah kanker ovarium yang berasal dari epitel permukaan ovarium. Differensiasi menjadi jenis sel-sel epitel pada kanker ovarium jenis epitel berada pada kontrol yang sama dan nantinya akan menentukan jenis epitel pada organ sistem reproduksi wanita selama perkembangan embrionik. Protein gene product (PGP9.5) merupakan suatu peptide spesifik pada neuron yang menghilangkan ubiquitin dari protein-protein ubiquinated dan dapat berperan sebagai promoter hipermetilasi yang penting dalam gen transkripsi pada kanker. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan ekspresi imunohistokimia PGP9.5 pada berbagai derajat histopatologi kanker ovarium tipe adenokarsinoma serosum dan adenokarsinoma musinosum. Metode Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan dan pengumpulan blok parafin jaringan ovarium sebanyak 45 sampel terdiri dari 22 sampel adenokarsinoma serosum dan 13 sampel adenokarsinoma musinosum, dipulas dengan imunohistokimia PGP9.5 dan dilakukan interpretasi dengan menilai intensitas kualitas tampilan warna pada sel tumor. Hasil Berdasarkan analisa dengan uji Kruskal-Wallis didapati 26 sampel yang terpulas negatif dengan imunohistokimia PGP9.5 terdapat 13 kasus dengan derajat differensiasi well differentiated (50%), 6 kasus (23,1%) moderately differentiated dan 7 kasus (26,9%) poorly differentiated. Pada 5 sampel yang terekspresi lemah tedapat 4 kasus (80%) dengan well differentiated dan 1 kasus (20%) dengan poorly differentiated. Pada 4 kasus terekspresi sedang, terdapat 2 kasus (50%) pada well differentiated, 1 kasus (25%) pada moderately differentiated dan 1 kasus (25%) pada poorly differentiated. Pada 10 sampel yang terekspresi kuat, terdapat 2 kasus(20%) pada well differentiated dan 8 kasus (80%) pada poorly differentiated Kesimpulan Tidak ada hubungan ekspresi PGP9.5 dengan derajat histopatologi kanker ovarium tipe adenokarsinoma serosum dan adenokarsinoma musinosum (p-value >0,05). Kata kunci: adenokarsinoma musinosum, adenokarsinoma serosum, imunohistokimia, kanker ovarium, protein gene product (PGP9.5).
Ekspresi Antibodi IgG dan IgA pada Lesi Blister Subepidermal Theresia Fifi Judikristiani; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.075 KB)

Abstract

Latar belakangPenyakit blister subepidermal selain fatal, juga masih belum jelas patogenesisnya serta masih terdapat kekurangan dalam terapinya. Autoantibodi terbukti berperan dalam terjadinya berbagai lesi blister subepidermal ini, di antaranya adalah antibodi IgG dan IgA. Deposit antibodi tersebut dapat dideteksi dengan pemeriksaan imunohistokimia. Dengan mengetahui deposit immunoglobulin, bisa untuk pengembangan terapi penyakit blister subepidermal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan IgG dan IgA pada berbagai blister subepidermal. Dengan menilai ekspresi IgG dan IgA dan hubungannya serta perannya dalam patogenesis berbagai blister subepidermal menggunakan metode imunohistokimia.MetodeBlok paraffin biopsi kulit dengan gambaran blister subepidermal, dikumpulkan di Instalasi Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo sejak 1 Januari 2011 sampai 31 Desember 2014 dan dilakukan pemotongan dengan mikrotom serta dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi IgG dan IgA. Data hasil yang diperoleh dilakukan analisis statistik untuk memperoleh gambaran perbedaan ekspresi antibodi IgG dan IgA pada berbagai lesi kulit dengan blister subepidermal.HasilDalam setiap kasus blister subepidermal selalu terdapat Imunoglobulin yang berperan yaitu IgG, IgA atau keduanya, tetapi tidak ada yang keduanya tidak terekspresi. Pada sebagian besar kasus hanya IgG atau IgA yang berperan, hanya sebagian kecil (10%) yang terekspresi keduanya. Analisis statistik menunjukkan hasil: tidak didapatkan perbedaan ekspresi IgG dan IgA pada berbagai blister subepidermal dan didapatkan korelasi negatif antara ekspresi IgG dan IgA pada berbagai blister subepidermal.KesimpulanTidak didapatkan perbedaan ekspresi IgG dan IgA pada berbagai blister subepidermal. Didapatkan korelasi negatif antara ekspresi IgG dan IgA pada berbagai blister subepidermalKata kunci : blister subepidermal, IgG, IgA.
Overekspresi HER-2/neu Berhubungan Positif dengan Derajat Diferensiasi, Kedalaman Invasi, dan Metastasis Kelenjar Getah Bening Regional pada Adenokarsinoma Kolorektal di Bali I Nyoman Sasputra; Herman Saputra; LP. Iin Indrayani Maker
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.702 KB)

Abstract

BackgroundColorectal adenocarcinoma still is a serious health problem in Bali. tumor differentiation, depth of invasion, regional lymph node metastasis and HER-2/neu were used as important prognosis predictive factor for colorectal adenocarcinoma. The aim of this study was to find out the correlation between tumor differentiation, depth of invasion and regional lymph node metastasis with HER-2/neu expression.MethodsA cross sectional study included samples of colorectal adenocarcinoma from colonectomy with regional lymph node from 2012 until 2014 in Anatomical Pathology Laboratory RSUP Sanglah Denpasar. We review the diagnosis, pathological prognostic factor ( tumor differentiation, depth of invasion, and regional lymph node metastasis) and HER-2/neu immunohistochemical staining.ResultsForty four samples were included in this study. HER-2/neu overexpression was found in 28 cases and the remaining 16 cases with negative. HER2/neu positive was found mostly in moderately differentiated tumor (75%), T3 tumor (76.8%) and tumor with regional metastatis (71%). Spearman correlation test analysis of this study showed a strong correlation between expression HER-2/neu with regional lymph node metastasis (r=0.628), moderate correlation with grade of differentiation (r=0.481), and moderate correlation with depth of invasion (r=0.468).ConclusionThere were positive correlation between tumor differentiation, depth of invasion and regional lymph node metastasis with overexpression HER-2/neu, hence it’s role is important to predict the prognosis of colorectal adenocarcinoma patients.
Deteksi High Risk Human Papilloma Virus pada Jaringan Adenoma dan Adenokarsinoma Kolorektal di FKUI/RSCM Wiwiek Ernajanti; Diah Rini Handjari; Kusmardi Kusmardi; Yusra Yusra
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.27 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal merupakan tumor ganas ketiga di dunia. Sembilan puluh lima persen karsinoma kolorektal merupakan adenokarsinoma yang berasal dari lesi prekursor adenoma. Dilaporkan 15%-20% karsinoma terkait dengan infeksi virus. Virus yang diduga berhubungan dengan karsinoma kolorektal adalah human papilloma virus (HPV) dan tipe tersering adalah 16 dan 18. Hubungan antara HPV dan karsinoma kolorektal masih menjadi perdebatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prevalensi infeksi HPV pada adenoma dan adenokarsinoma kolorektal di Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM Jakarta dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR).MetodePemeriksaaan DNA HPV pada 33 kasus adenoma dan 33 kasus adenokarsinoma kolorektal dengan teknik nested PCR MY/GP dan elektroforesis. Pada kasus dengan hasil HPV positif, dilanjutkan PCR menggunakan primer spesifik HPV 16 dan HPV 18. Subjek penelitian berasal dari Departemen Patologi Anatomik FKUI/RSCM.HasilSatu dari 33 kasus (3,0%) adenoma dan 3 dari 33 kasus (9,1%) adenokarsinoma positif infeksi HPV. Satu kasus adenoma positif HPV bukan merupakan tipe 16 dan 18. Satu kasus adenokarsinoma dengan positif HPV merupakan tipe 16, 2 kasus merupakan gabungan tipe 16 dan 18.KesimpulanPrevalensi infeksi HPV pada adenokarsinoma lebih tinggi dibandingkan adenoma kolorektal. Tipe HPV pada kasus adenokarsinoma kolorektal merupakan tipe 16 dan 18.
Analisis Ekspresi Cyclin Dependent Kinase (Cdk)6 dan Ki-67 pada Neoplasma Kelenjar Liur Meyta Riniastuti; Dyah Fauziah; Alphania Rahniayu
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.032 KB)

Abstract

BackgroundBroad spectrum tumors can arise in salivary glands, giving diagnostic difficulties in some subtypes due to morphological similarities. Immunohistochemistry studies done to differentiate between benign and malignant neoplasms of salivary glands are very few, including Cdk6 and Ki-67. Cdk6’s role in tumorigenesis is halting cellular proliferation and differentiation. Ki-67 is actively expressed in proliferating cells, particularly neoplasms. The objectives are to analyze differences of Cdk6 and Ki-67 expression in benign and malignant salivary gland neoplasms and to analyze the correlation between those two proteins.MethodsThis is an analitic observational study with cross sectional design. Samples were taken proportionally, each 15 samples of benign and malignant salivary gland neoplasms, derived from pathological archives during 1 January 2011-30 June 2013 period. Immunohistochemical staining with Cdk6 and Ki-67 monoclonal antibody were performed. Differences in Cdk6 and Ki-67 expression of both groups were analyzed using Mann Whitney. The correlation between the Ki-67 and Cdk6 expression were analyzed using Spearman.ResultsThere were significant differences in the Cdk6 and Ki-67 expression between benign and malignant salivary gland neoplasms.The expressions of Ki-67 have a cut-off point of 6.50%. There was a significant correlation between Cdk6 and Ki-67 expression in the salivary gland neoplasms.ConclusionExpression of Cdk6 and Ki-67 were low at benign salivary gland neoplasms and high at malignant salivary glands neoplasms. There was significant correlation between Cdk6 expression and Ki-67 expression at benign and malignant salivary gland neoplasms. Although both could differentiate the behavior of neoplasms, Ki-67 was more reliable and applicable.
Ekspresi Matriks Metaloproteinase 9 pada Infiltrasi Karsinoma Tiroid Papiler Klasik dan Varian Folikuler Ni Wayan Armerinayanti; I Ketut Mulyadi; Luh Putu Iin Indrayani Maker
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No 2 (2017): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1163.195 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma tiroid papiler (KTP) merupakan 80% dari seluruh karsinoma tiroid berdiferensiasi baik dengan 2 tipe paling sering yaitu KTP klasik dan KTP varian folikuler (KTPVF). Agresivitas antara kedua tipe KTP ini masih kontroversi dalam berbagai aspek klinikopatologik. Matriks metaloproteinase 9 (MMP-9) merupakan marka relevan dalam memprediksi agresivitas tumor karena mempengaruhi proses invasi dan metastasis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi MMP-9 dalam mempengaruhi luas infiltrasi KTP sehingga berkaitan dengan agresivitas KTP.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 40 sediaan blok parafin pasien KTP Klasik dan KTPVF yang diperiksa secara histopatologi di Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar sejak tanggal 1 Januari 2011 sampai 30 Juni 2014. Sampel terdiri dari 10 KTP klasik intrakompartemen, 10 KTP klasik ekstrakompartemen, 10 KTPVF intra-kompartemen dan 10 KTPVF ekstrakompartemen. Selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia MMP-9 pada seluruh sampel. Hasil penelitian dianalisis dengan uji one way anova dan regresi multipel ANCOVA dengan kemaknaan p<0,05.HasilTerdapat perbedaan rerata skor ekspresi MMP-9 antar keempat kelompok, di mana rerata skor ekspresi MMP-9 KTP klasik intrakompartemen 2,60±1,77; KTP klasik ekstrakompartemen 7,80 ±1,54; KTPVF intra-kompartemen 3,70±1,74 dan KTPVF ekstrakompartemen 7,00±1,80. Melalui uji one way anova terdapat perbedaan yang bermakna antara KTP intrakompartemen dengan KTP ekstrakompartemen (p<0,001). Uji regresi ANCOVA menunjukkan tidak terdapat pengaruh usia, jenis kelamin dan ukuran tumor terhadap skor ekspresi MMP-9 (p>0,05).KesimpulanPeningkatan maupun penurunan ekspresi MMP-9 mempengaruhi luas infiltrasi KTP sehingga ekspresi MMP-9 berkaitan dengan agresivitas KTP.