cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 643 Documents
Tampilan Pulasan Imunohistokimia Matrix Metalloproteinase-9 (MMP-9) Pada Undifferentiated Carcinoma Nasofaring Tipe Regaud dan Tipe Schmincke . Herza Piasiska, H.M. Nadjib D. Lubis, Soekimin
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 3, September 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Pola pertumbuhan undifferentiated karsinoma nasofaring ada 2 tipe yaitu tipe Regaud, dengan sel-sel neoplastik berkelompok dan berbatas tegas dikelilingi jaringan ikat berisi sedikit limfosit, dan tipe Schmincke dengan sel-sel neoplastik tumbuh difus dan bercampur sel-sel radang. Matrix Metalloproteinase-9 (MMP-9) merupakan enzim proteolitik yang berperan dalam perkembangan karsinoma nasofaring, termasuk invasi sel tumor dan metastasis. Tujuan Tujuan penelitian ini untuk membedakan tampilan MMP-9 pada undifferentiated karsinoma nasofaring tipe Regaud dan tipe Schmincke. Metoda Rancangan penelitian berupa penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 53 berasal dari biopsi nasofaring, yang sebelumnya telah didiagnosa sebagai karsinoma nasofaring. Hasil penelitian diuji menggunakan Chi Square. Hasil Tpe Regaud menunjukkan proporsi jumlah sel yang terwarnai adalah: < 25% (57.7%), 25-75% (11.5%), >75% (30.8%); tampilan warna lemah (57.7%), sedang (23.1%), kuat (19.2%) dan interpretasi intensitas warna lemah (92.4%), sedang (3.8%),kuat (3.8%). Tipe Schmincke menunjukkan proporsi jumlah sel yang terwarnai adalah 75% (29.6%); tampilan lemah (51.9%), sedang (25.9%), kuat 22.2%); Interpretasi intensitas warna lemah (81.5%), sedang (14.8%), kuat 3.7%). Uji Chi-square menunjukkan hasil yang tidak berbeda bermakna. Kesimpulan Tampilan MMP-9 pada undifferentiated karsinoma nasofaring tipe Regaud dan tipe Schmincke menunjukkan hasil yang hampir sama. Kata kunci: Matrix Metalloproteinase-9, undifferentiatedkarsinoma nasofaring, tipe Regaud, tipeSchmincke, pulasan Imunohistokimia. ABSTRACT Background The growth pattern of undifferentiated carcinoma nasopharyngeal are Regaud type and Schmincke type. Regaud type consists of well defined aggregate of neoplastic epithelial cells surrounded by fibrous tissue and inflammatory cells; while Schmincke type, the neoplastic epithelial cells growth diffusely and are closely intermingled with inflammatory cells. Matrix Metalloproteinase-9 (MMP-9) is proteolytic enzyme plays significant roles in nasopharyngeal carcinoma progression, including tumor invasion and metastasis. Objective The purpose of this research is to distinctive MMP-9 expression on undifferentiated nasopharyngeal carcinoma Regaud type and Schmincke type. Methods This research constitute analytic descriptive research with cross sectional design. Sample contain of 53 nasopharyngeal biopsy, that have been diagnosed as undifferentiated nasopharyngeal carcinoma. The result is test by Chi Square. Result Regaud type showed proportion amount of staining cells are: < 25% (57.7%), 25-75% (11.5%), >75% (30.8%); expression are: weak (57.7%), moderate (23.1%), strength (19.2%); interpretation color are: weak (92.4%), moderate (3.8%), strength (3.8%). Schmincke type showed proportion amount of staining cells are: 75% (29.6%); expression are: weak (51.9%), moderate (25.9%), strength 22.2%); Interpretation color intensity are: weak (81.5%), moderate (14.8%), strength (3.7%). Chi-square test showed no significant differences. Conclusion Expression MMP-9 on undifferentiated nasopharyngeal carcinoma Regaud type and Schmincke type showed nearly the same result. Key word: Matrix Metalloproteinase-9, Undifferentiated nasopharyngeal carcinoma, Regaud type, Schmincke type, Immunohistochemistry.
Hubungan antara Umbilical Coiling Index dengan Skor Makros-kopis dan Mikroskopik Maturitas Vili pada Kehamilan Normal . Esther RD Sitorus*, Gani W. Tambunan*, Joko S. Lukito*, Djafar Siddik**, A. Harkingto Wibi
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Penelitian mengenai tali pusat/Umbilical Coiling Index (UCI) masih sedikit dilakukan di Indonesia. Tampilan tali pusat dan plasenta merupakan perwakilan untuk menduga masa depan bayi yang dilahirkan hidup ataupun bukti penyebab kematian bayi yang dilahirkan mati. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan indeks putaran tali pusat serta mengetahui hubungan antara skor makroskopis plasenta dan mikroskopik maturasi vili-vili pada kehamilan normal. Metode Penelitian dilakukan pada 47 orang Ibu yang akan melahirkan tanpa penyulit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan sekaligus pada satu saat (point time approach). Pengamatan makroskopis dilakukan pada plasenta dan tali pusat, dan skoring sesuai kartu tabel Scott and Jordan. Sedangkan pengamatan mikroskopis dilakukan pada sediaan histologis dan skoring sesuai Bernieschke. Uji statisik dilakukan dengan t-test dan analisis korelasi multi varian. Hasil Nilai UCI 0.32±0.08. Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan plasenta mendapat skor < 5, berarti seluruh plasenta adalah normal. Hasil pengamatan mikroskopis menunjukkan dominasi terminal vili dan matur intermediate vili. Uji statistik antara plasenta dan maturasi vili menunjukkan adanya perbedaan yang tidak bermakna. Kesimpulan Nilai UCI pada kehamilan normal dapat digunakan untuk mengetahui kondisi plasenta secara makroskopik dan mikroskopik Kata kunci : Umbilical coiling index, Skor Scott dan Jordan, Skor Maturasi Vili ABSTRACT Background Research abaout Umbilical Coiling Index (UCI) in Indonesia is still seldom. Expression of UCI could be used to predict the future of alive or dead baby born. Objective To find out the Umbilical Coiling Index and to know relationship between macroscopic score of placenta and microscopic of villous maturation on normal pregnancy. Methods Research were done on 47 mothers who will partus without difficulty. This is a descriptive analytic research with cross sectional approach. Data collecting were done by point time approach. Macroscopic evaluation were done on placenta and umbilical, and were score based on Scott and Jordan card. While, microscopic evaluation were done histologic features and scoring based on Bernieschke. Statistical analysis was done by t-test and multi varian correlation analytic. Result The mean of UCI was UCI 0.32±0.08. Macroscopic evaluation of placenta showed score
Perbedaan Tampilan Imunohistokimia p63 antara Neoplasia Intraepitel Prostat dengan Adenokarsinoma Prostat . Hendrianto, H.M. Nadjib Dahlan Lubis, Joko S. Lukito
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Kadangkala pada pemeriksaan histopatologi rutin sulit dibedakan antara adenokarsinoma prostat berdifrensiasi baik dan neoplasia intraepitel prostat (PIN). Untuk itu diperlukan pewarnaan lain yang lebih akurat dengan menggunakan petanda sel basal, seperti p63. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan adanya perbedaan tampilan imunohistokimia p63 antara PIN dengan adenokarsinoma prostat. Bahan dan cara Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian jaringan prostat sebanyak 49 blok paraffin berasal dari transurethral resection of prostate (TURP) atau surgical prostatectomy yang telah didiagnosa dengan pewarnaan HE. Hasil Pemeriksaan imunohistokimia (IHK) menggunakan p63 ini memiliki sensitivitas sebesar 68%, spesifitas sebesar 75%, nilai prediktif positif sebesar 74%, nilai prediktif negatif sebesar 69% dan likelihood ratio + sebesar 2,72. Uji statistik chi-square antara PIN dan adenokarsinoma prostat menunjukkan perbedaan bermakna (p
Tingkat Kesesuaian Diagnosis Invasi Limfatik pada Karsinoma Duktal Invasif Payudara pada Pulasan Hematoksilin-Eosin Dibandingkan dengan Pulasan Imunohistokimia VEGFR-3 . I Wayan Juli Sumadi, AAAN Susraini
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Berbagai faktor dapat mempengaruhi prognosis penderita karsinoma payudara, salah satunya adalah invasi limfatik. Identifikasi invasi limfatik pada preparat hematoksilin eosin (HE) sulit sehingga diperlukan metode alternatif yaitu dengan pulasan imunohistokimia Vascular Endothelial Growth Factor Receptor-3 (VEGFR-3). Penelitian menggunakan pulasan VEGFR-3 dalam mendiagnosis invasi limfatik pada karsinoma payudara belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kesesuaian diagnosis invasi limfatik pada karsinoma duktal invasif payudara antara pulasan VEGFR-3 dan pulasan HE. Metode Lima puluh satu blok parafin penderita karsinoma duktal invasif payudara tipe tidak spesifik dilakukan pemotongan ulang dan dipulas dengan HE dan VEGFR-3. Semua sediaan dievaluasi oleh dua kelompok pengamat untuk didiagnosis invasi limfatik peritumoral. Kemudian dihitung persentase kesesuaian dan nilai kappa. Hasil Pada pulasan HE didapatkan kesesuaian diagnosis invasi limfatik sebesar 78,4%, dengan nilai κ=0,45; SE=0,14; 95%CI=0,31-0,59. Sedang pada pulasan imunohistokimia dengan VEGFR-3 didapatkan kesesuaian diagnosis invasi limfatik sebesar 92,1%, dengan nilai κ=0,73; SE=0,13; 95%CI=0,60-0,86. Ekspresi VEGFR-3 dapat ditemukan pada sebagian besar kasus. Kesimpulan Pada karsinoma duktal invasif tipe tidak spesifik, VEGFR-3 dapat digunakan untuk menilai tingkat kesesuaian invasi limfatik peritumoral, dan untuk memulas sitoplasma sel tumor. Kata kunci: invasi limfatik, VEGFR-3, HE, kesesuaian, karsinoma payudara ABSTRACT Background There are many factors influence the prognosis of breast cancer patients, one of them is lymphatic invasion. Identification of lymphatic invasion on hematoxyllin eosin (HE) slide is very difficult, so an alternative methode is needed, that is using anti VEGFR-3 antibody. Research of VEGFR-3 in diagnosing lymphatic invasion of carcinoma mammae has not doneyet. The aim of the study is to analysis the level of diagnosis invasive ductal lymphatic carcinoma ductal mammae between VEGFR-3 and HE. Methods Fifty one paraffin block patient of invasive ductal carcinoma mammae NOS were process and stained using HE and VEGFR-3. All slides were analyzed by two groups observers for peritumoral lymphatic invasion. Scoring and kappa were done. Results Observed agreement of HE staining was 78,4%, with κ=0,45; SE=0,14; 95%CI=0,31-0,59. While, observed level agreement of VEGFR-3 immunostaining was 92,1%, with κ=0,73; SE=0,13; 95%CI=0,60-0,86. VEGFR-3 expression could be found on almost cases that the cytoplasm of cancer tumor cells were showing positive staining for in most of the cases. Conclussion On invasive ductal carcinoma NOS, VEGFR-3 could be used to observed level agreement of lymphatic invasion peritumoral, and could staining the cytoplasm of cancer cells. Keyword: lymphatic invasion, VEGFR-3, HE, agreement, breast cancer
Ekspresi CK-16 pada Penyembuhan Luka Superfisial dengan Penambahan Hialuronat pada Amnion Freeze-Dried . Meianti Harjani, Imam Susilo
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Penyembuhan luka merupakan proses yang dinamis, melibatkan sejumlah mediator, sel darah, matriks ekstra seluler serta sel parenkim. Pada penyembuhan luka epidermal, cytokeratin (CK)-16 berfungsi menstimulasi reorganisasi susunan filamen keratin yang terjadi sebelum migrasi keratinosit ke area perlukaan. Asam hialuronat adalah salah satu komponen penting matriks ekstraseluler yang memegang peranan penting dalam morfogenesis jaringan, migrasi, diferensiasi serta adesi sel. Tujuan Untuk menganalisis pengaruh penambahan hialuronat LMW pada amnion freeze-dried terhadap ekspresi protein CK-16 dalam penyembuhan luka. Bahan dan cara Luka superfisial dibuat dengan melakukan sayatan eksisional pada punggung 32 ekor tikus jantan galur Wistar. Sampel dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok perlakuan diterapi dengan membran amnion freeze-dried yang ditambahkan hialuronat LMW 1%. Kelompok kontrol diterapi dengan membran amnion freeze-dried saja. Masing-masing kelompok kemudian dibagi menjadi 2 sub kelompok. Tiap sub kelompok terdiri dari 8 ekor tikus yang akan dilakukan pengorbanan pada hari ke 3 dan 7 setelah pembuatan luka. Evaluasi histopatologi dilakukan dengan mengukur ketebalan dan jumlah lapisan sel epitel, serta ekspresi protein CK-16. Hasil Kelompok perlakuan menunjukkan peningkatan ketebalan dan jumlah lapisan sel epitel serta ekspresi CK-16 dibanding kelompok kontrol pada 3 dan 7 hari. Uji statistik t-test menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p< 0.05). Kesimpulan Penambahan hialuronat LMW pada amnion freeze-dried dapat mempercepat penyembuhan luka dan epitelialisasi yang ditandai oleh ekspresi CK-16. Key words: penyembuhan luka, low molecular weight hyaluronate, epitelialisasi, CK-16 ABSTRACT Background Wound healing is a dynamic process involving mediators, blood cells, extracellular matrix and parenchymal cells. In epidermal wound healing, the function of cytokeratin (CK)-16 could be to promote reorganization of the cytoplasmic array of keratin filaments, an event that precedes the onset of keratinocyte migration into the wound site. Hyaluronic acid is one of the essential components of extracellular matrix, which plays a predominant role in tissue morphogenesis, cell migration, differentiation, and adhesion. Objective To evaluate the effects addition of Low Molecular Weight Hyaluronate of amnion freeze-dried on expression of protein CK-16 in wound healing. Material and methods Superficial-thickness excisional wounds were created along the backs of 32 adult wistar rats. Sample were divided into 2 groups. Test group was treated by freeze-dried amnion and 1% Low Molecular Weight Hyaluronate. Control group was treated by freeze-dried amnion only. Each of the groups was divided into 2 sub groups. Each of the sub groups composed of 8 wistar rats based on the periode of termination: 3rd and 7th day after wounded. Histological evaluation was done to measure the thickness and amount of epithelial layer and expression of CK-16. Results Test group showed not only higher thickness and amount of epithelial layer but also that expression of CK-16 compare to control group on 3 and 7 days. Statistic test of t-test showed significant differentiated (p
Akurasi P63 dalam Membedakan Lesi Epitel Jinak dan Lesi Epitel Ganas Payudara . Lely Hartati, Nadjib D. Lubis, Joko S. Lukito
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Mekanisme karsinoma payudara terjadi melalui berbagai tahapan, yaitu perubahan morfologi dan proliferasi sel-sel epitel. Beberapa lesi jinak dan lesi ganas payudara memiliki gambaran yang mirip sehingga sulit dibedakan. Identifikasi sel-sel mioepitel pada duktus atau lobulus payudara memiliki nilai diagnostik yang tinggi untuk membedakan lesi-lesi ini. Ekspresi gen p63, yang merupakan homolog gen p53 digunakan untuk identifikasi sel mioepitel. Hilangnya ekspresi p63 biasanya dikaitkan dengan progresifitas suatu tumor. Tujuan penelitian ini untuk menentukan akurasi p63 dalam membedakan antara lesi epitel jinak dan ganas payudara. Metode Pulasan imunohistokimia dilakukan terhadap 60 sampel jaringan payudara yang didiagnosis sebagai lesi epitel jinak dan lesi epitel ganas payudara dengan menggunakan metode REAL En Vision. Antibodi primer yang digunakan adalah mouse monoclonal antibodi p63 dengan pengenceran 1:100. Imunogennya adalah ∆Np63α. Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa tampilan p63 di inti sel basal pada kelompok lesi epitel jinak payudara menunjukkan tampilan positif kuat sebesar 36,36%, positif sedang sebesar 36,36%, positif lemah sebesar 13,64%, dan negatif sebesar 13,64%. Sedangkan, semua lesi epitel ganas menunjukkan tampilan negatif (100%). Kesimpulan Pemeriksaan imunohistokimia p63 ini memiliki sensitifitas sebesar 100%, spesifisitas sebesar 86%, nilai prediktif positif sebesar 93%, nilai prediktif negatif sebesar 100% dan likelihood ratio + sebesar 7.33%. Terdapat perbedaan yang bermakna dari tampilan p63 pada lesi epitel jinak dan lesi epitel ganas payudara (p
Korelasi Ekspresi Protein Survivin dengan Derajat Histopatologi pada Neoplasma Skuamosa Serviks . Faradilla Anwar, Rina Masadah, Johanna M. Kandouw, Ni Ketut Sungowati
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korelasi Ekspresi Protein Survivin dengan Derajat Histopatologi pada Neoplasma Skuamosa Serviks
Overekspresi HSP70 oleh Makrofag karena Induksi low-level laser pada Luka Bakar . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Makrofag merupakan suatu komponen penting yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini dilakukan untk meneliti pengaruh terapi low level laser (LLLT) terhadap aktivasi makrofag dalam pelepasan Heat Shock Protein (HSP) 70 dan Fibroblast Growth Factor (FGF) pada proses penyembuhan luka bakar pada kulit mencit. Metode Enam belas mencit dibagi dalam 2 kelompok dan dilakukan pembuatan luka bakar derajat 2 pada kulit punggung. Pada kelompok kontrol, luka bakar dioles dengan silver sulfadiazine (SSD) 1% secara topikal dan ditutup plaster. Pada kelompok perlakuan, luka bakar diterapi dengan low level laser Therapy (LLLT) energi 4 J/cm2, dioles dengan silver sulfadiazine 1% secara topikal dan ditutup plaster. Pada hari keempat dilakukan biopsi pada lesi luka bakar. Sediaan mikroskopik dibuat dan dipulas dengan pulasan HE dan teknik imunohistokimia. Hasil Analisa statistik dengan t-test pada makrofag penghasil HSP70 dan FGF antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan bermakna. Sedangkan, analisa statistik dengan Pearson-test pada makrofag penghasil HSP70 dan FGF antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menunjukkan adanya hubungan positif dan perbedaan bermakna. Kesimpulan Low level laser therapy berperan dalam menginduksi aktivasi makrofag untuk menghasilkan HSP70 endogen dan FGF pada lesi luka bakar derajat 2 pada proses penyembuhan luka. Kata Kunci : proses penyembuhan, lesi luka bakar derajat 2, low-level laser terapi, makrofag. ABSTRACT Background Macrophages have been shown to participate in the wound healing process. Thisstudy is toinvestigate the effects of low-level laser therapy (LLLT) on macrophages activation in producing Heat Shock Protein 70 (HSP70) and Fibroblast growth Factor (FGF) on the burn healing process of skin hamster. Methods Sixteen hamsters were divided into two groups and subjected to second degree burn lesion. In the control group, second degree burn lesion was applied topically with silver sulfadiazine (SSD) 1% and closed dressing. In the treatment group, second degree burn was treated with LLLT at energy densities of 4J/cm2, applied topically with silver sulfadiazine 1% and closed dressing. On the fourth days, a biopsy was performed on the burn lesion. Slide microscopic were made and staining with Hematoxylin Eosin (HE) and immunohistochemistry techniques. Results Statistical analysis with t-test on HSP70 and FGF producing macrophage between treatment and control group showed that a significantly differences. While analysis with Pearson-test on HSP70 and FGF producing macrophage between treatment and control group showed a positive correlation and significant differences. Conclusion Low-level laser therapy (LLLT) roled on induced macrophages activation in producing endogenous HSP 70 and FGF on the second-degree burn lesion of the wound healing process. Keywords: healing process, second degree burn lesion, low-level laser therapy, macrophage
Ekspresi Protein C-MYC dan BCL2 pada Karsinoma Nasofaring Jenis Undifferentiated, Hubungannya dengan T-stage dan N-stage . Anny Setijo Rahaju, Endang Joewarini
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 2, Mei 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas terbanyak di Departemen Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Kendala yang dihadapi dalam penanganan KNF adalah penderita datang ke dokter dalam stadium lanjut. Berbagai penelitian dilakukan untuk mempelajari berbagai petanda molekular dalam menentukan prognosis termasuk ekspresi protein C Myc dan Bcl2. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara ekspresi protein C Myc dan Bcl2 dengan T-stage dan N-stage pada KNFUndifferentiated. Bahan dan Cara Penelitian ini merupakan penelitian retrospective and cross sectional observational study. Sampel diperoleh dari arsip histopatologi penderita baru KNF yang datang memeriksakan diri ke Laboratorium Patologi Anatomik RSUD. Dr. Soetomo selama Juli-Desember 2007. Kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia meng-gunakan antibodi Bcl2 dan C Myc pada 13 penderita yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil Penelitilian ini mendapatkan hasil ekspresi Bcl2 negatif pada penderita KNFJenis Undifferentiated dengan T1/T2 terdapat 2/3 penderita, dengan T3/T4 sebanyak 7/10 penderita, dengan N1/N2 sebanyak 5/5 penderita dan dengan N3 terdapat 4/8 penderita. Ekspresi C Myc positif pada penderita KNF Jenis Undifferentiated dengan T1/T2, terdapat pada 3/3 penderita, dengan T3/T4 sebanyak 9/10 penderita, dengan penyebaran pada KGB setempat N1/N2 sebanyak 5/5 penderita dan dengan N3 sebanyak 7/8 penderita. Kesimpulan Karena jumlah kasus yang kurang, maka tidak bisa dianalisa secara statistik hubungan antara ekspresi Bcl2 dan Myc dengan stadium karsinoma nasofaring jenis undifferentiated. Kata kunci: KNF jenis undifferentiated, C Myc, Bcl2, T-stage, N-stage ABSTRACT Background Nasopharyngeal carcinoma (NPC) was the most common malignancy in Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Department. Various studies carried out to study the various molecular markers in determining prognosis including CMyc and Bcl2 protein expression. Because of the difficulty of early diagnosis, most of Nasopharyngeal Carcinoma patients came in late stage. Prognostic factors will be needed to support therapy. This study was conducted to determine the correlation between C Myc and Bcl2 expression with T-stage and N-stage in Undifferentiated nasopharyngeal carcinoma. Material and Method This cross sectional and observational study was done retrospectively. T-stage and N-stage archives of undifferentiated nasopharyngeal carcinoma new patiens were retrieved from medical records at Pathology department Dr. Soetomo Hospital Surabaya between July and December 2007. Immunohistochemical examination with CMyc and Bcl2 antibody were done on 13 block paraffin specimens which fullfil the inclusion criteria. Results Negative Bcl2 expression were found in 2/3 cases of T1/T2, 7/10 cases of T3/T4, 5/5 cases of N1/N2 and 4/8 cases of N3 Undifferentiated nasopharyngeal carcinoma. Positive C Myc expression were found in 3/3 cases of T1/T2, 9/10 cases of T3/T4 , 5/5 cases of N1/N2 and 7/8 cases of N3 Undifferentiated nasopharyngeal carcinoma. Conclusion Based on the small number of cases the correlation of Bcl2 and C Myc with N and T stage of the naspharyngeal carcinoma undifferentiated type were not adequate for statistical analysis. Keywords : undifferentiated nasopharyngeal carcinoma, C Myc, Bcl2, T-stage, N-stage
Perbedaan Tampilan Cathepsin D pada Berbagai Grade Histo-patologi Karsinoma Duktus Invasif Payudara . Susi Lusanna Lubis, H. M. Nadjib Dahlan Lubis, H. Joko S. Lukito
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 2, Mei 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Penyebaran dan metastasis sel-sel tumor payudaramerupakan masalah yang sering dijumpai pada karsinoma payudara. Berdasarkan grade histopatologi menunjukkan makin tinggi suatu grade, maka makin ganas suatu kanker payudara. Cathepsin D adalah acidic lysosomal proteinase yang berperan dalam berbagai langkah pertumbuhan tumor, merangsang sel-sel kanker berproliferasi, perkembangan fibroblas, dan angiogenesis, serta menghambat apoptosis tumor. Peningkatandari Cathepsin D berhubungan dengan meningkatnya keganasan dari kanker payudara. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan tampilan imunohistokimia CathepsiD pada berbagai grade histopatologi karsinoma duktus invasif pada payudara. Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi analitik dengan rancangan cross sectional.Sampel penelitian sebanyak 48 blok paraffin jaringan payudara yang telah didiagnosa sebagai karsinoma duktus invasif yang telah ditentukan grade-nya dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Dilakukan pemotongan ulang blok paraffin dan dilanjutkan dengan pewarnaan immunohistokimia Cathepsin D metode The EnVision + Dual Link System kit. Antibodi primer yang digunakan adalah mouse monoclonal Hu-antibody Cathepsin D dengan pengenceran 1:200 dan kemudian dinilai tampilan warna dari Cathepsin D tersebut pada tiap grade karsinoma duktus invasif. Hasil Pada grade 1 dijumpai4 kasus (25%) dengan skor intensitas warna lemah,7 kasus (43.8%) dengan intensitas sedang,5 kasus (31.3%) dengan intensitas warna kuat. Sedangkan pada grade 2 dijumpai intensitas warna lemah 1 kasus (6,3%), warna sedang 9 kasus (56.3%), warna kuat 6 kasus(37.5%) dan pada grade 3 skor intensitas warna lemah 2 kasus (12.5%), warna sedang 11 kasus (68.8%), warna kuat 3 kasus (18.8%). Skor intensitas warna terbanyak adalah pada intensitas sedang yaitu sebanyak 27 kasus (56.3%). Pemeriksaan immunohistokimia Cathepsin D menunjukkan dengan uji Chi Square, tidak ada perbedaan proporsi intensitas warna berdasarkan grade dengan nilai p > 0.05 dan dengan uji korelasi Spearman menunjukkan tidak ada hubungan peningkatan grade dengan intensitas warna pada karsinoma duktus invasif dengan nilai p > 0.05. Kesimpulan Tampilan imunohistokimia Cathepsin D tidak dapat digunakan untuk membedakan grade pada karsinoma duktus invasif. Kata kunci :Karsinoma Duktus Invasif, Grade Histopatologi, Intensitas Warna Cathepsin D ABSTRACT Background Invasion and metastasis of breast tumour cells are still a problem that often been observed on breast cancer.The histopthological grading showed that the higher grade of a cancer reflecting a more malignant breast cancer. Cathepsin D is acidic cysteine proteinase play an essential role in multiple steps of tumor progression, i.e stimulating cancer cell proliferation, fibroblast outgrowth and angiogenesis, as well as inhibiting tumor apoptosis. Increasinglevel of Cathepsin D correlates with increasing malignancy of breast cancer. The purpose of this research is to evaluate the differences of Cathepsin D expression in various histopathological grade of invasive ductal carcinoma of the breast. Methods This research is an analytical descriptive study with cross sectional design. The sample are 48 paraffin blocks of breast tissue that had been diagnosed as invasive ductal carcinoma predetermined grade with hematoxylin eosin staining.Recutting of paraffin blocks was performed, continued with Cathepsin D staining using The Envision + Dual Link System kit. The primary antibodies were mouse monoclonal antibody Hu-Cathepsin D diluted by 1: 200 and the appearance of Cathepsin D stainningwere evaluated. Results The evaluation of Cathepsin D stainning on grade 1 with weak intensityfound on 4 cases (25%), moderate intensity on 7 cases (43.8%), strong intensity on 5 cases (31.3%). The stainning evaluation on grade 2 with weak intensity found on 1 case (6.3%), moderate intensity on 9 cases (56.3%), strong intensity on 6 cases (37.5%). The stainning evaluation on grade 3 with weak intensity found on 2 cases (12.5%), moderate intensity on 11 cases (68.8%), strong intensity on 3 cases (18.8%). From all grading, the highest color intensity were moderate intensity found on 27 cases (56.3%). The expression of Cathepsin Dwere analyzed with Chi Square test with no differences Cathepsin D intensity in any grade of invasive ductal carcinoma with p values > 0.05. The expression of Cathepsin Dwere also analyzed with Spearman's correlation test with no relationship of higher grade of invasive ductal carcinoma with Cathepsin D intensity with p values > 0. 05 Conclusion The expression of Capthensin D in invasive ductal carcinoma unable to differentiate the grade. Key words: Invasive Ductal Carcinoma, HistopathologicalGrade, Intensity of Cathepsin D

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 35 No. 1, Januari 2026 Vol. 34 No. 3, September 2025 Vol. 34 No. 2, Mei 2025 Vol. 34 No. 1, Januari 2025 Vol. 33 No. 3, September 2024 Vol. 33 No. 2, Mei 2024 Vol. 33 No. 1, Januari 2024 Vol. 32 No. 3, September 2023 Vol. 32 No. 2, Mei 2023 Vol. 32 No. 1, Januari 2023 Vol 31. No. 3, September 2022 Vol. 31 No. 2, Mei 2022 Vol 31 No 2 (2022): MPI Vol 31 No 1 (2022): MPI Vol. 31 No. 1, Januari 2022 Vol. 30 No. 3, September 2021 Vol 30 No 3 (2021): MPI Vol. 30 No. 2, Mei 2021 Vol 30 No 2 (2021): MPI Vol 30 No 1 (2021): MPI Vol. 30 No. 1, Januari 2021 Vol. 29 No. 3, September 2020 Vol 29 No 3 (2020): MPI Vol. 29 No. 2, Mei 2020 Vol 29 No 2 (2020): MPI Vol 29 No 1 (2020): MPI Vol. 29 No. 1, Januari 2020 Vol 28 No 3 (2019): MPI Vol. 28 No. 3, September 2019 Vol. 28 No. 2, Mei 2019 Vol 28 No 2 (2019): MPI Vol 28 No 1 (2019): MPI Vol. 28 No. 1, Januari 2019 Vol 27 No 3 (2018): MPI Vol 27 No.3, September 2018 Vol 27 No 2 (2018): MPI Vol 27 No. 2, Mei 2018 Vol 27 No 1 (2018): MPI Vol 27 No.1, Januari 2018 Vol 26 No 3 (2017): MPI Vol 26 No 2 (2017): MPI Vol 24 No 3 (2015): MPI Vol 24 No 2 (2015): MPI Vol 26 No.3, September 2017 Volume 26 No. 2, Mei 2017 Vol 26 No 1 (2017): MPI Volume 26 No. 1, Januari 2017 Vol 25 No 2 (2016): MPI Vol. 25 No. 3, September 2016 Vol 25 No 3 (2016): MPI Vol. 25 No. 2, Mei 2016 Vol 25 No 1 (2016): MPI Vol. 25 No. 1, Januari 2016 Vol 23 No 2 (2014): MPI Vol. 24 No. 3, September 2015 Vol. 24 No. 2, Mei 2015 Vol 24 No 1 (2015): MPI Vol. 24 No. 1, Januari 2015 Vol 23 No 3 (2014): MPI Vol 23 No 1 (2014): MPI Vol 21 No 3 (2012): MPI Vol 21 No 2 (2012): MPI Vol 21 No 1 (2012): MPI Vol 20 No 3 (2011): MPI Vol 20 No 2 (2011): MPI Vol 20 No 1 (2011): MPI Vol. 23 No. 3, September 2014 Vol. 23 No. 2, Mei 2014 Vol. 23 No. 1, Januari 2014 Vol 22 No 3 (2013): MPI Vol. 22 No. 3, September 2013 Vol 22 No 2 (2013): MPI Vol. 22 No. 2, Mei 2013 Vol. 22 No. 1, Januari 2013 Vol 22 No 1 (2013): MPI Vol. 21 No. 3, September 2012 Vol. 21 No. 2, Mei 2012 Vol. 21 No. 1, Januari 2012 Vol. 20 No. 3, September 2011 Vol. 20 No. 2, Mei 2011 Vol. 20 No. 1, Januari 2011 Vol 19 No 2 (2010): MPI Vol. 19 No. 2 (2010) Vol 19 No 1 (2010): MPI Vol. 19 No. 1 (2010) More Issue