cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 643 Documents
Pengaruh Induksi Hidrogen Peroksida 3% pada Tikus dengan Luka Iris Terhadap Sel Radang Mononuklear (Limfosit, Makro-fag), Sel Nekrosis dan Jumlah Pembuluh Darah (Ekspresi VEGF) . Harman Agusaputra, Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 2, Mei 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Hidrogen peroksida 3% adalah larutan pembersih luka mempunyai banyak maanfaat, salah satu diantaranya adalah merangsang angiogenesis, vaskulogenesis dan oksigenasi jaringan. Proses penyembuhan luka sangat dipengaruhi vaskulogenesis, angiogenesis dan oksigenasi. Selama ini pemberian H202 3% pada luka/trauma hanya diberikan satu kali, sebagai pembersih. Proses penyembuhan luka dipengaruhi adanya aliran darah dan adanya sel radang terutama sel radang mononuklear (MN). Tujuan Menilai kegunaan hidrogen peroksida 3% pada pemberian kurang dari 7 hari dan mengungkap hubungan antara jumlah pembuluh darah dan jumlah sel radang MN dalam proses penyembuhan luka. Metode Dalam penelitian ini digunakan48 ekor tikus Balb/c umur 9-10 minggu, 3 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan. Masing-masing dilakukan insisi pada bagian punggung tikus. Sebelumnya dilakukan anestesi, insisi dibuat 1cm sedalam subk utan. Pada kelompok kontrol tidak diberikan tetesan hidrogen peroksida, pada kelompok perlakuan diberikan tetesan hidrogen peroxide 3%, sebanyak 3 kali sehari. Pada kelompok 1 baik kontrol maupun perlakuan dilakukan biopsi pada hari ke2, kelompok 2 pada hari ke-4, kelompok 3 pada hari ke-8. Biopsi kulit dipulas dengan Hematoxylin Eosin (HE) untuk melihat jumlah sel radang, sedangkan untuk melihat angiogenesis, vaskulogenesis dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dengan antibodi VEGF. Hasil Didapatkan penurunan jumlah sel radang MN pada 1x24jam secara signifikan p0,018 (p0,05). Kesimpulan Terdapat penurunan jumlah sel radang MN dan peningkatan luas nekrosis pada 1x24 jam, dan tidak terdapat peningkatan jumlah endotel VEGF dalam waktu
Ekspresi Epidermal Growth Factor Receptor pada Karsinoma Duktal Invasif Payudara Triple Negative Hubungannya dengan Ekspresi Ki-67, Besar Tumor, dan Derajat Histologik . Alphania Rahniayu, Imam Susilo
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 2, Mei 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A B S T R A K Latar Belakang Karsinoma duktal invasif payudara (KDIP) dengan fenotip triple negative (ekspresi reseptor hormon dan HER2/neu negatif) memiliki perilaku klinis yang lebih agresif dan pilihan terapi yang lebih terbatas dibandingkan tipe non triple-negative. Epidermal growth factor receptor (EGFR) merupakan famili reseptor ErbB dengan aktivitas tirosin kinase yang meningkat ekspresinya pada beberapa neoplasma. Aktivasi EGFR berlebihan menyebabkan peningkatan aktivitas proliferasi sel tumor. Tujuan Untuk menganalisis hubungan antara ekspresi EGFR dengan ekspresi Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik pada KDIP triple negative. Bahan dan Cara Arsip histopatologi dan imunohistokimia (status reseptor hormon dan HER2/neu) karsinoma payudara selama Januari-Desember 2009 di Departemen Patologi Anatomik RSUD. Dr. Soetomo dikumpulkan. Tujuh belas kasus KDIP triple negative terkumpul berdasarkan kriteria inklusi dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk ekspresi EGFR dan Ki-67. Hubungan antara ekspresi EGFR dengan Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik dianalisis secara statistik dengan uji Chi-square. Hasil Dari 17 kasus yang diteliti, sebanyak 10 kasus memiliki ekspresi EGFR positif, dan 13 kasus positif terhadap Ki-67. Dari 10 kasus dengan ekspresi EGFR positif, 8 kasus memiliki ekspresi Ki-67 positif, 9 kasus dengan ukuran tumor > 2 cm, dan 7 kasus dengan derajat histologik III. Berdasarkan analisis statistik, tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara ekspresi EGFR dengan ekspresi Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik KDIP triple negative (p>0.05). Kesimpulan Penelitian ini tidak menemukan adanya hubungan yang bermakna antara ekspresi EGFR dengan ekspresi Ki-67, besar tumor, dan derajat histologik KDIP triple negative. Kata kunci : karsinoma duktal invasif payudara, triple negative, EGFR, Ki-67 A B S T R A C T Background Triple Negative Invasive ductal carcinoma (IDC) of the breast are characterized by poor clinical outcome. The epidermal growth factor receptor (EGFR) is a receptor tyrosine kinase of the ErbB receptor family which is abnormally activated in many epithelial tumor. The aberrant activation of the EGFR leads to enhanced proliferation and other tumor-promoting activities. Objective To analyze the correlation between EGFR expression with Ki-67 expression, tumor size and histologic grading in triple negative IDC. Material and Methods Histopathology and immunohistochemical (hormone receptor and HER2/neu status) archives of breast carcinoma between January 2009 and December 2009 at Pathology Department Dr. Soetomo Hospital were retrieved. Seventeen cases of triple negative IDC were collected and analyzed for EGFR and Ki-67 expression by immunohistochemistry. The correlation between EGFR expression with Ki-67 expression, tumor size and histologic grading were investigated. Results Ten and 13 out of 17 cases had positive staining for EGFR and Ki-67 respectively. Of 10 cases which overexpressed EGFR, 8, 9, and 7 had positive Ki-67 expression, larger tumor sizes, and higher histological grade respectively. There were no significant association between EGFR expression and Ki-67 expression, tumor size and histopathologic grading based on statistical analysis (p>0.05). Conclusion This study found no correlation between EGFR expression with Ki-67 expression, tumor size and histopathologic grading in triple negative IDC. Keywords : invasive ductal carcinoma of the breast, triple negative, EGFR, Ki-67
Ekspresi Topoisomerase IIΑ pada Karsinoma Duktal Invasif Payudara, Hubungannya dengan Derajat Histopatologik dan Klasifikasi Subkelas Molekuler Payudara . Nila Kurniasari, Imam Susilo
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 2, Mei 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Karsinoma duktal invasive payudara merupakan penyebab tersering kematian pada wanita di seluruh dunia. Topoisomerase IIα memiliki peran penting dalam replikasi DNA dan merupakan target spesifik agen kemoterapi berganda.Diduga amplifikasi topoisomerase IIα berkaitan dengan prognosis yang buruk pada karsinoma duktal invasive payudara, namun mempunyai respon yang baik terhadap kemoterapi sitotoksik. Namun, hubungan antara derajat histopatologik dan klasifikasi subkelas molekuler berdasarkan ekspresi ER, PR, HER-2/neu dan Topoisomerase IIα masih belum jelas. Tujuan Penelitian ini bertujuan utuk menentukan hubungan antaratopoisomerase IIα pada karsinoma duktal invasif payudara dan derajat histopatologik dan klasifikasi subkelas molekuler payudara. Bahan dan cara Sejak Januari-Desember 2009, rekam medik 35pasien karsinoma duktal invasif payudara pada Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dicatat data derajat histopatologik dan hasil pemeriksaan imunohistokimia (ER, PR, HER-2/neu). Pembuatan spesimen dan pulasan imunohistokimia dilakukan untuk melihat ekspresi imunohistokimia topoisomerase IIα. Hasil Pemeriksaan Imunohistokimia menunjukkan ekspresi Ekspresi topoisomerase IIα pada 23 (65.7%) kasus. Analisa Chi Squareantara topoisomerase IIα dan derajat histopatologik menunjukkan hubungan yang tidak bermakna (p=0.091). Sedangkan analisa Chi Squareantara ekspresi topoisomerase IIα dan klasifikasi subkelas molekuler payudara menunjukkan hubungan yang tidak bermakna (p= 0.204). Kesimpulan Topoisomerase IIαtidak berperan pada diferensiasi, proliferasi sel tumor dan karsinogenesis karsinoma duktal invasif payudara melalui jalur hormonal. Kata kunci : karsinoma duktal invasif payudara , topoisomerase IIα, ER, PR, HER-2/neu, derajat histopatologik. ABSTRACT Background Invasive ductal carcinoma of the breast was the most common cause of death among women in the world. Topoisomerase IIα plays a key role in DNA replication and is a target for multiple chemotherapeutic agents. Amplification of Topoisomerase IIα is considered to have correlation with poor prognosis in invasive ductal carcinoma of the breast, but have a favourable response to cytotoxic chemotherapy. The correlation between Topoisomerase IIα, histopathology grading and molecular subclass classification based on ER, PR and HER-2/neu expression is still unclear. Objective This study was conducted to determine the correlation between topoisomerase IIα in invasive ductal carcinoma of the breast and histopathological grading and molecular subclass classification of the breast. Methods Since January-December 2009, medical records of 35 patients invasive ductal carcinoma of the breast of Pathology department of Dr. Soetomo Hospital Surabaya, retrieved histopathological grading and immunohistochemical data (ER, PR, HER-2/neu). Specimen and immunohistochemicalexaminationwere made to study expression of topoisomerase IIα Results Immunohistochemical examination topoisomerase IIα expression in 23 cases (65.7%). Chi Square analysis between topoisomerase IIα expression and histopathological grading showed not significant correlation (p=0.091). However, Chi Square analysis between topoisomerase IIα exspresion and molecular subclass classification of the breast showed not significant correlation (p=0.204) Conclusion Topoisomerase IIαhave no role in differentiation, tumor cell proliferation and carcinogenesis of invasive ductal carcinoma of the breast via the hormonal pathway. Keywords: invasive ductal carcinoma of the breast, Topoisomerase IIα, ER, PR, HER-2/neu, histopatho-logical grading.
Pengaruh Ekstrak Biji Eugenia Jambolana terhadap Jumlah Sel Beta Pankreas dan Ekspresi Protein Glut4 pada Mencit Jantan Balb/C yang Diinduksi Streptozotocin . Siti Kharidah, Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 2, Mei 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh Ekstrak Biji Eugenia Jambolana terhadap Jumlah Sel Beta Pankreas dan Ekspresi Protein Glut4 pada Mencit Jantan Balb/C yang Diinduksi Streptozotocin
Tingkat Kesesuaian Gambaran Klinik dan Histopatologik Serta Positivitas CD4 dan CD8 pada Spektrum Penyakit Kusta Menurut Klasifikasi Ridley-Jopling . Lenti Perangin Angin*, Sri Linuwih Menaldi**, Santoso Cornain*, Mpu Kanoko
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 2, Mei 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Kusta adalah suatu penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Manifestasi penyakit kusta bergantung kepada respon imun seluler seseorang. Ridley-Jopling membuat klasifikasi menjadi Tuberculoid leprosy (TT), Borderline tuberculoid (BT), Mid-borderline (BB), Borderline lepromatous (BL), Lepromatous leprosy (LL) berdasarkan gambaran klinik, histopatologik, bakteriologik dan imunologik. Pada umumnya Pusat Kesehatan Masyarakat di Indonesia belum memiliki fasilitas pemeriksaan histopatologik dan imunologik, sehingga diagnosis kusta hanya ditegakkan berdasarkan jumlah lesi dan jumlah kuman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara gambaran klinik dan histopatologik penyakit kusta dan melihat gambaran respon imun penderita melalui pemeriksaan CD4+ dan CD8+ pada limfosit sel T, serta korelasi antara indeks bakteriologik pada masing-masing tipe kusta. Bahan dan Cara Penelitian potong lintang terhadap 159 kasus kusta baru tanpa reaksi tahun 2007-2009 di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Secara sistematic sampling dilakukan pemeriksaan Hematoksilin-Eosin, Fite Faraco dan immunohistokimia CD4 dan CD8 pada 30 kasus masing-masing mewakili tipe kusta. Hasil Dari 159 kasus kusta baru tanpa reaksi terdiri atas 88 laki-laki dan 71 perempuan, dengan kelompok umur paling banyak pada rentang 16-30 tahun. Tingkat kesesuaian diagnosis kusta secara klinik dan histopatologik adalah 52.2%, dengan ketidaksesuaian mayor ditemukan 22% dan ketidaksesuaian minor 25.8%. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara positivitas CD4 dan CD8 dengan tipe kusta sedangkan Indeks Bakteriologik memiliki hubungan yang bermakna dengan spektrum tipe kusta. Kesimpulan Tingkat kesesuaian penegakan diagnostik secara klinik dan histopatologik adalah 52.2%. Terdapat korelasi dengan kekuatan sedang pada hubungan diagnosis klinik dan indeks bakteriologik sedangkan pada diagnosis histopatologik terdapat korelasi kuat dengan indeks bakteriologik. Kata Kunci : Mycobacterium leprae, kusta, indeks bakteriologik, diagnosis klinik, diagnosis histopatologik, klasifikasi Ridley-Jopling, CD4+, CD8+. ABSTRACT Background Leprosy (Hansen’s Disease) is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium leprae. The varied manifestations of the disease might depend on the immune status of the host. Ridley-Jopling classified cases based on clinical, histopathological, bacteriological and immunologicalfeatures as TT (tuberculoid leprosy), BT (borderlinetuberculoid), BB (mid-borderline), BL (borderline lepromatous), LL (lepromatousleprosy). Because many centres of health in this country lack the fascility to perform laboratory diagnostic, so clinical diagnostic based on WHO (World Health Organization) classification Paucibacillary and Multibacillary dichotomy may be sufficient. The purpose of this study is to analyze the concordance level between clinical and histopathological diagnosis and correlation of the immunological respons represented by the expression of CD4+ and CD8+T lymphocyte among the spectrum of leprosy. Material and methods A cross sectional study was performed in 159 new leprosy patients with no reaction phase in the National General Central Hospital, Jakarta during 2007-2009 and the archival slides were reviewed. They were stained with Hematoxylin dan Eosin and modified Fite- Faraco staining for identification of Mycobacterium leprae. Immune status of the patients was determined by immunohistochemistry staining with expression of CD4+ and CD8+ T cell lymphocyte. Results 159 new cases of leprosy with no reaction phase consisted of 88 males and 71 females. Discrepancy between clinical and histopathological diagnosis was seen in 47.8% of cases. Major discrepanciescomprised 22%, and minor discrepancies 25.8%. There was no statistically significant relationship between positivity of CD4+ (p>0.05) and CD8+ (p>0.05) with respect to leprosy spectrum.There was statistically significant relationship between Bacteriological Index (BI) and spectrum of leprosy (p
Hubungan antara Ekspresi VEGF dan Kepadatan Mikrovaskular dengan Stadium, Derajat Histopatologik, dan Ketahanan Hidup Penderita Karsinoma Payudara ER Positif dan ER Negatif . Kukuh Sugi Laksana, Irianiwati, Harijadi
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 3, September 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang ER dan VEGF berperan penting pada angiogenesis karsinoma payudara. Status ER merupakan faktor prediktif terapi anti hormonal. Karsinoma payudara ER negatif kurang berespon terhadap terapi anti hormonal dan berhubungan dengan prognosa buruk. Kompleks estrogen dan ER dapat memacu angiogenesis melalui VEGF dan mempengaruhi MVD. Status hormonal (ER) dan angiogenesis mempengaruhi terapi dan prognosis. Sampai saat ini peran angiogenesis pada karsinoma payudara dan hubungannya dengan stadium, derajat histopatologis, dan ketahanan hidup penderita belum jelas. Tujuan Mengetahui hubungan antara ekspresi VEGF dan kepadatan mikrovaskular dengan stadium, derajat histopatologis, dan ketahanan hidup penderita karsinoma payudara dengan ER positif dan ER negatif. . Metode Desain penelitian ini adalah observasional cross sectional dengan data retrospektif sebanyak 50 kasus karsinoma duktal infiltratif payudara. Sediaan blok parafin dipulas imunohistokimia dengan MoAb anti ER, VEGF, dan VWF. Status ER di kelompokkan menjadi ER positif dan ER negatif. Kepadatan mikrovaskular ditentukan berdasarkan banyaknya mikrovasa yang sel endotelnya mengekspresikan VWF pada lima area hot spot. Hubungan antara ekspresi VEGF, kepadatan mikrovaskular terhadap ukuran, status kelenjar getah bening, metastasis, dan derajat histopatologis dengan ER positif dan negatif di analisa menggunakan korelasi Spearman dan Chi-Square, sedangkan hubungannya dengan ketahanan hidup dianalisa dengan tes logistik regresi dan metode Kaplan-Meier. Hasil Tidak didapatkan hubungan antara ekspresi VEGF dengan ukuran tumor, status kelenjar getah bening, metastasis dan derajat histopatologis pada karsinoma payudara ER positif dan ER negatif. Ekspresi VEGF berhubungan dengan status metastasis. Tidak didapatkan hubungan antara kepadatan mikrovaskular dengan ukuran tumor, status kgb, metastasis, dan derajat histopatologis pada karsinoma payudara ER positif dan ER negatif. Tidak didapatkan hubungan antara VEGF dan kepadatan mikrovaskular dengan ketahanan hidup pada karsinoma payudara ER positif dan ER negatif, sedangkan status kelenjar getah bening berhubungan dengan ketahanan hidup penderita karsinoma payudara. Kesimpulan Ekspresi VEGF dan kepadatan mikrovaskular tidak berhubungan dengan beberapa parameter klinikopatologis karsino-ma payudara ER positif dan ER negatif, tetapi berhubungan dengan metastasis dan keterlibatan limfonodi berhubungan dengan ketahanan hidup. Kata kunci : reseptor estrogen kanker payudara, VEGF, VWF, derajat histopatologis, ketahanan hidup. ABSTRACT Background Estrogen receptor on VEGF is a key point in angiogenesis of breast carcinoma. Estrogen is a predictive factor for anti hormonal therapy. ER negative breast carcinoma is more responsless to anti hormonal therapy and poor overall survival. Estrogen and ER Complex induce angiogenesis by VEGF and microvascular density (MVD). In breast cancer, ER and angiogenesis influence therapy and prognosis. The role of angiogenesis in breast cancer ER +/- and their correlation with histopathological grade, and survival were not affirmatively knowed. Aim To investigate the correlation expression VEGF and MVD with stage, histopathological grade, and survival in breast cancer with ER +/- . Methods The method of the study is cross sectional with retrospective data, consists of 50 cases of invasive duct carcinoma. Staging was established based on tumor size, lymph status, and metastasis. Histopathological grade was classified into well, moderate, and poor. Survival was established from fist diagnosis (2003) until the end of study (December 2010). Specimens from paraffin embedded tissue were stained with monoclonal antibody against ER, VEGF, and VWF. Expression of ER in the nuclear cell more than 10 % was established as ER positive. The expression of VEGF was counted based on the amount of positive stained in cytoplasm per 100 cancer cells in five high power field while expression of VWF was determined on the amount of endothel positive stained of micro vessels at five hot spot areas. The correlation among VEGF, MVD and tumor size, lymph node status, metastasis, and histolopathological grade to breast carcinoma with ER positive and ER negative was be analyzed with Spearman and Chi-Square test, and survival was be analyzed with logistic regression test and Kaplan-Maier method. Results There were no correlation between VEGF with tumor size, lymph node status, metastasis, and histopathological grade on ER positive and negative. Expression VEGF have correlation with metastasis breast carcinoma. There were no correlation between MVD with tumor size, lymph node status, metastasis, and histopathological grade on ER positive and negative. There were no correlation between VEGF and MVD with survival on ER positive and negative, but lymph node status have correlation with survival breast cancer. Conclusion Expression VEGF and MVD have no correlation with several clinicopathologic parameter breast cancer with ER positive and ER negative, but expression VEGF have correlation with metastasis and lymph node status have correlation with survival breast cancer. Key word: breast cancer estrogen receptor, VEGF, VWF, histopathological grade, survival.
Hubungan Gambaran Bercak-Bercak Gelap (Dark Specks) pada Latar Belakang Material Nekrotik Granular Eosinofilik dengan Kadar CD4 Penderita Limfadenitis Tuberkulosis Servikalis yang Disertai HIV/AIDS . Sutoyo Eliandy, M. Nadjib D. Lubis, Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 3, September 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Diagnosa limfadenitis TB mudah ditegakkan apabila gambaran-gambaran khas ditemukan pada sediaan aspirasi. Tetapi apabila gambaran ini tidak dijumpai, sulit membedakan antara limfadenitis akut supuratif atau limfadenitis TB supuratif, terutama pada pasien dengan HIV/AIDS. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan bercak-bercak gelap (dark specks)pada latar belakang material nekrotik granular eosinofilik dengan kadar CD4 penderita limfadenitis tuberkulosis servikalis yang disertai HIV/AIDS. Metoda Penelitian ini menggunakan Exact Fisher Test dengan pemilihan sampel secara consecutive sampling. Hasil Dari 24 sampel penderita limfadenitis TB yang disertai HIV/AIDS dijumpai 20 orang laki-laki (83,3%) dan perempuan 4 orang (16,7%). Umur penderita seluruhnya pada usia produktif dengan rentang umur 21-49 tahun. Ditemukan gambaran dark specks pada 4 sediaan biopsi aspirasi pada kadar CD4 0,05. Kesimpulan Tidak ada hubungan munculnya dark specks dengan kadar CD4 penderita limfadenitis TB yang disertai HIV/AIDS. Kata-kata : Dark specks, Limfadenitis TB, CD4, Antibody ab905 ABSTRACT Objective Diagonosis of liphadenitis TB was easy to established when the spesific images was found in the preparat of aspiration. However, if the image was not found in the preparat, it was dificult to distinguish between supuratif acute lymphadenitis and supuratif lymphadenitis TB, primarily for those patients with HIV/AIDS. This research was carried out to determine the relationship of dark speck image at the eosinophil granular necrotic material background with the level of CD4 to the patient lymphadenitis tuberculosis cervicalis with HIV/AIDS Methods This research was conducted using exact fisher test with the consecutive sampling. Result From 24 samples of patient lymphadenitis TB with HIV/AIDS was found 20 patients were male (83,3%) and 4 female patients (16.7). All of the patients were included into the productive age with the range of age from 21-49 years old. It has been found the dark specks image at 4 samples of biopsy aspiration at level of CD4 below than 200. There were the indication, the dark speck image will be appear when the immune system of patients was decrease. However, base on the result of statistical analysis, it was exhibited that there was no significant different (p>0.05) between dark specks image and CD4 level. Conclusions There was no relationship appearance of dark speck with the level of CD4 to the patient lymphadenitis TB with HIV/AIDS KeyWords : Dark specks, Lymphadenitis TB, CD4, Antibody ab905
Parathyroid Hormone-Related Protein (PTHrP) dan Osteonectin (OSN) sebagai Petunjuk Adanya Penentu Metastasis ke Tulang pada Karsinoma Payudara Duktal Invasif . Nida Sufrida, Bethy S. Hernowo, Ismet M. Nur, Sri Suryanti
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 3, September 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang Metastasis ke tulang sering terjadi (sekitar 60-80%), dan morbiditasnyapun tinggi pada pasien karsinoma payudara duktal invasif (KPDI). Parathyroid Hormone-related Protein (PTHrP) adalah sejenis protein hormon mempunyai peranan pada patofisiologi metastasis ke tulang pada karsinoma payudara duktal invasif. Osteonectin suatu glikoprotein dalam matriks tulangjuga dapat meningkat ekpresinya pada karsinoma payudara. Sidik tulang digunakan untuk mendeteksi metastasis ke tulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan peran PTHrP dan osteonectin pada KPDI dengan metastasis ke tulang. Cara Sampel yang diteliti sebanyak 60 preparat dari jaringan biopsi bedah yang didiagnosis sebagai KPDI dan disertai pemeriksaan dengan sidik tulang. Semua sampel dilakukan pulasan imunohistokimia menggunakan monoclonal antibody PTHrP dan osteonectin. Dilakukan penilaian tentang sensitivitas dan spesifisitas pulasannya, dan analisis perbedaan serta korelasi imunoekspresi antara PTHrP dan osteonectin. Hasil PTHrP mempunyai sensitivitas 83,3%, dengan spesifisitas 63,3%m sedangkan Osteonectin mempunyai nilai sensitivitas80%, dengan spesifisitasnya 83,3% untuk mendeteksi metastasis ke tulang pada KPDI. Persentasi imunoekspresi PTHrP 83,3%, osteonectin 80,0% untuk yang bermetastasis ke tulang pada KPDI. Persentasi imunoekspresi PTHrP 36,7%, osteonectin 20% untuk yang tidak bermetastasis ke tulang pada KPDI. Terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara imunoekspresi PTHrP dan osteonectin dengan p-value
Ekspresi Penanda Tumor CEA dan Calretinin pada Adenocarci-noma dan Sel Mesotel Reaktif dari Cairan Pleura . Aspitriani, Mezfi Unita, Zulkarnain Musa, Zen Hafy
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 3, September 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Perbedaan gambaran morfologi antara sel mesotel reaktif dan adenokarsinoma pada efusi pleura masih merupakan salah satu tantangan dalam diagnostik sitologi. Sejauh ini, telah banyak penanda tumor yang digunakan pada efusi pleura dengan berbagai derajat efektivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat positifitas carcinoembryonic antigen (CEA) dan calretinin pada adenokarsinoma dan sel mesotel reaktif dari sitologi cairan pleura. Bahan dan cara Tujuh puluh empat sampel arsip slaid dari efusi pleura dengan diagnosa adenokarsinoma atau sel mesotel reaktif diperoleh selama periode waktu 1 Februari 2010-31 Januari 2011. Semua slaid berasal dari spesimen sitospin dengan pulasan Papanicolaou dan Diff Quik kemudian dipulas ulang dengan menggunakan antibodi CEA dan calretinin. Ekspresi kedua penanda tumor ini dievaluasi untuk menilai tingkat positifitas, korelasi antara kedua antibodi dianalisis dengan uji korelasi non parametrik Kendall’s. Hasil Pulasan positif untuk CEA dan calretinin masing-masing sebesar 81,6% (31/38) dan 39,5% (15/38) pada kasus adenokarsinoma Untuk sel mesotel reaktif, positifitas CEA dan calretinin masing-masing sebesar 36,1% (13/36) and 88,9% (32/36). Koekspresi positif kedua penanda tumor dijumpai sebanyak 25% (9/36) pada kasus sel mesotel reaktif. Didapatkan korelasi negatif yang bermakna antara CEA dan calretinin dengan kekuatan korelasi sedang pada adenokarsinoma (p
Hubungan Ekspresi p53 dan hMLH1 dengan Karakteristik Kliniko-patologik Kanker Kolorektal . Pieri Kumaladewi, Indrawati, FX Ediati Triningsih, Soeripto
Majalah Patologi Indonesia Vol. 20 No. 3, September 2011
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Ekspresi protein p53 sudah banyak dibahas dalam proses keganasan dan menunjukkan prognosis yang buruk. Gen hMLH1 adalah suatu gen repair yang salah berpasangan/mismatch-repair (MMR) dan hipermetilasi hMLH1 diikuti mikrosatelit yang tidak stabil dan sering ditemukan pada kanker kolon nonpoliposis herediter. Namun, hubungan dengan karakteristik klinikopatologik masih sangat kontroversial. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari hubungan ekspresi p53, dan hMLH1 dengan karakteristik klinikopatologik (umur, jenis kelamin, lokasi tumor, grading dan staging) pada kanker kolorektal. Metode Sampel blok parafin yang berasal dari 45 kasus adenokarsinoma kolorektal yang mengalami pengangkatan tumor dikumpulkan sejak Januari 2007 sampai Desember 2008 di RS Sardjito, RS Bethesda dan RS Panti Rapih, Yogyakarta, Indonesia. Ekspresi protein p53 diteliti menggunakan antibodi monoklonal (clone DO-7; Novocastra) dan ekspresi hMLH1 diteliti menggunakan antibodi monoklonal (Biocare Medical; USA). Kriteria pewarnaan sel diklasifikasikan sbb: negatif, bila 10 sel positif. Data-data kliniko-patologik yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, lokasi tumor, tipe histologik dan stadium penyakit. Uji Chi-square dan Fisher test digunakan untuk melakukan evaluasi antara ekspresi p53 dan hMLH1. Hasil Pewarnaan p53 menunjukkan hasil positif (53.3%); pewarnaan hMLH1 menunjukkan hasil negatif (33.3%). Uji statistik antara p53 dan usia (p:0.459); jenis kelamin (p:0.764); lokasi tumor (p: 0.769); grading (p: 0.664) menunjukkan hasil yang tidak berbeda bermakna. Uji statistik antara hMLH1 dan usia (p:1); jenis kelamin (p:0.352); lokasi tumor (p: 352); grading (p: 0.280) menunjukkan hasil yang tidak berbeda bermakna. Kesimpulan Tidak ditemukan perbedaan bermakna antara ekspresi p53 dan hMLH1 dengan karakteristik klinikopatologik (usia, jenis kelamin, lokasi, grading dan staging) pada kanker kolorektal. Kata kunci: kanker kolorektal, p53, hMLH1, karakteristik klinokopatologik. ABSTRACT Background Over expression of p53 protein has been documented in a number of human malignancies and shown to be associated with poor prognosis. hMLH1 is a mismatch repair gene and hypermethylation of hMLH1 follows microsatelite instability that usually found in hereditary nonpolyposis colon cancer in colorectal cancer. The relation with clinicopathologic characteristic is still controversial. Aim To study relationship p53 and hMLH1 with clinicopathologic characteristics (age, gender, site of tumor, grading and staging) of cancer colorectal. Method Paraffin-preserved adenocarcinoma colorectal samples of 45 cases were collected from patients undergoing tumor resection from January 2007 through December 2008 in Sardjito Hospital, Bethesda Hospital and Panti Rapih Hospital, Yogyakarta, Indonesia. Expression of p53 protein using monoclonal antibody (clone DO-7; Novocastra) and expression of hMLH1 were studied using monoclonal antibody (Biocare Medical:USA). The number of cells stained were classified as negative: 10% positive cells. Clinicopathologic data including gender, age, tumor location, histologic type and stage of disease were collected. Statistic analysis of Chi-square and Fisher’s Exact Test is used to differentiated between p53 and hMLH1 expression. Result p53 staining was positive (53.3%) and hMLH1 was negative (33.3%). Statistic test between between p53 and age (p:0.459); gender (p:0.764); site of tumor (p:0.769); and grading (p:0.664) showed no significant correlation. Statistic test between of hMLH1 and age (p:1), gender (p:0.352), site of tumor(p:0.352) and grading( p:0.280) showed no significant correlation. Conclusion There is no significant differences between expression of p53 and hMLH1 with clinicopathologic characteristics (age, gender, site of tumor, grading and staging) of cancer colorectal. Key words : colorectal cancer, p53, hMLH1, clinicopathologic characteristics

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 35 No. 1, Januari 2026 Vol. 34 No. 3, September 2025 Vol. 34 No. 2, Mei 2025 Vol. 34 No. 1, Januari 2025 Vol. 33 No. 3, September 2024 Vol. 33 No. 2, Mei 2024 Vol. 33 No. 1, Januari 2024 Vol. 32 No. 3, September 2023 Vol. 32 No. 2, Mei 2023 Vol. 32 No. 1, Januari 2023 Vol 31. No. 3, September 2022 Vol. 31 No. 2, Mei 2022 Vol 31 No 2 (2022): MPI Vol 31 No 1 (2022): MPI Vol. 31 No. 1, Januari 2022 Vol. 30 No. 3, September 2021 Vol 30 No 3 (2021): MPI Vol. 30 No. 2, Mei 2021 Vol 30 No 2 (2021): MPI Vol 30 No 1 (2021): MPI Vol. 30 No. 1, Januari 2021 Vol. 29 No. 3, September 2020 Vol 29 No 3 (2020): MPI Vol. 29 No. 2, Mei 2020 Vol 29 No 2 (2020): MPI Vol 29 No 1 (2020): MPI Vol. 29 No. 1, Januari 2020 Vol 28 No 3 (2019): MPI Vol. 28 No. 3, September 2019 Vol 28 No 2 (2019): MPI Vol. 28 No. 2, Mei 2019 Vol 28 No 1 (2019): MPI Vol. 28 No. 1, Januari 2019 Vol 27 No 3 (2018): MPI Vol 27 No.3, September 2018 Vol 27 No. 2, Mei 2018 Vol 27 No 2 (2018): MPI Vol 27 No 1 (2018): MPI Vol 27 No.1, Januari 2018 Vol 26 No 3 (2017): MPI Vol 26 No 2 (2017): MPI Vol 24 No 3 (2015): MPI Vol 24 No 2 (2015): MPI Vol 26 No.3, September 2017 Volume 26 No. 2, Mei 2017 Vol 26 No 1 (2017): MPI Volume 26 No. 1, Januari 2017 Vol 25 No 2 (2016): MPI Vol 25 No 3 (2016): MPI Vol. 25 No. 3, September 2016 Vol. 25 No. 2, Mei 2016 Vol 25 No 1 (2016): MPI Vol. 25 No. 1, Januari 2016 Vol 23 No 2 (2014): MPI Vol. 24 No. 3, September 2015 Vol. 24 No. 2, Mei 2015 Vol 24 No 1 (2015): MPI Vol. 24 No. 1, Januari 2015 Vol 23 No 3 (2014): MPI Vol 23 No 1 (2014): MPI Vol 21 No 3 (2012): MPI Vol 21 No 2 (2012): MPI Vol 21 No 1 (2012): MPI Vol 20 No 3 (2011): MPI Vol 20 No 2 (2011): MPI Vol 20 No 1 (2011): MPI Vol. 23 No. 3, September 2014 Vol. 23 No. 2, Mei 2014 Vol. 23 No. 1, Januari 2014 Vol 22 No 3 (2013): MPI Vol. 22 No. 3, September 2013 Vol 22 No 2 (2013): MPI Vol. 22 No. 2, Mei 2013 Vol 22 No 1 (2013): MPI Vol. 22 No. 1, Januari 2013 Vol. 21 No. 3, September 2012 Vol. 21 No. 2, Mei 2012 Vol. 21 No. 1, Januari 2012 Vol. 20 No. 3, September 2011 Vol. 20 No. 2, Mei 2011 Vol. 20 No. 1, Januari 2011 Vol 19 No 2 (2010): MPI Vol. 19 No. 2 (2010) Vol. 19 No. 1 (2010) Vol 19 No 1 (2010): MPI More Issue